Orangufriends

THE NIGHTMARE OF ORANGUTAN IN KASANG KULIM ZOO

Again, I had the opportunity to visit Kasang Kulim zoo which is located in the suburban area of Pekanbaru city, Kampar district, Riau. Most of its animal collections are caged in iron bars with cement floor.

As I came to orangutan enclosure, I got greeting from orangutan named Lisa. Lisa spat as she reached out to me. And then, Lisa coughed as if she was going to throw up and not long after that she throwed up. Turned out, Lisa has a habit to spit out the food she ate and re-eat it. And she did it over and over again. While the other two orangutans didn’t show any better condition. All those three looked pretty stressed.

Not much that those three orangutan could do, there was only an used tire hung by steel chain in each of the enclosure they live in. One block filled with a pair of orangutan, and the block next to them was a female orangutan, which was Lisa. Tin roof and cement floor turned these cages into prison of orangutan.

I am an  orangufriends from Padang who accidentally became a witness to all this. This nightmare haunted me all night long. My urge to fix the life of orangutan in Kasang Kulim zoo is so strong. The help from other orangufriends obviously will become more real through ttps://kitabisa.com/orangindo4orangutan Let’s help Lisa!

MIMPI BURUK ORANGUTAN DI KASANG KULIM ZOO
Kembali saya berkesempatan mengunjungi kebun binatang Kasang Kulim yang berada di pinggiran kota Pekanbaru, kabupaten Kampar, Riau. Hampir seluruh koleksi satwanya berada di dalam kandang berbentuk kerangkeng yang terbuat dari besi dengan lantai semen.

Begitu tiba di kandang orangutan, saya langsung mendapat salam perkenalan dari orangutan yang bernama Lisa. Lisa meludah sambil mengulurkan tangannya ke arah saya. Selanjutnya, Lisa terbatuk-batuk seperti hendak muntah dan tak lama kemudian diapun muntah. Ternyata Lisa memiliki kebiasaan memuntahkan makanan untuk kemudian dimakannya kembali. Dan kejadian itu dilakukannya berulang-ulang. Sementara dua orangutan lainnya juga tak menunjukkan kondisi yang lebih baik dari Lisa. Ketiganya terlihat stres.

Tak banyak yang bisa dilakukan ketiga orangutan ini, sebuah ban bekas digantungkan dengan rantai baja dimasing-masing bilik yang mereka huni. Satu bilik diisi sepasang orangutan dan di sebelahnya terlihat orangutan betina lainnya yaitu Lisa. Atap seng dan lantai semen menjadikan kandang ini penjara orangutan.

Saya, adalah orangufriends Padang yang tak sengaja menjadi saksi ini semua. Mimpi buruk ini menghantui saya sepanjang malam. Keinginan saya memperbaiki kehidupan orangutan di Kasang Kulim Zoo begitu besar. Bantuan orangufriends lainnya tentu saja akan lebih nyata lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan
Yuk bantu Lisa! (Novi_OrangufriendsPadang)

HELP HIM!

Looking for the orangutans who attacked the East Kutai resident make the APE Crusader team met the teenage orangutan. The poor orangutan spent his days by sitting and looked out on the sidelines of wooden Ulin 1.5 x 1 meter. His canine teeth could no longer lie, 10 years old and he was only confined in the wooden cage.

We do not know why the people keept him. The efforts of both the police and forestry authorities still have not succeeded to take him. Could the #APECrusader get it out? Would you give him a second chance to go back to being a wild orangutan?

Help him through

BANTU DIA, KITA BISA!
Perjalanan mencari orangutan yang menyerang warga Kutai Timur menghantarkan tim APE Crusader pada orangutan jantan remaja ini. Berkandang kayu ulin 1,5 x 1 meter orangutan ini menghabiskan hari-harinya duduk dan memandang keluar di sela-sela kayu. Gigi taringnya tak mampu lagi berbohong, 10 tahun dan dia hanya terkurung di kandang kayu itu.

Entah apa yang membuat pemeliharanya mempertahankannya. Usaha dari pihak berwajib baik itu Polsek maupun Kehutanan masih belum berhasil mengeluarkan si jantan ini. Mungkinkah APE Crusader berhasil mengeluarkannya? maukah kamu memberikan dia kesempatan keduanya untuk kembali menjadi orangutan liar?

Bantu COP lewat Kepedulian kamu sangat dibutuhkan. Kalau bukan kita, siapa lagi!

KARTINI FOR INDONESIAN ORANGUTAN

Raden Adjeng Kartini was born in Jepara, 21 April 1879 ago. If she was alive, she would be 139 years old. Kartini is known as the pioneer of the resurrection of indigenous women is now better known emancipation of women who emerged from her critical thinking. And now, Indonesia always commemorate her birthday as Kartini day.

From her letters we recognize the thoughts of Kartini. The letter that was originally something very personal became public consumption. Kartini dreams to continue school, woman have to school. “If now I become a veterinarian, of course because of the long struggle of women like Kartini to this day,” said vet Flora Felista.

Flora is a female veterinarian who joins COP Borneo orangutan rehabilitation center. The location of the rehabilitation center away from the crowds did not dampen her dream of devoting herself to Indonesian wildlife. Working with men in COP Borneo is a challenge for her. Physical and mental must also be above average. “Women should be able. Autopsy of orangutan corpses, rescue of orangutans in oil palm plantations where we are required to have good physical, think while running after orangutans, barely sleep a day and many other challenges. But the professionalism of being a veterinarian should still be put forward.”, explained drh. Flora.

Flora is one of the women at the Center for Orangutan Protection. There are many other women such as Wety Rupiana with graphic design background, Dina Mariana with financial background, Oktaviana S from GIS (Global Information System), and hundreds of orangufriends (COP supporters group) of women with diverse education helping Indonesian Orangutan by the way each. “Thank you Kartini! We do not commemorate today as a way to kebaya dress, but the professionalism of your timeless thinking.“ (SLX)

KARTINI UNTUK ORANGUTAN INDONESIA
Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 yang lalu. Jika pun ia masih hidup, usianya sudah 139 tahun. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi sekarang lebih dikenal emansipasi wanita yang muncul dari pemikirannya yang kritis. Dan sekarang, Indonesia selalu memperingati hari lahirnya sebagai hari Kartini.

Dari surat-suratnya kita mengenal buah pikiran Kartini. Surat yang awalnya sesuatu yang sangat pribadi menjadi konsumsi publik. Kartini bermimpi untuk terus bersekolah, perempuan harus sekolah. “Jika sekarang saya menjadi seorang dokter hewan, tentunya karena perjuangan panjang para perempuan seperti Kartini hingga saat ini.”, ujar drh Flora Felista.

Flora adalah dokter hewan perempuan yang bergabung di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Lokasi pusat rehabilitasi yang jauh dari keramaian tak menyurutkan impiannya mengabdikan diri untuk satwa liar Indonesia. Bekerjasama dengan laki-laki di COP Borneo adalah tantangan tersendiri untuknya. Fisik dan mental pun harus berada di atas rata-rata. “Perempuan harus bisa. Otopsi mayat orangutan, penyelamatan orangutan di perkebunan sawit dimana kita dituntut untuk memiliki fisik yang baik, berpikir sambil berlari mengejar orangutan, hampir tidak tidur sehari semalam dan masih banyak lagi tantangan lainnya. Tapi profesionalisme menjadi dokter hewan harus tetap dikedepankan.”, urai drh. Flora.

Flora adalah salah satu perempuan di Centre for Orangutan Protection. Masih banyak perempuan-perempuan lainnya seperti Wety Rupiana dengan latar belakang desain grafis, Dina Mariana dengan latar belakang keuangan, Oktaviana S dari GIS (Global Information System), dan ratusan orangufriends (kelompok pendukung COP) perempuan dengan pendidikan yang beragam membantu Orangutan Indonesia dengan caranya masing-masing. “Terimakasih Kartini! Kami tak memperingati hari ini sebatas cara berpakaian, tapi profesionalisme dari pemikiranmu yang tak lekang oleh waktu.”.

MAKASSAR ORANGUFRIENDS IN SIDIK

Of course there’s no orangutans in Celebes island. But, the wide range of orangufriends network (the orangutan support group) make orangutan protection is not just a matter of Sumatera and Borneo. 2 days in March 2018, Makassar orangufriends with Mapala Anoa, Veterinary Studies Program, Hasanuddin University, conducted an event of socialization and public discussion in Unhas Makassar campus.

“Wildlife and its problems” theme were interestingly discussed by drh. Supriyanto from BKSDA of South Sulawesi .The discussion began with introduction to wildlife, especially endemic wildlife in Sulawesi. And then continued with discussion about wildlife as zoonotic pool by drh. Kristina Widyayanti from Makassar Pet Clinic. Not only that, the existence of conflict between human and wildlife were also discussed by drh. Muhtadin Wahyu who is PPDH Unsyiah alumni.

March 20, 2018 was the second day of SIDIK (Socialisation and Public Discussion) event and it featured drh. Reski Indah Kesuma who is an alumnus of COP School Batch 4. Discussion of the “Orangutans as threat or victim?” film became so interesting. “Seeing the people’s enthusiasm which most are UNHAS students from various disciplines, I feel that Indonesian wildlife, including orangutan still has hope to be exist in the future.”, said Ekky who has been a COP volunteer since 4 years ago.

Centre for Orangutan Protection is a grass-root organization who count on its volunteer, like Ekky. Whoever and wherever, they’re COP power to acknowledged society to be more concerned to orangutan protection. Let’s join us to be orangufriends, our email is at info@orangutanprotection.com. (Ekki_OrangufriendsMakasar)

ORANGUFRIENDS MAKASSAR DI SIDIK
Tentu saja tidak ada orangutan di pulau Sulawesi. Namun luasnya jaringan orangufriends (kelompok pendukung orangutan) menjadikan perlindungan orangutan tak sebatas urusan Sumatera dan Kalimantan. Dua hari di bulan Maret 2018, orangufriends Makassar bersama Mapala Anoa Prodi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan sosialisasi dan diskusi publik di kampus UNHAS Makassar.

Tema “Satwa Liar dan Permasalahannya”, dikupas dengan menarik oleh drh. Supriyanto dari BKSDA Sulawesi Selatan. Diskusi diawali dengan pengenalan satwa liar khususnya satwa endemik Sulawesi. Kemudian dilanjutkan diskusi satwa liar sebagai zoonotic pool oleh drh. Kristina Widyayanti dari Makassar Pet Clinic. Tak sebatas itu saja, adanya konflik antara manusia dan satwa juga dikupas oleh drh. Muhtadin Wahyu yang merupakan alumni PPDH Unsyiah.

20 Maret 2018 yang merupakan hari kedua dari rangkaian SIDIK (Sosialisasi dan Diskusi Publik) diisi oleh drh. Reski indah Kesuma yang merupakan alumni COP School Batch 4. Diskusi film “Orangutan sebagai Ancaman atau Korban?” menjadi begitu menarik. “Melihat antusiasme masyarakat yang sebagian besar adalah mahasiswa UNHAS dari berbagai disiplin ilmu, saya merasa satwa liar Indonesia termasuk orangutan masih mempunyai harapan untuk tetap eksis di masa depan.”, ujar Ekki yang telah menjadi relawan COP sejak empat tahun yang lalu.

Centre for Orangutan Protection adalah organisasi akar rumput yang mengandalkan para pendukungnya, seperti Ekki ini. Siapa pun dan dimana pun menjadi kekuatan COP menggalang publik untuk lebih peduli pada perlindungan orangutan. Mari bergabung menjadi orangufriends, email kami di info@orangutanprotection.com (Ekki_OrangufriendsMakasar)

CATATAN APRIL 2018 DANIEK HENDARTO

“Dalam proses penyelamatan satwa tidak melulu selalu menang dan berakhir baik. Bahkan terkadang kita kalah dan jatuh. Namun tetaplah gembira sesulit apapun itu.”. Itulah suara Daniek Hendarto, manajer operasional orangutan ex-situ COP. Satu bulan terakhir ini menjadi hari-hari yang sulit bagi pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kedatangan dua orangutan kecil Annie dan Raju membuat tim sedih karena pekerjaan seolah-olah tiada habisnya. Padahal tim sedang mempersiapkan lima orangutan yang akan dirilis ke habitatnya dalam waktu dekat ini.

Tak hanya itu, orangutan Debbie yang tepat pada ulang tahun COP yang ke-11 dipindahkan ke sanctuary island pada akhir Maret sudah tak kelihatan lagi. Buaya yang hidup di sungai Kelay sepertinya berhasil mendapatkannya. Kebahagiaan melihat Debbie yang telah puluhan tahun hidup di balik kandang jeruji besi pun menjadi sirna.

Warna kekawatiran pun pudar melihat Septi yang bisa menerima Popi di dalam kandangnya. Popi terlihat nyaman bersama Septi. Sementara Septi terlihat seperti ibu muda yang mengawasi Popi. Tapi kami pun terpaksa mengevakuasi Reza Kurniawan, manajer COP Borneo ke Yogyakarta karena sakit yang dideritanya. Ejak begitulah kami memanggilnya, menderita sakit malaria.

Memang bumi akan terus berputar. Roda akan terus menggelinding. Ada saat di atas dan ada saat di bawah. Semangat orangufriends (kelompok pendukung COP) seperti tidak ada putusnya. Orangufriends berhasil membawa virus konservasi ke kehidupannya. Mereka yang bergerak di anak jalanan, desain grafis, hukum, kuliner, pendidikan, petualangan bahkan musik terus menerus menjadi semangat kami. Terimakasih tim… terimakasih orangufriends, mari kita bekerja bersama!

THE PAIN OF POPI IN 24 HOURS STORYTELLING FESTIVAL

Apparently, Saturday, March 24, 2018 was world storytelling day. Really, I didn’t know. What i knew was, i was invited to a forum of literation activist (FPL) by my old friend in reading and writing community in Padang city. Hoping there would be a cooperation in campaign of wildlife protection and its habitat by educating children, I was going with other Padang Orangufriends. And suprisingly, there was a big event in Kampung Literasi Gang Aster of Padang Panjang city and the local government with the title of 24 Hours Storytelling Festival.

After filling the guest book, we tried to blend in even it was awkward. It’s amazing how Padang Panjang citizen appreciated this event. Participants who became storyteller were many, ranging from children to adults. The audience was large though. Shortly thereafter, a friend who invited me came and told me directly to storytelling without asking. I stammered, “What? Storytelling?”. This was a new thing and i had not done that before especially in public. Except for storytelling for my own child at night.

My mind grews uneasy. It’s a challenge. But I was not ready. As I chatted, I kept thinking what the story would be. Finally my memories recalled Lara Pongo movie that was I watched during Jambore Orangufriends Yogyakarta last year. Storytelling is one of the most effective methods to educate children. With this method, the message would be delivered properly. Children’s ability to remember is also longer on fairy tales material. Uh yes.. I was reminded of my childhood that every night my mom and my dad often told me stories and i still remember the story that ever told.

Armed with my experience being a volunteer at COP Borneo’s orangutan rehabilitation center, I therefore told a story about the poor Popi. Popi, who was forced to enter rehabilitation center at the age of 1 month because her mother died of being killed. Every now and then I tried to interact with the audience. I couldn’t believe, the kindergarden children could answer the question I asked with surprising answers. Apparently, they realized the natural damage that had occured.

30 minutes became so short. And this was an opening to another wildlife story that I would deliver through the next school visit, along with literacy activist forum of Padang city of course. (Novi_Orangufriends Padang)

LARA SI POPI DI FESTIVAL MENDONGENG 24 JAM
Ternyata, Sabtu, 24 Maret 2018 yang lalu adalah Hari Mendongeng Dunia. Sungguh, aku tak tahu. Yang ku tahu, aku diundang oleh sahabat lama di komunitas Membaca dan Menulis yaitu Forum Pegiat Literasi (FPL) di kota Padang Panjang. Berharap ada kerja bersama untuk kampanye perlindungan satwa liar dan habitatnya lewat edukasi ke anak-anak, aku pun datang bersama Orangufriends Padang lainnya. Dan kagetnya, ternyata ada even besar di Kampung Literasi Gang Aster kota Padang Panjang dan pemerintah setempat dengan tajuk Festival Mendongeng 24 Jam.

Usai mengisi buku tamu, kami pun mencoba untuk membaur walau canggung. Luar biasa apresiasi warga kota Padang Panjang pada acara ini. Peserta yang menjadi pendongeng pun banyak mulai dari anak-anak hingga dewasa. Penonton yang hadir pun tak kalah banyak. Tak lama kemudian, teman yang mengundangku pun muncul dan tanpa bertanya langsung menyuruhku untuk mendongeng. Dengan gelagapan aku menjawab, “Apa? mendongeng?”. Ini adalah hal yang baru dan belum pernah kulakukan sebelumnya apalagi di depan umum. Kalau mendongeng sebelum anak tidur sih memang sering kulakukan di rumah.

Pikiranku semakin tak tenang. Ini sih tantangan. Tapi ngak siap. Sambil ngobrol, aku terus berpikir mencari ide akan mendongeng apa. Akhirnya ingatanku menyangkut di film Lara Pongo yang pernah kutonton di Jambore Orangufriends Yogyakarta akhir tahun lalu. Mendongeng adalah salah satu metode edukasi yang paling efektif untuk anak-anak. Lewat metode ini, pesan akan tersampaikan dengan baik. Kemampuan mengingat anak juga lebih lama pada materi dongeng tersebut. Ah iya… aku jadi teringat masa kanak-kanakku yang setiap malam sering didongengkan Mama dan Papa dan aku masih mengingat kisah yang pernah didongengkan.

Berbekal pengalaman menjadi relawan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, aku pun berkisah tentang Popi yang malang. Popi yang terpaksa masuk pusat rehabilitasi saat usianya 1 bulan, karena induknya mati dibunuh. Sesekali aku mencoba berinteraksi dengan penonton. Tak kusangka, anak-anak TK bisa menjawab pertanyaan yang kulontarkan dengan jawaban yang mengejutkan. Ternyata mereka menyadari kerusakan alam yang terjadi.

30 menit menjadi begitu singkat. Dan ini adalah pembuka untuk kisah-kisah dongeng tentang satwa liar lainnya yang akan ku sampaikan lewat kegiatan school visit selanjutnya, bersama Forum Pegiat Literasi kota Padang Panjang tentunya. (Novi_Orangufriends Padang)

ANCAMAN PASCA PENANGKAPAN PEDAGANG ELANG DI BANDUNG

Pesan masuk lewat media sosial Centre for Orangutan Protection. Tanpa menunggu lama, informasi ini langsung ditindak lanjuti tim APE Warrior, tim yang selama ini menangani perdagangan satwa. Sehari, seminggu, sebulan, tim terus memantau informasi ini. Kali ini sesepuh falconari Bandung yang menjadi target.

Operasi gabungan untuk memproses secara hukum kepemilikan elang ilegal sudah dilakukan COP bersama Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Operasi gabungan bersama organisasi satwa lainnya juga melibatkan Kepolisian Republik Indonesia karena kepemilikan tersebut melanggar hukum yang berlaku. Media massa juga berperan serta mempublikasikan kejahatan ini. Namun, kejahatan ini terus berlangsung.

“Kami melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Satwa dan hukum menjadi prioritas kami. Sekarang keluarga tersangka pedagang elang mengejar-ngejar kami. Salah kami apa?”, ujar Hery Susanto bingung.

Tidak mungkin tersangka tidak mengerti satwa elang adalah satwa yang dilindungi Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Kenapa Elang dilindungi juga bukanlah hal yang baru. Fungsi elang sebagai predator tingkat tinggi menjadikannya satwa yang sangat penting dalam rantai makanan yang sejak jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak sudah diajarkan. Ataukah hukum dan pelajaran biologi ini salah semua?

“Terimakasih orangufriends yang telah menguatkan kami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan berbuat untuk alam ini. Hukum harus ditegakkan!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

5 EAGLES RESCUED FROM MERCHANTS

Tuesday, March 27, 2018 has caught one suspected hawk merchant in Nanjung village, Margaasih sub-district, Bandung regency, West Java. From joint operation of COP with team of Ditipidter Polda West Java, BKSDA West Java and assisted Orangufriends Bandung to secure 5 (five) eagles. According to the suspect, the supply of hawk eagles and sea eagles comes from the province of Bangka Belitung.

“The suspect is one of the Falconary elders of Bandung. Every week, his home becomes the training ground for eagles’ lovers to learn together, “explained Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime COP.

The ‘Lovers’ Eagle is unlikely not to know the status of the eagle which is a protected animal of the Act. Position of suspect houses that are in densely populated people’s attention. “We hope people can learn firsthand, that maintaining and trading protected animals is illegal. A maximum of 5 years imprisonment and a fine of 100 million is a punishment that the perpetrator must undergo. But this punishment is still too light, that’s why there are still illegal keepers and wildlife traders protected. This business is still profitable, even if cut penalties and fines. “, Added Hery Susanto.

Thank you Orangufriends Bandung for helping with this joint operation. The Center for Orangutan Protection support group is a special force for the COP. The extent of the Orangufriends network has been shown to repeatedly save both protected and unprotected wildlife and other pets from abuse and cruelty. #proudoforangufriends (L)

5 ELANG DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Selasa, 27 Maret 2018 telah tertangkap satu orang tersangka pedagang elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari operasi gabungan COP bersama tim Ditipidter Polda Jawa Barat, BKSDA Jawa Barat dan dibantu Orangufriends Bandung mengamankan 5 (lima) elang. Menurut tersangka, pasokan elang pemburu dan elang laut berasal dari provinsi Bangka Belitung.

“Tersangka merupakan salah satu sesepuh Falconary Bandung. Setiap minggu, rumahnya menjadi tempat latihan para ‘pecinta’ elang untuk belajar bersama.”, urai Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

‘Pecinta’ Elang tidak mungkin tidak mengetahui status elang yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang. Posisi rumah tersangka yang berada di padat penduduk sempat menjadi perhatian warga. “Kami berharap warga bisa belajar langsung, bahwa memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi melanggar hukum. Penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta adalah hukuman yang harus dijalani pelaku. Tapi hukuman ini masih terlalu ringan, itu sebabnya masih saja ada pemelihara ilegal dan pedagang satwa liar dilindungi. Bisnis ini masih menguntungkan, sekali pun dipotong hukuman dan denda.”, tambah Hery Susanto.

Terimakasih Orangufriends Bandung yang telah membantu operasi bersama ini. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection adalah kekuatan tersendiri bagi COP. Luasnya jaringan Orangufriends telah terbukti berulang kali menyelamatkan satwa liar baik dilindungi maupun yang tidak dilindung dan hewan peliharaan lainnya dari perlakuan kekejaman maupun kejahatan. #proudoforangufriends

ANGGOTA PERBAKIN HARAM TEMBAK SATWA LIAR

Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi kepada Pengurus Besar Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (PB.PERBAKIN) yang mengeluarkan surat Nomor 257/SEKJEN/PB/III/2018 tertanggal 25 Maret 2018 yang ditujukan kepada seluruh Pengurus PERBAKIN di setiap provinsi seluruh Indonesia. Dalam suratnya PB.PERBAKIN menggaris bawahi kembali kepada anggota dan klub-klub senapan angin yang berada di bawah naungan PERBAKIN untuk kembali mengerti peraturan Kapolri bahwa senapan angin tidak bisa digunakan untuk menembak satwa. Senapan angin hanya boleh digunakan untuk menembak sasaran dan perlombaan.

“Sudah seharusnya PB.PERBAKIN menertibkan anggota dan klub naungannya agar mengerti bahwa dengan menjadi anggota PERBAKIN tidak otomatis penggunaan senapan angin halal untuk menembak satwa. COP berharap ini dimengerti oleh anggota PERBAKIN seluruh Indonesia dan tidak ada lagi kegiatan-kegiatan dengan kedok berburu hama oleh klub/komunitas senapan angin.”, oleh Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP.

PB.PERBAKIN mengeluarkan surat tersebut berdasarkan surat dari Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan melihat maraknya penembakan satwa liar dengan menggunakan senapan angin.

“Kami berharap PB.PERBAKIN bisa menertibkan anggotanya dan klub naungannya. Dan Kepolisian bisa melakukan pengetatan kepemilikan dan penjualannya, yang mana saat ini pembelian dan kepemilikan senapan angin sangat mudah sekali prosesnya.”, tegas Ramadhani.

Catatan :
1. 15 Oktober 2017, PERBAKIN Tanah Datar, Sumatera Barat melakukan hunting bersama di Lapangan Cindua Mato dengan menembak mati ratusan burung bangau yang dilindungi dengan alasan burung bangau sudah menjadi hama.
2. 6 Pebruari 2018, COP mempublikasikan hasil otopsi kematian 1 individu orangutan, yang mana di tubuh orangutan ditemukan 130 peluru senapan angin.
3. Awal Maret 2018 COP melakukan kampanye untuk membatalkan kegiatan berburu hama yang rencananya dilakukan 4 Maret 2018 oleh komunitas senapan angin Rang-Rang Community di Brebes dan Komunitas Sniper Uklik Indonesia di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dua rencana kegiatan tersebut batal dilakukan.
4. Data bersama dari 8 organisasi orangutan mencatat setidaknya telah terjadi 48 kasus orangutan ditembak dengan senapan angin dan total 805 peluru.

SEMINAR OF ENVIRONMENTAL CONFLICT AT D3 UGM ECONOMY

Ecosophy in its 30th year, held an Environmental Seminar with the theme of Environmental Conflict in the Eye of Economics in Indonesia. Present as a speaker Hardi Baktiantoro who is the founder of Centre for Orangutan Protection with the material of Wildlife Conflict with Company in Kalimantan and drh. Erni Suyanti Musabine with material of Tiger Conflict with Society in Bengkulu Province. Seminar with moderator Fawas Al-Batawy who is the author of Yang Sublime in the rain became so exciting.

There are 100 students at meeting Room 225, 2nd floor, Vocational School, UGM on March 10, 2018. “How does a theory on campus get the facts on the ground?”, asked Septian.

Not only the seminar, Music Donation with the headline “Sound For Earth” also took place the next day, Sunday, March 11, 2018 at Wisdorm Park, in front of the campus of Economic D3 UGM. “This is a fundraising concert for orangutan care in Kalimantan. Hopefully what we donate is beneficial to the universe.”, said the committee.

“COP is happy to be able to share in this seminar and the creativity of D3 Economics students deserves thumbs up.”, said Hardi. (LSX)

SEMINAR KONFLIK LINGKUNGAN DI D3 EKONOMI UGM
Ecosophy dalam usianya yang ke-30 tahun melangsungkan Seminar Lingkungan Hidup dengan tema Konflik Lingkungan dalam Kacamata Ekonomi di Indonesia. Hadir sebagai pembicara Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri Centre for Orangutan Protection dengan materi Konflik Satwa Liar dengan Perusahaan di Kalimantan dan drh. Erni Suyanti Musabine dengan materi Konflik Harimau dengan Masyarakat di Provinsi Bengkulu. Seminar dengan moderator Fawas Al-Batawy yang merupakan penulis buku Yang Menyublim di Sela Hujan menjadi begitu seru.

Ada 100 mahasiswa memenuhi Ruang 225, lantai 2, Sekolah Vokasi, UGM pada 10 Maret 2018. “Bagaimana sebuah teori di kampus mendapatkan fakta di lapangan.”, ujar Septian.

Tak hanya seminar, Musik Donasi dengan tajuk “Sound For Earth” juga berlangsung keesokan harinya , Minggu, 11 Maret 2018 di Wisdorm Park, depan kampus D3 Ekonomi UGM. “Ini adalah sebuah konser penggalangan dana untuk perawatan orangutan di Kalimantan. Semoga apa yang kita donasikan bermanfaat bagi alam semesta.”, ujar panitia.

“COP senang sekali bisa berbagi di seminar ini dan kreatifitas mahasiswa D3 Ekonomi patut diacungi jempol.”, ujar Hardi haru.

Page 2 of 1612345...10...Last »