Down to the beach which is the pride of Palu no longer gives happiness. The yellow bridge that has always been an icon and destination for visitors to Palu also leaves a grief line.

“How are you, Ma’am?” the animal volunteers greet a woman before starting their activities dealing with pets affected by the tsunami at Talise beach, Palu.
“I am fine” she answered.
“How about your family, Ma’am? Are they okay?”
“I lost my 3-year-old child”
“Do you bring cat food?” she asked again, while we were silent hearing the answer.
“Yes, Ma’am. There is it”
“There is nothing that these cats can eat anymore.”

Without waiting for her to speak again, the volunteers hugged her and she started crying. In her deep grief, she still gives love to cats who are tried hard looking for food. No more neighbors she knew. All were washed away by the tsunami. She went to the evacuation camp. Today, she is trying her luck waiting at her neighbor’s empty house, hoping a miracle to come and bring the news of her 3-year-old son.

Being an animal volunteer in disaster sites is not an easy thing. You need to be a good listener with high empathy if you want to go to the disaster site. Thanks to the Palu people. Even in difficult conditions, they are still caring for dogs and cats, sharing their love for animals without exception. (IND)

Menyusuri pantai yang menjadi kebanggaan masyarakat Palu tak lagi memberikan kebahagiaan. Ikon jembatan kuning yang selalu menjadi tempat tujuan pengunjung kota Palu bahkan tempat berkumpulnya para penghobi mancing juga meninggalkan gurat kesedihan.

“Sehat bu?”, begitu sapa para relawan satwa sebelum memulai aktivitasnya menangani hewan peliharaan yang terdampak tsunami di pantai Talise, Palu.
“Sehat aku.”.
“Selamat semua, Bu?”.
“Anakku yang 3 tahun ngak ada.”, katanya lagi.
“Ada makanan kucing kalian bawa?’, tanya nya lagi, sementara kami terdiam mendengar jawabannya.
“Ada Bu.”.
“Kasian kucing-kucing ini tak ada yang bisa dimakannya lagi.”.

Tanpa menungu dia bicara lagi para relawan memeluknya, dan pecahlah tangisnya. Dalam dukanya yang dalam, dia masih memberi kasih pada kucing-kucing yang kebingungan mencari makanan. Tak ada lagi tetangga yang dikenalnya. Semua habis tersapu tsunami. Dia pun mengungsi, dan tadi mencoba peruntungan menunggu di rumah tetangganya yang kosong, mungkin ada keajaiban tentang kabar anaknya yang 3 tahun itu.

Menjadi relawan satwa pada bencana alam bukanlah hal yang mudah. Menjadi pendengar yang baik dengan empati yang tinggi adalah satu syarat jika kamu ingin terjun ke lokasi bencana. Terimakasih masyarakat Palu, dalam kondisi yang sulit pun, kepedulian pada anjing dan kucing tak luntur.


A mother with her third-grade elementary school child is putting in pieces of wood. There is a small cat who follows her into her yard. “Can we feed the cat, Ma’am?” said Ami while squatting and stroking the little cat. “Oh… you guys from cat lovers, right? Yes, you can. I haven’t feed him since I left him. I brought food from the evacuation camp but he didn’t want it.”

The little cat hid behind the mother. “Just put the food in the place to eat. That… there. ” Ami also started the conversation, asking how the mother was. Her family survived, but the furniture in her house was broken. They left the house and followed the other residents to the evacuation camp. The devastating earthquake at September 28 was very traumatic to them. At that time, she only had limited time to run away, so she only took her children and left the cat at the house.

When she arrived at the evacuation camp, she realized her beloved cat was left behind. Three days in evacuation made her even more uneasy. Finally, she came home and found her cat still on the porch of the house. She plans to bring her cat to the camp.

In the midst of the trauma of the refugees, not only this mother who returned to her home because worrying of her beloved cat. Your help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu will keep being distributed until the situation gets better. (IND)

Seorang ibu dengan anaknya yang kelas 3 SD sedang memasukkan potongan kayu. Ada kucing kecil yang mengikutinya bolak-balik masuk ke pekarangannya. “Boleh kasih makan kucing ya Bu…”, sapa Ami sambil jongkong dan mengelus kucing kecil. “O… kalian dari pecinta kucing ya? Kasih saja, sejak ku tinggal belum makan dia. Tadi kubawakan makanan dari posko, ngak mau dia.”.

Kucing kecil itu pun bersembunyi di balik si ibu. “Taruh saja di tempat makannya. Itu… di situ.”. Ami pun memulai perbincangan, dengan menanyakan kabar si Ibu. Mereka sekeluarga selamat, namun perabotan di rumahnya pecah semuanya. Mereka meninggalkan rumah dan mengikuti warga lain untuk ke posko. Gempa maha dahsyat 28 September itu pun menjadi trauma tersendiri. Saat itu tak terpikir olehnya untuk membawa apapun, kecuali anak-anaknya dan keluarga kecilnya.

Sesampai di Posko Pengungsian, baru dia tersadar, kucing kesayangan anaknya tertinggal. Tiga hari di pengungsian membuatnya semakin tidak tenang. Akhirnya dia pulang dan menemukan kucingnya masih di teras rumah. Dia pun berencana membawa kucingnya ke tempat pengungsian.

Di tengah trauma para pengungsi, tak cuman ibu dengan tiga anak ini yang kembali ke rumahnya karena terpikir nasib kucing kesayangan anaknya. Bantuan kamu lewat https://kitabisa.com/bantusatwapalu akan terus kami distribusikan hingga keadaan semakin membaik.


* If you watch Animal Planet, National Geographic or Discovery Channel, even though the contents are Indonesian nature and wildlife but how come it is occupied by foreigner? This is weird, why the wildlife of Indonesia is handled by foreigner? Where are Indonesian people?
* Then there is a kind of opinion that evolves in the communities that foreigner cares, and Indonesian doesn’t. And the perception that it is normal is also evolving.
* Departing from such reality, some Indonesian youths are determined to prove that we can do what foreigner does. Proving that Indonesian youths are capable to manage Indonesian wildlife and wild nature themselves. Then, they founded COP.

* Why orang-utans? Because Panda is identical to China and Elephants are identical to Thailand. Well then, we just take the orangutan. After all, this is the only great ape in Asia. Only in Indonesia and a few in Malaysia. And this is a bit ironic that Malaysia, which has fewer orangutans, is more popular as nature conservation destination to see orang-utans. Indonesia that has orang-utans but Malaysia that grabs billion of dollars from orangutan tourism. So, let’s grab that reputation!

* Another reason why orangutans is communication strategy. This is the entry point to something bigger, namely: Animal – People – Environment. If we use Snake Protection, it will be difficult because people will be afraid from the start, won’t they? And in fact, working in orangutan conservation is a strategic and intelligent step to protect other types of wildlife. Which also has direct impacts on the local community and its environment.

* Well, what about Orangufriends? COP realises that this is a considerable work that is not possible to be done by few people. Nature conservation should be a mass movement, become a part of Indonesia social responsibility and lifestyle. Because of that, COP formed a support group to become a member of Orangufriends.

* It is easy. Don’t have to take a hard training like nature-lovers club does. No punishments, no push-ups, etc. Why make it difficult to care? So, to become Orangufriends member you just have to fill the forms and pay contribution, also agree to obey values of conservationist, such as not hunting/poaching wild animals, not making pet of wild animals or sell them. After becoming member, it is also easy to participate. For those who doesn’t have much time, you can just ‘like, comment, and share’ on social media. We call them Cyber Campaigner. In the current era of New Media, their stregth becomes a decisive factor in winning or losing the opinion war against the perpetrators of crime and cruelty to animals. Those who have much time can also help in education and awareness activities directly, such as exhibitions, school visit, music events or festivals. Those who are dare and crazy enough are welcome to spend time being members of Rescue, Rehab, and Release team or Law Enforcement team.

*Orangufriends is also a great place for self-development for youth. Learn many things from each other from various regions and various countries. Opportunities to travel in various assignments. No more story of unemployed after graduating because of no life-skill and connections/networking.

* For those who are serious to learn deeper, COP also educates a new generation of wildlife protectors since 2011. Commonly called COP School. This is a training and indoctrination program designed specifically for young people who want to work in nature conservation world. Only 35 students a year, get a scholarship and certainly, there is an entry selection.

* If you are already a member of Orangufriends or have graduated from COP School, what activities will you do? Read again the explanation above hehehe. But for sure, this makes us different from other young people who can only take a selfie and write ‘My Trip My Adventure’ caption, It’s about real work as a member of style – funky – global team. (SAR)

* Jika kalian menonton Animal Planet, National Geographic atau Discovery Channel, meskipun isi acaranya satwa liar dan alam Indonesia tapi kok isinya orang asing? Ini aneh, kenapa satwa liar dan alam liar di Indonesia tapi yang menanganinya kok orang – orang asing? Ke manakah anak – anak bangsa Indonesia?
* Lalu ada semacam opini yang berkembang di masyarakat bahwa orang bule itu peduli, kalau orang Indonesia tidak. Lalu berkembang pula persepsi bahwa itu memang sudah sewajarnya.
* Berangkat dari realitas semacam itu, beberapa anak bangsa Indonesia bertekad untuk membuktikan bahwa kita bisa. Membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mengelola satwa liar dan alam liar sendiri. Lalu mereka mendirikan COP.

* Mengapa orangutan? Karena mau pakai Panda sudah telanjur identik dengan China. Mau Gajah sudah telanjur identik dengan Thailand. Ya sudah, kita pakai Orangutan aja. Lagipula ini satu – satunya kera besar di Asia. Hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Lagipula, ini sedikit ironis sebenarnya. Malaysia yang punya sedikit orangutan malah lebih ngetop sebagai tujuan wisata konservasi alam untuk melihat orangutan daripada Indonesia. Indonesia yang punya orangutan tapi Malaysia yang panen milyaran dolar dari wisata orangutan. Jadi, mari kita rebut reputasi itu.

* Alasan lain kenapa orangutan adalah strategi komunikasi saja. Ini hanya entry point untuk sesuatu yang lebih besar, yakni: Animal – People – Enviroment. Kalau kita pakai perlindungan ular, akan sangat sulit karena orang sudah merasa takut duluan. Ya kan? Dan pada kenyataannya, kerja konservasi orangutan ini ternyata langkah strategis dan cerdas untuk melindungi jenis satwa liar lainnya. Yangmana jika kita telusuri juga berdampak langsung pada masyarakat setempat dan lingkungannya.

* Nah, bagaimana dengan Orangufriends? COP sadar bahwa ini adalah kerja besar yang tidak mungkin dilakukan oleh segelintir orang. Sudah seharusnya konservasi alam menjadi gerakan massa. Menjadi bagian dari tanggung sosial masyarakat Indonesia dan gaya hidup. Karena itu COP membentuk kelompok pendukung untuk menjadi anggota Orangufriends.

* Caranya mudah. Tidak harus mengikuti pendidikan yang keras seperti kelompok pecinta alam. Tidak ada hukuman tidak ada push up dll. Mau peduli aja kok susah. Jadi, untuk jadi anggota Orangufriends cukup dengan isi Fomulir anggota dan bayar iuran, serta sepakat untuk mentaati nilai – nilai yang patut bagi konservasionis, misalnya tidak berburu satwa liar, tidak memelihara atau jual beli. Setelah jadi anggota juga mudah untuk berpartisipasi. Yang tidak punya waktu cukup like, comment dan share di medsos. Kami mengebutnya dengan Cyber Campaigner. Di era New Media saat ini, kekuatan mereka menjadi faktor penentu kalah menangnya perang opini melawan pelaku kejahatan dan kekejaman terhadap satwa. Yang punya banyak waktu juga bisa membantu secara langsung dalam kegiatan pendidikan dan penyadaran seperti pameran, kunjungan ke sekolah, event – event musik atau festival. Yang gila dan nekat bisa menghabiskan waktu dengan jadi anggota tim Rescue Rehab Release atau anggota tim penegakan hukum.

* Orangufriends juga wahana yang bagus untuk mengembangkan diri bagi anak – anak muda. Belajar banyak dari yang lain dari berbagai daerah dan berbagai negara. Berkesempatan bepergian dalam berbagai penugasan. Gak ada lagi ceritanya lulus kuliah menganggur karena tidak punya life skill dan jaringan kerja / koneksi.

* Bagi kalian yang serius ingin belajar lebih dalam, COP juga mendidik generasi baru para pelindung satwa liar sejak tahun 2011. Biasa disebut COP School. Ini adalah program pelatihan dan indoktrinasi yang dirancang khusus bagi anak muda yang ingin berkarier di dunia konservasi alam. Hanya 35 orang pertahun, dapat beasiswa dan pastinya ada seleksi masuknya.

* Kalau sudah jadi anggota Orangufriends atau lulus COP School, lalu kegiatannya apa? Baca lagi penjelasan di atas hehehe. Tapi, yang pasti, ini membuat kita beda dengan anak muda lainnnya yang cuma bisa selfie dan bikin caption My Trip My Adventure. Ini tentang kerja nyata sebagai anggota tim yang gaya – gaul – global. (BAK)


Today the Animals Warrior team went to Palu, to the office of BKSDA Central Sulawesi. The area around their office is still paralyzed by the earthquake that occurred on September 28, 2018. At the BKSDA office, there is 1 crocodile, 1 eagle, 2 Moluccan cockatoos, 2 yellow-crested cockatoos, 5 black head parrots, 1 parrot, and 2 maleo birds. These animals are confiscated by the BKSDA Central Sulawesi.

Since the earthquake occurred, the animals were in cages without eating or drinking because all of the BKSDA staff were affected by the disaster. This morning, the team communicated briefly with the keeper and offered temporary maintenance there. The team also provided fresh fruit and corn to feed the animals, and luckily the fruit market return to open. Don’t forget drinking water for these animals. These are all the activities that will be carried out during disaster response.

Center for Orangutan Protection with Animals Indonesia made BKSDA Central Sulawesi office as a rescue post. For those of you who care about animals in Palu can show your support by sending animal food to Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu 94121 or click https://kitabisa.com/bantusatwapalu

Hari ini tim Animals Warrior yang terjun ke Palu datang ke kantor BKSDA Sulawesi Tengah. Daerah sekitar kantornya masih lumpuh karena gempa yang terjadi 28 September 2018 ini. Di kantor BKSDA terdapat 1 buaya, 1 elang, 2 kakatua molucencis, 2 kakatua jambul kuning, 5 nuri kepala hitam, 1 bayan dan 2 burung maleo. Satwa-satwa tersebut merupakan sitaan BKSDA Sulteng.

Sejak gempa terjadi, meraka yang di kandang tanpa makan dan minuman karena semua staf BKSDA Sulteng terdampak bencana ini. Pagi tadi, tim berkomunikasi singkat dengan penjaga dan menawarkan pemeliharaan sementara di sana. Tim pun memberikan pakan buah segar dan jangung yang kebetulan sekali sudah ada penjual buah yang berjualan. Tak lupa air minum untuk satwa-satwa tersebut. Ini merupakan kegiatan yang akan dilakukan selama tanggap bencana.

Centre for Orangutan Protection bersama Animals Indonesia menjadikan tempat di BKSDA Sulteng sebagai posko dan tinggal tim. Bagi kamu yang peduli satwa di Palu bisa mengirimkan bantuan berupa pakan satwa ke Jl. Prof M. Yamin No 19 Palu 94121 atau klik https://kitabisa.com/bantusatwapalu


The city of Palu and several surrounding cities are totally paralysed by the earthquake and tsunami. The number of human victims has reached more than 800 people. Humanitarian assistance continues to come. Even so, is there anyone help pets and livestock victims?

As usual, Animals Indonesia with the support from COP are sending the Animals Warrior team to help displaced animals in disaster-affected areas such at Mount Merapi – Yogya, Mount Kelud Malang – Kediri, Mount Sinabung – North Sumatra, Mount Agung – Bali, and others. This team will rescue, take care, and reunite animals with their owners, including taking care of animals that have already dead.

The help from all of animal lovers is pretty much needed so the team can work well and help animals as many as possible. You can help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu or directly to Centre for Orangutan Protection account no. 0137088800 (BNI NI DJA) by adding 9 at the final nominal, we can immediately confirm it is a donation to Palu animals. (SAR)

Kota Palu dan beberapa kota sekitarnya lumpuh total karena dihentak gempa bumi dan tsunami. Jumlah korban manusia sudah mencapai 800an lebih. Bantuan kemanusian terus mengalir. Namun demikian, adakah yang membantu korban satwa kesayangan dan ternak? 

Animals Indonesia dengan dukungan dari COP seperti biasa menerjunkan tim Animals Warrior untuk menolong satwa yang telantar di kawasan – kawasan terdampak bencana seperti di gunung Merapi-Yogya, gunung Kelud Malang – Kediri, gunung Sinabung – Sumatra Utara, gunung Agung – Bali dan lain – lain. Tim ini akan menyelamatkan, merawat dan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Termasuk mengurus satwa yang sudah telanjur tewas. 

Mohon bantuan anda semua para pecinta binatang agar tim ini dapat bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa. Melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu atau langsung ke nomer rekening Centre for Orangutan Protection 0137088800 (BNI NI DJA) dengan menambahkan nominal akhir 9 agar kami segera dapat mengkonfirmasi itu merupakan sumbangan untuk satwa Palu.


How are the orangutan populations stated to be critically vulnerable to extinction? Through education to schools and communities, orangufriends share their knowledges as well as finding out what these high schools students think. Approximately, 100 students of XI IPA SMAN 2 Berau, East Kalimantan, came together after the second breaktime.

Ipeh, Yanti, dan Aldo were the three orangufriends who engaged the students to think creatively. The discussions, which started from about the presence of orangutans around them to orangutans that they saw on the road around Muara Wahau, were coming to a conclusion that is how close the kinship of humans and the one and only living great apes on this Asia continent are.

Orangutans and humans share 97% of their DNA. The orangutan at the roadside definitely learns how difficult it is to find foods in a damaged habitat. Easier to find at the roadside, begging and getting food thrown by humans. The students concerned not only about orangutan habitats that are being degraded by plantations and mining, but they were also asking about the fate of orangutans in the Safari park and Zoos.

“The enthusiasm of students and the Orangufriends of Berau today have made us racing against the time to save orangutans from extinction. Thank you, SMAN 2, see you some other time!”. (SAR)

Bagaimana populasi orangutan dinyatakan sangat terancam punah? Melalui edukasi ke sekolah dan masyarakat, Orangufriends berbagi pengetahuannya juga mencari tahu apa pendapat siswa menengah atas ini. Kurang lebih 100 siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 2 Berau, Kalimantan Timur berkumpul usai istirahat kedua.

Ipeh, Yanti dan Aldo adalah tiga orangufriends yang mengajak para siswa berpikir kreatif. Diskusi santai mulai dari keberadaan orangutan di sekeliling mereka hingga orangutan yang mereka temui di pinggir jalan di daerah Muara Wahau sampai pada sebuah kesimpulan, betapa dekatnya kekerabatan antara manusia dan kera besar satu-satunya yang hidup di benua Asia ini.

Orangutan memiliki DNA 97% sama dengan manusia. Orangutan yang berada di pinggir jalan tentunya belajar betapa sulitnya mencari makanan di habitat yang telah rusak. Lebih mudah berada di pinggir jalan, mengemis dan mendapatkan lemparan makanan dari manusia. Tak hanya semakin tergusurnya habitat orangutan untuk lahan perkebunan maupun pertambangan yang menjadi konsentrasi para siswa, mereka pun menanyakan nasib orangutan yang berada di Taman Safari maupun Kebun Binatang.

“Semangat siswa dan orangufriends Berau hari ini membuat kami berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Terimakasih adik-adik SMAN 2, sampai bertemu lagi di lain kesempatan!”. (NIK)


All of a sudden, the electricity went out when APE Guardian team (Centre for Orangutan Protection team who work on orangutan release) conducted a school visit activity. There was shouts of disappointment heard at this vocational school at the time. The team immediately modificated the school visit process. Story telling and question and answer session became a more interesting discussion session.

September 6, 2016, All of 10th grade and 11th grade students of SMKN 2 Berau, Easti Kalimantan were gathered in the school hall. At 09.00 WITA sharp, Ipeh, a volunteer who came from Jogja, started introducing the team. This was the second volunteering activity of Ipeh after helping the APE Guardian team in the orangutan release forest last year. ” Being a volunteer of COP is different and addictive. Just like today, facilities limitation such as black out will not stop us. When will we practice modifying the limitation if we don’t jump into action?.” that was what Ipeh said.

East Kalimantan province is a home to the Pongo pygmaeus morio, a sub-species of orangutan. The sub-species is the smallest sub-species in Kalimantan. Educating from school to school became an important activity to directly provide information about the increasingly threat of morio orangutan presence. ” We believe that the conservation of Borneo lies on their hands.” added Ipeh optimistically. (SAR)

Tiba-tiba saja listrik padam saat tim APE Guardian (tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja untuk pelepasliaran orangutan) melakukan kegiatan kunjungan ke sekolah. Terdengar teriakkan kecewa para siswa Sekolah Menengah Kejuruan ini. Tentu saja tim langsung memodifikasi proses ’school visit’ kali ini. Cerita dan tanya jawab menjadi sebuah diskusi yang lebih menarik.

6 September 2018, seluruh kelas X dan XI SMKN 2 Berau, Kalimantan Timur sudah berkumpul di aula sekolah. Tepat pukul 09.00 WITA, relawan Ipeh yang baru saja datang dari Yogyakarta memulai perkenalan tim. Ini adalah kegiatan relawan Ipeh yang kedua kalinya setelah tahun lalu ikut membantu tim APE Guardian di hutan pelepasliaran orangutan. “Jadi relawan di COP itu unik dan bikin ketagihan. Seperti hari ini, keterbatasan fasilitas seperti matinya listrik tidak akan membuat kita berhenti. Kapan lagi kita bisa berlatih memodifikasi keterbatasan kalau tidak langsung terjun ke lapangan.”, begitu ujar Ipeh.

Kalimantan Timur adalah provinsi dengan keberadaan sub-spesis orangutan Pongo pygmaeus morio. Sub spesies ini merupakan sub spesies terkecil di Kalimantan. Edukasi dari sekolah ke sekolah menjadi begitu penting untuk secara langsung memberikan informasi tentang semakin terancamnya keberadaan orangutan morio. “Kami yakin, di tangan merekalah nantinya dunia konservasi Kalimantan.”, tambah Ipeh optimis. (RYN)


The government has just made a big leap by issuing the Ministry of Environment and Forestry Regulation No. 20 of 2018 concerning Types of Protected Plants and Wildlife.

Centre of Orangutan Protection welcomes the regulation and ready to support the government to enforce the law. “Furthermore, COP consider the regulation as important point for culture change, from the culture of confining animals to the culture of nurturing them in nature.”, said Hardi Baktiantoro, founder of Centre for Orangutan Protection.

Wildlife trading either online or offline at bird markets could not just happen. It has been studied. The dilemma that has been occurred so far is those wildlife are threatened to extinction in their habitat, while there are many illegal traders and even people make an open bird singing contest. Let say Murai batu bird/ kick forest (kittacincla malbarica), cucak raw (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak sure (Gracupica calla).

The existence of Ministry Regulation No 20/2018 makes tapanuli orangutans (Pongo tapanuliensis) are legally protected animals. This is a prompt government effort to protect the newly discovered orangutan species in the past year.

COP is calling all orangufriends to fully support the Ministry of Environment and Forestry to not back down enforcing this Regulation. (SAR)

Lompatan besar baru saja dilakukan Pemerintah pada bulan Juni 2018 dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Centre for Orangutan Protection menyambut baik Permen No. 20 ini dan siap mendukung pemerintah untuk menegakkan hukum. “Lebih jauh lagi COP memandang bahwa Permen ini merupakan titik penting untuk perubahan budaya yaitu dari budaya mengurung satwa menjadi memelihara di alam bebas.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection.

“Masuknya satwa liar yang sering diperdagangkan baik itu secara online maupun di pasar burung ini tentu saja bukan asal jadi. Ini sudah menjadi kajian. Dilema yang terjadi selama ini, kondisi satwa liar tersebut di habitatnya sudah terancam punah namun banyak terdapat di pedagang bahkan menjadi lomba burung berkicau secara terbuka. Sebut saja burung Murai batu/ Kucica hutan (Kittacincla malbarica), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak suren (Gracupica jalla).

Dengan adanya Permen No. 20/2018 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) telah ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi Undang-Undang. Ini adalah usaha cepat pemerintah untuk melindungi spesies orangutan yang baru ditemukan di tahun 2017 yang lalu.

COP memanggil seluruh orangufriends untuk memberikan dukungan penuh kepada KLHK untuk tidak mundur menegakkan Permen ini.


To commemorate International Primate Day, APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection did a series of school visit. The first visit to SMA Negeri 1 Berau was the first school visit in Berau by COP team. Last Friday, August 31, about 100 of 10th grade students had gathered.

Through slideshows and short films, the team began introducing orangutans as one of the great apes that only exist in Indonesia, especially in Sumatera and Kalimantan island. “We are grateful to have the opportunity to share the knowledges at SMAN 1 Berau, among them who had never seen orangutan before and can not distinguish orangutans from other primates. We hope that its existence in Indonesia can make Indonesian proud.” said Ipeh, orangufriends who is volunteering in Kalimantan for the next three months.

The questions from students were no less suprising. It was simple and easy but quite difficult to answer. From “Why does the media concentrate less on orangutan deaths?”, “why was the punishment for orangutan killers so light?, to ” Does COP also educationg the companies that destroy orangutan habitat?”.

We were very happy and proud to see the students enthusiasm. ” We are very hopeful when we got questions from the SMAN 1 Berau students who are smart and critical. Indonesia orangutans and forests are increasingly threatened with endless conversion of forests. We hope the students can disseminate this chain of information, so that Indonesian young are more concerned about orangutans.” said Ipeh happily. (SAR)

Untuk memperingati Hari Primata Sedunia atau International Primate Day, tim APE Guardian Centre for Orangutan Protection melakukan serangkaian kunjungan ke sekolah yang sering disebut ‘School Visit’. Kunjungan pertama ke SMA Negeri 1 Berau adalah school visit pertama tim COP di kota Berau. Jumat, 31 Agustus yang lalu, sekitar 100 siswa dari kelas X sudah berkumpul.

Melalui slide dan film pendek, tim mulai memperkenalkan orangutan sebagai salah satu kera besar yang hanya ada di Indonesia khususnya pulau Sumatera dan Kalimantan. “Kami bersyukur berkesempatan berbagi di SMAN 1 Berau, di antara mereka ada yang belum pernah melihat orangutan serta belum bisa membedakan orangutan dengan primata lainnya. Kami berharap, keberadaan di Indonesia bisa menjadi spesies yang membanggakan Indonesia.”, ujar Ipeh, orangufriends yang menjadi relawan di Kalimantan untuk tiga bulan ke depan.

Pertanyaan para siswa tak kalah mengejutkan. Simpel atau mudah tapi cukup sulit untuk dijawab. Kenapa media sedikit sekali menyoroti kematian orangutan, kenapa hukuman untuk pelaku pembunuhan orangutan kecil sekali sampai pertanyaan apakah COP juga melakukan edukasi ke perusahaan-perusahaan pelaku perusakan habitat orangutan.

Kami sangat senang dan bangga melihat antusiasnya para siswa. “Besar sekali harapan kami saat mendapatkan pertanyaan dari para siswa SMAN 1 Berau yang cerdas dan kritis. Orangutan dan Hutan Indonesia semakin terancam dengan alih fungsi hutan yang tak berkesudahan. Kami berharap para siswa dapat menyebarkan informasi berantai ini, agar anak muda Indonesia semakin peduli dengan orangutan.”, kata Ipeh dengan senang. (RYN)


COP School is a place to learn about conservation held by Centre for Orangutan Protection in Yogyakarta. 2014 was the first time I knew about this orangutan conservation school and that was the time I know that COP exists, in the middle of 2nd semester in college life, the most hectic period of college and organization activities. My college activities were so time consuming and had discouraged me to join COP School Batch 4. It went on until COP Batch 8, and finally i could took part in its series of activity. One said, “it’s better late than never”. Yup, that’s how I knew COP and joined COP School batch 8.

During 7 days in Jogja, i met new friends from various regions. Also, the program was so fun. I like learning new things, including meeting new people. Learning about basic conservation studies can be done by anyone who are willing to learn, not only by those who’ve been involved in the conservation world. Even though I had participated in nature lovers club activities, it doesn’t mean that I understand about conservation that well. That’s why, I decided to join COP school 8.

For those who interested in conservation world, especially orangutan conservation, COP School is the best place that I have ever experienced. It seems like it’s just yesterday I took part in COP school activities, turns out it’s been almost one semester I’m involved in COP activities. (SAR)

COP School merupakan sekolah mengenai konservasi yang diadakan oleh Centre for Orangutan Protection di Yogyakarta. Pada tahun 2014 adalah pertama kalinya aku mengetahui sekolah konservasi Orangutan ini dan saat itulah kali pertama aku mengetahui adanya COP. Di tengah-tengah masa perkuliahan di semester 2, masa padat-padatnya kegiatan perkuliahan maupun organisasi. Kesibukan di perkuliahan begitu menyita waktuku, dan memaksaku mengurungkan niatku untuk ikut COP School Batch 4. Begitulah seterusnya aku menunda-nunda ikut hingga COP School Batch 8 dan fokus mengikuti serangkaian kegiatannya. Kalau kata pepatah, better late than never, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Yap, seperti itulah awal perjalananku mengenal COP dan mengikuti COP School Batch 8.

Kurang lebih tujuh hari di Yogya, selama itu pula aku bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai daerah. Selain teman yang beragam, pengisi acaranya pun begitu menyenangkan. Aku merupakan salah satu orang yang senang mempelajari hal baru, termasuk bertemu dengan banyak orang baru. Mempelajari tentang materi dasar konservasi dapat dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya mereka yang telah berkecimpung di dunia konservasi, namun mereka yang tidak berkecimpung di dunia konservasi namun ingin belajar dunia konservasi pun dapat bergabung. Meskipun aku pernah mengikuti kegitan kepecintaalaman, bukan berarti aku sudah paham betul mengenai dunia konservasi. Dari situlah aku bertekad untuk mengikuti COP School.

Untuk kalian yang di luar sana, yang tertarik dengan dunia konservasi khususnya Orangutan. COP Schol adalah wadah terbaik yang pernah aku coba. Rasanya baru kemarin aku ikut seleksi dan kegiatan COP School, nyatanya sudah hampir satu semester berlalu dengan berkegiatan di COP. (Yuanita_COPSchool8)

Page 3 of 2012345...1020...Last »