13 ORANGUTANS TRAPPED IN AE CORPORATION PALM PLANTATION, MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY MUST BE FIRM

Centre for Orangutan Protection (COP) are urging the Ministry of Environment and Forestry to summon all of their power to save the 13 orangutans trapped in AE Corporation’s land in East Kutai, East Kalimantan. The pressure has been put on the Ministry through a demonstration in the lobby and grounds of the Ministry building in Jakarta. COP Activists wore orangutan costumes.

COP greatly appreciates the response from the East Kalimantan Conservation and National Resources Agency. The report was submitted on the 10th of March 2016, and immediately followed up with a field visit on the 20th – 21st March 2016. In this visit, although the team did not encounter the orangutans directly, four nests were sighted. This is an indication that there are indeed orangutans present on the land. With letter number S 330 / BKSDA – 1.4/2014, The Conservation and Natural Resources Agency (BKSDA) recommended that AE Corporation take an active role in the rescue efforts of protected wildlife within the plantation area, and other areas in which wildlife has been affected due to the presence of AE Corporation.

COP deems this recommendation to be insufficient. More proactive tangible actions are needed, as AE Corporation continues to publicly deny the presence of the trapped orangutans, through both media publications and official reports given to the Conservation and Natural Resources Agency and forwarded to various other parties.

Ramadhani, COP Managing Director gave the following statement:

“The denial from AE Corporation is an indication of bad faith. AE Corporation refuse to acknowledge their wrongdoings, which is dangerous to the orangutans that remain on their land. The Ministry of Environment and Forestry should not just blindly trust in the reports given by AE Corporation.”

“The Ministry must act quickly to send out a rescue team to help these orangutans, and an investigation team to uncover their crimes. Tolerance of cases like this in the past have sacrificed orangutans as a result of the expansion of palm oil plantations. At least 2000 orangutans have been evacuated to 5 Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and this atrocity continues on. The main cause is the lack of firm actions against it, particularly from a legal perspective.”

“The eyes of the international palm oil industry are currently on this case. Golden Agri Resources (GAR) and Wings Food have confirmed that they have temporarily suspended their trading agreement with PS Group, the parent organisation of AE Corporation. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) have also responded swiftly to this case. AE Corporations denial will only worsen the situation. Firmness from the Ministry of Environment and Forestry will improve the image of the international palm oil industry, which will ultimately have a positive impact on the national economy.”
 
For interviews and further information please contact:
Ramadhani,
Managing Director COP
dhani@cop.or.id
081349271904
For photo and video requests please contact:
Wahyuni,
Communication Manager COP
yuyun@cop.or.id
082143671729

13 ORANGUTAN TERJEBAK DI KEBUN SAWIT PT AE, KLHK HARUS TINDAK TEGAS

Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk mengerahkan segenap potensi untuk menyelamatkan 13 orangutan yang terjebak dalam kawasan konsesi PT. AE di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Desakan disampaikan dalam demonstrasi di lobi gedung dan halaman Kementerian Kehutanan di Jakarta. Para aktivis COP mengenakan kostum orangutan. 

COP sangat mengapresiasi respon Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Laporan yang disampaikan pada tanggal 10 Maret 2016 langsung ditanggapi dengan kunjungan lapangan pada tanggal 20 – 21 Maret 2016. Dalam kunjungan tersebut, meskipun tim tidak berjumpa langsung dengan orangutan namun tim menemukan 4 sarang orangutan. Ini adalah indikasi kuat keberadaan orangutan. Melalui surat nomor S 330 / BKSDA -1.4/2014, BKSDA merekomendasikan PT AE untuk berperan aktif dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi yang berada di areal kebun dan areal berdampak bagi satwa sebagai akibat keberadaan PT. AE. 

COP menilai bahwa rekomendasi tersebut tidak cukup. Diperlukan tindakan prokatif yang lebih nyata mengingat PT AE terus melakukan penyangkalan atas keberadaan orangutan yang terjebak. Penyangkalan dilakukan melalui publikasi di media maupun surat resmi ke BKSDA dan ditembuskan ke berbagai pihak. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan: 

“Penyangkalan yang dilakukan oleh PT AE merupakan indikasi itikad tidak baik. PT AE terkesan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuat dan ini membahayakan orangutan yang tersisa di kawasan konsesi mereka. Tidak seharusnya KLHK mempercayai begitu saja laporan – laporan yang disampaikan oleh PT. AE” 

“Kementerian LH&K harus bergerak cepat menerjunkan tim rescue untuk menolong orangutan dan tim penyidik untuk mengungkap kejahatan ini. Pembiaran atas kasus – kasus serupa telah mengakibatkan korban orangutan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit terus berjatuhan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hal ini masih terus berlangsung. Penyebab utamanya adalah nihilnya tindakan tegas terutama dalam hal penegakan hukum.” 

“Mata industri kelapa sawit internasional sedang menatap ke arah kasus ini. Golden Agri Resources (GAR) dan Wings Food dikonfirmasi telah memutuskan sementara kontrak dagang dengan PS Group, induk perusahaan PT. AE. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) juga merespon cepat kasus ini. Penyangkalan PT AE hanya akan memperparah situasi. Sikap tegas KLHK akan memperbaiki citra industri kelapa sawit nasional, yang pada akhirnya berdampak baik pada perekonomian nasional.” 

Wawancara dan informasi harap menghubungi: 

Ramadhani, 
Managing Director COP 
dhani@cop.or.id
081349271904 

Permintaan foto dan video harap menghubungi: 
Wahyuni, 
Communication Manager COP 
yuyun@cop.or.id
082143671729 

SCHOOL VISIT AT SELYCA KINDERGARTEN

Playing is children’s world. By playing well, we can go into it. Orangufriends Samarinda came to Selyca kindergarten children that way. It needs an interesting way to introduce about orangutan to 3-6 years old children so that they could understand. One Orangufriend in an Orangutan costume has become the center of their attention.
Thank you Orangufriends Samarinda!
‪#‎proudofOrangufriends‬ ‪#‎orangufriendevents‬ ‪#‎schoolvisit‬
Dunia bermain adalah dunianya anak-anak. Dengan cara bermain pula, kita bisa masuk ke dunia anak-anak. Itu cara Orangufriends Samarinda masuk ke anak-anak TK Selyca, Samarinda. Usia 3-6 tahun memang perlu cara yang menarik dengan materi pengenalan orangutan yang bisa mereka pahami. Salah satu orangufriends dengan konstum Orangutan ini menjadi pusat perhatian mereka.
Terimakasih Orangufriends Samarinda!

STORY OF ORANGUTAN LECI

Different orangutan, same story.
Leci was found by a farmer on his fruit farm, and was then taken home. He said she’d been separated from her mother.
Usually we investigate these cases to confirm that the information given to us is accurate. The infant orangutan was separated from it’s mother, either because the mother was killed, or the baby was left behind when the two orangutans fleed, driven out of the farm.
Farms in the local community become the next best option once the forest has been cleared to make way for palm oil plantations. When researchers claim that traditional communities are a main threat to the lives of orangutans, we at COP believe that to be a hasty and one-sided statement. Unfortunately, traditional communities cannot afford to hire environmental consultants to turn these negatives into positives.
Beda ORANGUTAN, sama ceritanya. Leci, ditemukan seorang petani di kebun buahnya, lalu dibawa pulang. Katanya terpisah dari induknya.
Biasanya kami melakukan penelusuran kembali untuk memastikan informasi yang kami terima menjadi akurat atau A1 dalam bahasa penegakan kamus.
Anak ORANGUTAN terpisah dari induknya, karena induknya sudah dibunuh oleh manusia, atau benar – benar tertinggal saat melarikan diri waktu dihalau keluar dari kebun.
Kebun masyarakat setempat adalah opsi terbaik setelah hutan – hutan dibabat untuk menjadi perkebunan kelapa sawit.
Jika para peneliti menyatakan bahwa masyarakat tradisional adalah ancaman utama bagi kelangsungan hidup ORANGUTAN, maka COP menilai itu sangat tergesa – gesa dan tendensius. Sayangnya, masyarakat tradisional tidak punya uang untuk membayar konsultan lingkungan, agar kejahatan itu terpoles menjadi indah.
‪#‎forestwars‬ ‪#‎conflictpalmoil‬

Page 214 of 260« First...102030...212213214215216...220230240...Last »