APAKAH HEWAN BISA MERASA STRES? (1)

Pada tahun 1965 berdasar laporan Brambell mengenai kesejahteraan hewan-hewan yang berada dalam sistem peternakan, pemerintah Inggris menunjuk sebuah Komite untuk mendalami permasalahan kesejahteraan hewan-hewan dalam peternakan. Komite ini kemudian merumuskan konsep lima kebebasan yang harus dimiliki tiap hewan peternakan dan kemudian meluas peruntukkannya dan dipakai untuk mengukur kesejahteraan berbagai spesies satwa di berbagai kondisi.

Pada laporan Brambell, ia mengatakan bahwa setiap hewan harus memiliki kebebasan untuk berdiri, berbaring, berputar, merawat tubuh mereka dan merenggangkan kaki-kaki mereka. Ini diketahui sebagai Lima Kebebasan Brambell dan kemudian berubah menjadi Five Freedom atau Lima Kebebasan yang dideskripsikan sebagai berikut, yaitu terbebas dari rasa lapar dan haus, terbebas dari ketidaknyamanan, terbebas dari rasa sakit, luka atau penyakit, bebas untuk mengekspresikan perilaku normalnya, dan yang terakhir bebas dari rasa takut dan stres.

Rasa takut dan stres disini membuktikan bahwa manusia meyakini bahwa hewan juga bisa merasakan stress dan emosi seperti rasa takut. Lalu apakah benar seperti itu? Selain kemampuan berpikir atau kognisi, kemampuan merasakan emosi seperti rasa takut dan marah yang diproses pada amigdala pada otak manusia ternyata juga ditemukan pada hewan terutama pada mamalia. Meski banyak penelitian masih mengarah pada emosi pada mamalia, saat ini mulai ada juga yang mendalami adanya perubahan emosi pada hewan-hewan kelas lainnya.

Namun tidak seperti manusia yang bisa mengkomunikasikan rasa takut dan stres yang dimilikinya, kita hanya bisa mengindikasikan seekor binatang atau hewan mengalami stres atau takut berdasar pengamatan atas perubahan perilaku dan kondisi tubuhnya. Dimana masing-masing spesies bisa memiliki respon berbeda atas stres atau tekanan yang dialaminya. (LIA)

Sumber :

Thaxton, Y.V., Christensen K., Clark, F.D. (2014). The Five Freedoms for Good Animal 

Welfare. University of Arkansas: Division of Agriculture Research & Extension.

Vargas, J. P., Lopez, J. C., Portavella, M. (2012). Amygdala and Emotional Learning in 

Vertebrates- A Comparative Perspective. University of Sevilla: Intech.

TRENGGILING: SI MANIS YANG TERANCAM

Serial Satwa Dilindungi

Pangolin atau trenggiling dalam Bahasa Indonesia, adalah mamalia yang paling sering diperjualbelikan dan diselundupkan dalam bisnis satwa liar ilegal. Diperkirakan setiap lima menit seekor trenggiling diambil dari habitatnya untuk dijual. Meski statusnya terus menurun dan telah dilarang untuk diperjualbelikan, hal ini tidak menyurutkan permintaan akan daging dan sisiknya yang sudah lama terkenal di dunia pengobatan tradisional.

Saat ini tersisa delapan spesies trenggiling di dunia, diantaranya yaitu empat spesies di Afrika dan empat spesies tersebar di Asia.  Berdasar data IUCN Redlist dua spesies dalam status rentan (VU), tiga dalam status terancam punah (ER), dan tiga kritis (CR). Dan salah satu ancaman terbesarnya adalah perdagangan ilegal. 

Banyak golongan masyarakat tertentu di Afrika dan Asia yang percaya sejak dahulu bahwa trenggiling berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan hampir seluruh bagian tubuhnya memiliki manfaat. Salah satu yang dianggap memiliki manfaat terbesar adalah sisiknya yang unik. Sisik ini dipercayai oleh masyarakat memiliki beberapa khasiat. 

Beberapa diantara khasiat itu adalah sebagai obat penyakit jantung, penyakit mental, sebagai antibiotik tradisional, penawar racun, penyakit pada perut, sakit kepala, menyembuhkan luka dan banyak penyakit lainnya hingga juga dipercaya menjadi semacam jimat untuk menolak penyakit-penyakit spiritual. Meski berlangsung bertahun-tahun sayangnya kepercayaan ini tidak pernah didukung oleh penelitian ilmiah untuk membuktikannya.

Diketahui bahwa sisik trenggiling terdiri dari kandungan keratin. Kandungan yang sama dengan kuku dan rambut kita manusia serta cula atau tanduk pada hewan lainnya. Sisik ini adalah baju pelindung bagi trenggiling yang memiliki makanan utama semut dan rayap. Sisik yang tebal melindungi mereka dari gigitan semut dan predator lainnya. Namun sayangnya sisik ini tidak dapat melindungi mereka dari manusia. 

Ketika menemui predator, mereka akan menggulung tubuhnya dan tidak bergerak sehingga predator akan kebingungan dan akhirnya meninggalkan mereka. Namun mekanisme pertahanan diri ini menjadi keuntungan bagi manusia yang dengan mudahnya dapat menangkap dan mengambil mereka begitu saja dari atas tanah tanpa perlawanan yang berarti. Maka dengan permintaan dan harga jual yang besar semakin banyak oknum-oknum yang memburu dan menjual mereka untuk mendapat keuntungan.

Di Indonesia sendiri trenggiling bisa ditemukan di pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun karena maraknya diperjualbelikan, saat ini trenggiling sangat sulit untuk ditemui di alam atau habitatnya. Padahal trenggiling memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi kontrol bagi populasi serangga, kebiasaan mereka untuk membuat liang-liang di tanah juga membawa manfaat dalam pencampuran bahan-bahan organik di dalam tanah. Selain itu mereka juga menjadi mangsa bagi harimau, macan dan spesies lainnya. Bila jumlah mereka terus berkurang tentunya akan berpengaruh besar bagi spesies-spesies lain dan ekosistem di alam.

Trenggiling juga beberapa bulan belakangan ramai disebut sebagai salah satu hewan selain kelelawar yang menjadi pembawa virus corona, yaitu Covid-19. Beberapa pengamat dan peneliti memperkirakan adanya kemungkinan trenggiling yang tidak sengaja memakan kotoran-kotoran kelelawar dari tanah. Lalu ketika trenggiling ini ditangkap manusia maka virus yang berasal dari kotoran kelelawar ini dapat menyebar pada manusia. Meski hal ini belum terbukti secara pasti, tentu kemungkinan-kemungkinan seperti ini sangatlah bisa terjadi karena sudah ditemukan adanya beberapa jenis virus corona dari tubuh trenggiling yang diteliti.

Maka dari itu perlu adanya penanganan serius dari pemerintah untuk dengan tegas melarang penjualan satwa-satwa liar terutama satwa yang dilindungi. Selain untuk menjaga keberlangsungan spesies-spesies yang ada, juga untuk menghindarkan manusia dari penularan-penularan virus yang fatal dan mematikan. Biarkan satwa-satwa liar hidup dengan bebas di habitatnya dan menjadi penjaga keseimbangan ekosistem di alam, karena kita manusia pun hidup sangat bergantung pada alam. (LIA)

 

KEBUN BINATANG: ISOLASI SEUMUR HIDUP BAGI HEWAN

Sudah 2 minggu sejak masyarakat diminta untuk mengisolasi diri atau #dirumahaja. Ada yang bersyukur karena bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah. Ada pula yang mengeluh ingin berkumpul lagi bersama teman-teman. Walaupun kulkas/lemari pendingin penuh makanan, air melimpah, ada televisi dan ponsel… namun tetap saja kita dilanda rasa bosan. Hidup monoton hanya di ruangan yang sama setiap hari.

Hewan-hewan di kebun binatang juga mengalami hal yang sama. Walau rutin diberi makanan dan minuman, hidup di kandang tentu membuat bosan. Apalagi jika kebun binatang tidak memberi fasilitas untuk memenuhi insting naluriah hewan. Kandang harimau tidak diberi kayu untuk menajamkan kuku. Kandang harimau tidak diberi kayu untuk menajamkan kuku. Kandang gajah tidak diberi kolam untuk berkubang. Kandang orangutan tidak diberi pohon atau tali untuk berayun.

Dalam merawat hewan, kita harus menerapkan 5 prinsip kesejahteraan satwa. Hewan wajib terbebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa ketidaknyamanan, bebas dari sakit dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku alamiah, serta bebas dari rasa takut dan tertekan. Hewan yang tidak bisa melakukan perilaku alamiahnya lama-lama akan stres bahkan dapat menyakiti dirinya sendiri.

Saat isolasi ini, kita merasakan sendiri jenuhnya berada di rumah saja. Kita diajak merasakan perasaan hewan yang terisolasi seumur hidup di kebun binatang. Mari kita lebih menghormati kebebasan hidup para hewan dengan tidak memelihara satwa liar dan mendorong kebun binatang untuk memberikan fasilitas yang lebih baik. (IND)

Page 20 of 330« First...10...1819202122...304050...Last »