STOP THE EXPLOITATION OF ORANGUATAN FOR CIRCUSES AND PHOTOGRAPHS

Orangutans are being forced to work to make money for off-site conservation institutions such as zoos and safari parks. They are put through harsh and rigorous training so that they can appear in photographs with visitors, dance on music stages, or perform in circus shows. The Centre for Orangutan Protection (COP) views these practices as harsh and inhumane and demands their immediate abolition.

Today, a group of COP supporters, members of Orangufriends, launched their campaign simultaneously in 9 cities: Jakarta, Denpasar, Banda Aceh, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang and Samarinda. This campaign is known as #orangutanbukanmainan or #orangutanarenottoys.

Following are statements from the campaign coordinators in each city.

“One of the main goals for off-site conservation foundations is education. Orangutan exploitation is not humorous, but unethical. These harsh businesses will continue to survive if society supports them by buying tickets to shows or paying to appear in photographs with orangutans”, said Desya Maharani, a member of Orangufriends Yogyakarta.

“Circuses and photo opportunities with orangutans set a bad example, and demonstrate a disregard for the values of education and understanding about orangutan lives, for which these institutions are supposed to stand. It is no longer appropriate for society to visit these institutions and watch orangutans as circus entertainment or pose for photographs with them”, said Vilinda Maya Marvelina, member of Orangufriends Malang.

“It is not necessary to use circuses or photo opportunities with orangutans to entertain visitors and bring in income for zoos. Clear and accurate education about wildlife must become the priority for these institutions. It’s time to replace circus entertainment with information”, said Ikhwanussafa Sadidan, coordinator of Orangufriends, Bandung.

“The activities performed by orangutans on the circus stage or in photographs with guests do not constitute natural orangutan behaviour. Orangutans have to undergo long training processes to learn to perform these actions. It is clear that this is not how orangutans behave in their natural environment”,said Mawar Purba, coordinator of Orangufriends, Surabaya.

“Orangutans share 97% of their DNA with humans, and therefore can experience emotions such as sadness, fear, love and oppression. Circuses and forced photographs with orangutans constitute a form of mistreatment which we as a society must not support financially”, said Indira Nurul Qomariyah, coordinator of Orangufriends, Solo.

“Orangutans are an international icon for wildlife conservation. Now their very existence is under threat, and it is time for those in management positions to raise their understanding and respect for this issue, and put a stop to these exploitative practices. Circuses and photographs with orangutans do not provide a learning experience, and are not in line with the values of conservation,” said Bintang Dian Pertiwi, coordinator of Orangufriends, Jakarta.

“Orangutans have already been pushed out of their natural environments because of the actionss of mankind. Now in off-site conservation fields, orangutans are still suffering mistreatment at the hands of humans. It is important for these animals to receive protection and better living standards, rather than being made into a source of entertainment in circuses and photographs”, said Andro Sulopadang, coordinator of Orangufriends, Samarinda, East Kalimantan.

“Bali is a beautiful destination for international tourists, and yet in many in zoos, orangutans can still be found in circus shows and being forced into photographs. We should be embarrassed that we are continuing with activities that are already illegal in many nations”, said Rian Winardi, coordinator of Orangufriends, Bali.

“Rescue teams often save baby orangutans whose parents have already died, sometimes as a result of the expansion of palm oil plantations. This fact is not revealed to park visitors. All attempts to educate society about orangutan lives will continue to fail until visitors can understand this context behind the seemingly happy orangutans that appear in circus shows and photographs”, said Ratno Sugito, coordinator of Orangufriends, Aceh.

For further information and interviews please contact:

Rian Winardi, Campaign Coordinator of Orangufriends Bali

Mobile Phone: 085245905754

Vilinda Maya Marvelina, Campaign Coordinator of Orangufriends Malang

Mobile Phone: 085230453454

Mawar Purba, Campaign Coordinator of Orangufriends Surabaya

Mobile Phone: 082230957562

Indira Nurul Qomariyah, Campaign Coordinator of Orangufriends Solo

Mobile Phone: 08567634086

Destya Maharani, Campaign Coordinator of Orangufriends Yogyakarta

Mobile Phone: 083869533631

Bintang Dian Pertiwi, Campaign Coordinator of Orangufriends Jakarta

Mobile Phone: 081212715451

Ikhwanussafa Sadidan, Campaign Coordinator of Orangufriends Bandung

Mobile Phone: 085624066740

Andro Sulopadang, Campaign Coordinator of Orangufriends Samarinda, Kalimantan Timur

Mobile Phone: 081350355822

Ratno Sugito, Campaign Coordinator of Orangufriends Aceh

Mobile Phone: 085360866756

STOP EKSPLOITASI ORANGUTAN SEBAGAI SIRKUS DAN PROPERTI FOTO
Orangutan dipaksa bekerja untuk menghasilkan uang di Lembaga-Lembaga Konservasi Ex Situ seperti Kebun Binatang dan Taman Safari. Orangutan harus dilatih dengan keras dan kejam agar dapat digunakan sebagai properti foto bersama dengan pengunjung, menari di pentas musik atau bermain di sirkus atau pentas satwa. Centre for Orangutan Protection (COP) memandang bahwa praktek – praktek seperti ini harus segera dihentikan karena kejam dan tidak mendidik.
 
Pada hari ini, kelompok pendukung COP yang tergabung dalam Orangufriends menggelar kampanye serentak di 9 kota, yakni Jakarta, Denpasar, Banda Aceh, Bandung, Yogya, Solo, Surabaya, Malang dan Samarinda. Kampanye ini lebih dikenal dengan #orangutanbukanmainan. 
 
Berikut ini pernyataan para koordinator kampanye dari masing – masing daerah: 
 
“Salah satu misi utama Lembaga Konservasi Ex Situ adalah pendidikan. Eksploitasi orangutan adalah tindakan yang tidak lucu dan salah. Bisnis kejam seperti ini akan terus berlangsung bila masyarakat mendukungnya dengan membeli tiket pertunjukan atau membayar untuk bisa berfoto bersama orangutan.”, kata Destya Maharani, anggota Orangufriends Yogya. 
 
“Sirkus dan foto bersama orangutan merupakan edukasi yang keliru dan tidak memiliki nilai edukasi apapun tentang kehidupan orangutan. Sudah sepantasnya masyarakat tidak perlu mengunjungi dan menonton hiburan sirkus dan foto bersama orangutan.”, kata Vilinda Maya Marvelina, anggota Orangufriends Malang.
 
“Tidak perlu menggunakan sirkus dan foto bersama orangutan untuk mengejar daya tarik pengunjung dan pemasukan pendapatan kebun binatang. Pendidikan yang baik dan benar tentang satwa liar bagi pengunjung perlu menjadi prioritas dan sudah sepantasnya kebun binatang mengganti hiburan sirkus dan foto bersama orangutan dengan metode informasi yang lebih mendidik tanpa sirkus dan foto bersama Orangutan.”, Ikhwanussafa Sadidan, Kordinator Kampanye Orangufriends Bandung.
 
“Setiap gerakan yang ditampilkan orangutan dalam panggung hiburan sirkus dan foto bersama orangutan bukan merupakan gerakan alaminya. Orangutan akan menjalani pelatihan panjang untuk setiap gerakan ini dan ini jelas bahwa bukan gerakan alaminya orangutan layaknya di alam liar.”,  Mawar Purba, Kordinator kampanye Orangufriends Surabaya.
 
“Orangutan memiliki 97% DNA yang sama dengan manusia, orangutan bisa memiliki rasa sedih, tertekan, jatuh cinta dan takut. Sirkus dan foto dengan orangutan adalah bentuk pemaksaan terhadap orangutan yang sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat tidak mendukung dengan mengunjungi sirkus dan berfoto dengan orangutan.”, Indira Nurul Qomariyah, Kordinator Kampanye Orangufriends Solo.
 
“Orangutan merupakan salah satu ikon konservasi satwa di dunia Internasional. Keberadaannya sangat terancam dan sudah sepantasnya pihak pemangku kepentingan sadar dan memahami serta menghormati dan menghentikan praktek exploitasi ini. Sirkus dan foto bersama orangutan tidak mendidik dan bukan upaya konservasi.”, Bintang Dian Pertiwi, Kordinator Kampanye Orangufriends Jakarta.
 
“Di habitat aslinya orangutan sudah terdesak dan tergusur oleh aktivitas manusia. Dan di lembaga konservasi Ex Situ Orangutan masih mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Digunakan untuk sirkus dan foto bersama orangutan. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang baik bukan menjadi ajang hiburan seperti sirkus dan foto bersama orangutan.”, Andro Sulopadang, Kordinator Kampanye Orangufriends Samarinda, Kalimantan Timur.
 
“Bali merupakan salah satu tujuan pariwisata yang indah namun di beberapa kebun binatang masih menjadikan orangutan sebagai Objek sirkus dan foto bersama orangutan. Seharusnya kita malu karena di beberapa negara maju kegiatan sirkus yang melibatkan satwa liar sudah dilarang.”, Rian Winardi, Kordinator Kampanye Orangufriends Bali.
 
“Tim penyelamat orangutan terkadang menyelamatkan bayi-bayi orangutan tanpa induk yang kemungkinan sudah mati akibat terdampak ekspansi perluasan lahan kelapa sawit. Fakta ini tidak pernah diungkap dengan baik dan pendidikan masyarakat akan gagal manakala masyarakat masih memahami konteks bahagia semu orangutan dalam panggung hiburan sirkus dan foto bersama orangutan.”, Ratno Sugito, Kordinator Kampanye Orangufriends Aceh.
 
Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi:
 
Rian Winardi, Kordinator Kampanye Orangufriends Bali
Mobile Phone: 085245905754
 
Vilinda Maya Marvelina, Kordinator Kampanye Orangufriends Malang
Mobile Phone: 085230453454
 
Mawar Purba, Kordinator Kampanye Orangufriends Surabaya
Mobile Phone: 082230957562
 
Indira Nurul Qomariyah, Kordinator Kampanye Orangufriends Solo
Mobile Phone: 08567634086
 
Destya Maharani, Kordinator Kampanye Orangufriends Yogyakarta
Mobile Phone: 083869533631
 
Bintang Dian Pertiwi, Kordinator Kampanye Orangufriends Jakarta
Mobile Phone: 081212715451
 
Ikhwanussafa Sadidan, Kordinator Kampanye Orangufriends Bandung
Mobile Phone: 085624066740
 
Andro Sulopadang, Kordinator Kampanye Orangufriends Samarinda, Kalimantan Timur.
Mobile Phone: 081350355822
 
Ratno Sugito, Kordinator Kampanye Orangufriends Aceh.
Mobile Phone: 085360866756

COP’S CAMPUS IS INAUGURATED

A new COP office complex in Yogya has recently been officially opened by Hardi Baktiantoro, Principal of the COP. The complex stands on 1200 square meters of land and it is planned to be used as the base for the APE Warrior team environmental education. At the moment, one building has been constructed, a wooden house in the Javanese style which is commonly referred to as Limasan. Uniquely the materials used in the construction of the house were almost entirely scrap material. Once inaugurated, this complex will be used for the COP school education program “animal activism”. The first building will be used as a classroom and the land around it will become grounds for camping.

Marked by the eruption of Mount Merapi, the COP with APE Warrior, have been formally located in Yogya since 2010,. The previous team, which was based in Jakarta and named The Mobile Education Unit, was then sent to Yogya and changed its name to APE Warrior and grew to spread fear amongst illegal wildlife traders. Since 2012, the COP has aligned itself with The Ministry of Forests and the Indonesian police to undertake 11 raids in which 146 protected wild animals have been rescued. At least 14 people have been interrogated and 8 amongst them have been imprisoned.  There is no doubt that the COP is one of the most effective groups in fighting the illegal wildlife trade in Indonesia.  Wildlife trading causes unnecessary suffering for the animals involved. This team are also effective in campaigning and raising public support.

 

KAMPUS COP DIRESMIKAN

Kompleks baru perkantoran COP di Yogya baru saja diresmikan penggunaannya oleh Hardi Baktiantoro, Principal COP. Kompleks yang berdiri di atas lahan seluas 1200 meter persegi tersebut rencananya akan digunakan sebagai pangkalan tim APE Warrior dan wahana pendidikan lingkungan hidup. Saat ini baru 1 bangunan yang sudah berdiri, sebuah rumah kayu dengan arsitektur Jawa yang biasa disebut degan Limasan. Uniknya, material yang digunakannya, hampir seluruhnya menggunakan bahan bekas. Begitu diresmikan, kompleks ini langsung digunakan untuk program pendidikan “animal activism” COP School. Bangunan utama digunakan sebagai ruang kelas dan tanah disekitarnya dijadikan lahan perkemahan.

COP dengan tim APE Warrior- nya hadir secara resmi di Yogya pada tahun 2010, ditandai dengan meletusnya Gunung Merapi. Tim yang sebelumnya bernama Mobile Education Unit, yang berpangkalan di Jakarta itu segera dikirim ke Yogya dan diganti namanya. APE Warrior tumbuh menjadi hantu bagi para pelaku perdagangan illegal satwa liar. Sejak tahun 2012, COP bersekutu dengan Kementerian Kehutanan dan Kepolisian Indonesia telah melaksanakan 11 kali operasi penggerebekan. 146 satwa liar langka yang yang dilindungi berhasil diselamatkan. Setidaknya 14 orang diinterigasi dan 8 diantaranya telah dipenjara. Tidak diragukan lagi COP adalah salah satu kelompok paling efektif dalam memerangi perdagangan satwa liar di Indonesia. Perdagangan menyebabkan penderitaan yang tak perlu pada satwa liar. Tim ini juga menjalankan perannya dengan baik sebagai lengan kampanye dan penggalangan dukungan publik.

COP SCHOOL BATCH #5 BERLANGSUNG

35 anak muda dari berbagai daerah di Indonesia telah tiba di kawasan Kampus COP di Yogya. Mereka telah lolos seleksi, mengalahkan 85 orang lainnya yang melamar program COP School Batch #5. Program pendidikan ini berlangsung selama 5 hari di Yogya dan 6 bulan penugasan di daerah masing – masing.

COP School diampu oleh para praktisi konservasi seperti Panut Hadisiswoyo (OIC), Jamartin Sihite (BOSF) dan Hardi Baktiantoro (COP). Pada Batch #5 tahun ini, International Fund for Animal Welfare menerjunkan 2 orang staffnya, Jennifer Gardner dan May Felix untuk menjadi pelatih.

Para siswa dan alumni COP School adalah energi segar untuk upaya perlindungan satwa liar di Indonesia. Selepas dari program ini, mereka membantu COP dan berbagai proyek konservasi di Indonesia. COP School telah diikuti oleh 170 anak muda. Selain dari Indonesia, beberapa siswa berasal dari Australia, Korea dan Malaysia.

Page 162 of 179« First...102030...160161162163164...170...Last »