Orangufriends

ORANGUTANS IN REHABILITATION CENTER OR IN THE ZOO?

If there is a question “Which is better, orangutans in the zoo or rehabilitation center?”, then the answer is the rehabilitation center. Why? Because the future is clearer.

Is the future of orangutans in the zoo unclear? Of course, it is clear. Obviously, they will be a spectacle of many people, on display like a doll, then people try to get close to seeing his behavior. Whereas in a rehabilitation center, the orangutan will be placed in a place far away from the crowd and only meet certain people.

Genetically, orangutans have similarities with humans up to 97%. It makes orangutans and humans have some similarities in disease, such as flu, fever, typhoid, malaria, hepatitis, herpes to tuberculosis. So that orangutans and humans can transmit diseases (zoonosis). Some diseases also have special treatment to be cured such as laboratory tests to quarantine.

A zoo is an easy place for the transmission of diseases between humans and animals, especially orangutans, and vice versa. Why? Because the interaction between humans and orangutans is not properly monitored by officers and occurs freely. The warning board has indeed been installed in each enclosure, but who can ensure orangutans and humans do not come into direct contact? The number of visitors causes the interaction to be unavoidable and spread the disease easily.

If orangutans are in a rehabilitation center, orangutans will only interact with a few people like the animal keepers and the medical team. Their condition is also always monitored with regular checks. A special program for orangutans at the rehabilitation center also stimulates the wild nature of the orangutan, because rehab center has its own rehabilitation goal to release orangutans to their habitat. Every individual orangutan has the opportunity to return to live in its natural habitat. (IND)

REHABILITASI ORANGUTAN ATAU ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG
Jika ada pertanyaan, “Lebih baik mana, orangutan di kebun binatang atau pusat rehabilitasi?”, maka jawabannya adalah pusat rehabilitasi. Kenapa? Karena masa depannya lebih jelas.

Lalu apakah masa depan orangutan di kebun binatang tidak jelas? Tentu saja jelas, jelas dia akan menjadi tontonan banyak orang, dipajang kemudian orang-orang berusaha mendekat untuk melihat tingkah lakunya. Sedangkan jika berada di pusat rehabilitasi, maka orangutan tersebut akan di tempatkan di kandang yang jauh dari keramaian dan hanya bertemu dengan orang-orang tertentu saja.

Secara genetik, orangutan memiliki kemiripan dengan manusia hingga 97%. Maka orangutan dan manusia memiliki beberapa kesamaan penyakit. Misalnya flu, pilek, demam, tipes, malaria, hepatitis, herpes hingga tuberkolosis. Sehingga orangutan dan manusia dapat saling menularkan penyakit (zoonosis). Beberapa penyakit juga memiliki perlakuan khusus agar dapat disembuhkan seperti pemeriksaan laboratorium hingga karantina.

Kebun binatang adalah tempat yang mudah untuk penularan penyakit antara manusia dan satwa khususnya orangutan, begitu pula sebaliknya. Kenapa? Karena interaksi antara manusia dan orangutan tidak terawasi dengan baik oleh petugas dan terjadi dengan bebas. Papan peringatan memang sudah dipasang di setiap kandang, tapi siapa yang bisa memastikan orangutan dan manusia tidak bersentuhan secara langsung? Banyaknya pengunjung menyebabkan interaksi tersebut tak terhindarkan dan penyebaran penyakit pun dengan bebas terjadi.

Jika orangutan berada di pusat rehabilitasi, orangutan hanya akan berinteraksi pada beberapa orang saja seperti animal keeper dan bagian medis saja. Kondisi mereka juga selalu dalam pantauan dengan pemeriksaan berkala. Program khusus untuk orangutan di pusat rehabilitasi juga merangsang sifat liar orangutan tersebut, karena tujuan rehabilitasi sendiri untuk melepasliarkan kembali orangutan ke habitatnya. Setiap individu orangutan mempunyai kesempatan untuk kembali hidup di habitat alaminya. (RYN)

PRIMATA BAND HANDS OVER DONATION TO ORANGUTAN

Primata, an instrumental rock band from Jakarta, recently raised funds to save orang-utans. They were raising funds through the sale of their t-shirt merchandise which profits will be donated to save orang-utans through Centre for Orangutan Protection (COP).

They want to persuade their listeners or their fans to care about wildlife, especially orangutans whose lives are threatened due to human conflicts. They chose Centre for Orangutan Protection because this is an orangutan organization founded by Indonesian. Bring or do a real action here is something we can do.”, said Rama Wirawan from the Primata Band.

“We realise that we cannot give much to COP, but we hope that the fundrising can also be a campaign to expand public awareness of the lives of wildlife, especially Orangutan.” Added Rina.

The fund was handed over directly by Rama Wirawan to COP Staff at Kelapa Gading in Jakarta on Thursday (26/7). Hopefully, there will be more people who take concrete actions to help wildlife especially orangutans. Thank you, Primata Band, You Rock! (SAR)

PRIMATA BAND SERAHKAN DONASI UNTUK ORANGUTAN
Primata, sebuah band beraliran rock instrumental asal Jakarta baru-baru ini melakukan penggalangan dana untuk penyelamatan Orangutan. Mereka melakukan penggalangan dana melalui penjualan merchandise kaos band mereka yang mana keuntungannya disumbangkan untuk penyelamatan Orangutan melalui Centre for Orangutan Protection (COP).

Mereka ingin mengajak pendengar musik atau fans mereka untuk ikut peduli pada nasib satwa liar khususnya Orangutan yang terancam nasibnya akibat konflik dengan manusia. Mereka memilih Centre for Orangutan Protection karena ini adalah organisasi Orangutan yang didirikan oleh putra putri asli Indonesia. “Mendukung atau membantu pergerakan aktivisme lokal adalah cara terbaik yang bisa kami buat.”, ungkap Rama Wirawan gitaris dari Primata band.

“Kami sadar tidak bisa memberi banyak untuk COP tapi kami harap dengan penggalangan dana ini bisa sekaligus menjadi kampanye dalam memperluas kepedulian publik pada nasib satwa liar khususnya Orangutan.”, tambah Rama.

Bantuan dana ini diserahkan secara langsung oleh Rama Wirawan kepada staf COP di bilangan Kelapa Gading Jakarta pada Kamis(26/7). Semoga semakin banyak masyarakat yang melakukan tindakan nyata untuk membantu penyelamatan satwa liar khusunya Orangutan. Terima kasih Primata Band, You rock! (HER)

COP SENDS SUPPORT LETTER TO NORTH SUMATERA BKSDA TO TAKE OVER THE ORANGUTAN FROM THS

Boncel and Ina the orangutan are two individuals who entered Siantar Animal Park (THS) a month ago. Those orangutans are allegedly local’s property who were handed over to THS. Physically, they’re pretty good and decent to enter a rehabilitation center before release back to its nature. North Sumatera has a good facilities of Orangutan rehabilitation center, in Sibolangit, North Sumatera to be exact. The track record shows the credibility of the one and only orangutan rehabilitation center in Sumatera. There’s no way else, THS must deliver the orangutan to the state, to undergo a rehabilitation process, before return back to the wild.

The future of the orangutan is still far away. And the rehabilitation process is one of right moves in the effort to increase the Sumateran Orangutan population in the wild which is nearly extinct. BKSDA of North Sumatera has full authority to this matter and COP fully support them to take a decisive action to evacuate the orangutan from THS and send them to Orangutan rehabilitation center.

Thursday, July 19, 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) sent a support letter for North Sumatera BKSDA, with copies to The Director General KSDAE, The Secretariat of Directorate General KSDAE, and the Directorate of KKH, to evacuate Boncel and Ina the orangutan from THS and do an effort of rehabilitation to those two individuals of orangutan. (SAR)

COP KIRIM DUKUNGAN KE BKSDA SUMUT UNTUK AMBIL ORANGUTAN DARI THS
Orangutan Boncel dan Ina adalah dua individu orangutan yang masuk ke Taman Hewan Siantar (THS) sebulan yang lalu. Orangutan tersebut diduga dari kepemilikan masyarakat yang diserahkan kepada THS. Secara fisik, orangutan tersebut cukup baik dan layak dimasukkan ke pusat rehabilitasi sebelum dikembalikan menuju ke alam. Sumatera Utara memiliki fasilitas pusat penyelamatan orangutan yang baik, tepatnya di Sibolangit, Sumatera Utara. Rekam jejak menunjukkan kredibilitas pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya di Sumatera. Tidak ada alasan lain, THS harus menyerahkan satwa tersebut kepada negara untuk kemudian menjalani proses rehabilitasi sebelum dikembalikan ke alam.

Masa depan orangutan tersebut masih panjang dan proses rehabilitasi untuk pelepasliaran adalah salah satu langkah yang baik untuk dilakukan dalam upaya peningkatan populasi orangutan Sumatera di alam yang terancam punah. BKSDA Sumut memiliki wewenang penuh akan hal ini dan COP mendukung upaya tegas untuk mengevakuasi orangutan dari THS untuk masuk Pusat Rehabilitasi Orangutan.

Kamis, 19 Juli 2018, Centre for Orangutan Protection (COP) mengirimkan surat dukungan kepada BKSDA Sumatera Utara dengan tembusan Dirjen KSDAE, Setdijen KSDAE dan Dir KKH untuk melakukan evakuasi orangutan Boncel dan Ina dari THS dan melakukan upaya rehabilitasi bagi kedua individu orangutan tersebut.

POACHING IS NOT ONE OF ASIAN GAMES SPORT BRANCHES

Shooting will be one of sport branch of Asian Games 2018. But you know, that doesn’t mean that poaching is also a sport that will be contested. It’s because poaching is an activity of chasing, hunting or even killing wild animals for fun, to eat, to sell, or to take advantage of its product.

Cases of wildlife death, especially orangutan with evidence of air rifle bullets continuously happening. Even though Regulation of The Chief of Police No 8 of 2012 regarding Supervision and Control of Firearm for Sport Purposes, air rifle uses is limited to shoot a target (article 4, paragraph 3) and can only be used in the location of games or excercises (article 5, paragraph 3), have existed. This regulation isn’t strong enough to be enforced. So, death cases of protected wildlife as in Act No 5 of 1990 regarding Conservation of Living Resources and Their Ecosystem which its implementation is still far compared to its loss.

Of course, athletes of shooting will not want to be equated to hunters or poachers, will they? The numbers that will be competed in shooting are Pistol, Rifle, Running Target and Skeet and Trap. Three Asian Games 2018 mascots named Bhin-bhin, Atung and Kaka obviously wouldn’t be willing to see their friends are being targeted. “Asian Games 2018, poaching is not sport!.”

BERBURU BUKAN CABANG OLAHRAGA DI ASIAN GAMES
Olahraga menembak akan jadi cabang olahraga di Asian Games 2018. Tapi bukan berarti berburu juga sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan loh. Karena berburu adalah aktivitas mengejar, menangkap atau membunuh hewan liar untuk dimakan, rekreasi, perdagangan atau memanfaatkan hasil produknya.

Kasus-kasus kematian satwa liar terutama orangutan dengan barang bukti peluru senapan angin terus-menerus terjadi. Walaupun Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk kepentingan Olahraga, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3) sudah ada. Perkap ini tidak cukup kuat untuk ditegakkan. Sehingga kasus kematian satwa liar yang dilindungi Undang-undang menggunakan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang pada pelaksanaannya masih jauh dari kerugian yang terjadi.

Tentu saja para atlit menembak tidak mau disamakan dengan pemburu kan? Nomor-nomor yang akan dipertandingkan di cabang olahraga menembak adalah Pistol, Rifle, Running Target dan Skeet and Trap. 3 maskot Asian Games 2018 yang bernama Bhin-bhin, Atung dan Kaka tentunya tidak akan rela saat target tersebut adalah teman-teman mereka juga. “Asian Games 2018, berburu bukan olahraga!”.

DART FROM ORANGUFRIENDS AUSTRALIA

Kamu bingung bisa bantu apa? Ini adalah Kelsie Prabawa, salah satu alumni COP School yang berasal dari Australia. Dia menanyakan ke teman-teman nya, apa yang bisa dia bawa dari Australia untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Dalam sekejap, barang-barang titipan pun sampai di rumahnya dan siap untuk dibawa ke Indonesia.

Simpel ya! Tapi tau ngak, ini sangat membantu sekali. “Perlengkapan untuk membius ini harus pesan dulu kalau di Indonesia. Bisa 3-4 bulan baru barang bisa sampai tujuan. Selain itu, jumlahnya juga kadang tidak sebanyak yang kita pesan karena keterbatasan barang.”, kata Ryan Winardi, dokter hewan COP. “Peralatan ini bisa digunakan berulang kali loh untuk menghemat.”, tambah Ryan lagi.

Nah, sudah tahu kan? Mau membantu orangutan, ngak usah bingung. Siapa pun kamu, tentu saja bisa membantu orangutan Indonesia, si kerabat merah kita yang memiliki kesamaan DNA 97%. Terimakasih mbak Kelsie dan orangufriends Australia.

THE NIGHTMARE OF ORANGUTAN IN KASANG KULIM ZOO

Again, I had the opportunity to visit Kasang Kulim zoo which is located in the suburban area of Pekanbaru city, Kampar district, Riau. Most of its animal collections are caged in iron bars with cement floor.

As I came to orangutan enclosure, I got greeting from orangutan named Lisa. Lisa spat as she reached out to me. And then, Lisa coughed as if she was going to throw up and not long after that she throwed up. Turned out, Lisa has a habit to spit out the food she ate and re-eat it. And she did it over and over again. While the other two orangutans didn’t show any better condition. All those three looked pretty stressed.

Not much that those three orangutan could do, there was only an used tire hung by steel chain in each of the enclosure they live in. One block filled with a pair of orangutan, and the block next to them was a female orangutan, which was Lisa. Tin roof and cement floor turned these cages into prison of orangutan.

I am an  orangufriends from Padang who accidentally became a witness to all this. This nightmare haunted me all night long. My urge to fix the life of orangutan in Kasang Kulim zoo is so strong. The help from other orangufriends obviously will become more real through ttps://kitabisa.com/orangindo4orangutan Let’s help Lisa!

MIMPI BURUK ORANGUTAN DI KASANG KULIM ZOO
Kembali saya berkesempatan mengunjungi kebun binatang Kasang Kulim yang berada di pinggiran kota Pekanbaru, kabupaten Kampar, Riau. Hampir seluruh koleksi satwanya berada di dalam kandang berbentuk kerangkeng yang terbuat dari besi dengan lantai semen.

Begitu tiba di kandang orangutan, saya langsung mendapat salam perkenalan dari orangutan yang bernama Lisa. Lisa meludah sambil mengulurkan tangannya ke arah saya. Selanjutnya, Lisa terbatuk-batuk seperti hendak muntah dan tak lama kemudian diapun muntah. Ternyata Lisa memiliki kebiasaan memuntahkan makanan untuk kemudian dimakannya kembali. Dan kejadian itu dilakukannya berulang-ulang. Sementara dua orangutan lainnya juga tak menunjukkan kondisi yang lebih baik dari Lisa. Ketiganya terlihat stres.

Tak banyak yang bisa dilakukan ketiga orangutan ini, sebuah ban bekas digantungkan dengan rantai baja dimasing-masing bilik yang mereka huni. Satu bilik diisi sepasang orangutan dan di sebelahnya terlihat orangutan betina lainnya yaitu Lisa. Atap seng dan lantai semen menjadikan kandang ini penjara orangutan.

Saya, adalah orangufriends Padang yang tak sengaja menjadi saksi ini semua. Mimpi buruk ini menghantui saya sepanjang malam. Keinginan saya memperbaiki kehidupan orangutan di Kasang Kulim Zoo begitu besar. Bantuan orangufriends lainnya tentu saja akan lebih nyata lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan
Yuk bantu Lisa! (Novi_OrangufriendsPadang)

HELP HIM!

Looking for the orangutans who attacked the East Kutai resident make the APE Crusader team met the teenage orangutan. The poor orangutan spent his days by sitting and looked out on the sidelines of wooden Ulin 1.5 x 1 meter. His canine teeth could no longer lie, 10 years old and he was only confined in the wooden cage.

We do not know why the people keept him. The efforts of both the police and forestry authorities still have not succeeded to take him. Could the #APECrusader get it out? Would you give him a second chance to go back to being a wild orangutan?

Help him through

BANTU DIA, KITA BISA!
Perjalanan mencari orangutan yang menyerang warga Kutai Timur menghantarkan tim APE Crusader pada orangutan jantan remaja ini. Berkandang kayu ulin 1,5 x 1 meter orangutan ini menghabiskan hari-harinya duduk dan memandang keluar di sela-sela kayu. Gigi taringnya tak mampu lagi berbohong, 10 tahun dan dia hanya terkurung di kandang kayu itu.

Entah apa yang membuat pemeliharanya mempertahankannya. Usaha dari pihak berwajib baik itu Polsek maupun Kehutanan masih belum berhasil mengeluarkan si jantan ini. Mungkinkah APE Crusader berhasil mengeluarkannya? maukah kamu memberikan dia kesempatan keduanya untuk kembali menjadi orangutan liar?

Bantu COP lewat Kepedulian kamu sangat dibutuhkan. Kalau bukan kita, siapa lagi!

KARTINI FOR INDONESIAN ORANGUTAN

Raden Adjeng Kartini was born in Jepara, 21 April 1879 ago. If she was alive, she would be 139 years old. Kartini is known as the pioneer of the resurrection of indigenous women is now better known emancipation of women who emerged from her critical thinking. And now, Indonesia always commemorate her birthday as Kartini day.

From her letters we recognize the thoughts of Kartini. The letter that was originally something very personal became public consumption. Kartini dreams to continue school, woman have to school. “If now I become a veterinarian, of course because of the long struggle of women like Kartini to this day,” said vet Flora Felista.

Flora is a female veterinarian who joins COP Borneo orangutan rehabilitation center. The location of the rehabilitation center away from the crowds did not dampen her dream of devoting herself to Indonesian wildlife. Working with men in COP Borneo is a challenge for her. Physical and mental must also be above average. “Women should be able. Autopsy of orangutan corpses, rescue of orangutans in oil palm plantations where we are required to have good physical, think while running after orangutans, barely sleep a day and many other challenges. But the professionalism of being a veterinarian should still be put forward.”, explained drh. Flora.

Flora is one of the women at the Center for Orangutan Protection. There are many other women such as Wety Rupiana with graphic design background, Dina Mariana with financial background, Oktaviana S from GIS (Global Information System), and hundreds of orangufriends (COP supporters group) of women with diverse education helping Indonesian Orangutan by the way each. “Thank you Kartini! We do not commemorate today as a way to kebaya dress, but the professionalism of your timeless thinking.“ (SLX)

KARTINI UNTUK ORANGUTAN INDONESIA
Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 yang lalu. Jika pun ia masih hidup, usianya sudah 139 tahun. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi sekarang lebih dikenal emansipasi wanita yang muncul dari pemikirannya yang kritis. Dan sekarang, Indonesia selalu memperingati hari lahirnya sebagai hari Kartini.

Dari surat-suratnya kita mengenal buah pikiran Kartini. Surat yang awalnya sesuatu yang sangat pribadi menjadi konsumsi publik. Kartini bermimpi untuk terus bersekolah, perempuan harus sekolah. “Jika sekarang saya menjadi seorang dokter hewan, tentunya karena perjuangan panjang para perempuan seperti Kartini hingga saat ini.”, ujar drh Flora Felista.

Flora adalah dokter hewan perempuan yang bergabung di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Lokasi pusat rehabilitasi yang jauh dari keramaian tak menyurutkan impiannya mengabdikan diri untuk satwa liar Indonesia. Bekerjasama dengan laki-laki di COP Borneo adalah tantangan tersendiri untuknya. Fisik dan mental pun harus berada di atas rata-rata. “Perempuan harus bisa. Otopsi mayat orangutan, penyelamatan orangutan di perkebunan sawit dimana kita dituntut untuk memiliki fisik yang baik, berpikir sambil berlari mengejar orangutan, hampir tidak tidur sehari semalam dan masih banyak lagi tantangan lainnya. Tapi profesionalisme menjadi dokter hewan harus tetap dikedepankan.”, urai drh. Flora.

Flora adalah salah satu perempuan di Centre for Orangutan Protection. Masih banyak perempuan-perempuan lainnya seperti Wety Rupiana dengan latar belakang desain grafis, Dina Mariana dengan latar belakang keuangan, Oktaviana S dari GIS (Global Information System), dan ratusan orangufriends (kelompok pendukung COP) perempuan dengan pendidikan yang beragam membantu Orangutan Indonesia dengan caranya masing-masing. “Terimakasih Kartini! Kami tak memperingati hari ini sebatas cara berpakaian, tapi profesionalisme dari pemikiranmu yang tak lekang oleh waktu.”.

MAKASSAR ORANGUFRIENDS IN SIDIK

Of course there’s no orangutans in Celebes island. But, the wide range of orangufriends network (the orangutan support group) make orangutan protection is not just a matter of Sumatera and Borneo. 2 days in March 2018, Makassar orangufriends with Mapala Anoa, Veterinary Studies Program, Hasanuddin University, conducted an event of socialization and public discussion in Unhas Makassar campus.

“Wildlife and its problems” theme were interestingly discussed by drh. Supriyanto from BKSDA of South Sulawesi .The discussion began with introduction to wildlife, especially endemic wildlife in Sulawesi. And then continued with discussion about wildlife as zoonotic pool by drh. Kristina Widyayanti from Makassar Pet Clinic. Not only that, the existence of conflict between human and wildlife were also discussed by drh. Muhtadin Wahyu who is PPDH Unsyiah alumni.

March 20, 2018 was the second day of SIDIK (Socialisation and Public Discussion) event and it featured drh. Reski Indah Kesuma who is an alumnus of COP School Batch 4. Discussion of the “Orangutans as threat or victim?” film became so interesting. “Seeing the people’s enthusiasm which most are UNHAS students from various disciplines, I feel that Indonesian wildlife, including orangutan still has hope to be exist in the future.”, said Ekky who has been a COP volunteer since 4 years ago.

Centre for Orangutan Protection is a grass-root organization who count on its volunteer, like Ekky. Whoever and wherever, they’re COP power to acknowledged society to be more concerned to orangutan protection. Let’s join us to be orangufriends, our email is at info@orangutanprotection.com. (Ekki_OrangufriendsMakasar)

ORANGUFRIENDS MAKASSAR DI SIDIK
Tentu saja tidak ada orangutan di pulau Sulawesi. Namun luasnya jaringan orangufriends (kelompok pendukung orangutan) menjadikan perlindungan orangutan tak sebatas urusan Sumatera dan Kalimantan. Dua hari di bulan Maret 2018, orangufriends Makassar bersama Mapala Anoa Prodi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan sosialisasi dan diskusi publik di kampus UNHAS Makassar.

Tema “Satwa Liar dan Permasalahannya”, dikupas dengan menarik oleh drh. Supriyanto dari BKSDA Sulawesi Selatan. Diskusi diawali dengan pengenalan satwa liar khususnya satwa endemik Sulawesi. Kemudian dilanjutkan diskusi satwa liar sebagai zoonotic pool oleh drh. Kristina Widyayanti dari Makassar Pet Clinic. Tak sebatas itu saja, adanya konflik antara manusia dan satwa juga dikupas oleh drh. Muhtadin Wahyu yang merupakan alumni PPDH Unsyiah.

20 Maret 2018 yang merupakan hari kedua dari rangkaian SIDIK (Sosialisasi dan Diskusi Publik) diisi oleh drh. Reski indah Kesuma yang merupakan alumni COP School Batch 4. Diskusi film “Orangutan sebagai Ancaman atau Korban?” menjadi begitu menarik. “Melihat antusiasme masyarakat yang sebagian besar adalah mahasiswa UNHAS dari berbagai disiplin ilmu, saya merasa satwa liar Indonesia termasuk orangutan masih mempunyai harapan untuk tetap eksis di masa depan.”, ujar Ekki yang telah menjadi relawan COP sejak empat tahun yang lalu.

Centre for Orangutan Protection adalah organisasi akar rumput yang mengandalkan para pendukungnya, seperti Ekki ini. Siapa pun dan dimana pun menjadi kekuatan COP menggalang publik untuk lebih peduli pada perlindungan orangutan. Mari bergabung menjadi orangufriends, email kami di info@orangutanprotection.com (Ekki_OrangufriendsMakasar)

CATATAN APRIL 2018 DANIEK HENDARTO

“Dalam proses penyelamatan satwa tidak melulu selalu menang dan berakhir baik. Bahkan terkadang kita kalah dan jatuh. Namun tetaplah gembira sesulit apapun itu.”. Itulah suara Daniek Hendarto, manajer operasional orangutan ex-situ COP. Satu bulan terakhir ini menjadi hari-hari yang sulit bagi pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kedatangan dua orangutan kecil Annie dan Raju membuat tim sedih karena pekerjaan seolah-olah tiada habisnya. Padahal tim sedang mempersiapkan lima orangutan yang akan dirilis ke habitatnya dalam waktu dekat ini.

Tak hanya itu, orangutan Debbie yang tepat pada ulang tahun COP yang ke-11 dipindahkan ke sanctuary island pada akhir Maret sudah tak kelihatan lagi. Buaya yang hidup di sungai Kelay sepertinya berhasil mendapatkannya. Kebahagiaan melihat Debbie yang telah puluhan tahun hidup di balik kandang jeruji besi pun menjadi sirna.

Warna kekawatiran pun pudar melihat Septi yang bisa menerima Popi di dalam kandangnya. Popi terlihat nyaman bersama Septi. Sementara Septi terlihat seperti ibu muda yang mengawasi Popi. Tapi kami pun terpaksa mengevakuasi Reza Kurniawan, manajer COP Borneo ke Yogyakarta karena sakit yang dideritanya. Ejak begitulah kami memanggilnya, menderita sakit malaria.

Memang bumi akan terus berputar. Roda akan terus menggelinding. Ada saat di atas dan ada saat di bawah. Semangat orangufriends (kelompok pendukung COP) seperti tidak ada putusnya. Orangufriends berhasil membawa virus konservasi ke kehidupannya. Mereka yang bergerak di anak jalanan, desain grafis, hukum, kuliner, pendidikan, petualangan bahkan musik terus menerus menjadi semangat kami. Terimakasih tim… terimakasih orangufriends, mari kita bekerja bersama!

Page 5 of 20« First...34567...1020...Last »