MEMO MENIKMATI ENRICHMENT BAMBUNYA DI POJOK KANDANG

Ingat Memo? Memo, orangutan betina yang tak seberuntung orangutan betina lainnya? Memo yang terpaksa menghabiskan hidupnya di kandang karantina karena penyakit hepatitis yang dideritanya. Hepatitis yang diperolehnya karena tertular dari manusia yang memeliharanya dulu.

Minggu ini, Memo mendapat enrichment bambu. Ruas bambu diisi dengan potongan buah-buahan dan jelly untuk menambah serat kebutuhan tubuh Memo. Memo segera naik ke atas kandang seusai mendapatkan bambu bagiannya. Membelah bambu tanpa tenaga dan menemukan makanannya di dalamnya. 

“Hepatitis yang dideritanya menyebabkannya menjadi orangutan yang tak mungkin dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Kita memang berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan. Penyakit kita bisa menular ke orangutan, begitu pula sebaliknya. Jangan foto bersama orangutan, karena zoonosis menghantui kita. Jangan pelihara orangutan karena itu melanggar hukum. Biarkan orangutan menjalankan perannya di hutan, sebagai agen penghijauan alami yang pernah ada.”, ujar drh. Rizki Widiyanti, dokter hewan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur.

 

SENAPAN ANGIN TERUS MENEROR SATWA LIAR

Pelaku penembakan orangutan bernama Hope sudah terbukti bersalah, namun hanya diberikan sanksi sosial yaitu azan selama sebulan di mesjid desa Bunga Tanjung Subussalam. Padahal akibat dari tindakannya mengakibatkan satu orangutan mati dan satu lagi sekarat dengan 74 peluru senapan angin di tubuhnya. Mestinya hukuman yang diberikan lebih dari itu sehingga bisa membuat shock therapy bagi masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan senapan angin yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

Menurut data yang Centre for Orangutan Protection kumpulkan dari berbagai organisasi yang bergerak dibidang perlindungan orangutan, setidaknya ada 23 kasus orangutan tertembak senapan angin di Sumatera dan 27 kasus di Kalimantan. Masih teringat jelas kasus orangutan Kaluhara yang mati dengan 130 peluru di Kalimantan Timur pada awal tahun 2018 lalu, yang salah satu pelakunya juga masih di bawah umur. 

“Kasus orangutan Hope dan Kaluhara kami yakin hanyalah sedikit kasus yang terekspose dari sekian banyak kasus yang tidak terekspose. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak sudah satwa liar tidak bersalah tewas karena senapan angin.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Tidak adanya kontrol yang ketat tentang peredaran dan penggunaan senapan angin sangat membahayakan bagi satwa liar. Setiap orang dengan mudah memiliki dan menggunakan senapan angin bahkan anak-anak di bawah umur sekalipun. Surat edaran yang dikeluarkan oleh Perbakin tanggal 23 Maret 2018 tentang pengaturan penggunaan senapan angin bukanlah untuk berburu, melukai apalagi membunuh satwa dilindungi nampaknya juga belum tersosialisasikan dengan baik. Pasal 41 Peraturan Kepala Kepolisian Negara RI Nomor 8/2012 jelas menyatakan penggunaan senjata api atau senapan angin dilarang di luar areal latihan, pertandingan dan atau areal berburu yang ditetapkan oleh Undang-Undang. (HER)

PENEMBAK ORANGUTAN HOPE DIHUKUM AZAN?

Satu anak orangutan mati dan induknya yang diberi nama Hope terluka parah dengan 74 peluru senapan angin bersarang ditubuhnya. Desakkan publik dan dukungan untuk mencari pelaku penembakan di desa Bunga Tanjung, kecamatan Sultan Daulat, kota Subulussalam, Aceh pada Polda Aceh berhasil mengungkap tersangka yang ternyata masih di bawah umur. 

AIS (17 tahun) dan SS (16 tahun) dihukum dengan sanksi sosial setelah penyelesaian kasus itu diputuskan melalui diversi. Upaya pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana dilakukan pada tingkat penyidik. Sanksi sosial untuk keduanya, pertama, wajib azan magrib dan sholat isya di masjid desa Bunga Tanjung selama sebulan yang diawasi oleh Bapas (Balai Pemasyarakatan) dan aparat desa. Kedua, bila sanksi pertama dilanggar, maka akan diulangi lagi dari awal. Terakhir, pelaku harus membersihkan tempat ibadah masjid atau mushola. Pelaku mengakui perbuatannya serta meminta maaf kepada pihak terkait.

“Pelaku penembakan orangutan dengan 74 peluru senapan angin cuma dihukum azan selama sebulan? Itu efek jeranya apa ya? Katanya orangutan satwa dilindungi. Apa begini bentuk perlindungannya?”, Indira Nurul Qomariah, ahli Biologi COP mempertanyakan hukum yang dianggapnya tidak sesuai. 

Begitulah, yang bikin aturan aja seperti gak punya niat buat melindungi. Gimana mau selesai urusan perlindungan satwa liar yang udah pada di depan mata kepunahannya itu. Kek yang satu ini nih, masak hukumannya begini? Dikira dagelan apa? Gak malu apa sama dunia internasional? Nanti kalau dibahas asing bilang “antek asing” lagi, cape deehhh… hukuman yang aneh! Dilindungi tapi tak terlindungi!”, Novi Fani Rofika, orangufriends Padang.

Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection menyampaikan kekecewaannya atas sanksi pada kedua pelaku pembunuh orangutan di Subulussalam, Aceh. “Ini membuat penegakkan hukum semakin berat. Semoga kedepannya penegak hukum dapat bekerja lebih baik lagi, agar hukum dapat lebih dipandang!”.

Page 8 of 292« First...678910...203040...Last »