OWI DAN FOLLOWER SETIANYA

Kamu punya pengikut? Sejauh apa pengikut mu mengikutimu. Orangutan Owi, kecil dan berada di pedalaman sana punya fans loh.

Hal ini terlihat saat di luar kandang atau di sekolah hutan. Jika Owi memanjat pohon, kedua bayi lainnya akan ikut memanjat. Jika Owi memutuskan bermain di lantai hutan, kedua bayi orangutan itu ya hanya bermain di bawah juga. Lucu dan cukup menghibur bagi para animal keeper yang mengawasi mereka. Ternyata orangutan pun seperti kita, manusia.

Ada pohon yang sangat disukai Owi. Owi sangat suka bermain di pohon yang tinggi dan memiliki akar gantung dimana Owi bisa bergelantungan dan berayun. Tentu saja, tingkahnya ini diikuti kedua bayi yang lain. “Owi punya follower setia!”, ujar Danel sambil tertawa.

Selain kedua bayi itu, aku pun pengikut setianya. Bagaimana tidak, sempat Owi hilang dari pandangan saja, kami semua sudah kalang kabut mencarinya. Memastikan dia baik-baik saja, tambah Danel dengan serius. Ya, tugas animal keeper yang saat itu ikut sekolah hutan adalah memastikan orangutan yang berada di sekolah hutan baik dan terpantau. Buku catatan pun tak lepas dari mereka. Isinya, tentu saja tentang perilaku orangutan yang menjadi tanggung jawabnya hari itu.

Siapakah follower nya? Betul… mereka adalah Bonti dan Happi. Ketiga bayi ini pun bermain di sekolah hutan, dengan pengawasan para animal keeper. (DANEL_COPBorneo)

PERJUANGAN MENYELAMATKAN ORANGUTAN SENO

“Ada orangutan besar sedang makan bibit sawit muda.”, begitu laporan yang masuk ke BKSDA SKW 1 Berau. APE Guardian pun bersiap-siap untuk menuju lokasi. Peralatan medis, jaring, tulup, senapan bius, dart, logistik, kandang sudah siap di mobil. Siang itu, tim berangkat.

Empat jam mengendarai akhirnya tim tiba di simpang desa Batu Redi, Kalimantan Timur. Dua jam mengejar, tim pun bertemu dengan orangutan yang dimaksud. “Kami membiusnya dengan tulup. Medan yang tidak rata yang benar-benar menguras tenaga kami. Naik turun bukit harus kami lalui sambil menggendong orangutan seberat 80 kg.”, ujar drh. Ryan Winardi.

Sungguh menyedihkan, orangutan terpaksa memakan bibit sawit. Kehilangan habitat adalah penyebab orangutan terpaksa memakan tanaman yang bukan pakannya. Hutan hilang berganti perkebunan kelapa sawit, sungai pun mengering menyebabkan orangutan terpaksa bertahan hidup.

Kami memanggilnya dengan Seno. Nama yang sama dengan kepala seksi BKSDA SKW 1 Berau, pak Aganto Seno. Teperosok di tanah yang gembur berulang kali, atau tersandung batang pohon menyulitkan tim bergerak. Sementara hari sudah mulai gelap. “Semangat-semangat. Ayo gantian gendong orangutannya. Keburu siuman.”, ucap Aganto Seno, sambil terengah-engah dengan keringat bercucuran.

Besok paginya, 9 April 2017 tim berangkat ke hutan lindung Wehea untuk melepaskan orangutan Seno. Pintu kandang dibuka Aganto Seno. Tak menunggu lama, orangutan Seno pun segera keluar dan meraih pohon terdekat untuk dipanjatnya. Kepala seksi BKSDA SKW 1 Berau ini pun terlihat haru. “Lelahnya menyelamatkan Seno hilang, bersamaan dengan hilangnya Seno dirimbunnya pepohonan.”

DUA TAHUN COP BORNEO

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection. Pusat rehabilitasi ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang diinisiasi dan dikelolah oleh putra-putri Indonesia. Keterlibatan para pendukung orangutan yang tergabung di orangufriends ikut mewarnai proses pembangunannya. Mereka bekerja secara sukarela untuk mewujudkan mimpi mengembalikan orangutan ke habitat aslinya.

Memasuki tahun keduanya secara formal, COP Borneo berharap semakin mendapat dukungan dari Warga Negara Indonesia. “Kita harus bangga dengan capaian ini.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Tujuh orangutan yang berada di pulau orangutan (University Island) sedang menjalani proses pra rilis. Pulau ini membatasi kontak manusia dengan orangutan. Dapat dipastikan, orangutan tidak pernah bersentuhan dengan manusia lagi. Ini adalah proses akhir sebelum orangutan dilepasliarkan ke habitatnya. “Kami berharap tahun ini bisa mengembalikan mereka ke habitatnya.”, tambah Reza, yang bertanggung jawab pada pusat rehabilitasi ini.

Ada empat bayi orangutan yang berusia kurang dari dua tahun masih dalam perawatan intensif. Dua orangutan yang terkena hepatitis yang membutuhkan santuary sebagai tempat dia menjalani sisa hidupnya. Dan tujuh orangutan lagi yang membutuhkan bantuan untuk bisa ke tahap rehabilitasi lebih lanjut. Semua itu membutuhkan dukungan penuh.

Terimakasih telah mempercayakan dukunganmu pada COP Borneo. Semoga tahun ini adalah tahun kebebasan bagi orangutan yang ada di COP Borneo.

 

Page 102 of 206« First...102030...100101102103104...110120130...Last »