PENANGANAN SATWA SAAT BENCANA, PENTINGKAH?

Sebagai salah satu provinsi dengan potensi bencana yang cukup besar, khususnya bencana ekologi akibat buruknya pengelolaan sumber daya alam, sudah saatnya Sumatera Barat tak lagi hanya fokus pada penyelamatan manusia bila terjadi bencana. Tapi juga mulai memperhatikan penanganan satwa. Berkenaan dengan ini, dalam sesi berbagi di “Pelatihan Kader” tentang bagaimana mengoptimalkan peran MAPALA sebagai relawan yang diadakan oleh WALHI Sumbar bekerjasama dengan BPBD, Orangufriends Padang pun mencoba menginisiasi perlunya penanganan satwa saat terjadinya bencana. 

Novi Fani Rovika, Orangufriends Padang yang menjadi relawan untuk penanganan satwa di bencana gempa dan tsunami Palu, berbagi pengalaman tentang pentingnya penanganan satwa saat bencana terjadi. Centre for Orangutan Protection dalam setiap kesempatan ketika bencana terjadi, bersama orangufriends bekerja langsung di titik bencana terdampak letusan gunung Merapi-Jawa Tengah, gunung Sinabung-Sumatera Utara, gunung Kelud-Jawa Timur, gunung Agung-Bali, gempa Aceh, maupun tsunami Selat Sunda.

“Seperti ketika gunung Merapi meletus, masyarakat mengungsi dan untuk sementara tinggal di pengungsian. Namun mereka bisa dua atau tiga kali dalam sehari kembali ke rumahnya. Padahal zona rumahnya termasuk kawasan rawan bencana III, dimana tidak seorang pun diperbolehkan memasuki zona ini. Tapi karena warga tersebut masih meninggalkan ternaknya di atas, maka, warga tersebut akan bolak-balik memberi makan ternaknya. Inilah sebabnya, saat bencana, Centre for Orangutan Protection langsung turun menangani satwa yang terdampak. Ternak-ternak tersebut difasilitasi untuk turun ke tempat pengungsian ternah yang telah disediakan. Dan ini membutuhkan manajemn bencana satwa tersendiri. Semoga ini menjadi titik awal untuk Sumatera Barat dalam usaha siap tanggap bencana alam khusus satwa. (NOVI_OrangufriendsPadang)

CEMPEDAK (Artocarpus integer) MAKE ANNIE CONFUSION

Cempedak (Artocarpus integer) season is coming again. This fruit is an idol for orangutans at the COP Borneo Rehabilitation Center. The taste is sweet and also the fragrant smell is the main attraction for them.

In the market, Cempedak fruit has a price that is arguably higher than other fruits. Because this price is what makes us often miss this seasonal fruit. But…this time the price was a little shopper and there was a donation from good people through https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan . We immediately paid and put it in a sack of groceries to give to the orangutans at the Borneo Orangutan Rehabilitation Center.

Without chopping we took it to the forest school location. Initially we wanted to hide it from forest students, hoping they would find it. But it turns out that Annie’s sense of smell is very good, Annie trails the animal nuts who carries Cempedak in her basket and ignores her breakfast. Finally, we handed the basket of Cempedak to Linau, the animal keeper Annie feared. Successfully, Annie stayed away.

But not to stay away from Cempedak, but rather looking for ways to trim Linau. Annie spun around, climbed up, approacehed Linau then pulled away again, watching the surroundings so continuously. All her friends were quite while eating on a tree, only Annie looked very worried. The smell and taste of Cempedak really disturbed Annie’s mind. After struggling for fifteen minutes, Annie got her Cempedak coveted fruit without allowing her friend to taste 

Thank you for the donation… I am very happy to see Annie’s enjoying Cempedak, a seasonal fruit that is hard to come by. (LRS)

 

CEMPEDAK MEMBUAT ANNIE RISAU

Musim Cempedak datang lagi. Buah yang satu ini menjadi idola bagi para orangutan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo. Rasanya yang manis dan juga baunya yang harum menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Di pasar, buah Cempedak memiliki harga yang bisa dibilang tinggi dibandingkan buah lainnya. Karena harganya ini lah yang membuat kami sering melewatkan buah musiman ini. Tapi… kali ini harganya sedikit lebih murah dan ada donasi dari orang baik melalui kitabisa.com Kami langsung membayar dan memasukkannya ke karung belanjaan untuk diberikan kepada orangutan-orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. 

Tanpa dipotong-potong kami membawanya ke lokasi sekolah hutan. Awalnya kami ingin menyembunyikannya dari para siswa sekolah hutan, dengan harapan mereka mencarinya. Namun ternyata indra penciuman Annie sangat bagus, Annie membuntuti perawat satwa yang membawa Cempedak di dalam keranjangnya dan mengabaikan makan paginya. Akhirnya, kami menyerahkan keranjang berisi Cempedak itu ke Linau, perawat satwa yang ditakuti Annie. Berhasil, Annie menjauh.

Tapi bukan untuk menjauhi Cempedak. melainkan mencari cara mengelabui Linau. Annie berputar, memanjat, mendekati Linau lalu menjauh lagi, mengamati sekeliling begitu terus menerus. Semua teman-temannya diam sambil makan di atas pohon, hanya Annie yang terlihat sangat risau. Bau dan rasa Cempedak benar-benar menganggu pikiran Annie. Setelah berjuang selama limabelas menit, Annie mendapatkan buah Cempedak incarannya tanpa memperbolehkan temannya untuk mencicipi. 

Terimakasih ya donasinya… bahagia sekali melihat Annie menikmati Cempedak, buah musiman yang sulit didapat. (WET)

BERANI TAK BERANI TURUN

Memahami perilaku orangutan tak cukup hanya mengamatinya satu atau dua kali saja. Berani yang dari catatan sekolah hutan sering bermain di lantai hutan apalagi kalau sudah ketemu Annie yang menjadi temannya bergelut. Keduanya bisa berjam-jam berdua saling gigit, bergulung-gulung di tanah. Bahkan usaha untuk memisahkan keduanya terkesan sia-sia, karena ternyata mereka tidak berkelahi serius, tapi lebih ke bermain.

Dan suatu sore menjadi sore terlama untuk Amir saat hujan terus menerus menguyur hutan hujan Kalimantan yang menjadi kelas sekolah hutan COP Borneo. Berani naik ke atas pohon di depan kandangnya. Naik dan naik terus, tak menghiraukan teriakan untuk turun dan saatnya masuk kandang. 

Hari semakin gelap, Berani masih di atas. Menjemputnya ke atas semakin tak mungkin, licin karena hujan. Berani berdiam di atas… ternyata dia pun takut. Beberapa kali memberanikan diri untuk turun dengan berpegangan pada akar yang menggelantung, dan terpeleset. Berani pun memilih berdiam. Bermalam di atas pohon, di depan kandang.

Page 4 of 305« First...23456...102030...Last »