RSPO: YOUR PETITION IS NOT EFFECTIVE

The RSPO have informed us that they are not prepared to give this case any special attention. They have advised this will follow their standard procedures. COP are very disappointed by this response. The RSPO are renowed for slow or no action against their members. It clear that more pressure needs to be placed on the RSPO. Please sign and share widely https://www.change.org/p/this-oil-palm-plantation-company-alleged-to-killed-an-orangutan-perusahaan-sawit-ini-diduga-telah-membunuh-orangutan

PETISI KALIAN TIDAK EFEKTIF UNTUK RSPO

Kami baru saja mendapatkan konfirmasi bahwa petisi yang kita tanda tangani tidaklah efektif. Tidak akan mempengaruhi prosedur RSPO dalam penanganan kasus. Mohon terus bagikan petisi ini untuk menjadikan RSPO bukan lagi sebagai tameng hijau perusahaan-perusahaan jahat.

https://www.change.org/p/this-oil-palm-plantation-company-alleged-to-killed-an-orangutan-perusahaan-sawit-ini-diduga-telah-membunuh-orangutan

COLLABORATION IS THE BEST WAY IN THE CONSERVATION

After beginning the lengthy process a year ago, just 9 Green Peafowl’s are ready for release in Baluran National Park on February 19, 2017. This all is due to the cooperation of all parties involved. Collaboration is the best in the world of conservation.

Originally, there was 13 Green Peafowls saved from the illegal wildlife trade in Bantul, Yogyakarta from a joint operation with the police headquarters, COP, Orangufriends and JAAN on February 8, 2016. The perpetrator was imprisoned for 9 months and will not commit this crime again. The other animals successfully saved were submitted to WRC jogja for rehabilitation. A year later BKSDA Yogyakarta, WRC jogja, Kelawar UB, Orangufriends and COP prepared to release them into Baluran National Park, East Java.

“Don’t buy wildlife!”, said Daniek Hendarto. Release is not a small process but is a time consuming, costly and energy onsuming process.

Setelah melalui proses panjang selama satu tahun ini, hanya 9 merak hijau yang bertahan hidup hingga dilepasliarkan di TN Baluran pada 19 Februari 2017. Ini semua tak lepas dari kerjasama semua pihak. Kolaborasi adalah yang terbaik dalam dunia konservasi.

Semula ada 13 merak hijau yang diselamatkan dari perdagangan satwa di Bantul, Yogyakarta yang merupakan operasi bersama MABES POLRI, COP, Orangufriends dan JAAN pada 8 Februari 2016. Pelaku M. Zulfan menjalani hukuman penjara selama 9 bulan dan tidak akan melalukan kejahatan ini lagi.

Satwa yang berhasil diselamatkan masuk ke WRC Jogja untuk dirawat. Setahun kemudian, BKSDA Yogyakarta, WRC Jogja, Kelawar UB, Orangufriends dan COP melepasliarkannya di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

”Jangan beli satwa liar!”, tegas Daniek Hendarto. Pelepasliaran adalah proses panjang yang memakan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit.
#combatingwildlifetrafficking

MENGANTAR BUDAK MELAYU KE TANAH YOGYA

A true conservationist is a man who knows that the world is not given by this fathers but borrowed from his children – John James Audubon.
“Woi, Sarah ndak bisa dikau cepat?”
“Iya kejap we, aku masih dikampus nunggu Endang nak kasih tas dio. Tunggu ajo disana aku bentar lagi kesana”
“Iya cepatlah, telat nanti ke bandara tu belum lagi macetnya. Kau ni udah tau nak pergi jam segini, ngapa ndak kau bereskan sejak pagi tadi”
Tut… tut… tut… Telpon yang di loadspeaker itu terputus dengan menggenaskan.

Satu jam lima puluh lima menit setelah meninggalkan Bandara Sultan Syarif Qasim II pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Kami meneruskan perjalanan menggunakan Damri menuju Stasiun Gambir dengan modal keberanian seadanya. Ya, kala itu kami sengaja mempersulit diri sendiri hanya karna ingin menikmati sensasi menggunakan kereta keluar kota. Karena di Riau kami tidak pernah menemukan kereta. Orang Riau biasanya keluar kota menggunakan agen travel resmi atau melalui jalur udara.

“Budak Melayu squad” sebutan yang sepertinya cocok untuk kami. Kami anak-anak Riau yang sengaja datang ke COP Camp di Yogya untuk mengikuti sekolah konservasi. Berbekal rasa tidak terima akan ketidakadilan yang bertubi-tubi terjadi terhadap satwa liar di Riau. Kami berniat untuk membekali diri agar nantinya mampu berkontribusi dalam usaha penyelamatan satwa liar baik dari segi pendidikan maupun transfer ideologi ke masyarakat sekitar khususnya di Riau.

Masuk dalam dunia konservasi sebagai volunteer sudah tidak asing lagi bagi kami. Didukung dengan background pendidikan kami yang berasal dari jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau dengan konsentrasi ekologi konservasi, bekal yang kami punya tidak hanya semangat sebagai volunteer saja tapi pemahaman akan dunia konservasi itu sendiri. Ketertarikan kami yang besar terhadap dunia konservasi dan rasa tidak puas akan sedikit ilmu yang kami miliki, mengantarkan kami “Budak Melayu (anak Melayu-red)” ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tidak hanya paparan materi lengkap yang berhasil dikemas oleh tim COP School, tapi konsep keberlanjutan dengan adanya program kerja yang dibawa ke daerah masing-masing membuatnya semakin kompleks. Menjadi bagian dari COP School Batch 6 merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami. Pembelajaran tentang satwa liar khususnya Orangutan serta hal-hal lain terkait satwa liar seperti ekosistem lahan basah, teknik investigasi, teknik rehabilitasi orangutan, dan pertemuan langsung dengan Mbak Yanti, dokter hewan yang viral di media sosial dengan usahanya menyelamatkan Harimau Sumatera menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami.

Berbekal ilmu, pengalaman, semangat dan teman-teman baru saat kembali ke Pekanbaru seperti membawa bongkahan emas yang nilainya tak akan habis direnggut masa. Keterlibatan kami “Budak Melayu Squad” dalam kampanye serentak se-Indonesia terkait penggunaan senapan angin sebagai teror untuk satwa liar berhasil diliput oleh 19 media di Riau. Tidak sampai disitu, kami juga melakukan edukasi ke sekolah, plesiran dengan tujuan khusus ke pasar burung dan kebun binatang. Keterbatasan dan jarak yang begitu jauh dari pusat untuk berkoordinasi langsung tidak menjadi alasan kami, empat perempuan tangguh (Ana Neferia Zuhri, Iska Lestari, Nabella, dan Ravita Safitri) untuk menyerah dan melibatkan diri dalam usaha konservasi satwa liar khususnya di Riau. (Ana Neferia Zuhri_#copschool6).

Page 21 of 116« First...10...1920212223...304050...Last »