ORANGUTAN BUKAN SATWA PELIHARAAN

Dia boleh ganteng… lucu… seperti selayaknya bayi. Setiap orang yang melihatnya ingin memeluknya, membelainya dan mungkin mencubitnya karena gemas. Keinginan itu menjadi lebih lagi dengan memeliharanya dan memilikinya karena kasihan, jatuh cinta atau status sosial. Tapi itu melanggar hukum! Orangutan dilindungi Undang-undang. UU No 5 Tahun 1990 tepatnya.

Namanya Aloi. Usianya tak lebih dari 2 tahun. Jika yang selama ini merawatnya sudah 6 bulan, itu berarti saat dia ditemukan di tengah kebun, Aloi baru berusia 18 bulan. Apa yang bisa dilakukan bayi manusia saat berusia seperti itu? Sama halnya bayi orangutan, hingga ia berusia 7 tahun, ia akan terus berada dalam asuhan induknya. Tak pernah jauh dari induknya, karena ia sangat tergantung induknya.

Aloi harus berpisah dengan induknya. Hidup bersama manusia yang tak dimengertinya. Memakan makanan pabrik seperti biskuit, buah-buahan dan nasi? Aloi makan makanan manusia. Menjadi manusia. Dianggap manusia.

Aloi adalah orangutan. Orangutan termasuk satwa yang dilindungi. Pada pasal 21 ayat 2 Setiap orang dilarang untuk: (a) menangkap, melukai. membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Keseriusan untuk melindungi orangutan pun semakin meningkat. Naiknya status konservasi orangutan borneo dari terancam punah menjadi kritis oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Bagaimana kenyataannya di lapangan?

Jangan pelihara orangutan! Jangan menjual maupun membeli orangutan! Biarkan orangutan hidup di habitatnya, menjalankan fungsinya di hutan.

SURAT TERBUKA BUAT CHELSEA ISLAN

Chelsea Elizabeth Islan yang baik, perkenalkan nama saya Ramadhani. Saya salah satu dari jutaan orang di Indonesia yang sangat mengagumi karya Tuhan melalui kecantikan kamu. Saya bekerja disebuah lembaga penyelamatan satwa liar. Mimpi kami hanya satu “satwa liar Indonesia tetap ada”, yaa paling gak punahnya gak cepet-cepet amatlah.

Orangutan, elang, kukang dan banyak satwa asli Negara kita sekarang jadi bahan koleksi peliharaan layaknya anjing dan kucing. Dipelihara dalam rumah dengan alasan lucu dan sayang. Itu yang diperkotaan Chels. Kalau dipelosok satwa-satwa itu bisa saja jadi rica-rica…

Capek loh Chels bikin anak-anak kecil agar mengerti pentingnya satwa liar. Teman-teman relawan harus cari link guru agar tembus surat permohonan edukasi disekolah. Trus kita juga harus mikir dan kreatif agar edukasi yang cuman 1-2 jam kami lakukan bisa diingat mereka sepanjang hayatnya.
Kalo tantangan untuk orang dewasa diperkotaan, mereka sangat pintar (*baca: sekolah), jadi mereka sangat bisa sekali ngeles kalau kita bilang “elang jangan dipelihara”. Alasan mereka bisa seribu bahkan sejuta. Lain lagi dengan warga yang jauh dari kota. Kita gak bisa asal bacot “Selamatkan Orangutan”, “Selamatkan Hutan”, “Selamatkan Beruang Madu”. Buat mereka itu lauk dan uang. Kami harus kerja keras lagi muter otak gimana caranya agar mereka mendukung. Gak bisa cuman dikerjain dalam 6 bulan, setahun apalagi sebulan bahkan sehari rapat kampung. Mereka harus didampingi dan kita ubah mata pencaharian mereka dari berburu satwa menjadi bekerja lain. Tau kan Chels beratnya… Makanya foto kamu didompet itu penyemangat saya kala lelah.

Sampe keluarga saya aja nanya “Dhani, kerjaan kamu itu apa sih?”. Karena di Negara kita kerja penyelamatan satwa itu kerjaan kasta paria. Capek loh Chels kerja ngurus satwa liar dan gak didukung. Itu cuman dibagian edukasi loh, belum teman-teman dibagian ngurus satwa yang berdarah-darah, tengkorak dan tangan orangutan hampir putus karena jerat. Kerja Edukasi gak bisa dilakukan dalam setahun. Panjaaaang sekali.

Namun perjuangan kami yang bertahun-tahun itu bisa bubar, rusak dan hancur gara-gara hanya satu foto seorang model yang sangat cantik dan terkenal berfoto bareng dengan orangutan. Ulah tim kreatif dan tukang fotonya bolos pas kami edukasi disekolahnya. Orang yang liat foto itu akan mayoritas berpikir kalau satwa liar bisa dipelihara dan dimiliki dalam rumah. Mereka bisa saja beli asal ada duit dan perburuan dihutanpun terjadi lagi. Semua HANCUR dan RUNYAM.

Chels, kamu jangan kaya gitu yaa. Bisa hancur hati saya. Saya percaya hati dan kepintaran kamu lebih baik dari model mantan presenter dahsyat itu. (DAN)

PENYELAMATAN ORANGUTAN ALOI

Minggu pagi bukanlah hari untuk berlibur. Satu orangutan jantan berusia 2 tahun menanti untuk diselamatkan APE Crusader. Bersama BKSDA Pos Sampit, tim segera meluncur ke desa Eka Bahurui, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Menurut bapak Opik yang menemukan bayi orangutan tersebut, orangutan terpisah dari induknya ditemukan di tengah kebun yang kemudian dirawat selama enam bulan. Orangutan ini pun diberi nama Aloi. Selama dirawat bapak Opik, Aloi diberi makan apa saja seperti biskuit, buah bahkan nasi.

“Sangat disayangkan, bayi orangutan sampai terpisah dengan induknya di sebuah kebun warga. Hilangnya hutan karena alih fungsinya yang merupakan habitat orangutan merupakan penyebab utama, orangutan mendekati manusia. Anak orangutan akan selalu menempel pada induknya hingga berusia 6-8 tahun. Terpisahnya induk dan anak dapat dipastikan induknya tewas.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader sambil mengamati Aloi yang terlihat ketakutan.

Keberadaan Aloi ini merupakan informasi dari masyarakat. “Pada hari Jumat (29/11) ada yang melaporkan orangutan dipelihara. Setelah kami periksa kebenarannya, tim pun segera meluncur ke lokasi untuk mengevakuasi.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

Sosialisasi orangutan adalah satwa yang dilindungi Undang-undang akan semakin digalakkan. ”Kami berharap masyarakat dapat dengan sukarela melaporkan atau memberitahu keberadaan pemeliharaan satwa liar dilindungi UU No 5 tahun 1990 ini.”, tambah pak Muriasyah.

Aloi akan dibawa ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun untuk menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitas. Ini akan menjad kesempatan keduanyanya untuk kembali ke hutan yang merupakan habitatnya dan menjadikannya satwa dengan peran penghijauan alami terbaik. (Petz)

Page 4 of 151« First...23456...102030...Last »