POPI BERSAMA RELAWAN ORANGUTAN

Pagi ini, hanya dua orangutan yang beruntung yang akan ke sekolah hutan. Cuti bersama untuk hari Natal sudah di mulai. Selama para perawat satwa merayakan Natal, beberapa relawan akan membantu di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Tentu saja, ini menjadi pengalaman luar biasa dan langka. 

Lalu, siapakah kedua orangutan yang beruntung itu? Popi… ternyata. Menurut para relawan, Popi adalah orangutan yang sangat terkenal. Wajah imutnya membuat banyak orang jatuh hati. Apalagi kalau mengetahui latar belakang Popi. Iya, Popi yang tali pusarnya baru saja lepas. Usianya saat itu baru 1 bulan. Mimpi terburuk bagi para bayi,. Itu juga yang memaksa COP Borneo memiliki seorang baby sitter. Karena Popi benar-benar membutuhkan perawatan intensif, pengganti ibunya yang mungkin telah mati.

Tiga tahun sudah berlalu, Popi di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tiga tahun yang cukup lambat. Popi masih harus terus dirangsang untuk lebih banyak menghabiskan waktunya di pohon. Hingga saat ini, Popi masih sering terjatuh dari pohon. Sering memilih pohon  maupun dahan yang tidak cukup kuat, karena tubuhnya yang juga sudah bertambah berat. 

Semoga tidak ada lagi Popi-Popi yang lain yang terpaksa berada di tangan manusia. Bagaimana pun, bayi orangutan akan lebih baik bersama induknya di alam. 

COLA, SI ORANGUTAN YANG BERJALAN TEGAK

Komitmen kedua negara antara Indonesia dan Thailand untuk memerangi perdagangan satwa liar ilegal diwujudkan dengan telah selesainya kasus hukum di negeri Thailand dan satwa yang diseludupkan kembali ke tanah air. Cola, orangutan repatriasi ini, telah tiba di Berau, Kalimantan Timur.

Perilaku menyimpang dengan berjalan tegak dengan kedua kakinya dan sering membanting-bantingkan tubuhnya ke lantai merupakan catatan tersendiri untuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kelahirannya di Thailand dan terpaksa berpisah dengan induknya saat Cola berusia tiga bulan, mengisyaratkan betapa dekatnya dia dengan manusia dan kemungkinan besar tak mengenal prilaku alami orangutan. 

Perpindahan Cola dari kandang transportasi yang dihuninya selama lebih 2×24 jam terlihat sempat membuatnya nyaman. Cola enggan untuk keluar dari kandang transport tersebut. Lima belas menit pertama, dia semakin masuk ke dalam kandang transportnya, perlahan dia melangkahkan kakinya ke kandang karantina COP Borneo. Kembali berdiri tegak sembari melipat tangannya di dada. Cola berjalan dengan tegak, namun di langkah ke empat, desain kandang memaksanya untuk menggunakan keempat alat geraknya. Kedua tangannya memegang lantai besi. “Tentu saja sulit bagi orangutan untuk berjalan seperti manusia dengan desain kandang seperti ini. Kandang Cola saat di Khao Son Wildlife Breeding Center, Thailand berlantai semen, dan itu memang memudahkan dia untuk berdiri tegak.”, ujar drh. Flora Felisitas, dokter hewan COP Borneo yang ikut menjemput Cola di Thailand.

Proses pemulangan orangutan Cola bukanlah hal yang mudah. Komunikasi antara kedua negara dan komunikasi internal di dalam negara masing-masing juga menjadikan repatriasi orangutan berhasil. Terimakasih semua pihak yang telah terlibat, semoga Cola bertahan dan berhasil kembali ke habitatnya.

BERANI PENASARAN DENGAN ORANG BARU

Saat pertama kali bertemu dengan orangutan, hati-hati dengan tatapan matanya. Seperti halnya saat kita pertama kali berkenalan dengan seseorang. Tatapan mata biasanya sulit untuk berbohong. Tidak terkecuali orangutan yang bernama Berani. Berani, menunjukkan keingintahuannya. Rasa penasaran akan sesuatu yang baru, terutama orang yang akan mengurusnya. 

Pagi ini, delapan orangutan akan ke sekolah hutan, termasuk Berani. Berani adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari kandang kayu rumah warga Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tanpa bius, Berani yang berusia 6 tahun dimasukkan kandang evakuasi. “Berani terlalu jinak untuk orangutan.”, ujar Hardi saat evakuasi. 

Berada di sekolah hutan hampir setahun terakhir ini belum juga membuatnya liar. Berani masih sering terlihat di lantai hutan. Sibuk dengan dirinya sendiri bahkan mengajak bermain perawat satwa. Memegang tangan perawat satwa, memperhatikannya dan kemudian mencoba memanjat pohon. Pilihan pohonnya biasanya pohon mati. kemudian turun lagi, tak lebih di ketinggian lima meter, Berani akan turun dengan sendirinya. Jhonny, kordinator perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, dimana Berani saat ini berada mengatakan, “Berani seperti Pingpong. Pingpong dulu juga lebih sering bermain di lantai hutan. Merehabilitasi Berani pasti sulit sekali.”.

Setiap individu orangutan adalah pribadi yang unik. Selama proses di COP Borneo, setiap orangutan memiliki catatan tersendiri. Khusus orangutan Berani, proses ini akan lebih panjang dan penuh tantangan. Terimakasih atas dukungan pecinta orangutan. Semoga Berani memberikan harapan lebih baik lagi di bulan selanjutnya. 

 

Page 21 of 318« First...10...1920212223...304050...Last »