COP SCHOOL BATCH 7

“Indonesia memanggil anda untuk terlibat langsung dalam perlindungan satwa liar dan habitatnya. Di COP School kita akan belajar pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi alam bersama para pakar dan praktisinya. Beasiswa tersedia bagi peserta yang lulus seleksi.”
10 – 16 Mei 2017, YOGYAKARTA, INDONESIA.
SIAPA SAJA YANG BOLEH IKUT ?
– Usia minimal 18 tahun, siap mengikuti seluruh sesi pelatihan
– Menghargai kesetaraan gender dan multikultur
– Bukan eksploitator satwa (pemburu, pedagang, dan hobi memelihara satwa liar).
– Membayar sebagian biaya pelatihan sebesar Rp 500.000,-. (makan, kaos, transportasi selama pelatihan). Tidak termasuk transportasi penjemputan.
BAGAIMANA CARA MENDAFTAR ?
– Formulir dan informasi di copschool@orangutan.id
– Pendaftaran 1 Februari s/d 10 Maret 2017.
– Pengumuman Calon Siswa yang diterima tanggal 11 Maret 2017.
– Calon Siswa yang tidak lolos seleksi, dana yang sudah ditransfer akan dikembalikan sebesar Rp 400.000,- dan terdaftar sebagai anggota Orangufriends dan mendapatkan kartu anggota dan newsletter.
#copschool7
SAVE THE ORANGUTAN FROM DELETE

SCHOOL VISIT PERTAMA DI TAHUN 2017

APE Crusader membuka tahun 2017 dengan kunjungan ke sekolah. Lewat kunjungan ke sekolah atau biasa disebut school visit, APE Crusader mengedukasi dan menyadartahukan siswa tentang satwa liar khususnya orangutan dan habitatnya. Tiga kelas Rekayasa Perangkat Lunak, Pemasaran dan Akutansi dari SMKN 1 Sampit, Kalimantan Tengah ini diajak untuk memahami kondisi lingkungan mereka. Orangutan dan hutan yang dalam kesehariannya berada dekat sekali dengan kehidupan mereka.

Pagi ini, siswa kelas XI dan XII diajak bermain tentang habitat. Koran bekas menjadi media, diumpamakan sebagai habitat ataupun hutan sebagai tempat tinggal satwa liar. Seiring waktu, habitat berkurang dan lembaran koran pun dilipat oleh pemateri. Semakin lama, semakin sempit dan kecil. Satu per satu siswa pun tidak kebahagian tempat dan terpaksa keluar dari permainan tersebut. “Seperti itulah hutan yang ada di sekitar kita, nasib orangutan dan satwa liar lainnya yang menghuni hutan tersebut terpaksa keluar, bahkan mati.”, ujar Septian, anggota baru dari tim APE Crusader.

Rasa ingin tahu para siswa mendorong mereka bertanya. Bagaimana dunia konservasi, habitat satwa liar, ancaman yang dihadapi orangutan sampai kenapa kita melindungi orangutan. Manusia butuh hutan dan hutan butuh satwa liar di dalamnya untuk terus meregenerasi, sehingga dapat terus produktif untuk keberlangsungan hidup peradaban manusia.

“Kami berharap pada kalian generasi penerus, untuk peduli akan habitat satwa liar, menjaga populasi dan ekosistem di dalamnya, agar anak cucu kita nanti dapat melihat langsung kehidupan alami satwa liar di habitat aslinya, bukan cerita kepunahannya. Ayo… kita SAVE the orangutan from DELETE!”, ajak Satria Wardhana, kapten APE Crusader. (PETz)

MUSIM KAWIN PREDATOR SUNGAI

Tiba-tiba seekor buaya bermoncong pendek menyerang pak Sahran (56 tahun) warga desa Hanaut, Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada 27 Desember 2016. Korban sempat terseret ke sungai dan segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Murjani Sampit. Jari tengahnya terpaksa diamputasi akibat serangan buaya itu.

Kurun waktu 2013 – 2016 dari data yang ada, korban luka dan mati akibat serangan Buaya terjadi pada bulan Januari hingga Mei di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, data yang diperoleh dari Kepala Balai Konservasi dan Sumber daya Alam (BKSDA) Sampit Pak Muriansyah, total jumlah warga yang meninggal ada 5 orang dan 6 orang menderita luka serius. Dan rata-rata kejadian terjadi pada pagi hari dan sore menjelang malam. Ini adalah sebuah permasalahan yang sangat serius yang sedang dihadapi oleh BKSDA Sampit, terlebih lagi banyak yang angkat tangan dengan persoalan ini, seolah-olah ini adalah permasalahan yang harus di tanggung oleh BKSDA Sampit saja.

Dari olah lapangan, ada beberapa penyebab buaya menjadi ganas. Tim BKSDA Sampit memperkirakan habitat yang menjadi tempat satwa yang dilindungi yaitu Buaya telah rusak. Sumber makanan buaya di darat seperti babi, rusa dan lainnya menghilang. Ikan berkurang dikarenakan pencari ikan yang menyalahi aturan menangkap menggunakan zat kimia dan alat setrum diduga menyebabkan sungai Sampit tercemar. Sementara itu bulan Januari hingga Mei adalah musim dimana musim kawinnya predator sungai yaitu Buaya.

Upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir korban dengan cara memasang papan peringatan daerah rawan Buaya dan masih perlu ada penambahan pemasangan papan peringatan, dilanjutkan dengan penyuluhan ke daerah rawan buaya. Pada rapat koordinasi bulan Mei tahun 2014 dari instansi daerah memutuskan kesepakatan untuk menanggapi serius permasalahan ini dikarenakan sudah banyak menelan korban jiwa berkaitan dengan satwa yang dilindungi. Beberapa solusi yang disepakati dalam rapat diantaranya menambah pemasangan papan peringatan, kemudin pemasangan jaring dipinggir sungai dan pembentukan tim khusus. BKSDA Sampit menyarankan untuk jangka panjang agar penyediaan air bersih untuk desa yang tinggal di tepi sungai Mentaya terutama untuk 3 Kecamatan (kecamatan mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut) sudah 2 tahun berlalu sampai sekarang hasil rapat tersebut belum menemui titik terang dari pihak pemerintah Provinsi. (PIL)

Page 19 of 104« First...10...1718192021...304050...Last »