Orangufriends

SEGELAS KOPI DAN ORANGUTAN

Ruang diskusi dengan konsep warung kopi diperkenalkan oleh Sinergi Coffee. Berbagai tema dan narasumber dengan pengenalan isu-isu yang berkembang serta disukai anak muda menjadi topik yang hangat sambil menyeruput kopi panas. Lokasinya yang berada di sekitaran kampus UGM, Yogyakarta kali ini mengajak anak muda untuk mengetahui tentang dunia perlindungan orangutan.

Masih dalam menyambut hari bumi, Kamis malam, 20 April 2017 cerita seru di lapangan untuk menyelamatkan orangutan dan satwa liar lainnya disampaikan Ahmad Bukhori. Ahmad Bukhori adalah siswa COP School Batch 5, dengan gaya khas Sumateranya mengajak kita untuk bangga dengan keanekaragaman hayati Indonesia. Tidak hanya bangga, tapi bagaimana kita bisa terlibat agar tidak menjadi sebuah cerita pengantar tidur saja nantinya.

Salah satu peserta diskusi bertanya, bagaimana bayi orangutan bisa terkena peluru senapan angin. Salah satu tim APE Crusader yang menangani bayi orangutan ini pun berbagi pengalaman. “Pusar bayi orangutan terlihat baru mengering. Mungkin baru 2 minggu umurnya. Dia terlihat sangat lemah. Saat kami menggendongnya, hanya lirih tangisan yang terdengar. Setiap kali posisi berubah, dia menjerit kesakitan. Kami memanggilnya bayi Paskhas.”, cerita Satria Wardhana. Selang dua hari kemudian, diketahui, ada peluru senapan angin bersarang di punggungnya. “Saat kami mengecek kondisi fisiknya, terdapat luka hampir kering di punggungnya. Ternyata benar dugaan kami, itu peluru senapan angin.”, tambah Satria lagi.

Tak hanya cerita dari garis depan perlindungan orangutan. Aksi demo orangufriends hingga pengalaman menegangkan orangufriends ikut menangani kasus perdagangan satwa ilegal tak kalah serunya. “Itu pengalaman pertama kalinya, dan bikin ketagihan.” ujar orangufriends. Orangufriends adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection. COP banyak terbantu dengan keikutsertaan orangufriends yang aktif ini.

Berdialog dan berdiskusi tentang konservasi tidak harus dilakukan di ruang seminar atau kuliah tamu dengan serius. Dimana pun, kapan pun, anak muda bisa bicara lingkungan sambil menikmati segelas kopi Tolu Batak panas. Seperti kata Sinergi Coffee, “Kami percaya kopi mampu menyinergikan apapun.”. (DAN)

CATATAN SELEKSI COP SCHOOL BATCH 7

Tidak banyak sekolah atau pelatihan yang dirancang untuk mencetak aktivis satwa liar yang mempunyai pemahaman dasar konservasi dengan etika dan moral terutama di satwa liar orangutan. Kalaupun ada tidaklah bertahan lebih dari 3 kali pelatihan. Mundur perlahan kemudian hilang. Apa yang membuat COP School bisa bertahan hingga tahun ke-6 dan sekarang siap menyambut Batch 7 dengan kekuatan, antusiasme dan semangat juang orang-orang dibalik layarnya.

Kami percaya, “apa yang dikerjakan karena perut akan kembali ke toilet, apa yang dikerjakan dengan hati akan kembali kehati.”. COP School bisa dikatakan sebuah “sekolah” yang setiap tahunnya berganti kurikulum karena mengikuti perkembangan dunia konservasi dengan pertimbangan, evaluasi dan masukan dari siswa, alumni, pemateri dan staff COP. Karena tidak ada sekolah sejenis yang bisa kami jadikan rujukan sebagai influens. Semua diawali meraba-raba hingga bertemu, bergerak dan berjuang bersama-sama siswa.

Hingga saat ini COP School bisa berjalan karena dikerjakan secara kolektif. Persis seperti budaya kita, Gotong Royong. Mungkin teman-teman bertanya kenapa ada kalimat “membayar sebagian Rp. 500.000,00“ diposter COP School. Yups, memang karena sebagian lainya “dibayar” oleh pemateri dan alumni COP School sebelumnya. Teman-teman alumni yang masih mempunyai waktu luang mencurahkan waktunya untuk membantu berjalannya COP School. Yang tidak ada waktu dan sudah mapan menyumbangkan dananya. Para pemateri datang dari kota lain ke Yogyakarta dengan biaya sendiri. Kolektif ini berjalan karena kami percaya selama masih ada anak-anak muda Indonesia yang mau peduli terhadap satwa liar maka dunia konservasi satwa liar masih mempunyai peluang untuk bertahan. Itulah yang kami sebut “MENOLAK PUNAH”.

Teman-teman calon siswa yang telah masuk disini tentu telah mengalami perjalanan, “ngapain loe ikut-ikutan acara nyelamatin monyet ato kera segala, serius loe??”. Berupaya empati untuk satwa di Negara kita memang sesuatu yang bisa dikatakan bukan hal normal. Tapi jika tidak ada orang gila maka tidak ada kelompok orang normal. Kami ingin membuat barisan menolak punah yang benar-benar “gila”. Dari tiga tugas yang dilemparkan kami bisa menilai semangat teman-teman dan juga terpaksa mengeluarkan empat calon siswa dari grup ini karena sama sekali tidak menjalankan tugasnya. Hingga akhirnya nanti tanggal 29 April 2017 benar-benar tersaring siswa Batch 7.

COP School tidak ada kuota kursi yang harus dipenuhi. COP School pernah hanya 18 orang siswa dan pernah juga sampai 40 lebih siswa. Tetap akan berjalan dan mempunyai ceritanya sendiri. Teruslah bertahan menjadi “gila” hingga nanti bertemu bulan depan di Yogyakarta. (DAN)

CHARISHA’S EXPERIENCE WITH COP (1)

Centre For Orangutan Protection (COP) is an organization that has done a lot of good to not only the orangutans but as well as other domestic and wild animals. They have also exposed the shameless and sick perpetrators of the wildlife trade in Indonesia. Their dedication in rescuing the injured and sick animals in strenuous situations as well as bringing the wildlife traders and poachers to justice is indeed a dangerous but brave approach. In all manners, respect has definitely been earned.

When I was a little kid, going for animal shows and enjoying pictures taken with the animals was something enjoyable to me. This included a picture taken with an orangutan. Being young and naive and thinking it was really cool to have a picture taken with an orangutan as well as other wild animals. Later on I would realize that what I did back then was not a cool thing.

I had the opportunity of helping out with the enrichment programme in the enclosure of the orangutans when I was doing a short externship at Taiping Zoo in Malaysia. Not until recent, I had a close up experience with a baby orangutan at Animal Sanctuary Trust Indonesia (ASTI). As always I go up there to lend a hand with the animals and do some photography and this time I was told that there were two baby orangutans named Upin and Ipin who had just been brought in by the BKSDA and the police.

I saw Upin in the cage and I thought to myself, he is handsome! He reached out his hand and laid it on my cheek and I felt my world stopped spinning that second and I had tears streaming down my face. That second right there, something in me changed. Upin casually moved his fingers wiping away my tears. How did such a beautiful soul end up in the hands of humans far from the forest?
In 2013, I decided to join COP School Batch 3. I not only learned that Orangutans are endangered in both Sumatera and Kalimantan, but I also learned that wildlife trade in Indonesia is as real as it can get. Being an animal enthusiast and an animal lover, I felt the need to help them. Wanting to pursue my passion in wildlife veterinary, I decided to do my intern at COP Borneo to learn the rehabilitation of orangutans under Ape Defender.

What is the role of a vet in the field of Orangutan conservation? to be continued… (Charisha_Orangufriends)

COLLABORATION IS THE BEST WAY IN THE CONSERVATION

After beginning the lengthy process a year ago, just 9 Green Peafowl’s are ready for release in Baluran National Park on February 19, 2017. This all is due to the cooperation of all parties involved. Collaboration is the best in the world of conservation.

Originally, there was 13 Green Peafowls saved from the illegal wildlife trade in Bantul, Yogyakarta from a joint operation with the police headquarters, COP, Orangufriends and JAAN on February 8, 2016. The perpetrator was imprisoned for 9 months and will not commit this crime again. The other animals successfully saved were submitted to WRC jogja for rehabilitation. A year later BKSDA Yogyakarta, WRC jogja, Kelawar UB, Orangufriends and COP prepared to release them into Baluran National Park, East Java.

“Don’t buy wildlife!”, said Daniek Hendarto. Release is not a small process but is a time consuming, costly and energy onsuming process.

Setelah melalui proses panjang selama satu tahun ini, hanya 9 merak hijau yang bertahan hidup hingga dilepasliarkan di TN Baluran pada 19 Februari 2017. Ini semua tak lepas dari kerjasama semua pihak. Kolaborasi adalah yang terbaik dalam dunia konservasi.

Semula ada 13 merak hijau yang diselamatkan dari perdagangan satwa di Bantul, Yogyakarta yang merupakan operasi bersama MABES POLRI, COP, Orangufriends dan JAAN pada 8 Februari 2016. Pelaku M. Zulfan menjalani hukuman penjara selama 9 bulan dan tidak akan melalukan kejahatan ini lagi.

Satwa yang berhasil diselamatkan masuk ke WRC Jogja untuk dirawat. Setahun kemudian, BKSDA Yogyakarta, WRC Jogja, Kelawar UB, Orangufriends dan COP melepasliarkannya di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

”Jangan beli satwa liar!”, tegas Daniek Hendarto. Pelepasliaran adalah proses panjang yang memakan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit.
#combatingwildlifetrafficking

KELANJUTAN PERDAGANGAN TOKO OLD & NEW BANDUNG

Masih ingat penggerebekan toko souvenir barang antik di RE. Martadinata Bandung? Tim gabungan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Dit Tipidter Rekrimsus Polda Jabar, Centre for Orangutan Protection dan Jakarta Animal Aid Network menemukan bagian-bagian satwa yang dilindungi dalam bentuk awetan pada 30 Juli 2015.

Kamis, 16 Februari 2017 pukul 14.19 WIB, kasus lanjutan toko Old & New Bandung dengan barang bukti offset kepala beruang, lengan harimau, ekor harimau, tengkorak buaya memasuki sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Terdakwa menyampaikan bahwa barang-barang yang dijual di tokonya semuanya barang titipan. Toko Old & New Bandung mendapat komisi 10% dari penitip barang. Toko Old & New telah berdiri sejak tahun 2004, selama ini semua offset terbuka, bisa dilihat semua orang. Terdakwa tidak tahu kalau offset satwa tersebut tidak boleh dijual dan dilindungi.

Atas perbuatannya, terdakwa akan dijerat pasal 21 ayat 2 huruf b dan d junto pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

EXCITING EXPERIENCE BECOMING KITCHEN ANGEL IN COP SCHOOL

Hi! My name is Nita Istikawati, you can call me Nita. I am a COP Supporter from Yogyakarta.
The story began in 2010 when I decided to join COP as a volunteer. At that time, I was a university student doing an Accounting degree. It can be said that my education didn’t have any correlation with orang-utans at all. So, I wasn’t surprised when some college friends bullied me about my bizarre activities outside of campus. They often said that I was a very odd person because I liked to go to the zoo to make enrichments and better enclosures for the animals, joined an orang-utan demonstration (campaign), and also spoke out loudly against the destruction of rainforests for palm oil plantations. They thought it was extremely peculiar behaviour for a student from the Faculty of Economics. Well, it never ever stopped me raising awareness and helping orang-utans through COP. From my own experience, I know that everyone can help the orang-utan and its habitat without limits and boundaries. Everything that begins from your heart will come back to your heart again.
There are so many exciting experiences I gained when I was working as a volunteer in orangutan protection. There were lots of unforgettable memories. One of them is when I became a COP School organiser. My favourite position was as part of the kitchen team or kitchen angel. First, because I could taste the food before the other people did. Second, I could taste again and then third I could do food tasting again and again (LOL). On the other hand, I love cooking. Perfect. But please take it easy, I just wanted to make sure that all of the food that we provided at COP School was healthy, free from formaldehyde and safe for consumption by participants and also the presenters. I called it working on the front line. Alibi.
Hmmm… actually becoming part of the kitchen team meant that we should be facing the reality of the lack of sleeping time. Imagine this: the kitchen angels have to wake up very early in the morning before the cock crows and are already moving in the direction of the rising sun. Meanwhile, others were still soundly resting in bed.
As a kitchen angel during COP School, I had to wake up no later than 3.30am every day, because we had to boil water for drinking and then go off to the market to buy vegetables. After that, we picked up food for the catering and also had to prepare anything else. Morning rush hour. From this activity, I learnt a lot about time management and of course became more responsible with my job.
The kitchen is the most strategic place to meet up with everyone. While the participants were making tea or a cup of hot coffee, I got lots of chances to talk with them. Warm conversation in the morning made us feel closer to each other. The participants of COP School are very multicultural. They come from various backgrounds. There is a veterinary student, biology, design, law, economy, communication, etc. Well, I came to understand a wide range of characters and it made me easier to adapt to the new environment. Yes, COP School is a place where I gained a new family, who inspire and strengthen each other. Thanks, COP.

PENGALAMAN SERU MENJADI TEAM DAPUR DI COP SCHOOL
Hai! Nama saya Nita Istikawati biasa dipanggil Nita. Salah satu pendukung COP dari Yogyakarta.
Cerita bermula di tahun 2010 ketika saya bergabung menjadi volunteer COP. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di jurusan Akutansi. Bisa dibilang latar belakang saya memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orangutan. Jadi, tidak heran jika sering diejek teman-teman mengenai kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. Saya dibilang orang aneh yang suka keluar masuk kebun binatang, ikut kegiatan demo (kampanye) dan teriak-teriak tentang sawit. Menurut mereka tidak wajar dilakukan oleh anak ekonomi. Namun hal itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk terus membantu COP. Menurut saya menyelamatkan orangutan dan habitatnya itu tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua yang berawal dari hati akan kembali ke hati.
Ada banyak sekali pengalaman seru selama berkecimpung di dunia perlindungan orangutan yang tidak akan pernah terlupakan. Salah satunya adalah setiap kali menjadi panitia kegiatan COP School. Saya paling senang menjadi bagian dari tim dapur. Pertama bisa cicip makanan, kedua cicip lagi, ketiga cicip lagi, dan lagi (hehe). Selain itu saya suka makan. Cocok ya. Eitsss tapi jangan salah persepsi. Saya cuma mau memastikan makanan di COP School semuanya sehat, bebas dari formalin dan aman dikonsumsi oleh peserta juga para pengisi acara. Ini namanya adalah bekerja di garda depan. Alibi.
Hmmm… sebenarnya menjadi tim dapur itu artinya harus menghadapi kenyataan bahwa jatah tidur sangat berkurang. Bayangkan pagi buta sebelum ayam berkokok kami para kitchen angels sudah bergerak menuju arah matahari terbit. Di saat yang lainnya masih nyenyak tidur di dalam sleeping bed.
Rutinitas selama COP School, setiap hari paling lambat bangun sekitar pukul 3.30 pagi karena wajib memasak air untuk kebutuhan minum dan pergi ke pasar membeli sayur mayur. Mengambil makanan di catering dan juga harus menyiapkan ini dan itu. Pagi yang sangat sibuk. Dari kegiatan ini saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana mengorganisir waktu yang baik dan bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Dapur adalah tempat paling strategis untuk bertemu dengan semua orang. Sembari para peserta membuat teh atau secangkir kopi panas, saya banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Obrolan hangat di pagi hari membuat susana menjadi lebih dekat dengan para peserta. Para peserta COP School sangat multikultural. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang. Ada mahasiswa kedokteran hewan, biologi, desain, hukum, eknonomi, komunikasi, bahasa, dsb. Secara tidak sadar saya menjadi memahami berbagai macam karakter orang dan membuat lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Ya, COP School adalah tempat dimana saya mendapatkan keluarga baru, saling menginspirasi dan menguatkan satu sama lain. Terimakasih COP.

SELAMA COP SCHOOL BERLANGSUNG

Hi, namaku Shaniya asal Surabaya. Di foto itu aku yang paling depan dengan jilbab hitam. Aku adalah salah satu dari 40 orang yang lolos tahap seleksi untuk mengikuti COP School Batch 6 yang diadakan pada 18-22 Mei tahun lalu di Yogyakarta. Saat ini, statusku sudah menjadi Alumni dari kegiatan tersebut.

Pertama, aku mau bilang. Sama sekali nggak bakal rugi kamu daftar dan ikut seleksi COP School. Kalau kamu lolos, kamu akan dapat salah satu pengalaman yang ngak akan kamu dapatkan di tempat lain. Kalau belum lolos, kamu masih punya banyak kesempatan untuk coba daftar lagi tahun depan, dan tahun depannya lagi, dan seterusnya.

Setelah lolos seleksi, kamu pun nggak perlu takut bakal ‘terdampar’ ketika kamu sampai di Yogyakarta sebelum waktu yang ditentukan untuk kumpul di Camp COP. Kalau tahun lalu, teman-teman Batch 6 yang memang tinggal di Yogyakarta dengan senang hati membantu siapa saja yang membutuhkan akomodasi sementara sebelum kegiatan dimulai.

Siang pertama kegiatan mulai, kami kumpul di Camp COP dan menyerahkan tugas yang harus dibawa. Sorenya semua membangun tenda sesuai kelompok masing-masing dan berkenalan dengan semua yang ada di Camp. Di sini, menurutku sebaiknya kamu ngak cuma kenalan sama COP School angkatanmu aja, tapi juga sama alumni-alumni yang ada, baik yang jadi panitia maupun pendamping kelompok. Setelah semuanya kenal satu sama lain, malamnya dipilih siapa yang jadi Ketua Kelas dari Batch 6.

Hari kedua kumpul, kami sudah dapat materi sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kedua. Nah setelah materi pertama ini serunya bener-bener dimulai. Di sini, fisik kamu bakal diuji juga ketahanannya. Longmarch bersama, yaa lumayanlah kalau buat yang jarang olahraga. Jadi, ada baiknya juga kamu latihan fisik sebelum berangkat ikut COP School.

Selama kegiatan di lokasi kedua tidur di tenda, kita bakal dapat banyak banget materi, nggak cuma tentang konservasi dan satwa liar, tapi juga jurnalistik dan bahkan bagaimana jadi investigator kasus perdagangan satwa liar! Keren kaaan! Selain itu, materi yang paling aku suka adalah tentang animal welfare. Karena di sini kamu bakal ditantang untuk bikin design kandang dan enrichment untuk satwa yang ada di kandang rehabilitasi maupun di kebun binatang. Dalam satu hari, ada sekitar 3 sampai 4 materi diselingi istirahat dan berbagai games yang seru semua. Games yang paling seru menurutku, saat kita diajak keluar pendopo buat melakukan pengamatan, ada binatang apa aaja di sekitar kita. Ini gak asal lho, karena panitia udah menyiapkan boneka berbagai binatang yang disembunyikan di sekitar jalur yang ditentukan. Di sini mata kita dituntut buat jeli sama keadaan sekitar. Dan nanti bakal di cek, apakah hewan yang kamu tulis itu bener atau bukan bagian dari binatang yang udah disembunyiin dan ditentuin sama panitia kegiatan.

Selain itu, kamu juga dituntut untuk bisa kerjasama sama kelompok kamu. Kalian bakal bagi tugas setiap harinya. Siapa yang ambil bahan masakan, yang masak, yang cuci piring, cuci alat masak, dan lain-lain, karena kita bakal masak sendiri buat sarapan dan makan malam.

Selama COP School, aku dapat banyak banget pengalaman berharga yang aku yakin berguna banget buat diriku ke depannya. Juga buat kamu yang memang ingin banget punya peran dalam membantu kelangsungan satwa liar di negara kita, kamu mungkin harus coba ikut kegiatan yang satu ini. Teamwork kamu teruji, public speaking-mu terlatih, dan kamu dapat banyak materi mengenai satwa liar, jadi ke depannya saat kamu terjun ke dunia konservasi, kamu nggak asal ikut-ikutan orang lain karena kamu punya dasar yang kamu dapat selama COP School.

Gimana, seru banget kan? Tahun ini aku berharap aku punya waktu untuk jadi pendamping kelompok selama kegiatan berlangsung. Kalau kamu bener-bener tertarik, saranku kamu harus sesegera mungkin daftar karena kalau ketinggalan ya sudah, kamu harus tunggu tahun depan lagi.
Jadi sampai ketemu ya di COP School Batch 7 nanti! See you soon! (Shaniya_Orangufriends)

INTERAKSI SISWA SAAT PRA COP SCHOOL

Tahun lalu setelah mendaftarkan diri di COP School lewat email yang saya ketahui dari media sosial, kita pun akan diberikan beberapa tugas Program Seleksi yang selama dua minggu melalui tugas-tugas lapangan atau pun membaca literasi dan merangkumnya dalam sebuah tulisan. Tugas diberikan di grup Facebook dan kita dibuatkan kelompok dengan didampingi satu orang panitia.
Mengawali dengan membiasakan diri berkomunikasi lewat media sosial untuk menerima tugas, terjun langsung ke lapangan, mengamati tugas lapangan yang diberikan, membaca literasi dan menyampaikan laporan tulisnya. Tahap selanjutnya, lima hari di Yogyakarta dengan materi yang sangat padat dan praktek langsung di lokasi kegiatan. Tidak hanya komunikasi satu arah, namun dua arah, dimana peserta dan pemateri sama-sama belajar.

Yang menarik, peserta yang telah lolos seleksi menjadi siswa akan dibuatkan kelompok dan didampingi panitia dari siswa COP School sebelumnya, disinilah kita sebagai siswa COP School yang lolos seleksi akan berkomunikasi satu sama lain tanpa mementingkan status sosial, agama, ras, suku, kesetaraan gender ataupun bahasa. Karena selain dari negara kita sendiri yang mempunyai berbagai macam bahasa ada juga beberapa siswa COP School berasal dari Negara lain.
Dalam kelompok yang akan dibuatkan oleh panitia, disini kita menjalin komunikasi yang saling mengenalkan satu sama lainnya sebelum kita sama-sama bertemu secara langsung. Komunikasi lewat group Line, WhatsApp ataupun Facebook akan memberikan sebuah keakraban yang berbeda, saling berinteraksi mengenai perkenalan diri sampai hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk pelatihan di Yogyakarta.

Beberapa persiapan dari panitia pelaksana sebelum kegiatan dilakukan akan diinformasikan terlebih dahulu ke pendamping kelompoknya dan selanjutnya akan dibagikan informasi tersebut ke group masing-masing kelompok. Mulai dari persiapan bahan materi, perbekalan yang akan dibawa, sampai keperluan dan perlengkapan bersama untuk kelompok. Biasanya dari berbagai kebutuhan yang diperlukan pasti akan ada teman kelompok kita yang tidak mempunyai, ini akan menuntut kita untuk sama-sama menutupi kekurangan dalam kelompok dan memang dituntut untuk saling melengkapi dan mendukung satu sama lainnya.

Walaupun kita belum pernah bertemu dan baru kenal lewat media sosial saja, tetapi ini menjadi wahana yang sangat unik mengakrabkan diri sebelum bertemu pada saat pelaksanaan COP School.
Dari komunikasi yang berjalan inilah sehari sebelum COP School saya sudah berada di Yogyakarta. Kami berkumpul dengan teman satu kelompok untuk sekedar berkenalan dan makan malam menikmati kota Yogyakarta. Siswa yang luar kota bahkan tertolong bisa dijemput oleh siswa yang dari Yogyakarta di stasiun, terminal dan bandara. Bahkan ada yang mendapat tumpangan tidur baik sebelum COP School maupun setelahnya. Ya saya itu orangnya. (PETz)

TASK BY TASK TO JOIN COP SCHOOL

Jadi gini, flashback ke tahun 2016 sekitar pertengahan hingga akhir bulan April ada beberapa tugas yang diberikan setelah mendaftar jadi peserta COP School Batch 6. Tugas ini merupakan tahapan seleksi calon siswa COP School menjadi siswa. Diantaranya tugas berkunjung ke pasar burung/pasar hewan, berkunjung ke kebun binatang, memberikan komentar tentang iklan yang beredar, dan tugas esai tentang “Mengapa Orangutan Perlu Dilindungi”.

Setiap tugas yang diberikakan mempunyai batasan waktu pengumpulan yang mana pada waktu itu sistemnya diunggah di grup facebook khusus COP School Batch 6. Tugas pertama tentang berkunjung ke pasar hewan waktu itu saya mengerjakan dengan sangat mepet batas pengumpulan, sebab berhubung di tempat saya berkuliah lumayan disibukkan dengan praktikum hingga petang hari. Jadi 1 jam sebelum batas pengumpulan saya berkunjung ke salah satu petshop dan melaporkan hasilnya beberapa menit sebelum batas pengumpulan.

Setelah itu, tugas kedua dirilis beberapa hari kemudian yaitu berkunjung ke kebun binatang maupun taman satwa sekitar daerah yang kita tempati. Tugas ini lumayan santai karena waktu yang diberikan lumayan sekitar beberapa hari. Kebetulan saya berkuliah di Yogyakarta jadi tujuan saya adalah ke kebun binatang kesayangan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti biasa setelah kunjungan gratis *eh (cerita untuk masuk gratis kebun binatang di Jogja nanti aja yah, kalo dah ketemu, haha) dilanjutkan dengan menulis laporan dan mengunggahnya di Facebook.

Beranjak ke tugas ketiga, nah ini lumayan bikin penasaran tugasnya buat apa? Tugas ketiga sangat gampang tetapi rada sulit. Tugasnya adalah mengambil gambar dan dibagi di grup Facebook. Gambarnya adalah tentang iklan/reklame/billboard dan sejenisnya yang menurut anda menarik. Mudah sih buat nyari iklannya yang susahnya adalah memilih iklan mana yang paling menarik karena waktu itu saya dihadapkan pada dua pilihan, ya dua pilihan itu sangat sulit antara ya dan tidak, tetapi kamu harus berani menentukan pilihan walaupun dua-duanya punya resiko dan dua-duanya punya kenikmatan yang terembunyi (ngomong opo toh iki).

Tadaa~ saatnya untuk tugas ke-4, the last task. Jadi gini, tugas keempat kita disuruh menulis esai tentang ”Mengapa Orangutan Perlu Dilindungi?”. Nyari semalaman saya di depan layar komputer, merangkai kata-kata dan membandingkan dengan literatur demi tugas keempat ini. Tiada rasa puas yang terbandingkan jika kita melakukannya dengan tangan sendiri meski masih banyak evaluasi, kritik dan saran maupun komentar. Tetapi itulah yang membuat langkah kaki tetap kuat bertumpu di tanah air tercinta ini.

Ternyata setelah materi-materi diberikan di COP School saya baru mengerti kenapa tugas-tugas dalam seleksi calon siswa itu untuk apa. Materi yang diberikan akan mudah kita mengerti karena kita sudah pernah melihat langsung dan membaca litarasinya. Sampai bertemu ya di COP School batch 7.(Tete_Orangufriends)

SEMANGAT DAN IMPIAN BARU LEWAT COP SCHOOL

Nama saya Alex Sander, sebelum mengikuti COP School Bacth 6 saya telah aktif sebagai Animal Keeper di Animals Indonesia, sebuah Pusat Penyelamatan Satwa di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan sejak satu tahun yang lalu. Suatu kebanggaan besar bagi saya untuk bisa bergabung dan aktif dalam upaya penyelamatan satwa. Saya memperoleh kesempatan besar untuk mengikuti COP School Batch 6 pada bulan Mei 2016.

Pada awalnya saya masih ragu mengikuti kegiatan ini, namun atas dasar saran dari kawan kawan seperjuangan, saya mencoba memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Keputusan ini merupakan hal yang berat karena saya belum pernah berpergian jauh apalagi keluar luar pulau dan ijin orang tua yang belum juga merestui keberangkatan saya. Hampir satu minggu saya galau seperti orang yang tidak waras, namun saya tetap bersikeras untuk datang di kegiatan tersebut karena menurut saya  COP school  adalah kegiatan yang akan memberikan banyak hal positif bagi saya dan memberikan pelajaran hidup yang bisa memotivasi saya menjadi lebih baik.

Seminggu setelah galau, saya berangkat menunju Yogja pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2016 dengan niat, kemauan dan modal yang pas-pasan, hanya pas untuk ongkos pulang pergi. Sebagai informasi buat kalian, bahwa perjalanan dari Lubuk Linggau menuju Yogyakarta membutuhkan waktu selama tiga hari tiga malam, mungkin kalau satu hari lagi saya berada dalam bis pasti saya sudah menjadi mumi saat tiba di Yogya.

Pada saat bus tiba di Yogya, saya malah tidak sadarkan diri dan seseorang membangunkan saya kalau bis yang saya tumpangi telah menuju Solo. Pada saat itu saya bingung harus bagaimana namun supir bis memberikan bantuan untuk ikut dengan bis lain yang menuju kearah Yogya dan akhirnya saya tiba di tempat tujuan yaitu “Y.O.G.Y.A.K.A.R.T.A.!!!”.

Sebelum kegiatan COP School dimulai, saya dan beberapa kawan animal keeper dari COP Borneo berkesempatan menjadi relawan di Wildlife Rescue Center Yogyakarta selama 2 hari. Saya berkesempatan untuk merawat Siamang, berbagai jenis burung, orangutan dan membuat enrichment.

Pada tanggal 18 – 22 Mei 2016 saya mengikuti COP School Batch 6, hal yang pertama kali saya rasakan adalah seperti saya bukan siapa – siapa mengingat saya sangat awam dalam kegiatan konservasi dibandingkan dengan kawan-kawan lainya. Namun itu bukan penghalang bagi saya untuk belajar karena saya bertemu kawan-kawan dan tim seperjuangan (Kelompok 6) yang selalu mendukung saya walaupun saya paling bodoh dan dekil. Hahahaha…

Selama lima hari kegiatan saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga dari narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi saya menjadi lebih baik lagi dalam dunia konservasi. Hal yang tidak terlupakan ketika tenda kelompok kami kebanjiran karena tenda kami bocor dan akhirnya kami tidur seadanya dan kami harus memakan kerak nasi karena nasi yang kelompok kami masak terlalu matang.

Banyak Hal yang saya peroleh pada saat kegiatan COP school Batch 6 dan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Terimakasih kepada keluarga besar COP yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar tentang dunia konservasi. Pada tanggal 23 Mei saya harus pulang kembali ke Lubuk Linggau dan kembali menekuni aktivitas yang saya lakukan dengan penuh semangat dan impian yang baru. (Alex_Orangufriends)

Page 4 of 10« First...23456...10...Last »