JOGJA, CINTA DAN ORANGUTAN

Kalian tahu arti kata ‘calling’? Iya sih, panggilan, tapi bukan itu maksudnya. Kalau panggilan doang, missed call jadinya ‘panggilan rindu’ dong… Hehehehe.

Salah satu definisi dari kata Calling /ˈkôliNG/ menurut Oxford Dictionaries adalah :a strong urge toward a particular way of life or career; a vocation. Intinya, sebuah dorongan atau cara hidup tertentu. Atau bagaimanapun caramu menerjemahkannya.

Kemudian suatu hari Jogja memanggilku, dan aku menjawabnya. COP School nama panggilannya. Adalah cinta yang ditawarkannya. Dan orangutan jadi alasannya. Lantas aku jawab panggilan itu, kini Jogja bukan hanya jadi kota kelahiran lahiriyahku, kini Jogja jadi kota kelahiran batinku. Mungkin kamu gak akan baca ini kalau gak mencaritahu tentang COP School, dan mungkin kamu gak akan cari tahu kalau kamu ga terpanggil. Ini Indonesia lho yang memanggil! Karena orangutannya, satwa liarnya, sedang sekarat, terancam, terkekang dan tersingkirkan. Akibat ulah anak anaknya yang tidak tahu diuntung. Aku sih yakin kamu bukan orang seperti itu. Sekarang pertanyaannya, ini panggilan mau kamu jawab, atau akan dibiarkan lalu jadi “panggilan rindu” dari ibu pertiwi?

Ikut COP School dan menjadi bagian darinya, well it’s quite an adventure. Aku tidak bisa menjanjikanmu bahwa ini akan menjadi seperti petualangan mencari horcrux, atau menyelamatkan Misty Mountain, atau seperti membuat pertunjukan yang megah. Tapi Harry Potter, Bilbo Baggins, PT Barnum atau siapapun yang bertualang sehebat itu, berawal dari menjawab sebuah panggilan. Seberapa besar ketegangan petualangan ini dilihat dari bagaimana caramu melihatnya, dari seberapa dalam kamu ingin terlibat.

Dan terlepas dari petualangannya, yang bisa kujanjikan adalah selalu ada cinta di COP School. Dan kamu akan merasakannya. COP School is a place where you can came in a stranger, and came home a brother/sister. (Kemal_copschool7)

PONDASI KANDANG KARANTINA UNTUK KEBEBASAN 4 ORANGUTAN

Ada empat orangutan yang akan ditarik dari pulau orangutan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Keempat orangutan ini akan di karantina sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Novi si orangutan berteman anjing yang tinggal di bawah kolong rumah dengan rantai yang melingkar di lehernya dari kecamatan Kongbeng, Kalimantan Timur, lalu Unyil yang bertahun-tahun tinggal di toilet dan akhirnya pada 13 April 2015 masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Untung yang jari tangannya tak lengkap dan Leci si kecil yang lincah adalah empat orangutan yang akan menjalani proses ini.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo memerlukan kandang karantina untuk keempat orangutan tersebut. Kandang bekas Owa yang berada dekat klinik akan dibongkar dan pembangunan kandang karantina untuk keempat orangutan ini akan segera dimulai.

29 Januari 2018, tim mulai menggali lubang untuk pondasi kandang. Bahan-bahan bangunan juga mulai dimasukkan ke lokasi. Tim kecil pembangunan ini dibantu oleh para relawan COP. Terimakasih orangufriends yang telah menyumbangkan tenaga dan waktunya dalam pembangunan kandang untuk keempat orangutan yang segera dilepasliarkan dalam tahun 2018 ini. Mari orangufriends yang ingin membantu dari kejauhan bisa lewat Bersama, kita pasti bisa.

AMBON DI AWAL 2010

Januari 2010, itulah perjumpaan COP pertama kali dengan Ambon, orangutan dengan cheekpad besar di Kebun Raya Samarinda (KRS), Kalimantan Timur. Kandang terlihat kotor dengan pemberian makanan dari pengunjung dengan lantai yang sudah pecah. Ada tulisan dengan dasar warna merah bertuliskan, “Awas HP/ Kamera. Jangan terlalu dekat dengan kandang saat mengambil gambar. Karena bisa diambil orangutan.”. Saat itu tak banyak yang bisa diperbuat, hanya dengan memberikan masukkan kepada para pekerja yang kebetulan terlihat sedang dekat kandang Ambon, untuk sering-sering memberikan dedaunan.

Juni 2010, setelah melalui serangkaian usaha, Centre for Orangutan mulai membantu KRS. Pelatihan pada para animal keeper untuk berhadapan dengan satwa, perbaikan menu makanan hingga ikut terjun langsung merawat satwa yang ada. Perbaikan-perbaikan kandang pun dilakukan hingga pembuatan enclosure/kandang terbuka untuk orangutan dibangun. Peningkatan kapasitas animal keeper juga dibangun, mulai materi baca tulis, bahasa Inggris hingga animal welfare. Cerita kerjasama tim membangun mimpi untuk orangutan agar mendapatkan yang ada terbaik, akhirnya mengantarkan COP memperoleh penghargaan the Andrew Award for Outstanding Contribution by Young Activists. Semua dikerjakan bersama untuk membangun kerjasama tim. Orangutan Appeal UK saat itu membantu pendanaan COP bekerja di KRS.

Khusus untuk kandang Ambon yang saat itu dihuni tiga orangutan yaitu Ambon, Debbie dan Jane dilakukan perbaikan lantai, pemberian enrichment, kayu di pojok kandang agar orangutan tidak di lantai terus, pembersihan kandang setiap hari, pemasangan jaring pembatas antara kandang dengan pengunjung dan pemindahan Jane ke kandang yang lain. Para orangufriends Samarinda pun terlibat aktif dalam upaya kehidupan orangutan di KRUS. Mereka bergantian menjadi intepreter sebagai bentuk edukasi dan penyadartahuan ke pengunjung. COP bangga pada para orangufriends Samarinda ini.

Hingga pertengahan 2014, COP memutuskan untuk membangun pusat rehabilitasi orangutan sendiri. Ini menjadi pusat rehabilitasi orangutan pertama yang didirikan putra putri Indonesia.

Page 28 of 202« First...1020...2627282930...405060...Last »