ORANGUFRIENDS PADANG DALAM LAYANAN SAHABAT PERPUSTAKAAN

Sebuah misi tak akan bisa tercapai tanpa adanya strategi yang jitu. Dan strategi yang harus diciptakan juga harus banyak, tidak cuma satu. Ibarat pepatah ‘Tak satu jalan ke Roma’. Untuk merujudkan sebuah strategi yang jitu, butuh penyatuan banyak pemikiran. Apalagi itu menyangkut demi terciptanya tujuan bersama. Salah satu strategi yang amat sangat mungkin untuk dijalankan adalah bersinergi. Sebagai agen perubahan dalam isu konservasi dan perlindungan alam, bersinergi memang sangat diperlukan. Terutama bersinergi dalam menciptakan peluang untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang konservasi dan perlindungan alam.

Maka, yang dilakukan Orangufriends Padang kali ini adalah bersinergi dengan pemerintah. Orangufriends padang menyadari tanpa dukungan pemerintah semua pekerjaan dalam upaya penyadartahuan masyarakat tentang konservasi dan perlindungan alam, hanya akan sia-sia. Begitu pula sebaliknya. Lewat program ‘Layanan Sahabat Pustaka’ yang dicanangkan Pusat Kearsipan dan Perpusatakaan Daerah Provinsi Sumatera Barat, Orangufriends Padang mencoba memberi kontribusi sambil mengenalkan ‘Literasi Alam’ dengan membuka ‘Kelas Konservasi’ yang sudah dimulai pada Jumat, 14 Februari 2020. Semoga ini dapat menjadi pintu dan juga celas bagi siapapun yang ingin memberikan kontribusi, untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. (novi_OrangufriendsPadang)

ANTAK INGIN KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Pagi ini dingin sekali. Hujan yang turun semalaman membuat hutan semakin basah. Sambil jalan ke kandang orangutan, tebasan daun dan ujung pohon sedikit terkumpul. Untuk teman orangutan yang tak pernah keluar kandang karena sebab tertentu. Kali ini, cerita Antak si orangutan dari kebun binatang.

Mengenal Antak di tahun 2010, saat itu tubuhnya kecil, kurus berada dalam satu kandang bersama Oki, Hercules dan Nigel. Kedatangan COP di kebun binatang itu membawa harapan baru dengan sesekali mengajak Antak ke sekolah hutan. Kandang kawat yang biasanya dipegang beralih dengan memegang pohon. Tak lama kemudian, enclosure pun berdiri. Menjalani hidup tidak dibalik jeruji besi lagi, tapi di pulau buatan kecil yang lumayan besar.

April 2015, Antak pun pindah ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, kembali ke kandang karantina, tidak lama, enam bulan kemudian, sebuah pulau pra pelepasliaran menjadi rumahnya. Tak mudah untuk orangutan dari kebun binatang untuk bisa bersaing hidup di alam liar. Bersaing dengan orangutan jantan lainnya, berebut makanan, berebut pohon dan kalah dari orangutan dominan menjadi pil pahit untuk Antak. Antak harus ditarik kembali ke kandang karantina, berobat dan dalam perawatan intensif. Luka dan kurang gizi menjadi pekerjaan tersendiri untuk tim medis COP Borneo.

Pagi ini, Antak menatap daun yang ada di tangan. Tak banyak, perlahan… Antak mendekati jeruji besi dan mengeluarkan tangannya, meminta daun-daun basah. Usai memilih-milih, dia mengambil daun pisang, daun yang lebar ini, dan meletakkannya di kepalanya. Hujan gerimis semakin lebat… apakah kamu berlindung dari hujan Antak? 

Semoga kamu bisa kembali ke pulau dua atau tiga bulan nanti ya. Bersaing kembali dengan Nigel dan Hercules.

 

‘BANANA NOT BULLET’ DI PADANG

Dunia harus tau, bahwa anak-anak Indonesia tidak diam. Anak-anak Indonesia terus bergerak dan melawan!

Lalu… Kenapa pisang? Dan apa pula hubungannya sama “Hari Berkasih Sayang”? Masih banyak yang belum tahu, kalau senjata api/angin masih menjadi teror yang mengerikan bagi satwa liar, terutama orangutan. Sebagai salah satu kera besar di dunia yang hidup di daratan Asia (indonesia dan sebagian kecil Malaysia), orangutan menjadi simbol bahwa masih saja terus terjadi pembunuhan terhadap satwa liar dengan menggunakan senapan. Pada orangutan saja, dalam kurun waktu kurang 14 tahun (2006-2020) total 914 peluru yang ditemukan bersarang di tubuh mereka yang ditemukan tak berdaya di lahan-lahan yang menjadi konflik (Sumatera dan Kalimantan). 11 diantaranya berujung pada kematian (data yang dihimpun dari seluruh pusat rehabilitasi yang beroperasi di Indonesia). Ironisnya, pada Februari 2018, orangutan ditemukan mati ditembak di Taman Nasional Kutai, kalimantan Timur dan ditemukan 130 peluru.

Dari cerita saya di atas, ini jelas mengerikan! Orangutan merupakan “Umbrella Species” yang memayungi satwa liar lainnya. Bila terhadap orangutan saja kejadiannya seperti itu, bagaimana dengan satwa liar lainnya? Dan kejadian seperti ini juga menegaskan bahwa banyak aturan yang tidak berjalan, salah satunya adalah kepemilikan senjata! Yang jelas-jelas ada Preraturan Kapolri yang mengaturnya. Dimana senjata hanya boleh digunakan untuk olahraga dan di sasaran tembak. Bukan digunakan untuk membunuh satwa liar! 

Nah… lewat “Banana Not Bullet”, saya… kami dari Orangufriends Padang cuman ingin menyampaikan pesan-pesan yang telah diuraikan di atas menjadi lebih sederhana lewat simbol pisang. Bahwa orangutan butuh kasih sayang (perhatian) dari kalian semua. Bukan peluru! Dan saya tidak sendiri melakukan ini. Ada teman-teman saya dari Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Pontianak dan kota-kota lainnya yang menjalankan aksi ini serentak! Bertepatan dengan “Hari Berkasih Sayang”. Orangutan adalah satwa endemik Indonesia. Dan kami (orangufriends) semua… adalah Indonesia! (Novi_OrangufriendsPadang)

 

Page 12 of 318« First...1011121314...203040...Last »