SANG-SANG FOR INDONESIA WILD ANIMALS

Working in the world of conservation in Indonesia is working in a small world. In fact, Indonesia’s conservation is very broad. However, those who really dive in it can be counted. The world of conservation is a world that requires physical and mental endurance.

His name is Pak Sang-sang. He is the most senior animal keeper at the Yogyakarta Wildlife Rescue Center (WRC). He worked since 2003 at this animal rescue center. Today I had a chance to meet and take a picture with him during the release of the crescent serpent-eagle and the crested goshawk in the WRC area. His eyes glistened as the rope of the habituation cage opened and the eagle flew free. Maybe he is not famous and does not have a big name, but I am the one who is most certain of his great dedication in the efforts to conserve wildlife. Far from the frenzy, he remains humble and remains on track to help animals. Stay healthy and strong Sir in taking care of your other “children”.

Come on, young Indonesians, be like Pak Sang-Sang. Let’s start from being Orangufriends, an orangutan support group. (NIK)

SANG-SANG UNTUK SATWA LIAR INDONESIA
Bekerja di dunia konservasi Indonesia adalah bekerja di dunia yang sempit. Padahal, konservasi Indonesia itu sangat luas. Namun, mereka yang benar-benar terjun di dalamnya bisa dihitung dengan jari. Dunia konservasi adalah dunia yang membutuhkan ketahanan fisik maupun mental.

Namanya pak Sang-sang, dia merupakan animal keeper yang paling senior di Wildlife Rescue Center (WRC) Yogyakarta. Beliau bekerja sejak tahun 2003 di pusat penyelamatan satwa ini. Hari ini saya sempat ketemu dan foto dengan beliau saat pelepasan satwa elang ular bido dan alap-alap jambul di area WRC. Matanya berkaca-kaca saat tali pintu kandang habituasi dibuka dan elang terbang lepas bebas. Mungkin dia tidak tenar dan tidak punya nama besar, tapi saya orang yang paling yakin dedikasi dia sangat besar dalam upaya konservesi satwa liar. Jauh dari hingar-bingar, dia tetap rendah hati dan tetap masih di jalur pilihannya membantu satwa. Sehat selalu pak, tetap gagah bertugas merawat ‘anak-anakmu’ yang lainnya.

Yuk anak muda Indonesia, jangan mau kalah dengan pak Sang-sang. Mari memulainya dari menjadi Orangufriends, kelompok pendukung orangutan. (NIK)

ORANGUTAN SANCTUARY FULL OF DURIAN TREES

Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary is a place for resting orangutans that cannot be released back into their habitat. Orangutans who have been in contact with humans for too long and lose their ability as wild orangutans also deserve a good life, live without bars. These orangutans can also try to live like wild orangutans but with limited roaming area.

Before these orangutans got the chance, the APE Guardian team explored and get data about the island. “The first time I set foot I found a red durian fell on the ground. It turned out that not only one, but there were eight pieces scattered on the ground and the team became busy opening the red durian, “said Widhi, COP volunteers who participated. This has made the survey process for fruit tree species on the island then slowed down.

The availability of fruit feed for orangutans on this island is quite abundant. Besides red durian, commonly called laung by local residents, we can find green prickly durians too. The team also found krutungan, a small green-skinned durian with the size of only two human fists.

“We hope that this orangutan island can be a home for those who cannot return to their habitat.”, said Reza Kurniawan, APE Guardian COP coordinator. “Hopefully this dream can be realized. We ask for help from all parties, orangutans are the pride of Indonesia.”. (EBO)

SANCTUARY ORANGUTAN PENUH POHON DURIAN
Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary adalah sebuah tempat peristirahatan orangutan yang tak bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Yaitu orangutan yang sudah terlalu lama bersentuhan dengan manusia dan kehilangan kemampuannya sebagai orangutan liar yang juga berhak untuk mendapatkan kehidupan yang baik, hidup tanpa jeruji besi. Orangutan-orangutan ini juga bisa mencoba hidup seperti orangutan liar dengan daya jelajah terbatas.

Sebelum orangutan-orangutan ini mendapatkan kesempatan itu, tim APE Guardian menjajaki dan mendata pulau ini. “Pertama kali menapakkan kaki saja sudah menemukan buah durian merah yang terjatuh. Ternyata tak hanya satu, tapi ada delapan buah berserakan di tanah dan tim pun menjadi sibuk membuka durian merah tersebut.”, ujar Widhi, relawan COP yang ikut. Rencana survei spesies pohon buah di pulau pun tersendat.

Ketersediaan pakan buah bagi orangutan di pulau ini bisa dibilang cukup berlimpah. Selain durian merah atau biasa disebut warga setempat dengan laung, kita bisa menjumpai durian berduri hijau juga. Tim juga menemukan durian mungil berkulit dan berduri hijau yang besarnya hanya sebesar dua kepalan telapak tangan manusia dengan nama lokalnya krutungan.

“Kami berharap, pulau orangutan ini bisa menjadi rumah untuk mereka yang tak bisa kembali ke habitatnya.”, harap Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian COP. “Semoga mimpi ini bisa terwujud. Mohon bantuan semua pihak, orangutan adalah kebanggaan Indonesia.”. (Widhi_COPSchool8)

TWO CONFISCATED HAWKS BACK TO NATURE

One female crescent serpent-eagle (accipiter trivirgatus) which was confiscated by the East Java POLDA, assisted by the Center for Orangutan Protection and Animals Indonesia in July 2015, in Surabaya finally returned to nature. The perpetrator was sentenced to 7 months in prison and fined Rp 2,500,000.00 on October 21, 2015. Since 2017, the crescent serpent-eagle was rehabilitated by the Yogyakarta Nature Conservation Foundation (YKAY).

Based on the observations of the daily behavior and physical health conditions by animal keepers and veterinarians the crescent-serpent eagle with a male goshawk (spilornis cheela), a confiscated hawk by Kalibarang police that has been rehabilitated since 2011 are considered ready for release. Both of them underwent habituation for approximately 15 days and were installed rings and wing markers to facilitate the post-release monitoring process.

Both crescent-serpent eagle and goshawk are species protected by Law No. 5 of 1990 concerning Conservation of Biological Resources and Ecosystems. “Both are high-level predators that maintain ecosystem balance. Don’t keep eagles for personal pleasure. It violates the law and destroys nature! “Said Daniek Hendarto, COP’s action manager. (EBO)

DUA ELANG SITAAN NEGARA KEMBALI KE ALAM
Satu Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus) betina yang merupakaan sitaan POLDA Jawa Timur dibantu Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia di bulan Juli 2015 kota Surabaya akhirnya kembali ke alam. Pelaku dijatuhi vonis 7 bulan penjara dan denda Rp 2.500.000,00 pada 21 Oktober 2015. Sejak tahun 2017, Elang Alap Jambul ini direhabilitasi Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY).

Berdasarkan hasil pengamatan prilaku harian animal keeper dan dokter hewan disertai kondisi kesehatan fisik, Elang Alap Jambul bersama Elang Ular Bido (Spilornis cheela) jantan sitaan Polsek Kalibarang yang direhabilitasi sejak tahun 2011 dianggap siap untuk dilepasliarkan. Keduanya pun menjalani habituasi selama kurang lebih 15 hari dan pemasangan cincin serta wing marker untuk mempermudah proses monitoring paska pelepasliaran.

Elang Ular Bido dan Alap-alap Jambul merupakan spesies dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Keduanya merupakan predator tingkat tinggi yang menjaga keseimbangan ekosistem. Jangan pelihara Elang untuk gagah-gagahan, atau sekedar kesenangan pribadi. Itu melanggar hukum dan merusak alam!”, tegas Daniek Hendarto, manajer aksi COP. (PETz)

Page 31 of 288« First...1020...2930313233...405060...Last »