DIRGAHAYU INDONESIAKU DARI COP BORNEO

Damainya hutan penelitian Labanan, Berau, Kalimantan Timur tak sesunyi biasanya. Tawa dan jeritan silih berganti. Tak lama kemudian keheningan diikuti nyanyian lagu kebangsaan berkumandang. Upacara mengibarkan bendera merah putih di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo sangat berbeda dengan upacara di tempat lain. 

Hiduplah Indonesia Raya… mengheningkan cipta dan renungan atas peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia menjadi acara inti. Perbedaan agama maupun suku para staf maupun karyawan COP Borneo semakin mengingatkan kita, berbeda-beda tetap tetap satu jua, menyelamatkan orangutan Indonesia. 

Hebohnya saat perlombaan masa kecil kembali digelar pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Lomba makan kerupuk! Berusaha selebar-lebarnya membuka mulut dan memakan kerupuk yang diikat seutas tali dengan tangan kebelakang tanpa boleh menyentuh kerupuk tersebut. Rasa kesel ngak bisa menggapainya sekaligus lucu… benar-benar membuat tim tertawa lepas. Belum lagi lomba memasukkan paku ke dalam botol. “Paha dan betis sudah capek menahan tapi usaha masih belum berhasil juga.”.

Terimakasih para pahlawan, yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara. Kami akan melanjutkan perjuanganmu dan mengisi kemerdekaan ini untuk Indonesia yang lebih baik lagi. “Tahun depan kalian harus merayakan kemerdekaan Indonesia di COP Borneo.”. (DAN)

SAAT KALTENG BELUM JUGA MERDEKA DARI ASAP

Ada tiga titik panas indikasi api di sekitaran Palangkaraya pada 17 Agustus 2019, tepat saat sebagian besar masyarakat Indonesia sedang memperingati detik-detik kemerdekaan Indonesia 74 tahun yang lalu. “Sayang, Kalimantan Tengah masih harus berjuang memadamkan api. Palangkaraya masih juga belum merdeka dari asap.”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection di lokasi kebakaran lahan.

Jalan Soekarno, Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan dua titik lokasi kebakaran lahan dan satu titik kebakaran lahan di Jalan Mahir Mahar. Dari informasi yang dihimpun, hampir setiap tahun lahan tersebut terbakar. Dan ketika kami berada di lokasi kebakaran terbesar terjadi di Jalan Mahir Mahar dimana api hampir setinggi tiang listrik. 

Bekas lokasi yang terbakar menimbulkan asap yang cukup pekat. Semakin diperburuk dengan arah angin yang berubah-ubah. “Memang bukan di kota Palangkarayanya, lokasi kebakaran lahan menuju arah luar kota dari Palangkaraya. Sebaiknya masker dan pelindung mata tetap dipergunakan. Tapi bagaimana dengan nasib satwa? Untuk satwa yang terdampak, kami, tim APE Crusader berusaha menolong. Jika ada informasi satwa liar yang terdampak kebakaran lahan, mohon untuk menghubungi Cenre for Orangutan Protection melalui media sosialnya.”, ujar Daniek Hendarto lagi. (HER)

AMBON DAN DURIAN HIJAU

Dibandingkan dengan durian yang biasa kita makan, durian ini memiliki bentuk yang lebih kecil dan duri yang lebih tajam. Dagingnya pun berwarna kuning cerah. Durian ini biasa disebut dengan nama durian daun. Di hutan Kalimantan, durian tumbuh sangat subur, tidak terkecuali di hutan sekitaran pusat rehabilitasi COP Borneo. Di musim buah kali ini, Ambon dan orangutan lainnya sangat beruntung sekali dapat menikmati buah hutan ini. 

Durian daun dari mentah sampai matang, warnanya akan tetap hijau dan tidak akan terbuka sendiri ketika sudah matang seperti durian biasanya. Untuk membukanya, menjadi tantangan tersendiri bagi orangutan. Bagi Ambon, ini bukan masalah. Tangan besarnya dan giginya yang kuat dengan mudah membuka durian daun ini. 

Cara Ambon memakan durian hijau ini pun penuh dengan wibawa. Satu per satu diambil, dikulum hingga bersih, lalu bijinya dikeluarkannya. Ambon benar-benar menikmati durian daun hutan ini. Tatapan Ambon yang ramah sempat membuai kami, ya Ambon seperti orang dewasa yang sangat bijak. Ambon seperti kita, manusia. Ya kita berbagi 97% DNA yang sama dengannya. (WET)

Page 32 of 318« First...1020...3031323334...405060...Last »