COP SENDS SUPPORT LETTER TO NORTH SUMATERA BKSDA TO TAKE OVER THE ORANGUTAN FROM THS

Boncel and Ina the orangutan are two individuals who entered Siantar Animal Park (THS) a month ago. Those orangutans are allegedly local’s property who were handed over to THS. Physically, they’re pretty good and decent to enter a rehabilitation center before release back to its nature. North Sumatera has a good facilities of Orangutan rehabilitation center, in Sibolangit, North Sumatera to be exact. The track record shows the credibility of the one and only orangutan rehabilitation center in Sumatera. There’s no way else, THS must deliver the orangutan to the state, to undergo a rehabilitation process, before return back to the wild.

The future of the orangutan is still far away. And the rehabilitation process is one of right moves in the effort to increase the Sumateran Orangutan population in the wild which is nearly extinct. BKSDA of North Sumatera has full authority to this matter and COP fully support them to take a decisive action to evacuate the orangutan from THS and send them to Orangutan rehabilitation center.

Thursday, July 19, 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) sent a support letter for North Sumatera BKSDA, with copies to The Director General KSDAE, The Secretariat of Directorate General KSDAE, and the Directorate of KKH, to evacuate Boncel and Ina the orangutan from THS and do an effort of rehabilitation to those two individuals of orangutan. (SAR)

COP KIRIM DUKUNGAN KE BKSDA SUMUT UNTUK AMBIL ORANGUTAN DARI THS
Orangutan Boncel dan Ina adalah dua individu orangutan yang masuk ke Taman Hewan Siantar (THS) sebulan yang lalu. Orangutan tersebut diduga dari kepemilikan masyarakat yang diserahkan kepada THS. Secara fisik, orangutan tersebut cukup baik dan layak dimasukkan ke pusat rehabilitasi sebelum dikembalikan menuju ke alam. Sumatera Utara memiliki fasilitas pusat penyelamatan orangutan yang baik, tepatnya di Sibolangit, Sumatera Utara. Rekam jejak menunjukkan kredibilitas pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya di Sumatera. Tidak ada alasan lain, THS harus menyerahkan satwa tersebut kepada negara untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam.

Masa depan orangutan tersebut masih panjang dan proses rehabilitasi untuk pelepasliaran adalah salah satu langkah yang baik untuk dilakukan dalam upaya peningkatan populasi orangutan Sumatera di alam yang terancam punah. BKSDA Sumut memiliki wewenang penuh akan hal ini dan COP mendukung upaya tegas untuk mengevakuasi orangutan dari THS untuk masuk Pusat Rehabilitasi Orangutan.

Kamis, 19 Juli 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) mengirimkan surat dukungan kepada BKSDA Sumatera Utara dengan tembusan Dirjen KSDAE, Setdijen KSDAE dan Dir KKH untuk melakukan evakuasi orangutan Boncel dan Ina dari THS dan melakukan upaya rehabilitasi bagi kedua individu orangutan tersebut.

COP URGES THS TO GIVE TWO ORANGUTANS UP TO THE STATE

Two orangutans entered Siantar Animal Park or Taman Hewan Siantar (THS) in Pematang Siantar city, North Sumatera, allegedly from the communities are being talked about. Here is Centre for Orangutan Protection (COP)’s attitude statements:

1. Both orangutans are still able to be rehabilitated and it is appropriate for THS to hand over two individual orangutans to the state for quarantine and rehabilitation before release them back into the forest.

2. North Sumatera has orangutan rehabilitation center that has good facilities and accredibility in orangutan rehabilitation program under the Natural Resources Conservation Center (BKSDA) of North Sumatera

3. Sumatran orangutan is listed as critically endangered and the government has efforts to increase its population and all parties must support, including THS.

4. We support North Sumatra BKSDA to evacuate those two individual orangutans and send them into rehabilitation center.

Poaching and illegal trading has been and still a serious problem for Sumateran Orangutans. In 2015-2016, the COP team had assisted the police and the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) to conducted seizure operations Sumateran orangutan trade cases for at least 4 cases with evidence of 9 Sumateran orangutan babies in Langsa, Medan, Jakarta, and Garut.

For further info and interview, please contact:
drh. Rian Winardi
COP Ex-situ Campaigner
Phone no: 085245905754
Email: info@orangutanprotection.com

COP DESAK THS SERAHKAN 2 ORANGUTAN KE NEGARA
Masuknya dua individu orangutan Sumatera di Taman Hewan Siantar (THS) di kota Pematang Siantar, Sumatera Utara yang diduga bersumber dari masyarakat sedang ramai diberitakan. Berikut pernyataan sikap dari Centre for Orangutan Protection (COP):

1. Kedua orangutan tersebut masih bisa direhabnilitasi dan sudah sepantasnya pihak THS menyerahkan 2 individu orangutan kepada Negara untuk di karantina dan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan menuju alam.

2. Sumatera Utara memiliki pusat rehabilitasi orangutan yang memiliki fasilitas serta kredibilitas yang baik dalam program rehabilitasi orangutan di bawah naugan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara.

3. Orangutan Sumatera termasuk dalam satwa yang terancam punah dan pemerintah memiliki upaya meningkatkan populasi dan semua pihak wajib mendukung termasuk THS.

4. Mendukung BKSDA Sumatera Utara untuk melakukan evakuasi terhadap kedua individu orangutan tersebut dan mengirimkannya ke pusat rehabilitasi orangutan.

Perburuan dan perdagangan masih menjadi ancaman serius bagi orangutan Sumatera. Setidaknya kurun waktu tahun 2015-2016, tim COP membantu Kepolisian dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan operasi penyitaan untuk kasus perdagangan orangutan Sumatera sebanyak 4 kasus dengan barang bukti sejumlah 9 bayi orangutan Sumatera di kota Langsa, Medan, Jakarta dan Garut.

Untuk informasi dan wawancara, silahkan hubungi:

drh. Rian Winardi
Juru Kampanye Eks Situ COP
HP: 085245905754
Email: info@orangutanprotection.com

Mustafa Imran
PLH BKSDA Sumatera Utara
HP: 081260696826

SAVE THE BATANGTORU ORANGUTAN TWINS

Nine months since the Orangutan Tapanuli or Pongo tapanuliensis species announced as the 3rd species of orangutan after Pongo pygmaeus (Bornean orangutan) and Pongo abelii (Sumatran orangutan), another unexpected discovery appeared in May 2018, that is a mother of orangutan found with her two look alike children. Twins?

This is a very rare occurrance. “According our knowledge, Leuser and Gober orangutan who are blind gave birth to twins in January 2011. But they aren’t wild, the delivery was done in orangutan rehabilitation center in Batu Mbelin quarantine, Sibolangit, North Sumatera.”, says Rian Winardi, COP vet specialist. In January 2015, The mother (Gober) and the children (Ganteng and Ginting) were released in Jantho forest, Aceh, but unfortunately Ganteng couldn’t followed his mother and his twin. “Generally in the birth of twins, one has bigger body than another, so does the ability. That’s why the discovery of the wild twin Tapanuli orangutan in nature is amazing.”, adds Rian again.

Right now, Tapanuli orangutans are facing their main threat, that is losing its habitat. The construction of a hydro power plant is expected to threaten the Tapanuli orangutan population that is no more than 800 individuals remaining.There are 25 (twenty five) of the world’s leading scientist who are members of ALERT (Alliance of Leading Environmental and Thinkers) sent a letter of objection to the construction of Batang Toru hydroelectric project to the President of Indonesia, Joko Widodo.

Tapanuli orangutan is the fewest speciest with small habitat who will be increasingly endangered. “Illegal forest clearance, logging, and poaching are quite a threat for Tapanuli orangutan. The emergence of an industry in the habitat of Tapanuli orangutan can certainly accelerate its extinction.”, Ramadhani, COP Manager of Orangutan and Habitat Protection sadly said. 

SELAMATKAN ORANGUTAN KEMBAR BATANGTORU
Sembilan bulan sejak diumumkannya spesies Orangutan Tapanuli atau Pongo tapanuliensis sebagai spesies orangutan ketiga setelah Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan Sumatera), muncul lagi penemuan tak terduga lainnya pada Mei 2018 yaitu ditemukan induk beserta dua anaknya yang terlihat sama, kembar?

Ini adalah kasus yang sangat langka. “Sepengetahuan kami, orangutan Leuser dan Gober yang keduanya buta pada Januari 2011 melahirkan bayi kembar. Tapi bukan liar, kelahirannya di pusat rehabilitasi orangutan di Karantina Batu Mbelin, Sibolangit Sumatera Utara.”, ujar Rian Winardi, dokter hewan COP. Pada Januari 2015, Induk (Gober) dan anak kembarnya (Ganteng dan Ginting) dilepasliarkan di hutan Jantho, Aceh namun sayang Ganteng tak mampu mengikuti induk dan saudara kembarnya. “Biasanya kelahiran kembar, ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil berikut kemampuannya. Itu sebabnya penemuan orangutan Tapanuli kembar yang liar di alam sangat menakjubkan.”, tambah Rian lagi.

Kini, orangutan Tapanuli menghadapi ancaman utamanya yaitu kehilangan habitat. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air diduga akan mengancam populasi orangutan Tapanuli yang tak lebih dari 800 individu ini. Ada 25 (dua puluh lima) ilmuwan terkemuka dunia yang tergabung dalam ALERT (Allliance of Leading Environmental Researchers and Thinkers) mengirimkan surat keberatan pembangunan proyek PLTA Batang Toru ini kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Orangutan Tapanuli adalah spesies yang paling sedikit dengan habitat yang kecil akan semakin terancam punah. “Pembukaan hutan ilegal, penebangan dan perburuan sudah cukup menjadi ancaman bagi orangutan Tapanuli. Munculnya industri di habitat orangutan Tapanuli dapat dipastikan mempercepat kepunahannya.”, kata Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP dengan miris.

Page 8 of 224« First...678910...203040...Last »