A WILDLIFE TRADER WAS ARRESTED IN BANTUL

COP bersama Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia dan Jakarta Animal Aid Network berhasil menyelamatkan bayi beruang madu dari tangan pedangang satwa liar di Bantul, Yogyakarta. Pada 8 Februari 2016 itu, tim juga mengamankan tiga ekor Ular Sanca Bodo, tigabelas anakan Merak, satu Elang Bondol Hitam, satu binturong dan satu bayi Lutung yang semua barang bukti tersebut dititipkan ke Lembaga Konservasi Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta.

Tim Mabes Polri menangkap MZ di tempat tinggalnya Bantul, Yogyakarta. Diduga, MZ adalah pedagang besar satwa liar ilegal untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Tersangka akan menghadapi pasal 21 ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumbaer Daya Alama Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”, kata Daniek Hendarto, manajer Anti Wildlife Crime Centre for Orangutan Protection.

OWI’S DIARY Part I

My name is Owi, I realized it since every time they wanted to give me fruits or asked me to play, they always said that word and I became familiar with the word. It has been almost one year since I was away from home, its colour, its smell, its exuberance, its hustle, its silence; and during that time I have been apart from my mother.

At that time, my vision was still poor and I was always stuck on her chest, before someday in the afternoon a small boom shocked us, right after a flash of light from below, from something that was held by a creature standing on two legs instead of climbing tree, he stayed on the ground.  It was so quick, in a sudden I felt my mother wobbled. Her grip on the tree branches weakened, staggered and slowly slumped before falling to the ground. Fresh red blood flowed from my mother’s chest, just one knuckle from my head. Her heartbeats were getting weaker, her body was getting cold, her face was pale. He tried hard to look at me and say one or two words, but she could not. Tears flowed slowly on her cheeks before mother did not move at all. I just shivered in my helplessness.

The creatures moved slowly approaching us, his steps were voiced by leaves and small twigs crushed by his feet which seemed have no fingers, something seemed to cover and weigh them. He took me, lifted my body, drowned me in his arms and took me away, stepped away from my mother after telling her friend to take care of my mother’s body. I cried, simply because I didn’t understand. At that time, I had no idea at all that that’s going to be my last time I saw my mother and felt her warm caress. (MBO)

CATATAN HARIAN OWI bagian 1

Namaku Owi, aku menyadarinya sejak setiap mereka ingin memberiku buah-buahan atau mengajakku bermain, mereka selalu mengucapkan kata itu dan aku pun menjadi akrab dengan kata itu. Sudah hampir satu tahun aku merasa jauh dari rumah, warnanya, bebauannya, kerimbunannya, keramaiannya serta kesenyapannya, dan selama itu pula aku berpisah dengan Ibu.

Waktu itu mataku masih remang untuk sanggup melihat dan aku masih selalu menempel pada dadanya, sebelum pada suatu sore suara dentuman mengagetkan kami, tepat setelah kilatan cahaya kecil dari bawah, dari sesuatu yang dipegang suatu makhluk yang berdiri dengan dua kakinya dan bukannya memanjat pohon, dia malah di tanah. Kejadian itu seperti kilat, seketika aku merasakan tubuh Ibu goyah, pegangannya terhadap cabang pohon melemah, terhuyung dan perlahan menggelosor sebelum akhirnya jatuh ke permukaan tanah. Cairan merah segar mengalir deras dari dada Ibu, hanya berjarak satu ruas jari dari kepalaku berada. Detak di dadanya semakin melemah, badannya terasa semakin dingin, sayup-sayup wajahnya kosong dan pucat. Tampak dia berusaha keras menatapku dan mengucapkan satu dua kata, namun tak sanggup. Air mata mengalir pelan menjadi ngarai-ngarai kecil pada pipinya sebelum Ibu tidak bergerak sama sekali. Aku hanya menggigil diam dalam ketidakberdayaanku.

Langkah makhluk itu perlahan mendekat, disuarakan oleh daun dan ranting kecil yang remuk oleh pijak kakinya yang nampak tidak berjari, sepertinya sesuatu menyelimuti serta membebani kaki berdirinya. Dia mengambilku, mengangkat tubuh kecilku, menenggelamkanku dalam pelukannya dan membawaku pergi, melangkah menjauhi Ibu setelah menyuruh sebangsanya mengurus tubuh itu. Aku menangis di antara sejenak, hanya karena tidak paham. Sama sekali pada waktu itu tidak ada pikiran bahwa hari itu adalah terakhir kalinya aku melihat Ibuku dan hari terakhir aku merasakan hangat peluknya. (MBO)

THIS IS WHAT SHOULD BE DONE FOR WILD ANIMALS BY THE MINISTER FOR INTERNAL AFFAIRS

Indonesian cyberspace has blown up after TV ONE aired an interview with the Minister for Internal Affairs, Cahyo Kumolo. In this program, the Indonesian Democratic Party of Struggle politician proudly displayed his collection of preserved tigers, leopards and bears, and shared the story of how he came to own the collection. This immediately sparked a great protest and was promptly dealt with in a positive way. The minister’s entire collection was surrendered to the Jakarta Conservation and Natural Resources Agency to be destroyed. But is this ‘problem solved’?

It seems that giving gifts to government officials, in the form of both live and preserved exotic animals, has become tradition in Indonesia. This is a portrait of an indifferent and arrogant attitude. As if government officials are not aware of the rules and regulations! It must be admitted that one of Indonesia’s social problems is a lack of good role models.

Nevertheless, COP and Animals Indonesia believe that we as the citizens of Indonesia have to keep moving forward. Don’t just keep pointing the finger. Cahyo Kumolo, as Minister for Internal Affairs, should have taken full advantage of this incident as best he could to correct his mistake and assist in efforts for wildlife conservation.

The easiest way would be to put in place a policy which would prohibit all national officials from giving or receiving gifts of wild animals, or keeping collections.

If this was carried out, it would be a huge step forward as the number of government employees is at least 5 million, and it would surely make a great impact.

INI YANG HARUSNYA DILAKUKAN MENDAGRI PADA SATWA LIAR

Dunia maya Indonesia geger setelah TV ONE menyiarkan wawancaranya dengan Menteri Dalam Negeri, Cahyo kumolo. Dalam tayangan tersebut, politisi PDIP itu memamerkan koleksi awetan harimau, macan dan beruang. Dia menceritakan bagaimana mendapatkan koleksinya. Hal ini mengundang protes besar dan hebatnya lagi langsung ditanggapi dengan positif. Seluruh koleksinya diserahkan ke BKSDA Jakarta untuk dimusnahkan. Apakah persoalan selesai?

Nampaknya, memberikan hadiah kepada seorang pejabat, baik berupa satwa hidup dan awetan sudah menjadi tradisi di Indonesia. Ini adalah potret sikap masa bodoh dan arogansi. Tidak mungkin para pejabat tersebut tidak tahu pada aturan dan perundang-undangan. Harus diakui bahwa salah satu masalah sosial di Indonesia adalah krisisnya keteladanan baik.

Namun demikian, COP dan Animals menilai bahwa kita sebagai bangsa harus terus bergerak maju. Jangan berhenti pada saling tuding. Sudah seharusnya Cahyo Kumolo selaku Mendagri memanfaatkan momen ini sebaik baiknya untuk mengkoreksi kesalahan dan membantu upaya konservasi satwa liar. Cara yang paling mudah adalah dengan membuat kebijakan yang melarang seluruh aparatur negara memberikan dan menerima hadiah berupa satwa liar, termasuk mengkoleksinya.

Jika ini dilaksanakan, ini bakal menjadi sebuah gerakan besar yang berdampak besar karena jumlah pegawai negeri di Indonesia setidaknya mencapai lima juta orang.

Page 121 of 159« First...102030...119120121122123...130140150...Last »