COP’S CAMPUS IS INAUGURATED

A new COP office complex in Yogya has recently been officially opened by Hardi Baktiantoro, Principal of the COP. The complex stands on 1200 square meters of land and it is planned to be used as the base for the APE Warrior team environmental education. At the moment, one building has been constructed, a wooden house in the Javanese style which is commonly referred to as Limasan. Uniquely the materials used in the construction of the house were almost entirely scrap material. Once inaugurated, this complex will be used for the COP school education program “animal activism”. The first building will be used as a classroom and the land around it will become grounds for camping.

Marked by the eruption of Mount Merapi, the COP with APE Warrior, have been formally located in Yogya since 2010,. The previous team, which was based in Jakarta and named The Mobile Education Unit, was then sent to Yogya and changed its name to APE Warrior and grew to spread fear amongst illegal wildlife traders. Since 2012, the COP has aligned itself with The Ministry of Forests and the Indonesian police to undertake 11 raids in which 146 protected wild animals have been rescued. At least 14 people have been interrogated and 8 amongst them have been imprisoned.  There is no doubt that the COP is one of the most effective groups in fighting the illegal wildlife trade in Indonesia.  Wildlife trading causes unnecessary suffering for the animals involved. This team are also effective in campaigning and raising public support.

 

KAMPUS COP DIRESMIKAN

Kompleks baru perkantoran COP di Yogya baru saja diresmikan penggunaannya oleh Hardi Baktiantoro, Principal COP. Kompleks yang berdiri di atas lahan seluas 1200 meter persegi tersebut rencananya akan digunakan sebagai pangkalan tim APE Warrior dan wahana pendidikan lingkungan hidup. Saat ini baru 1 bangunan yang sudah berdiri, sebuah rumah kayu dengan arsitektur Jawa yang biasa disebut degan Limasan. Uniknya, material yang digunakannya, hampir seluruhnya menggunakan bahan bekas. Begitu diresmikan, kompleks ini langsung digunakan untuk program pendidikan “animal activism” COP School. Bangunan utama digunakan sebagai ruang kelas dan tanah disekitarnya dijadikan lahan perkemahan.

COP dengan tim APE Warrior- nya hadir secara resmi di Yogya pada tahun 2010, ditandai dengan meletusnya Gunung Merapi. Tim yang sebelumnya bernama Mobile Education Unit, yang berpangkalan di Jakarta itu segera dikirim ke Yogya dan diganti namanya. APE Warrior tumbuh menjadi hantu bagi para pelaku perdagangan illegal satwa liar. Sejak tahun 2012, COP bersekutu dengan Kementerian Kehutanan dan Kepolisian Indonesia telah melaksanakan 11 kali operasi penggerebekan. 146 satwa liar langka yang yang dilindungi berhasil diselamatkan. Setidaknya 14 orang diinterigasi dan 8 diantaranya telah dipenjara. Tidak diragukan lagi COP adalah salah satu kelompok paling efektif dalam memerangi perdagangan satwa liar di Indonesia. Perdagangan menyebabkan penderitaan yang tak perlu pada satwa liar. Tim ini juga menjalankan perannya dengan baik sebagai lengan kampanye dan penggalangan dukungan publik.

COP SCHOOL BATCH #5 BERLANGSUNG

35 anak muda dari berbagai daerah di Indonesia telah tiba di kawasan Kampus COP di Yogya. Mereka telah lolos seleksi, mengalahkan 85 orang lainnya yang melamar program COP School Batch #5. Program pendidikan ini berlangsung selama 5 hari di Yogya dan 6 bulan penugasan di daerah masing – masing.

COP School diampu oleh para praktisi konservasi seperti Panut Hadisiswoyo (OIC), Jamartin Sihite (BOSF) dan Hardi Baktiantoro (COP). Pada Batch #5 tahun ini, International Fund for Animal Welfare menerjunkan 2 orang staffnya, Jennifer Gardner dan May Felix untuk menjadi pelatih.

Para siswa dan alumni COP School adalah energi segar untuk upaya perlindungan satwa liar di Indonesia. Selepas dari program ini, mereka membantu COP dan berbagai proyek konservasi di Indonesia. COP School telah diikuti oleh 170 anak muda. Selain dari Indonesia, beberapa siswa berasal dari Australia, Korea dan Malaysia.

Yippee, fruit season is coming

Our decision to move all orangutans from our temporary shelter to new centre on April 2015 was right. The fruit season is coming now in Labanan forest, so the orangutans can adapt better to new environment. They may  try various wild fruit while forest school or we can buy it from locals for those who still have to sit the cages like Ambon and Debbie.

 

Keputusan kita untuk memindahkan orangutan dari penampungan sementara ke pusat rehab baru pada bulan April 2015 adalah tepat. Musim buah sedang datang dengan demikian orangutan bisa beradaptasi dengan lebih di lingkungan baru. Mereka boleh mencoba beragam jenis buah liar selama sekolah hutan atau kami membelinya dari masyarakat setempat untuk diberikan pada orangutan yang masih harus duduk di kandang seperti Ambon dan Debbie.

Page 143 of 159« First...102030...141142143144145...150...Last »