PERAMBAHAN HUTAN LABANAN DIKAWATIRKAN MEMICU KEBAKARAN HUTAN

Suara gergaji mesin terdengar kembali di dekat pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Tak lama kemudian suara robohnya pohon mengenai pepohonan yang lain hingga dentuman saat pohon mengenai tanah. 

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) adalah kawasan hutan yang ditetapkan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan serta kepentingan religi dan budaya setempat. Ini sesuai dengan amanat UU No. 41 tahun 1999 dengan tanpa mengubah kawasan yang dimaksud. 

Namun, kepemilikan warga lokal sejak zaman nenek moyang akan menyebabkan perselisihan dan sengketa penggunaan lahan. Seperti sekarang ini, ketika pohon-pohon di sekitaran lokasi kandang dan sekolah hutan COP Borneo telah ditebangi. Menurut keterangan, lokasi penebangan tersebut akan dijadikan ladang bagi warga. Usai ditebang, biasanya sisa-sisa tebangan pohon dibakar. Musim kemarau semakin memperburuk keadaan. Pohon-pohon yang telah ditebang menjadi sangat kering dan dapat dengan mudah terbakar. 

Kalau sudah begitu, saluran pernafasan orangutan bahkan manusia penghuni COP Borneo akan terganggu. Orangutan-orangutan kecil akan lebih terasa karena kondisinya yang masih sangat sensitif pada perubahan. Kasus ini bukanlah kasus yang mudah. (SAD)

ICEL TERLIHAT BERMAIN DI PINGGIR SUNGAI

Michelle, orangutan betina yang manja ini kini bertubuh besar. Mustahil menggendongnya, itu sebabnya setelah melalui pemeriksaan kesehatan, Icel (panggilannya) memperoleh kesempatannya untuk belajar hidup mandiri tanpa bersentuhan dengan manusia di sebuah pulau pra-rilis orangutan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Labanan, Berau, Kalimantan Timur.

Tiga bulan pertamanya di pulau memaksanya untuk takut dan tidak turun ke tanah walau sesaat. Ternyata selama itu pula, dia belajar mengetahui waktu perawat satwa menghampirinya untuk memberinya makan. “Orangutan memang makhluk yang sangat pintar, dia cepat belajar dan menyesuaikan diri.”, ujar Reza Kurniawan, ahli primatologi COP.

Michelle terlihat menyentuh tanah sejak dia pernah terjatuh dari pohon ara. Pohon ara itu sendiri berada dekat dengan menara tempat meletakkan pakan pagi maupun sorenya. Setelah itu Michelle sempat terlihat beberapa saat bermain dengan mengambil batu di pinggir sungai. “Bahkan ketika kami mendekatinya dengan perahu, Michelle cenderung lebih berani untuk mendekati kami bahkan sampai menyentuhkan kakinya ke air yang mana sebelumnya tak pernah sama sekali.”, ujar drh. Satria Dewantara. 

Cuaca di COP Borneo yang kering mungkin menjadi penyebab Icel turun. drh. Satria juga sempat memergokki Icel minum dengan mulut langsung dari sungai. Harapan besar untuk Icel bisa kembali dilepasliarkan ke habitatnya menjadi semangat kami semua. Kami percaya, Icel bisa menjalankan perannya di hutan yaitu sebagai agen penghijauan alami. Semangat kamu untuk Icel lewat sini aja ya https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan

 

OVAG WADAH CURHAT DOKTER HEWAN (KEBAKARAN HUTAN)

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur selalu bersemangat jika acara OVAG (Orangutan Veterinary Advisory Group) berlangsung. Acara tahunan ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu dokter hewan COP Borneo, karena disinilah mereka bisa curhat (berdiskusi) dengan teman seprofesi. Mulai dari kasus individu orangutan hingga perebutan mendapatkan hadiah obat maupun peralatan. 

OVAG yang berlangsung dari 28 Juli hingga 1 Agustus tahun ini membicarakan kebakaran hutan yang selalu terjadi di musim kering/kemarau terutama di Kalimantan. Kasus pernapasan menjadi kasus tertinggi, tak hanya pada orangutan tetapi pada primata lainnya. Seperti gibbon terdampak kebakaran hutan karena teritorinya yang berkurang ditandai dengan semakin berkurangnya gibbon singing (nyanyian gibbon). 

Penyakit pada saluran pernapasan pada orangutan merupakan penyakit yang kompleks. Beberapa jenis penyakit saling berhubungan dan ketika orangutan mengalami infeksi pada Air sac (air sacculitis), kemungkinan orangutan tersebut menderita sinusitis, bronchiolitis atau pneumonia pun semakin besar. 

Pilihan terakhir dalam menghadapi kasus kebakaran adalah evakuasi, baik evakuasi manusia, satwa dan juga alat. Cara terbaik untuk penanganan kebakaran hutan adalah pencegahan dengan pendampingan masyarakat sekitar. Selain itu mempersiapkan sumur bor untuk memastikan ketersediaan air saat usaha pemadaman kebakaran juga dilakukan. (FLO)

 

Page 7 of 292« First...56789...203040...Last »