CRITICAL: THE FATE OF 13 ORANGUTANS IN PALM PLANTATION SUSPECTED TO BELONG TO AE CORPORATION

Centre for Orangutan Protection (COP) is urging the AE Corporation to stop endangering the lives of orangutans. This demand is based on COP’s findings regarding the presence of 13 (thirteen) orangutans (Pongo pygmaeus morio) trapped in several small fragmented forests, which are suspected to be within the AE Corporation’s land and/or affected by the company logging the natural forest area to open up a new palm oil plantation in East Kalimantan. As well as orangutans, COP also recorded various rare and protected animal species in this area, such as Müller’s Bornean Gibbon (Hylobates muelleri) and Hornbills (Bucerotidae sp.).

The AE Corporation must act fast to prevent any further crimes such as hunting, which is now very likely. The thirteen orangutans are now an easy target for hunters due to the small size of the remaining forest area and the sparsity of trees. COP considers the capacity of the forest to no longer be sufficient to support these animals, and as a result the orangutans have begun consuming oil palm shoots. The demise of the orangutans in this area is only a matter of time as they will be considered pests.

COP believes a serious mistake has been made in the provision and implementation of permits for palm oil plantations in the aforementioned region. The presence of a rich diversity of wild animal species is evidence that the area would have previously been considered a region of High Conservation Value, which can be considered a crime based on Regulation 5 1990, section 21 paragraph 2 clause (e):
“All persons are prohibited from removing, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animal species.”

The clearing of forests in order to establish a new palm oil plantation poses a threat for the longevity of orangutans and other wild animals in Kalimantan. At least 2000 orangutans have been forced to be evacuated to Orangutan Rescue Centres in Kalimantan and until now the influx of displaced orangutans is showing no signs of stopping.

KRITIS, NASIB 13 ORANGUTAN DI KEBUN SAWIT
Jakarta, Centre for Orangutan Protection (COP) pada 10 Maret 2016 dalam aksi damai mendesak PT. AE untuk berhenti membahayakan nyawa orangutan. Desakan ini didasarkan pada temuan COP mengenai keberadaan 13 (tiga belas) orangutan (Pongo pygmaeus morio)  yang terjebak dalam beberapa hutan kecil yang sudah terfragmentasi, yang mana diduga berada di dalam kawasan konsesi PT. AE dan atau terdampak PT. AE yang melakukan pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit baru di Kalimantan Timur. Selain orangutan, COP juga berhasil mengidentifikasi berbagai jenis satwa liar langka dan dilindungi seperti Owa Abu (Hylobates muelleri) dan Rangkok (Bucherotidae). 

PT. AE harus bergerak cepat untuk mencegah kejahatan lanjutan yang sangat mungkin terjadi, misalnya perburuan. Ke 13 orangutan tersebut merupakan target mudah bagi para pemburu karena sempitnya kawasan yang tersisa dan jarangnya pepohonan. COP menilai bahwa daya dukung kawasan tersebut sudah tidak memadai, karenanya orangutan memakan tunas-tunas kelapa sawit. Dibasminya orangutan di kawasan tersebut hanyalah soal waktu saja karena dianggap sebagai hama. 

COP menilai bahwa telah terjadi kesalahan serius dalam hal pemberian ijin dan pelaksanaan ijin perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut. Keberadaan beragam jenis satwa liar merupakan bukti bahwa kawasan tersebut dulunya memang merupakan kawasan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi (High Conservation Value) dan hal ini bisa dipandang sebagai sebuah kejahatan jika didasarkan pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, pasal 21 ayat 2 point (e): 

“Setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan / sarang satwa yang dilindungi.”

Pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar lainnya di Kalimantan. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke-5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dan hingga sekarang arus pengungsi orangutan belum ada tanda – tanda berhenti. 

AT FIRST IT WAS JUST COP SCHOOL

Bandung, the metropolitan city in which I was born, is more familiar with fashion and cuisine than environmental issues. Until one day, a question suddenly appeared in my mind, “What have I given to nature?” A question that I myself could not answer.

In early 2015, I received information about COP School Batch #5 in Yogyakarta. Without a second thought, I took a shot at applying to be a COP School student for Batch #5. Luckily, I passed the administration phase and was able to proceed to undertaking the assignments given to me by COP. From there I began to learn little by little about the state of the forests and wildlife at the time. It was pretty sad, it seemed.

I passed the selection process and continued on in Yogyakarta. In early June 2015 for the first time I was able to meet face to face with others who had the same desire as I did, to help the lives of wild animals and their habitat. I even acquired new material on everything from orangutans and their enrichment, the rescue process, creating action with presenters that were not only Indonesian people who were experts in their field, but also people from Canada and the Philippines.

At the end of September, I was given the opportunity to become a COP volunteer. Banjarbaru, South Kalimantan, was my first stop. In Van der Pijl Park, I, along with the Banjarbaru orangufriends, Elin Evita and Indira, made renovations to the animal enclosures and fed the animals. I spent 30 hours alongside the APE CRUSADER team, who carried out the rescue of orangutans Septy and Njoto, and brought them to the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Centre, East Kalimantan. Sadness blanketed my mind. My image of a Kalimantan filled with forests vanished. All there was was palm oil plantations, timber plantations, and mines. Even forest fires were considered normal. So this is the real condition of Kalimantan, the place they call the ‘lungs of the world’.

Two months of following the process of “forest school”, caring for sick orangutans, and releasing orangutans onto their own island made the 2015 year a truly meaningful one. Not only that, I even learnt to assimilate with the Dayak tribe that lives in Merasa village. What else are you waiting for! You, too, can be a part of helping to save the wildlife and their habitat by joining COP SCHOOL BATCH #6. You’re guaranteed to make new friends and incredible experiences that you will never forget. (Ikhwanussafa Sadidan, COP School Batch #5 Alumni)

AWALNYA HANYA COP SCHOOL
Bandung yang menjelma menjadi kota metropolitan dimana saya dilahirkan lebih mengenal fashion dan kuliner dibandingkan isu lingkungan. Hingga pada suatu hari, sebuah pertanyaan tiba-tiba hinggap dibenak saya, “Apa yang sudah saya berikan pada alam?” Pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya.

Awal tahun 2015, saya mendapatkan informasi COP School Batch #5 di Yogyakarta. Tanpa berfikir panjang akhirnya saya mencoba untuk mendaftarkan diri menjadi siswa COP School Batch #5 ini. Beruntung saya lolos tahap seleksi administrasi dan bisa lanjut untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh COP. Dari situ saya mulai mengetahui sedikit demi sedikit mengenai keadaan hutan dan satwa saat itu. Cukup miris rasanya.

Lolos seleksi dan melanjutkannya di Yogyakarta. Awal Juni 2015 untuk pertama kalinya saya bertemu langsung dengan teman-teman yang memiliki keinginan yang sama untuk membantu kehidupan satwa liar dan habitatnya. Materi baru pun saya peroleh mulai dari orangutan dan enrichmentnya, bagaimana rescue, membuat aksi dengan pemateri yang tidak hanya orang Indonesia yang ahli di bidangnya, tetapi ada yang dari Canada serta Filipina juga.

Akhir September 2015, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan COP. Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah persinggahan saya yang pertama. Di Taman Van der Pijl saya bersama orangufriends Banjarbaru, Elin Evita dan Indira merenovasi kandang satwa dan memberi pakan satwanya.

Sepanjang 30 jam bersama tim APE CRUSADER yang melakukan rescue orangutan Septy dan Njoto dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Perasaan sedih menyelimuti pikiran saya. Bayangan tentang Kalimantan yang dipenuhi hutan sirna. Yang ada perkebunan sawit, kayu, dan pertambangan. Kebakaran hutan pun seperti hal yang sangat biasa. Ternyata seperti inilah kondisi nyata Kalimantan yang digadang-gadang sebagai paru-paru dunia itu.

Dua bulan mengikuti proses sekolah hutan, merawat orangutan yang sakit, hingga melepasliarkan orangutan ke pulau menjadikan tahun 2015 begitu bermakna. Tidak hanya itu, saya pun belajar berbaur dengan Suku Dayak yang tinggal di desa Merasa. Tunggu apalagi! Mari ikut membantu menyelamatkan satwa dan habitatnya dengan mengikuti COP SCHOOL BATCH #6
Dijamin kalian akan mendapatkan teman dan pengalaman yang hebat dan tak terlupakan.(Ikhwanussafa Sadidan, alumnus COP School Batch #5)

MONIC, THE DIABETIC ORANGUTAN

Monic is a female orangutan at the Gunungbayan Coal Company conservation institute, West Kutai, East Kalimantan. For a month, Monic the orangutan had been limp and lifeless in the clinic. She had been receiving intensive care from the vet nurses to bring back the health of this beautiful girl.
In the beginning, Monic suffered from typhoid and was recovering, but 2 weeks ago she began developing a high fever again,” said Yasin, one of the vet nurses at Gunungbayan Coal.

After some lab testing, Monic tested positive for Dengue Fever. Her temperature hit 40 degrees Celsius for over a week. Her condition at the time forced the nurses to connect an IV, as Monic’s appetite had dropped drastically.

Connecting an IV to on orangutan is not as simple a task as with a human. As they are constantly moving and cannot sit still, the IV can occasionally detach and the team must connect it again and again. Seeing this occurring with Monic, the nurses were forced to immobilise Monic’s left arm in order to secure the IV.

After around 5 days of intensive care, it appeared that Monic’s appetite was beginning to improve. Seeing her health progress, the nurses agreed to remove Monic’s restraints and IV. As they removed the tape around the IV tubes, the nurses were shocked to see swelling on Monic’s palms up to her
fingers. This condition baffled the nurses as the swelling spread rapidly along with open wounds that would not dry out. According to Veterinarian Arifin (COP), “The orangutans wounds are constantly wet due to her own behaviours. She is constantly licking and even picking at the sores. So, they’’re just going to stay in this condition, or even get bigger.”

Seeing the current situation, the nurses and veterinarians decided to move the orangutan from the transit enclosure to a more open place. They then secured her hands and feet to prevent her from trying to touch her wounds.

Afterwards the nurses tested Monic’s blood glucose levels to explore other possible causes for the sores that would not dry out. The results of this test showed that Monic’s glucose levels had hit 221 units. “And just like that we had an answer to those wet sores. Going ahead, it will be much clearer in which direction we should be going with this orangutan’s treatment.”, stated Dr. Arifin. (SAT)

Monic adalah salah satu orangutan betina yang berada di lembaga konservasi PT. Gunung Bayan Coal, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sudah satu bulan lamanya orangutan Monic terkulai lemas di klinik. Perawatan secara intensif dilakukan para perawat satwa untuk memulihkan kembali kesehatan si cantik ini. “Sebelumnya Monic sempat mengalami tipes dan sudah membaik. Akan tetapi mulai 2 minggu yang lalu, ia demam tinggi lagi.”, tutur Yasin salah satu perawat satwa PT. Gunung Bayan Coal.

Setelah dilakukan uji lab, Monic positif Demam Berdarah (DB). Suhu badannya tembus 40 derajat celcius lebih dari 1 minggu. Situasi pada saat itu  membuat perawat terpaksa memasang selang infus karena nafsu makan Monic mulai menurun drastis.

Pemasangan selang infus orangutan memang tidak semudah memasang pada manusia. Karena sering bergerak/tidak bisa diam, terkadang infus lepas dan memaksa tim mengulangi pemasangan. Melihat kondisi seperti ini, para perawat terpaksa melakukan pemasungan pada lengan kirinya untuk mengamankan selang infus.

Selama kurang lebih 5 hari perawatan intensif, terlihat nafsu makan Monic mulai membaik. Melihat progress kesehatan yang semakin membaik, para perawat sepakat untuk melepas pemasungan dan selang infus. Ketika perekat selang infus mulai dibuka, para perawat dikagetkan dengan pembengkakan yang terjadi di telapak tangan sampai pada ruas-ruas jari Monic. Kondisi tersebut sempat membuat bingung karena pembengkakan cepat merambat dan disertai luka yang susah mengering. Bedasarkan penuturan drh. Arifin (COP), “Luka orangutan selalu basah, karena aktivitas orangutan itu sendiri. Dia selalu menjilat-jilat bahkan tak ragu untuk mecukil-cukil lukanya. Jadi ya bakal terus seperti ini, bahkan bisa semakin melebar.”.

Melihat situasi seperti ini para perawat dan dokter hewan berinisiatif memindahkan orangutan dari kandang transit ke tempat yang lebih luas. Kemudian mengamankan ke dua tangan dan kakinya agar tidak menjangkau bagian tubuh yang mengalami luka tersebut.

Setelah itu dilakukan tes kadar gula untuk memastikan kemungkinan lain penyebab  luka yang susah kering. Hasil tes menunjukkan kadar gula orangutan Monic tembus di angka 221. “Terjawab sudah penyebab utama luka yang susah kering. Untuk selanjutnya akan lebih jelas kemana arah penanganan pada orangutan ini.”, ungkap drh. Arifin. (SAT)

Page 108 of 151« First...102030...106107108109110...120130140...Last »