DUA TAHUN COP BORNEO

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection. Pusat rehabilitasi ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang diinisiasi dan dikelolah oleh putra-putri Indonesia. Keterlibatan para pendukung orangutan yang tergabung di orangufriends ikut mewarnai proses pembangunannya. Mereka bekerja secara sukarela untuk mewujudkan mimpi mengembalikan orangutan ke habitat aslinya.

Memasuki tahun keduanya secara formal, COP Borneo berharap semakin mendapat dukungan dari Warga Negara Indonesia. “Kita harus bangga dengan capaian ini.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Tujuh orangutan yang berada di pulau orangutan (University Island) sedang menjalani proses pra rilis. Pulau ini membatasi kontak manusia dengan orangutan. Dapat dipastikan, orangutan tidak pernah bersentuhan dengan manusia lagi. Ini adalah proses akhir sebelum orangutan dilepasliarkan ke habitatnya. “Kami berharap tahun ini bisa mengembalikan mereka ke habitatnya.”, tambah Reza, yang bertanggung jawab pada pusat rehabilitasi ini.

Ada empat bayi orangutan yang berusia kurang dari dua tahun masih dalam perawatan intensif. Dua orangutan yang terkena hepatitis yang membutuhkan santuary sebagai tempat dia menjalani sisa hidupnya. Dan tujuh orangutan lagi yang membutuhkan bantuan untuk bisa ke tahap rehabilitasi lebih lanjut. Semua itu membutuhkan dukungan penuh.

Terimakasih telah mempercayakan dukunganmu pada COP Borneo. Semoga tahun ini adalah tahun kebebasan bagi orangutan yang ada di COP Borneo.

 

UNYIL BERTAHAN DI PULAU PRA RILIS

Sudah enam bulan Unyil berada di pulau orangutan COP Borneo. Masih ingat Unyilkan? Unyil adalah orangutan yang diselamatkan APE Defender bersama BKSDA Kaltim dua tahun yang lalu (April 2015). Unyil yang sehari-hari hidup di dalam toilet akhirnya mendapatkan kesempatan keduanya.

Dua tahun yang lalu Unyil terlihat tidak percaya diri. Udara lembab yang di toilet yang menjadi tempat tinggalnya membuat kulitnya terkena penyakit kulit. Rambutnya sendiri waktu itu direbonding sang pemelihara. “Kami yang mengambilnya sempat berpikir, kenapa dengan rambutnya.”, ujar Paulinus mengingat kejadian Unyil saat pertama kali ditemukannya. Sekali pun yang memeliharanya sangat menyayanginya, bahkan sempat merayakan ulang tahun Unyil selayaknya anak sendiri, itu bukanlah hal yang benar. Orangutan adalah satwa liar. Bahkan satwa liar yang dilindungi oleh hukum di Indonesia.

Selama dua tahun di COP Borneo, Unyil dipaksa untuk mengasah kembali sifat liarnya. Memanjat adalah kemampuan yang harus dia tunjukkan, selain membuat sarang dan mencari makanan di sekolah hutan sendiri.

Sekolah hutan pun dia lalui, hingga akhirnya dia dipindahkan ke pulau orangutan COP Borneo. Suatu Pulau yang dihuni tujuh orangutan lainnya. Ketujuh orangutan ini adalah orangutan jantan yang dipersiapkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Proses rehabilitasi adalah suatu perjalanan yang panjang dengan biaya yang tidak sedikit. Jika kamu menyukai orangutan dan satwa liar lainnya, biarkan dia hidup di habitatnya. Jika kamu mengetahui orangutan yang dipelihara seseorang segera hubungi info@orangutanprotection.com

LAGI ORANGUTAN DITRANSLOKASI DARI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Konflik orangutan dengan manusia kembali terjadi di Batu Redi, kecamatan Telen, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Satu individu orangutan jantan dewasa masuk ke kebun sawit warga. Laporan masuk ke BKSDA SKW I Berau dan ditindaklanjuti secara bersama untuk menghindari hal buruk pada orangutan tersebut.

Tim BKSDA SKW I Berau dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Prufauna Indonesia melakukan pemantauan lokasi yang sudah tidak berhutan dengan vegetasi tumbuhan sawit umur tanam sekitar 100 hari pada tanggal 9 April 2017. Dan pada sore hari menemukan orangutan jantan tersebut dengan usia sekitar 20-25 tahun sedang berada di tengah kebun sawit. Tim medis dari COP melakukan pembiusan untuk melakukan pengamanan dan penangkapan orangutan tersebut untuk ditranslokasi ke tempat yang lebih aman.

“Tim mentranslokasi satu orangutan jantan dewasa yang masuk ke kebun warga. Di sekitaran lokasi ditemukan orangutan tersebut adalah kawasan yang sudah terkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Orangutan makan tanaman sawit dan warga melaporkan hal ini kepada perangkat desa Nehas Slabing. Tim melakukan penanganan dan pengamanan satwa dilindungi tersebut.”, Paulinus Kristanto, Koordinator APE Guardian dari COP.

Orangutan tersebut ditangkap dengan metode pembiusan dan dilakukan pemeriksaan oleh tim medis APE Guardian. Atas arahan dari BKSDA SKW I Berau, orangutan yang masih liar tersebut ditranslokasikan ke lokasi yang dirasa aman di Hutan Lindung Wehea, kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

“Kondisi orangutan tersebut baik dan stabil paska dilakukan pembiusan dan dibawa dengan kandang angkut menuju ke Hutan Lindung Wehea guna proses translokasi. Pemindahan ini dilakukan karena orangutan tersebut adalah liar dan secara fisik kondisi baik dan sehat serta layak untuk secara langsung dilepasliarkan kembali.”, drh. Rian Winardi, tim dokter hewan APE Guardian COP.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit menghimpit habitat orangutan dan konflik orangutan masuk area perkebunan menjadi hal yang jamak terjadi. Belum lagi ketika melakukan evakuasi bayi orangutan yang induknya sudah mati terbunuh akibat dampak dari konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Lokasi ditemukan orangutan ini merupakan habitat orangutan dan satwa liar lainnya, dimana pada tahun 2016, Centre for Orangutan Protection mendapatkan perjumpaan orangutan, owa kalimantan dan juga sarang orangutan yang tak jauh dari lokasi ditemukannya orangutan tersebut.

“Hutan di Kalimantan Timur banyak terkonversi menjadi area perkebunan kelapa sawit dan ini berdampak langsung terhadap orangutan dan satwa liar lainnya. Hutan yang menjadi habitat tergusur dan beralih fungsimenjadi area perkebunan. Hal ini tidak hanya akan membuat meningginya tingkat konflik manusia dan satwa liar, namun juga upaya rehabilitasi yang membutuhkan area pelepasliaran juga semakin terhimpit. Jika ini terus berjalan tentunya upaya perlindungan orangutan dan habitatnya juga semakin berat karena konversi hutan yang terus menerus terjadi.”, Paulinus Kristianto, koordinator COP Kalimantan Timur.

Untuk informasi dan wawancara:

Paulinus Kristanto, Koordinator COP Kalimantan Timur

P: 082152828404

E: linus@orangutan.id

Ramadhani, Manager Komunikasi COP

P: 081349271904

E: dhani@orangutan.id

Page 30 of 134« First...1020...2829303132...405060...Last »