A NEW HAMMOCK FOR MEMO

Tempat tidur gantung (hammock) yang terbuat dari selang pemadam kebakaran ini adalah tempat tidur Memo selama di kandang. Ketiga animal keeper COP Borneo harus lebih sering lagi memperbaiki hammock tersebut bahkan menggantinya dengan yang baru. Hammock buatan kami hanya bertahan hitungan minggu bahkan hari… “Memo dengan kekuatannya dengan mudah menghancurkannya, padahal kami memasangnya sampai berkeringat.”, ujar Anen sambil memasang hammock.

Dua setengah tahun sudah kami mengenal Memo di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Orangutan betina ini terpaksa berada di kandang karantina tanpa ada kemungkinan dilepasliarkan kembali ke hutan. Memo menderita hepatitis B.

“Gulungan bekas selang pemadam kebakaran ini adalah bantuan dari Damkar Berau pertengahan tahun ini. Disulap sebentar ya… untuk tempat tidurnya Memo yang rusak.”, ujar Jevri. Membuatkan hammock, memberikan enrichment, mengajaknya berkomunikasi hanyalah sedikit usaha kami untuk menghiburnya. “Setidaknya, Memo sudah menjalankan diet makanan. Dulu waktu Memo dipelihara orang, Memo makan semua makanan manusia. Kami berharap Memo mendapatkan yang terbaik.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Kamu bisa bantu Memo dengan menjadi pengadopsinya melalui tautan http://www.orangutan.id/adopt/#3 Jadikan Desember ini lebih berarti dengan mengadopsi Memo. (WET)

COP AWARDED SETIA BAKTI MEDAL

This 2017 Jamboree is very special. We are not only celebrate graduation, but we also thanks to the most inspiring people at COP. They have work hard and tirelessly to help animals, people and environment.

The first person who won the medal is Saifulloh or Ipoel. He has started as student at the COP School Batch 1 in 2011. He involves in many operations and experience in most aspect of COP’s work including Sumatra Mission and developing COP Borneo Rescue Centre in Labanan.

The second person is Ramdhani. He have started as the photographer and probably still the best in this field since 2010. He is now working as the Communication Manager after years acting as the 1st person of COP in Borneo.

The 3rd person is Daniek Hendarto, the founder of the APE Warrior Team. He is the nightmare for wildlife criminals in Indonesia as he jailed at least 31 people into jail for the last 5 years. He has started at COP as volunteer in 2009. Now, he is the Action Manager at COP. Setia Bakti Medals is the highest award at COP for most loyal and dedicated activist.

Jambore Orangufriends 2017 ini menjadi lebih istimewa. Tidak saja menjadi acara wisuda bagi peserta COP School Batch 7 maupun angkatan terdahulu yang ikut hadir namun juga acara Orangufriends (kelompok pendukung COP) berkumpul kembali untuk saling menginspirasi temannya dengan penganugerahan medali Setia Bakti bagi mereka yang telah bekerja keras tanpa henti untuk menyelamatkan Animals/Satwa, People/Manusia, dan Environment/Lingkungan.

Medali Setia Bakti pertama diberikan kepada Saifulloh atau Ipoel. Ipoel mengawali kecintaannya pada dunia orangutan sejak COP School Batch 1 tahun 2011. Dia terlibat di banyak kegiatan COP termasuk Sumatra Mission dan membangun pusat rehabilitasi orangutan pertama yang didirikan putra-putri Indonesia yaitu COP Borneo.

Penerima medali kedua adalah Ramadhani. Dia memulainya dengan menjadi fotografer dan hingga sekarang dia adalah yang terbaik sejak 2010. Dia sekarang bekerja sebagai Manajer Komunikasi setelah menjadi orang nomor satu di COP Borneo.

Dan mendali ketiga diterima Daniek Hendarto, pendiri tim APE Warrior. Dia adalah mimpi buruk pelaku kejahatan satwa liar di Indonesia. Dia memenjarakan 32 orang dalam kurun waktu 5 tahun. Dia mengawali karirnya dengan menjadi relawan COP di tahun 2009. Sekarang Daniek Hendarto adalah Manajer Aksi COP.

“9 tahun yang lalu, saya belum yakin untuk bisa bergabung dengan keluarga COP. Tapi saya coba untuk masuk dalam ritme COP. Waktu berlalu dan saya masih mengibarkan bendera orangutan ‘pixel’ kita hingga hari ini. Ingatkan saya jika saya menjadi sombong dan malas.”, ujar Daniek Hendarto dengan haru. Medali Setia Bakti adalah penghargaan COP untuk aktivis dengan dedikasi dan loyalitas tertinggi.

SI MUNGIL POPI PANDAI MEMANJAT

Dulu… dia hanya bisa menangis saja saat diajak ke sekolah hutan. Bayi Popi yang masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini terlihat rapuh dengan gigi yang masih belum tumbuh. Sekarang, dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri di sekolah hutan.

Di sekolah hutan, Popi memang masih sesukanya sendiri. Popi bermain-main di tanah, menjatuh-jatuhkan dirinya atau menggigit-gigiti kulit pohon pilihannya. Di sekolah hutan, dia bebas mengekspresikan dirinya. “Kalau sedang asik bermain, Popi tidak akan peduli dengan animal keeper lagi. Bahkan kalau dia diganggu, dia akan langsung menggigit.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter yang mengasuh Popi. Popi juga sangat lincah sekali di sekolah hutan, naik turun pohon bukanlah hal yang menakutkan lagi baginya.

Bayi orangutan akan berkembang dengan sangat cepat. Lalu apa pendapat baby sitter Popi? “Bagi saya, Popi sudah tidak menggemaskan lagi. Wajah layunya sangat menipu.” jawab Wety. Okay, jangan menilai orangutan dari wajah dan tubuhnya yang kecil ya. Lalu? “Popi sudah berani menghadapi Owi. Iya Owi, bayi orangutan yang paling besar di kelas sekolah hutan.”, jelas Wety lagi.

Terimakasih yang telah mengadopsi Popi dimana pun kamu berada. 15 bulan sudah usia Popi. Popi akan pindah ke kandang sosialisasi. Jangan lupa beri hadiah Natal dan Tahun Baru untuk nya ya lewat tautan http://www.orangutan.id/adopt/#4 (WET).

Page 5 of 169« First...34567...102030...Last »