MALAM HARI DI CAMP LEJAK

Saat teman-teman pulang dari monitoring adalah saatnya makan malam bersama. Rejeki bagi penyuka ikan, di sinilah tempatnya. Herlina, sang juru masak tinggal minta tambahan lauk maka abang Bit dan abang Yusak segera turun ke sungai di depan camp Lejak. Sesaat menebar jala dan lauk tambahan pun tersedia di dapur.

Lelah berjalan di hutan ketika mengikuti orangutan Oki berkurang dengan sambutan hangat teman-teman di camp Lejak. Begitulah kami saling mendukung satu sama lainnya. Bercerita maupun mendengarkan cerita dan bercanda-gurau menjadikan camp Lejak hangat.

Malam berganti pagi, penat kemarin pun berakhir. Meja ini adalah saksi kekeluargaan APE Guardian. Terimakasih pendukung COP dimana pun berada, dukungan kalian adalah semangat kami. Kami tidak sendiri. (NIK)

APE WARRIOR UNTUK SATWA GUNUNG AGUNG

Gunung tertinggi di pulau Bali ini dinyatakan berstatus Waspada pada 14 Juli 2017 yang lalu. Ini berarti berada di level II untuk gunung berapi yang aktif. Radius 3 kilometer dari kawah gunung pun menjadi steril, tidak boleh ada aktivitas pada radius tersebut.

Sejak itu pula, intensitas kegempaan menjadi lebih sering. Dan pada Senin, 18 September, Gunung Agung yang terletak di kabupaten Karangasem, Bali ditetapkan berstatus Siaga. Penduduk sekitar gunung mulai mengungsi secara mandiri.

Terhitung Jumat, 22 September 2017 pukul 20.30 WITA, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementrian ESDM mengumumkan kenaikan status gunung Agung ke level IV yaitu menjadi Awas. Radius larangan untuk tidak beraktivitasi di 9 kilometer hingga wilayah sektoral 12 kilometer pun dikeluarkan.

Keesokan paginya, Centre for Orangutan Protection (COP), Animals Indonesia, JAAN dan Bali Dong Adoption Rehabilitation Centre (BARC) langsung turun ke lapangan dan memberi pertolongan pada satwa-satwa yang membutuhkan. Berkoordinasi dengan pihak terkait pun dilakukan agar bantuan lebih tepat sasaran.

APE Warrior dengan pengalamannya menangani bencana gunung berapi pun meluncur ke pulau dewata ini bersama satu relawan. Peralatan dan perlengkapan pun memenuhi tim legendaris ini. Semoga sampai ditujuan dan segera bisa membantu satwa yang terdampak bencana gunung Agung.

APE GUARDIAN MONITORING OKI

Kegiatan pasca pelepasliaran orangutan rehabilitasi adalah monitoring orangutan tersebut. Ini adalah bagian terberat yang harus dilakukan. Harus punya fisik kuat, kemampuan survival memadai dan mental yang tangguh. Inilah kemampuan tim APE Guardian COP untuk memastikan orangutan Oki, mampu bertahan di alam.

Monitoring dilakukan setiap hari mulai pukul 04.00 WITA hingga 19.00 WITA. Saat matahari belum muncul hingga matahari hilang di ufuk Barat. Tim mencatat setiap hasil pengamatan sepanjang waktu itu. Jenis sarang yang dibuat Oki, makan apa saja, cuaca, lokasi dan aktivitas Oki keseluruhan. Bukan hal mudah mengikuti pergerakan orangutan yang selalu berada di atas pohon. Sementara tim harus mencari jalan namun tak boleh kehilangan orangutan Oki.

Tim Monitoring didukung tim logistik. Tanpa kerjasama ini, mustahil sukses. Perjalan mengikuti dan kembali camp sudah sangat menguras tenaga, itu sebabnya, tim logistik mendukung penuh tim monitoring ini, termasuk konsumsi dan tidurnya tim monitoring.

Anen dan Jhonny dengan supervisi Reza Kurniawan mengisi formulir data dan catatan penting lainnya. Mereka berdua adalah dua orang yang paham karakter Oki selama di pulau orangutan. Sementara dua orang lokal bertanggung jawab sebagai pemandu jalur lapangan.

Seperti apa hasil monitoring Oki? Ikuti terus #OKIisOK! ya. (NIK)

Page 7 of 151« First...56789...203040...Last »