SURABAYA ZOO STOP ANIMAL SHOW

Centre for Orangutan Protection applaud the decision of the Surabaya Zoo for no longer use orangutans for entertainment show. Thanks to the Orangufriends Network and our allies such as Animals Indonesia, OIC and JAAN for campaigning against this cruelty. #orangutanbukanmainan. Please follow this link for more detailed information.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/07/18/nrodmx-kebun-binatang-surabaya-hapus-pertunjukan-orangutan

A CERTIFICATE IS NOT ENOUGH, COMMIT NOW !

The Centre for Orangutan Protection (COP) believes that a certificate is not enough for a company to claim that a palm oil product is environmentally friendly. In reality, certificates are often merely a document on a table and do not reflect the actual conditions in the field. Based on the COP watch list which was started in 2007, companies who are members of RSPO are intentionally not meeting the principles and criteria of the RSPO to the extent that their operations often sacrifice forest and orangutans. Although it started in 2001 and has been going for 14 years, violations still continue.  Strangely, companies who commit violations, are not removed from the RSPO. The RSPO has become a green shield which protects palm oil companies who commit crimes. The RSPO could lose its credibility if it fails to act decisively.

Commitment is needed for the palm oil industry to become an industry which is friendly to the forests and orangutans and that commitment must be monitored. The COP asserts that it is ready to provide real information to players in the palm oil businesses to ensure the ‘greenness’ of their business.

COP thanks The Palm Oil Investigation and The Forest Trust who have already facilitated this important meeting to open the eyes of the palm oil industry in Australia and formulate actions which are required to help the conservation of orangutans and their habitat.

 

SERTIFIKASI SAJA TIDAK CUKUP, KOMITMEN SEKARANG

Pusat Perlindungan Orangutan (COP) menekankan bahwa sertifikasi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa sebuah produk kelapa sawit bisa dikatakan sebagai produk yang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, sertifikasi seringkali berupa dokumen di atas meja yang tidak memcerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Berdasarkan pantauan COP sejak tahun 2007, perusahaan – perusahaan anggota RSPO secara sengaja tidak menjalankan Prinsip dan Kriteria sehingga operasinya seringkali mengorbankan hutan dan orangutan. Meskipun dimulai sejak tahun 2001 atau sudah berjalan selama 14 tahun, namun pelanggaran – pelangaran masih terus terjadi. Anehnya, keanggotaan mereka dari RSPO tidak dicabut. RSPO telah dijadikan tameng hijau untuk melindungi kejahatan perusahaan sawit yang nakal. RSPO dapat kehilangan reputasinya jika tidak bertindak tegas.

Dibutuhkan komitmen untuk menjadi sebuah industri yang ramah bagi hutan dan orangutan. Dan komitmen itu harus dipantau. COP menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan informasi yang sesungguhnya bagi para pelaku bisnis kelapa sawit guna memastikan ke-hijau-an mitra bisnisnya.

COP mengucapkan terima kasih kepada Palm Oil Investigation dan The Forest Trust yang telah memfasilitasi pertemuan penting ini guna membuka mata industri kelapa sawit di Australia dan merumuskan tindakan yang dianggap perlu untuk membantu perlindungan orangutan dan habitatnya.

NOVI CLIMBS HER FIRST TREE

The day is clear, several wild gibbons sing from the top of the forest canopy. Deer and mouse deer call back and forth to each other signifying that the night has passed.

A fly rises from the dung in the cage the keeper is hosing out.

Yes, today in the first day that a young orang-utan named Novi will start forest school. The door of her cage screeches as it opens and a keeper calls for Novi to leave the cage. Novi appears hesitant to approach the keeper however he coaxes her out with a glass of milk.

Finally, Novi climbs onto the keepers’ shoulder, still confused, Novi stays there as he walks along the narrow trail towards the forest school. “Welcome to the forest school Novi”, says another keeper who arrived previously at the forest school with other young orang-utans.

Novi appears frightened and confused as she tries to go higher, then dangles from a branch to look around, while biting a root and anything else which she can reach with her hands. Novi moves quickly from one branch to another, like she is trying to run away from the keeper. She grabs a rattan root and injures her hand. Finally Novi decides to return to the first branch where she dangled from.

After twenty minutes has past, Novi is brave enough to move away from the keeper, she moves quite quickly between small trees, twisting her body between small branches, again and again. Novi now appears happier.

Her mouth does not seem to want to stop chewing leaves and rattan roots, however she doesn’t take her eyes off an insect which goes by. Novi is like a young child happily playing in a pond full of sweets.

Every now and again Novi appears confused, she goes quiet at the continuous sound of birds calling back and forth. She tries again to climb higher to find the bird, but unsurprisingly, once she is five steps in front of it, the bird screeches and flies far away from her.

Novi is one the orang-utans who have been successfully rescued from the Kongbeng area by the team from the Centre for Orang-utan Protection (COP). Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog.

After five years of suffering, finally Novi has another opportunity to return to the forest, she is now in COP Kalimantan along with fourteen other friends to return to school so that they can become complete orang-utans (NUS)

 

NOVI MEMANJAT POHON PERTAMANYA

Ini adalah hari yang cerah, beberapa owa liar bernyanyi di atas kanopi hutan. Rusa dan kijang berteriak memanggil pulang menandakan malam telah berlalu. Seekor lalat terbang dari sisa kotoran di kandang setelah keeper membersihkannya dengan air.

Ya, hari ini, hari pertama orangutan muda bernama Novi berangkat ke sekolah hutan. Sreeeeeet bunyi pintu kandang terbuka, seorang keeper memanggil Novi untuk keluar dari kandang. Novi tampak ragu mendatangi keeper, namun keeper berusaha meyakinkan Novi dengan segelas susu.

Akhirnya Novi naik di atas punggung keeper, meski masih kebingungan, Novi tetap saja berada di bahu keeper melewati jalan setapak menuju sekolah hutan.

Selamat datang di sekolah hutan Novi, kata seorang keeper yang lebih dahulu datang bersama orangutan muda lainnya di area sekolah hutan.

Novi tampak merindinging dan kebingunan di atas akar, ia mencoba naik lebih tinggi kemudian bergelantungan untuk melihat sekeliling, serta menggigit akar apapun yang dapat ia raih dengan tangannya. Novi berpindah dari akar satu ke akar lainnya dengan sangat cepat, seperti berusaha lari dari keeper. Ia menarik akar rotan sehingga tangannya terluka. Pada akhirnya Novi memutuskan untuk kembali ke akar pertama di mana ia bergelantungan.

Setelah 20 menit berlalu, Novi memberanikan diri untuk menjauh dari keeper, ia bergerak dengan sangat cepat di antara pepohonan kecil, memutarkan badannya di antara ranting, lagi, lagi dan lagi. Novi tampak begitu senang.

Mulutnya tampak tak mau berhenti mengunyah daun, akar, ranting, bahkan serangga yang lewat pun tak luput dari matanya. Novi tampak seperti anak kecil yang begitu senang bermain di dalam kolam penuh dengan permen.

Sesekali Novi tampak bingung, ia terdiam karena suara burung bersahutan tanpa henti. Ia mencoba naik lebih tinggi untuk menemukan burung itu, namun sepertinya burung masih enggan berbicara dengan terbang jauh dari Novi ketika 5 langkah lagi sampai di depan burung tersebut.

Novi adalah salah satu orangutan yang berhasil diselamatkan oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP) dari kecamatan Kongbeng. Saat pertama kali ditemukan Novi dalam kondisi yang sangat kurus, saat itu Novi diletakkan di kolong rumah dengan rantai terikat di leher. Rantai yang sudah 5 tahun menyiksanya siang dan malam masih meninggalkan bekas. Hanya anjing pemburu lah yang menjadi teman Novi saat itu.

Setelah 5 tahun penderitaan itu akhirnya Novi mendapat kesempatan kedua untuk kembali ke hutan. Ia kini berada di COP Kalimantan  bersama 14 temannya yang lain untuk kembali sekolah agar dapat menjadi orangutan seutuhnya. (NUS)

Page 92 of 110« First...102030...9091929394...100110...Last »