SCHOOL VISIT DI SMPN 4 KUALA PEMBUANG

Ada 30 siswa yang berkumpul di kelas hari ini. Dengan dukungan ibu Ratna Burdah S.Pd yang merupakan kepala sekolah SMP Negeri 4 Kuala Pembuang, APE Crusader berbagi pengalaman di kelas VIII. Habitat alami satwa liar terancam hilang seiring punahnya satwa endemik Indonesia adalah materi yang dipersiapkan.

Ada hal yang memaksa para siswa serius. “Memang kepala sekolah nya pintar. Para siswa dihimbau untuk membuat makalah dari materi yang disampaikan APE Crusader, tim terdepannya Centre for Orangutan Protection ini.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader.

Rangkuman materi akan menjadi bahan diskusi kedepannya. “Jadi siswa tidak hanya mengetahui dan memahami materi konservasi satwa liar saja, tetapi diharapkan bisa ikut terjun langsung dalam melestarikan dan menjaga hutan Kalimantan beserta isinya.”, dengan semangat ibu Ratna Burdah membuka school visit kali ini.

Diskusi menjadi semakin menarik saat habitat satwa liar tergusur. Menurut salah satu siswa, pengetahuan seperti ini jarang diketahui. Beruntung tim APE Crusader mau berbagi pengalaman ini.

“Pemahaman usia dini tentang penyadartahuan memang sangat penting untuk lebih memahami satwa-satwa yang dilindungi oleh negera beserta habitatnya. Jangan sampai generasi kedepannya tidak tau dan hanya mendapat cerita saja, padahal mereka hidup berdampingan langsung dengan hutan dan satwa liar yang dimaksud.”, ujar kepala sekolah SMPN 4 Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah, sesaat setelah selesai school visit. (PETz)

TERBANG BEBAS SI JULANG DAN RANGKONG

Pertengahan bulan April 2017, APE Guardian bersama BKSDA SKW I Berau mengevakuasi beberapa satwa dari Golden Zoo Samarinda. Kebun Binatang ini terpaksa ditutup karena berada di jalur jalan tol Balikpapan – Samarinda yang dalam tahap pembangunan. Satwa-satwa yang dilindungi ini dievakuasi ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Labanan, Kalimantan Timur.

Selama dalam perawatan dan pemberian pakan, tim medis bersama pengamat perilaku alami satwa liar memberi penilaian untuk satwa-satwa tersebut. Panilaian ini akan menjadi acuan untuk satwa dilepasliarkan kembali ke alam.

Pada 27 April 2017, BKSDA SKW I Berau bersama B2P2EHD serta COP Borneo melepasliarkan dua burung yang dilindungi yang menjadi icon Kalimantan juga. Burung Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros) dan burung Julang Emas (Rhyticeros Undulatus) adalah kedua burung yang beruntung itu. Ini akan memperkaya kawasan KHDTK Labanan yang masih cukup alami.

Kondisi burung yang terlalu lama dalam pemeliharaan, membuat kedua burung butuh waktu untuk akhirnya menyadari kebebasanya. Kedua burung terlihat menjauh dan berpindah-pindah ranting kemudian terbang. “Sifat liar satwa akan dengan sendirinya muncul saat mereka kembali ke alamnya.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, manajer COP Borneo.

POLRES LAHAT DIBANTU COP DAN ANIMALS INDONESIA MENGGAGALKAN PERDAGANGAN OPSETAN SATWA DILINDUNGI DI SUMATERA SELATAN

Palembang – Kembali lagi kejahatan satwa liar digagalkan oleh Polres Lahat dibantu Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection (COP) di Lahat, Sumatera Selatan. Operasi yang dilakukan tanggal 27 Mei 2017 mengamankan barang bukti berupa 7 kepala Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis sumatraensis), 1 opsetan Kucing Hutan Sumatera (Felis bengalensis), 1 kepala burung Rangkong Papan (Buceros bicornis), 1 kulit Kucing Emas (Profelis aurata), 3 lembar kulit Kijang (Muntiacus muntjak), 8 bagian tulang Harimau Sumatera dan 1 taring Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Penangkapan dilakukan di kelurahan Kota Baru, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tim juga mengamankan 1 orang pedagang berinisial AP dan 1 orang saksi pemilik rumah yang akan digunakan sebagai transaksi satwa dilindungi ini.

“Ini merupakan operasi penangkapan pedagang satwa dengan barang bukti yang cukup besar di Sumatera Selatan. Dimana tim mengamankan barang bukti berupa 7 Kepala Kambing Hutan yang merupakan penangkapan pertama dan terbesar untuk kasus perdagangan Kambing Hutan di Indonesia, 1 opsetan kucing hutan, 1 kepala rangkong, 1 kulit kucing mas, 2 kulit kijang, 8 bagian tulang harimau dan 1 taring harimau yang hendak diperjualbelikan.”, Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Pedagang ini menjual satwa secara online maupun secara langsung dan terpantau melakukan jual beli satwa secara online di facebook. Satwa yang dijual dalam kondisi mati (opsetan) maupun bagian-bagiannya yang juga satwa dengan kategori dilindungi. Bagian satwa ini dijual secara terpisah dengan harga yang bervariasi antara Rp 750.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 perbagian satwa diindungi.

Selama ini, AP mendapatkan bagian tubuh satwa dilindungi dari pemburu di dusun tempat dia tinggal yang berdekatan dengan kawasan konservasi, serta dari pemburu satwa di perkebunan masyarakat sekitar Sumatera Selatan. Bahkan AP dapat mendatangkan kepala burung rangkok dari kawasan Bangka.

Dari hasil pendalaman selama dua bulan terakhir, AP telah menjual kulit dan tulang serta taring Harimau Sumatera secara terpisah ke pembeli di Lampung. Menurut pengakuan AP selama menjalankan bisnis ilegal ini, dia menggunakan jasa travel dan pengiriman barang serta jasa angkutan bus antar provinsi. Selama ini AP merasa aman menjalankan bisnis gelap yang telah digelutinya selama dua tahun terakhir karena merasa aman dengan sistem jual beli secara terputus.

“Pedagang ini terpantau di jual beli online facebook dan setelah dipantau dan ditelusur ternyata dia pemain besar untuk jual beli satwa opsetan yang masuk kategori dilindungi di wilayah Sumatera Selatan. Pedagang menjual satwa opsetan, kulit maupun bagian satwa dilindungi dengan kisaran Rp 750.000,00 – Rp 1.500.000,00 dan dia termasuk pemain pertama dari kelas pengepul yang mendapatkan barang secara langsung. Dan kita masih menunggu proses pengembangan lebih lanjut untuk kasus ini oleh pihak Polres Lahat.”, Suwarno, Ketua Animals Indonesia. “Kambing Hutan Sumatera dan Kucing Emas adalah satwa yang sangat langka dan sulit dijumpai di habitat alaminya. Hal ini disebabkan kedua spesies tersebut hidup pada habitat khusus yakni di pegunungan terjal bebatuan dengan jumlah pakan yang cukup.”

Memperjualbelikan satwa dilindungi maupun bagian-bagiannya merupakan tindakan melawan hukum. Tersangka dapat dijerat dengan UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah.Dan upaya penegakan hukum akan kita tunggu dalam proses ini. Apresiasi kita sampaikan kepada Polres Lahat yang dengan cepat merespon tindak kejahatan ini dan kita akan mengawal kasus ini hingga putusan pengadilan. Satwa yang diperjualbelikan merupakan satwa endemik Sumatera yang sangat langka dan dengan penegakkan hukum yang tegas dan berani akan membendung kejahatan ini terus berlangsung.

Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi

Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Mobile Phone: 081284834363

Suwarno, Ketua Animals Indonesia

Mobile Phone: 082233951221

Page 3 of 11012345...102030...Last »