SELAMA COP SCHOOL BERLANGSUNG

Hi, namaku Shaniya asal Surabaya. Di foto itu aku yang paling depan dengan jilbab hitam. Aku adalah salah satu dari 40 orang yang lolos tahap seleksi untuk mengikuti COP School Batch 6 yang diadakan pada 18-22 Mei tahun lalu di Yogyakarta. Saat ini, statusku sudah menjadi Alumni dari kegiatan tersebut.

Pertama, aku mau bilang. Sama sekali nggak bakal rugi kamu daftar dan ikut seleksi COP School. Kalau kamu lolos, kamu akan dapat salah satu pengalaman yang ngak akan kamu dapatkan di tempat lain. Kalau belum lolos, kamu masih punya banyak kesempatan untuk coba daftar lagi tahun depan, dan tahun depannya lagi, dan seterusnya.

Setelah lolos seleksi, kamu pun nggak perlu takut bakal ‘terdampar’ ketika kamu sampai di Yogyakarta sebelum waktu yang ditentukan untuk kumpul di Camp COP. Kalau tahun lalu, teman-teman Batch 6 yang memang tinggal di Yogyakarta dengan senang hati membantu siapa saja yang membutuhkan akomodasi sementara sebelum kegiatan dimulai.

Siang pertama kegiatan mulai, kami kumpul di Camp COP dan menyerahkan tugas yang harus dibawa. Sorenya semua membangun tenda sesuai kelompok masing-masing dan berkenalan dengan semua yang ada di Camp. Di sini, menurutku sebaiknya kamu ngak cuma kenalan sama COP School angkatanmu aja, tapi juga sama alumni-alumni yang ada, baik yang jadi panitia maupun pendamping kelompok. Setelah semuanya kenal satu sama lain, malamnya dipilih siapa yang jadi Ketua Kelas dari Batch 6.

Hari kedua kumpul, kami sudah dapat materi sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kedua. Nah setelah materi pertama ini serunya bener-bener dimulai. Di sini, fisik kamu bakal diuji juga ketahanannya. Longmarch bersama, yaa lumayanlah kalau buat yang jarang olahraga. Jadi, ada baiknya juga kamu latihan fisik sebelum berangkat ikut COP School.

Selama kegiatan di lokasi kedua tidur di tenda, kita bakal dapat banyak banget materi, nggak cuma tentang konservasi dan satwa liar, tapi juga jurnalistik dan bahkan bagaimana jadi investigator kasus perdagangan satwa liar! Keren kaaan! Selain itu, materi yang paling aku suka adalah tentang animal welfare. Karena di sini kamu bakal ditantang untuk bikin design kandang dan enrichment untuk satwa yang ada di kandang rehabilitasi maupun di kebun binatang. Dalam satu hari, ada sekitar 3 sampai 4 materi diselingi istirahat dan berbagai games yang seru semua. Games yang paling seru menurutku, saat kita diajak keluar pendopo buat melakukan pengamatan, ada binatang apa aaja di sekitar kita. Ini gak asal lho, karena panitia udah menyiapkan boneka berbagai binatang yang disembunyikan di sekitar jalur yang ditentukan. Di sini mata kita dituntut buat jeli sama keadaan sekitar. Dan nanti bakal di cek, apakah hewan yang kamu tulis itu bener atau bukan bagian dari binatang yang udah disembunyiin dan ditentuin sama panitia kegiatan.

Selain itu, kamu juga dituntut untuk bisa kerjasama sama kelompok kamu. Kalian bakal bagi tugas setiap harinya. Siapa yang ambil bahan masakan, yang masak, yang cuci piring, cuci alat masak, dan lain-lain, karena kita bakal masak sendiri buat sarapan dan makan malam.

Selama COP School, aku dapat banyak banget pengalaman berharga yang aku yakin berguna banget buat diriku ke depannya. Juga buat kamu yang memang ingin banget punya peran dalam membantu kelangsungan satwa liar di negara kita, kamu mungkin harus coba ikut kegiatan yang satu ini. Teamwork kamu teruji, public speaking-mu terlatih, dan kamu dapat banyak materi mengenai satwa liar, jadi ke depannya saat kamu terjun ke dunia konservasi, kamu nggak asal ikut-ikutan orang lain karena kamu punya dasar yang kamu dapat selama COP School.

Gimana, seru banget kan? Tahun ini aku berharap aku punya waktu untuk jadi pendamping kelompok selama kegiatan berlangsung. Kalau kamu bener-bener tertarik, saranku kamu harus sesegera mungkin daftar karena kalau ketinggalan ya sudah, kamu harus tunggu tahun depan lagi.
Jadi sampai ketemu ya di COP School Batch 7 nanti! See you soon! (Shaniya_Orangufriends)

COP CONDEMNED ORANGUTAN SLAUGHTER OCCURRED WITHIN CONCESSION ZONE OF GENTING BERHAD

Centre for Orangutan Protection condemned the slaughter of orangutan that allegedly occurred within concession zone of PT. Susantri Permai, subsidiary company of Genting Berhad, located at Kapuas, Central Kalimantan. Based on information collected by COP on the ground, this tragedy occurred at January 27th 2017. Orangutan shot, slaughtered and mutilated.

Reflected to similar occurrence at Makin Group, East Kalimantan at 2011, police department should take immediate law reinforcement action. Based on Indonesia Law No.5/1990 about Conservation of Biodiversity and Ecosystem, the perpetrators are subject to be arrested for 5 years and 100 million rupiah penalty.

This tragedy should not happened if the members of Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) members fully comply with its own principal and criteria.

Hardi Baktiantoro, Principal of COP, release the statement,

“This slaughter indicates that there are failure, upstream through downstream, comprehensively. From permit issuance to evaluation. It also indicates that concession provided was within orangutan habitat. Reports of evaluation submitted by RSPO most probably failed to represent the reality on the ground. It makes RSPO’s credibility questionable. RSPO must revoke the membership of Genting Berhard, the Malaysian company, immediately.”

Information of the company can be access through link below:

http://www.bloomberg.com/research/s…

For information and interview, please contact:
Hardi Baktiantoro
08121154911
hardi@orangutan.id

For ground visit, please contact:
Ramadhani
Communication Manager
0813 49271904
dhani@orangutan.id

COP MENGUTUK PEMBUNUHAN ORANGUTAN YANG TERJADI DI KAWASAN KONSESI GENTING BERHAD

Centre for Orangutan Protection mengutuk pembunuhan orangutan yang diduga terjadi di dalam kawasan konsesi PT. Susantri Permai anak perusahaan Genting Berhad di Kapuas, Kalimantan Tengah. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh COP dari lapangan, kejadian ini terjadi pada tanggal 27 Januari 2017. Orangutan ditembak di antara Blok F11 – F12 dengan senapan angin dan setelah tewas dibawa ke Camp Tapak. Di camp tersebut, orangutan disembelih dan dipotong – potong.

Berkaca pada kejadian serupa di Makin Group, Kalimantan Timur pada tahun 2011, polisi hendaknya segera bertindak menegakkan hukum. Orangutan adalah salah satu spesies yang paling dilindungi di Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, pelaku bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda 100 juta.

Pembunuhan ini tidak perlu terjadi jika anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini menjalankan prinsip dan kriterianya.

Hardi Baktiantoro, Principal COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Pembunuhan ini menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahan dari hulu ke hilir dalam segala hal, mulai dari perijinan hingga penilaian. Ini menunjukkan bahwa konsesi yang diberikan berada dalam habitat orangutan. Laporan – laporan penilaian yang disampaikan ke RSPO diduga kuat tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Ini menjadikan kredibilitas RSPO diragukan. RSPO harus segera menendang Genting Berhard, perusahaan asal Malaysia ini dari keanggotaan.”

Informasi mengenai perusahaan ini bisa dilihat di:

http://www.bloomberg.com/research/stocks/private/snapshot.asp?privcapId=58833630

Untuk informasi dan wawancara:
Hardi Baktiantoro
08121154911
hardi@orangutan.id

Untuk koordinasi kunjungan ke lapangan, hubungi:
Ramadhani
Communication Manager
0813 49271904
dhani@orangutan.id

APE CRUSADER’S VISITING SMPN 4 KUMAI

Empat puluh siswa berkumpul di perpustakaan sekolahnya. APE Crusader bersama Friends of National Parks Foundation Kumai datang untuk berbagi informasi tentang orangutan dan habitatnya. Ternyata masih ada yang bingung membedakan orangutan dengan primata lainnya.

Kelas 7 hingga 9 SMPN 4 Kumai merupakan sekolah binaannya FNPF Kumai. APE Crusader tidak susah lagi menceritakan fungsi hutan untuk manusia. Tinggal mengingatkan siswa untuk menjaga satwa liar yang berada di hutan, karena satwa tersebut memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Seperti orangutan yang merupakan spesies payung bagi satwa liar lainnya. Kemampuannya menjaga keberlangsungan hutan belum tergantikan. Ini berkaitan dengan daya jelajah orangutan yang sekitar 3 km per hari dan variasi makanannya. Orangutan yang merupakan satwa arboreal juga membantu tumbuhan untuk mendapatkan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Dalam satu hari ini, APE Crusader melakukan school visit di dua jenjang sekolahan. SDN 1 Sungai Kapitan dengan murid kelas 3 dan 4 serta SMPN 4 Kumai kelas 7 sampai 9. “Ya materi yang kami sampaikan memang harus berbeda. Harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang ada. Cara penyampaiannya juga berbeda. Untung saya ikut COP School Batch 6. Jadi sudah tidak canggung lagi untuk school visit.”, kata Septian sambil tersenyum.

Page 9 of 101« First...7891011...203040...Last »