KEMANDIRIAN UNYIL DI PULAU ORANGUTAN

Kedekatannya dengan manusia dari kecil membuat orangutan Unyil menjadi sangat jinak. Saat itu usianya masih 3 tahun. Unyil hidup di kandang berukuran 50x50x50 cm di dalam kamar mandi. Itu sebabnya, Unyil tak takut air. April 2015, Unyil mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup kembali ke alam, dia masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Tidak bisa manjat, tidak bisa makan buah yang bertekstur keras, memakan pisang dengan kulitnya, hanya bisa menangis dan kebingunggan saat animal keeper menjauhinya, begitulah Unyil yang kami kenal pertama kali. “Unyil terbiasa makan nasi dan minum teh selayaknya manusia.”, kenang Wety Rupiana, babysitter COP Borneo.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan… Unyil menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tepat di bulan kesebelas Unyil mengikuti sekolah hutan di COP Borneo, Unyil naik ke kelas pulau orangutan. Pulau yang hanya dihuni orangutan-orangutan yang setahap lagi akan dilepasliarkan kembali ke alam. Pulau pra-rilis orangutan COP Borneo yang berada di tengah aliran sungai Kelay, Berau Kalimantan Timur.

Di pulau pra-rilis inilah, Unyil menjadi dekat dengan orangutan Nigel. Nigel lah yang selalu melindungi Unyil dari gangguan orangutan lainnya. Namun, semenjak Nigel ditarik dari pulau untuk menjalani masa karantina untuk dirilis ke alam, Unyil menjadi semakin mandiri dan terpaksa membela dirinya sendiri. “Perkembangan Unyil sangat bagus, sekarang dia lebih sering terlihat di pohon. Dia bahkan sulit sekali dijumpai saat kami patroli di siang hari. Dia memilih bersembunyi dan menghindari gangguan orangutan lainnya.”, ujar Idam, teknisi pulau orangutan.

“Kami sempat kawatir, saat waktunya kami ‘feeding’, Unyil tak kunjung muncul. Tapi sekarang tidak lagi, setelah berhasil mengintipnya dari binokular pos pantau dan pengamatan fisiknya yang tidak ada perubahan mencolok. Bahkan kami memergokki Unyil sedang memakan kambium dan beberapa kali terlihat memakan buah ara yang terdapat di pulau pra-rilis orangutan.”, cerita Idam lagi.

Di pulau, Unyil belajar lebih banyak lagi. Mulai dari mencari makan di alam dan juga bertahan hidup. Semoga kelak, ketika dia sudah siap untuk dilepasliarkan kembali, masih ada hutan yang tersisa untuk rumah tempat tinggalnya. (WET)

JAMBORE ORANGUFRIENDS 2017 DI OMAH PARI

Ini adalah sebuah tradisi. Para relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends akan bertemu, berkumpul, berdiskusi di Jambore Orangufriends. Sebuah reuni para relawan yang pernah saling mengenal bahkan berkenalan dengan relawan yang baru kenal. Pertemuan ini juga mengumpulkan kembali lintas angkatan COP School. Untuk COP School angkatan terakhir seperti COP School Batch 7, pada saat Jambore akan dilakukan wisuda ala COP.

Jambore Orangufriends 2017 akan diisi para orangufriends yang berkegiatan di daerahnya masing-masing. Kegiatan kolektif dengan orangufriends lainnya atau kegiatan individu seperti bergabung menjadi relawan di COP Borneo maupun disaster relief gunung Agung. Bercerita… berbagi… dan merencanakan kembali.

Ini adalah acara untuk saling menguatkan sebagai agen perubahan satwa liar Indonesia yang masih sangat langka. Sabtu, 9 Desember 2017, pukul 10.00 WIB bertempat di Omah Pari, Jl. Gito-Gati, Sleman, Yogyakarta atau berjarak sekitar 300 meter di utara camp APE Warrior Yogyakarta. Acara akan berakhir keesokan harinya pada hari Minggu, 10 Desember 2017 pukul 15.00 WIB.

Cukup dengan kontribusi Rp 100.000,00 dengan fasilitas menginap, makan, camilan, permainan dan tanda kelulusan khusus siswa COP School Batch 7, akan membuat energi mu kembali penuh. Suasana santai di lingkungan persawahan Omah Pari yang dikelola alumni COP School tentu akan sangat berbeda dengan Jambore sebelumnya. Jadi kalau kamu mau ikut lagi, silahkan! Mari berbagi tawa, senang dan haru di Jambore Orangufriends 2017. Daftar ke Ramadhani dengan mengirim sms/wa 081349271904 dengan cara ketik JO17_Nama lengkap_Nama kota sebelum tanggal 5 Desember 2017. Sampai ketemu di Yogyakarta… (DAN)

MICHELLE TERPAKSA MASUK KANDANG

“Mereka tumbuh menjadi lebih besar… kuat… dan pintar. Kami semakin kesulitan menangani Icel. Dua bulan terakhir ini, Icel terpaksa tidak ke sekolah hutan.”, ujar Wety dengan sedih. Michelle atau lebih sering dipanggil Icel adalah orangutan betina yang berusia 7 tahunan. Dengan tubuhnya yang semakin besar, Icel semakin sulit dikontrol bahkan menyerang animal keeper. Icel juga sering menyakiti orangutan lainnya yang jauh lebih kecil darinya.

Inilah kenyataan di orangutan. Saat masih bayi, semua orang berkeinginan untuk memeliharanya, seperti boneka. Saat orangutan tumbuh besar dan kuat dengan munculnya insting liarnya, maka kebebasannya pun harus berakhir.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang terletak di kabupaten Berau, Kalimantan Timur hanya memiliki pulau orangutan pra-rilis untuk orangutan jantan. Orangutan-orangutan jantan yang semakin besar dan mandiri, akan dilepaskan di pulau itu. Sementara untuk orangutan betina, belum memiliki pulau. Para animal keeper secara bergantian memberikan enrichment pada Michelle agar dia tetap senang dan tidak bosan selama di kandang.

Bantu COP untuk berbuat yang terbaik untuk orangutan-orangutan betina yang semakin besar. Selain itu ada orangutan-orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan kembali ke alam yang membutuhkan tempat terbaik selain kandang karantina. Mereka tidak bisa dilepasliarkan lagi karena penyakit yang bisa menularkan ke orangutan liar lainnya seperti Memo yang menderita hepatitis.

Page 2 of 15912345...102030...Last »