SCHOOL VISIT TO SMK NEGERI 2 BERAU

All of a sudden, the electricity went out when APE Guardian team (Centre for Orangutan Protection team who work on orangutan release) conducted a school visit activity. There was shouts of disappointment heard at this vocational school at the time. The team immediately modificated the school visit process. Story telling and question and answer session became a more interesting discussion session.

September 6, 2016, All of 10th grade and 11th grade students of SMKN 2 Berau, Easti Kalimantan were gathered in the school hall. At 09.00 WITA sharp, Ipeh, a volunteer who came from Jogja, started introducing the team. This was the second volunteering activity of Ipeh after helping the APE Guardian team in the orangutan release forest last year. ” Being a volunteer of COP is different and addictive. Just like today, facilities limitation such as black out will not stop us. When will we practice modifying the limitation if we don’t jump into action?.” that was what Ipeh said.

East Kalimantan province is a home to the Pongo pygmaeus morio, a sub-species of orangutan. The sub-species is the smallest sub-species in Kalimantan. Educating from school to school became an important activity to directly provide information about the increasingly threat of morio orangutan presence. ” We believe that the conservation of Borneo lies on their hands.” added Ipeh optimistically. (SAR)

SCHOOL VISIT DI SMK NEGERI 2 BERAU
Tiba-tiba saja listrik padam saat tim APE Guardian (tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja untuk pelepasliaran orangutan) melakukan kegiatan kunjungan ke sekolah. Terdengar teriakkan kecewa para siswa Sekolah Menengah Kejuruan ini. Tentu saja tim langsung memodifikasi proses ’school visit’ kali ini. Cerita dan tanya jawab menjadi sebuah diskusi yang lebih menarik.

6 September 2018, seluruh kelas X dan XI SMKN 2 Berau, Kalimantan Timur sudah berkumpul di aula sekolah. Tepat pukul 09.00 WITA, relawan Ipeh yang baru saja datang dari Yogyakarta memulai perkenalan tim. Ini adalah kegiatan relawan Ipeh yang kedua kalinya setelah tahun lalu ikut membantu tim APE Guardian di hutan pelepasliaran orangutan. “Jadi relawan di COP itu unik dan bikin ketagihan. Seperti hari ini, keterbatasan fasilitas seperti matinya listrik tidak akan membuat kita berhenti. Kapan lagi kita bisa berlatih memodifikasi keterbatasan kalau tidak langsung terjun ke lapangan.”, begitu ujar Ipeh.

Kalimantan Timur adalah provinsi dengan keberadaan sub-spesis orangutan Pongo pygmaeus morio. Sub spesies ini merupakan sub spesies terkecil di Kalimantan. Edukasi dari sekolah ke sekolah menjadi begitu penting untuk secara langsung memberikan informasi tentang semakin terancamnya keberadaan orangutan morio. “Kami yakin, di tangan merekalah nantinya dunia konservasi Kalimantan.”, tambah Ipeh optimis. (RYN)

LET’S SUPPORT THE MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY REGULATION NO 20 OF 2018

The government has just made a big leap by issuing the Ministry of Environment and Forestry Regulation No. 20 of 2018 concerning Types of Protected Plants and Wildlife.

Centre of Orangutan Protection welcomes the regulation and ready to support the government to enforce the law. “Furthermore, COP consider the regulation as important point for culture change, from the culture of confining animals to the culture of nurturing them in nature.”, said Hardi Baktiantoro, founder of Centre for Orangutan Protection.

Wildlife trading either online or offline at bird markets could not just happen. It has been studied. The dilemma that has been occurred so far is those wildlife are threatened to extinction in their habitat, while there are many illegal traders and even people make an open bird singing contest. Let say Murai batu bird/ kick forest (kittacincla malbarica), cucak raw (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak sure (Gracupica calla).

The existence of Ministry Regulation No 20/2018 makes tapanuli orangutans (Pongo tapanuliensis) are legally protected animals. This is a prompt government effort to protect the newly discovered orangutan species in the past year.

COP is calling all orangufriends to fully support the Ministry of Environment and Forestry to not back down enforcing this Regulation. (SAR)

AYO DUKUNG PERMEN LHK 20 TAHUN 2018
Lompatan besar baru saja dilakukan Pemerintah pada bulan Juni 2018 dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Centre for Orangutan Protection menyambut baik Permen No. 20 ini dan siap mendukung pemerintah untuk menegakkan hukum. “Lebih jauh lagi COP memandang bahwa Permen ini merupakan titik penting untuk perubahan budaya yaitu dari budaya mengurung satwa menjadi memelihara di alam bebas.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection.

“Masuknya satwa liar yang sering diperdagangkan baik itu secara online maupun di pasar burung ini tentu saja bukan asal jadi. Ini sudah menjadi kajian. Dilema yang terjadi selama ini, kondisi satwa liar tersebut di habitatnya sudah terancam punah namun banyak terdapat di pedagang bahkan menjadi lomba burung berkicau secara terbuka. Sebut saja burung Murai batu/ Kucica hutan (Kittacincla malbarica), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak suren (Gracupica jalla).

Dengan adanya Permen No. 20/2018 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) telah ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi Undang-Undang. Ini adalah usaha cepat pemerintah untuk melindungi spesies orangutan yang baru ditemukan di tahun 2017 yang lalu.

COP memanggil seluruh orangufriends untuk memberikan dukungan penuh kepada KLHK untuk tidak mundur menegakkan Permen ini.

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY

Raju, a juvenile orangutan was found in the palm oil concession in Kutai Timur, East Kalimantan. After four years living as a pet, the APE Crusader team rescued Raju and moved him to COP Borneo rehabilitation center. Raju then changed his name to Jojo. We conducted a full medical check-up of his health and behavioral study for 2 months. The result is displeasing. Jojo has hepatitis, possibly contagious by humans. 

Memo, an orangutan who used to ride a motorbike with her owner and travel around from village to villages. Memo has joined COP rehabilitation center since 11 April 2015. She is 18 years old now but has a somber future. Memo has hepatitis because she contacted with humans numerous times in the past.

Both of these orangutans will live forever in the cage. The quarantine cages which is limiting their space and movement. They will live behind solid bars, without any chance to feel the fresh air in their habitat. They did not have hepatitis by natural causes. It is transmitted by humans.

Memo and Jojo still have a dream to climb the highest tree, to swing from one tree to another, like the other orangutans do. We also had a dream, to create the first and the only orangutan rehabilitation center that is built and organized by Indonesian people. This dream came true in 2014. Now, our homework is to actualize Memo and Jojo’s dream. Let’s help COP Borneo to buy an island as a sanctuary for Jojo and Memo. They have a right to live as wild orangutans, not in the cage!

Today, as we celebrate The International Day of Charity, we hope you could help our future action by donating through Paypal account of Centre for Orangutan Protection http://www.orangutan.id/what-you-can-do/, or through this crowdfunding site https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Your donation will be used to build a sanctuary island for orangutans with hepatitis in COP Borneo. Your donation could change the life of Memo and Jojo. (IDI)

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY 
Orangutan bernama Raju ini ditemukan di kebun sawit, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Setelah 4 tahun dalam pemeliharaan warga, keberadaan Raju diketahui tim APE Crusader. 4 April 2018 yang lalu, Raju pun masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dan berganti nama menjadi Jojo. Serangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi prilaku dilalui Jojo selama dua bulan penuh. Dan hasil yang sangat mengecewakan pun keluar. Jojo menderita hepatitis dari manusia.

Memo, orangutan yang selalu dibonceng naik sepeda motor oleh pemeliharanya dan diajak berkeliling desa masuk ke pusat rehabilitasi orangutan pada 11 April 2015. Orangutan betina yang berusia 18 tahun ini pun dibayangi masa depan yang suram. Dari hasil laboratorium, Memo menderita hepatitis.

Kedua orangutan COP Borneo ini akan hidup di dalam kandang. Kandang karantina yang terbatas pada ruang dan geraknya. Hidup di balik jeruji besi tanpa ada masa depan untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Hepatitis yang diderita mereka adalah penularan dari manusia.

Memo dan Jojo masih punya mimpi untuk bisa memanjat pohon yang tinggi, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sebagai orangutan yang memiliki daya jelajah terbatas. Seperti mimpi kami yang berada di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Pusat rehabilitasi lokal yang sudah berdiri sejak 2014 yang lalu. Mari bantu COP Borneo untuk membeli sebuah pulau sebagai sanctuary island untuk Jojo dan Memo. Mereka pun berhak untuk hidup liar!

Tepat di hari ini, International Day of Charity, berikan bantuan mu lewat akun Kitabisa https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Sanctuary island untuk orangutan hepatitis COP Borneo. Ijinkan Jojo dan Memo liar.

Page 8 of 236« First...678910...203040...Last »