BONTI AND ANNIE ARE THE MOST DIFFICULT TO HANDLE IN ORANGUTAN POSYANDU

There are 6 small orangutans in the school forest. They are Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie and Jojo. Their behaviour development are always being monitored through daily journal, including their physical development. Every month in the 2nd week, COP Borneo orangutan rehabilitation centre holds an “Orangutan Posyandu”. The small orangutans will be weighed and measured in height. Dental and overall health examination will also be carried out.

“It’s different from human children, who has mother and caretaker to answer precisely about their name, date of birth or their medical history. While orangutans, age determination can be made by examining and calculating their number of teeth,”, said drh. Felisitas Flora.

Among the 6 orangutans who attend the forest school, Bonti and Annie are the 4-5 years old orangutans. “The mischievous age”, Wety Rupiana, coordinator of the COP Borneo rehabilitation centre, interrupted. If other small orangutans are easily to be measured and examined, these two are not. Both of them are the most difficult to be taken to the Orangutan Posyandu. Neither did they want to extent their arms and legs to be measured. They also didn’t want to open their mouths at all. and they were always trying to escape.

There’s no other way to deal with the two orangutans, Bonti and Annie, to be examined. The most effective ways to make them open their mouth, that is tickling their armpits and neck, was no longer working for them. “Maybe they’re embarrassed because they are old…”, said Flora with laugh. (SAR)

BONTI DAN ANNIE PALING SULIT DI POSYANDU ORANGUTAN
Ada enam orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan. Mereka adalah Owi, Bonti, Happi, Popi, Annie dan Jojo. Perkembangan perilaku mereka selalu terpantau melalui catatan harian termasuk juga perkembangan fisiknya. Setiap bulan di minggu kedua, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menggelar “Posyandu Orangutan”. Para orangutan kecil akan ditimbang dan diukur tinggi badannya. Tak luput juga pemeriksaan gigi serta kesehatan secara menyeluruh.

“Tidak sama seperti anak manusia, ada ibunya atau pengasuhnya yang bisa menjawab dengan pasti, nama maupun tanggal lahirnya bahkan sekilas riwayat kesehatannya. Sementara orangutan, penentuan usia dapat dilihat dari pemeriksaan dan penghitungan jumlah gigi.”, ujar drh. Felisitas Flora.

Dari keenam orangutan yang mengikuti kelas sekolah hutan, Bonti dan Annie adalah orangutan berusia 4-5 tahun. “Usia nakal-nakalnya itu.”, sela Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo. Jika anak orangutan yang lain bisa dengan cepat dilakukan pengukuran dan pemeriksaan, berbeda dengan keduanya. Keduanya paling susah diajak ke Posyandu Orangutan. Keduanya pula tidak mau mengulurkan tangan dan kakinya untuk diukur. Untuk membuka mulut pun keduanya tidak mau sama sekali. Dan mereka berdua selalu berusaha kabur.

Tak ada cara lagi untuk mengatasi kedua orangutan, Bonti dan Annie agar mau diperiksa. Cara paling ampuh dengan mengelitik bagian ketiak dan leher pun sudah tak berlaku lagi buat mereka. “Mungkin mereka malu karena sudah tua…”, kata Flora sambil tertawa. (FLO)

NOVI OBSERVED BY APE GUARDIAN

After two weeks of Novi and Leci released, finally we found Novi tracks. Leftover and canopy openings lead the APE Guardian team, whose duty is monitoring the released orangutan, way to meet Novi. The team then recorded Novi’s behaviour every 5 minutes, no more per 10 minutes.

Filling out the form with 10 minutes interval was still lacking in showing the behaviour progress of the released orangutans. Starting on Nov 20, the team agreed to reduce the time interval in recording the orangutans behaviour from 10 minutes interval to 5 minutes interval. The team needs to be more focused on observing the orangutan’s behaviour and write it down.

“Leech attacks often disrupt our concentration, but the note-taking business still has to be done. What is Novi eating, on what kind of tree and what diameter of the tree he’s on and at what height he’s on, should be recorded properly. Our monitoring team’s duty is to ensure Novi can survive in nature after all these years being in the COP Borneo orangutan rehabilitation centre.”. said Reza Setiawan, coordinator of APE Guardian team.

Then, what about Leci? Since day one, after 3 hours of monitoring, Leci has had disappear from our view. “The lively Leci was like blending with the winds, soundless and trackless.”, said Widi, a volunteer of APE Guardian team with amazement. (SAR)

NOVI KEMBALI TERPANTAU APE GUARDIAN
Setelah dua minggu pelepasliaran orangutan Novi dan Leci, akhirnya kami menemukan kembali jejak Novi. Sisa-sisa makanan dan bukaan kanopi mengantarkan tim APE Guardian COP yang bertugas memantau orangutan pelepasliaran berjumpa kembali dengan Novi. Tim pun kembali mencatat perilaku Novi per lima menit tidak lagi per sepuluh menit.

Pengisian form yang awalnya memiliki interval waktu 10 menit ternyata masih kurang untuk menunjukkan progres perilaku para orangutan pelepasliaran. Mulai 20 November, tim sepakat untuk memperkecil interval waktu pengisian form monitoring dari 10 menit menjadi 5 menit. Tim dituntut untuk semakin fokus memperhatikan prilaku orangutan dan mencatatnya.

“Serangan pacet sering mengganggu konsentrasi kami, tapi urusan catat mencatat tetap harus jalan. Novi sedang makan apa, berada di pohon apa dengan diameter berapa, di ketinggian berapa harus tercatat dengan baik. Kami tim monitoring bertugas memastikan, Novi bisa bertahan hidup di alam setelah bertahun-tahun berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian.

Lalu bagaimana dengan Leci? Sejak hari pertama, setelah tiga jam dalam pantauan, Leci sudah menghilang dari pandangan kami. “Si lincah Leci seperti menyatu dengan hembusan dedauan, tanpa suara dan jejak.”, ujar Widi, relawan tim APE Guardian dengan takjub. (REZ)

COP HELPS THE 11th ZOO IN INDONESIA

On this day, November 22, 2018, the Center for Orangutan Protection together with the Gajahmungkur Wildlife Park, Central Java signed a Memorandum of Understanding to work together to improve the welfare of orangutan within the ex-situ conservation agency of the Wonogiri Regional Government. There is one male Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) who will be included in the program. In the program, both parties agreed to work together to enrich cages and nutrition so it will improve the orangutan’s welfare.

This Gajahmungkur Wildlife Park is the eleventh ex-situ conservation institution assisted by the COP. Previously, COP had assisted in Bali Zoo, Taru Jurug Solo, Mangkang Semarang, Seruling Mas Banjarnegara, Ragunan Jakarta, Rimbo Jambi Park, Kinantan Bukit Tinggi, Sawah Lunto Zoo, Medan Zoo and Unmul Samarinda Botanical Garden (KRUS). The COP’s vision is to create a good life for orangutans including orangutans in conservation captivities.

Previously, in January 2018, there was news about an orangutan in Gajah Mungkur attacked one of their animal keepers. “COP hopes that incident will not happen again. Gajah Mungkur parties should improve themselves and must be followed by improving the behavior of visitors. All of us must obey the signs or rules, so that kind of unwanted incidents does not occur”, said Daniek Hendarto, the COP conservation manager.

COP BANTU KEBUN BINATANG KE-11 DI INDONESIA
Pada hari ini, 22 November 2018, Centre for Orangutan Protection bersama dengan Taman Satwa Gajahmungkur, Jawa Tengah menandatangani Nota Kesepahaman untuk bekerjasama meningkatkan kesejahteraan orangutan yang berada dalam lembaga konservasi eks-situ milik Pemda Wonogiri tersebut. Ada 1 (satu) individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berjenis kelamin jantan yang akan masuk dalam program tersebut. Dalam program tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk bekerjasama memperkaya kandang dan nutrisi agar orangutan dapat meningkatkan kesejahteraannya.

Taman Satwa Gajahmungkur ini merupakan lembaga konservasi eks-situ yang kesebelas yang dibantu COP. Sebelumnya, COP pernah membantu di Bali zoo, Taru Jurug Solo, Mangkang Semarang, Seruling Mas Banjarnegara, Ragunan Jakarta, Taman Rimbo Jambi, Kinantan Bukit Tinggi, Taman Marga Satwa Sawah Lunto, Medan Zoo dan Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS). Visi COP atau Pusat Perlindungan Orangutan yang berbentuk perkumpulan ini adalah kehidupan yang baik bagi orangutan termasuk orangutan yang berada dalam lembaga konservasi.

Sebelumnya pada Januari 2018 muncul pemberitaan dimana orangutan yang menjadi koleksi obyek wisata Waduk Gajah Mungkur menyerang salah satu animal keepernya. “COP berharap, kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Pihak WGM memperbaiki diri dan itu pun harus diikuti dengan perbaikan prilaku para pengunjung obyek wisata dimana ada satwanya. Patuhi rambu atau tata tertib yang berlaku, agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi.”, ujar Daniek Hendarto, manajer konservasi eksitu COP.

Page 20 of 266« First...10...1819202122...304050...Last »