THE SUSPECT OF BAEN KILLER CAUGHT, COP APPRECIATE THE CENTRAL KALIMANTAN REGIONAL POLICE

Centre for Orangutan Protection (COP) appreciates the Central Kalimantan Regional Police (Polda Kalteng) for the death of orangutan case. Determination of the two suspects carried out by Polda Kalteng for the death of orangutan named Baen found at PT. WSSL II subsidiary of Best Agro, Hanau district, Seruyan, right after 40 days of the case were found. Two suspects were charged under the Emergency Law until the DNA test result released.

Air guns or air riffles weapon are as dangerous as other guns. which can kill lives. Because of that, the use of air guns can be charged under Emergency Law No 12 of 1951 concerning registration and granting of ownership for firearms. ” This will be a big step for the campaign of Air Guns/ Air Riffles Terror that has been published for the past seven years. We are looking forward for strict actions against all parties who do not have permits and misuse the weapons. ” , said Ramadhani, manager of COP Orangutan and Habitat Protection.

The death of Baen orangutan which located in palm oil plantations is inseparable from the forest conversion. ” The death of orangutan in PT WSSL in the early July 2018 is not the first to happen. In September 2015, four carcasses of orangutans found at PT WSSL II palm oil plantation. Is this only a coincidence?”, asked Ramadhani again.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email : info@orangutanprotection.com

TERSANGKA PEMBUNUH BAEN DITANGKAP, COP APRESIASI POLDA KALTENG
Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi Polda Kalteng atas kasus kematian orangutan. Penetapan dua tersangka yang dilakukan Polda Kalimatan Tengah atas kematian orangutan bernama Baen yang ditemukan di PT. WSSL II anak perusahaan dari Best Agro, kecamatan Hanau, Seruyan tepat setelah 40 hari penemuan kasus tersebut. Dua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Darurat hingga menunggu hasil DNA keluar.

Senjata jenis air gun atau senapan angin sama berbahaya dengan senjata api lainnya, yaitu dapat menghilangkan nyawa. Karena itu penyalahgunaan senapan angin dapat dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang pendaftaran dan pemberian izin kepemilikan senjata api. “Ini akan menjadi langkah besar untuk kampanye Teror Senapan Angin yang sejak tujuh tahun terakhir ini dipublikasikan. Tindakakan tegas terhadap semua pihak yang tidak memiliki izin dan menyalahgunakan senjata tersebut, sangat kami tunggu pelaksanaannya.”, kata Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Kematian orangutan Baen yang berada di lokasi perkebunan kelapa sawit tidak terlepas dari alih fungsi hutan. “Kematian orangutan di PT WSSL pada awal Juli 2018 bukanlah yang pertama terjadi. Pada September 2015, empat bangkai orangutan ditemukan di perkebunan kelapa sawit juga. Apakah ini sebuah kebetulan?”, tanya Ramadhani lagi.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat
HP : 081349271904
Email : info@orangutanprotection.com

THIS MORNING DRAMA WITH POPI

Just like our kids who just got into school, there are times when they don’t want to separate from us. Woke up late, took a bath and had breakfast along with cries and in the end didn’t want to separate from you when you had arrived at the school gate. What a full of drama morning!

Popi, the orangutan baby is just like that. This morning after breakfast in the cage, Popi was carried out to the forest school. Oh no!!! She grasped even tighter when we arrived at the forest school. And her eye looks was… Who have the heart to force her to climb the trees?

It’s not too cold this morning, even the weather is at its best. But what can i do, Popi the orangutan baby who has been in orangutan rehabilitation center COP Borneo since her umbilical cord cut, doesn’t loosen her arms a bit. Popi had to lose her mother. Her mother subtitute is only her keeper who is currently held tight by her. (SAR)

DRAMA PAGI INI BERSAMA POPI
Seperti anakmu yang baru saja masuk sekolah. Ada kalanya tidak ingin berpisah darimu. Bangun terlambat, mandi dan sarapan diselingi tangisan dan akhirnya tidak mau lepas darimu saat sudah tiba di gerbang sekolah. Pagi yang penuh drama!

Popi, bayi orangutan ini pun seperti itu. Pagi ini usai sarapan di kandang, Popi digendong untuk ke sekolah hutan. Oh tidak!!! Pelukannya semakin erat saat tiba di sekolah hutan. Dan tatapan matanya… Tegakah memaksanya untuk memanjat pohon?

Pagi ini tidak terlalu dingin, bahkan cuaca sedang enak-enaknya. Tapi apa daya, Popi, bayi orangutan yang sejak pupak tali pusarnya sudah berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini tak juga mengendurkan pelukannya. Popi harus kehilangan induknya. Induk penggantinya, ya si penjaganya yang saat ini dipeluknya dengan erat saat ini.

Peluk Popi yuk… dengan terus menyumbang. Popi sama seperti anak-anak kita, yang punya mimpi untuk kembali liar ke habitat aslinya.

BEWARE OF MALIOIDOSIS THAT KILLS ORANGUTAN

OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) Workshop 2018 was held at Veterinary Faculty – University of Syiah Kuala in Banda Aceh. This year. drh. Flora represented COP Borneo orangutan rehabilitation center to attend the annual event that has been going on for 10 years.

One of the main concerns of the case studies on the third day were several cases of orangutans such as Melioidosis, Bronchioectasis, and other respiratory diseases also abscesses of teeth. Malioidosis itself is a disease that just got the attention in Indonesia. It is caused by Burkholderia pseudomallei bacteria which turns out to be endemic in Kalimantan. The bacteria lives beneath the ground during ground season, but can be found in surface water and soil when precipitation got intense.

This disease becomes pretty serious because there are no specific symptoms that follow (fever, loss of appetite, cough) however the mortality rate is high (2-3 days after initial symptoms are seen). Further research will be carried out to handle this disease. (SAR)

WASPADA MALIOIDOSIS YANG MEMATIKAN ORANGUTAN
Workshop OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) 2018 dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Tahun ini drh. Felisitas Flora Sambe mewakili pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk menghadiri acara tahunan yang sudah berlangsung selama 10 tahun.

Salah satu yang menjadi perhatian utama studi kasus di hari ketiga adalah beberapa kasus pada orangutan seperti Melioidosis, Bronchioectasis dan penyakit pernafasan lain serta abses pada gigi. Malioidosis sendiri adalah suatu penyakit yang baru mendapat perhatian di Indonesia. Penyebabnya adalah bakteri Burkholderia pseudomallei yang ternyata endemik di pulau Kalimantan. Bakteri ini hidup di bawah permukaan tanah pada musim kemarau, akan tetapi dapat ditemukan dalam air permukaan dan lumpur saat curah hujan tinggi.

Penyakit ini menjadi cukup serius karena tidak ada gejala khas yang mengikuti (demam, hilang nafsu makan, batuk) akan tetapi tingkat kematian tinggi (2-3 hari setelah gejala awal terlihat). Untuk penanganannya masih akan dilakukan penelitian lebih lanjut. (FLO)

Page 28 of 249« First...1020...2627282930...405060...Last »