AN ISLAND FOR MICHELLE

After a year of waiting in the quarantine cage, finally Michelle, a female orangutan from the Mulawarman University Botanical Garden in Samarinda (KRUS) will begin her independent life for the first time on the COP Borneo orangutan island. This island is the final stage of orangutan rehabilitation to stimulate the wild nature of orangutans.

Getting to know Icel (Michelle’s nickname) the spoiled one who has never been released from human care is a big concern. Can Icel survive a day … two days … or a week on the island? Plans A to C are always carefully monitored by the APE Defender team (the team responsible for orangutans when rehabilitated).

Until the day awaited, the day Michelle is transferred to the island arrived. “Transfer of Icel goes smoothly, thank God we don’t need to anesthetize her. Enough with fruit and milk. “Icel … this is your most important day, show that you can survive without humans! The forest is really waiting for you, “said vet Flora full of hope.

On the first day on the island, Icel seemed to dwell on the tower. Seems to occasionally hold a rope that connects one tower to a tree. But she chose to stay in the tower while eating fruits that were deliberately placed there. “Maybe our anxiety is similar to Icel’s fear to start the exploration. From across the island the team continued to take turns ensuring Icel is fine. ” (REZ)

PULAU ORANGUTAN UNTUK MICHELLE

Setelah setahun menunggu di kandang karantina, akhirnya Michelle, orangutan betina dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS) akan memulai kehidupan mandirinya untuk pertama kali di pulau orangutan COP Borneo. Pulau ini adalah tahapan akhir dari orangutan rehabilitasi untuk merangsang sifat liar dari orangutan. 

Mengenal Icel (panggilan Michelle) si manja yang tak pernah lepas dari perawatan manusia ada kekawatiran besar, mampukah Icel bertahan sehari… dua hari… atau seminggu di pulau tersebut. Rencana A hingga C tak lepas dari pantauan tim APE Defender (tim yang bertanggung jawab pada orangutan saat direhabilitasi). 

Hingga hari yang ditunggu, hari pemindahan Michelle ke pulau pun tiba. “Pemindahan Icel berjalan dengan lancar, syukurlah kita tidak perlu membiusnya. Cukup dengan buah dan susu. Icel… ini adalah hari terpentingmu, tunjukkan kalau kamu bisa bertahan hidup tanpa manusia! Hutan sesungguhnya menantimu.”, ujar drh. Flora penuh harapan.

Hari pertama di pulau, Icel terlihat banyak berdiam di atas menara. Tampak sesekali memegang tali yang menghubungkan satu menara dengan pohon. Tapi icel memilih berdiam di menara sambil makan buah-buahan yang sengaja ditaruh di situ. “Mungkin rasa was-was kami sama dengan rasa takut Icel untuk memulai penjelajahannya. Dari seberang pulau tim terus bergantian memastikan Icel baik-baik saja.”. (REZ)

 

A CLOSE ENCOUNTER

Unyil has disappeared again. Let alone Untung, whose existence is still unknown since the second day of monitoring. The team has searched the location but has not found him. To help finding them the team agreed to install trap cameras around the location where both of them disappeared.

The debate began, because not all rangers were good at climbing trees to install cameras. 

Fortunately, the ranger who is usually called Marison managed to set the camera trap at an altitude of more than 20 meters. The way he climbed was just like a wild  orangutan that made him got praises.

Every day the monitoring team evaluates daily results to plan monitoring the following day. This time, the team searched at the river. Two hours walking, the team also rested on the river bank while enjoying a cup of coffee prepared by the logistics team.

Suddenly, one of the rangers shouted, “Woy … Untung !!!” Spontaneous all turned back and Untung was already 1 meter behind. Some ran to the right, some to the left, and even towards the river. The team were shocked. Slowly Untung began to climb trees and glared. The team packed up and immediately followed Untung from behind. Sure this time will not lose Untung, but then he just disappeared.

After disappearing for 14 days, Untung began to show the development of good adaptation. He no longer pursues humans. (EBO)

KEMUNCULAN UNTUNG MENGANGETKAN RANGER

Unyil kembali menghilang, apalagi Untung yang sejak hari kedua monitoring belum diketahui keberadaannya. Penyisiran lokasi secara berpencar sudah, namun tim belum menemukan keberadaan keduanya. Sebagai alat bantu sembali melakukan penyisiran lokasi, tim sepakat untuk memasang kamrea jebak di sekitar lokasi keduanya menghilang.

Perdebatan pun di mulai, karena tidak semua ranger lihai memanjat pohon untuk memasang kamera. Untunglah, ranger yang biasa dipanggil Marison berhasil memansang kamera jebak di ketinggian lebih dari 20 meter. Gerakannya memanjat seperti orangutan liar membuatnya banjir pujian.

Setiap hari tim monitoring mengevaluasi hasil harian untuk merencakan pemantauan hari berikutnya. Kali ini, tim menyisir aliran sungai. Dua jam berjalan, tim pun beristirahat di pinggir sungai sambil menikmati secangkir kopi yang telah dipersiapkan tim logistik. 

Tiba-tiba, salah seorang ranger berteriak, “Woy.. Untung!!!”. Spontan semuanya menoleh ke belakang dan Untung sudah berada tepat 1 meter di belakang. Ada yang berlari ke kanan, kekiri bahkan ke arah sungai. Kaget bukan main rasanya. Perlahan Untung mulai memanjat pohon dan melotot. Tim pun berkemas dan segera membututi Untung dari belakang. Yakin kali ini tidak akan kehilangan Untung, namun jejaknya kali ini, hilang begitu saja.

Setelah menghilang selama 14 hari, Untung mulai menunjukkan perkembangan adaptasi yang baik. Ia tak lagi mengejar manusia. 

 

LEMANG JELLY FOR ORANGUTAN

Have you ever eaten lemang? Glutinous rice which is put into bamboo and cooked by burning the bamboo? In Berau, East Kalimantan we call it lemang, while in Toraja, South Sulawesi it’s called Piong Bo’bo. What is it called in other regions?

Well, specifically at the COP Borneo orangutan rehabilitation center in Berau, East Kalimantan, there is a food called ‘Lemang Jelly’. Actually it depends on the contents. This time the lemongrass is filled with jelly mixed with several pieces of fruit, eggs and banana stems. According to nutritionists, banana tree trunks contain various nutrients such as tannin, sugar, vitamins A, B, C, starch saponins, potassium, serotine, hydrocytitamine and norepinephrine. The benefits of banana stems which are rich in fiber are certainly good for orangutan intestinal health.

How does it taste? To be sure, orangutans really enjoy this jelly lemang … until the last jelly slice. Especially when they find an egg in it. Sure … they won’t want to let go of this special lemang. (EBO)

LEMANG JELLY UNTUK ORANGUTAN

Sudah pernah makan lemang? Beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dimasak dengan cara dibakar? Lemang namanya kalau di Berau, Kalimantan Timur, sementara kalau di tanah Toraja, Sulawesi Selatan disebut pa Piong Bo’bo. Kalau di daerah lain disebut apa ya?

Nah, khusus di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang terletak di Berau, Kalimantan Timur ada makanan yang namanya ‘Lemang Jelly’. Sebenarnya tergantung isinya. Kali ini lemangnya diisi dengan jelly yang dicampur dengan beberapa potongan buah, telur dan juga batang pisang. Menurut ahli gizi, batang pohon pisang mengandung berbagai nutrisi seperti tanin, gula, vitamin A, B, C, saponin zat tepung, kalium, serotin, hidrokitiptamin dan neropinefrin. Manfaat dari batang pisang yang kaya akan serat ini tentunya baik untuk kesehatan usus orangutan. 

Rasanya bagaimana ya? Yang pasti, orangutan terlihat sangat menikmati lemang jelly ini… hingga potongan jelly paling akhir. Apalagi saat mereka menemukan sebutir telur di dalamnya. Yakin… mereka tidak akan mau melepaskan lemang istimewa ini. (FLO)

Page 30 of 305« First...1020...2829303132...405060...Last »