RUANG KELAS UNTUK SEKOLAH KONSERVASI SATWA LIAR

Namanya Wety, dari Purwodadi – Jawa Tengah. Dia adalah satu dari ribuan anak muda Indonesia yang menggilai tayangan Animal Planet dan ingin terlibat langsung di dalamnya. Wety menemukan jalannya di COP School Batch 1 pada tahun 2011. Kini, dia bersama dengan para alumni COP School lainnya, dari Batch 1 – 6 menjalankan Pusat Penyelamatan Orangutan COP Borneo di Hutan Penelitian Labanan, Kalimantan Timur.

Sejak diinisiasi pada tahun 2011, COP School telah meluluskan 145 orang, yang kini tersebar di berbagai organisasi perlindungan alam dan gerakan sosial. Mereka membangun jaringan kerja yang efektif untuk Indonesia yang lebih hijau. Sayangnya, hingga menjelang COP School Batch 7 yang akan diselenggarakan bulan Mei 2017 ini, COP School belum memiliki ruang kelas, meskipun lahannya sudah tersedia di Yogya.

Bantuan Anda akan digunakan untuk membangun ruang kelas dan mendukung program pelatihan COP School. Ini adalah investasi strategis untuk gerakan perlindungan satwa liar dan habitatnya di Indonesia.

Klik https://kitabisa.com/copschool

WHOEVER YOU ARE, LET’S JOIN COP SCHOOL BATCH 7

Halo! My name is Zahra and I am an employee of a private company in Jakarta. I am an alumni of COP School Batch 6 which was held last year. Since I was a kid, I have always loved animals. But since I do not have any background related to animal conservation, I thought all I can do was just watch animal planet, donate, and like and share some posts in social media.

I was wrong! Last year, I saw a facebook post about COP school, and I thought this was perfect for me. At first I was a bit scared. I did not know anybody in the program! I did not have background and experience related to animal conservation. I was completely new on this field. I also had to spend some time writing the pre-program tasks between works. But with determination, I managed to get picked as one of COP school student.

When I arrived at COP camp, I met new friends which were very open and welcome. COP school students had various backgrounds, age, and even nationality! All those differences did not stop us to feel like home.

During COP school, I learned and experienced a lot of new things: outside class (for example how to build tent, long march along with friends) and inside class. The classes were presented by experts from well-known animal and environmental conservation organizations. What a chance of a lifetime!
COP school was only for a few days, but it gives me a lot of things: new experiences, new knowledge, new friends, and the most important thing was a channel to get involved more about animal conservation, wherever you are, whatever your background is. For example, I can help with translating some COP activities articles for publication.

So whoever you are, as long as you have passion for animal conservation, let’s join COP school batch 7! (Zahra_Orangufriends)

SIAPA PUN KAMU, IKUT COP SCHOOL BATCH 7

Halo! Perkenalkan, namaku Zahra dan saat ini berprofesi sebagai karyawan di perusahaan swasta di Jakarta. Aku adalah siswa COP School Batch 6 yang diadakan tahun 2016 lalu. Sejak kecil aku punya kecintaan terhadap satwa. Tapi berhubung aku tidak punya latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan pelestarian satwa dan aku tinggal di Jakarta, aku sempat berpikir passion-ku terhadap pelestarian satwa tidak bisa disalurkan selain dengan nonton animal planet, berdonasi, atau like dan share post di media sosial.

Ternyata aku salah! Tahun lalu, aku lihat post di facebook tentang COP School, dan aku merasa ini adalah sarana yang tepat untuk aku. Memang awalnya agak takut, aku belum kenal siapa pun! Aku benar-benar baru di bidang ini.  Belum lagi ada tugas-tugas saat proses seleksi, yang membuat aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan pekerjaan di kantor. Tapi, dengan tekad (dan nekad) aku maju terus dan ternyata berhasil lolos seleksi.

Ketika aku sampai di camp COP, aku langsung bertemu dengan teman teman baru yang sangat open dan welcome. Siswa COP School juga sangat beragam, berbagai background, umur, bahkan kewarganegaraan! Semua perbedaan tersebut tidak menghalangi kita untuk merasa seperti berada di rumah. Selama COP School berlangsung, aku mempelajari dan mengalami banyak hal baru, mulai dari hal di luar kelas (contohnya cara mendirikan tenda, long march bersama teman – teman), hingga materi yang disampaikan di kelas. Materi pun dibawakan langsung oleh ahli dari berbagai organisasi besar. Betul betul pengalaman sekali seumur hidup.

COP School memang hanya berlangsung beberapa hari, tapi bekal yang aku bawa pulang rasanya banyak sekali. Pengalaman baru, ilmu baru, teman-teman baru, dan yang terpenting adalah ruang yang tepat bagi setiap alumninya untuk membantu pelestarian satwa, dimanapun mereka berada dan apapun profesi mereka. Contohnya aku yang berprofesi sebagai karyawan swasta, bisa membantu pelestarian satwa melalui penerjemahan beberapa tulisan untuk publikasi kegiatan COP.

Jadi siapapun kamu, selama kamu punya passion untuk pelestarian satwa, ayo segera daftar ke COP School Batch 7.

SAYA DAYAK DAN IKUT COP SCHOOL

Saya dilahirkan di kota Sintang dan menjalani masa kecil di kampung Laung, Kapuas Hulu. Saya besar di kaki bukit Merangat dan mandi di sungai Batang Seberuang. Sejauh ini saya masih hafal bau getah karet yang menempel di punggung saat kami memikulnya dari kebun dan dibawa ke desa Seneban. Saya meninggalkan kampung Laung hanya supaya saya bisa menerjemahkan cover buku Sinar Dunia 32 lembar.

Perjalanan mengantarkan saya lebih dalam dan jauh ke dunia yang bahkan saya tidak pernah bayangkan. Semua dimulai dari taik/kotoran ayam di kandang yang jumlahnya 20 karung setiap hari yang saya ambil. Namun karena joroknya taik ayam saya dipercaya untuk membersihkan kandang orangutan setiap hari, alasannya sederhana karena saya tidak jijik dengan banyak macam jenis taik. Bersama taik-taik di kandang saya mulai belajar banyak hal, mulai dari penanganan orangutan, membangun kandang, sekolah hutan orangutan, hingga politik konservasi.

2011 masih berbekalkan kemampuan menangani permasalahan taik, saya mengikuti COP School Batch 1. Saya hanya berani duduk di pinggir ruangan karena memang tidak ada yang saya pahami selain taik di kandang dan hutan tempat saya tinggal dulu. Sampai saya menyadari bahwa hutan tempat saya tinggal sedang dihancurkan. Bermodalkan pengalaman tentang taik saya bersumpah akan menyelamatkan hutan yang sudah menyelamatkan saya sewaktu kecil melalui sebuah ladang yang menjadi beras, lewat sungai yang mengantarkan saya ke SD, melalui ikan lauk yang saya sukai, dan melalui karet yang membelikan buku dan baju sekolah saya.

Saya menjelajahi Borneo untuk menceritakan kepada siapa pun, bah orang dayak kita harus menyelamatkan roh hutan kita sebelum ia hilang bersama ekskavator perusahan. Saya mengabdikan hidup saya untuk masyarakat, hutan dan isinya karena saya masih orang DAYAK. Oleh karena itu saya berharap ada lebih banyak orang dayak bisa ikut COP School. Malu kita yang bilang penyelamatan hutan Kalimantan selalu orang Jawa. (NUS)

Page 29 of 116« First...1020...2728293031...405060...Last »