RAMBO SELAMA EMPAT TAHUN SEPERTI MANUSIA

Orangutan ini ditemukan di semak belukar bekas hutan terbakar tahun 2014 yang lalu, dekat desa Terantang, Kalimantan Tengah. Kaki kanannya terluka. Kebakaran hutan adalah bencana bagi orangutan dan satwa liar lainnya. Mereka kehilangan habitat dan kehidupannya.

Selama empat tahun, orangutan yang bernama Rambo ini dipelihara seperti manusia. Makan nasi dan lauk pauk lainnya. Sambal pedas maupun minuman manis kemasan yang dikonsumsinya karena itulah yang diberikan pemeliharanya. Jauh dari makanan yang seharusnya didapatkannya dari hutan.

Bersama BKSDA pos Sampit, APE Crusader bergerak menyelamatkan orangutan Rambo ini. Rambo diikat di bawah pohon. Tangan dan lehernya dalam kondisi terikat rantai. Luka-luka baru maupun yang sudah mengering terdapat di tangan dan jari-jarinya.

“Bahkan untuk melepas rantainya, kami harus mengguntingnya dengan tang.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader Centre for Orangutan Protection.

Pak Muriansyah, komandan Pos BKSDA Sampit memberikan penyuluhan dan penyadartahuan kepada pak Taufik yang memelihara orangutan Rambo. Bahwa orangutan bukanlah satwa peliharaan.

Setelah empat tahun, Rambo akhirnya mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagai orangutan. Ini akan menjadi jalan baru yang panjang untuknya. Memperbaiki pola makannya dan mengembalikan insting keliarannya membutuhkan dukungan dari semua pihak. Sebuah kerja bersama yang bukan sesaat.

SAATNYA BERBICARA DI DEPAN KELAS

COP School Batch 7 tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Setiap materi di kelas, harus diaplikasikan di kenyataan. Salah satunya materi edukasi. Kelompok 1 COP School Batch 7 kebagian murid kelas VI SD Negeri Kepek Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta. Untuk kelas VI, materi di kelas menggunakan laptop dan proyektor, dengan materi lebih serius. Serius tapi santai.

Tanya jawab adalah bagian dari edukasi COP. Berani bertanya, menyampaikan pendapat bagi siswa SD tentunya jadi indikator keberhasilan. Sebagai pemateri, kita harus siap dengan pertanyaan yang mudah sampai yang paling sulit. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti sesuai usia jangan dianggap sepele.

Saatnya berbicara di depan kelas. “Ternyata tak mudah ya jadi guru. Apalagi murid kelas VI. Tapi menyenangkan….”, ujar Nova. Menarikkah materi di dalam kelas? Atau lebih menyenangkankah aktivitas di luar kelas. Semua itu tergantung kemampuan kita menguasai kelas. Jangan lupa berikan senyum.

Edukasi adalah hal penting dalam dunia konservasi. Dua puluh tahun ke depan, merekalah generasi penerus dunia konservasi Indonesia. Semangat kita menyelamatkan satwa liar adalah masa depan mereka untuk satwa liar. (Kelompok1_COPSCHOOL7)

CERITA YANG TERSISA DARI ART FOR ORANGUTAN (1)

Art For Orangutan adalah suatu event dari kreatifitas kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection (COP). Event yang sudah berlangsung sebanyak dua kali ini meninggalkan cerita menarik yang mengharukan, lucu hingga membuat orang menantikan kapan Art For Orangutan akan dilaksanakan lagi. Ini semua tak lepas dari kerja keras dari Gigi Nyala, I AM Project dan teman-teman seniman lainnya. Tak sekedar pameran karya seni, tapi usaha menjaring kepedulian kita pada lingkungan terutama satwa liar orangutan.

“H-10 nih! Baru 2 karya yang masuk. Gimana nih? Kalau ngak ada karya yang masuk dengan ruangan pameran yang lebih besar dari AFO tahun 2014, akan kita isi apa?”, pikir Ramadhani, direktur operasional COP.

“Tenang-tenang… banyak nih yang belum selesai. Biasanya karya akan datang di hari yang sangat dekat acara. Kebiasaan nih.”, ujar Ivan si punggawa Gigi Nyala.

Benar saja, tujuh hari sebelum acara, satu persatu karya berdatangan dari luar kota. Jakarta, Bali, Makasar, Kalimantan, Sumatera bahkan dari Australia. Rumah tempat mengumpulkan karya pun menjadi penuh dan begitu sibuknya. Panitia yang ikut mengirimkan karya sampai tak punya waktu menyelesaikan karyanya. Sampai ada yang hingga hari akhir pengumpulan, karyanya baru selesai, dengan cat yang masih basah sampai di camp APE Warrior, Yogyakarta.

Sesampainya karya, masih dalam bungkus, satu persatu di foto. Pertama kali dibuka bungkusnya, difoto lagi, hingga akhirnya karya keluar dari bungkusnya, semua terdokumentasi. Sikap profesional Gigi Nyala untuk menghargai setiap karya patut diancungi jempol.

Kehati-hatian para panitia memperlakukan sebuah karya tak lepas dari pengalaman Art For Orangutan pertama. Tak jarang, bingkai kaca yang dikirim peserta hancur selama pengiriman. Kaca yang tipis, pemaketan yang kurang pelindung menjadikan karya tidak sempurna sampai di tangan panitia. Dengan dokumentasi yang detil, panitia akan mengkomunikasikan, kecacatan atau kejanggalan karya, termasuk jika ada yang harus diganti seperti kaca atau bingkai.

Karya yang masuk naik 50% dari tahun 2014. Jenis karya pun semakin bervariasi. Tidak terbatas pada ukuran maupun dimensi. Untuk mengangkut karya ke ruang pameran dari rumah pengumpulan karya, tak cukup satu hari. Hujan pun tak mau kalah untuk semakin merepotkan panitia. Dengan mobil box, dengan penuh kehati-hatian saat menyetirnya, akhirnya karya sampai di ruang pameran. (bersambung).

Page 6 of 118« First...45678...203040...Last »