BEWARE OF MALIOIDOSIS THAT KILLS ORANGUTAN

OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) Workshop 2018 was held at Veterinary Faculty – University of Syiah Kuala in Banda Aceh. This year. drh. Flora represented COP Borneo orangutan rehabilitation center to attend the annual event that has been going on for 10 years.

One of the main concerns of the case studies on the third day were several cases of orangutans such as Melioidosis, Bronchioectasis, and other respiratory diseases also abscesses of teeth. Malioidosis itself is a disease that just got the attention in Indonesia. It is caused by Burkholderia pseudomallei bacteria which turns out to be endemic in Kalimantan. The bacteria lives beneath the ground during ground season, but can be found in surface water and soil when precipitation got intense.

This disease becomes pretty serious because there are no specific symptoms that follow (fever, loss of appetite, cough) however the mortality rate is high (2-3 days after initial symptoms are seen). Further research will be carried out to handle this disease. (SAR)

WASPADA MALIOIDOSIS YANG MEMATIKAN ORANGUTAN
Workshop OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) 2018 dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Tahun ini drh. Felisitas Flora Sambe mewakili pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk menghadiri acara tahunan yang sudah berlangsung selama 10 tahun.

Salah satu yang menjadi perhatian utama studi kasus di hari ketiga adalah beberapa kasus pada orangutan seperti Melioidosis, Bronchioectasis dan penyakit pernafasan lain serta abses pada gigi. Malioidosis sendiri adalah suatu penyakit yang baru mendapat perhatian di Indonesia. Penyebabnya adalah bakteri Burkholderia pseudomallei yang ternyata endemik di pulau Kalimantan. Bakteri ini hidup di bawah permukaan tanah pada musim kemarau, akan tetapi dapat ditemukan dalam air permukaan dan lumpur saat curah hujan tinggi.

Penyakit ini menjadi cukup serius karena tidak ada gejala khas yang mengikuti (demam, hilang nafsu makan, batuk) akan tetapi tingkat kematian tinggi (2-3 hari setelah gejala awal terlihat). Untuk penanganannya masih akan dilakukan penelitian lebih lanjut. (FLO)

WELCOME BACK TO ORANGUTAN ORANGUTAN ISLAND

After being in quarantine cage for 5 months, the four orangutan release candidates are now back to the orangutan island. The return aims for the orangutan to get used to their natural characters before release. Those four candidates had gone through the last rehab process before return back to their original home, the rainforest of East Borneo.

Leci, Unyil, Untung, and Novi are the four lucky orangutans this year. “Transfering without anesthesia turned out to be quite difficult. These  four orangutans are already on wild stage, the animal keeper couldn’t avoid getting bitten by orangutan and got injured.”, said Rian Winardi, vet of COP.

Transportation from quarantine cage to the island was taken for 1 hour. This time the transfer was done very carefully so that the orangutans wouldn’t got stressed during the trip. As they came to the island,  and shortly after transportation cage was opened, the orangutans immediately ran towards the nearest trees. “That was a happy moment, looking at the orangutans climbing trees of their choice, in orangutan sanctuary island.” (SAR)

SELAMAT DATANG KEMBALI DI PULAU ORANGUTAN
Setelah berada di kandang karantina selama 5 bulan, kini keempat kandidat orangutan pelepasliaran dikembalikan ke pulau orangutan. Pengembalian ini untuk membiasakan kembali sifat alami orangutan sebelum dilepasliarkan. Keempat kandidat tersebut telah menjalani proses terakhir sebelum dikembalikan ke rumah aslinya, hutan hujan Kalimantan.

Leci, Unyil, Untung dan Novi adalah keempat orangutan yang beruntung tahun ini. “Pemindahan tanpa bius ini ternyata cukup sulit. Keempat orangutan ini sudah pada tahap liar, animal keeper tak luput dari gigitan orangutan dan mengalami luka-luka.”, ujar Rian Winardi, dokter hewan COP.

Transportasi dari kandang karantina ke pulau orangutan ditempuh selama satu jam. Pemindahan kali ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar orangutan tidak mengalami stres selama perjalanan. Sesampai di pulau, dan sesaat setelah kandang transport dibuka, orangutan pun langsung berlari menuju pepohonan terdekat. “Itu adalah momen yang membahagiakan, melihat orangutan kembali memanjat pohon pilihannya, di pulau orangutan.”. (RYN)

HERCULES GOT INTO QUARANTINE

Hercules, a 16 years old orangutan is finally going through his pre-release quarantine period. His ability may be below the average of other orangutans in orangutan sanctuary island in East Borneo. His loneliness in the island for the last 5 months and his togetherness with Ambon orangutan had encouraged him to be up on the trees all the time and he had seen fixing old nest.

Withdrawal of Hercules to quarantine cage in COP Borneo orangutan rehab center was done on July 29, 2018 and he will be going through medical check up including blood, feces, urin, and  sputum examination. To ensure the orangutans to release are free from infectious diseases such as hepatitis, herpes, malaria, dengue fever, and tuberculosis are absolute necessity. Orangutans should be healthy and able to survive in their natural habitat, without the help of human.

This series of examinations requires a lot of funds. If you want to help this process, you can help through . Orangutan is owned by Indonesian. (SAR)

HERCULES MASUK KARANTINA
Hercules, orangutan berusia 16 tahun ini akhirnya menjalani masa karantina pra-pelepasliaran. Kemampuannya mungkin dibawah rata-rata orangutan jantan lainnya yang bersamanya di pulau orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur. Kesendiriannya di pulau orangutan selama lima bulan terakhir dan kebersamaannya bersama orangutan Ambon sempat memacunya untuk terus menerus berada di atas pohon dan terlihat memperbaiki sarang lama.

Penarikan Hercules ke kandang karantina di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dilakukan pada tanggal 29 Juli 2018 yang lalu dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis meliputi pemeriksaan darah, feses, urin dan dahak. Memastikan orangutan yang dilepasliarkan bebas dari penyakit menular seperti hepatitis, herpes, malaria, demam berdarah hingga tuberkolosis adalah mutlak. Orangutan harus sehat dan dapat bertahan hidup di habitat aslinya, tanpa bantuan manusia.

Rangkaian pemeriksaan ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Jika kamu mau membantu proses ini bisa melalui Orangutan adalah milik orang Indonesia. (RYN)

Page 4 of 224« First...23456...102030...Last »