TWO SUN BEARS TAKE A MEDICAL TEST

There are two sun bears at the office of Natural Resources Agency (BKSDA) Berau, East Kalimantan. The APE Defender team has just taken their blood samples for the lab test. The team did not face any difficulties during anesthesia so the sampling process can run quickly.

Barbie, the female sun bear, has been kept illegally for more than five years. She was still a baby when being pet and grown up for five years with humans. It has made Barbie become so tame. After being confiscated from Bulungan resident and limited human contact in the BKSDA enclosure, currently, Barbie is very difficult to be touched.

The same thing happens for the male sun bear from Kayan Mentarang National Park, Tanjung Selor, East Kalimantan. When arriving at BKSDA Berau, Jantan (the bear name) is still wild. “The condition of the small cage seems to make him stressed. The fur around his face falls down. This has happened since the end of December 2018, “said vet Flora.

The condition of the sun bears is quite good. It prompted the APE Defender team to conduct a deeper medical test for the preparation of their release. The number of Kalimantan sun bears continues to decline, as the forest loss continues. Center for Orangutan Protection together with BKSDA Berau hope that the release of these sun bears can maintain the ecosystem balance. “We believe that every individual of wildlife has an important role in nature,” said Reza Kurniawan, coordinator of the APE Guardian team, a team formed to release wildlife back into their habitat.

Help COP through this site https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan for the release process. (IND)

DUA BERUANG MADU JALANI TES MEDIS
Ada dua beruang madu sebagai penghuni kantor BKSDA Seksi 1 Berau, Kalimantan Timur. Tim APE Defender baru saja mengambil contoh darah untuk diperiksa. Tim tidak begitu mengalami kesulitan saat pembiusan sehingga proses pengambilan sample bisa berjalan dengan cepat.

Beruang madu berjenis kelamin betina yang kami sebut Barbie adalah beruang madu yang telah dipelihara warga secara ilegal selama lebih lima tahun. Lamanya masa pemeliharaan ini dan usianya yang waktu itu masih bayi membuat beruang Barbie menjadi jinak. Namun setelah diserahkan dari warga Bulungan dan terbatas bertemu manusia di kandang BKSDA Berau, Barbie semakin sulit untuk didekati.

Begitu pula dengan beruang madu jantan yang berasal dari Taman Nasional Kayan Mentarang, Tanjung Selor, Kalimantan Timur. Saat tiba di BKSDA SKW 1 Berau, Jantan (panggilannya) hingga saat ini masih sangat liar. “Kondisi kandang yang kecil sepertinya membuat dirinya mulai stres, rambut disekitar mukanya rontok. Ini sudah terjadi sejak akhir Desember 2018 yang lalu.”, ujar drh. Flora prihatin.

Kondisi beruang madu cukup baik ini lah yang mendorong tim APE Defender melakukan pemeriksaan lebih dalam, untuk keperluan pelepasliarannya. Jumlah beruang madu Kalimantan terus mengalami penurunan, seiring semakin hilangnya hutan. Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Berau berharap, kembalinya sepasang beruang madu ini ke alam, dapat menjaga keseimbangan alam. “Kami percaya setiap individu satwa liar memiliki peran penting di alam.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator tim APE Guardian, tim yang terbentuk untuk melepasliarkan satwa kembali ke habitatnya.

STOP TOURISM HUNTING IN PADANG PARIAMAN!

The Center for Orangutan Protection again calls all Orangufriends wherever you are to stop “Tourism Hunting” in Padang Pariaman, West Sumatra.

Again and again! Hunting events with air rifles aimed at squirrels and other pests (excluding protected animals) will be held at SMK 1 Aur Malintang in Padang Pariaman. The event which is organized by Pariaman Sniper Club in Nagari III Koto Aur Malintang Selatan sub-district IV Koto Aur Malintang offers door prizes in the form of LED TVs, Refrigerators, PCP Rifles and other attractive prizes. With only Rp. 20,000.00 registration fee per person, that includes lunch and 1 door prize coupon.
“COP refused and asked the shooting committee, South Malintang Nagari III Koto Aur, to cancel this event!”, Said Hery Susanto, coordinator of COP Anti Wildlife Crime.

Perbakin Pariaman city did not heed the Perbakin letter number 257 / SEKJEN / PB / III / 2018 for all Perbakin administrators that contain not to shoot animals with air rifles.
Pariaman Club Sniper also plans to violate Head of Police Regulation No. 8/2012 concerning Supervision and Control of Firearms for Sport Interest.

We request that the Director General of the Ministry of Environment and Forestry who has issued letter S.31 / PHLHK / PPH / GKM.2 / 3/2018 to enforce the rules of the National Police above.
Shooting animals with air rifles outside the shooting arena is against the law. (EBO)

BATALKAN BERBURU WISATA DI PADANG PARIAMAN
Centre for Orangutan Protection kembali memanggil seluruh Orangufriends dimana pun kamu berada untuk membatalkan “Berburu Wisata” di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Lagi dan lagi! Acara berburu dengan senapan angin dengan sasaran tupai dan hama lainnya (tidak termasuk hewan yang dilindungi) akan dilaksanakan di SMKN 1 Aur Malintang Padang Pariaman. Acara yang diselenggarakan Club Sniper Pariaman di Nagari III Koto Aur Malintang Selatan kecamatan IV Koto Aur Malintang ini berhadiah doorprize berupa TV LED, Kulkas, Senapan PCP dan hadiah menarik lainnya. Hanya dengan Rp 20.000,00 per orang, itu juga sudah termasuk makan siang dan 1 kupon doorprize.

“COP menolak dan meminta panitia pelaksana tembak tupai wisata Nagari III Koto Aur Malintang Selatan untuk membatalkan acara ini!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Perbakin kota Pariaman tidak mengindahkan surat edaran Perbakin nomer 257/SEKJEN/PB/III/2018 untuk seluruh Pengurus Perbakin yang berisi untuk tidak menembak satwa dengan senapan angin.

Club Sniper Pariaman juga berencana melanggar Peraturan Kapolri No 8/2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga.

Kami memohon Dirjen Gakkum KLHK tidak lupa telah mengeluarkan surat S.31/PHLHK/PPH/GKM.2/3/2018 untuk menegakkan aturan Kapolri di atas.

Menembak satwa dengan senapan angin di luar arena menembak adalah melanggar aturan hukum.

MARY UNDERWENT MEDICAL EXAMINATION

On February 19, 2019, the medical team conducted a health check on newly rescued orangutans from Longgie, Berau, East Kalimantan. This small orangutan only weighs 6 kg. She is only 1-2 years old, seen from the number of her teeth which is 20.

Mary, is a wild orangutan. Her movement, which always wanted to climb the clinic enclosure and how she treated leaves and twigs given by the caregiver, made the medical team more alert. In fact, Mary immediately piled leaves and twigs like making nests.

The rescue process for Mary was not easy. The team approached the caretaker several times to avoid unwanted rejection. “Thank God, after being given an explanation, the keeper was willing to give Mary. According to the keeper Mary had been kept since last November 2018. It’s still quite new.”, said vet Flora optimistically.

The results of blood tests will be known in the near future. Hopefully, the results will be good and Mary can immediately join other small orangutans in the forest school class. We need your support to take care of Mary, donate through

MARY MENJALANI PEMERIKSAAN KESEHATAN
19 Pebruari 2019, tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan pada orangutan yang baru diselamatkan dari Longgie, Berau, Kalimantan Timur. Orangutan kecil ini hanya memiliki berat badan 6 kg. Usianya pun baru 1-2 tahun yang diperlihatkan dari jumlah giginya yaitu 20 gigi.

Mary, adalah orangutan yang cukup liar. Gerakannya yang selalu ingin memanjat kandang klinik dan perlakuannya pada daun dan ranting yang diberikan pengasuhnya membuat tim medis lebih waspada. Bahkan, Mary langsung menumpuk daun dan ranting seperti membuat sarang.

Penyelamatan Mary sendiri bukanlah hal yang mudah. Tim beberapa kali mendekati pemelihara agar tidak terjadi penolakan yang tidak diinginkan. “Syukurlah, setelah diberi penjelasan akhirnya pemelihara bersedia menyerahkan Mary. Mary sendiri dipelihara sejak November 2018 yang lalu menurut pengakuannya. Masih cukup baru.”, ujar drh. Flora dengan optimis.

Hasil pemeriksaan darah akan diketahui sekitar dalam waktu dekat ini. Semoga saja, hasilnya baik dan Mary bisa segera bergabung dengan orangutan kecil lainnya di kelas sekolah hutan. Kami membutuhkan dukungan kamu untuk merawat Mary, donasi yuk lewat https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan

Page 12 of 272« First...1011121314...203040...Last »