EYANG WAS SENTENCED TO 1.5 YEARS IN PRISON

The Wonogiri City District Court sentenced 1.5 years to prison and a fine of IDR 15million to Eyang alias BH for being found guilty of trading wildlife. The trial for more than three months proved that BH was guilty of owning and trading part of a wildlife, namely the skin and head of a deer (Muntiacus muntjak).

Eyang himself was caught handed by the Gakkum team from KLHK assisted by the APE Warrior team from the Center for Orangutan Protection when they were going to make a sale and purchase transaction for the wildlife parts in the Baturetno area, Wonogiri in mid-October 2019. When the arrest was successfully secured evidence in the form of three skins and two deer heads. Eyang is a network of wildlife trade species of skin, heads, horns and other wildlife parts. the team had been monitoring his movements for around six months until finally being caught.

The deer itself is a wildlife protected by Law No. 5 of 1990 concerning Biodiversity and Ecosystems and is included in the Decree of the Ministry of Forestry and Environment No. 106 of 2018. (LRS)

 

EYANG DIHUKUM PENJARA 1,5 TAHUN

Pengadilan negeri kota Wonogiri menjatuhi hukuman penjara 1,5 tahun dan denda Rp 15.000.000,00 kepada Eyang alias BH karena terbukti bersalah memperdagangkan satwa dilindungi. Sidang peradilan selama kurang lebih tiga bulan ini membuktikan BH bersalah karena memiliki dan memperdagangkan bagian dari satwa dilindungi yaitu kulit dan kepala kijang (Muntiacus muntjak).

Eyang sendiri tertangkap tangan oleh tim Gakkum dari KLHK dibantu tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection ketika akan melakukan transaksi jual beli bagian satwa dilindungi tersebut di daerah Baturetno, Wonogiri pada pertengahan Oktober 2019 lalu. Ketika penangkapan berhasil diamankan barang bukti berupa tiga kulit dan dua kepala kijang. Eyang merupakan jaringan dari perdagangan satwa dilindungi spesiallis kulit, kepala, tanduk dan bagian satwa dilindungi lainnya. Tim sudah memantau pergerakan darinya sekitar selama enam bulan sampai akhirnya tertangkap. 

Kijang sendiri adalah satwa liar dilindungi oleh Undang-Undang No 5 tahun 1990 tentang Keanekaragam Hayati dan Ekosistemnya dan masuk daftar di Keputusan Kementian Kehutanan dan Lingkungan Hidup No 106 tahun 2018. (HER)

 

PERDAGANGAN SATWA LIAR MEMICU PENULARAN PENYAKIT

Munculnya virus Corona di kota Wuhan, Cina diyakini berasal dari satwa liar yang diperdagangkan dan dikonsumsi di kota tersebut. Sebelumnya juga ada virus Sars yang juga berasal dari satwa liar. Virus-virus ini menyerang manusia dikarenakan satwa-satwa liar ini, tidak pada tempatnya. Satwa-satwa liar tersebut tidak akan menularkan penyakit ke manusia kalau mereka tidak bersinggungan langsung dengan manusia karena fungsi mereka memang di alam, bukan di kandang rumah atau di meja makan sebagai lauk. 

Setiap satwa liar memiliki perannya masing-masing di alam. Ketika mereka diambil dari alam untuk diperdagangan dan dipelihara di kandang-kandang semput tentu saja mereka akan kehilangan perannya. Salah perlakuan dan stres di kandang akan memicu penyakit-penyakit berbahaya dari satwa liar tersebut yang selanjutnya dapat menularkan ke manusia.

Masih maraknya perdagangan satwa liar berarti kemungkinan penularan penyakit dari satwa liar ke manusia masih sangat mungkin terjadi. Penularan penyakit dari satwa liar tidak hanya melalui daging atau bagian satwa yang dikonsumsi, satwa liar yang dipelihara di rumah tanpa disadari juga bisa menularkan penyakit. TBC, hepatitis, herpes adalah beberapa contoh yang bisa ditularkan satwa liar yang dipelihara di rumah. Penularannya bisa melalui udara, sentuhan, ludah atau gigitan. Penularan penyakit ini tidak hanya dari satwa ke manusia, tapi bisa juga sebaliknya dari manusia ke satwa atau yang lebih dikenal dengan istilah zoonosis. (HER)

KOLA: A CEMPEDAK (Artocarpus integer) OR MANGOSTEEN?

Guess the mangosteen…does she laugh sweetly? This time we have a new fruit for Kola, a Thai repatriated orangutan. New fruit for Kola? Because for a month at the COP Borneo Rehabilitation Center in KHDTK Labanan, the only fruits she knew were bananas, pineapples, papayas, tomatoes and oranges. This time, we tried to introduce Cempedak and Mangosteen fruits for Kola.

From his first glance, it was seen that Kola glanced at the mangosteen more than Cempedak. Itself are seasonal local fruits. If it’s not time to bear fruits, so there is no fruit. However, after taking the mangosteen, Kola threw it away and took Cempedak.

“Suprised…Kola suddenly took a splash from the hands of the animal keeper on duty in quarantine cages.”, said Wety Rupiana. Kola brought the choke up, opening it with her big teeth and long fingers. Bananas are his favourite so far be ignored. While lying on his hammock…Kola sucked in Cempedak.(LRS)

 

KOLA: CEMPEDAK ATAU MANGGIS?

Tebak-tebak buah manggis… apakah dia tertawa manis? Kali ini kami punya buah baru untuk Kola, orangutan repatriasi Thailand. Buah baru untuk Kola? karena selama sebulan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, buah yang dikenalnya hanyalah pisang, nanas, pepaya, tomat dan jeruk. Kali ini, kami mencoba memperkenalkan buah Cempedak dan Manggis untuk Kola.

Dari pandangan pertamanya, terlihat Kola lebih melirik manggis dibandingkan cempedak. Manggis dan Cempedak sendiri adalah buah lokal musiman. Kalau tidak waktunya berbuah, ya buah itu tidak ada. Namun, setelah mengambil manggis, Kola membuangnya dan mengambil Cempedak.

“Kaget… Kola tiba-tiba saja mengambil cempedak dari tangan perawat satwa yang bertugas di kandang karantina.”, ujar Wety Rupiana. Kola membawa cempedak ke atas, membukanya dengan gigi-giginya yang besar dan jari-jarinya yang panjang. Pisang yang menjadi kesukaannya selama ini tidak dipedulikannya lagi. Sambil tiduran di hammock nya… Kola mengulum cempedak. (WET)

Page 3 of 30512345...102030...Last »