Orangufriends

LET’S SUPPORT THE MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY REGULATION NO 20 OF 2018

The government has just made a big leap by issuing the Ministry of Environment and Forestry Regulation No. 20 of 2018 concerning Types of Protected Plants and Wildlife.

Centre of Orangutan Protection welcomes the regulation and ready to support the government to enforce the law. “Furthermore, COP consider the regulation as important point for culture change, from the culture of confining animals to the culture of nurturing them in nature.”, said Hardi Baktiantoro, founder of Centre for Orangutan Protection.

Wildlife trading either online or offline at bird markets could not just happen. It has been studied. The dilemma that has been occurred so far is those wildlife are threatened to extinction in their habitat, while there are many illegal traders and even people make an open bird singing contest. Let say Murai batu bird/ kick forest (kittacincla malbarica), cucak raw (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak sure (Gracupica calla).

The existence of Ministry Regulation No 20/2018 makes tapanuli orangutans (Pongo tapanuliensis) are legally protected animals. This is a prompt government effort to protect the newly discovered orangutan species in the past year.

COP is calling all orangufriends to fully support the Ministry of Environment and Forestry to not back down enforcing this Regulation. (SAR)

AYO DUKUNG PERMEN LHK 20 TAHUN 2018
Lompatan besar baru saja dilakukan Pemerintah pada bulan Juni 2018 dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Centre for Orangutan Protection menyambut baik Permen No. 20 ini dan siap mendukung pemerintah untuk menegakkan hukum. “Lebih jauh lagi COP memandang bahwa Permen ini merupakan titik penting untuk perubahan budaya yaitu dari budaya mengurung satwa menjadi memelihara di alam bebas.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection.

“Masuknya satwa liar yang sering diperdagangkan baik itu secara online maupun di pasar burung ini tentu saja bukan asal jadi. Ini sudah menjadi kajian. Dilema yang terjadi selama ini, kondisi satwa liar tersebut di habitatnya sudah terancam punah namun banyak terdapat di pedagang bahkan menjadi lomba burung berkicau secara terbuka. Sebut saja burung Murai batu/ Kucica hutan (Kittacincla malbarica), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak suren (Gracupica jalla).

Dengan adanya Permen No. 20/2018 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) telah ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi Undang-Undang. Ini adalah usaha cepat pemerintah untuk melindungi spesies orangutan yang baru ditemukan di tahun 2017 yang lalu.

COP memanggil seluruh orangufriends untuk memberikan dukungan penuh kepada KLHK untuk tidak mundur menegakkan Permen ini.

SCHOOL VISIT TO SMA NEGERI 1 BERAU

To commemorate International Primate Day, APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection did a series of school visit. The first visit to SMA Negeri 1 Berau was the first school visit in Berau by COP team. Last Friday, August 31, about 100 of 10th grade students had gathered.

Through slideshows and short films, the team began introducing orangutans as one of the great apes that only exist in Indonesia, especially in Sumatera and Kalimantan island. “We are grateful to have the opportunity to share the knowledges at SMAN 1 Berau, among them who had never seen orangutan before and can not distinguish orangutans from other primates. We hope that its existence in Indonesia can make Indonesian proud.” said Ipeh, orangufriends who is volunteering in Kalimantan for the next three months.

The questions from students were no less suprising. It was simple and easy but quite difficult to answer. From “Why does the media concentrate less on orangutan deaths?”, “why was the punishment for orangutan killers so light?, to ” Does COP also educationg the companies that destroy orangutan habitat?”.

We were very happy and proud to see the students enthusiasm. ” We are very hopeful when we got questions from the SMAN 1 Berau students who are smart and critical. Indonesia orangutans and forests are increasingly threatened with endless conversion of forests. We hope the students can disseminate this chain of information, so that Indonesian young are more concerned about orangutans.” said Ipeh happily. (SAR)

SCHOOL VISIT KE SMA NEGERI 1 BERAU
Untuk memperingati Hari Primata Sedunia atau International Primate Day, tim APE Guardian Centre for Orangutan Protection melakukan serangkaian kunjungan ke sekolah yang sering disebut ‘School Visit’. Kunjungan pertama ke SMA Negeri 1 Berau adalah school visit pertama tim COP di kota Berau. Jumat, 31 Agustus yang lalu, sekitar 100 siswa dari kelas X sudah berkumpul.

Melalui slide dan film pendek, tim mulai memperkenalkan orangutan sebagai salah satu kera besar yang hanya ada di Indonesia khususnya pulau Sumatera dan Kalimantan. “Kami bersyukur berkesempatan berbagi di SMAN 1 Berau, di antara mereka ada yang belum pernah melihat orangutan serta belum bisa membedakan orangutan dengan primata lainnya. Kami berharap, keberadaan di Indonesia bisa menjadi spesies yang membanggakan Indonesia.”, ujar Ipeh, orangufriends yang menjadi relawan di Kalimantan untuk tiga bulan ke depan.

Pertanyaan para siswa tak kalah mengejutkan. Simpel atau mudah tapi cukup sulit untuk dijawab. Kenapa media sedikit sekali menyoroti kematian orangutan, kenapa hukuman untuk pelaku pembunuhan orangutan kecil sekali sampai pertanyaan apakah COP juga melakukan edukasi ke perusahaan-perusahaan pelaku perusakan habitat orangutan.

Kami sangat senang dan bangga melihat antusiasnya para siswa. “Besar sekali harapan kami saat mendapatkan pertanyaan dari para siswa SMAN 1 Berau yang cerdas dan kritis. Orangutan dan Hutan Indonesia semakin terancam dengan alih fungsi hutan yang tak berkesudahan. Kami berharap para siswa dapat menyebarkan informasi berantai ini, agar anak muda Indonesia semakin peduli dengan orangutan.”, kata Ipeh dengan senang. (RYN)

FOUR YEARS WAITING FOR COP SCHOOL BATCH 8

COP School is a place to learn about conservation held by Centre for Orangutan Protection in Yogyakarta. 2014 was the first time I knew about this orangutan conservation school and that was the time I know that COP exists, in the middle of 2nd semester in college life, the most hectic period of college and organization activities. My college activities were so time consuming and had discouraged me to join COP School Batch 4. It went on until COP Batch 8, and finally i could took part in its series of activity. One said, “it’s better late than never”. Yup, that’s how I knew COP and joined COP School batch 8.

During 7 days in Jogja, i met new friends from various regions. Also, the program was so fun. I like learning new things, including meeting new people. Learning about basic conservation studies can be done by anyone who are willing to learn, not only by those who’ve been involved in the conservation world. Even though I had participated in nature lovers club activities, it doesn’t mean that I understand about conservation that well. That’s why, I decided to join COP school 8.

For those who interested in conservation world, especially orangutan conservation, COP School is the best place that I have ever experienced. It seems like it’s just yesterday I took part in COP school activities, turns out it’s been almost one semester I’m involved in COP activities. (SAR)

SETENGAH WINDU MENANTI COP SCHOOL BATCH 8
COP School merupakan sekolah mengenai konservasi yang diadakan oleh Centre for Orangutan Protection di Yogyakarta. Pada tahun 2014 adalah pertama kalinya aku mengetahui sekolah konservasi Orangutan ini dan saat itulah kali pertama aku mengetahui adanya COP. Di tengah-tengah masa perkuliahan di semester 2, masa padat-padatnya kegiatan perkuliahan maupun organisasi. Kesibukan di perkuliahan begitu menyita waktuku, dan memaksaku mengurungkan niatku untuk ikut COP School Batch 4. Begitulah seterusnya aku menunda-nunda ikut hingga COP School Batch 8 dan fokus mengikuti serangkaian kegiatannya. Kalau kata pepatah, better late than never, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Yap, seperti itulah awal perjalananku mengenal COP dan mengikuti COP School Batch 8.

Kurang lebih tujuh hari di Yogya, selama itu pula aku bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai daerah. Selain teman yang beragam, pengisi acaranya pun begitu menyenangkan. Aku merupakan salah satu orang yang senang mempelajari hal baru, termasuk bertemu dengan banyak orang baru. Mempelajari tentang materi dasar konservasi dapat dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya mereka yang telah berkecimpung di dunia konservasi, namun mereka yang tidak berkecimpung di dunia konservasi namun ingin belajar dunia konservasi pun dapat bergabung. Meskipun aku pernah mengikuti kegitan kepecintaalaman, bukan berarti aku sudah paham betul mengenai dunia konservasi. Dari situlah aku bertekad untuk mengikuti COP School.

Untuk kalian yang di luar sana, yang tertarik dengan dunia konservasi khususnya Orangutan. COP Schol adalah wadah terbaik yang pernah aku coba. Rasanya baru kemarin aku ikut seleksi dan kegiatan COP School, nyatanya sudah hampir satu semester berlalu dengan berkegiatan di COP. (Yuanita_COPSchool8)

SOUND FOR ORANGUTAN WITH THE HELP FROM DANILLA AND FRIENDS

Who doesn’t know Danilla? It is not the first time Danila helping the Center for Orangutan Protection. During a children’s painting event at Kodok Park Jakarta, Danilla contributed 2 songs at that event. Now, Danilla is buying a green Sound for Orangutan (SFO) shirt. This SFO t-shirt is a COP merchandise whose profits will be managed to hold an SFO music charity event.

Oops! Danilla didn’t just buy one piece of cloth for her. She also bought all the team behind her. Danilla also uploaded it on her social media, again with the whole team! The result… our SFO green shirt sales soared sharply within days.

“At the beginning, we doubt the merchandise sales can reach the target so that the SFO can run. It turned out that with Danilla’s help, the target was easily fulfilled. Now the committee is just concentrating on achieving the SFO profit target, so the donations to the COP Borneo orangutan rehabilitation center can help the lives of orangutans there” said Satria, Orangufriends Yogyakarta. (IND)

SOUND FOR ORANGUTAN DENGAN BANTUAN DANILLA DKK

Siapa sih yang ngak kenal artis Danilla. Danilla juga bukan untuk kali pertamanya membantu Centre for Orangutan Protection. Saat acara melukis anak-anak di taman kodok, Jakarta. Danilla juga menyumbangkan 2 buah lagu di acara santai tersebut. Kini, Danilla membeli kaos hijau SFO. Kaos SFO atau Sound For Orangutan ini adalah merchandise COP yang keuntungannya akan dikelola untuk menggelar acara musik amal SFO.

Ups… Danilla tidak hanya membeli satu potong baju untuknya. Tapi dia juga membelikan tim belakang layar Danilla. Dan.. Danilla mengunggah nya di media sosialnya. Lagi-lagi dengan seluruh tim nya. Hasilnya… penjualan kaos hijau SFO melonjak tajam dalam hitungan hari.

“Kita sempat ragu apakah penjualan merchandise dapat mencapai target agar SFO bisa berjalan. Ternyata dengan bantuan Danilla, target dengan mudah terpenuhi. Kini panitia tinggal konsentrasi mencapai target keuntungan SFO agar sumbangan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bisa membantu orangutan di sana.”, ujar Satria, orangufriends Yogyakarta.

4 FAKTA UNIK MENGAPA ORANGUTAN HARUS DISELAMATKAN (3)

Ini adalah fakta yang ketiga, mengapa orangutan harus diselamatkan, Orangutan terancam punah. Berdasarkan hasil PHVA (Population and Habitat Viability Assessment) orangutan di tahun 2016, orangutan di pulau Sumatera dan Kalimantan saat ini diperkirakan berjumlah 71.820 individu. Dengan demikian kepadatan populasi orangutan Kalimantan cenderung menurun dari 0,45 – 0,76 individu per kilometer persegi menjadi 0,13 – 0,47 individu per kilometer persegi di habitat seluas 16.013.6000 ha dan tersebar di 42 kelompok populasi (metapopulasi). Dengan prediksi tersebut, setidaknya berarti 1 individu orangutan di seluruh Indonesia (wilayah survei) memiliki luas kawasan atau daerah jelajah sekitar 222,96 ha.

Alih fungsi hutan menjadi perkebunan monokultural seperti perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri (HTI) serta perkebunan karet skala luas masih menjadi ancaman terbesar bagi habitat orangutan di Indonesia. Selain itu, kegiatan penambangan batu bara di Kalimantan Timur juga dinilai mengancam keberadaan orangutan yang ada di kawasan Kutai Timur, Kalimantan Timur. Lebih lanjut upaya konversi hutan telah mengarah pada penghilangan habitat penting orangutan yang keberadaan populasi orangutan di Indonesia 70% berada di luar kawasan konservasi (Singleton et.al, 2004).

Dalam satu dekade terakhir setiap tahunnya, paling tidak terdapat 1,2 juta ha kawasan hutan di Indonesia (habitat non habitat) di konversi untuk pertanian, perkebunan, pertambangan dan pemukiman. Kebakaran hutan juga menyumbang kerusakan besar pada habitat orangutan terutama pada musim badai El Nino dan musim kering yang berkepanjangan. Selama 20 tahun terakhir, habitat orangutan Borneo berkurang paling tidak sekitar 55% (wwf.or.id). (NUS)

ALISA AND CONSERVATION LAW

Right on the International Orangutan Day, August 19, 2018, Orangufriends in Padang got invitation from Komunitas Tanda Baca Forum Pegiat Literasi Padang Panjang (Reading community of Literacy Activist Forum in Padang Panjang) to be the speaker or “guest instructur” in writing class. The participants were diverse, from elementary school students to high school students. Many of them have written short story, even some of them have won writing competition.

I was very enthusiastic that day. How did I not? A trip by motorcycle to Padang Panjang itself was an adventure, let alone educating people about the importance of maintaining the balance of nature through conservation efforts amidst the threat of orangutan extinction, the “umbrella species”. Of course with hope that the lesson taught will enriched and improved the writing creativity of participants.

And the result was…. very astonishing. They wrote in various topics from thrilling experiences in meeting wild animals unexpectedly to how happy they were learning about wildlife and conservation in Indonesia. And there was something interesting about Alisa’s writing. Alisa was one of the youngest participant that day. Most participants were writing about their experiences, but not with Alisa. The girl who was a 4th grade student wrote about law enforcement. She stated how important the enforcement of Article 21 of Law No. 5 of 1990 regarding Conservation is, which punishment can be up to 5 years imprisonment and 100 million IDR fine! (SAR)

ALISA DAN UNDANG-UNDANG KONSERVASI
Tepat di hari peringatan Orangutan Sedunia (International Orangutan Day) tanggal 19 Agustus 2018 lalu, Orangufriends Padang mendapat undangan dari Komunitas Tanda Baca Forum Pengiat Literasi Padang Panjang untuk menjadi pemateri atau “Instruktur Tamu” di kelas Menulis. Peserta yang hadir beragam, mulai dari siswa Sekolah Dasar hingga siswa Sekolah Menengah Atas. Banyak diantara mereka yang telah menghasilkan tulisan berupa cerpen bahkan ada yang sering menjuarai perlombaan menulis.

Hari itu, saya sungguh bersemangat. Bagaimana tidak, perjalanan dengan sepeda motor ke Padang Panjang sudah menjadi petualangan tersendiri, apalagi edukasi betapa pentingnya manusia menjaga keseimbangan alam melalui upaya-upaya konservasi di tengah terancamnya kepunahan orangutan sang “Payung Konservasi”. Tentu saja dengan harapan, materi yang disampaikan bisa menambah pengayaan peserta komunitas dalam mengembangkan imajinasi tulisan mereka.

Hasilnya… sungguh mencengangkan. Mereka menulis dengan berbagai tema mulai dari pengalamannya yang menegangkan saat tanpa sengaja harus berhadapan langsung dengan satwa liar, hingga tentang betapa senangnya mereka mendapatkan materi tentang satwa liar dan perlindungannya di Indonesia. Nah, yang menarik itu adalah tulisan yang dibuat Alisa. Salah satu peserta terkecil yang ikut kelas menulis hari itu. Jika yang lain lebih banyak mengangkat tema pengalaman mereka, tidak demikian halnya dengan Alisa. Anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas 4 SD itu malah mengangkat tema tentang penegakkan hukum. Dengan tegas dan lugas dia menyatakan betapa pentingnya penerapan pasal 21 dari Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi yang ancaman hukumannya bisa mencapai 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah! (Novi_COPShool7)

THE INTERNATIONAL ORANGUTAN DAY

In Mid-January 2018, headless orangutan corpe was found floating in Barito river, right under the Kalahien bridge, Kalahien village, Gunung Mas regency, Central Kalimantan. The autopsy results showed that there were at least 17 airgun pellets found in the body and the head was beheaded intentionally. The two suspects have been sentenced with 6 months imprisonment and fined Rp 500.000,00.

On February 6, we were shocked by the incident of orangutan killed by airgun with at least 130 pellets found on it. What was worse is the crime scene was in the area of National Park in East Kalimantan. The killer was a palm oil farmer who penetrated to the National Park area.

Today, August 19, is celebrated as International Orangutan Day, people around the world are celebrating in various way as a moment to campaign the importance of orangutan for nature preservation. ” As Indonesian people, we are supposed to be proud to have orangutans, which is the only great apes that live in Asia. While other great apes, such as gorilla, bonobo, and simpanse are only found in Africa.”.

Notes:
– Orangufriends is a supporter group of Centre for Orangutan Protection
– Simultaneous actions of orangufriends to celebrate the International Orangutan Day were held in 8 cities, i.e. Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Palembang, Padang, Medan, and Berau.(SAR)

HARI ORANGUTAN SEDUNIA
Pertengahan Januari 2018 ditemukan bangkai orangutan tanpa kepala mengapung di Sungai Barito, persis di bawah jembatan Kalahien, desa Kalahien, kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Hasil otopsi menemukan setidaknya ada 17 peluru senapan angin dan kepala orangutan sengaja dipenggal. Dua tersangka telah divonis dengan hukuman masing-masing 6 bulan penjara dan denda Rp 500.000,00.

Pada tanggal 6 Pebruari kita dikejutkan lagi dengan kejadian pembunuhan orangutan dengan senapan angin, hasil otopsi setidaknya menemukan 130 peluru senapan angin. Yang lebih parahnya, TKP berada di dalam salah satu Taman Nasional di Kalimantan Timur. Pembunuhnya adalah petani kelapa sawit yang merambah kawasan Taman Nasional.

Kasus terakhir ialah kasus penemuan mayat orangutan di kanal perkebunan kelapa sawit PT. WSLL II, Seruyan, Kalimantan Tengah pada tanggal 1 Juli 2018. Kondisi ketika ditemukan sudah sangat buruk. Namun hasil otopsi menemukan setidaknya ada 7 peluru senapan angin dan luka-luka pada bagian telapak tangan atau kaki. Tahun 2018 adalah tahun yang buruk bagi konservasi orangutan di Indonesia. Dunia menganggap Indonesia gagal dalam hal konservasi orangutan dan dianggap tidak beradab. Melalui aksi ini kami dari Orangufriends menyampaikan masih ada anak-anak muda Indonesia yang peduli terhadap orangutan.

Tepat hari ini tanggal 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orangutan Internasional, masyarakat dunia memperingatinya dengan berbagai macam cara sebagai momen untuk mengkampanyekan pentingnya orangutan bagi kelestarian alam. “Sebagai orang Indonesia kita sepatutnya berbangga dengan memiliki orangutan, yang mana orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Sedangkan kera besar lainnya seperti gorila, bonobo dan simpanse hanya ada di Afrika.”

Catatan :
– Orangufriends adalah kelompok pendukung dari Centre for Orangutan Protection (COP).
– Aksi serempak Orangufriends memperingati International Orangutan Day di 8 (delapan) kota, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Palembang, Padang, Medan, dan Berau.

WHEN ORANGUTAN STOP BY SMPLB PURBA SUTA

Friday, August 10, 2018 was the day that i have been waiting for since a week ago. Yeah.. today was the day I’d do the school visit to SMPLB Purba Suta Purbalingga. With the help of my schoolmate (Dena and Aziz), the explanation about orangutan and its habitat to 28 students of 7th – 9th grade and 7 accompanying teachers made this school visit different from the others. They were very passionate and proactive.

Not even one hour passed, we closed the meeting by coloring orangutan. That rich colors will never be forgotten because I had the opportunity to teach one of special schools with special needs students. I was beyond happy when they paid attention to us and listened to us. I was confused at first how to communicate with them. There’s one quotes from Helen Keller that represented my feeling when doing this activity, “Alone we do so little, but together we can do so much.”.

Orangufriends or supporter group of COP that consist of COP School alumnus  annually celebrated International Orangutan Day on August 19 with various kind of activities and giving education to schools and communities is one of them. One orangufriends invites friends and relatives and then spread out to one school or community to another. And the chain keeps coming on. (SAR)

SAAT ORANGUTAN MAMPIR DI SMPLB PURBA SUTA
Jumat, 10 Agustus 2018 adalah hari yang saya tunggu sedari satu minggu yang lalu. Ya… hari itu adalah hari dimana saya akan melakukan kegiatan school visit di SMPLB Purba Suta Purbalingga. Dengan bantuan teman sekolah saya (Dena dan Aziz), penjelasan tentang orangutan dan habitatnya pada 28 siswa kelas VII-IX serta 7 orang guru pendamping menjadikan school visit kali ini berbeda dengan yang lainnya. Mereka begitu bersemangat dan sangat aktif.

Tak terasa satu jam pun berlalu, menutup perjumpaan dengan mewarnai orangutan. Kaya warna yang tidak akan pernah saya lupakan karena berkesempatan mengajar di salah satu sekolah luar biasa dengan para siswa berkebutuhan khusus. Bahagia sekali saat mereka memperhatikan kita dan mendengarkan kita. Sempat bingung apakah bisa berkomunikasi dengan mereka. Ada satu quotes dari Helen Keller yang dapat mewakili perasaan saya ketika berkegiatan kali ini, “Alone we do so little, but together we can do so much.”

Orangufriends atau kelompok pendukung COP yang juga terdiri dari alumni COP School memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya dengan berbagai cara dan kesempatan, salah satunya edukasi ke sekolah maupun komunitas-komunitas. Satu orangufriends, mengajak teman dan saudara lalu menyebarkannya dari satu sekolah maupun komunitas. Terus berantai dan berlanjut. (Yuanita_COPSchool8).

PAINTING ORANGUTAN CAGES AT COP BORNEO

Since 2015, the cages for orangutan in orangutan rehabilitation center have not been repainted. Just several times fixing the rusted iron by replacing and welding it. At first, the keepers were planning to just paint the cage pole. But turned out, the entire cage were repaint.

Danel, amir, Steven, with the help of two volunteers started the cage maintenance. “Regular cage maintenance is important. While painting, we could pay attention to which part needs improvement. Repainting can also inhibits the rusting of iron. ” said Amir

“Coincidentally, quarantine cages are empty, because the orangutan release candidates are on the orangutan sanctuary island. So, the orangutan who live in the cage that are being repainted will be moved within a few weeks until the paint dries and the smell of it is gone.” added Steven.

We understand that the funds that come to orangutan rehabilitation center are from many people’s donation. That’s why we use the money so carefully. We did the repainting activity by ourselves without the help of workman to save the money, and of course without disrupting orangutan’s schedule to go to the forest school as well. (SAR)

PENGECATAN KANDANG ORANGUTAN DI COP BORNEO
Sejak tahun 2015, kandang untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan belum pernah dicat ulang. Beberapa kali hanya membetulkan besi-besi yang keropos dengan menggantinya dan mengelas. Awalnya, para karyawan berencana untuk mengecat tiang kandang saja. Tapi nyatanya, seluruh kandang dicat ulang.

Danel, Amir, Steven dengan bantuan dua relawan memulai perawatan kandang ini. “Perawatan berkala sangat penting. Sambil mengecat, kami bisa memperhatikan bagian-bagian yang memerlukan perbaikan. Pengecatan ulang juga bisa menghambat pengeroposan besi-besi kandang.”, ujar Amir.

“Kebetulan, kandang karantina kosong, karena orangutan yang akan dilepasliarkan dipindahkan ke pulau orangutan. Jadinya, orangutan penghuni kandang yang sedang dicat ulang akan pindah dalam beberapa minggu sampai bau cat hilang dan cat mengering.”, tambah Steven menjelaskan.

Kami memahami dana yang sampai di pusat rehabilitasi adalah donasi dari banyak orang. Itu sebabnya kami menggunakan dana tersebut dengan hati-hati sekali. Pengecatan seperti ini kami lakukan sendiri tanpa memanggil tukang untuk menghemat pengeluaran, tentu saja dengan tidak menganggu jadwal orangutan ke kelas sekolah hutan. (WET)

SOUND FOR ORANGUTAN 2018 IN YOGYAKARTA

Sound for Orangutan charity music event is the sounds of wildlife, especially orangutans and their habitat. Since 2010 at MU Cafe, Sarinah, Central Jakarta, Shaggydog band is the first music group that sincerely campaign for orangutans through Centre for Orangutan Protection. Not only enthusiastically campaign through social media, they even didn’t hesitate to set aside the profit of the concert for orangutans.

Continued in 2012 at Rolling Stone Cafe, Jakarta then this activity became an annual crowdfunding event to support orangutans and their habitat protection, that this is shared responsibility not only in the hands a of government. Since that year, many musicians and artists had took their time to perform at the charity music event, Sound for Orangutan, like Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, and many more.

Sound for orangutan will be held for the 8th time with the theme of “Extinction is Forever”. the extinction of one animal species is a loss, both ecologically and its role in nature. Orangutans are great apes that an only found in the Asian continent and most of them are in Indonesia, precisely in Sumatera and Kalimantan island. Through musics, the orangutan protection campaign is spread out. The profit from this event will be donated to COP Borneo orangutan rehabilitation center, east kalimantan. The only rehabilitation center founded by Indonesian people. (SAR)

SOUND FOR ORANGUTAN 2018 DI YOGYAKARTA
Acara Musik Amal Sound for Orangutan adalah suara satwa liar khususnya orangutan dan habitatnya. Sejak 2010 di MU Cafe, Sarinah, Jakarta Pusat, band Shaggydog adalah grup musik pertama yang berkampanye untuk orangutan lewat Centre for Orangutan Protection dengan tulus. Tak hanya rajin berkampanye lewat media sosial, mereka pun tak segan-segan menyisihkan keuntungan dari konsernya untuk orangutan.

Berlanjut di tahun 2012 di Rolling Stone Cafe, Jakarta hingga menjadi acara tahunan untuk menggalang dukungan publik terkait dukungan perlindungan orangutan dan habitatnya bahwa ini adalah tanggung jawab bersama bukan hanya di tangan pemerintah. Sejak tahun itu pula, para artis seperti Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, dan masih banyak lagi band indie yang menyempatkan diri tampil di acara musik amal Sound For Orangutan ini.

Sound For Orangutan akan digelar untuk kedelapan kalinya dengan tema “Extiction is Forever” atau kepunahan adalah selamanya. Kepunahan satu spesies satwa merupakan sebuah kerugian baik secara ekologi dan peran akan satwa liar tersebut di alam. Orangutan merupakan kera besar yang hanya bisa ditemukan di benua Asia dan mayoritas di Indonesia tepatnya di pulau Sumatera dan Kalimantan. Lewat musik, kampanye perlindungan orangutan disebarkan. Keuntungan dari penyelenggaraan musik amal ini akan disumbangkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan putra putri Indonesia.

Kamu pun bisa bantu orangutan Indonesia lewat pembelian kaos SFO Hijau. Hubungi SMS/ Whatsapp : 081293248403 harga berkisar Rp 100.000,00 sampai Rp 120.000,00 Pre-Order ditutup pada 25 Agustus 2018. Buruan!!!(NIK)

Page 5 of 21« First...34567...1020...Last »