Orangufriends

COP AS THE BEST ENVIRONMENTAL CSO IN 2018

Today, the Center for Orangutan Protection received an Award from the Indonesian government as the best community organization of environment in 2018. The award was given directly by Minister of Home Affairs, Mr. Tjahjo Kumolo. Besides the environmental sector, the government also gave awards to community organizations in health, education, culture, and other sectors.

This award was the first to be received by COP from the Indonesian government. COP was founded in 2007 and is the first and the only orangutan conservation organization native to Indonesia. The existence of COP has an impact not only for orangutans but also for local communities and various species of wildlife.

Thank you for all the trust and support of COP supporters and COP volunteers who are members of Orangufriends. This award belongs to all of you who have been working hard to combat wildlife crime.(IND)

COP SEBAGAI ORMAS LINGKUNGAN HIDUP TERBAIK 2018
Pada hari ini Pusat Perlindungan Orangutan mendapatkan Penghargaan dari Pemerintah Indonesia sebagai organisasi masyarakat di bidang lingkungan hidup terbaik tahun 2018. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Selain bidang lingkungan hidup, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada organisasi-organisasi masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain.

Penghargaan ini adalah yang pertama diterima Pusat Perlindungan Orangutan atau lebih dikenal dengan Centre for Orangutan Protection (COP) dari pemerintah Indonesia. COP didirikan pada tahun 2007 dan merupakan oraganisasi konservasi orangutan yang pertama dan satu-satunya yang asli Indonesia. Keberadaan COP berdampak tidak hanya untuk orangutan tetapi juga untuk berbagai jenis satwa liar lainnya dan masyarakat setempat.

Terimakasih atas dukungan dan kepercayaan para pendukung COP dan relawan COP yang tergabung dalam orangufriends.

THERE ARE ORANGUTANS IN INDOCOMTECH 2018

This was the first time for Center for Orangutan Protection to participate at the electronic exhibition, Indocomtech at the Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta. It all began with the unexpected invitation from the committee which turned out to be an extraordinary excitement. October 31 to November 4, starting at 9:00 a.m. to 10:00 a.m. Who else made it hillarious … yes Orangufriends, a support group for the Center for Orangutan Protection. Not only in Jakarta, Novi (Orangufriends Padang) also took time to stop after becoming an Animals Warrior volunteer in the tsunami earthquake in Palu, Central Sulawesi.

Only at the COP booth those who wanted to take pictures with orangutans are allowed. There were even 4 orangutans that could accompany you with your best style. There were also prizes for those who then upload to social media by tagging @orangutan_cop on Instagram. It was exciting! Of course, these orangutan dolls will stay silent, they won’t bite you or transmit their disease to you.

Do you still remember the campaign Orangutan is not a toy right? Yes, we share the same DNA with orangutans at 97%. If you have the flu, of course the orangutan can catch it from you so he becomes a cold. What if the opposite? Yes, if the orangutan is exposed to hepatitis, you can also get hepatitis from him. Say no photos with orangutans! Except for stuffed orangutans at the Indocomtech COP booth. (EBO)

ADA ORANGUTAN DI INDOCOMTECH 2018
Ini adalah keikutsertaan Centre for Orangutan Protection yang pertama kali di acara pameran elektronik, Indocomtech di Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta. Ini juga karena undangan dari panitia yang tak disangka ternyata menjadi keseruan luar biasa. 31 Oktober hingga 4 November mulai dari jam 09.00 pagi hingga 10.00 malam. Siapa lagi yang bikin ramai… ya orangufriends, kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection. Tidak hanya yang di Jakarta loh, Novi (Orangufriends Padang) juga menyempatkan diri mampir usai menjadi relawan Animals Warrior di gempa tsunami Palu, Sulawesi Tengah.

Hanya di booth nya COP loh, untuk kamu yang ingin berfoto bersama dengan orangutan diperbolehkan. Bahkan ada 4 orangutan yang bisa menemani kamu dengan gaya terbaikmu. Ada hadiahnya juga untuk kamu yang lalu mengunggah ke media sosialmu dengan mencolek @orangutan_cop di instagram. Seru kan! Tentu saja, boneka orangutan ini akan diam saja, tidak akan mengigit kamu ataupun menularkan penyakit ke kamu.

Masih ingat kampanye Orangutan Bukan Mainan kan? Ya, kita berbagi DNA yang sama dengan orangutan sebesar 97%. Jika kamu flu, tentu saja orangutan bisa tertular dari kamu sehingga dia menjadi flu. Bagaimana jika sebaliknya? Ya, jika orangutan tersebut terkena hepatitis, kamu pun bisa tertular hepatitis darinya. Katakan tidak foto dengan orangutan ya! Kecuali boneka orangutan di booth COP Indocomtech.

A TALE BEFORE SLEEP FOR PALU CHILDREN

Due date of the Palu earthquake and tsunami disaster response that was extended to October 26 has come. Novi Fani Rovika, Orangufriends from Padang who has been a volunteer for Animals Warrior team in Central Sulawesi from October 18 will be back to West Sumatra soon. Hundreds of dogs and cats in Petobo and Balaroa was successfully being fed from donations on https://kitabisa.com/bantusatwapalu . Not only feed them, there was several dogs and cats that had to be evacuated to the shelter to get some treatment because of their condition.

There was not much time left, but the desire to meet the children in the refugee camp was the reason to go out on the last night in Palu. It’s simple, armed with a fable book, Novi started the night by storytelling. A tale before sleep for Palu children.

“Their school might be ruined by tsunami and went down by liquefaction. But it won’t shed their enthusiasm in learning. They’re not traumatise, even though the anxiety is still there. Even if they don’t know how long they will live in tents, they have to keep learning. Falling crumb one must be content with crust. Unable to study at school, they can still study in the middle of tent’s dim light. It’s this little thing that will be useful later. After all, they have to recover soon. Although sometimes it’s sad and heartbreaking, but they’re steadfast, even strong!, said Novi closing the night. (SAR)

DONGENG SEBELUM TIDUR UNTUK ANAK PALU
Tanggal tanggap bencana gempa dan tsunami Palu yang diperpanjang hingga 26 Oktober pun tiba. Novi Fani Rovika, orangufriends Padang yang menjadi relawan Animals Warrior di Sulawesi Tengah sejak 18 Oktober pun akan segera kembali ke Sumatera Barat. Ratusan anjing dan kucing yang berada di Petobo dan Balaroa berhasil diberi makan dari donasi yang masuk ke https://kitabisa.com/bantusatwapalu Tak hanya pemberian makanan saja, tetapi ada beberapa anjing dan kucing yang harus dievakuasi ke shelter anjing maupun kucing dan terus mendapatkan perawatan karena kondisinya.

Tak banyak waktu yang tersisa, tapi keinginan untuk bertemu dengan anak-anak di pengungsian menjadi alasan untuk keluar di malam hari-hari terakhir di Palu. Sederhana saja, dengan bermodalkan buku cerita satwa, Novi pun memulai malam ini dengan bercerita. Dongeng sebelum tidur untuk anak-anak Palu.

“Sekolah mereka… boleh saja diratakan oleh tsunami dan ditelan oleh likuifaksi. Tapi takkan mampu merontokkan semangat belajar mereka. Mereka tidak trauma, meski was-was itu ada. Meski entah sampai kapan akan menjalani hidup di tenda-tenda pengungsian, mereka harus tetap belajar. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak bisa belajar di gedung sekolah, di tengah temaran cahaya camp pengungsian pun jadi. Justru yang sedikit inilah akan sangat berguna nanti. Bagaimana pun, mereka harus segera pulih. Meski kadang sedih dan pilu mendera, tapi mereka tabah, bahkan kuat!”, ujar Novi menutup malam ini.

IT’S TIME FOR PLAYING WITH CHILDREN IN THE REFUGEE CAMP

“Copies of the image to be coloured, done. I have put in the markers for colouring, too. Well, today I escaped from the routine of animals caring in the clinic and shelter”, said Novi Fani Rovika, volunteer of Animals Warrior for the Palu earthquake and tsunami disaster.

Novi had spent her full week feeding dogs and cats who were left and abandoned by their owners in the earthquake and liquefaction area of Patobo and Balaroa Villages. She took care of several confiscated animals in the BKSDA Central Sulawesi and Tahura Kapopo, Sigi District, Central Sulawesi. She also shared her time caring for dogs in Palu Dog Lover shelter and for cats at Mrs. Ana’s shelter, with around 80 cats. Now, it’s time to interact with children in the refugee camp, who still have time to think about cats and dogs in Patobo and Balaroa.

It starts with singing together, playing, telling stories and colouring images. Suddenly, 90 minutes passed. Their smile brings happiness to me. All the 20 elementary students from 4-5 grade finally can hold paper and colour markers again after the disaster. “Let’s color our life, kids!” said Novi with enthusiasm. (IND)

SAATNYA BERMAIN DENGAN ANAK-ANAK DI PENGUNGSIAN PALU
“Fotokopi gambar yang akan diwarnai, sudah. Spidol untuk mewarnai juga sudah kumasukkan tas. Baiklah hari ini melarikan diri dari rutinitas merawat satwa di klinik dan shelter.”, gumam Novi Fani Rovika, relawan Animals Warrior untuk bencana gempa dan tsunami Palu.

Setelah seminggu penuh mengisi hari-hari dengan memberi makan anjing, kucing di daerah bencana gempa dan likuifaksi kelurahan Patobo dan Balaroa yang ditinggal mengungsi penghuninya. Novi juga mengurus beberapa satwa sitaan di BKSDA Sulteng dan Tahura Kapopo, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Novi juga berbagi waktu merawat anjing di shelter Palu Dog Lover maupun kucing-kucing di shelter ibu Ana yang jumlahnya mencapai 80-an kucing. Saatnya berinteraksi dengan anak-anak di pengungsian, yang masih juga sempat memikirkan nasib kucing maupun anjing yang mereka tinggal di Patobo maupun Balaroa.

Dimulai dengan bernyanyi bersama, bermain, bercerita dan ditutup dengan mewarnai tak terasa 90 menit pun berlalu. Senyum mereka adalah senyum bahagiaku. Keduapuluh anak kelas 4-5 SD ini pun kembali bisa memegang kertas dan spidol warna kembali. “Ayo warnai kehidupan, anak-anak!”, ujar Novi dengan semangat.

ANIMALS WARRIOR SAVE 5 KITTENS IN PETOBO

A very tiring day. This is not the first time the team has been around feeding dogs and cats in Petobo, Central Sulawesi. Petobo has experienced liquefaction with severe damage and destroyed almost one village in Palu. “There are 21 dogs and 52 cats recorded today while we doing a street feeding,” said Faisal, animal volunteers who joined Orangufriends.

At the house in the corner seems like there are not only 3 dogs. One mother dog has wet nipples, that indicates she is still breastfeeding. The team braves themselves to enter the collapsed house. In the bathroom, between buckets of water, they saw baby dogs hiding. Their eyes are still covered, still only 1 week old. The homeowner, evacuated and has not returned yet. The team immediately coordinated with neighbours and conveyed the existing conditions and the possibility of evacuating the dogs.

Together with Mrs. Ana, the owner of a cat shelter in Palu, the Animals Warrior team headed to a house which was reported to have sick kittens. The search for cats is not easy. All the cats were roamed, so the team had to chase and catch them. There are 5 cats with wounds in their eyes. Now the five are in the shelter of Mrs. Ana.

If you want to help animal victims of the earthquake and tsunami disaster in Palu, Central Sulawesi, you can go to kitabisa.com/bantusatwapalu

ANIMALS WARRIOR SELAMATKAN 5 ANAK KUCING DI PETOBO
Hari yang sangat melelahkan. Ini bukanlah untuk pertama kalinya tim berkeliling memberi makan anjing dan kucing di daerah Petobo, Sulawesi Tengah. Daerah yang mengalami likuifaksi dengan kerusakan parah dan menghilangkan hampir satu kelurahan di Palu. “Ada 21 anjing dan 52 kucing tercatat pada hari ini saat keliling pemberian pakan.”, ujar Faisal, relawan satwa yang tergabung di Orangufriends.

Rumah pojok ini ternyata tak hanya ada 3 anjing di situ. Terlihat satu induk anjing dengan puting susu yang masih menyusui. Tim pun memberanikan diri memasuki rumah yang rubuh tersebut. Di kamar mandi, di antara ember air, terlihat bayi-bayi anjing bersembunyi. Matanya masih terseliputi, masih baru 1 minggu usianya. Pemilik rumah, mengungsi dan belum kembali. Tim segera berkordinasi dengan tetangga yang kebetulan ada, dan menyampaikan kondisi yang ada serta kemungkinan mengevakuasi anjing-anjing tersebut.

Bersama ibu Ana, pemilik shelter kucing di Palu, tim Animals Warrior menuju rumah yang dikabarkan ada anak-anak kucing yang sakit. Pencarian kucing tak semudah yang dipikirkan tim, datang ke rumah dan menemukan kucing tersebut. Ternyata kucing-kucing berkeliaran, sehingga tim pun harus berkejar-kejaran menangkap kucing-kucing tersebut. Ada 5 kucing yang mengalami luka pada matanya. Kini kelimanya berada di shelter ibu Ana.

Jika kamu ingin membantu satwa korban bencana gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, bisa melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu

GEMPI AND HER FRIENDS ARE NO LONGER COLD IN RAIN

Her small body screamed and hobbled toward the Animals Warrior team. Among the ruins of the house, the team found a kitten who was dehydrated and malnourished. The Animals Warrior team, who had worked two weeks on the field, went around looking for her mother. Unfortunately, after trying to find, the mother never appeared. Gempi, this kitten was evacuated from the liquefaction location in Balaroa Village, Palu, Central Sulawesi.

The team took Gempi to the Palu Earthquake and Tsunami Disaster Relief Camp at the BKSDA (Natural Resources Agency) Central Sulawesi and then moved it to the Palu cat shelter, run by Mrs. Ana. In this shelter, there are about 70 abandoned cats treated by Mrs. Ana. The condition of the shelter is not much different from the condition of the house or office in Palu, it is cracked and collapsed. Mrs. Ana was forced to put up a temporary tarpaulin in front of her house to avoid heat and rain but it did not last long, because when the wind blew hard, the tarpaulin was scattered.

Animals Warrior immediately divided the team into 2 groups, one group evacuated several animals from the BKSDA Central Sulawesi to Manado and the others rebuilt Mrs. Ana’s cat shelter. “Luckily, there is material shop already open. The team also bought wood and other necessities. In two days, the shelter roof was installed. Cages were arranged to make maintenance easier”, said Daniek Hendarto. Strong winds often blow in Palu and the last two days of rain are quite heavy. Meanwhile, to include cats into the house, Mrs. Ana was still traumatized by the earthquake so she did not dare to stay in the house for too long.

Thank you for the donation via https://kitabisa.com/bantusatwapalu. Without all the help, it might be difficult to immediately realize a better place for cats in Ms. Ana’s shelter.

GEMPI DAN TEMAN-TEMAN TIDAK KEHUJANAN LAGI
Tubuh kecilnya berteriak dan tertatih-tatih mendekati tim Animals Warrior. Di antara reruntuhan rumah, tim menemukan anak kucing yang mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Tim Animals Warrior yang saat itu sudah bekerja dua minggu di lapangan langsung berkeliling mencari induknya. Sayang, setelah berusaha mencari, sang induk tak kunjung muncul. Gempi, anak kucing ini pun dievakuasi dari lokasi likuifaksi kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah.

Tim membawa Gempi ke Posko Satwa Terdampak Bencana Gempa dan Tsunami Palu yang berada di BKSDA Sulteng dan kemudian memindahkannya ke shelter kucing Palu ibu Ana. Di shelter ini sendiri ada sekitar 70 kucing terlantar yang dirawat ibu Ana. Kondisi shelter tak jauh berbeda dengan kondisi rumah maupun perkantoran yang ada di Palu, retak bahkan rubuh. Ibu Ana pun terpaksa memasang terpal sementara di depan rumahnya untuk sekedar menghindari panas dan hujan namun tak bertahan lama, karena saat angin berhembus kencang, terpal pun kocar-kacir.

Animals Warrior segera membagi tim yang ada, sebagian mengevakuasi satwa sitaan BKSDA Sulteng ke Menado dan yang lainnya membangun kembali shelter kucing ibu Ana. “Beruntung, sudah ada toko bangunan yang buka. Tim pun berbelanja kayu dan keperluan lainnya. Dalam dua hari, atap shelter darurat pun terpasang. Kandang-kandang pun disusun untuk lebih memudahkan perawatan.”, ujar Daniek Hendarto dengan lega. Bagaimana tidak lega, angin kencang sering berhembus di Palu dan dua hari terakhir hujan lumayan lebat. Sementara untuk memasukkan kucing-kucing ke dalam rumah, ibu Ana sendiri masih trauma karena gempa sehingga tidak berani terlalu lama berada di dalam rumah.

Terimakasih atas donasi melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu Tanpa bantuan semuanya mungkin akan sulit untuk langsung mewujudkan tempat yang lebih baik untuk kucing0-kucing di shelter ibu Ana.

THE MASSIVE AREA OF PALM OIL PLANTATION IN EAST KALIMANTAN

Trans Borneo Challenge #1 trip on October 13 was accompanied by an endless rain. Throughout their long trip, the team realized how huge the palm oil plantations in East Kalimantan is. The switch of team members cannot be avoided. Septian, who is a COP School Batch 6 alumni, must be replaced by Reza Kurniawan from COP School Batch 5.

An illegal orangutan ownership case is still found. Unyil, a baby orangutan from Meratak Village, East Kalimantan, looked thin. Unyil was sitting in an empty cage. “This is a dilemma. A local person, Mr. Jating, cannot let Unyil starving and fright alone in the middle of his field. When he found Unyil, he brought Unyil to have cared at his house” said Ibnu Anshari, an alumnus of COP School Batch 1 who was the Team Leader of the Trans Borneo Challenge #1 trail.

Finally, after 9 days of traveling from East Java, the team arrived at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. What a challenging and interesting journey. The team witnessed the condition of our mother earth. They listen and see the loss of orangutan habitat in East Kalimantan, that are destroyed by the enormous palm oil business. (IND)

LUASNYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KALIMANTAN TIMUR

Perjalanan Trans Borneo Challenge #1 pada 13 Oktober ditemani hujan tanpa henti. Sepanjang perjalanan tanpa putus perkebunan kelapa sawit membawa kami pada luasnya perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur ini. Pergantian personal pun tak bisa dihindari. Septian yang merupakan alumni COP School Batch 6 harus digantikan Reza Kurniawan dari COP School Batch 5.

Kepemilikan ilegal orangutan pun masih dijumpai. Orangutan Unyil dari kampung Meratak, Kalimantan Timur terlihat kurus. Unyil pun masih terduduk di kandang kosong. “Ini adalah dilema, masyarakat tak tega membiarkan Unyil sendirian di tengah ladangnya saat ditemukan pertama kali. Unyil pun dibawa untuk dipelihara. Kasihan kata pak Jating.”, ujar Ibnu Anshari, alumni COP School Batch 1 yang merupakan ketua Tim trail Trans Borneo Challenge #1.

Akhirnya, setelah 9 hari melakukan perjalanan dari Jawa Timur, tim berhasil tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Sebuah perjalanan yang menantang dan menarik. Tim menjadi saksi kondisi ibu bumi. Mendengarkan dan melihat langsung semakin hilangnya habitat orangutan di Kalimantan Timur.

ZAENAB FROM FISHERMAN’S HOUSE ON TALISE BEACH

To ease the pain, madam Zaenab raised her arms to the chest. Her arms looked swollen. The time when she run away from tsunami at fisherman area, Talise beach, East Palu, Central Sulawesi. Her house was the last house that survived the tsunami.

Madam Zaenab went back to her house, checking on the cats that used to gather around her house. There was no time to look after them. When she run away, she fell down and her hand hurts as she came to health centre post.

Madam Zaenab, as any other mother, returned to her house while looking for the cats that used to gather around in her yard. Like madam Ana near yellow bridge at Talise beach, Palu city icon. Madam Ana, as she awakened from her sleep she asked whether she’s already dead or not. She faintly heard cat’s sound. And she realised that she’s alive. “I still heard cat’s sound that was getting clearer and louder. And I saw it approaching me. I am still alive.”, Madam Ana said.

Now, madam Ana is taking care of the cats living nearby. She said that this will be her activity. Earthquake and Tsunami that hit Talise beach has ruined houses, places to find food, and of course the life of Palu residents. Not sure how many people that are disunited. Now, they are struggling to reunite their ruined hopes. (SAR)

ZAENAB DARI RUMAH NELAYAN PANTAI TALISE
Untuk mengurangi rasa sakitnya, ibu Zaenab mengangkat tangannya sedadanya. Tangannya terlihat bengkak. Saat melarikan diri dari tsunami di daerah nelayan, pantai Talise, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Rumahnya menjadi rumah terakhir yang selamat dari terjangan tsunami.

Ibu Zaenab kembali lagi untuk mengecek keberadaan kucing-kucing yang biasanya berkumpul di rumahnya. Tak ada waktu untuk mencari kucing-kucing itu. Saat melarikan diri, dia terjatuh dan tangannya pun terasa sakit setibanya di posko Puskesmas.

Ibu Zaenab seperti ibu-ibu lainnya di Palu, kembali ke rumahnya sembari mengecek kucing-kucing yang biasanya berkumpul di halaman rumahnya. Seperti ibu Ana di pantai Talise dekat jembatan kuning, ikon kota Palu. Ibu Ana, tersadar dari tidurnya di posko. Apakah saya sudah mati? Sayup-sayup terdengar suara kucing. Dan dia pun tersadar bahwa dia masih hidup. “Masih ku dengar suara kucing yang semakin jelas dan keras. Lalu kulihat dia mendekati ku. Masih hiduplah aku.”, kata ibu Ana lagi.

Kini ibu Ana mengurus kucing-kucing di sekitarnya, ini akan jadi kesibukanku tersendiri, begitu katanya. Gempa dan Tsunami yang menerjang pantai Talise telah memporak-porandakan rumah, tempat mencari makan dan hidup warga Palu. Entah berapa ribu orang yang tercerai-berai. Kini mereka sedang berjuang menyatukan kembali puing-puing harapannya.

THE ‘WAY BACK HOME’ BOAT IS BADLY BROKEN

The APE Defender Team has tried to survive with a leaky boat for the past 4 months. Various efforts have been made. We were patching it with adhesive glue and cloth, but the leakage appears again at the other parts.

The boat is almost two years old now.  With high usage around the orangutan island, we strongly need a new boat soon. “At midnight, we also have to check the island. It is exhausting to frequently check the water that enters the boat. If we did not remove the water from the boat, the boat will sink with the engine” said Daniel, who is in charge of all vehicles at the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The ‘Way Back Home’ boat is the operational vehicle for the COP Borneo orangutan island. The boat is purchased from the benefits of Sound For Orangutan music charity or often called SFO. It is the greatest gift from the hard work of Orangufriends, COP support group. This music charity will also be held on Monday, October 29, 2018 in Yogyakarta. (IND)

PERAHU ‘WAY BACK HOME’ RUSAK PARAH

Tim APE Defender mencoba bertahan dengan perahu yang bocor selama 4 bulan terakhir ini. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari menambalnya dengan lem perekat dan kain, namun muncul lagi kebocoran di bagian yang lain.

Usia perahu yang hampir dua tahun ini dengan penggunaan yang tinggi di sekitar pulau orangutan menuntut untuk segera ada perahu baru lagi. “Saat tengah malam, kami pun harus mengecek keberadaan pulau, karena kalau tidak dicek dengan menguras air yang masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam bersama mesin perahu..”, ujar Daniel, penanggung jawab kendaraan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Perahu ‘Way Back Home’ adalah kendaraan operasional pulau orangutan COP Borneo. Perahu yang dibeli dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan atau sering disebut juga SFO merupakan kerja keras orangufriends, kelompok pendukung COP. Acara musik ini pun akan digelar Senin, 29 Oktober 2018 di Yogyakarta.

MOTHER IN BALAROA WITH HER ELEVEN CATS

Maybe this is the most touching disaster mission for our animal warrior team. The people in Palu are very welcome for the presence of volunteers who are the members of our Animals Warrior team. We saw huge efforts from the pet owner to rescue their pets, like this couple from Balaroa.

Earthquakes are a common thing, but that day it was getting more and more powerful. Finally, an earthquake with 7.4 magnitudes struck all of this regions. This mother called her cats. Lifted it up and took it outside the house. Then she and her husband left the house. This couple is living together with eleven cats. Their efforts to save their cats make the animal volunteers touched. Suwarno, a volunteer who has repeatedly been in various disasters such as Mount Kelud and Mount Agung, also promised to return to feed their cats.

The mother was the first person that return home after one day in the evacuation camp. She did that to feed her cats. “It was amazing. The mom still had time to think about feeding these cats”, said vet Siti Aminah while checking the health of those cats. 4 small cats were given wet food while the big ones were fed with wet and dry food.

Until this day, it is still very difficult to find cat food in Palu. For this reason, cat aid is needed. The handling post for animals affected by the earthquake and tsunami in Palu was at the Central Sulawesi BKSDA office, Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu or contact the Animals Warrior team at 081328837434. (IND)

IBU DI BALAROA DENGAN SEBELAS KUCINGNYA

Mungkin ini adalah daerah bencana yang paling mengharukan bagi para penyelamat satwa yang selama ini menjadi relawan di tempat bencana. Masyarakat Palu yang sangat ‘welcome’ akan kehadiran para relawan satwa yang tergabung dalam tim Animals Warrior hingga usaha para pemilik hewan pelihara terhadap hewan peliharaannya. Seperti usaha sepasang suami istri dari Balaroa ini.

Gempa sudah biasa dirasakan. Hari ini semakin banyak dan semakin kuat. Hingga akhirnya gempa berkekuatan 7,4 SR mengangetkan seluruh penghuni perumnas ini. Ibu satu ini memanggil satu-satu kucing-kucingnya. Mengangkatnya dan membawanya ke luar rumah. Lalu ia dan suaminya pun keluar rumah. Sepasang suami istri ini memang hidup berdua bersama sebelas kucingnya. Usaha menyelamatkan kucing-kucingnya membuat haru para relawan satwa. Suwarno, relawan yang sudah berulang kali berada di berbagai bencana seperti gunung Kelud dan gunung Agung ini pun berjanji untuk kembali lagi mengirim pakan untuk kucing-kucing tersebut.

Si ibu adalah orang pertama yang kembali ke rumahnya yang selamat setelah seharian mengungsi. Itu dilakukannya untuk memberi makan kucing-kucingnya. “Luar biasa sekali… ibu masih sempat memikirkan mengeluarkan kucing-kucing ini.”, ujar drh. Siti Aminah sembari mengecek kesehatan kucing-kucingnya. 4 kucing kecil pun diberi pakan basah sementara yang besar diberi pakan basah dan kering.

Hingga hari ini, masih sulit sekali mencari pakan kucing di Palu, untuk itu bantuan pakan kucing sangat dibutuhkan. Posko penanganan satwa terdampak gempa dan tsunami Palu berada di kantor BKSDA Sulawesi Tengah, jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu atau bisa hubungi tim Animals Warrior di 081328837434.

Page 3 of 2112345...1020...Last »