Orangufriends

2016, Jalan Pulang Ke Rumah

2015 adalah tahun yang hebat. Kita telah mengambil langkah – langkah besar untuk membawa orangutan pulang ke habitatnya alaminya. Dimulai dari memindahkan orangutan dari kebun binatang Samarinda ke Pusat Penyelamatan yang baru di hutan penelitian Labanan hingga mempersiapkan pelepasliaran. Pulau untuk Pra Pelepasliaran sudah berhadil dibeli dengan dana yang dihimpun dari konser musik Sound for Orangutan di Yogya dan Samarinda. Pelepasliaran ke habitat alaminya di sebuah Cagar Alam hanyalah soal waktu belaka di tahun 2016.

Pusat Penyelamatan ini juga menjadi harapan baru bagi orangutan yang sebelumnya menjalani hari – hari yang buruk di peliharaan ilegal. Unyil adalah salah satu contohnya. Selama kurang lebih  5 tahunan, dia tinggal di dalam peti kayu di dalam sebuah toilet. Saat anda membaca laporan ini, Unyil sedang belajar menjadi orangutan liar di sekolah hutan. Dia belajar memanjat pohon, membuat sarang dan menemukan pakan alami.

Bagi kami, kasus Unyil adalah alasan kenapa kami harus memerangi perdagangan satwa liar. Hanya dengan penegakan hukum yang keras, perdagangan dapat dihentikan. Penjara adalah ruang kelas terbaik bagi para pedagang untuk belajar memahami kenapa satwa liar tidak boleh diperdagangkan. Berita di media mengenai penegakan hukum adalah bentuk sosialisasi terbaik untuk masyarakat pecinta satwa agar tidak main – main dengan satwa liar. Karena itulah kami   bekerja keras bersama aparat penegak hukum memburu para pedagang satwa liar agar trend pemeliharaan orangutan secara illegal dapat segera berakhir. 2 orang berhasil dipenjara dan 4 bayi orangutan telah berhasil diselamatkan selama tahun 2015.

2015 juga tahun yang sangat panas. Gejala alam El Nino, budaya bakar untuk membuka lahan perladangan dan ulah spekulan tanah adalah kombinasi yang daya rusaknya luar biasa. Kami telah mempersiapkan diri dengan baik. SOP disusun dan peralatan disiapkan. Simulasi dilakukan untuk mengantispasi kebakaran. Kami berhasil melaluinya dengan baik saat kebakaran hebat itu terjadi. Kami juga tidak tinggal diam melihat api mengancam orangutan di Hutan LIndung Sungai Wain dan Taman Nasional Tanjung Puting. Bersama dengan mitra setempat, kami bekerja bahu membahu memadamkan api. Kebakaran juga menyebabkan semakin menyempitnya habitat. Orangutan harus bersaing lebih keras untuk memperebutkan ruang hidup dan pakan. Konflik dengan masyarakat menjadi tak terhindarkan. Ini artinya tim penyelamat kami harus bekerja keras lagi dan pusat penyelematan harus selalu dalam keaadaan siap untuk menerima pengungsi baru.

Meskipun nampak berat, kami sangat optimis untuk dapat melaluinya, karena kami punya anda, para Orangufriends yang bangga dan militan. Selain itu, kita juga sangat beruntung mendapatkan staff – staf baru yang muda dan berdedikasi tinggi. Wajar mereka adalah para alumni COP School. Mereka adalah Bintang Dian Pertiwi. Dia akan bertugas sebagai staff legal. Tugasnya memerangi kejahatan terhadap satwa liar. Selanjutnya ada Ade Fitria Yuliani. Dokter hewan ini akan bertugas sebagai kru APE Crusader dan yang terakhir adalah Zakia. Gadis yang mahir berbahasa Ingrris dan Jerman ini siap bekrja sebagai staff komunikasi, dengan tugas mengerahkan dukungan massa.

Sementara itu di Pusat Reintroduksi Orangutan, kami terus berbenah. Pulau Bawan Kecil kini telah  dibeli dan ditinggali oleh 7 orangutan. Ini adalah perhentian terkahir sebelum mereka dilepasliarkan pada semester awal 2016. Kami sedang mengupayakan pembelian Pula Bawan Besar dan tanah – tanah disekitarnya untuk mendukung program pra pelepasliaran. Ada banyak hal yang harus dibereskan dalam hal ini. Punya uang saja tidak cukup. Kami harus melakukan sosialisasi dan bekerja dengan masyarakat setempat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan rencana. Sekali lagi, terima kasih untuk Orangufriends yang bekerja tanpa lelah mengumpulkan dana pemebelian pulau dan perahu beserta mesinnya.

Ada juga cerita sedih di awal tahun 2016. Setelah hampir setahun berbaur dengan tim APE Defender menjalankan Pusat Reintroduksi Orangutan Borneo, kini tim APE Crusader harus kembali ke jalanan: memerangi para penjahat kehutanan. Mereka akan menyelidiki, mendokumentasikan dan mempublikasikan temuan mereka agar penegak hukum bergerak. Kami bertekad agar tahun 2016 menjadi tahun yang berat bagi para pembabat hutan, pemburu dan pedagang satwa. Dan kami sudah punya rencana kerja yang matang untuk itu. Saat ini yang kami butuhkan hanya dukungan anda semua: Orangufriends yang bangga.

ORANGUFRIENDS BOUGHT AN ISLAND FOR ORANGUTANS

Couple weeks ago, the members of Orangufriends organised charity music concert titled Sound For Orangutan. They raised 2000 dollar. We agreed to use the money to buy an island in the stream of Kelay River, East Kalimantan. This island will be use as university or pre release site before the rehab orangs being released back to wild next year.

Now we need to buy a boat and also enrich the island. We need at least 2500 for this project. This could the best Christmas gift ever for orangutans. Just hit the donation button:

https://www.facebook.com/saveordelete/app/415675701824636/

Beberapa minggu lalu, para anggota Orangufriends mengadakan pertunjukan musik amal bertajuk Sound For Orangutan. Mereka berhasil menggalang dana sebesar 20 jutaan rupiah. Kita telah sepakat menggunakannya untuk membeli sebuah pulau di aliran sungai Kelay di Kalimantan Timur. Pulau ini akan difungsikan sebagai universitas atau pulau pra pelepasliaran sebelum orangutan rehab kami dilepasliarkan ke alam bebas tahun depan.

Saat ini kami membutuhkan dana untuk membeli sebuah perahu dan juga memperkaya pulau. Kami membutuhkan setidaknya 25 jutaan untuk proyek ini. Ini mungkin akan menjadi kado Natal terbaik bagi orangutan. Klik saja tombol donasi di atas ya. TERIMA KASIH.

LIFE OF YANTI

She is #orangufriends #orangufriendaward2014

COP #proudofOrangufriends

It’s been 13 years that this veterinarian has been taking on wild animals. She began her career handling issues of threatened wildlife species in Indonesia, from confiscations and illegal trafficking to the rescue of victims of conflict in East Java and Bali.

As a consultant veterinarian in the Tiger Protection and Conservation Unit team in Kerinci Seblat National Park, Sumatra, Dr. Yanti shared a canoe with a Sumatran tiger. This is the eleventh live tiger that has been rescued in the last 8 years.

Alongside the Tiger Rescue Unit of the Conservation of Natural Resources Agency, Bengkulu, Dr. Yanti relocated two Sumatran tigers on the 28th of October 2015. One of these tigers had been caught in a hunter’s snare in a palm oil plantation, while the other was a victim of human conflict. It is suspected this tiger was intended for consumption.

Both Sumatran tigers were moved to the North Bengkulu conservation forest. “Incidentally, there are no roads to the location, so we had to cross the Seblat river in a canoe, together with the Sumatran tiger. Yes, this would have to be the first time I’ve shared a canoe with a big cat” Dr. Erni Suyanti Musabine commented. Dr. Yanti’s happiness in being able to bring the tiger to a much more suitable location outweighed any fears she had about climbing into a canoe with the almost extinct Sumatran tiger.

Sudah tiga belas tahun seorang dokter hewan ini bergelut dengan satwa liar. Mengawali karirnya dengan menangani satwa liar yang terancam punah di Indonesia yang berasal dari penyitaan, perdagangan illegal bahkan dari penyelamatan korban konflik di Jawa Timur dan Bali.

Sebagai seorang konsultan dokter di Tim Tiger Protection and Conservation Unit, Kerinci Seblat, Sumatera membawa drh. Yanti seperahu dengan harimau Sumatera. Ini adalah harimau hidup ke-11 (kesebelas) yang berhasil diselamatkannya selama 8 (delapan) tahun terakhir.

Bersama tim Tiger Rescue Unit BKSDA Bengkulu, drh. Yanti merelokasi dua ekor harimau Sumatera pada 28 Oktober 2015 yang lalu. Satu harimau Sumatera merupakan korban jerat pemburu liar di perkebunan sawit. Sementara yang satunya lagi korban konflik manusia dengan dugaan untuk dikonsumsi.

Kedua harimau Sumatera itu dipindahkan ke hutan konservasi di Bengkulu Utara. “Kebetulan untuk mencapai lokasi tidak ada jalan darat, jadinya harus menyeberang sungai Seblat seperahu dengan harimau Sumatra ini. Ya, ini untuk pertama kalinya saya seperahu dengan kucing besar.”, tutur drh Erni Suyanti Musabine. Perasaan bahagia drh. Yanti membawa harimau ke lokasi yang lebih baik untuk harimau-harimau itu menempis rasa takut seperahu dengan harimau sumatera yang nyaris punah ini.

Source: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.933857953318364.1073741828.222411551129678&type=3

SFO YOGYA AJAK YANG MUDA PEDULI ORANGUTAN

Sound for Orangutan 2015 Yogyakarta sudah berlalu. Dentum musik masih melekat di telinga. Kerja keras bersama orangufriends Yogyakarta selama tiga bulan terakhir membuahkan hasil. 700 tiket yang terjual malam itu, memenuhi kedua lantai Liquid Cafe, Sleman, Yogyakarta. Hari yang luar biasa, para pengisi acara membicarakan orangutan. Di sebuah cafe yang mungkin selama ini hanya melulu tentang musik.

SFO adalah acara musik amal untuk menggalang dana upaya perlindungan orangutan. 13 Oktober 2015 dengan tema Way Back Home, ketigabelas orangutan di Pusat Rehabilitasi Borneo, Labanan, Kalimantan Timur mengingatkan para pengunjung Liquid Cafe akan masa depan orangutan di sana. Saat ini tujuh orangutan muda belajar di sekolah hutan Labanan. Para animal keeper dengan disiplin mengajak orangutan memanjat pohon. Menakuti mereka dengan duri rotan, agar mereka lebih banyak beraktivitas di pohon. Ya, memanjat adalah pelajaran dasar orangutan muda itu.

Sebut saja Unyil, orangutan yang diselamatkan dari kandang di toilet rumah penduduk di Muara Wahau. Sehari-hari menghabiskan waktu dengan berjalan di lantai. Selebihnya dikurung di kotak kayu pada kamar mandi yang memeliharanya. Hampir tanpa masa depan untuk memanjat apalagi hidup bebas di hutan. APE Defender menyelamatkannya, merawatnya, mengajarinya menjadi orangutan lainnya. Unyil belajar memakan buah-buahan, sayuran dan serangga. Unyil melatih otot-otot tangannya untuk memanjat dan bergelantungan. Unyil mengamati orangutan lain yang berayun dari satu pohon ke pohon yang lain.

Melalui Sound For Orangutan, mengajak anak-anak muda menyisihkan uangnya untuk orangutan yatim ini. Memberikan kesempatan kedua untuk menjadi orangutan liar. Jika pada waktunya akan lepas liar di hutan.

PENJARA 7 BULAN UNTUK PEDAGANG 16 ELANG

Pengadilan Negeri Surabaya pada 21 Oktober 2015 menyatakan terdakwa Paska A S terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Tanpa Hak memiliki, memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup tanpa disertai surat ijin dari pihak yang berwenang.”.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya yang dipimpin Jihad Arkanuddin, SH., MH., dengan hakim anggota Drs. Imam Khanafi. R, SH., MH., dan Risti Indrijani, SH., menjatuhkan terdakwa Paska A S dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) bulan, denda sebesar Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka dapat diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan.

“Putusan ini jauh dari yang COP bayangkan. Berdasarkan Pasal 40 Ayat 2 junto Pasal 21 Ayat 2 UU tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Paska seharusnya tidak jauh dari hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.”, kata Daniek Hendarto, Manajer Anti Kejahatan Satwa Liar Centre for Orangutan Protection (COP).

Ditreskrimsus POLDA Jatim pada tanggal 4 Juli 2015, Paska tertangkap tangan dengan barang bukti 16 (enambelas) ekor elang dengan rincian 1 (satu) ekor elang jawa (spizaetus bartelsi), 1 (satu) ekor elang brontok (Nisaetus Cirrhatus), 1 (satu) ekor elang laut (Haliacetus leucogaster), 4 (empat) elang alap, 2 (dua) ekor anak elang dan 4 (empat) ekor elang lainnya mati. Paska menjual burung-burung elang ini melalui situs Facebook.

“Sekali lagi Facebook menjadi media membahayakan bagi satwa liar. Perdagangan satwa liar yang dilindungi semakin berani secara terbuka di Facebook.COP mengajak masyarakat untuk menghentikan kejahatan ini, dengan tidak membeli satwa liar dan melaporkan perdagangan satwa liar kepada COP atau langsung kepada pihak yang berwajib.”, tambah Daniek Hendarto.

SOUND FOR ORANGUTAN 2015 YOGYAKARTA

Sekali lagi #Orangufriends membuat bangga Centre for Orangutan Protection dengan menggelar acara #SoundForOrangutan 2015 di Liquid Cafe Jogja pada tanggal 13 Oktober yang lalu. Orangufriends yang merupakan tulang punggung kekuatan COP dalam menggerakkan masyarakat untuk perlindungan orangutan dan habitatnya mengajak para musisi untuk ikut terlibat pelestarian orangutan Indonesia. Band Downforlife, Seringai, FSTVLST, SriPlecit, Broken Rose dan Miskin Porno membangun semangat anak-anak muda Yogyakarta untuk perduli lingkungan sekitar.

 

Sound For Orangutan adalah acara amal musik tahunan yang dikoordinir Orangufriends (kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection). Kebetulan di tahun ke-4 nya diselenggarakan di kota gudeg, tidak di Jakarta seperti tahun sebelumnya. Kreatifitas Orangufriends dituangkan dengan menjual kaos dengan tema “Way Back Home”. Dari modal menjual kaos, orangufriends menyelenggarakan acara tahunan ini. Keseluruhan keuntungan SFO diserahkan untuk COP Labanan dimana ada 14 orangutan yang sedang belajar untuk menjadi orangutan liar.

 

Sound For Orangutan dedukung oleh Bintang, Starcross, Nimco, Petrichor Tatto, TFT, Bu Bagyo Colombo, Creatia, Freak kaos, Lali Djoengkatan, dan Juragan Gelang. Media publikasi nya dibantu oleh Jogja TV, RBTV, Kedaulatan Rakyat, 106,1 FM Geronimo dan Qwerty Radio. Tidak ketinggalan Carravelle Lover’s Community ikut berpartisipasi dengan menyediakan transportasi untuk mobilitas panitia dan pendukung acara.

ONE STEP CLOSER FOR BETTER LIFE

Elin and her team from COP’s Orangufriends has started the renovation of the cages in Banjarbaru Town Park. Soon, these gibbons and several other primate will have better life. A life without chain in their waist. Elin also enrich the cage with essential furnitures so the animals can play and sleep comfortly. Thanks for you all who buy the shirts and SFO Borneo tickets. This project will never happen without your support. We still need some more additional money, about $ 1000 to complete this project. Please hit the donation link below. Help Elin, help ANIMALS. https://www.facebook.com/saveordelete/app_415675701824636

Elin dan timnya dari ‪#‎Orangufriends‬ telah memulai renovasi kandang – kandang di Taman Kota Banjarbaru. Segera, para gibbon dan berbagai jenis primata akan mendapatkan hidup yang lebih baik. Sebuah hidup tanpa rantai di pinggang. Elin juga memperkaya kandang dengan perabotan dasar yang memungkinkan satwa bisa bermain dan tidur dengan nyenyak. Terima kasih kepada kalian yang telah membeli tiket SFO BOrneo dan kaos. Proyek ini tidak akan berjalan tanpa dukungan anda.
Kami masih membutuhkan tambahan dana sekitar 10 juta-an agar proyek ini benar – benar bisa diselesaikan sempurna. Mohon sumbangannya, KLIK DI SINI: https://www.facebook.com/saveordelete/app_415675701824636

#SFO BANJARBARU, FUND FOR PARK

Indonesia should be proud. The young people of Orangufriends, the support group for the Centre for Orangutan Protection, have created a music event aiming to raise financial support for orangutans and their habitat. Sound for Orangutan the annual music event, originally held only in Jakarta since 2011, is now spreading to Yogyakarta and South Kalimantan, specifically Banjarbaru.

The Sound for Orangutan (SFO) event in Van Der Pijl Park, Banjarbaru, South Kalimantan, was also titled “Fund for Park”. Elin Alvita, coordinator of SFO Banjarbaru, stated “In Van der Pijl Park there are several wild animals such as long-tailed macaques, pig-tailed macaques, gibbons, and lesser storks currently in unsatisfactory enclosures. We at Orangufriends seek to repair and improve these cages to give a better quality of life to the animals in Van der Pijl Park”

Orangufriends worked together with Morning Art to realise the dream of SFO in Kalimantan. Live music was provided by the bands Soul Cry, Buddy Guy Project, Sunday High Club, Joke of Superboys, Seven Ways to Sunday, Hello Kitty Berkumis and Dreamtree Reggae. The event also featured movie screenings about the issues of deforestation, and discussions about COP and fundraising. This is all part of Orangufriends’ efforts to motivate more and more people to care about wildlife. Save or Delete, you decide!

#SFO BANJARBARU, FUND FOR PARK
 
Indonesia patut berbangga. Anak-anak mudanya yang tergabung dalam Orangufriends yaitu kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection, membuat acara musik bertujuan menghimpun bantuan dana untuk orangutan dan habitatnya. Sound for Orangutan, acara musik tahunan yang semula hanya diadakan di Jakarta sejak tahun 2011 lalu, kini menjalar ke kota Yogya dan Kalimantan Selatan tepatnya Banjarbaru. 
 
Sound for Orangutan sering disingkat SFO, 26 September 2015 bertajuk “Fund for Park” dilaksanakan di Taman Van der Pijl, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Elin Alvita sebagai koordinator SFO Banjarbaru menyampaikan, “Pada Taman Van der Pijl terdapat beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, beruk, owa dan bangau tongtong yang berada dalam kandang yang kurang sejahtera. Kami, Orangufriends berupaya untuk memperbaiki kandang tersebut dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk satwa di Taman Van der Pijl ini.
 
Orangufriends bekerjasama dengan Morning Art untuk mewujudkan mimpi SFO di Kalimantan. Live music yang diisi oleh band Soul Cry, Buddy Guy Project, Sunday High Club, Joke of Superboys, Seven Ways to Sunday, Hello Kitty Berkumis dan DreamtreeReggae. Acara juga diselingi dengan movie screening mengenai pembabatan hutan, diskusi tentang COP dan penggalangan dana. Semua ini merupakan usaha Orangufriends untuk mengajak lebih banyak lagi yang peduli pada satwa. Save or Delete, you Decide!

ORANGUFRIENDS SAMARINDA GOES TO GRAMEDIA

On Saturday the 26 of September 2015, the book store Gramedia in Big Mall Samarinda East Kalimantan invited Orangufriends to present introductory material on world wildlife, including orangutans.
Participants who attended included approximately 40 kindergarten students from TK Komino Samarinda.
The activity began with games run by Gramedia Big Mall and was followed with the delivery of materials by Orangufriends to introduce world wildlife and orangutans.

The material that was presented included several photos and the showing of Face In The Forest, a video about life in the forest. The particpiants who were aged between 3 and 5 years old, enthusiastically looked at photos and also introductory photos of orangutans and how they live in the wild. It was not only the children who were enthusiastically examining the materials, but also thier parents who accompanied them along with the Gramedia team themselves. After the presentation was finished, questions were asked.   Several of the students enthusiastically answered the questions thrown at them and recieved a prize of an orangutan pin for their bravery.

We believe that introducing world wild life, especially orangutans, to kindergarten students in Gramedia Big Mall is the first step in generating an on going wider public awareness of wildlife. thankyou to Orangufriends Samarinda, Inggrid, Indah and Fatima who particpated. (OrangufriendsIndah)

 

ORANGUFRIENDS SAMARINDA GOES TO GRAMEDIA

Sabtu, 26 September 2015. Orangufriends Samarinda berkesempatan diundang oleh Gramedia (toko buku) Big Mall Samarinda, Kalimantan Timur untuk mengisi materi pengenalan satwa-satwa di dunia termasuk orangutan. Peserta yang hadir merupakan siswa-siswi TK Komimo Samarinda dengan jumlah kurang lebih 40 peserta. Kegiatan diawali dengan permainan dari pihak Gramedia Big Mall. Dilanjutkan dengan penyampaian materi pengenalan satwa di dunia dan orangutan oleh Orangufriends Samarinda.

Materi yang disampaikan berupa slide foto dan pemutaran video tentang kehidupan di hutan, Face In The Forest. Peserta yang rata-rata berusia 3-5 tahun ini terlihat antusias menyimak materi yang berupa foto berbagai macam satwa yang ada di dunia dan juga foto-foto pengenalan orangutan dan bagaimana kehidupan orangutan di alam liar. Tidak hanya para siswa yang terlihat antusias dan tertarik menyimak materi, tetapi juga para orangtua yang mendampingi serta kru Gramedia sendiri. Setelah penyampaian materi dan pemutaran video selesai dilanjutkan dengan tanya jawab. Tidak sedikit dari para siswa yang bersemangat menjawab pertanyaan yang dilontarkan dan mendapatkan hadiah berupa pin orangutan karena telah berani menjawab pertanyaan.

Kami percaya pengenalan terhadap satwa-satwa di dunia khususnya satwa dilindungi termasuk orangutan kepada siswa-siswi TK di Gramedia Big Mall merupakan langkah awal dalam penyadartahuan terhadap khalayak yang lebih luas lagi selanjutnya. Terimakasih kepada Orangufriends Samarinda Inggrid, Indah, dan Fahmi yang telah berpartisipasi (OrangufriendsIndah).

Page 7 of 7« First...34567