ANOTHER UNYIL FROM MERATAK

Tubuh kurusnya menempati kotak kayu berukuran 100 cm x50 cm x 50cm. Orangutan jantan ini diperkirakan berusia 5 tahun. Sikapnya tak begitu liar lagi. Sejak 2014 yang lalu dia dipelihara warga Meratak, Kalimantan Timur. Unyil, begitu warga sekitar memanggilnya.

Centre for Orangutan Protection kembali menemukan orangutan yang dipelihara secara ilegal. Orangutan ini adalah orangutan ketiga yang ditemukan tim APE Crusader dalam perjalanan mendokumentasikan pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. “Perkebunan yang kami dokumentasi sudah pada tahap penanaman bibit kelapa sawit. Empat tahun yang lalu, tentu saja berbeda sekali dengan keadaan sekarang. Hutan sebagai habitat orangutan benar-benar tergusur. Unyil saat itu masih berusia 1 tahun, terlalu kecil dan tak mungkin terpisah dengan induknya begitu saja. Entah apa yang terjadi dengan induknya dan orangutan lainnya. Satwa liar lainnya? Ini adalah pemusnahan keanekaragaman hayati dan satwa besar-besaran.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

PERAHU “WAY BACK HOME” DITARIK KE DARAT

Kerja keras perahu “Way Back Home” pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo selama satu tahun menyebabkan kerusakan cukup serius. Kebocoran lambung perahu karena usia dan penggunaan tidak bisa dihindarkan lagi. Mobilitas yang tinggi membuat fisik perahu mulai rapuh. “Kami terpaksa ‘mengkandangkan’ perahu menuju daratan.

Pengangkatan perahu ke daratan menjadi tantangan tersendiri. Air sungai Kelay yang saat ini sedang surut menambah jarak dengan medan terjal yang membutuh energi ekstra. Usai pengangkatan, perahu dicuci bersih sambil penandaan bagian rongga yang bocor. Joni dan Amir dengan teliti menandainya. “Ini nih yang bikin air masuk terus.”, katanya sambil terus menyikat perahu.

Cuaca di camp pantau memang lagi cerah sekali, perahu menjadi cepat kering hanya dalam beberapa hari. Proses selanjutnya adalah pengeleman. “Minggu depan akan di cek ulang apakah perlu pengulangan lagi atau tidak.”, tambah Joni.

Perahu “Way Back Home” adalah perahu hasil keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang dikoordinir Orangufriends (kelompok pendukung COP). Perahu ini bertugas sebagai kendaraan patroli di pulau orangutan COP Borneo. Selain patroli untuk memastikan kondisi orangutan di pulau, perahu ini juga untuk mengangkut pakan orangutan dan mobilitas lainnya. Tak heran jika warga kampung Merasa menjuluki perahu WBH adalah perahu paling sibuk di kampung Merasa karena mobilitasnya yang tinggi. Semoga perahu WBH lancar menjalani perawatan kali ini agar bisa segera bertugas mengarungi sungai Kelay kembali. (NIK)

DUA MINGGU PERTAMA JOJO DI COP BORNEO

Orangutan Jojo terlihat sulit bernafas. Apalagi saat sedang makan atau minum. Terdengar suara ngorok nya saat menarik nafas. Tak jarang, Jojo terlihat bernafas melalui mulut bukan hidung. Dengan kondisi Jojo yang lebih kecil dibandingkan dengan orangutan yang seumuran dengannya, membuat tim medis memberikan perhatian lebih pada tumbuh kembangnya. “Bagaimana pun juga, induk orangutan tau yang terbaik untuk anaknya. Sementara kami, tim medis berusaha lakukan yang terbaik. Anak orangutan adalah anak yang sangat tergantung pada induknya hingga usia 7 tahun. Selama itu, induk akan sangat melindunginya, mengajari yang mustahil bisa kami lakukan. Kami berharap, Jojo bisa cepat menyesuaikan diri dan bertahan dengan bantuan kami.”, ucap drh. Flora dengan penuh harapan.

Sejak 12 April 2018, Jojo masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Buah dan sayur yang merupakan pakan orangutan di pusat rehabilitasi ini, nyaris tak disentuhnya. Ini karena selama dalam pemeliharaan ilegal, Jojo diberi makanan nasi, sama seperti manusia. Tapi berkat ketelatenan para animal keeper di COP Borneo, Jojo sekarang menyukai jeruk dan pepaya.

Jojo, anak orangutan berusia 4 tahun ini masih dalam kandang karantina. Pemeriksaan kesehatan dan fisik akan menentukan bergabung tidaknya orangutan Jojo di sekolah hutan. Pengembalian kepercayaan diri Jojo juga menjadi fokus yang tak kalah pentingnya. “Tapi kami yakin, trauma yang dialami Jojo perlahan dapat diatasi.”, ujar Danel Jemy, koordinator animal keeper COP Borneo.

Mari bantu kami dalam perlindungan orangutan. Jika kamu mengetahui kepemilikan ilegal orangutan di sekitar mu, segera hubungi Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 (telpon atau sms) atau email kami di info@orangutanprotection.com agar tidak ada Jojo-Jojo yang lain, yang salah penanganan sehingga semakin menyulitkan proses rehabilitasi untuk kembali dilepasliarkan. (FLO)

Page 22 of 224« First...10...2021222324...304050...Last »