KALUHARA ON CRITICAL CONDITION

May 6, 2016. We named orangutan male with seriously wounded on his left foot is Kaluhara.
Tonight, Kaluhara is on critical condition.
We’ll try the best that we can do.
Every 30 minutes, check up his breath, pulse, temperature.
It’ll be a hard night.
Please ‪#‎prayforKaluhara‬ the skinny orangutan from Kandolo village, East Kutai, East Kalimantan.
‪#‎forestwars‬

ONE MORE ORANGUTAN BECAME A VICTIM OF CONFLICT IN EAST BORNEO

Tuesday, May 3, 2016 Kutai National Park received information from local people of Kandolo village, Teluk Pandan, East Kutai that an orangutan was entangled nearby their village.
The veterinarian of APE Crusader team, Centre for Orangutan Protection (COP) gave first aid to the wound on its left foot which was caused by the rope.
“We are currently doing an observation to watch the healing of its left ankle for the next 3 to 5 days to make sure if there is any dead tissue or infection. In order to quicken the tissue growing on the wound and to bring its body back to normal, we will provide medicines and vitamins.”, explained Vet Ade Fitria Alfiani, the veterinarian of APE Crusader team.
His right eye is already damaged and it could not function any more (old wound, no inflammation around the eye) and the sclera of the left eye is getting red-brown but it can still function.
Some wounds are found.
“The findings of this injured orangutan as a victim of human-wildlife conflict, and the bullet which is suspected to be air rifle bullet, prove that the conflict between human and wildlife in East Borneo is a serious matter.”.
Selasa, 3 Mei 2016 Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi dari warga Desa Kandolo, Kec.Teluk Pandan, Kutai Timur tentang adanya orangutan yang terjerat disekitar kampung mereka. Balai TNK langsung bergerak dan membawa orangutan tersebut ke Kantor Seksi TNK di Sangkima.
“Sekarang, kami akan terus melakukan observasi untuk melihat kesembuhan pergelangan kaki kirinya sekitar 3 hingga 5 hari ke depan untuk melihat apakah terjadi kematian jaringan atau infeksi. Untuk membantu mempercepat penumbuhan jaringan pada lukanya kami akan memberikan obat dan vitamin serta menjaga agar kondisi tubuhnya normal kembali.” penjelasan drh.Ade Fitria Alfiani, dokter hewan dari tim APE Crusader.
“Dengan ditemukannya orangutan terluka akibat konflik dengan manusia dan ditambah adanya peluru yang diduga jenis senapan angin ini membuktikan bahwa konflik manusia dan satwa liar di Kalimantan Timur cukup tinggi. Ini kalau menurut panduan Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan yang dikeluarkan oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) disebabkan salah satunya karena hilangnya hutan dengan konservasi tinggi. Orangutan hidupnya menjadi ‘bergabung’ dengan manusia dan terjadilah korban yang kita lihat hari ini.”, ungkap Paulinus Kristianto, Kapten APE Crusader dari COP.

ONE MORE ORANGUTAN BECAME A VICTIM OF CONFLICT IN EAST BORNEO

Bontang, one more human-wildlife conflict occurred in East Borneo. Tuesday, May 3, 2016 Kutai National Park received information from local people of Kandolo village, Teluk Pandan , East Kutai that an orangutan was entangled nearby their village. Balai TNK took an action directly and brought this orangutan to TNK Office in Sangkima.

APE Crusader team made a coordination and left to check the orangutan, then it was brought by Balai TNK to TNK Office in Bontang. The veterinarian of APE Crusader team, Centre for Orangutan Protection (COP) gave first aid to the wound on its left foot which was caused by the rope.

The results of the physical and medical examination on Wednesday, May 4, 2016 are:
1.       It is a male orangutan, indicated to be 20 years old with a skinny body, approximately 20 kg in weight.

2.       The right eye is already damaged and it could not function any more (old wound, no inflammation around the eye) and the sclera of the left eye is getting red-brown but it can still function.

3.       There is an open wound and scars on its left foot. The open wound is very deep up into the bone with a width of 5 cm around the wrist, and there are 400-500 fly larvae on it. The blood is still flowing; tissue seems to be still functioning, although some parts of skin and flesh are decaying.

4.       Some wounds are found:
4.1.       below its right ear and it suspected that there is an air rifle bullet in it.
4.2.       3 cm long on the skin of its shoulder.
4.3.       2 cm wide on the skin of the left side of its stomach
4.4.       3 cm long on the skin of its back
4.5.       two (2) 1 cm long wounds on the skin of its left hand
4.6.       2 cm long on the skin of its hip.

“We are currently doing an observation to watch the healing of its left ankle for the next 3 to 5 days to make sure if there is any dead tissue or infection. In order to quicken the tissue growing on the wound and to bring its body back to normal, we will provide medicines and vitamins.”, explained Vet Ade Fitria Alfiani, the veterinarian of APE Crusader team.

“The findings of this injured orangutan as a victim of human-wildlife conflict, and the bullet which is suspected to be air rifle bullet, prove that the conflict between human and wildlife in East Borneo is a serious matter. According to the Human-Orangutan Conflict Mitigation guidelines issued by Forum Orangutan Indonesia (FORINA), one of the causes of this conflict is the disappearance of the forest which has a high conservation value. Orangutans subsequently live ‘together’ with human and became victims as we see nowadays.”, said Paulinus Kristianto, the captain of APE crusader COP.
 
For more information and interview, please contact:
Paulinus Kristianto (Captain of APE Crusader)
082152828404 / linus@cop.or.id
 
drh. Ade Vitria Alfiani (Veteranarian of APE Crusader)
085643000253

SATU LAGI ORANGUTAN KORBAN KONFLIK DI KALIMANTAN TIMUR

Bontang, konflik manusia dan satwa liar kembali terjadi di Kalimantan Timur. Selasa, 3 Mei 2016 Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi dari warga Desa Kandolo, Kec.Teluk Pandan, Kutai Timur tentang adanya orangutan yang terjerat disekitar kampung mereka. Balai TNK langsung bergerak dan membawa orangutan tersebut ke Kantor Seksi TNK di Sangkima.
Tim APE Crusader berkoordinasi dan melihat langsung orangutan tersebut, kemudian oleh Balai TNK dibawa ke Kantor TNK di Bontang. Pagi ini dokter hewan dari tim APE Crusader, Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan pertolongan pertama untuk luka di kaki kiri yang di akibatkan oleh tali jerat.
Dari pemeriksaan fisik dan tindakan medis pada Rabu, 4 Mei 2016, diketahui :
1. Orangutan berkelamin jantan, usia diperkirakan lebih dari 20 tahun dengan berat badan yang cukup kurus hanya 30 kg.
2. Mata bagian kanan sudah rusak susunannya dan tidak dapat difungsikan kembali (luka sudah lama dengan ditandai tidak ada peradangan di sekitar mata) dan mata kiri bagian sclera sedikit merah kecoklatan namun masih berfungsi.

3. Kaki sebelah kiri ada luka terbuka dan masih terlihat adanya tali bekas jerat. Luka terbuka ke dalam sampai tulang dengan lebar 5 cm melingkar pada pergelangan tangan, dan dipenuhi larva lalat sebanyak 400-500 ekor. Masih ada aliran darah, jaringan terlihat masih hidup, meski terdapat beberapa yang membusuk pada kulit dan daging.
4. Ditemukan luka pada :
1. Luka menonjol pada bawah telinga sebelah kanan dan ditemukan 1 (satu) yang di duga peluru jenis senapan angin di dalamnya.
2. Luka pada kulit bahu 3 cm
3. Luka pada kulit perut bagian kiri selebar 2cm.
4. Luka pada kulit bagian punggung 3cm.
5. Terdapat 2 (dua) luka di kulit telunjuk tangan kiri 1 cm.
6. Luka pada kulit pinggul kanan 2 cm.

“Sekarang, kami akan terus melakukan observasi untuk melihat kesembuhan pergelangan kaki kirinya sekitar 3 hingga 5 hari ke depan untuk melihat apakah terjadi kematian jaringan atau infeksi. Untuk membantu mempercepat penumbuhan jaringan pada lukanya kami akan memberikan obat dan vitamin serta menjaga agar kondisi tubuhnya normal kembali.” penjelasan drh.Ade Fitria Alfiani, dokter hewan dari tim APE Crusader.

“Dengan ditemukannya orangutan terluka akibat konflik dengan manusia dan ditambah adanya peluru yang diduga jenis senapan angin ini membuktikan bahwa konflik manusia dan satwa liar di Kalimantan Timur cukup tinggi. Ini kalau menurut panduan Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan yang dikeluarkan oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) disebabkan salah satunya karena hilangnya hutan dengan konservasi tinggi. Orangutan hidupnya menjadi ‘bergabung’ dengan manusia dan terjadilah korban yang kita lihat hari ini.”, ungkap Paulinus Kristianto, Kapten APE Crusader dari COP.

Untuk informasi dan wawancara silahkan hubungi:

Paulinus Kristianto (Kapten APE Crusader)
082152828404 / linus@cop.or.id

drh.Ade Fitria Alfiani (Dokter Hewan tim APE Crusader)
085643000235

Page 113 of 164« First...102030...111112113114115...120130140...Last »