SEMANGAT SDN 01 KELAY SELAMATKAN ORANGUTAN

Ketigapuluh tujuh anak-anak SD Negeri 01 Kelay Muara Lesan , kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur menatap kami. Bersama Samuel dari Operasi Wallacea Terpadu (OWT), kedua relawan COP menyapa murid-murid dari kelas I hingga VI sekolah dasar ini. Dalam kesederhanaan, mereka belajar penuh semangat.

Kamis ini akan jadi kamis yang berbeda. Lewat alunan lagu ampar-ampar pisang yang dirubah liriknya, Yanto dan Ipeh mengajak anak-anak mengenal orangutan dan hutan. Ya, mereka adalah anak-anak yang bertempat tinggal berbatasan langsung dengan Hutan Lindung Sungai Lesan. HLSL dimana hutan yang merupakan rumah baru untuk orangutan Oki. Orangutan Oki adalah orangutan pertama yang berhasil dilepasliarkan oleh COP Borneo setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Oki adalah orangutan yang berasal dari kebun binatang. Tidak mudah untuk merubah kebiasaan tinggal di kebun binatang yang selalu menghadapi tatapan bahkan sentuhan pengunjung. Lalu bagaimana dengan kabar Oki?

Satwa-satwa endemik yang menjadi penghuni asli hutan pun diperkenalkan. Peran setiap satwa diceritakan, anak-anak pun menjadi paham kenapa harus melindunginya. Bersama-sama mengenal sekeliling, membuat anak-anak semakin tertarik untuk ikut menjaga hutan dan isinya. Suatu semangat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Anak-anak pun bisa menyelamatkan hutan. (REZ)

RELAWAN COP DI SMP NEGERI 10 BERAU

Dua orang relawan APE Guardian mengunjungi SMP Negeri 10 Berau, Muara Lesan, Kalimantan Timur. Ipeh dan Yanto dengan tulus berbagi dengan keduapuluhsatu siswa SMPN 10 Berau ini. Memang tak banyak karena 92% muridnya sudah pada pindah ke kampung Muara Lesan yang baru. Bersama OWT (Operasi Wallacea Terpadu), kedua relawan memperkenalkan pentingnya orangutan untuk Hutan Lindung Sungai Lesan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal para murid.

Tujuh puluh lima menit menjadi begitu singkatnya. Melalui nyanyian dan permaianan, Ipeh dan Yanto mengajak anak-anak kelas VII hingga IX ini rileks. “Tak ada ujian ataupun hukuman di kedatangan kami.”, ujar Ipeh dengan semangat mengawali pertemuan ini. Gambar, poster dan stiker menjadi alat pendukung mereka. “Listrik sangat sulit di sini.”, ujar Yanto prihatin.

Pengenalan satwa endemik Kalimantan khususnya HLSL menjadi materi utama school visit. Tentu saja dengan harapan, meminimalisir konflik antara manusia dan satwa liar. Mereka adalah harapan untuk melindungi lingkungannya. Suatu masa depan yang menentukan keberlangsungan satwa liar di alam. (REZ)

KATA SAKSI PADA KASUS PERDAGANGAN SANTWA BANTUL

Masih ingat tertangkap tangannya pedagang satwa liar di Potorono, Bantul, Yogyakarta pada 5 Agustus 2017 yang lalu? Pada saat itu tim berhasil menyelamatkan 1 binturong, 1 landak, 1 trenggiling, 1 alap-alap sapi, 5 kucing hutan, 2 jelarang dan 2 garangan jawa. Kamis, 16 November 2017 sidang kedua kasus kejahatan ini kembali digelar di Pengadilan Negeri Bantul.

Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan saksi tangkap dari BKSDA Yogya dan Gakum. Selain itu, saksi ahli juga menyampaikan kesaksiannya. Terdakwa dengan inisial W tidak bisa berbicara banyak ketika para saksi menyampaikan pendapat di pengadilan.

Pada sidang yang sempat diundur menjadi pukul 13.30 WIB, Hakim dan Jaksa lebih banyak menanyakan seputar satwa dan regulasinya termasuk juga kondisi di lapangan saat penangkapan. Sedangkan saksi ahli hakim dan jaksa menanyakan jenis satwa yang dilindungi serta jenis apa saja yang masuk dalam barang bukti terdakwa W. Sidang yang berjalan selama 20 menit akan dilanjutkan lagi pada minggu depan dengan agenda saksi yang dapat meringankan.

“Kami inginkan yang terbaik dengan hukuman yang setimpal atas perbuatan terdakwa. Putusan yang ada akan menjadi pelajaran buat masyarakat, bahwa kejahatan perdagangan satwa liar yang dilindungi bukan main-main. Hukum di Indonesia harus ditegakkan.”, tegas Daniek Hendarto, manajer aksi COP. (NIK)

Page 11 of 170« First...910111213...203040...Last »