APE DEFENDER TAKES CARE OF A GIBBON’S WOUND

This male gibbon has been in the cage of BKSDA SKW I Berau for almost two years. Surprising reports of increasing injuries in his left thigh area made the COP Borneo medical team immediately adjust the schedule of visits. Friday night, April 12, 2019 the APE Defender team examined the gibbon.

From the results of the interim examination, the following day vet Satria anesthetized the gibbon and began cleaning the wound. Many tissues experience necrosis and there is no external bleeding. The wound starts to rot and the peculiar smell of pus indicates that the infection has sharply smelled. The left thigh wound is finally operated on minor to cover the wound. While the wound in the buttocks is treated because it does not allow for surgery.

After evaluating the position of the cage that is too close to the bear cage, the gibbon cage is finally removed under the sapodilla tree but still gets sunlight to avoid humidity at the cage so the wounds are always dry. (EBO)

APE DEFENDER MERAWAT LUKA OWA

Owa jantan ini sudah hampir dua tahun berada kandang BKSDA SKW I Berau. Laporan mengejutkan adanya luka yang semakin besar di daerah paha kirinya membuat tim medis COP Borneo segera menyesuaikan jadwal kunjungan. Jumat malam, 12 April 2019 tim APE Defender memeriksa Owa tersebut.

Dari hasil pemeriksaan sementara, keesokan harinya drh. Satria membius Owa dan mulai membersihkan luka yang sudah cukup lama. Banyak jaringan yang mengalami nekrosis dan sudah tidak terdapat pendarahan eksternal. Luka mulai membusuk dan bau khas nanah yang menandakan sudah terjadi infeksi tercium dengan tajam. Luka di paha kiri akhirnya dioperasi minor untuk menutup luka. Sementara luka di bagian pantat dirawat karena tidak memungkinkan untuk dioperasi. 

Setelah mengevaluasi posisi kandang yang terlalu dekat dengan kandang beruang, kandang owa akhirnya dipindahkan di bawah pohon sawo namun masih mendapat sinar matahari untuk menghindari kandang lembab dan luka dapat cepat kering. Mohon doanya ya… agar Owa bisa pulih.

 

GOOD BYE UNTUNG AND UNYIL!

When both of the transport cage doors are lifted, the two orangutans come out and reach for the nearest tree to climb. Untung and Unyil returned to their habitat and have overwhelmed the APE Guardian COP team.

Thursday, April 11, 2019 is still nine days to commemorate Earth Day. Two orangutans were released by East Kalimantan BKSDA, Dipterokarpa and Center for Orangutan Protection in Berau, East Kalimantan. A number of invited guests from the Berau Environmental Office, OWT, Kelay Koramil and Lesan Dayak Chief participated in witnessing the release this time. Luckily, the APE Guardian COP team immediately evacuated guests to leave the release site. “Untung suddenly came down from the tree and chased the team that was carrying an empty transport cage. We immediately ran away. “, Said Hery Susanto, while catching his breath. It turned out that the sound of the transport cage was enough to disturb Untung, which made Untung turned around and chased them.

While Unyil’s cage was opened by Mr. Aganto Seno from KSDA SKW I Berau. Unyil, who was worried to approach the team, was the opposite. Immediately he climbed the tree and move from one tree to another. The APE Guardian team that will monitor Unyil orangutans at their new home will keep their distance further because of Unyil’s habit to occasionally approach the team. Both are still monitored and are adapting to their new environment. 

Releases have different stories  when the cage door is opened. “We believe, every wildlife has an instinct to survive. Rehabilitation efforts will never be in vain. The dream of returning to habitat is not just wishful thinking. Thank you for the support of all parties that have enabled each individual orangutan to return to their habitat, from rescue, rehabilitation to release. A better life for orangutans, “said Reza Kurniawan, Center for Orangutan Protection optimistically. (EBO)

SELAMAT TINGGAL UNTUNG DAN UNYIL!

Saat kedua pintu kandang angkut diangkat, keduanya pun keluar dan meraih pohon terdekat untuk dipanjat. Untung dan Unyil kembali ke habitatnya dan membuat tim APE Guardian COP kewalahan.

Kamis, 11 April 2019 masih sembilan hari lagi peringatan Hari Bumi. Dua orangutan dilepasliarkan kembali oleh BKSDA Kaltim, Dipterokarpa dan Centre for Orangutan Protection di Berau, Kalimantan Timur. Beberapa tamu undangan dari Dinas Lingkungan Hidup Berau, OWT, Koramil Kelay dan Kepala Adat Lesan Dayak ikut menjadi saksi pelepasliaran kali ini. Beruntung sekali, tim APE Guardian COP segera mengevakuasi para tamu untuk meninggalkan tempat pelepasliaran. “Untung tiba-tiba saja turun dari pohon dan mengejar tim yang membawa kandang angkut kosong. Kami langsung lari tunggang langgang.”, ujar Hery Susanto sambil mengatur nafasnya kembali. Ternyata suara kandang angkut cukup menganggu Untung, hingga Untung berbalik arah dan mengejar tim.

Sementara kandang orangutan Unyil dibuka oleh Pak Aganto Seno dari KSDA SKW I Berau. Unyil yang sempat dikawatirkan mendekati tim, malah sebaliknya. Segera naik ke atas pohon dan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Tim APE Guardian yang akan memantau orangutan Unyil di rumahnya yang baru ini sengaja menjaga jarak lebih jauh, karena kebiasaan Unyil yang sesekali mendekati tim dulunya. Keduanya masih terpantau dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Pelepasliaran punya cerita yang berbeda saat pintu kandang dibuka. “Kami percaya, setiap satwa liar memiliki insting untuk bertahan hidup. Usaha rehabilitasi tidak akan pernah sia-sia. Mimpi untuk kembali ke habitat bukan sekedar angan-angan. Terimakasih atas dukungan semua pihak yang telah memungkinkan setiap individu orangutan kembali ke habitatnya, mulai dari penyelamatan, rehabilitasi hingga pelepasliaran. Kehidupan yang lebih baik untuk orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, Centre for Orangutan Protection dengan optimis.

ADA COP DI KELAS PENGGALANGAN DANA MAVERICK

Bagaimana caranya agar penggalangan dana bisa berhasil? Maverick, sebuah perusahaan komunikasi dengan tujuan meningkatkan kapasitas LSM dalam komunikasi menginisiasi kelas ini. Ada Agus Nadi yang merupakan Vice President CSR Bank Permata dan Wicaksono yang merupakan pakar Komunikasi publik serta Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri Centre for Orangutan Protection yang berbagi pengalamannya selama di COP. Kelas diikuti oleh 50 LSM.

Menulis laporan yang komunikatif dan adanya alat pemasaran akan membuka peluang donor lain untuk masuk meskipun tidak langsung berkaitan. Perkembangan dunia komunikasi begitu cepatnya, dengan dasar yang kuat seperti bagaimana sebuah pesan bisa berhasil sampai ke khalayak dengan memperhatikan saluran yang digunakan tentu saja umpan balik yang diterima juga bisa terukur dengan baik.

Yang terutama lagi, pengalaman para praktisi tentu saja tak ada yang seindah teori. 

Page 22 of 292« First...10...2021222324...304050...Last »