WORLD DOWN SYNDROME DAY

Jimmy namanya. Usianya berkisar 17 hingga 20 tahun berdasarkan gigi yang dimilikinya. “Usia orangutan dapat dilihat dari struktur dan jumlah giginya, orangutan Jimmy memiliki 32 gigi dan gigi taring yang sudah panjang.”, ujar drh. Gunawan.

Mungkin Jimmy adalah satu-satunya kasus orangutan yang mengalami down syndrome. Suatu kelainan kromosom genetik yang diakibatkan oleh kromosom ekstra. Kromosom ekstra inilah yang menyebabkan keterbelakangan perkembangan fisik maupun mental Jimmy. Ya, Jimmy terlihat seperti anak orangutan yang berusia 5 tahun.

Namun sayang, kasus orangutan Jimmy yang terbilang langka tidak cukup banyak diteliti. Jimmy yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur bersama COP pada 19 September 2011 tidak dapat bertahan hidup.

Tepat pada hari ini, 21 Maret adalah hari yang diperingati sebagai Hari Sindrom Down Sedunia atau World Down Syndrome Day/ WDSD. Ternyata bukan manusia saja yang bisa menderita down syndrom, tapi Jimmy, si orangutan dari Muara Wahau, Kalimantan Timur pun. Manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan.

BONTI, FOREST SCHOOL CLASS WINNER OF MARCH 2018

This is Bonti whose development is very fast since the beginning of 2018. Bonti who usually mimicking Owi behavior now can not be underestimated anymore. Even Owi until now still can not make a nest. Be insterested to make one was not on her mind.

Perhaps Bonti’s fear of the animal keeper makes Bonti the orangutans up on the tree. “We did force the to stay on the tree. Forcing them to play, eat or rest on the tree. Rattan thorns will soon land on the bodies of these little orangutans, if they come down from the trees, not in time.”, Says Amir Aryadi, animal keeper COP Borneo. “Sad anyway… but orangutans are aboreal animals. Most of the activities are in trees. Our dream, for these orangutans can go back to the forest and survive there. The forest is their home.”, Amir continued.

Three-moths report is out. Bonti manages to surpasses Happi. Bonti is getting better at making nests. The average height of the nest he made was on the 20 meters high. In a day, Bonti smart to find food in the forest school. He always looked at the leaves he has gathered. He allso did not hesistate to bite the bark of a tree, put his hand into the hole in the tree and scraped the rotting wood.

Let’s help Bonti via
(Dhea_Orangufriends)

BONTI, JUARA KELAS SEKOLAH HUTAN MARET 2018
Ini dia Bonti yang perkembangannya sangat pesat sejak awal 2018 ini. Bonti yang biasanya hanya bisa mengikuti semua prilaku Owi kini tak bisa dianggap remeh lagi. Bahkan Owi hingga saat ini belum bisa membuat sarang, tertarik membuatnya saja tidak.

Mungkin ketakutan Bonti pada animal keeper membuat orangutan Bonti terpacu untuk terus berada di atas pohon. “Kami memang memaksa mereka untuk terus berada di atas pohon. Memaksa mereka bermain, makan ataupun istirahat di atas pohon. Duri rotan akan segera mendarat di tubuh orangutan-orangutan kecil ini, jika mereka turun dari pohon, tidak pada waktunya.”, cerita Amir Aryadi, animal keeper COP Borneo. “Sedih sih… tapi orangutan itu satwa aboreal. Sebagian besar aktivitasnya ya di pohon. Mimpi kami, orangutan-orangutan ini bisa kembali ke hutan dan bertahan hidup di sana. Hutan adalah rumah mereka.”, lanjut Amir lagi.

Rapor tiga bulanan sudah keluar. Bonti berhasil melampaui Happi. Bonti semakin mahir membuat sarang. Rata-rata ketinggian sarang yang dibuatnya adalah 20 meter. Dalam sehari, dia bisa membuat dua buah sarang. Tak hanya itu, Bonti pintar mencari makanan di sekolah hutan. Dia terlihat selalu mencoba daun-daun yang berhasil diraihnya. Dia juga tak ragu-ragu menggigiti kulit pohon, memasukkan tangannya ke dalam lubang di pohon dan mengorek-ngorek kayu lapuk.

Yuk bantu Bonti lewat

THE ANNIE QUARANTINE PERIOD, THE NEW ORANGUTANS ENTER THE COP BORNEO

Health checks for orangutans that have just entered the rehabilitation center of COP Borneo orangutan are absolutely necessary. Orangutan will undergo quarantine period of at least 2 months to be evaluated as a whole whether it is medical or its behavior. Apun, the newly evacuated orangutans from Merapun village, Muara Wahau, East Kalimantan began to undergo this stage. This is a long way to go back to their habitat. Apun renamed Annie.

Annie is a 4 year old male orangutan. Her physical condition is now normal with no injuries. However further medical examinations such as feces, urine and sputum will follow the results of the laboratory. “Hopefully the results are good, and Annie can join forest school classes,” said drh. Ryan in a positive tone.

Annie looks resigned when the physical measurement is done. “She even seemed to be enjoying herself,” says Anen, the animal keeper who helps the medical team. “But unfortunately … this benign attitude would be troublesome. Come on Annie … you have to catch up with you. Be wild! “, Anen was no longer awkward to talk to orangutan. Anen treats little orangutans like his own sister, he will immediately scold the orangutans if they laze around. “The little orangutan is just like a child, ask for attention and arbitrarily. Hopefully Annie’s medical results are good to be able to join the forest school soon.” (SLX)

MASA KARANTINA ANNIE, ORANGUTAN YANG BARU MASUK COP BORNEO
Pemeriksaan kesehatan untuk orangutan yang baru saja masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo adalah mutlak dilakukan. Orangutan akan menjalani masa karantina minimal 2 bulan untuk dievaluasi secara keseluruhan baik itu medis maupun prilakunya. Apun, orangutan yang baru saja dievakuasi dari desa Merapun, Muara Wahau, Kalimantan Timur mulai menjalani tahapan ini. Ini adalah jalan panjang yang akan dilalui untuk kembali ke habitatnya. Apun berganti nama menjadi Annie.

Annie adalah orangutan jantan yang berusia 4 tahun. Kondisi fisiknya saat ini normal tanpa luka. Namun pemeriksaan medis lebih lanjut seperti feses, urine dan sputum akan menyusul hasil dari laboratorium. “Semoga hasilnya baik, dan Annie bisa ikut kelas sekolah hutan.”, ujar drh. Ryan dengan nada positif.

Annie terlihat pasrah saat pengukuran fisik dilakukan. “Dia bahkan terlihat menikmati sekali.”, ujar Anen, animal keeper yang membantu tim medis. “Namun sayang… sikap jinaknya ini pasti akan merepotkan. Ayo Annie… kamu harus mengejar ketertinggalanmu. Menjadi liar ya!”, Anen pun tak canggung lagi mengajak berbicara orangutan. Anen memperlakukan orangutan kecil seperti adiknya sendiri, dia akan segera memarahi orangutan jika mereka bermalas-malasan. “Orangutan kecil itu persis seperti anak kecil, minta perhatian dan seenaknya. Semoga hasil medis Annie baik agar bisa segera bergabung di sekolah hutan.”.

Page 32 of 224« First...1020...3031323334...405060...Last »