AYO DUKUNG PERMEN LHK 20 TAHUN 2018

Lompatan besar baru saja dilakukan Pemerintah pada bulan Juni 2018 dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Centre for Orangutan Protection menyambut baik Permen No. 20 ini dan siap mendukung pemerintah untuk menegakkan hukum. “Lebih jauh lagi COP memandang bahwa Permen ini merupakan titik penting untuk perubahan budaya yaitu dari budaya mengurung satwa menjadi memelihara di alam bebas.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection.

“Masuknya satwa liar yang sering diperdagangkan baik itu secara online maupun di pasar burung ini tentu saja bukan asal jadi. Ini sudah menjadi kajian. Dilema yang terjadi selama ini, kondisi satwa liar tersebut di habitatnya sudah terancam punah namun banyak terdapat di pedagang bahkan menjadi lomba burung berkicau secara terbuka. Sebut saja burung Murai batu/ Kucica hutan (Kittacincla malbarica), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak suren (Gracupica jalla).

Dengan adanya Permen No. 20/2018 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) telah ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi Undang-Undang. Ini adalah usaha cepat pemerintah untuk melindungi spesies orangutan yang baru ditemukan di tahun 2017 yang lalu.

COP memanggil seluruh orangufriends untuk memberikan dukungan penuh kepada KLHK untuk tidak mundur menegakkan Permen ini.

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY

Raju, a juvenile orangutan was found in the palm oil concession in Kutai Timur, East Kalimantan. After four years living as a pet, the APE Crusader team rescued Raju and moved him to COP Borneo rehabilitation center. Raju then changed his name to Jojo. We conducted a full medical check-up of his health and behavioral study for 2 months. The result is displeasing. Jojo has hepatitis, possibly contagious by humans. 

Memo, an orangutan who used to ride a motorbike with her owner and travel around from village to villages. Memo has joined COP rehabilitation center since 11 April 2015. She is 18 years old now but has a somber future. Memo has hepatitis because she contacted with humans numerous times in the past.

Both of these orangutans will live forever in the cage. The quarantine cages which is limiting their space and movement. They will live behind solid bars, without any chance to feel the fresh air in their habitat. They did not have hepatitis by natural causes. It is transmitted by humans.

Memo and Jojo still have a dream to climb the highest tree, to swing from one tree to another, like the other orangutans do. We also had a dream, to create the first and the only orangutan rehabilitation center that is built and organized by Indonesian people. This dream came true in 2014. Now, our homework is to actualize Memo and Jojo’s dream. Let’s help COP Borneo to buy an island as a sanctuary for Jojo and Memo. They have a right to live as wild orangutans, not in the cage!

Today, as we celebrate The International Day of Charity, we hope you could help our future action by donating through Paypal account of Centre for Orangutan Protection http://www.orangutan.id/what-you-can-do/, or through this crowdfunding site https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Your donation will be used to build a sanctuary island for orangutans with hepatitis in COP Borneo. Your donation could change the life of Memo and Jojo. (IDI)

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY 
Orangutan bernama Raju ini ditemukan di kebun sawit, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Setelah 4 tahun dalam pemeliharaan warga, keberadaan Raju diketahui tim APE Crusader. 4 April 2018 yang lalu, Raju pun masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dan berganti nama menjadi Jojo. Serangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi prilaku dilalui Jojo selama dua bulan penuh. Dan hasil yang sangat mengecewakan pun keluar. Jojo menderita hepatitis dari manusia.

Memo, orangutan yang selalu dibonceng naik sepeda motor oleh pemeliharanya dan diajak berkeliling desa masuk ke pusat rehabilitasi orangutan pada 11 April 2015. Orangutan betina yang berusia 18 tahun ini pun dibayangi masa depan yang suram. Dari hasil laboratorium, Memo menderita hepatitis.

Kedua orangutan COP Borneo ini akan hidup di dalam kandang. Kandang karantina yang terbatas pada ruang dan geraknya. Hidup di balik jeruji besi tanpa ada masa depan untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Hepatitis yang diderita mereka adalah penularan dari manusia.

Memo dan Jojo masih punya mimpi untuk bisa memanjat pohon yang tinggi, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sebagai orangutan yang memiliki daya jelajah terbatas. Seperti mimpi kami yang berada di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Pusat rehabilitasi lokal yang sudah berdiri sejak 2014 yang lalu. Mari bantu COP Borneo untuk membeli sebuah pulau sebagai sanctuary island untuk Jojo dan Memo. Mereka pun berhak untuk hidup liar!

Tepat di hari ini, International Day of Charity, berikan bantuan mu lewat akun Kitabisa https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Sanctuary island untuk orangutan hepatitis COP Borneo. Ijinkan Jojo dan Memo liar.

ANIMALS STEREOTYPE

Have you ever seen animals doing repetitive movement? Actually this behaviour isn’t necessary, moreover it may harm the animals. Animals that used to be caged for a long period of time usually experience this abnormal behaviour. This behaviour called stereotype behaviour.

How does the behaviour occurs? The behaviour occurs due to unfavourable past physical, environmental, social, and welfare stresses. A tiny living spaces and poor enrichment or living in very different conditions from their natural condition for instance. Social factors can be in the form of negative interaction between individuals in one cage. If the animals have a bad past history such as getting bad treatment from humans then the stereotype behaviour can be more likely to appear.

Repeatedly moving forward, backward, left, and right in the same place are the examples of this stereotype behaviour. In addition to the repetitive pattern behaviour. there are also another kind of stereotype behaviours. Such as hurting themselves, swinging head without clear intention, licking excessively, scratching own body parts, eating own feces or vomit and abnormal and excessive sex behaviour.

There are several ways to minimize stereotype behaviour on animals in the cage, according to drh. Rian Winardi. One of which is to provide enrichment in the cage, in the form of physical, nutritional, and work enrichment. The physical enrichment can be in the form of giving swing or wood for animals to climb. Nutritional enrichment can consists of giving fruits in a whole form. And work enrichment may contain of feeding the animals by inserting the food in a certain pipe or ball. (SAR)

STEROTIPE SATWA
Pernah lihat satwa yang sedang melakukan gerakan berulang-ulang dan tidak berubah? Perilaku ini sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat dan bahkan merugikan satwa tersebut. Biasanya, satwa yang berada dalam kandang yang sangat rentang mengalami perilaku abnormal ini. Suatu perilaku yang menyimpang dari perilaku normal atau tidak alami. Perilaku ini disebut perilaku sterotipe.

Bagaimana perilaku sterotipe ini muncul? Perilaku ini muncul akibat faktor tekanan lingkungan fisik, sosial dan kesejahteraan masa lalu yang kurang baik. Kandang dengan ruang pergerakan yang sempit dan lingkungan yang miskin pengayaan atau jauh dari kondisi alami misalnya. Sementara faktor sosial dapat berupa interaksi sosial yang negatif antar individu dalam satu kandang. Kemudian jika hewan memiliki sejarah masa lalu yang kurang baik misalnya mendapatkan perlakuan buruk dari manusia maka perilaku sterotipe ini pun bisa muncul.

Pergerakan ke depan, belakang, kiri, kanan secara berulang dan di tempat yang sama contoh dari perilaku sterotipe ini. Kemudian pergerakan yang berputar di satu titik yang sama dan berulang. Selain pola pergelakan yang dilakukan berulang, terdapat juga perilaku sterotipe lainnya. Seperti melukai diri sendiri, mengayun-ayunkan kepala tanpa tujuan yang jelas, menjilati diri sendiri secara berlebihan, mencakar bagian tubuh sendiri, memakan kotoran atau muntahannya sendiri serta perilaku sex yang tidak normal dan berlebihan.

Ada beberapa cara untuk meminimalisir perilaku sterotipe pada satwa yang di dalam kandang menurut drh. Rian Winardi. Caranya adalah dengan memberikan pengayaan di kandang. Pengayaan tersebut berupa pengayaan fisik, pengayaan nutrisi dan pengayaan kerja. Pengayaan fisik berupa pemberian ayunan atau kayu untuk satwa memanjat. Pengayaan nutrisi berupa pemberian buah atau sayuran tanpa dipotong atau dalam bentuk utuh. Dan pengayaan kerja seperti pemberian makanan dengan cara dimasukkan dalam pipa atau bola khusus. (RYN)

Page 3 of 23112345...102030...Last »