EDUKASI DI SMPN 24 BERAU

Setelah mengajar anak-anak di desa Merasa minggu lalu, kami melanjutkannya ke anak-anak SMP. “Sebenarnya, kami grogi loh. Ngadepin remaja… ini untuk pertama kalinya kami akan ngadepin anak remaja.”, ujar Aga, relawan yang bergabung di COP Borneo setelah mengikuti COP School Batch 7 bulan Mei yang lalu.

Menghadapi remaja tentu saja berbeda dengan anak-anak. Yang pasti kekawatiran kami adalah, saat kami teringat masa peralihan remaja yang sudah kami lalui. Sulit mendengar, dengan emosi yang meluap-luap sampai siapa saja bisa ditantang. Tapi inilah kami, kesulitan yang kami bayangkan tetap harus kami lalui. Saatnya kami berlatih langsung.

Pagi hari, sebelum matahari bersinar di ujung cakrawala, mata kami sudah terlebih dahulu bersinar. Segera kami bangun tidur untuk berangkat ke SMPN 24 yang berada di dekat jembatan sungai Kelay, desa Merasa, Berau. Bapak Junaedi, kepala sekolah menyambut kami dengan senyumannya.

Melalui nyanyian orangutan, permainan tebak gambar dan tebak suara satwa kami memulai school visit ini. Print out foto satwa satu per satu kami tampilkan. “Kami harus menyiasati keterbatasan yang ada. School visit tanpa fasilitas listrik ini harus berjalan. Makanya, kami mencetak slide show dan beberapa foto sebagai gantinya.”, ujar Alfa Gasani.

Di akhir pertemuan, kami merangkum materi dengan sebuah permainan pemburu dan satwa. Siswa membentuk lingkaran besar dengan bergandengan tangan, berperan sebagai pohon. Beberapa siswa, kami minta untuk menjadi satwa liar masuk ke dalam lingkaran. Dan ada siswa yang lain berperan sebagai pemburu, berada di luar lingkaran. Pohon harus berusaha sekuat tenaga melindungi satwa yang berada di dalam lingkaran dari ancaman pemburu. Suasana pun menjadi sangat meriah dan para siswa memerankan perannya dengan baik.

“Kami berharap, para siswa memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terutama satwa liar agar hutan tetap terjaga. Melindungi satwa liar dan hutan adalah tanggung jawab kita semua. Salam lestari.” (Aga_Orangufriends)

APE CRUSADER EVACUATE SALTWATER CROCODILE

Friday, July 21st 2017, Nature Conservation Agency: Indonesia (BKSDA), Sampit with Ape Crusader from Center for Orangutans Protection (COP) evacuated a Salt water crocodile (Crocodylus porosus) that was found by people of Persil Raya village, Seruyan Hilir, Central Kalimantan.

Since Monday, 17th of July the crocodile is located behind the Heavy Equipment Warehouse of PT. Buih Seruyan. “At that time I was both surprised and frightened to see a big crocodile under my bed. I ran and was chased by it, but the crocodile swam into the ditch behind the warehouse.”, said Mustarhin (40 years old).

“For the past 15 years, this is the first time I saw a crocodile came inside (the warehouse area). Maybe the crocodile is from the Seruyan River and (was) here to search for something to eat.”, he added.

“The handover of Salt water crocodile that is protected by UU No. 5 Th. 1990 about the Nature and Ecosystem Conservation today is the result of people’s awareness to protect the animals from the habitat loss and to prevent the conflict with people”., said Muriansyah the Commander of BKSDA, Sampit.

“We appreciate the active role of people to handle the conflict with wild animals.”, said Faruq form Center for Orangutan Protection. “Whatever kind of wild animals is going to approach settlement (villages) is they are losing their habitat and their food source.”, Faruq added. Next, the crocodile is going to be released in safer place. (Petz)

Jumat, 21 Juli 2017, BKSDA Pos Sampit bersama APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection mengevakuasi buaya muara (Crocodylus Porosus) yang ditemukan warga desa Persil Raya, Seruyan Hilir, Kalimantan Tengah.

Sejak Senin, 17 Juli buaya itu berada di parit belakang gudang alat berat dan minyak PT. Buih Seruyan. “Waktu itu saya dikagetkan kedatangan buaya yang besar tepat di bawah tempat tidur saya. Saya lari dan sempat dikejar, namun buaya menceburkan diri ke parit yang berada di belakang gudang.”, ujar Mustarhin (40 tahun).

“Selama 15 tahun, baru kali ini buaya masuk ke dalam. Mungkin buaya ini masuk dari sungai Seruyan untuk mencari makan.”, tambahnya.

“Penyerahan buaya muara yang dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya ini adalah atas kesadaran warga masyarakat untuk melindungi satwa liar ini dari ancaman gangguan habitat dan konflik terhadap masyarakat.”, demikian penjelasan Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

“Kami mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam penanganan konflik satwa liar.”, kata Faruq dari Centre for Orangutan Protection. “Satwa liar apapun akan terus terdesak dan semakin mendekat ke manusia jika habitat yang menjadi tempat tinggal dan mencari makannya terganggu.”, tegas Faruq lagi. Selanjutnya, buaya akan dilepasliarkan kembali ke tempat yang lebih aman. (Petz)

COMBATTING WILDLIFE TRAFFICKING

Raku is Crested serpent eagle (Spilornis cheela bido) who was brought malnourished with a big wound on his chest. Raku must have been kept as a pet, looking at the primaries feathers that has been cut. This is the second day Raku here and don’t even ask if he is okay or if he could already fly, he couldn’t even stand or move his own two feet. That is the story from Grace Tania, member of Orangufriends Malang who is now doing an internship in Pusat Konservasi Elang Kamojang (Eagle Conservation Center, Kamojang).

Conservation world is not an easy world. Time, energy and mental are drain when we have to face the animals. The animals condition must not be in their best. So, are you still going to keep wild animals as a pet? Are you going to join the ‘animal lover’ community? Are you going to still buy wild animals?

Disconecting the circle of wildlife trade is not an easy task to do. For the last seven years Center for Orangutan Protection has been marching on many wars in wildlife trading. The movement of the transaction that is growing larger in Social Media is now happening. The seller can always accessing the transaction from anywhere and anytime. The growing of ‘wild animals lover community’ is also supporting the wildlife trade.

“The concerns and supports from orangufriends (COP supporters) are what keeps us going; fighting the wildlife trade. “, said Hery Susanto. “Their spirit is what keeps us going, that it is not just us insanely dreams wild animals are supposed to be in their habitats.”
(Grace_Orangufriends)

Raku adalah elang ular juvenile. Raku dibawa dalam kondisi malnutrisi dan dengan luka besar di bagian dada. Raku dulunya sudah pasti dipelihara orang, terlihat dari bulu primernya yang dipotong. Ini sudah hari kedua semenjak Raku diantarkan, tidak usah bertanya apa dia bisa sehat dan terbang, untuk berdiri saja dia belum bisa. Itulah cerita Grace Tania, anggota Orangufriends Malang yang saat ini sedang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut.

Dunia konservasi adalah dunia yang tidak mudah. Waktu, tenaga dan mental terkuras saat berhadapan langsung dengan satwa. Kondisi satwa yang dihadapi sudah pasti tidak dalam kondisi terbaiknya. Lalu… kamu masih memelihara satwa liar? Lalu kamu tetap bergabung dengan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa? Kamu masih membeli satwa liar?

Memutus rantai perdagangan satwa liar bukanlah hal yang mudah.
Tujuh tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection berusaha memerangi perdagangan satwa liar ini. Pergeseran transaksi pedagang mulai dari pasar burung ke dunia media sosial pun terjadi. Perdagangan pun semakin marak dengan semakin mudahnya akses internet di seluruh penjuru bumi. Kemunculan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa semakin mendukung perdagangan via online ini.

“Kepedulian orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memberi semangat baru kepada kami, untuk terus memerangi kejahatan terhadap satwa liar.”, ujar Hery Susanto. “Semangat mereka menjadi semangat kami, bahwa tak hanya kami, yang gila, bermimpi, satwa liar tempatnya di alam.”. (Grace_Orangufriends)

Page 7 of 134« First...56789...203040...Last »