FROM BOSF WITH LOVE

Finally, all the 13 orangutans arrived in their new home at the COP Borneo. Labanan Forest is a prefect place for rehabilitation as well as sanctuary for Ambon, Debby and Memo. No more people intervene their privacy. This big job would not done without support from our ally Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). They deployed a vet and 6 keepers to assist COP. So, 50% percent of this success was belong to BOSF. It is impossible for us to do it alone as COP just a tiny organisation. We only have 1 vet and 6 keepers at the moment.

This is not the first time for COP and BOSF teams to work together. It was not difficult for COP and BOSF team together as team as we have similar standard. Our Principal, Hardi was the assistant for Lone Nielsen in BOSF Nyarumenteng several years ago. He just adopt and implement what he learn from the Guru. We show to the world that partnership is good to achieve our common goal.

Akhirnya, ke 13 orangutan itu tiba di rumah barunya di COP Borneo. Hutan Labanan adalah tempat yang sempurna untuk rehabilitasi dan pensiun bagi Ambon, Debby dan Memo. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggu privasi mereka. Kerja besar ini tidak akan beres tanpa dukungan dari sekutu kami Yayasan BOS. Mereka menerjunkan 1 dokter hewan dan 6 perawat to membantu COP. 50% dari sukses ini adalah milik mereka. Tidak mungkin bagi kami untuk melakukannya sendiri karena kami hanya organisasi mini. Kami hanya punya 1 dokter hewan dan 6 perawat saat ini.

Ini bukan yang pertama bagi tim COP dan BOSF. Tidak sulit bagi tim COP dan BOSF dalam bekerja bersama karena kami punya standar yang mirip. Ketua kami, Hardi, dulunya adalah asisten Lone Nielsen di BOSF Nyarumenteng beberapa tahun lalu. Dia hanya mengadopsi dan menjalankan apa yang dipelajari dari gurunya.  Kami menunjukkan pada dunia bahwa kerjasama itu baik untuk mencapai tujuan bersama.

INDONESIA OPENING THE 5th ORANGUTAN REINTRODUCTION CENTRE

The 5th Orangutan Reintroduction Centre COP BORNEO in Indonesia, is now officially operating. This facility is a cooperation between the Ministry of Environment and Forestry with the Centre for Orangutan Protection (COP). It was built in Labanan forest area with special purpose (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) an area of 7,900 hectares in Berau district, this facility is expected to accommodate 50 (fifty) orangutans. Currently, 13 (thirteen) orangutans are undergoing the rehabilitation process, 3 of them are ready to be released in the second half of this year. Just like any other of reintroduction centre that has been running with the International Standard of Union for Conservation Network (IUCN), COP BORNEO will be a restricted area. There will be no random visitors for tourism and people can not enter this area without permission.

Hardi Baktiantoro, Principal COP states :

“This area is perfect for orangutan rehabilitation. The forest is still lush, surrounded by big trees, and the forest is providing a natural food source so that the orangutans can learn and easily adapt to become wil. We still have to do a survey to determine whether KHDTK Labanan is also feasible for the releasing area. This area is also very protected, and listed as a conservation area, technically there are no wild orangutans population around here and local communities are very supportive”

“This centre is a facility for rehabilitation, with quarantine cages, socialization cages and clinic, also with a multi-functional building that can be used as an office, a research station and dormitory for orangutan’s nurses and researchers. Thus, this area is fully integrated as a rehabilitation centre and research centre for flora and fauna.”

KHDTK Labanan is managed by the Research Institute for Dipterokarpa. COP BORNEO has been built by COP is funded largely by With Compassion and Soul (WC & S) with additional funding from the Orangutan Crisis Fund (OCF), The Orangutan Project (TOP) and Monkey Business.

For more Info & interviews, please contact :

Hardi Baktiantoro

Phone : 08121154911

email : orangutanborneo@mac.com

 

INDONESIA MEMBUKA PUSAT REINTRODUKSI ORANGUTAN KE 5

Pusat Reintroduksi Orangutan COP BORNEO secara resmi telah beroperasi, menjadi yang ke 5 di Indonesia. Fasilitas ini merupakan kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Pusat Perlindungan Orangutan / Centre for Orangutan Protection (COP). Berdiri di dalam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan seluas 7.900 hektar di kabupaten Berau, fasilitas ini diharapkan dapat menampung 50 (limapuluh) orangutan. Saat ini, 13 (tigabelas) orangutan sedang menjalani proses rehabilitasi, 3 diantaranya sudah siap dilepasliarkan pada semester ke 2 tahun ini. Selayaknya Pusat Reintroduksi yang dikelola dengan standar International Union for Conservation Network (IUCN), COP BORNEO akan menjadi kawasan tertutup. Tidak dibenarkan adanya kunjungan oleh orang – orang yang tidak berkepentingan atau wisata.

Hardi Baktiantoro, Principal COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Kawasan ini sangat sempurna untuk rehabiitasi orangutan. Hutannya masih sangat bagus, pohonnya besar – besar, banyak pakan alami tersedia sehingga orangutan bisa belajar menjadi orangutan liar dengan baik. Kami masih harus melakukan survey untuk menentukan apakah KHDTK Labanan juga layak untuk kawasan pelepasliaran. Pastinya kawasan ini juga sangat terlindungi, secara hukum adalah kawasan konservasi, secara teknis tidak ada populasi orangutan liar dan secara adat masyarakat setempat sangat mendukung.”

“Selain fasilitas untuk proses rehabilitasi seperti kandang karantina dan kandang sosialisasi serta klinik, fasilitas ini juga dilengkapi dengan bangunan multi fungsi yang dapat digunakan sebagai kantor, stasiun riset dan asrama bagi para perawat orangutan dan peneliti. Dengan demikian, kawasan ini benar – benar terpadu untuk rehabilitasi dan penelitian flora fauna.”

KHDTK Labanan  dikelola oleh Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Pembangunan COP BORNEO sendiri didanai sebagian besar oleh With Compassion and Soul (WC&S) dengan tambahan dana dari Orangutan Crisis Fund (OCF), The Orangutan Project (TOP) dan Monkey Business.

Informasi dan wawancara, harap menghubungi:

Hardi Baktiantoro

08121154911

orangutanborneo@mac.com

13 ORANGUTAN KALIMANTAN AKAN DIREHABILITASI DI COP BORNEO

Samarinda – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) dengan dibantu oleh Centre for Orangutan Protection (COP) dan Yayasan  Borneo Orangutan Survival (BOS), pada hari ini memindahkan 13 (tigabelas) Orangutan Kalimantan sub species morio (Pongo pygmaeus morio) dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS) menuju Pusat Reintroduksi Orangutan COP BORNEO di Labanan, Kabupaten Berau. Labanan adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang luasnya  7900 hektar, saat ini dikelola oleh Badan Penelitian dan Pengembangan dari Kemen LHK. Diharapkan, ke 13 orangutan tersebut mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dan memiliki kesempatan ke dua dalam hidupnya untuk menjadi orangutan yang bebas di alam liar. COP BORNEO adalah Pusat Reintroduksi Orangutan ke 5 yang dimiliki oleh Indonesia.

Ramadhani, Area Manager COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Dari ke 13 orangutan tersebut, 3 diantaranya akan berada dalam sanctuary kami selamanya karena 2 sudah  terlalu tua dan 1 mengidap Hepatitis B. Sisanya masih bisa direhabilitasi. Berita baiknya adalah 3 diantaranya sudah siap untuk dilepasliarkan pada semester ke-2 tahun ini. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena mereka menjalani pelatihan yang kami sebut dengan Sekolah Hutan selama berada di Kebun Raya Universitas  Mulawarman Samarinda (KRUS). Mereka menunjukkan keahlian yang memadai untuk bertahan hidup seperti mencari pakan alami, membuat sarang dan menghindari bahaya dari predator.”

Imam Arifin, Dokter Hewan COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Rehabilitasi adalah proses yang panjang dan rentan untuk gagal. Karenanya, kami akan memberlakukan aturan yang ketat, terutama dalam hal interaksi dengan manusia selain dengan para perawat dan pelatihnya. Agar mereka tidak tertular penyakit oleh orang – orang yang tidak berkepentingan.”

Pusat Reintroduksi Orangutan COP BORNEO  diproyeksikan dapat menampung setidaknya 50 orangutan yang menjadi sudah tercerabut dari habitatnya karena pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit, pertambangan batubara dan yang pernah dipelihara secara illegal oleh masyarakat. Dibandingkan sub species lainnya, Pongo pygmaeus morio adalah sub jenis yang paling rentan, jumlahnya diperkirakan hanya 4825. Populasi Orangutan Kalimantan diperkirakan sejumlah  54.567 (PHVA dan revisi PHVA 2004; Wich, dkk 2008). Orangutan dilindungi oleh UU Nomor 5 /1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya beserta PP No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani

Phone : 081349271904

email : dhani@cop.or.id

Page 196 of 206« First...102030...194195196197198...Last »