SIDANG KEDUA KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya sudah memasuki sidang kedua. Rabu, 16 Mei 2018 di Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli menghadirkan drh. Felisitas Flora S.M dari Centre for Orangutan Protection dan Yoyok Sugianto dari BKSDA Kaltim.

Kematian orangutan yang diotopsi pada tanggal 6 Februari 2018 yang lalu memastikan bahwa orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun. Dari hasil rontgen ditemukan 74 peluru pada kepala, 9 peluru pada tangan kanan, 14 peluru pada tangan kiri, 10 peluru pada kaki kanan, 6 peluru pada kaki kiri dan 17 peluru pada dada. Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru senapan angin.

“Ini adalah kasus orangutan dengan peluru terbanyak yang pernah ada. Mudahnya kepemilikan senapan angin ini adalah salah satu penyebab satwa liar menjadi sasaran kebrutalan senapan angin. Teror senapan angin terjadi dimana saja. Peluru senapan angin tidak langsung mematikan, namun jika jumlahnya sebegitu banyak akhirnya membuat orangutan tak berdaya.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

Orangutan tersebut juga ditembak pada kawasan dimana seharusnya dia terlindungi. Taman Nasional Kutai dengan status kawasan konservasi masih juga tak bisa melindungi satwa liar yang dilindungi UU Nomor 5 Tahun 1990. Keempat tersangka masih akan menjalani sidang lanjutan yang akan dilaksanakan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan tersangka. (REZ)

HERCULES TERLIHAT RENOVASI SARANG LAMA

Sebulan sudah Hercules menghuni pulau orangutan sendirian. Tanpa orangutan Ambon yang terlihat lebih besar dan dominan, Hercules menjadi lebih leluasa menjelajah pulau. Berita menggembirakan dari perkembangan Hercules. Hercules terlihat memperbaiki sarang lama bekas orangutan Novi.

“Tak lama setelah Hercules sibuk di sarang lama bekas Novi, hari menjadi gelap. Dan Hercules masih tetap disitu dan tak bergerak. Kemungkinan dia benar-benar tidur di sarang ini.”, ujar Inoy saat mengamati pulau dari camp pantau.

“Ini adalah berita yang menggembirakan. Permulaan yang baik untuk perkembangan Hercules. Harapan itu tak pernah putus, kami di COP Borneo pun menjadi lebih bersemangat lagi. Bahwa tak ada yang tak mungkin!”, tegas Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang, tepatnya Kebun Raya Unmul Samarinda/KRUS. Tahun 2010 yang lalu, Hercules adalah orangutan yang sangat nakal hingga berulang kali keluar dari kandang tanpa jeruji besi/enclosure untuk makan dari warung. Tubuhnya yang besar sempat membuat takut animal keeper yang lain. Namun perkembangan Hercules seperti berhenti, orangutan yang seumuran dengannya berkembang lebih pesat lagi seiring dengan kemampuan bertahan di alam mereka. Seperti membuat sarang, memanjat, mencari pakan alami bahkan bertahan hidup dengan berkelahi dengan orangutan lainnya. Orangutan lainnya, yang sebelumnya menghuni pulau orangutan bersama Hercules sedang menjalani masa karantina untuk pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sementara Hercules ditinggal karena kemampuannya bertahan hidup dianggap tidak memenuhi prasyaratan pelepasliaran tersebut. “Kini, kami bisa kembali berharap, Hercules pun punya harapan untuk kembali ke habitatnya.”, ujar Inoy dengan semangat. (NOY)

COP BORNEO NEED HANDY TALKIE

Smart Phone sudah menjamur menjadi kebutuhan primer yang akan selalu diutamakan untuk bepergian kemana saja. Kantor, warung, pantai ataupun ke tempat pacar. Bahkan bagi beberapa orang, lebih memilih ketinggalan dompetnya dibandingkan ketinggalan smart phone miliknya. Kebutuhan fungsi dari smart phone sendiri sudah dirasa sangat penting dalam menjaga komunikasi di sektor pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Hampir seluruh hal bisa dilakukan dengan smart phone seperti SMS, berbicara, nonton TV, edit foto maupun video bahkan untuk mengerjakan laporan. Komunikasi menjadi hal yang sangt penting bagi kehidupan sekarang. Ini semua tergantung dengan ketersediaan sinyal telepon maupun internet. Lantas bagaimana dengan nasib orang-orang yang tinggal di hutan?

Tidak adanya sinyal membuat fungsi smart phone berkurang lebih dari 50%. Smart phone hanya berfungsi menjadi kamera, mendengarkan musik, main game dan mengetik sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup di hutan dan tanpa sinyal, konflik antar manusia sangatlah rentan terjadi, hal ini disebabkan seringnya mis komunikasi diantara mereka. Kami hanya bisa berkomunikasi jarak dekat. Jika berbeda lokasi, hanya bisa menyampaikan pesan lewat teman yang akan bertemu dengan orang tersebut. “Untuk langsung berteriak? Wah… mustahil karena jarak yang lumayan jauh.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. “Ini cukup menghambat pekerjaan, karena harus saling tunggu menunggu.”, tambahnya lagi.

Dalam maktu dekat ini, COP Borneo akan melepasliarkan 2 individu orangutan terbaiknya. Akan ada 2 titik lokasi rilis dengan 2 tim monitoring. Handy Talkie akan menjadi satu hal vital untuk melancarkan kegiatan ini. Bantu kami yuk lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

Page 11 of 217« First...910111213...203040...Last »