3 YEARS OF COP BORNEO

This is the only orangutans rehabilitation center founded by the sons and daughters of Indonesia. Began with the concerns for orangutans have no future in human hands, this rehabilitation center built step by step. In September 2014, armed with courages and firmness, also supports from orangufriends, Centre for Orangutan Protection built its quarantine cage. A rugged camp was being a place to rest. The construction progress was running slowly because of its site conditions. The road to the construction site could only be taken by walking. It’s not all plain path, but steep yet slippery derivatives and steep climbs are its own struggle. “Without burden of bulding materials, irons, cements, woods, stones… it’s quite hard to walk through this road, moreover to carry all the building materials!”, Ramadhani recalled.

The first cage finished, followed by the second cage which is a socialization cage for small orangutans. The construction cost was higher because the price of building materials in Berau region’s different from other cities. Luckily, the development continued to run until the construction of kitchen and permanen camp. “The eyes of orangutans staring at us was our own strength.”.

April 1st, 2015, Orangutans transfer began. Twelve orangutans from Unmul Botanical Garden, Samarinda, entered orangutan rehabilitation center COP Borneo. Hadn’t finished organized yet, there was another 3 orangutans entered the rehab center which was consfiscated from the community and deposited to COP Borneo by BKSDA Kaltim. At the end of 2015, eight orangutans from KRUS migrated to orangutan pre-release island. It was continued the following year with the entry of orangutan babies to the class of forest school. By the end of 2016, COP Borneo released orangutan Lana, a wild orangutan just arrested by the people.

The COP Borneo orangutan rehabilitation center continues to grow. The construction of feed warehouse was an attempt at frequent forest animals taking orangutan foods in the storage areas. Orangutan clinic became indispensable. The nearest cage to the clinic was built for orangutan babies. 2017 was a stressful year. Preparation to the release of orangutan which was living in a zoo would be the first in Indonesia. Some candidates and stages before release entered the quarantine period. Unfortunately, the results of medical checkup forced Nigel to remained in the quarantine cage and underwent treatment because of herpes. While Oki, successfully released in mid-September 2017. “It’s such an achievement for COP Borneo, this is the first orangutan from the zoo that was successfuly released. Escape from iron bars into the real freedom.” said Reza Kurniawan, COP Borneo’s Manager.

2018 becomes a year full of surprises. Right on COP’s 11th birthday, Ambon and Debbie orangutans who have lived behind iron bars for decades, live in the sanctuary island. “Ambon was very surprising, in just 3 hours he decided to climb a tree. While Debbie, decided to make a nest under.” said Reza Kurniawan who is also COP’s primate anthropologist.

This year, COP Borneo is 3 years old. Still to young but dreaming of continuing to return orangutans back to their habitat. Orangutan Untung who has finger defects, Novi who was rescued from under the house, chained by her neck and befiriended the dog, Unyil who was rescued from the toilet, small yet lively Leci, and Nigel the stressful orangutan who eats his own feces, will be back to their habitat soon. Currently, they’re undergoing quarantine and final medical evaluation. The release of five orangutans requires a lot of money. Let’s help these five orangutans to return to their habitat, so they can perform their function to preserve the forest. Indonesian people, surely you can!

Thank you With Compassion & Soul​ Orangutan Outreach​ The Orangutan Project ORANGUTAN APPEAL UK​ and Orangufriends in the world for supporting COP Borneo. (SAR)

CATATAN 3 TAHUN COP BORNEO
Ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Berawal dari keprihatinan pada orangutan tanpa masa depan di tangan manusia, pusat rehabilitasi ini dibangun setahap demi setahap. September 2014, bermodal keberanian dan keteguhan Centre for Orangutan Protection dengan dukungan para orangufriends nya, membangun kandang karantina. Camp ala kadarnya menjadi tempat istirahat. Kondisi lapangan membuat pembangunan berjalan lambat. Jalanan menuju lokasi pembangunan hanya bisa dilalui dengan berjalan. Tidak hanya secara mendatar, tapi turunan yang terjal nan licin dan tanjakan curam merupakan perjuangan tersendiri. “Tanpa beban berupa bahan bangunan, besi, semen, kayu, batu… sudah cukup sulit melalui jalan ini, apalagi dengan bahan bangunan itu!”, kenang Ramadhani.

Kandang pertama selesai, dilanjutkan kandang kedua yang merupakan kandang sosialisasi untuk orangutan-orangutan kecil. Biaya pembangunan pun menjadi lebih besar karena harga bahan bagunan di kota Berau berbeda dengan kota lain. Beruntung sekali pembangunan terus berjalan hingga pembuatan dapur serta camp permanen. “Mata-mata orangutan yang menatap kami adalah kekuatan tersendiri.”.

1 April 2015, Pemindahan orangutan pun dimulai. Kedua belas orangutan dari Kebun Raya Unmul Samarinda masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Belum selesai tertata, sudah masuk lagi 3 orangutan hasil sitaan dari masyarakat yang dititipkan BKSDA Kaltim ke COP Borneo. Akhir 2015, kedelapan orangutan dari KRUS berpindah ke pulau pra-rilis orangutan. Dilanjutkan tahun berikutnya dengan masuknya bayi-bayi orangutan ke kelas sekolah hutan. Diakhir tahun 2016, COP Borneo melepasliarkan kembali orangutan Lana, orangutan liar yang baru saja ditangkap warga.

Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo terus berkembang. Pembangunan gudang pakan menjadi usaha atas seringnya satwa hutan mengambil makanan orangutan di tempat penyimpanan. Klinik orangutan menjadi sangat diperlukan. Kandang terdekat dengan klinik pun dibangun untuk bayi orangutan. Tahun 2017 menjadi tahun yang menegangkan. Persiapan untuk melepasliarkan kembali orangutan bekas kebun binatang akan menjadi yang pertama di Indonesia. Beberapa kandidat dan tahapan sebelum dirilis memasuki masa karantina. Sayang, hasil cek medis memaksa Nigel untuk tetap di kandang karantina dan menjalani pengobatan karena herpes. Sementara Oki, berhasil dilepasliarkan pada pertengahan September 2017. “Sungguh prestasi tersendiri untuk COP Borneo, ini adalah orangutan pertama dari kebun binatang yang berhasil dilepasliarkan kembali. Lepas dari kandang jeruji besi menuju kebebasan yang sesungguhnya.”, ujar Reza Kurniawan, Manajer COP Borneo.

2018 menjadi tahun penuh kejutan. Tepat di hari ulang tahun COP yang ke-11, orangutan Ambon dan Debbie yang sudah puluhan tahun hidup dibalik jeruji besi hidup dalam pulau sanctuary. “Ambon sangat mengejutkan, hanya dalam 3 jam, dia memutuskan untuk memanjat pohon. Sementara Debbie, memutuskan membuat sarang di bawah.”, ujar Reza Kurniawan yang juga merupakan antropolog primata COP.

Tahun ini, COP Borneo berusia 3 tahun. Masih terlalu muda namun bermimpi untuk terus mengembalikan orangutan kembali ke habitatnya. Orangutan Untung yang cacat jarinya, Novi yang diselamatkan dari bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu menghiasi lehernya dan berteman anjing, Unyil yang diselamatkan dari toilet, Leci si kecil nan lincah, dan Nigel si orangutan stres yang memakan kotorannya sendiri akan segera kembali ke habitatnya. Saat ini mereka sedang menjalani karantina dan evaluasi medis akhir. Pelepasliaran lima orangutan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Yuk bantu kelima orangutan ini untuk kembali ke habitatnya, agar bisa segera menjalankan fungsinya di hutan, menjaga kelestarian hutan. Bantu COP Borneo lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Orang Indonesia, pasti bisa!

Terimakasih With Compassion & Soul​ Orangutan Outreach​ The Orangutan Project ORANGUTAN APPEAL UK​ dan seluruh #orangufriends yang berada di seluruh dunia atas kepercayaan dan dukungannya pada COP Borneo.

DEBBIE DO NOT APPEARS FOR TWO DAYS

The Kelay river where we have orangutan island is the habitat of crocodile. We spot them several time around the island whenever they are sunbathing. They are out neighbour with all risks. Here we would like to confirm that Debbie, one of the resident in our island, do not appears for 2 days. We tried our best to find her. Apparently, she has been eaten by crocodiles as she share the same favorite spot with the crocodiles.

PEDAGANG ELANG DITANGKAP DI BANDUNG

Bandung – Tim gabungan Tipidter Polda Jawa Barat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) mengamankan RA  warga Cijerah Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat terkait jual beli satwa liar dilindungi pada tanggal 28 Maret 2018. Tersangka ditangkap di rumahnya dengan barang bukti 5 ekor elang yang hendak diperjualbelikan secara online. 

“Tersangka RA sudah terpantau sejak 1,5 tahun melakukan jual beli satwa liar dilindungi di sosial media Facebook. RA merupakan spesialis penjual burung elang dan alap-alap. Saat ditangkap, tim gabungan menemukan barang bukti 5 ekor elang di rumahnya tanpa ada perlawanan.”, Hery Susanto Manager Anti Wildlife Crime COP

Dalam upaya operasi ini tidak mudah karena RA selalu menyembunyikan identitas asli dan tidak pernah mau melakukan pertemuan secara langsung dengan para calon pembeli. Pedagang ini cukup aktif melakukan posting dagangan di sosial media untuk jenis satwa kategori dilindungi. Tersangka mendapat pasokan barang dari pulau Jawa dan Sumatera terutama untuk jenis elang yang memiliki habitat di laut. Ini adalah elang ke 51 yang kami evakuasi dari perdagangan ilegal satwa liar selama 5 tahun terakhir. Banyaknya pemelihara dan penghobi elang menyebabkan penangkapan terus terjadi dan perdagangan tetap ada. Elang dan alap-alap adalah burung pemangsa tertinggi dalam rantai makanan dan semua keberadaannya dilindungi di Indonesia. 

“Selama kurun waktu 5 tahun terakhir COP membantu Polri dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), setidaknya sudah mengamankan 51 elang dari perdagangan ilegal satwa liar.  Dari pengakuan para tersangka, mereka memperjualbelikan satwa tersebut karena masih adanya permintaan dan banyaknya kelompok penghobi elang yang menyebabkan perburuan dan perdagangan terus ada dan terjadi.”, Hery Susanto Manager Anti Wildlife Crime COP.

Kami mengapresiasi Tipidter Polda Jawa Barat dan BKSDA Bandung yang secara tegas melakukan upaya penegakan hukum kasus ini. Dan kita menunggu babak baru terkait vonis hukuman pengadilan bagi tersangka bisa lebih maksimal. Barang bukti elang saat ini masih diamankan di BKSDA Jawa Barat dan akan segera dikirim menuju ke Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) guna perawatan dan rehabilitasi bagi elang tersebut.

Untuk wawancara dan komunikasi lebih lanjut silahkan menghubungi

Hery Susanto
COP Anti Wildlife Crime Coordinator
Mobile Phone:  081284834363
Email: info@orangutanprotection.com

Page 21 of 217« First...10...1920212223...304050...Last »