WILDTRIP KE TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

Wildtrip adalah salah satu kegiatan Orangufriends. Ini adalah saatnya untuk mengakrabkan diri, saling mengenal dan biasanya akan muncul ide-ide luar biasa untuk mendukung pekerjaan Centre for Orangutan Protection. Kali ini, Orangufriends Jakarta ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Sebelas jam perjalanan dan disambut dengan pemandangan yang luar biasa, tentu saja udara yang segar. Lepas dari rutinitas pekerjaan di Jakarta. Kekayaan flora maupun fauna yang tiada habisnya. Anggrek hutan, kantong semar, suplir hingga surili, macan tutul, musang, ajag, muncak, trenggiling dan suara merdu owa jawa. O iya… tanggal 15 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai hari Trenggiling Sedunia loh. Jadi ingat kasus puluhan bangkai trenggiling tanpa sisik di Sampit, Kalimantan Tengah yang pernah diceritakan APE Crusader, hingga kini kasus Juni 2016 itu pun menguap tanpa diketahui siapa pelaku pembuang satwa dilindungi undang-undang ini.

Tidak usah bingung akan menginap dimana. Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak memiliki penginapan yaitu Cikaniki Research Centre. Setelah istirahat sesaat dan makan siang kami langsung menuju Canopy Trail dan Curug Macan. “Jauh-jauh ke sini ya untuk menikmati setiap menit yang berjalan. Sensasi berada di ketinggian 25 meter, melewati jembatan sepanjang 100 meter dan sapuan angin dingin… kamu harus nyobain. Atau berendam di bawah curug Macan… bikin kamu segar loh. Bahkan tadi sempat berjumpa dengan Surili, primata unik endemik pulau Jawa yang terancam punah menurut International Union for Conservation of nature (IUCN) dan si Elang yang sedang terbang mengintai mangsanya.”, cerita Lupita dengan serunya.

Wildtrip bareng orangufriends, ngak akan kebayang serunya loh. Kamu harus ikut Wildtrip Orangufriends selanjutnya ya. Trus berbagi cerita. “Kalau ngak ikut orangufriends… ya ngak bisa ikutan.”, tambah Lupita lagi. (Lupita_Orangufriends)

COP SCHOOL ALUMNI NETWORKS

Centre for Orangutan Protection atau COP sering sekali disangka sebagai organisasi yang berasal dari luar negeri. Dalam bahasa Indoensianya Pusat Perlindungan Orangutan, namun karena alasan pengucapan yang agak aneh saat disinkat maka, versi bahasa Inggris lah yang digunakan. COP adalah organisasi satu-satunya yang didirikan oleh putra putri Indonesia.

Hardi Baktiantoro, salah satu pendiri COP sering mendapatkan pertanyaan, Siapa di belakang COP?, Jendral siapa?, mantan menteri atau pejabat siapa?”.

COP itu organiasinya rakyat biasa. Sebagian besar anak-anak muda yang peduli. Bukan orang-orang tua bangkotan oportunis, yang mana mereka jadi pembina organisasi konservasi sekaligus komisaris di perusahaan perusak hutan, yang penting dibayar atau dikasih bagian saham dari perusahaan tersebut.

Dan mungkin, COP adalah satu-satunya organisasi yang memiliki cetak biru yang jelas untuk melatih para aktivis muda dan melakukan regenerasi. Setidaknya sudah 7 tahun terakhir ini menyelenggarakan COP School tanpa jeda. Hasilnya bisa ditebak.

Para pendiri COP pasti tumbuh semakin tua dan lalu mati. Tetapi COP secara organisasi akan tetap muda dan menguatkan Indonesia. Jika kamu mau bergabung, mesti ikut COP School Batch 8. Masa pendaftaran tinggal 15 hari lagi. Email kami di copschool@orangutan.id

SOLVED, THE MURDER CASE OF ORANGUTAN SHOT WITH 130 BULLETS

Sangata – Today East Kutai Police announced the investigation result of the murder of orangutan with 130 bullets in Teluk Pandan, East Kutai, East Kalimantan. 5 persons have been sentenced as suspects. Earlier before the announcement, Barito police officers also announced the investigation result of the murder of decapitated orangutan that was found in Kalahien river, Central Kalimantan back in January 2018. The series of Police success to reveal the cases of orangutan abuse lately have grown a new hope for wildlife protection law enforcement in Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) is proud to be a partner with Indonesia Police in revealing these cases which have gained international attention.

Ramadhani, Habitat Conservation Program Manager of COP stated,
“We have been involved with the investigation right from the start, supporting whatever needed to handle the case, from autopsy to field work. COP highly appreciate the great effort from Indonesia Police team and send a gratitude.

However, the work is still far from done, we need to ensure the murderers justly punished. This is crucial to ensure the criminals learned their lessons. Especially when the shooting location was located near to Kutai National Park which is a perfect example of the latest situation of conservatory park, which experiencing pressure from external parties and cases of law violations.

For further information and interview please contact
Ramadhani
Habitat Conservation Program Manager of COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

TERUNGKAP, KASUS KEMATIAN ORANGUTAN 130 PELURU
Sangata – Polres Kutai Timur pada hari ini mengumumkan hasil penyelidikannya atas kasus kematian orangutan yang ditembak dengan 130 peluru di Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur. 5 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya, aparat Polres Barito Selatan juga mengungkap kasus tewasnya orangutan tanpa kepala yang ditemukan mengambang di sungai Kalahien, Kalimantan Tengah pada akhir Januari 2018. Rangkaian sukses Polri dalam mengungkap kasus – kasus kejahatan terhadap orangutan akhir – akhir ini membuka harapan baru pada penegakan hukum perlindungan satwa liar di Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) bangga menjadi mitra Polri dalam pengungkapan kasus – kasus yang mendapatkan sorotan dunia internasional ini.

Ramadhani, Manager Program Perlindungan Habitat dari Centre for Orangutan Protection memberikan pernyataan sebagi berikut:

“Kami terlibat dalam penyelidikan sejak menit pertama kasus ini, membantu apa saja yang diperlukan oleh Kepolisian dalam penanganan kasus, mulai dari otopsi hingga bekerja di lapangan. COP sangat mengapresiasi kerja keras tim Polri dan mengucapkan terima kasih.”

“Namun demikian, pekerjaan ini masih panjang untuk memastikan para tersangka bisa mendapatkan hukuman yang maksimal. Hal ini untuk memastikan efek jera bagi para pelaku kejahatan terhadap orangutan dan habitatnya. Apalagi lokasi penembakan berada di sekitar Taman Nasional Kutai yang merupakan model kondisi terkini kawasan konservasi di Indonesia yang sedang mengalami tekanan berbagai pelanggaran hukum lainnya.

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani
Manager Program Perlindungan Habitat COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

Page 28 of 209« First...1020...2627282930...405060...Last »