WHO IS COP AND WHAT IS ORANGUFRIENDS?

* If you watch Animal Planet, National Geographic or Discovery Channel, even though the contents are Indonesian nature and wildlife but how come it is occupied by foreigner? This is weird, why the wildlife of Indonesia is handled by foreigner? Where are Indonesian people?
* Then there is a kind of opinion that evolves in the communities that foreigner cares, and Indonesian doesn’t. And the perception that it is normal is also evolving.
* Departing from such reality, some Indonesian youths are determined to prove that we can do what foreigner does. Proving that Indonesian youths are capable to manage Indonesian wildlife and wild nature themselves. Then, they founded COP.

* Why orang-utans? Because Panda is identical to China and Elephants are identical to Thailand. Well then, we just take the orangutan. After all, this is the only great ape in Asia. Only in Indonesia and a few in Malaysia. And this is a bit ironic that Malaysia, which has fewer orangutans, is more popular as nature conservation destination to see orang-utans. Indonesia that has orang-utans but Malaysia that grabs billion of dollars from orangutan tourism. So, let’s grab that reputation!

* Another reason why orangutans is communication strategy. This is the entry point to something bigger, namely: Animal – People – Environment. If we use Snake Protection, it will be difficult because people will be afraid from the start, won’t they? And in fact, working in orangutan conservation is a strategic and intelligent step to protect other types of wildlife. Which also has direct impacts on the local community and its environment.

* Well, what about Orangufriends? COP realises that this is a considerable work that is not possible to be done by few people. Nature conservation should be a mass movement, become a part of Indonesia social responsibility and lifestyle. Because of that, COP formed a support group to become a member of Orangufriends.

* It is easy. Don’t have to take a hard training like nature-lovers club does. No punishments, no push-ups, etc. Why make it difficult to care? So, to become Orangufriends member you just have to fill the forms and pay contribution, also agree to obey values of conservationist, such as not hunting/poaching wild animals, not making pet of wild animals or sell them. After becoming member, it is also easy to participate. For those who doesn’t have much time, you can just ‘like, comment, and share’ on social media. We call them Cyber Campaigner. In the current era of New Media, their stregth becomes a decisive factor in winning or losing the opinion war against the perpetrators of crime and cruelty to animals. Those who have much time can also help in education and awareness activities directly, such as exhibitions, school visit, music events or festivals. Those who are dare and crazy enough are welcome to spend time being members of Rescue, Rehab, and Release team or Law Enforcement team.

*Orangufriends is also a great place for self-development for youth. Learn many things from each other from various regions and various countries. Opportunities to travel in various assignments. No more story of unemployed after graduating because of no life-skill and connections/networking.

* For those who are serious to learn deeper, COP also educates a new generation of wildlife protectors since 2011. Commonly called COP School. This is a training and indoctrination program designed specifically for young people who want to work in nature conservation world. Only 35 students a year, get a scholarship and certainly, there is an entry selection.

* If you are already a member of Orangufriends or have graduated from COP School, what activities will you do? Read again the explanation above hehehe. But for sure, this makes us different from other young people who can only take a selfie and write ‘My Trip My Adventure’ caption, It’s about real work as a member of style – funky – global team. (SAR)

SIAPA COP dan APA ITU ORANGUFRIENDS?
* Jika kalian menonton Animal Planet, National Geographic atau Discovery Channel, meskipun isi acaranya satwa liar dan alam Indonesia tapi kok isinya orang asing? Ini aneh, kenapa satwa liar dan alam liar di Indonesia tapi yang menanganinya kok orang – orang asing? Ke manakah anak – anak bangsa Indonesia?
* Lalu ada semacam opini yang berkembang di masyarakat bahwa orang bule itu peduli, kalau orang Indonesia tidak. Lalu berkembang pula persepsi bahwa itu memang sudah sewajarnya.
* Berangkat dari realitas semacam itu, beberapa anak bangsa Indonesia bertekad untuk membuktikan bahwa kita bisa. Membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mengelola satwa liar dan alam liar sendiri. Lalu mereka mendirikan COP.

* Mengapa orangutan? Karena mau pakai Panda sudah telanjur identik dengan China. Mau Gajah sudah telanjur identik dengan Thailand. Ya sudah, kita pakai Orangutan aja. Lagipula ini satu – satunya kera besar di Asia. Hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Lagipula, ini sedikit ironis sebenarnya. Malaysia yang punya sedikit orangutan malah lebih ngetop sebagai tujuan wisata konservasi alam untuk melihat orangutan daripada Indonesia. Indonesia yang punya orangutan tapi Malaysia yang panen milyaran dolar dari wisata orangutan. Jadi, mari kita rebut reputasi itu.

* Alasan lain kenapa orangutan adalah strategi komunikasi saja. Ini hanya entry point untuk sesuatu yang lebih besar, yakni: Animal – People – Enviroment. Kalau kita pakai perlindungan ular, akan sangat sulit karena orang sudah merasa takut duluan. Ya kan? Dan pada kenyataannya, kerja konservasi orangutan ini ternyata langkah strategis dan cerdas untuk melindungi jenis satwa liar lainnya. Yangmana jika kita telusuri juga berdampak langsung pada masyarakat setempat dan lingkungannya.

* Nah, bagaimana dengan Orangufriends? COP sadar bahwa ini adalah kerja besar yang tidak mungkin dilakukan oleh segelintir orang. Sudah seharusnya konservasi alam menjadi gerakan massa. Menjadi bagian dari tanggung sosial masyarakat Indonesia dan gaya hidup. Karena itu COP membentuk kelompok pendukung untuk menjadi anggota Orangufriends.

* Caranya mudah. Tidak harus mengikuti pendidikan yang keras seperti kelompok pecinta alam. Tidak ada hukuman tidak ada push up dll. Mau peduli aja kok susah. Jadi, untuk jadi anggota Orangufriends cukup dengan isi Fomulir anggota dan bayar iuran, serta sepakat untuk mentaati nilai – nilai yang patut bagi konservasionis, misalnya tidak berburu satwa liar, tidak memelihara atau jual beli. Setelah jadi anggota juga mudah untuk berpartisipasi. Yang tidak punya waktu cukup like, comment dan share di medsos. Kami mengebutnya dengan Cyber Campaigner. Di era New Media saat ini, kekuatan mereka menjadi faktor penentu kalah menangnya perang opini melawan pelaku kejahatan dan kekejaman terhadap satwa. Yang punya banyak waktu juga bisa membantu secara langsung dalam kegiatan pendidikan dan penyadaran seperti pameran, kunjungan ke sekolah, event – event musik atau festival. Yang gila dan nekat bisa menghabiskan waktu dengan jadi anggota tim Rescue Rehab Release atau anggota tim penegakan hukum.

* Orangufriends juga wahana yang bagus untuk mengembangkan diri bagi anak – anak muda. Belajar banyak dari yang lain dari berbagai daerah dan berbagai negara. Berkesempatan bepergian dalam berbagai penugasan. Gak ada lagi ceritanya lulus kuliah menganggur karena tidak punya life skill dan jaringan kerja / koneksi.

* Bagi kalian yang serius ingin belajar lebih dalam, COP juga mendidik generasi baru para pelindung satwa liar sejak tahun 2011. Biasa disebut COP School. Ini adalah program pelatihan dan indoktrinasi yang dirancang khusus bagi anak muda yang ingin berkarier di dunia konservasi alam. Hanya 35 orang pertahun, dapat beasiswa dan pastinya ada seleksi masuknya.

* Kalau sudah jadi anggota Orangufriends atau lulus COP School, lalu kegiatannya apa? Baca lagi penjelasan di atas hehehe. Tapi, yang pasti, ini membuat kita beda dengan anak muda lainnnya yang cuma bisa selfie dan bikin caption My Trip My Adventure. Ini tentang kerja nyata sebagai anggota tim yang gaya – gaul – global. (BAK)

HELP ANIMALS IN BKSDA CENTRAL SULAWESI

Today the Animals Warrior team went to Palu, to the office of BKSDA Central Sulawesi. The area around their office is still paralyzed by the earthquake that occurred on September 28, 2018. At the BKSDA office, there is 1 crocodile, 1 eagle, 2 Moluccan cockatoos, 2 yellow-crested cockatoos, 5 black head parrots, 1 parrot, and 2 maleo birds. These animals are confiscated by the BKSDA Central Sulawesi.

Since the earthquake occurred, the animals were in cages without eating or drinking because all of the BKSDA staff were affected by the disaster. This morning, the team communicated briefly with the keeper and offered temporary maintenance there. The team also provided fresh fruit and corn to feed the animals, and luckily the fruit market return to open. Don’t forget drinking water for these animals. These are all the activities that will be carried out during disaster response.

Center for Orangutan Protection with Animals Indonesia made BKSDA Central Sulawesi office as a rescue post. For those of you who care about animals in Palu can show your support by sending animal food to Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu 94121 or click https://kitabisa.com/bantusatwapalu

BANTU SATWA GEMPA DI BKSDA SULTENG
Hari ini tim Animals Warrior yang terjun ke Palu datang ke kantor BKSDA Sulawesi Tengah. Daerah sekitar kantornya masih lumpuh karena gempa yang terjadi 28 September 2018 ini. Di kantor BKSDA terdapat 1 buaya, 1 elang, 2 kakatua molucencis, 2 kakatua jambul kuning, 5 nuri kepala hitam, 1 bayan dan 2 burung maleo. Satwa-satwa tersebut merupakan sitaan BKSDA Sulteng.

Sejak gempa terjadi, meraka yang di kandang tanpa makan dan minuman karena semua staf BKSDA Sulteng terdampak bencana ini. Pagi tadi, tim berkomunikasi singkat dengan penjaga dan menawarkan pemeliharaan sementara di sana. Tim pun memberikan pakan buah segar dan jangung yang kebetulan sekali sudah ada penjual buah yang berjualan. Tak lupa air minum untuk satwa-satwa tersebut. Ini merupakan kegiatan yang akan dilakukan selama tanggap bencana.

Centre for Orangutan Protection bersama Animals Indonesia menjadikan tempat di BKSDA Sulteng sebagai posko dan tinggal tim. Bagi kamu yang peduli satwa di Palu bisa mengirimkan bantuan berupa pakan satwa ke Jl. Prof M. Yamin No 19 Palu 94121 atau klik https://kitabisa.com/bantusatwapalu

THE BEST NEWS FROM JOJO

Jojo is an orangutan rescued by the Center for Orangutan Protection in April 2018. During the last five months, Jojo has also undergone a rehabilitation center curriculum. Orangutan Jojo was unable to follow the routine of forest school like other orangutan babies because the results of the medical checkup found that Jojo suffered from hepatitis B.

COP Medical Team conducted another test through PCR. The result showed that hepatitis suffered by Jojo is an orangutan strain and Jojo was declared able to join other baby orangutans. “Really, this is very encouraging news,” said Wety Rupiana.

September 28 this will be a history for Jojo and us. Jojo underwent forest school for the first time. Jojo orangutan looks very stiff when he met another baby orangutan. Jojo looks like he is still adapting to our forest school environment. Let’s help COP Borneo take care of Jojo through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan and look forward to the next Jojo story. (IND)

BERITA TERBAIK DARI JOJO
Jojo, adalah orangutan yang diselamatkan oleh Centre for Orangutan Protection pada bulan April 2018. Selama lima bulan terakhir ini, Jojo pun menjalani kurikulum pusat rehabilitasi. Orangutan Jojo tidak dapat mengikuti rutinitas sekolah hutan seperti bayi orangutan lainnya karena dari hasil MCU, Jojo menderita penyakit hepatitis B.

Tim Medis COP kembali melakukan pengujian melalui PCR dan hasilnya, hepatitis yang diderita oleh orangutan Jojoadalah strain orangutan dan Jojo dinyatakan bisa bergabung dengan bayi orangutan lainnya. “Sungguh, ini adalah berita yang sangat menggembirakan.”, ujar Wety Rupiana.

28 September ini akan menjadi sejarah bagi kami untuk Jojo. Jojo menjalani sekolah hutan untuk pertama kalinya. Orangutan Jojo terlihat sangat kaku waktu bertemu dengan bayi orangutan lainnya. Jojo terlihat masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah hutannya ini. Yuk bantu COP Borneo merawat Jojo melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan dan nantikan cerita Jojo selanjutnya. (WET)

Page 10 of 242« First...89101112...203040...Last »