UNTUNG IS FREE FROM TUBERCULOSIS

The first week of May, Untung had undergone a sputum sampling for pre-release orangutan. The orangutan called Untung is an orangutan who came from a zoo in Samarinda. Untung is a second orangutan who will go back to the wild, after Oki in September 2017.

The sputum sampling aims to examine Tuberculosis in orangutan. Orangutan who will be released must be ensured free from infectious diseases, including Tuberculosis.

The result of UI Microbiology Laboratorium states that Untung is clean. “Thankfully.. Untung is clean and healthy.”, says drh. Ryan Winardi blissfully. “Just another technical process that Untung has to undertake. Hopefully, the administrative affairs of the release site will be approved soon, so that Untung, who is lucky without perfect fingernails, can be released to his habitat soon.” says Reza Kurniawan, the Manager of COP Borneo, orangutan rehabilitation center in Berau regency, East Borneo. (SAR)

UNTUNG BERSIH DARI TUBERKULOSIS
Minggu pertama bulan Mei, Untung telah menjalani pengambilan sampel dahak/sputum orangutan pra-pelepasliaran. Orangutan yang bernama Untung ini adalah, orangutan yang berasal dari kebun binatang di Samarinda. Untung adalah orangutan kebun binatang kedua yang akan kembali ke alam, setelah sebelumnya Oki pada September 2017.

Pengambilan sampel dahak ini bertujuan untuk pemeriksaan Tuberkulosis pada orangutan. Orangutan yang akan dilepasliarkan ke alam harus dipastikan tidak mengidap penyakit menular salah satunya Tuberculosis.

Hasil pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi UI menyatakan Untung bersih. “Syukurlah… Untung bersih dan sehat.”, ujar drh. Ryan Winardi lega. “Tinggal proses teknis lainnya yang akan dijalanin Untung. Semoga urusan administrasi lokasi pelepasliaran segera disetujui, agar Untung, yang beruntung karena tanpa jari-jari yang sempurnanya, bisa segera dilepasliarkan ke habitatnya.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini.

ANNIE’S SECOND DAY AT FOREST SCHOOL

Do not know, then do not love. But the first look can also make us fall in love or not. Maybe that’s the way with the newcomer COP Borneo, Annie. Perhaps this is the first time to see other orangutans after three years of living with humans. Perhaps also his fading memory of his mother made him challenge Happi when he first met. It’s sad to imagine what happened three years ago, when Annie had to be separated from his mother forever.

Annie a 4-year-old male orangutan, for the first time attending a COP Borneo forest school class on May 28, 2018. Annie strikes Happi on the first day of school, and during the day, Annie is oppressed by Happi and Owi, until he gives up and dares not be far from animal keeper who always tried to protect Annie from the two male orangutans who first entered the forest school class. The ability to climb no more than 3 meters. Perhaps this is the highest climbing of Annie after parting with his mother.

The oppression of new students is not continuous. After the first day of the evaluation, the COP Borneo orangutan rehabilitation team decided to keep Annie to a forest school with Happi and Owi. Of course, the animal keeper will be more alert. “What a surprise. Happi started a good relationship with Annie. They stared and climbed the same tree.”, said Wety Rupiana while noting in Annie’s special forest schoolbook. “It turns out yesterday is the day of introduction.”, added Wety relieved. (LSX)

HARI KEDUA ANNIE DI SEKOLAH HUTAN
Tak kenal maka tak sayang. Tapi tatapan pertama kali juga bisa membuat kita jatuh cinta atau tidak. Mungkin begitulah yang terjadi dengan si pendatang baru COP Borneo, Annie. Mungkin ini adalah kali pertamanya melihat orangutan lainnya setelah tiga tahun hidup bersama manusia. Mungkin juga ingatannya yang sudah mulai pudar tentang induknya membuat dia menantang Happi saat pertama kali bertemu. Sungguh menyedihkan membayangkan kejadian tiga tahun yang lalu, saat Annie harus terpisah dengan induknya untuk selamanya.

Annie orangutan jantan berusia 4 tahun, untuk pertama kalinya masuk kelas sekolah hutan COP Borneo pada 28 Mei 2018. Annie memukul Happi di hari pertama sekolah, dan sepanjang hari itu pula, Annie ditindas oleh Happi dan Owi, hingga ia menyerah dan tak berani jauh dari animal keeper yang selalu berusaha melindungi Annie dari kedua orangutan jantan yang terlebih dahulu masuk kelas sekolah hutan. Kemampuan memanjatnya tak lebih dari 3 meter. Mungkin ini adalah panjatan tertingginya Annie setelah berpisah dengan induknya.

Penindasan pada siswa baru tak terus menerus berlangsung. Setelah di hari pertama evaluasi, tim pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo memutuskan untuk tetap membawa Annie ke sekolah hutan bersama Happi dan Owi. Tentu saja, animal keeper akan lebih waspada lagi. “Sungguh mengejutkan. Happi mulai menjalin hubungan yang baik dengan Annie. Mereka bertatapan dan memanjat pohon yang sama.”, ujar Wety Rupiana sembari mencatat di buku sekolah hutan khusus Annie. “Ternyata kemaren adalah hari perkenalan.”, tambah Wety lega. (WET)

WAITING FOR THE DECISION OF THE ORANGUTAN DEATH CASE WITH 130 BULLETS

Compiled data from 8 orangutan organizations recorded that at least 48 cases of orangutans shot with air rifles and a total of 805 bullets. This small, 4.5 mm air rifle bullet, made of tin cannot kill orangutans directly. But the number and location of the bullet can make it the main cause of death for all animals.

The case of an orangutan’s death with 130 air rifle bullets on February 6, 2018, has entered the third trial. Sangatta District Court in East Kalimantan has also heard the defense of the suspect.

After a long holiday of Eid Fitr, Sangatta District Court will decide the verdict on the four suspects of the orangutan shooting with 130 air rifle bullets. “Let’s keep on guarding the case so that the verdict is given according to their actions,” told Ramadhani, the COP manager of habitat and orangutan protection. (IND)

MENUNGGU PUTUSAN KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU
Data bersama dari 8 organisasi orangutan mencatat setidaknya telah terjadi 48 kasus orangutan ditembak dengan senapan angin dan total 805 peluru. Peluru senapan angin yang berukuran kecil, 4,5 mm yang terbuat dari timah ini memang tak bisa membunuh secara langsung. Tapi jumlah dan lokasi bersarangnya peluru bisa menjadikannya penyebab utama kematian mahkluk hidup.

Kasus kematian orangutan dengan ditemukannya 130 peluru senapan angin pada 6 Februari 2018 yang lalu sudah memasuki sidang ketiga. Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur juga telah mendengarkan pembelaan dari tersangka.

Setelah libur panjang hari raya Idul Fitri, Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur akan memutuskan vonis kepada keempat tersangka pelaku penembakan orangutan dengan 130 peluru senapan angin tersebut. “Yuk kita kawal terus, agar putusan yang diberikan sesuai dengan perbuatannya.”, ajak Ramadhani, manajer perlindungan habitat dan orangutan COP.

Page 60 of 269« First...102030...5859606162...708090...Last »