JOJO IS CURIOUS OF LUWING

Jojo, orangutan who have to go through another medical test because the previous result reported that she’s infected by Hepatitis B. So now she just can play in the playground, climb and swing from one rope to another to train her leg and hand muscles.

Vet Flora looked away from her for a second and Jojo had inserted something into her mouth. There’s no such beans as that, look like rubber seed but bigger, Flora thought. Hahahaha apparently that is a luwing or milipede!

An anthropod belongs to diplopoda class called milipede will immediately protect itself by coil its body like a ball when being touched unusually or being threaten. It turns out fascinated her. Is that a food? Jojo tried to bite that luwing. Could not…and she threw away.

Just like human, at the stage of childhood orangutan has such a great curiosity. Yeah.. human shares 97% of their DNA with orangutan.

JOJO PENASARAN DENGAN LUWING
Jojo, orangutan yang masih harus menjalani tes kesehatan lanjutan karena hasil tes sebelumnya menyatakan bahwa Jojo menderita hepatitis B hingga saat ini hanya bisa bermain di playground. Memanjat, berayun dari satu tali ke tali yang lain untuk terus melatih otot-otot tangan maupun kakinya.

Baru saja sesaat, drh. Flora mengalihkan pandangannya, Jojo sudah memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Tak ada biji yang seperti itu batin Flora, seperti biji karet tapi koq besar. Hahahaha… ternyata itu luwing atau kaki seribu.

Antropoda kelas Dipiopoda yang disebut milipede akan segera bertahan dengan cara melingkarkan tubuhnya seperti bola saat ada sentuhan tak biasa maupun ancaman. itu ternyata menarik untuk Jojo. Apakah itu makanan? Jojo pun mencoba untuk menggigit luwing hutan itu. Tak bisa… dan akhirnya dibuangnya.

Orangutan seperti juga anak manusia, pada usia anak-anak adalah usia dimana rasa ingin tahu menjadi begitu besar. Ya… manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan.

TIME FOR PINGPONG TO BACK TO SCHOOL

His name is Pingpong. This male orangutan has an uncomfortable story when he had to go back and forth like pingpong ball because the man who found him didn’t know where to hand him over. Until finally, APE Defender team met him and took care of him. The cage become his barrier to express himself and school become his place to training.

In the middle of 2016, Pingpong moved to sanctuary island managed by COP Borneo Center of Orangutan Rehabilitation. “We hope Pingpong forced to be more independent by the circumstances and see other male orangutans develope. But unfortunately, living in sanctuary island is too hard for him. March 2017, We had to took Pingpong back to the cage because he was suffering from malnutrition.”, says Reza Kurniawan, COP’s primate anthropologist.

Both COP’s vets take turn to watch over his health. “Not much improvement, his behaviour hasn’t changed much either. Even when we took him back to the forest school, he was likely to be on the ground. It took a lot of effort to got him climbed the tree and stayed for a while.”, says drh. Flora.

Pingpong also often attacks the animal keeper by bitting them. “We dont’ want to lose hope, even Pingpong has the right to go back to his nature habitat.” says Idham, animal keeper who was watching him that day. Every orangutan is an unique individual, has their own characteristics that can’t be generalized with other orangutans. Help COP Borneo takes care of them through

SAAT PINGPONG KEMBALI SEKOLAH
Pingpong namanya. Orangutan jantan ini punya cerita yang tidak mengenakan, saat dia harus mondar-mandir seperti bola pingpong karena yang menemukannya tak tahu harus diserahkan kemana orangutan ini. Hingga akhirnya tim APE Defender bertemu dengannya dan merawatnya. Kandang menjadi pembatas untuknya berekspresi, dan sekolah menjadi tempatnya berlatih.

Pada pertengahan tahun 2016, Pingpong dipindahkan ke pulau orangutan yang dikelolah pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. “Kami berharap, Pingpong terpaksa dengan kondisi yang ada untuk lebih mandiri dan melihat orangutan jantan lainnya berkembang. Namun sangat disayangkan, kehidupan di pulau orangutan terlalu berat untuknya. Maret 2017, kami terpaksa menarik Pingpong ke kandang kembali karena Pingpong mengalami mal nutrisi.”, ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Kedua dokter hewan COP saling bergantian mengawasi kesehatan Pingpong. “Tidak banyak perkembangannya, untuk prilakunya juga tidak banyak berubah. Bahkan saat kami membawanya ke sekolah hutan kembali, dia masih lebih suka berada di tanah. Perlu usaha keras agar dia mau memanjat pohon dan bertahan agak lama di sana.”, ujar drh. Flora.

Pingpong juga lebih sering menyerang animal keeper dengan cara menggigit. “Kami tidak mau berhenti berharap, Pingpong pun berhak untuk kembali ke alamnya.”, ujar Idham, animal keeper yang mengawasinya hari itu. Setiap orangutan adalah individu yang unik, punya karakter sendiri yang tak bisa disama ratakan dengan orangutan lainnya. Bantu COP Borneo merawat orangutan-orangutannya yuk lewat

REST IN PEACE MR. TORAN APUI

Centre for Orangutan Protection team in orangutan rehab center COP Borneo, East Borneo is in grief. A father who has always been a place of comfort, tell stories, and ask for advice is gone. On Wednesday night, July 11, 2018, we received a sad news that Sir Toran Apui had passed away because of the illness he suffered for the past weeks.

Toran Apui is the elder of Merasa village who was very helpfull to COP team back in 2014, the first time COP Borneo orangutan rehab center built in Merasa village, Berau, East Borneo. “Good bye, SIr. We who work and volunteer at COP Borneo will miss how determined you were when telling the story of Dayakness life around Kelay river stream in the past accompanied with a glass of coffee and peanuts.”

Hopefully, we can continue the determination of Toran Apui to bring Merasa village forward.

SELAMAT JALAN TORAN APUI
Rasa duka sedang dialami tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan di COP Borneo, Kalimantan Timur. Seorang Bapak yang sering dijadikan tempat untuk berlindung, bercerita dan meminta nasehat sudah tiada. Rabu malam, 11 Juli 2018, kabar duka itu kami terima bahwa bapak Toran Apui sudah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya selama beberapa minggu ini.

Toran Apui adalah kepala adat kampung Merasa yang sangat membantu tim COP di tahun 2014 saat memulai pembangunan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur. “Selamat jalan pak Toran, kami yang bekerja dan menjadi relawan di COP Borneo akan merindukan bagaimana semangatnya bapak bercerita tentang kehidupan orang Dayak di aliran sungai Kelay di masa lalu dengan ditemani segelas kopi dan kacang.”

Semoga, semangat Toran Apui untuk memajukan kampung Merasa bisa kami teruskan.

Page 29 of 244« First...1020...2728293031...405060...Last »