COP IS NINE YEARS OLD

For nine years Centre for Orangutan Protection has been existing as a non-governmental organizations which is focus on orangutans and their habitat. It started from a concern of three founders about the ongoing rescue of orangutan from land clearing for oil palm plantations. “This is
like mopping the floor which is wet because the tap is leaking. We must fix the faucet, “said Hardi Baktiantoro year 2007.

Focus on working on orangutans and their habitat is the key to the existence of the COP. With the support from Orangufriends, COP’s support group with no age and background limitary, which greatly assist the work of the COP. Their ideas are creative and incessantly make the event to raise moral as well as financial support. It becomes very unique, because everything is driven on their concern about the orangutan. “Who said that the Indonesian people do not care about orangutan? We care, but do not know what to do.”, Said Wahyuni in Sound For Orangutan, an annual charity music event organized by Orangufriends.

In the last five years, COP established a school for those who care about conservation and orangutans in particular. That is COP School. Students should pass the selection administration, and they will be given materials, assignments and discussions on line for a month. After passing the selection process, the students will learn about the main material in Yogya. Some of the speakers who have been involved were vet. Erni Suryanti,Nigel Hicks (OVAID), Jamartin Sihite (BOSF), Panut Hadisiswoyo (OIC), Ian Singleton (SOCP), Janifer G and May (IFAW), Suwarno (Animals
Indonesia), Rizki R (Mongabay),as well as the captain of APE Crusader, APE Defender, and APE Warrior. “Hopefully COP School can  the agents of change into the world for the environment. “, said Hery Susanto. Feel free to contact hery@cop.or.id to join COP School Batch #6 this year. (YUN)

COP BERUSIA SEMBILAN TAHUN
Sembilan tahun Centre for Orangutan Protection hadir sebagai lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada orangutan dan habitatnya. Berawal dari keprihatinan tiga orang pendirinya, terhadap orangutan yang terus menerus diselamatkan dari pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. “Ini seperti mengepel lantai yang basah karena kerannya bocor. Kita harus memperbaiki keran itu.” ujar Hardi Baktiantoro ditahun 2007 (1 Maret).

Fokus bekerja pada orangutan dan habitatnya adalah kunci keberadaan COP. Dengan dukungan orangufriends yang merupakan kelompok pendukungnya yang tidak terbatas usia, latar belakang sangat membantu pekerjaan COP. Ide-ide orangufriends yang kreatif dan tak putus-putusnya membuat event untuk mengumpulkan dukungan moral maupun finansial. Ini menjadi sangat unik, karena semuanya digerakkan atas kepedulian mereka terhadap orangutan. “Siapa bilang orang Indonesia tidak peduli orangutan? Kita peduli, tapi tidak tahu bagaimana.”, jelas Wahyuni saat Sound For Orangutan merupakan acara musik amal tahunan yang dikoordinir orangufriends berlangsung.

Dalam lima tahun terakhir ini, COP menjalankan sekolahan untuk mereka yang peduli dunia konservasi khususnya orangutan. COP School namanya. Siswa melalui seleksi administrasi, lalu selama sebulan akan diberi materi, tugas dan diskusi secara online. Setelah lulus dari seleksi lanjutan itu, siswa kana mengikuti materi utama di Yogya. Beberapa pemateri yang selama ini terlibat adalah drh. Erni Suryanti, Nigel Hicks (OVAID), Jamartin Sihite (BOSF), Panut Hadisiswoyo (OIC), Ian Singleton (SOCP), Janifer G dan May (IFAW), Suwarno (Animals Indonesia), Rizki R (Mongabay), serta kapten tim APE Crusader, Defender, Warrior. “Harapan COP School dapat melahirkan agen-agen perubahan untuk lingkungan.”, tegas Hery Susanto. Segera kirim email ke hery@cop.or.id untuk mengikuti COP School Batch #6 tahun ini. (YUN)

SAAT GUNUNG BERAPI MEMANGGIL

YOGYAKARTA – Letusan gunung Merapi di akhir tahun 2010 merupakan awal saya mengenal dunia relawan. Saat itu LSM satwa tergabung menjadi sebuah tim Animal Rescue untuk menangani satwa-satwa yang ada di sekitar gunung Merapi khususnya di daerah Yogyakarta. Mereka adalah Animal Friends Jogja (AFJ), Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Tim Animal Rescue dibagi menjadi tim pakan satwa hingga tim kesehatan satwa. Saat itu saya bergabung dalam tim pakan satwa, dimana tugas kami adalah mencari rumput untuk hewan ternak dan memberikan pakan satwa domestik yang sudah ditinggalkan pemiliknya karena mengungsi ke beberapa posko bencana alam. Selain itu memberikan buah-buahan kepada monyet ekor panjang yang sering turun kepemukiman warga sekitar gunung Merapi. Hampir setengah bulan kami melakukan ini, hingga keadaan benar-benar membaik.

Usai erupsi gunung Merapi, saya menggabungkan diri lagi pada tim Animal Rescue dari Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia di tahun 2014 dalam menangani bencana letusan gunung Kelud di daerah Jawa Timur. Kami mengerjakan hal yang hampir sama saat menangani satwa bencana gunung Merapi. Karena kandang satwa banyak yang rusak, kami membantu membuatkan kandang sementara dan memperbaiki atap kandang yang sudah ada agar satwa dapat berlindung dari hujan dan panas. Dua minggu bekerja sukarela di bencana erupsi gunung Kelud tidak akan pernah terlupakan. “Bertemu sahabat-sahabat baru yang peduli pada satwa bencana letusan gunung Kelud itu akan semakin membuat kita bersyukur, atas apa yang kita peroleh saat ini.”, kenang Inoy. (Inoy, Orangufriends Yogyakarta)

THERE IS LIFE IN THE EYES ORANGUTAN

As usual I overslept. The bath is a must to increase my good-look,especially today we will visit SMAN 8 Malang. Orange T-shirt with a picture of orangutan in the form of a vector is pride to wear when I am representing COP.

Thanya (COP School Batch # 5) started the visit by telling the history of COP. Continued by Ristanti who explained the anatomy of orangutan. To make it easy, Ristanti explained some of the differences of bone structure, skull and also senses between humans and orangutans. Different os-Ula bone
structure which is longer on the arm and wrist is an adjustment to the habits of climbing and hanging from a tree. Ibenk explained 97% similarity between DNA of orangutan and human, that change along with the changes in the nature and environment. While I began to feel so nervous, I got a chance to explain about the exploitation of animals and what can students of SMAN 8 do.

The was a lot that Orangufriends Malang wanted to share but the time was too tight. I increasingly eager to visit other schools, to encourage the young generation to care more and repair the damage, start from nowon.(Rifqi Rahman, alumni of COP School Batch # 5)

DI MATA ORANGUTAN ADA KEHIDUPAN

Seperti biasa saya terlambat bangun. Mandi itu wajib untuk menambah kegantengan saya, apalagi hari ini akan school visit di SMAN 8 Malang. Baju oranye gambar muka orangutan dalam bentuk vektor adalah baju kebanggaan yang selalu ku pakai saat mewakili COP.

Thanya (COP School Batch #5) mengawali perjumpaan anak SMA 8 dengan menceritakan perjalanan COP selama 9 tahun terakhir ini. Dilanjutkan Ristanti menjelaskan anatomi orangutan. Untuk memudahkan siswa SMA, Ristanti menjelaskan beberapa perbedaan struktur tulang, tengkorak dan juga indra antara manusia dan orangutan. Perbedaan struktur tulang os Radius-Ula yang lebih panjang pada lengan dan pergelangan tangan ini merupakan penyesuaian dengan kebiasaan memanjat dan bergelantungan di pohon. Ibenk memaparkan 97 % kesamaan DNA orangutan dengan manusia, yang berubah mengikuti perubahan sifat dan lingkungannya. Sementara saya mulai merasa mules karena grogi, mendapat kesempatan menjelaskan eksploitasi satwa dan apa yang bisa siswa SMAN 8 malang bisa lakukan.

Begitu banyak yang ingin Orangufriends Malang sampaikan tap iterbatas oleh waktu. Rifqi semakin bersemangat untuk mengunjungi sekolahan lain, untuk mengajak generasi muda yang lain lebih peduli dan memperbaiki kerusakan yang terjadi, mulai sekarang. (Rifqi Rahman, alumni COP School Batch #5)

Page 92 of 134« First...102030...9091929394...100110120...Last »