LEECHES AND MUD

What is the condition of the field at COP Borneo orangutan rehabilitation center?

The Orangutan Rehabilitation Center is located in East Borneo is in a tropical rain forest with a very tight and thick trees canopy. Even the sun is very difficult to penetrate the forest floor. This location makes the plants always wet and moist. This condition will get worse when the rain comes. Red soil conditions will be more slippery when it rains.

When the forest school program, the journey to the location will become it’s own art. “The challenge of carrying orangutan became bigger because the roads are slippery and at some point, our feet will be in a puddle of mud that makes our way even harder,”said Wety, the orangutan baby sitter.

When we are busy balancing our footsteps in the middle of slippery mud, we also have to deal with leeches, the blood sucker. “If you come here, must get acquaintance with leeches and mud. They are like a family members which you don’t have choices to be familiar with.”, said Amir the animal keeper with a big smile.

Yes, that afternoon, Amir got a leech bite at his feet while carrying Owi, Bonti and Happy to the forest school. The leech that initially as big as a toothpick turn into as fat as an adult’s thumbs, “If we satiate our blood, this leech may be drowsy,” said Amir.

However, the leeches were never killed, otherwise it set to be released. “These leeches is the landlord, We come and borrow it for the jungle school. Naturally they such the blood that is their food.”, thought Amir.

Legs with protector and high shoes will not escape from the leeches. But do not be afraid of leeches and mud in here, ok, because this rehabilitation center is a miniature tropical rain forest of Borneo that is still very natural. This is where the long rehabilitation process begins. (Dhea_Orangufriends)

LINTAH DAN LUMPUR
Bagaimanakah kondisi lapangan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo? Pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kalimantan Timur ini berada di hutan hujan tropis dengan kanopi pohon yang sangat rapat. Bahkan matahari sangat sulit menembus lantai hutan karena terhalang kanopi yang luar biasa tebalnya. Lokasi ini membuat tanang selalu basah dan lembab. Kondisi ini akan semakin parah manakala hujan datang. Kondisi tanah merah akan semakin licin saat hujan turun.

Saat program sekolah hutan, perjalanan menuju lokasi akan menjadi seni tersendiri. “Tantangan mengendong orangutan menjadi lebih besar karena jalanan menjadi licin dan di beberapa titik, kaki kita akan terjeblos genangan lumpur yang membuat jalan kita semakin berat.”, ujar Wety, si baby sitter orangutan.

Dimana kita sibuk menyeimbangkan langkah kaki di tengah lumpur yang licin, kita pun harus berhadapan dengan si lintah, penyedot darah. “Kalau ke sini, kudu kenalan sama yang namanya lintah dan lumpur. Mereka itu seperti anggota keluarga yang mau ngak mau, harus akrab dengan kita.”, ungkap Amir, animal keeper dengan senyum lebar.

Ya, siang itu, Amir kena satu gigitan lintah di kakinya saat membawa orangutan Owi, Bonti dan Happi menuju sekolah hutan. Lintah yang awalnya sebatang liding akan berubah menjadi gendut seperti jempol, jari orang dewasa. “Kalau kenyang menghisap darah kita, lintah ini mungkin akan mengantuk kekenyangan ya.”, kata Amir.

Namun, lintah-lintah itu tidak pernah dibunuh, sebaliknya dilepas. “Lintah-lintah ini yang punya tanah. Kita yang datang dan pinjam untuk sekolah hutan. Wajarlah kalau mereka menghisap darah yang merupakan makanan mereka.”, pikir Amir lagi.

Kaki dengan pelindung kaki dan sepatu tinggi tak kan luput dari hisapan lintah. Tapi jangan takut dengan lintah dan lumpur di sini ya, karena pusat rehabilitasi ini adalah miniatur hutan hujan tropis Kalimantan yang masih sangat alami. Di sinilah proses panjang rehabilitasi orangutan dimulai. (NIK)

PRETTY, THE ORANGUTAN COVERED WITH JACKFRUIT SAP

This Orangutan found by Mr. Cuandi in the condition covered with Jackfruit Sap all over her. Pretty the Orangutan. This female orangutan has been kept pet for 8 months of residents in Sungai Plangkon, Tumbang Kaban, Katingan Hulu District, Central Borneo.

“Pretty the orangutan is kept by Mr. Sugianto for 8 months under a Jackfruit tree. I bought from him for Rp.400.000,00”, Said Mr. Cuandi.

Together with Mr. Muriansyah (BKSDA Pos Sampit), Mr. Novilianto (Manggala Agni) and APE Crusader picked Pretty the orangutan in Parenggean Police Station on June 28th, 2017.

The loss of orangutan habitat due to the change of forest function is the main cause of orangutans came across the community .” How will orangutans live in forests if their forests run out?” Says Faruq, Center og Orangutan Protection. This is our shared responsibility. (Dhea_Orangufriends)

PRETTY, ORANGUTAN PENUH GETAH NANGKA
Orangutan ini ditemukan pak Cuandi dalam kondisi rambut dipenuhi getah pohon Nangka. Pretty namanya. Orangutan betina ini sudah selama 8 bulan dalam pemeliharaan warga sungai Plangkon, kecamatan Tumbang Kaban, kabupaten Katingan Hulu, Kalimantan Tengah.
“Orangutan Pretty ini dipelihara pak Sugianto selama 8 bulan di bawah pohon nangka. Saya membeli darinya seharga Rp 400.000,00..”, ujar pak Cuandi.
Bersama pak Muriansyah (BKSDA Pos Sampit), pak Novilianto (Manggala Agni) dan APE Crusader menjemput orangutan Pretty di Polsek Parenggean pada 28 Juni 2017.
Hilangnya habitat orangutan karena alih fungsi hutan adalah penyebab utama orangutan sampai pada masyarakat. “Bagaimana orangutan akan hidup di hutan, jika hutannya habis?”, ujar Faruq, Centre for Orangutan Protection. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.

AMIR : CLEAN CAGES AND ORANGUTAN EATS ON TIME

Amir is one of the young villagers of Merasa who work at COP Borneo, an orangutan rehabilitation center established by Indonesian children. Since January 2017, Amir works as an animal keeper. The man born in Tarakan, East Borneo, 20 years ago is very good at boat motorist, forest school, animal enrichment, equipment maintenance to technical personnel. COP Borneo is fortunate to have a versatile Amir in this rehabilitation center.

Amir looks more excited while in the forest school. Yes… with baby orangutans without their father and mother. And his favorite baby orangutan is Owi, because Amir considers, Owi is the most intelligent baby orangutan and the leady of other baby orangutans in COP Borneo forest school.

“My activity when in the forest scholl is to record what the orangutans eat. What kind of jungle fruits, which forest flowers, leaves tree bark to termites and even what kind of grains they eat in the forest, it shoul be recorded in detail in order to know the development of orangutans in forest schools.” Amir explained seriously.

Amir also tells which fruits is the baby orangutans in COP Borneo favorites is Molinese Bananas. It’s a small shaped and sweet tasted banana. “Molinese banana is the favorite food of the orangutans in our rehabilitation center, mas.” said Amir.

Disinfectant program was a recommendations from the medical team also conducted by Amir two times a week. Spraying is done to sterilized the cages and prevent disease. When asked, what his feeling joining COP Borneo, Amir replied firmly, “Happy and proud, mas. I can learn a lot here with orangutans and new friends”.

Amir memorized all orangutans foods. The most favorites fruits and what he have to over. “Every day there is a variety of food given to orangutans. Fruits and vegetables are mixed at least 8 types, as directed by the veterinarian.”

Antak and Pingpong, very fond of long beans and mustard greens, so if they sulking, Amir will give their favorite food. “ I have to make sure every day orangutans eats on time and the cages should be clean, because that is my responsibility,” said Amir ending the evening chat at COP Borneo. (Dhea_Orangufriends)

AMIR: KANDANG BERSIH DAN ORANGUTAN MAKAN TEPAT WAKTU
Amir adalah salah satu pemuda desa Merasa yang bekerja di COP Borneo, pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia. Sejak januari 2017, Amir bekerja sebagai animal keeper. Pria kelahiran Tarakan, kalimantan Timur, 20 tahun yang lalu ini sangat cakap di urusan motoris kapal, sekolah hutan, enrichment satwa, perawatan alat hingga tenaga teknis. COP Borneo beruntung memiliki Amir yang serba bisa di pusat rehabilitasi ini.

Amir terlihat lebih bersemangat saat berada di sekolah hutan. Ya… bersama bayi-bayi orangutan tanpa ayah dan ibu ini. Dan bayi orangutan favoritnya adalah orangutan Owi, karena Amir menganggap, Owi adalah bayi orangutan yang paling cerdas dan sebagai pemimpin bayi orangutan lainnya di sekolah hutan COP Borneo.

“Aktivitas saya ketika sekolah hutan adalah mencatat apa saja yang dimakan orangutan. Makan buah hutan apa, bunga hutan apa, daun, kulit pohon hingga rayap bahkan biji-bijian apa yang dimakan orangutan di hutan, harus dicatat dengan detil agar bisa mengetahui perkembangan orangutan di sekolah hutan.”, jelas Amir serius.

Amir juga bercerita buah kesenangan para bayi orangutan di COP Borneo yaitu pisang Moli. Pisang dengan bentuk kecil dan manis. “Pisang Moli ini adalah makanan favorit para orangutan di pusat rehabilitasi kita, mas.”, ujar Amir.

Program disinfektan rekomendasi dari tim medis juga dilakukan Amir seminggu 2 kali. Penyemprotan ini dilakukan untuk sterilisasi kandang dan mencegah penyakit. Ketika ditanya bagaimana perasaan gabung di COP Bornei, Amir menjawab dengan tegas, “Senang dan bangga, mas. Saya bisa belajar banyak hal di sini, dengan orangutan dan teman-teman baru.”.

Amir paling hafal dengan menu makanan orangutan. Buah yang paling disukai orangutan dan apa saja yang harus disajikannya. “Setiap hari ada variasi makanan yang diberikan ke orangutan. Buah dan sayur dicampur dengan minimal 8 jenis, sesuai arahan dari dokter hewan.”

Antak dan Pingpong, sangat suka kacang panjang dan sawi, maka kalo mereka lagi ngambek makan, Amir akan memberikan makanan kesukaan mereka. “Saya setiap hari harus memastikan orangutan makan tepat waktu dan kandang harus bersih, karena itu adalah tanggung jawab saya.”, ungkap Amir mengakhiri obrolan menjelang malam di COP Borneo. (NIK)

Page 39 of 159« First...102030...3738394041...506070...Last »