WHO IS AMBON?

Ambon is an adult male orangutan from the Botanical Garden of Mulawarman University of Samarinda, East Kalimantan. Beginning in 2010 for the first time COP met him. Ambon was an orangutan with a very big and handsome. At that time, he was made a cage with two other female orangutans, named Jane and Debbie. Several times the cage lock easily cracked, until finally the padlock permanently.

There were strange-looking acts. When the animal keeper feels sorry for his friend’s cage, like Debbie, Ambon looks angry and bites Debbie. There were cuts on some parts of Debbie’s body. Even when a man approaches Debbie, Ambon looks to be aggressive. Is it possible that Ambon prefers men? Jane herself in early October 2010 had to be separated and treated for bleeding and eventually died. While Debbie, until she transferred to COP Borneo, she can escape Ambon’s torment.

Since April 2015, Ambon was transferred to COP Borneo orangutan rehabilitation center to get a second chance, living in the wild. Despite his old age (27 years) among other male orangutans, Ambon has a very benign character and does not like nosy if anyone approaches his cage. He is very good for the size of an adult male orangutan that ever existed, even if the animal keeper delivers food by feeding directly into his mouth, he is not at all aggressive and remains calm. “It’s so sad. Maybe Ambon is too long in the cage and knows humans, “said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo.

However, the other side of the Ambon orangutan, which tends to have a destructive nature, or perhaps does not intend to undermine it, is seen in the cage irons which should have become its hanging hook. Or Ambon wants a real tree that can be climbed. Could it be that he got out of a cage that for the rest of his life limited his movements? (UBANG_COPBORNEO)

Ambon adalah orangutan jantan dewasa yang berasal dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur. Awal tahun 2010 untuk pertama kalinya COP bertemu dengannya. Orangutan yang sangat besar dan gagah. Saat itu, dia dijadikan satu kandang dengan dua orangutan betina lainnya yang bernama Jane dan Debbie. Beberapa kali gembok kandangnya dengan mudah dipatahkannya, hingga akhirnya gembok dibikin secara permanen.

Ada tingkahnya yang terlihat aneh. Saat animal keeper kasihan pada teman satu kandangnya, seperti Debbie, Ambon terlihat marah dan menggigit Debbie. Terdapat luka di beberapa bagian tubuh Debbie. Bahkan saat ada laki-laki yang mendekati Debbie, Ambon terlihat menjadi agresif. Mungkinkah Ambon lebih menyukai laki-laki? Jane sendiri pada awal Oktober 2010 harus dipisahkan dan dirawat karena pendarahan dan akhirnya mati. Sementara Debbie hingga dipindahkan ke COP Borneo baru bisa lepas dari siksaan Ambon.

Sejak April 2015, Ambon dipindahkan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk mendapatkan kesempatan keduanya, hidup di alam liar. Meskipun usianya paling tua (27 tahun) diantara orangutan jantan lainnya, Ambon memiliki karakter yang sangat jinak dan tidak suka usil jika ada yang mendekati kandangnya. Dia sangat baik untuk ukuran orangutan jantan dewasa yang pernah ada, bahkan jika animal keeper memberikan makanan dengan cara langsung menyuapi langsung ke mulutnya, dia sama sekali tidak agresif dan tetap tenang. “Sungguh sangat menyedihkan. Mungkin Ambon terlalu lama berada di kandang dan mengenal manusia.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Namun, sisi lain dari orangutan Ambon, yang cenderung memiliki sifat perusak, atau mungkin dia tidak bermaksud merusaknya, terlihat pada besi-besi kandang yang seharusnya bisa menjadi tumpuannya bergelantungan. Atau Ambon menginginkan pohon yang sesungguhnya yang bisa dipanjatnya. Mungkinkah dia keluar dari kandang yang seumur hidupnya membatasi geraknya? (UBANG_COPBORNEO)

MELINDUNGI SATWA LIAR ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Hari libur bukan halangan untuk berkarya. APE Crusader yang saat ini berada di Kalimantan Tengah berkunjung ke SDN 3 Kuala Pembuang II. Siswa yang berada di sekitaran sekolah pun diberitahu untuk masuk pada hari Senin, 24 April 2017. Luar biasa, para siswa mengikuti kegiatan dengan antusias.

Sekitar 20 siswa dari berbagai kelas memperhatikan materi satwa liar yang disampaikan, diselingi video dan permainan edukasi yang mempermudah anak-anak memahami materi. Teriakan dan tawa menambah keceriaan kunjungan kali ini. Semua siswa menjadi aktif berekspresi.

Tak hanya siswa, para guru pun tak luput dari kegiatan ini. Ya, perlindungan satwa liar adalah tanggung jawab kita bersama.

Pada perayaan 17 Agustus 2014 dan 2015 yang lalu, SDN 3 Kuala Pembuang II melakukan kampanye keliling kota dengan menggunakan kostum orangutan. “Suatu kebanggaan untuk menjaga dan melestarikan alam Kalimantan.” ujar salah satu guru pembimbing. (PETz)

SUNGAI BUKAN TEMPAT SAMPAH

Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April mengambil tema “Sungai Bukan Tempat Sampah”. Aksi nyata bersama Centre for Orangutan Protection, Rimba Raya Conservation, Mapala Garating Universitas Darwan Ali dan siswa-siswi SMAN 1 Kuala Pembuang, Dinas Koperasi Perdagangan dan Perikanan kabupaten Seruyan, Pengelola Pasar dan STNTP wilayah II Kuala Pembuang tahun 2017 ini bertempat di pasar SAIK (sayur dan ikan) Kuala Pembuang kabupaten Seruyan.

Semua pihak diajak terlibat aktif untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih, indah dan nyaman. Penyadartahuan kali ini, untuk semua orang yang terlibat transaksi pasar (pedagang, pembeli atau pengunjung) untuk tidak membuang sampah ke sungai. Tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga langsung bersama-sama membersihkan sampah yang ada.

Sampah yang dibersihkan langsung dipilah menjadi sampah organik dan non organik. Untuk mengetahui jumlah sampah dalam aksi kali ini, penimbangan pun dilakukan. Total timbangannya mencapai 409 kg, dengan didominasi sampah non organik. Sampah plastik dari es batu dan kantong plastik belanja mencapai 75% dari sampah-sampah non organik yang terkumpul pada hari Bumi ini.

Kebiasaan membuang sampah langsung ke sungai memang sering dilakukan. Menurut pedagang ini lebih praktis. Posisi tempat sampah yang berada di sudut area pasar memaksa mereka untuk meninggalkan lapak dagangannya sehingga, kadang membuat mereka kehilangan pembeli. Pedagang berharap setiap lapak diberi tempat sampah agar tidak membuang sampah langsung ke sungai. Mereka dapat mengumpulkan sampah mereka dan membuangnya saat selesai berjualan. (PETz)

Page 5 of 110« First...34567...102030...Last »