UNYIL SURVIVES AFTER THE RELEASE IN THE HABITAT

Unyil, an orangutan with his background evacuated from the bathroom of a resident in Muara Wahau, East Kalimantan has been released back to his new habitat on April 11, 2019. In his remarks the Head of Collaborative Information Data, Ir. Eded Suryadi, MM said that the Dipterokarpa Forest Ecosystem Research and Development Center (B2P2EHD) is very concerned about the existence of orangutans and their ecosystems. All parties are expected to be able to provide support to the COP in order to continue to handle Orangutan Protection.

KHDTK (Special Purpose Forest Area) for the Labanan Research Forest is located in Berau district, East Kalimantan which is managed by B2P2EHD since 2014 in collaboration with the Orangutan Rescue and Rehabilitation Development. “Orangutan protection from extinction is our shared responsibility. Luckily we got a location where the best rainforests of Kalimantan are located. Forest schools are a favourite place for small orangutans to practice growing their instincts, “said Daniek Hendarto, action manager for the Center for Orangutan Protection.

For three months after the release of Unyil, the APE Guardian team (orangutan release monitoring team) recorded to have met the orangutan four times. Unyil looks capable of surviving in its new habitat. “He seems to lose his weight, but that is a natural thing. These three months will certainly be a difficult time and a very liberating period. Unyil also looks like he doesn’t like to meet the team. Good job Unyil! “, Said Reza Kurniawan, COP Borneo manager, Berau, East Kalimantan.(EBO)

UNYIL BERTAHAN SETELAH PELEPASLIARAN DI HABITAT BARUNYA

Unyil, orangutan dengan latar belakang dievakuasi dari kamar mandi seorang warga di Muara Wahau, Kalimantan Timur telah dilepasliarkan kembali ke habitatnya yang baru pada 11 April 2019. Dalam sambutan Kepala Bidang Data Informasi Kerjasama Ir. Eded Suryadi, MM mengatakan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) sangat peduli pada keberadaan orangutan dan ekosistemnya. Semua kalangan diharapkan dapat memberikan dukungan  pada COP agar dapat terus menangani Perlindungan Orangutan.

KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) untuk Hutan Penelitian Labanan berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang dikelola oleh B2P2EHD ini sudah sejak tahun 2014 bekerjasama untuk Pembangunan Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan. “Perlindungan Orangutan dari kepunahan adalah tanggung jawab kita bersama. Beruntung sekali kami dapat lokasi dimana hutan hujan terbaik Kalimantan berada. Sekolah Hutan menjadi tempat favorit orangutan kecil untuk berlatih menumbuhkan instingnya.”, ujar Daniek Hendarto, manajer aksi Centre for Orangutan Protection. 

Selama tiga bulan setelah pelepasliaran Unyil, tim APE Guardian (tim monitoring pelepasliaran orangutan) tercatat berjumpa sebanyak empat kali. Unyil terlihat mampu bertahan di habitatnya yang baru. “Dia terlihat kehilangan bobotnya, tapi itu adalah hal yang wajar. Tiga bulan ini tentu menjadi masa sulit sekaliguskan masa yang sangat membebaskan. Unyil juga terlihat tidak suka bertemu dengan tim. Good job Unyil!”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur.

SEPTI AND ALOUISE ARE HAVING EACH OTHER

Since being moved into a cage in April, orangutans named Septi and Alouise have a daily life together. In fact, you can say that Alouise is always in Septi’s arms. Both of them have never been seen apart or in different places. Alouise is always with Septi.

In the middle of May, the APE Defender team caught them apart. “Yes this is the first time we see Septi and Alouise apart. Septi is at the top and Alouise is close to feeding box below. “, Said Reza Kurniawan, COP primate expert.

“Unexpectedly, when we held Alouise’s hand, Alouise cried.”, Reza said again. Alouise is a 2-year-old orangutan who is not accustomed to humans presence even though he was once nurtured by humans. “In just seconds, Septi immediately let out an angry voice and quickly dropped closer to Alouise, hugging him and hiding Alouise away from us.”

The relationship between the two seems to have established. In fact, at the beginning, Septi was very ignorant, even unconcerned and uncomfortable with Alouise who always hugged her tightly. Can you imagine what happened to Alouise’s mother forcing the baby to arrive at COP Borneo Orangutan Rehabilitation Center? (EJA)

SEPTI DAN ALOUISE SALING MEMILIKI

Sejak dipindahkan menjadi satu kandang pada bulan April, orangutan bernama Septi dan Alouise menjalani keseharian bersama-sama. Bahkan bisa dibilang orangutan Alouise selalu berada dalam dekapan orangutan Septi. Keduanya tak pernah terlihat terpisah atau berada di tempat yang berbeda. Alouise selalu berada dalam gendongan Septi. 

Pertengahan Mei yang lalu, tim APE Defender memergoki keduanya berjauhan. “Ya ini adalah untuk pertama kalinya kami melihat Septi dan Alouise berjarak. Septi berada di atas dan Alouise berada di bawah dekat dengan box feeding.”, ujar Reza Kurniawan, ahli primata COP.

“Tak disangka, saat kami memegang tangan Alouise, Alouise menangis.”, kata Reza lagi. Alouise adalah orangutan berusia 2 tahun yang sangat tidak biasa dengan kehadiran manusia walaupun dia pernah dipelihara manusia. “Hanya dalam hitungan detik, Septi langsung mengeluarkan suara sedang marah dan dengan cepat turun mendekati Alouise, memeluknya dan menyembunyikan Alouise menjauh dari kami.”. 

Hubungan keduanya sepertinya sudah terbangun. Padahal, di awal, Septi sangat cuek/tidak peduli dan risih dengan Alouise yang selalu memeluknya dengan erat. Apakah kamu bisa membayangkan apa yang terjadi pada induknya Alouise sebelum dia sampai di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo? (EJA)

SPOILED MICHELLE BECOMES INDEPENDENT

When the cage door was lifted, Michelle crawled, stepped out and climbed onto the tower on the pre-release island of the COP Borneo. Fruits are available in the tower. Michelle stayed silent while watching the team lift the transport cage that had just taken her. When the team got on the boat and began to move away, Michelle remained in her tower.

From across the island, the team observed Icel’s movements. Icel, Michelle’s nickname, looks comfortable in the tower. Occasionally she is seen holding a rope that connects the tower to the surrounding trees. But Icel did not leave the tower.

“How long will Icel stay there? During in the forest school classes, Icel was noted to have most often approached animal care. She rarely roams, and if she spends time in a tree, it is because the animal keepers threaten her with rattan thorns. Taking her to forest school often only becomes a nuisance for other small orangutans. Its bigger body also makes it difficult for animal nurses. That is why, when the orangutan island is empty, Icel has the opportunity to live independently on this island. And … “, said Reza Kurniawan, COP Borneo manager, interrupted when seeing Icel, who was in the middle of a rope that was exploring the tree opposite the tower. “See … Icel started her new life!” Exclaimed Reza. (EBO)

SI MANJA MICHELLE MENJADI MANDIRI

Saat pintu kandang diangkat, Michelle merangkak, melangkah dan naik ke atas menara di pulau pra-pelepasliaran orangutan COP Borneo. Di menara telah tersedia buah-buahan. Michelle berdiam sembari mengamati tim mengangkat kandang angkut yang baru saja membawanya. Saat tim naik ke perahu dan mulai menjauh, Michelle tetap berdiam di menaranya.

Dari seberang pulau, tim mengamati gerak-gerik Icel. Icel yang merupakan panggilan Michelle terlihat nyaman berada di menara. Sesekali terlihat memegang tali yang menghubungkan menara dengan pohon di sekitarnya. Tapi Icel tak beranjak dari menara juga.

“Sampai kapan ya Icel bertahan di situ? Saat di kelas sekolah hutan, Icel tercatat paling sering mendekati perawat satwa. Dia jarang menjelajah, kalaupun dia menghabiskan waktu di atas pohon, itu karena para perawat satwa mengancamnya dengan duri rotan. Membawanya ke sekolah hutan sering hanya menjadi penganggu buat orangutan kecil lainnya. Badannya yang semakin besar juga menyulitkan perawat satwa. Itulah sebabnya, saat pulau orangutan kosong, Icel memiliki kesempatan untuk hidup mandiri di pulau ini. Dan…”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo terpotong Icel yang berada di tengah tali yang sedang menjelajah ke pohon yang ada di seberang menara. “Lihat… Icel memulai kehidupan barunya!”, seru Reza. (WET)

Page 21 of 300« First...10...1920212223...304050...Last »