VET MEDICAL VISIT TO MERASA VILLAGE

The closest village to COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Borneo is the village of Merasa. A beautiful and friendly village that is an attractive nature tourism gateway. Once a week, the medical teams from COP Borneo visit the Merasa Village for the animal health program. But also not possible, the medical team called for an urgent event.
 
The selected day is Saturday. As on June 10th, 2017. The medical team followed up on a sick dog case report. “There are two patient types of dogs that we care for today. Skin diseases and itch in dogs were overcome by giving injections and ointments.”, Explain Vet Rian.
 
Animal data collection located in the village of Merasa is also equipped with check cards for health control the week after. “Wow, if more cases come, I was overwhelmed. But not every time. Very exciting and happy to help wildlife and pets. A little dream for me… to be able to help other living creatures,” said Rian Winardi again.
 
Keep the spirit Vet Rian… (Dhea_Orangufriends)

KUNJUNGAN MEDIS SATWA KE DESA MERASA
Desa terdekat dengan Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur adalah desa Merasa. Sebuah desa yang asri dan ramah yang merupakan pintu gerbang wisata alam yang menarik. Setiap seminggu sekali, tim medis dari COP Borneo berkunjung dalam program kesehatan hewan di desa Merasa. Tapi juga tidak menutup kemungkinan, tim medis dipanggil pada kejadian yang mendesak.

Hari yang dipilih adalah hari Sabtu. Seperti di tanggal 10 Juni 2017. Tim medis menindaklanjuti laporan kasus anjing yang sakit. “Ada 2 pasien jenis anjing yang kami rawat saat ini. Penyakit kulit dan gatal pada anjing pun diatasi dengan pemberian injeksi dan salep.”, demikian penjelasan drh. Rian.

Pendataan hewan yang berada di desa Merasa ini pun dilengkapi dengan kartu periksa untuk kontrol kesehatan minggu berikutnya. “Waduh kalau lagi banyak kasus, saya sempat kewalahan. Tapi ngak setiap saat. Bener-bener seru dan senang bisa membantu satwa liar maupun hewan peliharaan. Suatu mimpi kecil saya… untuk bisa membantu mahkluk hidup lainnya.”, ujar Rian Winardi lagi.

Tetap semangat drh. Rian… (NIK)

LEECHES AND MUD

What is the condition of the field at COP Borneo orangutan rehabilitation center?

The Orangutan Rehabilitation Center is located in East Borneo is in a tropical rain forest with a very tight and thick trees canopy. Even the sun is very difficult to penetrate the forest floor. This location makes the plants always wet and moist. This condition will get worse when the rain comes. Red soil conditions will be more slippery when it rains.

When the forest school program, the journey to the location will become it’s own art. “The challenge of carrying orangutan became bigger because the roads are slippery and at some point, our feet will be in a puddle of mud that makes our way even harder,”said Wety, the orangutan baby sitter.

When we are busy balancing our footsteps in the middle of slippery mud, we also have to deal with leeches, the blood sucker. “If you come here, must get acquaintance with leeches and mud. They are like a family members which you don’t have choices to be familiar with.”, said Amir the animal keeper with a big smile.

Yes, that afternoon, Amir got a leech bite at his feet while carrying Owi, Bonti and Happy to the forest school. The leech that initially as big as a toothpick turn into as fat as an adult’s thumbs, “If we satiate our blood, this leech may be drowsy,” said Amir.

However, the leeches were never killed, otherwise it set to be released. “These leeches is the landlord, We come and borrow it for the jungle school. Naturally they such the blood that is their food.”, thought Amir.

Legs with protector and high shoes will not escape from the leeches. But do not be afraid of leeches and mud in here, ok, because this rehabilitation center is a miniature tropical rain forest of Borneo that is still very natural. This is where the long rehabilitation process begins. (Dhea_Orangufriends)

LINTAH DAN LUMPUR
Bagaimanakah kondisi lapangan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo? Pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kalimantan Timur ini berada di hutan hujan tropis dengan kanopi pohon yang sangat rapat. Bahkan matahari sangat sulit menembus lantai hutan karena terhalang kanopi yang luar biasa tebalnya. Lokasi ini membuat tanang selalu basah dan lembab. Kondisi ini akan semakin parah manakala hujan datang. Kondisi tanah merah akan semakin licin saat hujan turun.

Saat program sekolah hutan, perjalanan menuju lokasi akan menjadi seni tersendiri. “Tantangan mengendong orangutan menjadi lebih besar karena jalanan menjadi licin dan di beberapa titik, kaki kita akan terjeblos genangan lumpur yang membuat jalan kita semakin berat.”, ujar Wety, si baby sitter orangutan.

Dimana kita sibuk menyeimbangkan langkah kaki di tengah lumpur yang licin, kita pun harus berhadapan dengan si lintah, penyedot darah. “Kalau ke sini, kudu kenalan sama yang namanya lintah dan lumpur. Mereka itu seperti anggota keluarga yang mau ngak mau, harus akrab dengan kita.”, ungkap Amir, animal keeper dengan senyum lebar.

Ya, siang itu, Amir kena satu gigitan lintah di kakinya saat membawa orangutan Owi, Bonti dan Happi menuju sekolah hutan. Lintah yang awalnya sebatang liding akan berubah menjadi gendut seperti jempol, jari orang dewasa. “Kalau kenyang menghisap darah kita, lintah ini mungkin akan mengantuk kekenyangan ya.”, kata Amir.

Namun, lintah-lintah itu tidak pernah dibunuh, sebaliknya dilepas. “Lintah-lintah ini yang punya tanah. Kita yang datang dan pinjam untuk sekolah hutan. Wajarlah kalau mereka menghisap darah yang merupakan makanan mereka.”, pikir Amir lagi.

Kaki dengan pelindung kaki dan sepatu tinggi tak kan luput dari hisapan lintah. Tapi jangan takut dengan lintah dan lumpur di sini ya, karena pusat rehabilitasi ini adalah miniatur hutan hujan tropis Kalimantan yang masih sangat alami. Di sinilah proses panjang rehabilitasi orangutan dimulai. (NIK)

PRETTY, THE ORANGUTAN COVERED WITH JACKFRUIT SAP

This Orangutan found by Mr. Cuandi in the condition covered with Jackfruit Sap all over her. Pretty the Orangutan. This female orangutan has been kept pet for 8 months of residents in Sungai Plangkon, Tumbang Kaban, Katingan Hulu District, Central Borneo.

“Pretty the orangutan is kept by Mr. Sugianto for 8 months under a Jackfruit tree. I bought from him for Rp.400.000,00”, Said Mr. Cuandi.

Together with Mr. Muriansyah (BKSDA Pos Sampit), Mr. Novilianto (Manggala Agni) and APE Crusader picked Pretty the orangutan in Parenggean Police Station on June 28th, 2017.

The loss of orangutan habitat due to the change of forest function is the main cause of orangutans came across the community .” How will orangutans live in forests if their forests run out?” Says Faruq, Center og Orangutan Protection. This is our shared responsibility. (Dhea_Orangufriends)

PRETTY, ORANGUTAN PENUH GETAH NANGKA
Orangutan ini ditemukan pak Cuandi dalam kondisi rambut dipenuhi getah pohon Nangka. Pretty namanya. Orangutan betina ini sudah selama 8 bulan dalam pemeliharaan warga sungai Plangkon, kecamatan Tumbang Kaban, kabupaten Katingan Hulu, Kalimantan Tengah.
“Orangutan Pretty ini dipelihara pak Sugianto selama 8 bulan di bawah pohon nangka. Saya membeli darinya seharga Rp 400.000,00..”, ujar pak Cuandi.
Bersama pak Muriansyah (BKSDA Pos Sampit), pak Novilianto (Manggala Agni) dan APE Crusader menjemput orangutan Pretty di Polsek Parenggean pada 28 Juni 2017.
Hilangnya habitat orangutan karena alih fungsi hutan adalah penyebab utama orangutan sampai pada masyarakat. “Bagaimana orangutan akan hidup di hutan, jika hutannya habis?”, ujar Faruq, Centre for Orangutan Protection. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Page 21 of 142« First...10...1920212223...304050...Last »