ORANGUTAN DIBUNUH DAN DIJADIKAN MAKANAN DI KAPUAS, KALTENG

Satu orangutan dijadikan makanan diduga terjadi di perkebunan PT Susanti Permai, desa Tumbang Puroh, kecamatan Sei Hanyo, kabuaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kejadian bermula dari seorang pekerja tengah mengambil buah sawit pada 28 Januari 2017. Operator Jhondare yang sedang bekerja melangsir buah sawit, saat itu bertemu orangutan dan dikejar orangutan. Setelah tiba di camp Tapak, Jhondare menceritakan ke beberapa teman dan warga desa sekitar. Arianto tertarik untuk mencari keberadaan orangutan tersebut. Arianto dan Cunong tiba di blok F11 atau F12 bertemu dengan orangutan tersebut. Arianto menembak orangutan dengan senjata angin rakitan. Bersama teman dan warga sekitar dibawa ke camp Tapak, dikuliti dan dipotong-potong kemudian dikonsumsi oelh beberapa warga setempat. Tempat pembuangan tengkorak dan sisa tubuh orangutan tidak diketahui karena beberapa karyawan yang menjadi saksi takut bercerita setelah mendapatkan ancaman dari pihak perusahaan.

APE Crusader, tim gerak cepat Centre for Orangutan Protection yang saat ini sedang berada di Kalimantan Tengah segera menuju lokasi.

#conflictpalmoil

SCHOOL VISIT AT SDN 1 SUNGAI, KAPITAN

Kurangnya informasi tentang satwa liar mengantarkan APE Crusader masuk dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Tidak peduli jenjang pendidikan yang menjadi prioritas. Memastikan informasi pentingnya satwa liar dan hutan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal para siswa adalah tantangan tersendiri.

Bersama FNPF (Friends of National Parks Foundation) Kumai, Kalimantan Tengah, APE Crusader mengunjungi SDN 1 Sungai, Kapitan. Siswa kelas 3 dan 4 sekolah dasar yang berjumlah 60 siswa terlihat sangat antusias sekali. “Waduh, sebenarnya ini terlalu banyak. Bisa dijadikan 2 kelompok. Karena keterbatasan waktu, kegiatan jadinya disesuaikan untuk kelompok besar. Salah satunya menonton film.”, ujar Faruq dari APE Crusader.

Biasanya FNPF mengajak siswa menanam dan mengenal hutan lebih dalam. Kali ini bersama COP, para siswa diajak untuk mengenal satwa liar terutama satwa liar yang dilindungi. Khusus satwa orangutan, APE Crusader mengajak siswa untuk bangga pada satwa yang tergolong kera besar ini, yang hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Orangutan adalah kebanggan Indonesia.

INTERAKSI SISWA SAAT PRA COP SCHOOL

Tahun lalu setelah mendaftarkan diri di COP School lewat email yang saya ketahui dari media sosial, kita pun akan diberikan beberapa tugas Program Seleksi yang selama dua minggu melalui tugas-tugas lapangan atau pun membaca literasi dan merangkumnya dalam sebuah tulisan. Tugas diberikan di grup Facebook dan kita dibuatkan kelompok dengan didampingi satu orang panitia.
Mengawali dengan membiasakan diri berkomunikasi lewat media sosial untuk menerima tugas, terjun langsung ke lapangan, mengamati tugas lapangan yang diberikan, membaca literasi dan menyampaikan laporan tulisnya. Tahap selanjutnya, lima hari di Yogyakarta dengan materi yang sangat padat dan praktek langsung di lokasi kegiatan. Tidak hanya komunikasi satu arah, namun dua arah, dimana peserta dan pemateri sama-sama belajar.

Yang menarik, peserta yang telah lolos seleksi menjadi siswa akan dibuatkan kelompok dan didampingi panitia dari siswa COP School sebelumnya, disinilah kita sebagai siswa COP School yang lolos seleksi akan berkomunikasi satu sama lain tanpa mementingkan status sosial, agama, ras, suku, kesetaraan gender ataupun bahasa. Karena selain dari negara kita sendiri yang mempunyai berbagai macam bahasa ada juga beberapa siswa COP School berasal dari Negara lain.
Dalam kelompok yang akan dibuatkan oleh panitia, disini kita menjalin komunikasi yang saling mengenalkan satu sama lainnya sebelum kita sama-sama bertemu secara langsung. Komunikasi lewat group Line, WhatsApp ataupun Facebook akan memberikan sebuah keakraban yang berbeda, saling berinteraksi mengenai perkenalan diri sampai hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk pelatihan di Yogyakarta.

Beberapa persiapan dari panitia pelaksana sebelum kegiatan dilakukan akan diinformasikan terlebih dahulu ke pendamping kelompoknya dan selanjutnya akan dibagikan informasi tersebut ke group masing-masing kelompok. Mulai dari persiapan bahan materi, perbekalan yang akan dibawa, sampai keperluan dan perlengkapan bersama untuk kelompok. Biasanya dari berbagai kebutuhan yang diperlukan pasti akan ada teman kelompok kita yang tidak mempunyai, ini akan menuntut kita untuk sama-sama menutupi kekurangan dalam kelompok dan memang dituntut untuk saling melengkapi dan mendukung satu sama lainnya.

Walaupun kita belum pernah bertemu dan baru kenal lewat media sosial saja, tetapi ini menjadi wahana yang sangat unik mengakrabkan diri sebelum bertemu pada saat pelaksanaan COP School.
Dari komunikasi yang berjalan inilah sehari sebelum COP School saya sudah berada di Yogyakarta. Kami berkumpul dengan teman satu kelompok untuk sekedar berkenalan dan makan malam menikmati kota Yogyakarta. Siswa yang luar kota bahkan tertolong bisa dijemput oleh siswa yang dari Yogyakarta di stasiun, terminal dan bandara. Bahkan ada yang mendapat tumpangan tidur baik sebelum COP School maupun setelahnya. Ya saya itu orangnya. (PETz)

Page 60 of 151« First...102030...5859606162...708090...Last »