THE ORANGUFRIENDS OF BERAU  STOP BY AT SMAN 2

How are the orangutan populations stated to be critically vulnerable to extinction? Through education to schools and communities, orangufriends share their knowledges as well as finding out what these high schools students think. Approximately, 100 students of XI IPA SMAN 2 Berau, East Kalimantan, came together after the second breaktime.

Ipeh, Yanti, dan Aldo were the three orangufriends who engaged the students to think creatively. The discussions, which started from about the presence of orangutans around them to orangutans that they saw on the road around Muara Wahau, were coming to a conclusion that is how close the kinship of humans and the one and only living great apes on this Asia continent are.

Orangutans and humans share 97% of their DNA. The orangutan at the roadside definitely learns how difficult it is to find foods in a damaged habitat. Easier to find at the roadside, begging and getting food thrown by humans. The students concerned not only about orangutan habitats that are being degraded by plantations and mining, but they were also asking about the fate of orangutans in the Safari park and Zoos.

“The enthusiasm of students and the Orangufriends of Berau today have made us racing against the time to save orangutans from extinction. Thank you, SMAN 2, see you some other time!”. (SAR)

ORANGUFRIENDS BERAU MAMPIR DI SMAN 2
Bagaimana populasi orangutan dinyatakan sangat terancam punah? Melalui edukasi ke sekolah dan masyarakat, Orangufriends berbagi pengetahuannya juga mencari tahu apa pendapat siswa menengah atas ini. Kurang lebih 100 siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 2 Berau, Kalimantan Timur berkumpul usai istirahat kedua.

Ipeh, Yanti dan Aldo adalah tiga orangufriends yang mengajak para siswa berpikir kreatif. Diskusi santai mulai dari keberadaan orangutan di sekeliling mereka hingga orangutan yang mereka temui di pinggir jalan di daerah Muara Wahau sampai pada sebuah kesimpulan, betapa dekatnya kekerabatan antara manusia dan kera besar satu-satunya yang hidup di benua Asia ini.

Orangutan memiliki DNA 97% sama dengan manusia. Orangutan yang berada di pinggir jalan tentunya belajar betapa sulitnya mencari makanan di habitat yang telah rusak. Lebih mudah berada di pinggir jalan, mengemis dan mendapatkan lemparan makanan dari manusia. Tak hanya semakin tergusurnya habitat orangutan untuk lahan perkebunan maupun pertambangan yang menjadi konsentrasi para siswa, mereka pun menanyakan nasib orangutan yang berada di Taman Safari maupun Kebun Binatang.

“Semangat siswa dan orangufriends Berau hari ini membuat kami berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Terimakasih adik-adik SMAN 2, sampai bertemu lagi di lain kesempatan!”. (NIK)

BEFRIENDED WITH HEADLAMP, WRITING ORANGUTANS’ REPORT

Last night, APE Defender team who runs the COP Borneo orangutan rehabilitation center, were still recapitulating daily orangutan activities. Bringing the headlights on, Steven rewrote his notes. ” This is daily orangutan report. If i don’t work on it tonight, it will keep on accumulated tomorrow.”

Steven, the monitoring and patrolling staff, is the guy who ensure the feed needs and security of orangutans in COP Borneo. The solar panel was in trouble tonight so the camp was in the dark. While writing, Steven muttered, ” Today unyil ate figs several times, Mas.” And i fell asleep listening to the story of the development of other orangutans.

There are four orangutans to be released next month. Unyil is one of them. Unyil was rescued from Muara Wahau, Unyil who never climbed a tree. Unyil who was always eating rice fed by human. Unyil whom hair was straightened. Yes.. that Unyil who was living years in the toilet will be released. This are all because of your trust to support us, Indonesian youth who dream for Indonesian orangutans future. (SAR)

BERTEMAN HEADLAMP, TULIS RAPOT ORANGUTAN
Malam ini, Tim APE Defender yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo masih rekapitulasi aktivitas orangutan harian. Bertemankan cahaya lampu kepala, Steven menulis kembali catatannya, “Ini adalah rapot harian orangutan di pulau. Kalau ngak dikerjain malam ini, besok akan menumpuk terus.”.

Steven, staf monitoring dan patroli pulau orangutan adalah orang yang memastikan kebutuhan pakan dan keamanan orangutan di COP Borneo. Malam ini solar panel sedang bermasalah sehingga camp gelap-gulita. Sambil menulis, Steven bergumam, “Unyil hari ini makan buah ara beberapa kali mas.”. Dan aku pun tertidur sambil mendengarkan cerita perkembangan orangutan lainnya.

Ada empat orangutan yang akan dilepasliarkan bulan depan. Unyil salah satunya. Unyil yang diselamatkan dari Muara Wahau. Unyil yang tidak pernah memanjat pohon. Unyil yang selalu makan nasi dengan cara disuapi. Unyil yang rambutnya direbonding. Ya… Unyil yang hidup bertahun-tahun di dalam toilet itu akan dilepasliarkan kembali. Ini semua berkat kepercayaan kamu untuk mendukung kami, anak-anak Indonesia yang punya mimpi untuk orangutan Indonesia. (NIK)

COP REPORTED THE CRIME TO LAW ENFORCER

One day later, the APE Crusader team who had just arrived from the field were already in the office of the Ministry of Environment and Forestry (MoEF) in Jakarta. On September 6, the team came to the MoEF with a complete report presenting the findings in the field. Unfortunately, the director of the Directorate General of Law Enforcer who should be on the 4th floor was not in place.

“Then, we moved to the office of the Peat Restoration Agency. Indonesia’s peat is under a serious threat.”, said Paulinus Kristianto, disappointed, because he could not meet the person in charge. “We hope that our reports of the alleged crime of land clearing in orangutan habitat and also on peatland can be immediately responded. It’s like counting down time. The faster it is, the more you can save. “Center for Orangutan Protection fully supports the MoEF to conduct studies and inspections in Seruyan District, Central Kalimantan.”, said Ramadhani, manager of the orangutan and habitat protection.

The death of an adult male orangutan on the canal of palm oil plantation with a body caught in a timber log is unusual. From the autopsy, there were 7 air rifle bullets and the orangutan’s right-hand thumb was missing. When the body was found, the team also saw two excavators that were land clearing the area. Around the location were also found several orangutan nests. “Come on, Law Enforcer, we are ready to support.” (IND)

COP MELAPOR ADA KEJAHATAN PADA GAKKUM
Berselang satu hari, tim APE Crusader yang baru saja tiba dari lapangan sudah berada di kantor Kementian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Siang, 6 September, lengkap dengan laporan tertulisnya menyampaikan hasil temuan di lapangan. Sayang direktur Direktorat Jenderal Gakkum yang berada di lantai 4 tidak ada di tempat.

“Kami pun pindah ke kantor Badan Restorasi Gambut. Gambut Indonesia sedang terancam.”, ujar Paulinus Kristianto dengan kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. “Kami berharap laporan dugaan telah terjadi kejahatan pembukaan lahan di habitat orangutan yang juga berada di lahan gambut dapat segera ditanggapi. Ini seperti menghitung mundur waktu. Semakin cepat akan semakin banyak yang bisa diselamatkan. Centre for Orangutan Protection mendukung penuh Gakkum KLHK untuk melakukan kajian dan pemeriksaan di Seruyan, Kalimantan Tengah.”, tegas Ramadhani, manajer perlindungan Orangutan dan Habitatnya.

Kematian satu orangutan jantan dewasa di kanal konsesi perkebunan sawit dengan tubuh tersangkut pada batang kayu bukanlah hal yang biasa. Dari otopsi diketahui ada 7 peluru senapan angin dan jempol tangan kanan orangutan tersebut hilang. Pada saat ditemukan ada dua ekskavator yang sedang landclearing. Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa sarang orangutan. “Ayo Gakkum, kami siap membantu.”.

Page 7 of 236« First...56789...203040...Last »