APE GUARDIANS RAN FRANTICALLY

Monitoring or observing orangutan activities after the release of Untung and Unyil this time, really made the team almost gave up. These two orangutans have made the monitoring team run in chaos. We call this team the APE Guardian team.

When the release, APE Guardian team for Untung first informed us that Untung’s cage had been opened. Only 420 meters away, the APE Guardian for Unyil team gave a signal, Unyil’s cage was ready to be opened. As predicted earlier, both Untung and Unyil ran towards the tree and climbed it. But not long after that, Untung climbed down and began chasing. As soon as possible, the monitoring team and even the transporting cage carriers ran away from Untung.

“It’s normal for orangutans who have undergone the rehabilitation process to still follow humans. They only need to go through adaptation again in a new environment, where humans are no longer friends, but something they must avoid. “, Said Reza Kurniawan, a primatologist at the Center for Orangutan Protection.

The APE Guardian team worked hard to avoid Untung and Unyil. Including jumping into a creek with depths of more than 1 meter. Of course they hoped that these two orangutans would be reluctant to chase. “Damn, they are not afraid of water,” said Yusak, one of the rangers.

Already soaked in the creek, still we have to run because of being chased by orangutans. The sky began to darken, Untung and Unyil seemed tired of playing chases. Unyil climbed into the tree and soon no visible movement from him, but Untung was still playing on the ground even though he was no longer chasing. “Monitoring these two orangutans is really physical draining.” (EBO)

APE GUARDIAN LARI KALANG KABUT

Monitoring atau kegiatan memantau orangutan setelah pelepasliaran orangutan Untung dan Unyil kali ini, benar-benar membuat tim nyaris angkat tangan. Kedua orangutan ini membuat tim patroli kalang kabut berlarian. Kami menyebut tim ini sebagai tim APE Guardian.

Tim APE Guardian orangutan Untung terlebih dahulu menginformasikan, kandang Untung telah dibuka. Hanya berjarak 420 meter, tim APE Guardian orangutan Unyil memberi aba-aba, kandang Unyil siap dibuka. Seperti prediksi sebelumnya, baik Untung maupun Unyil berlari menuju pohon dan memanjatnya. Tapi tak berapa lama kemudian, Untung turun dan mulai mengejar. Secepatnya, tim monitoring bahkan tukang pikul kandang angkut lari terbirit-birit untuk menghindari kejaran Untung.

“Ini hal yang biasa bagi individu orangutan yang telah menjalani proses rehabilitasi masih terlihat mengikuti manusia. Mereka hanya perlu melalui adaptasi lagi di lingkungan yang baru, dimana manusia bukanlah teman lagi, tapi adalah sesuatu yang harus dihindarinya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologis Centre for Orangutan Protection. 

Tim APE Guardian bekerja keras untuk mengurangi intesitas kejaran Untung maupun Unyil. Salah satunya dengan menyeburkan diri di anak sungai yang kedalamannya lebih dari 1 meter. Tentu saja harapannya agar kedua orangutan rehabilitasi ini enggan mengejar. “Sial, mereka tidak takut air.”, ujar Yusak salah satu ranger.

Sudah basah kuyup karena monitoring orangutan sambil berendam di anak sungai masih saja harus berlari karena dikejar orangutan. Langit mulai gelap, Untung dan Unyil namaknya sudah bosan bermain kejar-kejaran. Unyil naik ke pohon dan mulai tidak ada pergerakan, namun Untung masih bermain di tanah meski tak lagi mengejar. “Monitoring kedua orangutan ini sungguh menguras fisik.”. (WID)

 

WHEN BABY BITES LANDED SMOOTHLY (1)

Bitten by an orangutan baby? How does it feel? Babies are cute, cute and adorable. Are you sure???

There are currently 9 orangutan babies at the Borneo COP Orangutan Rehabilitation Center, Berau, East Kalimantan. Orangutan babies have physical and behavioral characteristics similar to human babies. The difference is that orangutan babies have 10 teeth when they are one year old, including canines. You can imagine when they want to play or feel disturbed and do biting actions, right?

Baby orangutan bites landed smoothly on your skin, this commonly experienced by baby sitters and medical team. Usually, new baby orangutans enter the quarantine cage for the first time. This is an orangutan baby self-defence mechanism.

Orangutan babies experienced past trauma before arriving at the rehabilitation center, when they were forced to escape from their mothers. It could be that the mother was brutally murdered before their eyes. In fact, the orangutan mothers will not part with their children before their children are ready to live their own lives in the forest. The child is separated from the mother when she or he is 6-8 years old. (EBO)

SAAT GIGITAN BAYI MENDARAT DENGAN MULUS (1)

Tergigit bayi orangutan? Bukan tergigit tapi digigit bayi orangutan. Gimana rasanya? Bayi kan lucu, imut dan menggemaskan. Yakin???

Saat ini ada 9 bayi orangutan di pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Bayi orangutan memiliki karakter fisik dan perilaku yang mirip dengen bayi manusia. Bedanya, bayi orangutan sudah mempunyai 10 gigi saat berumur satu tahun termasuk gigi taring. Bisa dibayangkan saat mereka ingin bermain atau merasa terganggu dan melakukan tindakan gigit-menggigit, bukan? 

Kejadian gigitan bayi mendarat dengan mulus sudah biasa dirasakan baby sitter maupun medis. Biasanya, bayi orangutan yang baru masuk ke kandang karantina untuk pertama kalinya. Ini merupakan usaha bayi orangutan mempertahankan diri. 

Trauma masa lalu sebelum bayi orangutan sampai di pusat rehabilitasi, dimana dia secara terpaksa lepas dari induknya. Bisa jadi, induknya dibunuh secara kejam di depan matanya. Faktanya, induk orangutan tidak akan berpisah dengan anaknya sebelum anaknya siap menjalani kehidupan sendiri di hutan. Anak baru terpisah dengan induknya saat berumur 6-8 tahun. (FLO)

ROOM MAKE UP FOR ORANGUTAN

Since the block enclosure was established in 2015 and inhabited by Ambon and Memo, it has never been repainted. Small repairs such as for broken bars or cage floor damage have been carried out periodically. Now, the room make up team will work to improve any defects for the orangutan’s cage.

Limited number of enclosures require continuous planning. When the medical team is ready for their job to check orangutan’s health in this block, the animal keepers prepare for painting, hammock repairs and inspection of the cage. Orangutans prepare to move rooms.

The room make up team who are none other than tireless workers at COP Borneo are ready to sand, paint and make sure the rooms are ready to be occupied. Giving disinfectants is a signal, Ambon the orangutan is welcome to occupy his new room.

“Amazing room make up team!” Hopefully team will always be in good health to able to give new colors to other orangutan rooms. (EBO)

BEDAH KAMAR UNTUK ORANGUTAN

Sejak kandang blok yang dihuni orangutan Ambon dan Memo berdiri di tahun 2015, kadang belum pernah dicat ulang. Perbaikan-perbaikan kecil seperti besi yang putus atau semen lantai kandang yang bolong secara berkala sudah dilakukan. Kini, kehadiran tim bedah kamar orangutan akan bekerja memperbaiki kekurangan yang ada.

Keterbatasan kandang membutuhkan perencanaan yang berkesinambungan. Bagian medis tentu saja siap dengan pekerjaan pemeriksaan kesehatan orangutan di blok ini. Sementara animal keeper bersiap untuk pengecatan, perbaikan hammock dan pemeriksaan kelayakkan kandang. Orangutan bersiap untuk berpindah kamar.

Tim bedah kamar yang tak lain adalah pekerja-pekerja tak kenal lelah di COP Borneo telah siap mengamplas, mengecat dan memastikan kamar siap dihuni. Pemberian disinfektan menjadi isyarat, orangutan Ambon dipersilahkan menempati kamar barunya. 

“Tim bedah kamar yang luar biasa!”. Semoga tim sehat terus agar selalu bisa memberi warna baru di kamar-kamar orangutan lainnya. (FLO)

Page 28 of 300« First...1020...2627282930...405060...Last »