WE HAVE TO PAY THE COST FOR JAILING CRIMINALS

23 people have been jailed as the result of work done by the law enfocerment agencies and the APE WARRIOR TEAM. No doubt that this team is the nightmare for illegal wild animals trade in Indonesia and the crminlas know how to strike back.

Last week, our car suddenly stuck on th street during assignment. The Ford Service Station have confirmed that our car might be sabotaged and experience serious damaged in its engine. What make us so shock is the reparation cost: about 5000 USD.
COP is a very tiny group and not well anticipate for serious trouble like this. Without your support, it quiet difficult for the team to get back to the street to fight. Please, spare some of your money to make repair the APE Warrior. 

This is the link you can follow to donate. We have paypal button:
http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

23 orang sudah dipenjara sebagai hasil kerja yang dilakukan para penegak hukum dan tim APE Warrior. Tidak diragukan lagi, APE WARRIOR adalah mimpi buruk bagi para pedagang satwa liar dan mereka tahu persis bagaimana cara membalas dendamnya.

Minggu lalu, mobil kami mogok tiba – tiba di jalanan selama penugasan. Bengkel Ford mengkonfirmasi bahwa kemungkinan besar mobil kami sudah kena sabotase dan mengalami kerusakan serius di mesinnya. Yang mengangetkan kami adalah biaya perbaikannya yang mencapai 50 juta rupiah lebih.

COP adalah organisasi yang sangat kecil dan tidak mengantasipasi kesulitan seperti ini. Tanpa bantuan anda, tim ini akan sulit sekali kembali ke jalanan untuk bertarung. Mohon, sisakan sedikit uang untuk perbaikan mobil APE Warrior.

Ini tautan donasinya, ada Paypal di sana:
http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

TERIMAKASIH OPPIE ANDARESTA

Ovie Ariesta atau lebih dikenal dengan Oppie Andaresta adalah musisi yang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan hidup. Rabu, 26 April 2017, tepat pada Hari Buku Sedunia, tampil pada Expo & Forum Energi Efficiency di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyajikan album barunya yang mengambil tema sungai, air dan hutan serta orangutan. Bahkan salah satu judul lagu dalam album ini adalah Orangutan. Isi buku dan CD album diilhami dari perjalanan Oppie keliling Indonesia memberikan edukasi untuk anak-anak.

Oppie menyumbangkan 100% keuntungan dari penjualan album yang diberi nama Lagu Dari Tepian Sungai untuk Centre for Orangutan Protection. Hingga saat ini, album Anak Tepian Sungai yang digarapnya bersama Suara Anak Bumi tersedia di iTunes dan sudah terjual 1000 copy. “Untuk kamu yang peduli orangutan, langsung beli albumnya ya.”, ujar Hong June, relawan COP yang berasal dari Korea Selatan.

Sebelumnya, Oppie pernah manggung di acara konser musik amal tahunan Sound For Orangutan 2014 di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta Selatan. Sound For Orangutan adalah kombinasi unik antara musik, photo exhibition, video screening dan fundraising juga penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya. Musisi yang tampil dan yang terlibat rela tidak dibayar karena kepedulian mereka untuk membantu orangutan Indonesia.

Siapa bilang, orang Indonesia tidak peduli satwa liarnya. Mari bersama, bangga pada keanekaragaman hayatinya. Indonesia, peduli orangutan.

WHO IS AMBON?

Ambon is an adult male orangutan from the Botanical Garden of Mulawarman University of Samarinda, East Kalimantan. Beginning in 2010 for the first time COP met him. Ambon was an orangutan with a very big and handsome. At that time, he was made a cage with two other female orangutans, named Jane and Debbie. Several times the cage lock easily cracked, until finally the padlock permanently.

There were strange-looking acts. When the animal keeper feels sorry for his friend’s cage, like Debbie, Ambon looks angry and bites Debbie. There were cuts on some parts of Debbie’s body. Even when a man approaches Debbie, Ambon looks to be aggressive. Is it possible that Ambon prefers men? Jane herself in early October 2010 had to be separated and treated for bleeding and eventually died. While Debbie, until she transferred to COP Borneo, she can escape Ambon’s torment.

Since April 2015, Ambon was transferred to COP Borneo orangutan rehabilitation center to get a second chance, living in the wild. Despite his old age (27 years) among other male orangutans, Ambon has a very benign character and does not like nosy if anyone approaches his cage. He is very good for the size of an adult male orangutan that ever existed, even if the animal keeper delivers food by feeding directly into his mouth, he is not at all aggressive and remains calm. “It’s so sad. Maybe Ambon is too long in the cage and knows humans, “said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo.

However, the other side of the Ambon orangutan, which tends to have a destructive nature, or perhaps does not intend to undermine it, is seen in the cage irons which should have become its hanging hook. Or Ambon wants a real tree that can be climbed. Could it be that he got out of a cage that for the rest of his life limited his movements? (UBANG_COPBORNEO)

Ambon adalah orangutan jantan dewasa yang berasal dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur. Awal tahun 2010 untuk pertama kalinya COP bertemu dengannya. Orangutan yang sangat besar dan gagah. Saat itu, dia dijadikan satu kandang dengan dua orangutan betina lainnya yang bernama Jane dan Debbie. Beberapa kali gembok kandangnya dengan mudah dipatahkannya, hingga akhirnya gembok dibikin secara permanen.

Ada tingkahnya yang terlihat aneh. Saat animal keeper kasihan pada teman satu kandangnya, seperti Debbie, Ambon terlihat marah dan menggigit Debbie. Terdapat luka di beberapa bagian tubuh Debbie. Bahkan saat ada laki-laki yang mendekati Debbie, Ambon terlihat menjadi agresif. Mungkinkah Ambon lebih menyukai laki-laki? Jane sendiri pada awal Oktober 2010 harus dipisahkan dan dirawat karena pendarahan dan akhirnya mati. Sementara Debbie hingga dipindahkan ke COP Borneo baru bisa lepas dari siksaan Ambon.

Sejak April 2015, Ambon dipindahkan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk mendapatkan kesempatan keduanya, hidup di alam liar. Meskipun usianya paling tua (27 tahun) diantara orangutan jantan lainnya, Ambon memiliki karakter yang sangat jinak dan tidak suka usil jika ada yang mendekati kandangnya. Dia sangat baik untuk ukuran orangutan jantan dewasa yang pernah ada, bahkan jika animal keeper memberikan makanan dengan cara langsung menyuapi langsung ke mulutnya, dia sama sekali tidak agresif dan tetap tenang. “Sungguh sangat menyedihkan. Mungkin Ambon terlalu lama berada di kandang dan mengenal manusia.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Namun, sisi lain dari orangutan Ambon, yang cenderung memiliki sifat perusak, atau mungkin dia tidak bermaksud merusaknya, terlihat pada besi-besi kandang yang seharusnya bisa menjadi tumpuannya bergelantungan. Atau Ambon menginginkan pohon yang sesungguhnya yang bisa dipanjatnya. Mungkinkah dia keluar dari kandang yang seumur hidupnya membatasi geraknya? (UBANG_COPBORNEO)

Page 12 of 118« First...1011121314...203040...Last »