THAT BIG MALE ORANGUTAN WAS KUNTHI

On the 27th of January 2016 a large male orangutan was captured, who had caught the attention of the North Paser community. The orangutan, estimated at over 20 years of age, was captured by residents after entering their settlement. A visual inspection of the orangutan’s condition was made by Veterinarian Ade Fitria from the Centre for Orangutan Protection. The results revealed damage to his left eye – which was no longer functioning, several broken teeth, and mild wounds as well as swelling on his hands and feet, a result of being tied up for over 19 hours.

The following day the large male was given a full examination, which uncovered old wounds as well as new. What was surprising was the discovery of a microchip. Microchips in orangutans are an important mark, in the form of an alphanumerical code, given to an orangutan for individual records after a rescue is carried out. This is important for orangutans that have been rescued previously as the chip contains information about the orangutan’s history.

Yes, the orangutan with the blind left eye and missing teeth was Kunthi, a male orangutan rescued on the 8th of March, 2000 in the Manamang area. At that time he was estimated to be over 13 years old. Five days later, Kunthi was released again on the 13th of March 2000. (ADE)

ORANGUTAN JANTAN BESAR ITU ADALAH KUNTHI

Tertangkapnya orangutan jantan besar pada 27 Januari 2016 yang menarik perhatian masyarakat Paser Utara. Orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun lebih ini merupakan tangkapan warga yang masuk pemukiman. Proses inspeksi (penilaian kondisi tubuh dari luar) pun dilakukan dokter hewan Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection. Hasilnya terlihat rusaknya mata sebelah kiri yang tidak dapat berfungsi untuk melihat kembali, dan beberapa gigi yang patah dan luka ringan pada tangan dan kaki serta bengkaknya tangan dan kaki karena terikat dengan tali lebih dari 19 jam.

Keesokan harinya orangutan jantan dewasa itu diperiksa secara menyeluruh, dengan hasil ditemukannya luka lama dan luka baru. Hal yang mengejutkan adalah ditemukannya microchip. Microchip pada orangutan merupakan penanda (dalam bentuk kode angka dan huruf) yang diberikan untuk pendataan individu setelah dilakukan rescue. Microchip merupakan penanda penting bagi orangutan yang pernah direscue karena adanya catatan tentang orangutan tersebut sebelumnya.

Ya, orangutan dengan sebelah mata buta dan gigi taring rontok itu adalah orangutan Kunthi. Orangutan yang jantan yang diselamatkan pada 8 Maret 2000 di daerah Manamang. Saat itu perkiraan usianya lebih dari 13 tahun. Selang lima hari kemudian, orangutan Kuthi pun dilepasliarkan kembali (13 Maret 2000). (ADE)

ETCHING, SHARE and FUN

Monthly class for January 2016 is a little different than usual because there was a direct practice. The participants practiced the technique which is very rarely used, whereas this technique was highly influential in the development of propaganda or mold reduplication technique. This technique is known as “etching technique”. The monthly class was held in cooperation with a group which is called Club Etsa.

Etching is basically like making prints in a metal plate and it can be used for recuring printing. Metal plate is covered with permanent ink and then painted with scratch-resistant tools such as needles/ spikes.

Excitement occured when the plate was being soaked in  HCL. Everyone was free to pick color and print it repeatedly. Historically, this technique was used for spreading propaganda in order to influence a situation or policy. Hopefully, this technique could be used to say “save orangutans”. (DAN)

Kelas bulanan untuk bulan Januari 2016 ini sedikit berbeda dari biasanya karena ada praktek langsung. Praktek langsung bagaimana teknik cetak yang sudah sangat jarang digunakan padahal teknik ini sangat berpengaruh dalam perkembangan propaganda atau teknik penggandaan cetakan. Teknik ini dikenal dengan nama “etching” dan kelas bulanan Yogyakarta bekerjasama dengan sebuah kelompok kerja seni yg sering disebut Club Etsa Yogyakarta.

Etsa pada dasarnya seperti membuat cetakan dalam lempeng logam dan nantinya bisa digunakan berulang-ulang pencetakannya. Lempengan logam yang ditutupi dengan tinta permanen kemudian dilukis dengan alat gores seperti jarum/paku yang disebut dengan etching.

Keseruan terjadi ketika lempengan sudah diproses dalam rendaman kimia HCL dan siap sebagai bahan utama cetakan. Semua orang bebas menggunakan warna dan mencetaknya berulang-ulang. Dalam sejarahnya cetakan etsa yang penuh dengan propaganda dan disebar sebanyak mungkin digunakan untuk mempengaruhi suatu keadaan atau kebijakan. Semoga teknik ini bisa digunakan untuk mengatakan “selamatkan orangutan”.

ORANGUTAN, BLIND IN ONE EYE AND MISSING TEETH, CAPTURED BY MUARA SAMU RESIDENTS

Centre for Orangutan Protection was contacted by the Conservation and Natural Resources Authority of East Kalimantan about the discovery of an adult male orangutan who had bound by his hands and feet for 19 hours. The orangutan did not want to eat or drink, and appeared stressed and weak on the 27th of January 2016, in Bui village, Muara Samu, East Kalimantan. That afternoon, the Authority requested the help of COP to evacuate the orangutan.

The Head of Section III of the East Kalimantan Authority, Mrs Suriawati Halim stated, “The orangutan has been successfully moved from the site of capture. The move was carried out due to safety concerns and the large number of people wishing to see the animal. At this time the orangutan is being held at the Penajam post.”

“Based on the experience of COP since 2007, almost 100% of orangutans captured by humans are found to have serious injuries on their heads and hands.” Said Ramadhani, COP executive director. “Almost all of this is due to them being seen as pests in palm oil plantations in Kalimantan. If there are reports of conflict between humans and orangutans, our rescue team must act quickly to save them. Standing between them and the plantation workers and hunters.” He added.

The following day, January 28th 2016. Upon first glimpse of the adult male, the COP Team found bruising on the orangutan’s body and swelling on his legs and arms from his restraints. His lower canine tooth was missing and the top tooth cracked. As his face, eyes and lips were free from inflammation, the damage to the teeth was suspected to be from old injuries. However, the examination was cut short as much was still unclear, and it was instead resumed the following day.
On the 29th of January, the orangutan still in the enclosure at the Conservation and Natural Resources Authority Penajam post, Veterinarian Ade Fitria from Centre for Orangutan Protection delivered the results of his examination.

Physical Examination:
Skin: normal, no signs of dehydration; head and back free of lesions. Lesions found on right upper arm and left wrist, as well as chest area. Two outer toes on right foot exhibit swelling containing pus and blood.
Eyes: left eye not functioning and no longer in use. Right eye normal. Conjunctivitis in right and left eyes, appearing pale pink, palpebral reflex still present.
Internal Organ Examination:
Gastro-intestinal system
Teeth: upper left and right canine teeth cracked (old damage), lower left and right canine cracked (recent but no inflammation), one lower incisor missing, minor redness on gums (inflammation) but already in the process of healing. Overall no new inflammation of the gum area.
Intestinal
Peristaltic movement weak due to lack of previous food intake.
Extremities
Arms/hands: swelling on left and right hands due to restraints, no broken bones found.
Legs/feet: swelling in left and right feet due to restraints, no broken bones found.

For information and interview please contact:

Ramadhani
Executive Director, Centre for Orangutan Protection
Phone : 081349271904
email : dhani@cop.or.id

Dr. Ade Fitria
Veterinarian, Centre for Orangutan Protection
Phone : 082152828404
e-mail : ade@cop.or.id

ORANGUTAN DENGAN SEBELAH MATA BUTA DAN GIGI RONTOK TERTANGKAP WARGA MUARA SAMU

PASER – BKSDA Kalimantan Timur menghubungi Centre for Orangutan Protection (COP) tentang ditemukannya satu orangutan jantan dewasa dalam kondisi terikat kaki dan tangannya selama 19 jam. Orangutan tersebut tidak mau makan dan minum, terlihat stres dan lemas pada 27 Januari 2016 di desa Bui, Muara Samu, Kalimantan Timur. Sore itu, BKSDA Kaltim meminta bantuan COP untuk mengevakuasi orangutan tersebut.

Kepala Seksi III BKSDA Kalimantan Timur, Ibu Suriawati Halim, S.Hut., M.P. menyampaikan, “Orangutan sudah berhasil dipindahkan dari lokasi tertangkap. Pemindahan ini dilakukan karena kawatir keamanan dan terlalu ramainya orang yang ingin melihat. Saat ini orangutan berada di Pos Penajam.”

“Berdasarkan pengalaman COP sejak tahun 2007, hampir 100% orangutan yang ditangkap manusia mengalami luka serius di kepala dan tangan.”, ujar Ramadhani, direktur pelaksana COP. “Hampir seluruhnya karena dianggap hama perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Jika ada laporan konflik antara manusia dan orangutan, tim penyelamat kami harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya. Beradu cepat dengan para pekerja perkebunan dan pemburu.”, tambahnya.

Keesokan harinya, 28 Januari 2016. Saat pertama kali Tim Centre for Orangutan Protection melihat pada orangutan jantan dewasa ini terdapat memar di bagian tubuh dan bengkak di bagian kaki maupun tangan karena ikatan tali. Gigi taring bawah hilang dan gigi taring atas patah. Tidak terlihat peradangan baru di area muka, mata maupun bibir, diduga luka lama. Namun pemeriksaan terpaksa diberhentikan karena penerangan yang sangat kurang, dan akan dilanjutkan hari berikutnya.

Masih di kandang BKSDA Kalimantan Timur pos Penajam, drh. Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection pada 29 Januari 2016 menyampaikan hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan Fisik:

Rambut : bersih, kusam dan lebat, tidak ada kerontokan.

Kulit : normal tidak mengalami dehidrasi; bagian kepala, punggung tidak terdapat lesi, pada tangan atas kanan dan kiri bagian pergelangan tangan terdapat lesi; pada bagian dada terdapat lesi; pada bagian kaki kanan jari kelingking dan jari manis kaki mengalami pembengkakkan berisi nanah dan darah.

Limphoglandula : tidak ditemukan adanya pembengkakkan pada lgl. superficial.

Mata : bagian kiri sudah tidak dalam kondisi normal dan sudah tidak adapat digunakan untuk melihat, mata sebelah kanan masih dalam keadaan normal. Conjunctiva kanan dan kiri terlihat pink pucat dan masih memiliki reflek pelpebra.

Telinga : tidak ditemukan adanya perubahan.

Pemeriksaan Sistem Organ:

Sistem Gastro Intestinal

Mulut : tidak ditemukan adanya perubahan

Gigi : gigi caninus bagian atas kanan dan kiri patah (sudah lama), gigi caninus bagian bawah kanan dan kiri patah (masih baru tapi sudah tidak ada proses peradangan), dan satu gigi incisor bagian bawah tercabut sedikit ditemukan kemerahan pada gusi (proses peradangan) namun sudah dalam proses kesembuhan. Secara umum tidak ada peradangan baru pada daerah gusi.

Intestinal : gerak peristaltik lemah (karena tidak adanya asupan makanan sebelumnya)

Rektum : bersih tidak ada perubahan

Sistem Kardiopulmoner

Hidung : tidak ada luka maupun exsudat

Pulmo : terdengar vesicular dan tidak ada perubahan

Jantung : auskultasi daerah cardia terdengar sistol diastole yang dapat dibedakan dan ritmis

Sistem Urogenital

Genitalia eksternal : tidak ada kelukaan

Sistem Extremitas

Tangan : tangan kanan dan kiri mengalami bengkak karena ikatan tali, tidak ditemukan adanya tulang patah

Kaki : kaki kiri dan kanan mengalami bengkak karena ikatan tali, tidak ditemukan tulang patah

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani

Direktur Pelaksana Centre for Orangutan Protection

Phone : 081349271904

email : dhani@cop.or.id

drh. Ade Fitria

Dokter hewan Centre for Orangutan Protection

Phone : 082152828404

e-mail : ade@cop.or.id

Page 100 of 134« First...102030...9899100101102...110120130...Last »