MELINDUNGI SATWA LIAR ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Hari libur bukan halangan untuk berkarya. APE Crusader yang saat ini berada di Kalimantan Tengah berkunjung ke SDN 3 Kuala Pembuang II. Siswa yang berada di sekitaran sekolah pun diberitahu untuk masuk pada hari Senin, 24 April 2017. Luar biasa, para siswa mengikuti kegiatan dengan antusias.

Sekitar 20 siswa dari berbagai kelas memperhatikan materi satwa liar yang disampaikan, diselingi video dan permainan edukasi yang mempermudah anak-anak memahami materi. Teriakan dan tawa menambah keceriaan kunjungan kali ini. Semua siswa menjadi aktif berekspresi.

Tak hanya siswa, para guru pun tak luput dari kegiatan ini. Ya, perlindungan satwa liar adalah tanggung jawab kita bersama.

Pada perayaan 17 Agustus 2014 dan 2015 yang lalu, SDN 3 Kuala Pembuang II melakukan kampanye keliling kota dengan menggunakan kostum orangutan. “Suatu kebanggaan untuk menjaga dan melestarikan alam Kalimantan.” ujar salah satu guru pembimbing. (PETz)

SUNGAI BUKAN TEMPAT SAMPAH

Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April mengambil tema “Sungai Bukan Tempat Sampah”. Aksi nyata bersama Centre for Orangutan Protection, Rimba Raya Conservation, Mapala Garating Universitas Darwan Ali dan siswa-siswi SMAN 1 Kuala Pembuang, Dinas Koperasi Perdagangan dan Perikanan kabupaten Seruyan, Pengelola Pasar dan STNTP wilayah II Kuala Pembuang tahun 2017 ini bertempat di pasar SAIK (sayur dan ikan) Kuala Pembuang kabupaten Seruyan.

Semua pihak diajak terlibat aktif untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih, indah dan nyaman. Penyadartahuan kali ini, untuk semua orang yang terlibat transaksi pasar (pedagang, pembeli atau pengunjung) untuk tidak membuang sampah ke sungai. Tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga langsung bersama-sama membersihkan sampah yang ada.

Sampah yang dibersihkan langsung dipilah menjadi sampah organik dan non organik. Untuk mengetahui jumlah sampah dalam aksi kali ini, penimbangan pun dilakukan. Total timbangannya mencapai 409 kg, dengan didominasi sampah non organik. Sampah plastik dari es batu dan kantong plastik belanja mencapai 75% dari sampah-sampah non organik yang terkumpul pada hari Bumi ini.

Kebiasaan membuang sampah langsung ke sungai memang sering dilakukan. Menurut pedagang ini lebih praktis. Posisi tempat sampah yang berada di sudut area pasar memaksa mereka untuk meninggalkan lapak dagangannya sehingga, kadang membuat mereka kehilangan pembeli. Pedagang berharap setiap lapak diberi tempat sampah agar tidak membuang sampah langsung ke sungai. Mereka dapat mengumpulkan sampah mereka dan membuangnya saat selesai berjualan. (PETz)

DIBALIK KARTINI ORANGUTAN COP, DOKTER HEWAN PEREMPUAN YANG MEMBANGGAKAN

Ada dua dokter hewan perempuan alumni COP School. Mereka adalah drh. Ade (COP School Batch 3) dan drh. Eliz (COP School Batch 6). Ketika masih berstatus mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan UGM mereka berdua sangat aktif membantu kegiatan COP baik edukasi sampai yang berkontak langsung dengan satwa.

“Yang saya ingat sekali di akhir tahun 2013, Ade ikut dalam salah satu program pendampingan kebun binatang di Solo, Jawa Tengah. Saat itu tim medis dari TSTJ Solo dan COP memerlukan data kesehatan Harimau yang ada. Maka diperlukan pembiusan terhadap harimau tersebut dan dilanjutkan pemeriksaan medis serta pengambilan data. Tentunya ini adalah peluang belajar yang sangat susah didapat, apalagi saat itu yang menjadi leader medisnya adalah drh. Erni Suyanti yang terkenal dengan pengalamannya menangani kasus Harimau Sumatera. drh. Erni Suyanti sendiri sudah sejak 2012 menjadi relawan COP, badannya yang kecil tak berarti mengurung semangat dan tekad nya pada perlindungan satwa liar Indonesia.”, kenang Ramadhani, Manajer Komunikasi Centre for Orangutan Protection.

Selain ketiga dokter hewan perempuan itu, COP juga sering dibantu drh. Tiara Debby. drh. Debby begitu biasanya dia disapa. Pada saat gunung Kelud meletus, dia langsung menggabungkan diri pada tim tanggap bencana alam APE Warrior. Memeriksa kondisi hewan ternak maupun peliharaan menjadi tanggung jawabnya. Sekali lagi, menjadi perempuan bukanlah halangan untuk berkarya, apalagi saat bencana terjadi.

COP juga pernah dibantu drh. Yenny diawal berdirinya. Memeriksa orangutan di Kebun Binatang Sintang dan berusaha mengurangi penderitaan orangutan-orangutan tersebut. Tak banyak dokter hewan perempuan yang fokus pada satwa liar, tapi COP bangga perempuan-perempuan hebat itu pernah menjadi bagian dari keluarga besar COP.

Satu lagi dokter hewan perempuan yang melakukan pengecekkan satwa di kebun binatang di seluruh Jawa. Dia adalah drh. Luki Kusuma Wardhani. Di tahun 2009, kebun binatang di Jawa harus mendengarkan kritik pedas nya, karena perlakukan kebun binatang pada satwanya.

Mereka adalah dokter-dokter hewan tangguh yang ahli dibidangnya. Kondisi fisik bukanlah sesuatu yang menghalangi mereka. Mereka adalah Kartini COP.

Page 20 of 125« First...10...1819202122...304050...Last »