KINABATANGAN ORANGUTAN DIES WITH 3 BULLETS

Adult female orangutan found dead in Kinabatangan river, Malaysia, last Tuesday. There were wounds found on the stomach, shoulder and legs of orangutan that were estimated to be 30 years old. The orangutan’s death was caused by internal bleeding. Three bullets were found on her body.

The death of male orangutan with 7 airgun bullets in Serbian, Central Kalimantan last July are still fresh in our minds. Not just the death orangutan known as Baen in 2018 by airgun bullets. There were also another deaths such as headless orangutan body found in Kalahien river, Central Kalimantan, with 17 bullets and Kalahara 2 orangutan with 130 bullets in Central Kalimantan last February.

Eventually, tiny airgun bullets kill the orangutans that are animals protected by law and threatened to extinction. “Air gun uses regulation has been enacted to regulate but still freely used by some people. This is caused by the weak enforcement of the Chief of Police Regulation Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for sport interests, not for losing lives.”

At the Asian Games 2018 sport event, Centre for Orangutan Protection fully supported Indonesian shooting athletes to not shooting animals as animals are not targets to shot. COP also emphasized that animal hunting is not a sport! (SAR)

ORANGUTAN KINABATANGAN MATI DENGAN 3 PELURU
Orangutan betina dewasa ditemukan mati di sungai Kinabatangan, Malaysia pada hari Selasa yang lalu. Terdapat luka pada bagian perut, bahu dan kaki orangutan yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut. Kematian orangutan tersebut disebabkan pendarahan bagian dalam. Pada tubuhnya ditemukan 3 peluru.

Kematian orangutan jantan dengan 7 peluru senapan angin di Seruyan, Kalimantan Tengah bulan Juli yang lalu masih segar dalam ingatan kita. Tidak hanya orangutan yang diketahui bernama Baen yang mati karena peluru senapan angin di tahun 2018 ini. Ada kematian orangutan tanpa kepala yang ditemukan di sungai Kalahien, di Kalteng dengan 17 peluru dan orangutan Kaluhara 2 di Kaltim dengan 130 peluru pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Peluru-peluru senapan angin yang kecil akhirnya menghabisi nyawa orangutan yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang dan terancam kepunahan. “Peraturan penggunaan senapan angin pun sudah diatur. Tapi penggunaan senapan angin masih saja bebas. Ini karena lemahnya penegakkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, bukan menghilangkan nyawa.”.

Pada acara olahraga Asian Games 2018 yang lalu, Centre for Orangutan Protection mendukung penuh atlet cabang olahraga menembak Indonesia bahwa satwa bukanlah target yang harus ditembak. COP juga menegaskan bahwa berburu bukanlah olahraga! Teror Senapan Angin.

WETY AND POPI

“Now Popi will not let herself share food with others, even to me,” said Wety Rupiana, the captain of APE Defender team. She is fully responsible at the current COP Borneo’s orangutan rehabilitation center. Wety was also Popi’s personal keeper when Popi entered this rehabilitation center 2 years ago. Wety, along with our veterinarians, took turns carrying a bottle of milk for baby Popi. Popi came as a very weak baby and just removed her umbilical cord.

Like a human baby, baby Popi was also crying and shrieking. Popi felt fear when she left alone, even though Wety was in the bathroom for a moment. Wety fell so many times from the stairs and even from the bridge between the camp and clinic because suddenly Popi screamed in the clinic. Wety’s appearance is almost irreplaceable. Like a human baby who is very dependent on her mother, a baby orangutan also has similar dependency on her mother.

Months passed, Popi grew up to be an orangutan child with an unpredictable behavior. Her pampered attitude began to change with a defiant attitude. It is not easy to tell Popi to climb the tree when she enjoyed playing on the ground, like rolling around or watching the roots covered in moss. But it was also not easy to tell her to come down from the tree when she enjoyed swinging from one branch to another. “Even the lure of milk will be ignored,” added Wety.

Popi is a baby orangutan who is forced to lose her mother. Popi loses her natural life in the forest with her mother. Baby orangutans are very dependent and they should be with the mother until they are 6 years old. “We helped her at COP Borneo. We hope that her wild nature continues to emerge as she grows older,” said Wety. Let’s help Popi to get her way back home through this link orangutanprotection.com/adopt/#4 (IND)

WETY DAN POPI
“Kini Popi tak akan membiarkan dirinya berbagi makanan dengan yang lain, bahkan padaku.”, kata Wety Rupiana, kapten APE Defender, orang yang bertanggung jawab penuh di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat ini. Wety jugalah yang menjadi perawat pribadi Popi saat Popi masuk pusat rehabilitasi ini 2 tahun yang lalu. Wety bersama dokter hewan lainnya bergantian membawakan botol berisi susu untuk bayi Popi yang baru saja lepas tali pusar nya. Bayi yang sangat lemah.

Seperti saat bayi manusia menjerit dengan tangisannya, Popi pun seperti itu. Rasa takut ketika ditinggal sendirian padahal Wety sesaat saja ke kamar mandi. Entah berapa kali Wety terjatuh dari tangga bahkan jembatan titian antara camp dan klinik karena tiba-tiba saja Popi menjerit saat dalam perawatan di klinik. Keberadaan Wety hampir tak tergantikan. Seperti bayi manusia yang sangat bergantung pada ibunya. Seperti itulah bayi orangutan dengan induknya.

Detik demi detik berlalu, Popi tumbuh menjadi anak orangutan dengan tingkahnya yang sulit ditebak. Sikap manja nya mulai berubah dengan sikap membangkang. Tak mudah menyuruhnya naik ke atas pohon, saat dia asik bermain di bawah, berguling-guling di tanah atau sedang memperhatikan akar yang diselimuti lumut. Tapi juga tak mudah menyuruhnya turun dari pohon, saat dia sudah asik bermain dari satu dahan ke dahan yang lain. “Bahkan iming-iming susu pun akan diabaikannya.”, tambah Wety.

Popi adalah salah satu bayi orangutan yang terpaksa kehilangan induknya. Popi kehilangan kehidupan alaminya di hutan bersama induknya. Suatu masa dimana bayi orangutan sangat tergantung pada induknya hingga dia berusia 6 tahun. “Kami di COP Borneo membantunya, kami berharap sifat alami liarnya terus muncul seiring usianya yang bertambah.”, ujar Wety. Yuk bantu Popi lewat http://www.orangutan.id/adopt/#4

THE ORANGUFRIENDS OF BERAU  STOP BY AT SMAN 2

How are the orangutan populations stated to be critically vulnerable to extinction? Through education to schools and communities, orangufriends share their knowledges as well as finding out what these high schools students think. Approximately, 100 students of XI IPA SMAN 2 Berau, East Kalimantan, came together after the second breaktime.

Ipeh, Yanti, dan Aldo were the three orangufriends who engaged the students to think creatively. The discussions, which started from about the presence of orangutans around them to orangutans that they saw on the road around Muara Wahau, were coming to a conclusion that is how close the kinship of humans and the one and only living great apes on this Asia continent are.

Orangutans and humans share 97% of their DNA. The orangutan at the roadside definitely learns how difficult it is to find foods in a damaged habitat. Easier to find at the roadside, begging and getting food thrown by humans. The students concerned not only about orangutan habitats that are being degraded by plantations and mining, but they were also asking about the fate of orangutans in the Safari park and Zoos.

“The enthusiasm of students and the Orangufriends of Berau today have made us racing against the time to save orangutans from extinction. Thank you, SMAN 2, see you some other time!”. (SAR)

ORANGUFRIENDS BERAU MAMPIR DI SMAN 2
Bagaimana populasi orangutan dinyatakan sangat terancam punah? Melalui edukasi ke sekolah dan masyarakat, Orangufriends berbagi pengetahuannya juga mencari tahu apa pendapat siswa menengah atas ini. Kurang lebih 100 siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 2 Berau, Kalimantan Timur berkumpul usai istirahat kedua.

Ipeh, Yanti dan Aldo adalah tiga orangufriends yang mengajak para siswa berpikir kreatif. Diskusi santai mulai dari keberadaan orangutan di sekeliling mereka hingga orangutan yang mereka temui di pinggir jalan di daerah Muara Wahau sampai pada sebuah kesimpulan, betapa dekatnya kekerabatan antara manusia dan kera besar satu-satunya yang hidup di benua Asia ini.

Orangutan memiliki DNA 97% sama dengan manusia. Orangutan yang berada di pinggir jalan tentunya belajar betapa sulitnya mencari makanan di habitat yang telah rusak. Lebih mudah berada di pinggir jalan, mengemis dan mendapatkan lemparan makanan dari manusia. Tak hanya semakin tergusurnya habitat orangutan untuk lahan perkebunan maupun pertambangan yang menjadi konsentrasi para siswa, mereka pun menanyakan nasib orangutan yang berada di Taman Safari maupun Kebun Binatang.

“Semangat siswa dan orangufriends Berau hari ini membuat kami berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Terimakasih adik-adik SMAN 2, sampai bertemu lagi di lain kesempatan!”. (NIK)

Page 60 of 291« First...102030...5859606162...708090...Last »