DOZENS OF ORANGUTANS LOST THEIR HABITAT IN CENTRAL KALIMANTAN

The APE Crusader team found another threatened orangutan habitat in Lamandau, Central Kalimantan. Our finding is strengthened by the discovery of orangutan nests in the middle of an area that has clearing permission for oil palm plantations. From the survey of orangutan organizations in 2015, it was estimated that there were 0.23 individuals/km2 along 8,500 meters in the plantation area.

Among the pile of logs and a road that cut through the forested area, the team also found 4 nests that were only 200-500 meters away from the road. “This area is an orangutan habitat! The brutal process of clearing forests into oil palm plantations must be stopped,” said Paulinus Kristanto, Habitat Campaigner of COP.

The Act of Indonesia Republic No. 5 of 1990 concerning Conservation of Natural Resources and Ecosystems in article 21 paragraph 2e reads, “taking, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animals” will be punished with a maximum jail sentence of 5 years and a maximum fine of IDR 100 million. (IND)

PULUHAN ORANGUTAN TERANCAM KEHILANGAN HABITAT DI KALTENG
Tim APE Crusader menemukan satu lagi habitat orangutan yang terancam di kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Habitat orangutan diperkuat dengan penemuan sarang yang berada di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil survei organisasi orangutan tahun 2015 diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 sepanjang 8.500 meter di areal perkebunan tersebut.

Di antara tumpukan kayu tebangan dan jalan yang membelah kawasan berhutan, tim juga menemukan 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter. “Kawasan ini merupakan habitat orangutan! Proses pembukaan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit harus dihentikan.”, ujar Paulinus Kristanto, juru kampanye Habitat COP.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam pasal 21 ayat (2) e berbunyi, “mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.”, dengan sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dengan paling banyak Rp 100.000.0000,00. (NUS)

TIDY UP THE TREES AROUND THE ORANGUTAN CAGES

The lush trees at the orangutan rehabilitation centre of COP Borneo, Berau, East Kalimantan, make it hard for sunlight to break into orangutan cages. Though sunlight is very necessary in managing air humidity, especially in the enclosure of COP Borneo. Finally, the team scheduled to trim the branches that block the sunlight from reaching the cage.

Jevri and Amir, two animal keepers who are masters in climbing 15 meters high trees at the school forest, were tasked with trimming the branches. With agility, both of them reached the end of the tree and effortlessly cut the sticky branches. After taking care of the twigs of one tree, they headed to another tree. Instead of going down and climb another, they were crossing over through branches as the bridge. Very similar to orangutans, just not swinging. “So that’s why all the forest school students are so good at climbing and moving from one tree to another.”, said drh. Felisitas Flora. Indeed, one of the added values for animal keeper at COP Borneo is being good at climbing.

COP Borneo orangutan rehabilitation center is the one and only rehabilitation centre founded and run by Indonesian young generation. Even most of people who run the rehab centre of COP Borneo are the local people who live in Merasa village, Berau, the nearest village to the centre. You can support the orangutan protection through kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

MERAPIKAN POHON DI SEKITAR KANDANG ORANGUTAN
Rimbunnya pepohonan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur membuat cahaya matahari sulit menerobos kandang orangutan. Padahal sinar matahari sangat diperlukan agar udara tidak terlalu lembab terutama di kandang orangutan pusat rehabilitasi COP Borneo. Akhirnya, tim mengagendakan untuk memangkas ranting-ranting yang menghalangi sinar matahari sampai ke kandang.

Biasanya, Jevri dan Amir, dua animal keeper yang menjadi andalan dalam memanjat pohon yang tingginya sekitar 15 meter pada saat sekolah hutan berlangsung kali ini bertugas merapikan ranting-ranting. Dengan lincah, keduannya sampai ke ujung pohon dan tanpa kesulitan memotong ranting-ranting yang menjulur. Selesai mengurus ranting di satu pohon, mereka pun menuju ke pohon yang lain. Tidak turun ke tanah malainkan melalui dahan yang menjadi jembatannya. Sangat mirip dengan orangutan, hanya saja tidak berayun. “Wjar saja, siswa sekolah hutan yang diasuh selama ini sangat pandai memanjat dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.”, ujar drh. Felisitas Flora. Memang, salah satu nilai tambah untuk animal keeper di COP Borneo adalah pandai memanjat.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan dan dijalankan oleh putra-putri Indonesia. Sebagian besar yang menjalankan pusat rehabilitasi bahkan orang lokal yang bertempat tinggal di desa terdekat yaitu desa Merasa, Berau. Kamu pun bisa mendukung perlindungan orangutan melalui kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

EVEN STONES ARE ENTERTAINMENTS FOR THE RANGER

Playground does not only belong to children. These well-built but soft-hearted forest guards also love to play. Every forest guard, that usually called as ranger, must obey the agreed rules that one of which is to not bring any smartphones. The rules made in order to focus their attention only on the forest activities. Smartphone can distract the team attention from surroundings through games or music player. “It’s impossible to connect to social media, even telephone network is not available there. “ said Ipeh, a volunteer of APE Guardian team. Then, what will they do on break time?

Creek is rangers’s favorite place to hang, refill water, lunch, coffee break, or even play. Really? Stones around the river are their entertainment. How come? One of them pick 3 stones up then threw it up and catch it in one after another. They were also stacked stones or rock balancing or also known as gravity glue. When break time is up, they will race to throw stones to the pile of rocks at a certain distance. After that, laughter started their afternoon patrol. it’s simple, isnt it?

The rangers are the forest guards who stand on the front line. Because of them, the forest is secured and maintained. Why the forest have to be protected? Today, it’s not only houses or offices that require security but also forests. Guarding a forest is even more difficult, no fences as a border, no signals to communicate if something happens. Rangers keep all the natural wealth in the forest safe. And rangers also need entertainment, like playing stones. Have you ever played stones? If yes, give your comments! (SAR)

BATU PUN MENJADI HIBURAN BAGI RANGER
Dunia bermain tak hanya milik anak-anak. Tak terkecuali para penjaga hutan berbadan tegap namun berhati lembut ini. Setiap penjaga hutan atau ranger harus mematuhi peraturan yang telah disepakati, salah satunya adalah tidak boleh membawa smartphone. Tujuannya adalah agar kita fokus untuk kegiatan di hutan, sebab jika ada smartphone dapat dipastikan akan ada yang bermain game atau mendengarkan musik sehingga mengabaikan keadaan sekitar. “Kalau untuk ber-media sosial itu sih tidak mungkin, signal telepon saja tidak ada.”, ujar Ipeh, relawan tim APE Guardian. Lalu apa yang dilakukan para penjaga hutan saat istirahat?

Anak sungai adalah tempat favorit para ranger untuk beristirahat, mengisi ulang kebutuhan air, tempat makan atau coffee break bahkan bermain. Serius? Batu-batu yang tersebar di sungai adalah hiburan tersendiri buat para ranger. Bagaimana mungkin? Salah satu ranger memungut 3 batu lalu melemparkannya ke atas lalu akan ditangkap dengan bergantian. Ada pula yang mengambil lalu menyusunnya, bahasa kerennya rock balance ada juga yang menyebutnya garvity glue. Setelah waktu istirahat berakhir… mereka akan berebutan mengenai batu yang telah disusun dengan batu dalam jarak tertentu. Selanjutnya gelak tawa pun mengawali patroli siang mereka. Sederhana ya…!

Para ranger adalah para penjaga hutan yang berada di garis depan. Berkat merekalah keamanan hutan terjaga. Kenapa sih hutan harus dijaga? Zaman sekarang, tak hanya perumahan atau perkantoran saja yang memerlukan penjagaan, tapi hutan pun. Bahkan menjaga hutan jauh lebih sulit, tak ada pagar yang mengelilingi, tak ada jaringan telepon yang bisa menembus komunikasi jika terjadi sesuatu, ya pada para ranger lah, kekayaan hutan bisa terjaga. Dan para ranger juga butuh hiburan, yang dengan bermain batu tadi. Kamu pernah bermain batukah? Kalau ya… berikan komentarmu! (IPEH_Orangufriends)

Page 14 of 259« First...1213141516...203040...Last »