MENGENAL SI ISENG OWI LEBIH DEKAT

Kali ini kita akan berkenalan dengan Owi. Orangutan Owi adalah salah satu siswa sekolah hutan yang berada di pusat réhabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Owi yang masih berusia 2 tahun ini ditemukan pekerja di area perkebunan kelapa sawit. Karena kasihan, pekerja membawanya dan Owi akhirnya dipelihara oleh seorang tentara di daerah Tenggarong. Beruntungnya, Owi akhirnya diserahkan ke COP Borneo dan mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup liar. Sebagai siswa, Owi mengikuti program sekolah hutan. Bayi orangutan tanpa induk ini, tak hanya sendirian. Bersama dua siswa yang lain yang seumurannya, dia berlatih dan bermain.

Owi memang berbeda dengan orangutan yang lain. “Kocak, hingga sering membuat kami tertawa.”, ujar Danel. Owi memang sangat lucu sekaligus paling nakal diantara Bonti dan Happi yang hampir seumuran dengannya. Owi juga sangat rakus dan tak ragu-ragu merampas makanan temannya yang lain. Tak hanya itu, Owi juga sangat iseng dengan menggoda animal keeper yang mengawasinya bahkan menggigit animal keeper saat sekolah hutan berlangsung. Tapi tak hanya animal keeper yang pernah digigitnya, kedua temannya yang selalu mengikutinya juga pernah digigitnya, karena kesal diikuti terus. “Mungkin saat itu ingin privasinya tidak diganggu.”, kata Danel serius.

Owi juga yang paling sulit dipanggil turun saat sekolah hutan harus berakhir. Owi masih asik bermain dan belum puas. Terpaksa animal keeper Jhony memanjat pohon dan menjemputnya. Tapi, jika Owi sudah bosan di atas pohon, dia akan turun dengan sendirinya. (DANEL_COPBorneo).

KREATIFITAS ANIMAL KEEPER UNTUK SEPTI

Gerakannya tidak terlalu banyak. Sekilas melihatnya, dia memang tipe yang kalem dan pendiam. Orangutan betina ini bernama Septiana. Dengan ciri khas rambut yang lebat disekujur tubuhnya, tentunya dia akan sangat disukai orangutan jantan.

Sayangnya, Septi masih harus bersabar. Gerakannya masih terbatas dalam kandang karantina 4×5 meter. Usianya yang 8 tahun dengan tubuh yang besar, sudah bukan lagi berada di sekolah hutan yang biasanya diisi orangutan anak-anak dengan pengawasan babysister maupun animal keeper.

Namun, para animal keeper tak putus asa membuatnya tetap sibuk walau terbatas ruang geraknya. Makan pagi yang biasanya jam 08.00 WITA disajikan dengan tidak mudah. “Kami menyebutnya dengan ‘enrichment’ atau pengkayaan makanan.”, ujar Jhony. Memang menyajikannya jadi lebih rumit. Kami harus mengebor bambu dan mengisinya dengan biji-bijian dan madu. Kami juga memanfaatkan bola kong untuk memasukkan buah-buahan yang sudah dipotong bercampur daun-daun muda ke dalamnya. Sama halnya saat kami memberikan makan malamnya sekitar jam 17.00 WITA. Sesekali mengajaknya berbicara dan bercanda dengan memain-mainkan ranting.

Biasanya di siang hari, kami juga memberikannya ranting dan daun, agar Septi sibuk menyusunnya menjadi sarang sebagai alas tidurnya. Ini semua kami lakukan untuk membuatnya sibuk dan tetap mengasah prilaku alamiah nya. (Jhony_COPBorneo)

HARI PERTAMA YANG MERUBAH DUNIAKU

28 Mei 2006. Siang bolong di Pusat Reintroduksi Orangutan Nyarumenteng. Ada pesan masuk : orangutan besar ditangkap pekerja di perkebunan kelapa sawit PT. Globalindo Alam Perkasa, anak perusahaan Musim Mas. Tim Penyelamat segera bersiap dan melaju ke arah kota Sampit, berburu dengan waktu, agar orangutan itu masih bisa diselamatkan. Lambat bisa mengakibatkan cacat tubuh atau kematian bagi orangutan. 

Kami mengemudi tanpa henti selama 6 jam melalui aspal yang pecah sana sini dilindas truk – truk pengangkut kelapa sawit yang melebihi batas muatan. Dari kota Sampit masih tambah 1 jam lagi ke arah Barat Daya, memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit. Senja mulai turun. Perasaan saya remuk redam menyaksikan pohon – pohon yang baru saja dirobohkan oleh ekskavator. Benar – benar hancur lebur. Untuk mencapai perkebunan Musim Mas, saya harus melewati kawasan konsesi PT. Agro Bukit, anak perusahaan Goodhope Asia Holdings Ltd. Bram Sumantri, paramedis menyela,”Kita sudah me-rescue banyak orangutan dari Agro Bukit, mungkin akan terus berlanjut karena mereka sedang land clearing.”  

Tiba di PT. Globalindo Alam Perkasa sudah sekitar jam 7 malam. Tim langsung menuju ke kantor perkebunan. “Orangutan sudah tidak ada, sudah mati,” kata petugas keamanan. “Saya ingin lihat tubuhnya,” saya ngotot. Lalu kami dipandu ke belakang. Terlihat seorang polisi, yang mengaku bernama Teguh dari Polres Sampit, bersama dengan 2 orang petugas keamanan hendak menguburkan orangutan. Tak terasa, air mata saya meleleh. Apa yang dilakukan mereka sampai orangutan ini tewas? Kami memutuskan untuk membawa jenazah orangutan itu ke Nyarumenteng, malam itu juga. Besoknya akan dilakukan otopsi. 

Hasil otopsi tidak mengejutkan. Tim medis menemukan retak di tengkorak kepala si orangutan. Kemungkinan dipukul dengan benda keras dan tumpul. “Hampir 100% orangutan yang tertangkap perusahaan kelapa sawit menderita luka serius di tangan, kaki dan kepala,” kata Lone Droscher Nielsen, atasan saya waktu itu. “Untuk menangkap orangutan, para pekerja harus memukul kepalanya, lalu mengikat tangan dan kakinya dengan tali plastik atau kawat,” lanjutnya. 

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Semua yang kusaksikan selama 24 jam terakhir sungguh menyiksaku, menakutiku, bahkan menghantuiku. Pada orangutan yang merupakan kerabat dekat manusia secara biologis saja kita berlaku sedemikian kejam, lalu apa yang bisa kita tawarkan pada species lainnya? Saya merasa benar – benar malu. Merasa tidak layak menyebut diri sebagai pecinta alam. Malam itu juga saya berjanji, untuk membalas dendam. 

Page 104 of 202« First...102030...102103104105106...110120130...Last »