BAGAIMANA KABAR AMBON?

Ambon, orangutan jantan dewasa yang sudah puluhan tahun hidup di balik jeruji telah berhasil bertahan hidup selama satu bulan di pulau orangutan. Pulau, dimana Ambon hidup tanpa pembatas buatan. Sungai beraliran deraslah yang menjadi pagar alami untuknya sebagai batas interaksi orangutan dengan manusia.

Ambon juga telah berhasil memanjat pohon, yang sebelumnya sempat membuat tim kawatir akan kemampuan memanjatnya, mengingat sejarah Ambon yang tak pernah hidup di luar kandang. Di luar perkiraan, hanya dalam hitungan 3 jam, Ambon sudah berada di atas pohon yang dipilihnya.

Sebulan berlalu. Tim pemantau tak melihat Ambon turun untuk makan. Tim memanggil-manggil Ambon, namun Ambon tak kunjung turun untuk makan. Pakan alami di pulau tidak cukup untuk menompang orangutan, itu sebabnya, tim COP Borneo setiap pagi dan sore selalu meletakkan makanan orangutan sembari mengecek keberadaan orangutan di pulau.

Tiga hari berlalu, tim mulai menyusun rencana untuk menarik Ambon ke kandang. Pertengahan April 2018, Ambon kembali ke kandang karantina. Tim medis mengamati Ambon lebih detil lagi. Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi yang merupakan ahli antropologi primata juga tak lepas dalam mengamati Ambon.

“Akhirnya Ambon mau makan.”. Ambon terlihat lebih nyaman berada di dalam kandangnya. Memang tidak mudah merubah sebuah kebiasaan. Apalagi sudah terbiasa selama puluhan tahun. Tim hanya bisa merencanakan kembali, kapan Ambon bisa kembali ke pulau. Bagaimana pun, Ambon berhak hidup tanpa jeruji besi.

THE SECOND TRIAL OF ORANGUTAN DEATH CASE WITH 130 BULLETS

The case of orangutan death with 130 bullets in his body has entered the second trial. Wednesday, May 16, 2018 at the Sangatta District Court, East Kalimantan session with the agenda of listening to the testimony of expert witnesses presents drh. Felisitas Flora S.M from Center for Orangutan Protection and Yoyok Sugianto from BKSDA Kaltim.

The autopsy of orangutans on 6 February 2018 ensured that orangutans were male of 5-7 years old. From the results of x-rays found 74 bullets on the head, 9 bullets in the right hand, 14 bullets in the left hand, 10 bullets on the right leg, 6 bullets on the left leg and 17 bullets on the chest. But the autopsy team was only able to remove 48 bullets air rifle.

“This is the largest number of orangutan cases ever. The easy possession of this air gun is one of the causes of wildlife being the target of air rifle brutality. Terror air rifle occurs anywhere. The bullet of the air rifle is not directly deadly, but if the numbers are so much ends up making the orangutans helpless.”, said Ramadhani, manager of orangutan protection and habitat COP.

The orangutan is also shot in the area where it should be protected. Kutai National Park with the status of conservation area still can not protect wild animals protected by Law No. 5 of 1990. The four suspects will still undergo a follow-up trial which will be held next week with the agenda to hear the information of the suspect. (LSX)

SIDANG KEDUA KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU
Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya sudah memasuki sidang kedua. Rabu, 16 Mei 2018 di Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli menghadirkan drh. Felisitas Flora S.M dari Centre for Orangutan Protection dan Yoyok Sugianto dari BKSDA Kaltim.

Kematian orangutan yang diotopsi pada tanggal 6 Februari 2018 yang lalu memastikan bahwa orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun. Dari hasil rontgen ditemukan 74 peluru pada kepala, 9 peluru pada tangan kanan, 14 peluru pada tangan kiri, 10 peluru pada kaki kanan, 6 peluru pada kaki kiri dan 17 peluru pada dada. Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru senapan angin.

“Ini adalah kasus orangutan dengan peluru terbanyak yang pernah ada. Mudahnya kepemilikan senapan angin ini adalah salah satu penyebab satwa liar menjadi sasaran kebrutalan senapan angin. Teror senapan angin terjadi dimana saja. Peluru senapan angin tidak langsung mematikan, namun jika jumlahnya sebegitu banyak akhirnya membuat orangutan tak berdaya.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

Orangutan tersebut juga ditembak pada kawasan dimana seharusnya dia terlindungi. Taman Nasional Kutai dengan status kawasan konservasi masih juga tak bisa melindungi satwa liar yang dilindungi UU Nomor 5 Tahun 1990. Keempat tersangka masih akan menjalani sidang lanjutan yang akan dilaksanakan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan tersangka. (REZ)

HERCULES LOOKS RENOVATED THE OLD NEST

It was already a month that Hercules inhabited the orangutan island alone. Without the greater and dominant Ambon orangutan, Hercules becomes more freely exploring the island. Exciting news from the development of Hercules. Hercules is seen fixing the old nest of former the orangutan Novi.

“Shortly after Hercules was busy in the old nest of Novi, the day became dark. And Hercules is still there and immobile. Chances are he really slept in this nest.”, Inoy said while watching the island from the camp monitor.

“This is exciting news. A good start for the development of Hercules. That hope never broke, we in COP Borneo became more excited again. That nothing is impossible!.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo rehabilitation center.

Hercules is a male orangutan from the zoo, precisely Botanical Garden Unmul Samarinda/ KRUS. In 2010, Hercules was a very naughty orangutan who repeatedly came out of the cage without the iron bars/ enclosures to eat from the stalls. His large body could have scared the other animal keeper. But the development of Hercules is like quitting, the orangutan whose age are growing more rapidly in line with their survival abilities. Like making nests, climbing, looking for natural food and even survive by fighting with other orangutans. Other orangutans, who previously inhabited the orangutan island along with Hercules are undergoing quarantine period for reintroduction back into their habitat. While Hercules is left behind because of its survival ability is considered not fulfilling the pre-release prerequisites. “Now, we can return to hope, Hercules also have hope to return to their habitat.”, Inoy said with enthusiasm. (LSX)

HERCULES TERLIHAT RENOVASI SARANG LAMA
Sebulan sudah Hercules menghuni pulau orangutan sendirian. Tanpa orangutan Ambon yang terlihat lebih besar dan dominan, Hercules menjadi lebih leluasa menjelajah pulau. Berita menggembirakan dari perkembangan Hercules. Hercules terlihat memperbaiki sarang lama bekas orangutan Novi.

“Tak lama setelah Hercules sibuk di sarang lama bekas Novi, hari menjadi gelap. Dan Hercules masih tetap disitu dan tak bergerak. Kemungkinan dia benar-benar tidur di sarang ini.”, ujar Inoy saat mengamati pulau dari camp pantau.

“Ini adalah berita yang menggembirakan. Permulaan yang baik untuk perkembangan Hercules. Harapan itu tak pernah putus, kami di COP Borneo pun menjadi lebih bersemangat lagi. Bahwa tak ada yang tak mungkin!”, tegas Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang, tepatnya Kebun Raya Unmul Samarinda/KRUS. Tahun 2010 yang lalu, Hercules adalah orangutan yang sangat nakal hingga berulang kali keluar dari kandang tanpa jeruji besi/enclosure untuk makan dari warung. Tubuhnya yang besar sempat membuat takut animal keeper yang lain. Namun perkembangan Hercules seperti berhenti, orangutan yang seumuran dengannya berkembang lebih pesat lagi seiring dengan kemampuan bertahan di alam mereka. Seperti membuat sarang, memanjat, mencari pakan alami bahkan bertahan hidup dengan berkelahi dengan orangutan lainnya. Orangutan lainnya, yang sebelumnya menghuni pulau orangutan bersama Hercules sedang menjalani masa karantina untuk pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sementara Hercules ditinggal karena kemampuannya bertahan hidup dianggap tidak memenuhi prasyaratan pelepasliaran tersebut. “Kini, kami bisa kembali berharap, Hercules pun punya harapan untuk kembali ke habitatnya.”, ujar Inoy dengan semangat. (NOY)

Page 30 of 236« First...1020...2829303132...405060...Last »