Orangufriends

MAKASSAR ORANGUFRIENDS IN SIDIK

Of course there’s no orangutans in Celebes island. But, the wide range of orangufriends network (the orangutan support group) make orangutan protection is not just a matter of Sumatera and Borneo. 2 days in March 2018, Makassar orangufriends with Mapala Anoa, Veterinary Studies Program, Hasanuddin University, conducted an event of socialization and public discussion in Unhas Makassar campus.

“Wildlife and its problems” theme were interestingly discussed by drh. Supriyanto from BKSDA of South Sulawesi .The discussion began with introduction to wildlife, especially endemic wildlife in Sulawesi. And then continued with discussion about wildlife as zoonotic pool by drh. Kristina Widyayanti from Makassar Pet Clinic. Not only that, the existence of conflict between human and wildlife were also discussed by drh. Muhtadin Wahyu who is PPDH Unsyiah alumni.

March 20, 2018 was the second day of SIDIK (Socialisation and Public Discussion) event and it featured drh. Reski Indah Kesuma who is an alumnus of COP School Batch 4. Discussion of the “Orangutans as threat or victim?” film became so interesting. “Seeing the people’s enthusiasm which most are UNHAS students from various disciplines, I feel that Indonesian wildlife, including orangutan still has hope to be exist in the future.”, said Ekky who has been a COP volunteer since 4 years ago.

Centre for Orangutan Protection is a grass-root organization who count on its volunteer, like Ekky. Whoever and wherever, they’re COP power to acknowledged society to be more concerned to orangutan protection. Let’s join us to be orangufriends, our email is at info@orangutanprotection.com. (Ekki_OrangufriendsMakasar)

ORANGUFRIENDS MAKASSAR DI SIDIK
Tentu saja tidak ada orangutan di pulau Sulawesi. Namun luasnya jaringan orangufriends (kelompok pendukung orangutan) menjadikan perlindungan orangutan tak sebatas urusan Sumatera dan Kalimantan. Dua hari di bulan Maret 2018, orangufriends Makassar bersama Mapala Anoa Prodi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin mengadakan kegiatan sosialisasi dan diskusi publik di kampus UNHAS Makassar.

Tema “Satwa Liar dan Permasalahannya”, dikupas dengan menarik oleh drh. Supriyanto dari BKSDA Sulawesi Selatan. Diskusi diawali dengan pengenalan satwa liar khususnya satwa endemik Sulawesi. Kemudian dilanjutkan diskusi satwa liar sebagai zoonotic pool oleh drh. Kristina Widyayanti dari Makassar Pet Clinic. Tak sebatas itu saja, adanya konflik antara manusia dan satwa juga dikupas oleh drh. Muhtadin Wahyu yang merupakan alumni PPDH Unsyiah.

20 Maret 2018 yang merupakan hari kedua dari rangkaian SIDIK (Sosialisasi dan Diskusi Publik) diisi oleh drh. Reski indah Kesuma yang merupakan alumni COP School Batch 4. Diskusi film “Orangutan sebagai Ancaman atau Korban?” menjadi begitu menarik. “Melihat antusiasme masyarakat yang sebagian besar adalah mahasiswa UNHAS dari berbagai disiplin ilmu, saya merasa satwa liar Indonesia termasuk orangutan masih mempunyai harapan untuk tetap eksis di masa depan.”, ujar Ekki yang telah menjadi relawan COP sejak empat tahun yang lalu.

Centre for Orangutan Protection adalah organisasi akar rumput yang mengandalkan para pendukungnya, seperti Ekki ini. Siapa pun dan dimana pun menjadi kekuatan COP menggalang publik untuk lebih peduli pada perlindungan orangutan. Mari bergabung menjadi orangufriends, email kami di info@orangutanprotection.com (Ekki_OrangufriendsMakasar)

CATATAN APRIL 2018 DANIEK HENDARTO

“Dalam proses penyelamatan satwa tidak melulu selalu menang dan berakhir baik. Bahkan terkadang kita kalah dan jatuh. Namun tetaplah gembira sesulit apapun itu.”. Itulah suara Daniek Hendarto, manajer operasional orangutan ex-situ COP. Satu bulan terakhir ini menjadi hari-hari yang sulit bagi pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kedatangan dua orangutan kecil Annie dan Raju membuat tim sedih karena pekerjaan seolah-olah tiada habisnya. Padahal tim sedang mempersiapkan lima orangutan yang akan dirilis ke habitatnya dalam waktu dekat ini.

Tak hanya itu, orangutan Debbie yang tepat pada ulang tahun COP yang ke-11 dipindahkan ke sanctuary island pada akhir Maret sudah tak kelihatan lagi. Buaya yang hidup di sungai Kelay sepertinya berhasil mendapatkannya. Kebahagiaan melihat Debbie yang telah puluhan tahun hidup di balik kandang jeruji besi pun menjadi sirna.

Warna kekawatiran pun pudar melihat Septi yang bisa menerima Popi di dalam kandangnya. Popi terlihat nyaman bersama Septi. Sementara Septi terlihat seperti ibu muda yang mengawasi Popi. Tapi kami pun terpaksa mengevakuasi Reza Kurniawan, manajer COP Borneo ke Yogyakarta karena sakit yang dideritanya. Ejak begitulah kami memanggilnya, menderita sakit malaria.

Memang bumi akan terus berputar. Roda akan terus menggelinding. Ada saat di atas dan ada saat di bawah. Semangat orangufriends (kelompok pendukung COP) seperti tidak ada putusnya. Orangufriends berhasil membawa virus konservasi ke kehidupannya. Mereka yang bergerak di anak jalanan, desain grafis, hukum, kuliner, pendidikan, petualangan bahkan musik terus menerus menjadi semangat kami. Terimakasih tim… terimakasih orangufriends, mari kita bekerja bersama!

THE PAIN OF POPI IN 24 HOURS STORYTELLING FESTIVAL

Apparently, Saturday, March 24, 2018 was world storytelling day. Really, I didn’t know. What i knew was, i was invited to a forum of literation activist (FPL) by my old friend in reading and writing community in Padang city. Hoping there would be a cooperation in campaign of wildlife protection and its habitat by educating children, I was going with other Padang Orangufriends. And suprisingly, there was a big event in Kampung Literasi Gang Aster of Padang Panjang city and the local government with the title of 24 Hours Storytelling Festival.

After filling the guest book, we tried to blend in even it was awkward. It’s amazing how Padang Panjang citizen appreciated this event. Participants who became storyteller were many, ranging from children to adults. The audience was large though. Shortly thereafter, a friend who invited me came and told me directly to storytelling without asking. I stammered, “What? Storytelling?”. This was a new thing and i had not done that before especially in public. Except for storytelling for my own child at night.

My mind grews uneasy. It’s a challenge. But I was not ready. As I chatted, I kept thinking what the story would be. Finally my memories recalled Lara Pongo movie that was I watched during Jambore Orangufriends Yogyakarta last year. Storytelling is one of the most effective methods to educate children. With this method, the message would be delivered properly. Children’s ability to remember is also longer on fairy tales material. Uh yes.. I was reminded of my childhood that every night my mom and my dad often told me stories and i still remember the story that ever told.

Armed with my experience being a volunteer at COP Borneo’s orangutan rehabilitation center, I therefore told a story about the poor Popi. Popi, who was forced to enter rehabilitation center at the age of 1 month because her mother died of being killed. Every now and then I tried to interact with the audience. I couldn’t believe, the kindergarden children could answer the question I asked with surprising answers. Apparently, they realized the natural damage that had occured.

30 minutes became so short. And this was an opening to another wildlife story that I would deliver through the next school visit, along with literacy activist forum of Padang city of course. (Novi_Orangufriends Padang)

LARA SI POPI DI FESTIVAL MENDONGENG 24 JAM
Ternyata, Sabtu, 24 Maret 2018 yang lalu adalah Hari Mendongeng Dunia. Sungguh, aku tak tahu. Yang ku tahu, aku diundang oleh sahabat lama di komunitas Membaca dan Menulis yaitu Forum Pegiat Literasi (FPL) di kota Padang Panjang. Berharap ada kerja bersama untuk kampanye perlindungan satwa liar dan habitatnya lewat edukasi ke anak-anak, aku pun datang bersama Orangufriends Padang lainnya. Dan kagetnya, ternyata ada even besar di Kampung Literasi Gang Aster kota Padang Panjang dan pemerintah setempat dengan tajuk Festival Mendongeng 24 Jam.

Usai mengisi buku tamu, kami pun mencoba untuk membaur walau canggung. Luar biasa apresiasi warga kota Padang Panjang pada acara ini. Peserta yang menjadi pendongeng pun banyak mulai dari anak-anak hingga dewasa. Penonton yang hadir pun tak kalah banyak. Tak lama kemudian, teman yang mengundangku pun muncul dan tanpa bertanya langsung menyuruhku untuk mendongeng. Dengan gelagapan aku menjawab, “Apa? mendongeng?”. Ini adalah hal yang baru dan belum pernah kulakukan sebelumnya apalagi di depan umum. Kalau mendongeng sebelum anak tidur sih memang sering kulakukan di rumah.

Pikiranku semakin tak tenang. Ini sih tantangan. Tapi ngak siap. Sambil ngobrol, aku terus berpikir mencari ide akan mendongeng apa. Akhirnya ingatanku menyangkut di film Lara Pongo yang pernah kutonton di Jambore Orangufriends Yogyakarta akhir tahun lalu. Mendongeng adalah salah satu metode edukasi yang paling efektif untuk anak-anak. Lewat metode ini, pesan akan tersampaikan dengan baik. Kemampuan mengingat anak juga lebih lama pada materi dongeng tersebut. Ah iya… aku jadi teringat masa kanak-kanakku yang setiap malam sering didongengkan Mama dan Papa dan aku masih mengingat kisah yang pernah didongengkan.

Berbekal pengalaman menjadi relawan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, aku pun berkisah tentang Popi yang malang. Popi yang terpaksa masuk pusat rehabilitasi saat usianya 1 bulan, karena induknya mati dibunuh. Sesekali aku mencoba berinteraksi dengan penonton. Tak kusangka, anak-anak TK bisa menjawab pertanyaan yang kulontarkan dengan jawaban yang mengejutkan. Ternyata mereka menyadari kerusakan alam yang terjadi.

30 menit menjadi begitu singkat. Dan ini adalah pembuka untuk kisah-kisah dongeng tentang satwa liar lainnya yang akan ku sampaikan lewat kegiatan school visit selanjutnya, bersama Forum Pegiat Literasi kota Padang Panjang tentunya. (Novi_Orangufriends Padang)

ANCAMAN PASCA PENANGKAPAN PEDAGANG ELANG DI BANDUNG

Pesan masuk lewat media sosial Centre for Orangutan Protection. Tanpa menunggu lama, informasi ini langsung ditindak lanjuti tim APE Warrior, tim yang selama ini menangani perdagangan satwa. Sehari, seminggu, sebulan, tim terus memantau informasi ini. Kali ini sesepuh falconari Bandung yang menjadi target.

Operasi gabungan untuk memproses secara hukum kepemilikan elang ilegal sudah dilakukan COP bersama Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Operasi gabungan bersama organisasi satwa lainnya juga melibatkan Kepolisian Republik Indonesia karena kepemilikan tersebut melanggar hukum yang berlaku. Media massa juga berperan serta mempublikasikan kejahatan ini. Namun, kejahatan ini terus berlangsung.

“Kami melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Satwa dan hukum menjadi prioritas kami. Sekarang keluarga tersangka pedagang elang mengejar-ngejar kami. Salah kami apa?”, ujar Hery Susanto bingung.

Tidak mungkin tersangka tidak mengerti satwa elang adalah satwa yang dilindungi Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Kenapa Elang dilindungi juga bukanlah hal yang baru. Fungsi elang sebagai predator tingkat tinggi menjadikannya satwa yang sangat penting dalam rantai makanan yang sejak jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak sudah diajarkan. Ataukah hukum dan pelajaran biologi ini salah semua?

“Terimakasih orangufriends yang telah menguatkan kami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan berbuat untuk alam ini. Hukum harus ditegakkan!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

5 EAGLES RESCUED FROM MERCHANTS

Tuesday, March 27, 2018 has caught one suspected hawk merchant in Nanjung village, Margaasih sub-district, Bandung regency, West Java. From joint operation of COP with team of Ditipidter Polda West Java, BKSDA West Java and assisted Orangufriends Bandung to secure 5 (five) eagles. According to the suspect, the supply of hawk eagles and sea eagles comes from the province of Bangka Belitung.

“The suspect is one of the Falconary elders of Bandung. Every week, his home becomes the training ground for eagles’ lovers to learn together, “explained Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime COP.

The ‘Lovers’ Eagle is unlikely not to know the status of the eagle which is a protected animal of the Act. Position of suspect houses that are in densely populated people’s attention. “We hope people can learn firsthand, that maintaining and trading protected animals is illegal. A maximum of 5 years imprisonment and a fine of 100 million is a punishment that the perpetrator must undergo. But this punishment is still too light, that’s why there are still illegal keepers and wildlife traders protected. This business is still profitable, even if cut penalties and fines. “, Added Hery Susanto.

Thank you Orangufriends Bandung for helping with this joint operation. The Center for Orangutan Protection support group is a special force for the COP. The extent of the Orangufriends network has been shown to repeatedly save both protected and unprotected wildlife and other pets from abuse and cruelty. #proudoforangufriends (L)

5 ELANG DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Selasa, 27 Maret 2018 telah tertangkap satu orang tersangka pedagang elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari operasi gabungan COP bersama tim Ditipidter Polda Jawa Barat, BKSDA Jawa Barat dan dibantu Orangufriends Bandung mengamankan 5 (lima) elang. Menurut tersangka, pasokan elang pemburu dan elang laut berasal dari provinsi Bangka Belitung.

“Tersangka merupakan salah satu sesepuh Falconary Bandung. Setiap minggu, rumahnya menjadi tempat latihan para ‘pecinta’ elang untuk belajar bersama.”, urai Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

‘Pecinta’ Elang tidak mungkin tidak mengetahui status elang yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang. Posisi rumah tersangka yang berada di padat penduduk sempat menjadi perhatian warga. “Kami berharap warga bisa belajar langsung, bahwa memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi melanggar hukum. Penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta adalah hukuman yang harus dijalani pelaku. Tapi hukuman ini masih terlalu ringan, itu sebabnya masih saja ada pemelihara ilegal dan pedagang satwa liar dilindungi. Bisnis ini masih menguntungkan, sekali pun dipotong hukuman dan denda.”, tambah Hery Susanto.

Terimakasih Orangufriends Bandung yang telah membantu operasi bersama ini. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection adalah kekuatan tersendiri bagi COP. Luasnya jaringan Orangufriends telah terbukti berulang kali menyelamatkan satwa liar baik dilindungi maupun yang tidak dilindung dan hewan peliharaan lainnya dari perlakuan kekejaman maupun kejahatan. #proudoforangufriends

ANGGOTA PERBAKIN HARAM TEMBAK SATWA LIAR

Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi kepada Pengurus Besar Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (PB.PERBAKIN) yang mengeluarkan surat Nomor 257/SEKJEN/PB/III/2018 tertanggal 25 Maret 2018 yang ditujukan kepada seluruh Pengurus PERBAKIN di setiap provinsi seluruh Indonesia. Dalam suratnya PB.PERBAKIN menggaris bawahi kembali kepada anggota dan klub-klub senapan angin yang berada di bawah naungan PERBAKIN untuk kembali mengerti peraturan Kapolri bahwa senapan angin tidak bisa digunakan untuk menembak satwa. Senapan angin hanya boleh digunakan untuk menembak sasaran dan perlombaan.

“Sudah seharusnya PB.PERBAKIN menertibkan anggota dan klub naungannya agar mengerti bahwa dengan menjadi anggota PERBAKIN tidak otomatis penggunaan senapan angin halal untuk menembak satwa. COP berharap ini dimengerti oleh anggota PERBAKIN seluruh Indonesia dan tidak ada lagi kegiatan-kegiatan dengan kedok berburu hama oleh klub/komunitas senapan angin.”, oleh Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP.

PB.PERBAKIN mengeluarkan surat tersebut berdasarkan surat dari Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan melihat maraknya penembakan satwa liar dengan menggunakan senapan angin.

“Kami berharap PB.PERBAKIN bisa menertibkan anggotanya dan klub naungannya. Dan Kepolisian bisa melakukan pengetatan kepemilikan dan penjualannya, yang mana saat ini pembelian dan kepemilikan senapan angin sangat mudah sekali prosesnya.”, tegas Ramadhani.

Catatan :
1. 15 Oktober 2017, PERBAKIN Tanah Datar, Sumatera Barat melakukan hunting bersama di Lapangan Cindua Mato dengan menembak mati ratusan burung bangau yang dilindungi dengan alasan burung bangau sudah menjadi hama.
2. 6 Pebruari 2018, COP mempublikasikan hasil otopsi kematian 1 individu orangutan, yang mana di tubuh orangutan ditemukan 130 peluru senapan angin.
3. Awal Maret 2018 COP melakukan kampanye untuk membatalkan kegiatan berburu hama yang rencananya dilakukan 4 Maret 2018 oleh komunitas senapan angin Rang-Rang Community di Brebes dan Komunitas Sniper Uklik Indonesia di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dua rencana kegiatan tersebut batal dilakukan.
4. Data bersama dari 8 organisasi orangutan mencatat setidaknya telah terjadi 48 kasus orangutan ditembak dengan senapan angin dan total 805 peluru.

SEMINAR OF ENVIRONMENTAL CONFLICT AT D3 UGM ECONOMY

Ecosophy in its 30th year, held an Environmental Seminar with the theme of Environmental Conflict in the Eye of Economics in Indonesia. Present as a speaker Hardi Baktiantoro who is the founder of Centre for Orangutan Protection with the material of Wildlife Conflict with Company in Kalimantan and drh. Erni Suyanti Musabine with material of Tiger Conflict with Society in Bengkulu Province. Seminar with moderator Fawas Al-Batawy who is the author of Yang Sublime in the rain became so exciting.

There are 100 students at meeting Room 225, 2nd floor, Vocational School, UGM on March 10, 2018. “How does a theory on campus get the facts on the ground?”, asked Septian.

Not only the seminar, Music Donation with the headline “Sound For Earth” also took place the next day, Sunday, March 11, 2018 at Wisdorm Park, in front of the campus of Economic D3 UGM. “This is a fundraising concert for orangutan care in Kalimantan. Hopefully what we donate is beneficial to the universe.”, said the committee.

“COP is happy to be able to share in this seminar and the creativity of D3 Economics students deserves thumbs up.”, said Hardi. (LSX)

SEMINAR KONFLIK LINGKUNGAN DI D3 EKONOMI UGM
Ecosophy dalam usianya yang ke-30 tahun melangsungkan Seminar Lingkungan Hidup dengan tema Konflik Lingkungan dalam Kacamata Ekonomi di Indonesia. Hadir sebagai pembicara Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri Centre for Orangutan Protection dengan materi Konflik Satwa Liar dengan Perusahaan di Kalimantan dan drh. Erni Suyanti Musabine dengan materi Konflik Harimau dengan Masyarakat di Provinsi Bengkulu. Seminar dengan moderator Fawas Al-Batawy yang merupakan penulis buku Yang Menyublim di Sela Hujan menjadi begitu seru.

Ada 100 mahasiswa memenuhi Ruang 225, lantai 2, Sekolah Vokasi, UGM pada 10 Maret 2018. “Bagaimana sebuah teori di kampus mendapatkan fakta di lapangan.”, ujar Septian.

Tak hanya seminar, Musik Donasi dengan tajuk “Sound For Earth” juga berlangsung keesokan harinya , Minggu, 11 Maret 2018 di Wisdorm Park, depan kampus D3 Ekonomi UGM. “Ini adalah sebuah konser penggalangan dana untuk perawatan orangutan di Kalimantan. Semoga apa yang kita donasikan bermanfaat bagi alam semesta.”, ujar panitia.

“COP senang sekali bisa berbagi di seminar ini dan kreatifitas mahasiswa D3 Ekonomi patut diacungi jempol.”, ujar Hardi haru.

HUNTING TOGETHER PESTS IN PAGUYANGAN, VOID!

Once again the Center for Orangutan Protection would like to thank all the Orangufriends who have participated in disseminating and texting the Hunting Bareng committee organized by Rang Rang Community in Paguyangan, Brebes, Central Java. The HUNBAR event was canceled!

“HUNBAR event which is a gathering event that violates the Chief of Police Regulation no. 8 Year 2012. Air rifles are only used for target shooting practice in the arena.”, said Hery Susanto, Coordinator of Anti Wildlife Crime COP.

“Is it true that squirrels and wild boars become hunting animals as pest in Brebes? Let’s convey information about human conflict with wildlife to SMS and Call Center Natural Resource Conservation Center (BKSDA) Central Java 082299351705.”, invite Hery Susanto again.

Abilawa, HUNBAR event organizer finally came to the BKSDA office of Central Java and Pemalang informed that hunting pests can not be held. There should be a review first and restrictions on the pest. The committee also canceled the March 4 of Hunting event.

COP is proud of Orangufriends. “Orangufriends’ concern can not be said anymore. You guys are great! “, Added Hery Susanto with pride. (LSX)
Sekali lagi Centre for Orangutan Protection mengucapkan terimakasih pada seluruh orangufriends yang telah ikut menyebarluaskan dan mengirim SMS pada panitia Hunting Bareng yang diselenggarakan Rang Rang Community di Paguyangan, Brebes, Jateng. Acara Hunbar dibatalkan! (LSX)

HUNBAR HAMA DI PAGUYANGAN, BATAL!
“Acara Hunbar yang merupakan acara silaturahmi itu melanggar Peraturan Kapolri No. 8 Tahun 2012. Senapan angin hanya digunakan untuk latihan menembak sasaran di arena.”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

“Benarkah tupai dan babi hutan yang menjadi hewan buruan merupakan hama di Brebes? Mari sampaikan informasi konflik manusia dengan satwa liar kepada SMS dan Call Center Balai Konsevasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jateng 082299351705.”, ajak Hery Susanto lagi.

Abilawa, panitia acara Hunbar akhirnya mendatangi kantor BKSDA Jateng wilayah Pemalang dan diinformasikan kalau berburu hama tidak dapat diadakan. Harus ada kajian terlebih dahulu serta pembatasan tentang hama tersebut. Panitia pun membatalkan acara Hunting Bareng tanggal 4 Maret itu.

COP bangga dengan para orangufriends nya. “Kepedulian orangufriends tak bisa dikatakan isapan jempol lagi. Kalian memang hebat!”, tambah Hery Susanto dengan bangga.

ORANGUFRIENDS: ELEVEN OUTSTANDING YEARS

It’s began when I’m still wearing the White-Gray Uniform
(Indonesian High School Uniform Color is white top and gray skirt/pants- read),
Far beyond COP, fourteen years ago innocently, approaching one of three COP founder, “What can I do for Orangutans?”.

Since then, I, who can only help from behind a computer and makeshift mobile phone. From setting aside a little of the allowance, take to the streets for a campaign. Until finally I had to split up with my beloved country also COP and had to study to neighboring country. The Jakarta-Sydney line for two years did not escape an all day event with COP. An annual Charity concert Sound for Orangutan or Wild Trip. Up to monitoring friends from the other side of Mount Merapi (Mt. Merapi Eruption 2011). Until I returned to my homeland and again I asked, “ What can I do as a Graphic Designer for Orangutans?”

I was finally called to join COP School in 2016. Meeting new friends from all around the country and abroad with different backgrounds. Learn from the coolest and great mentors/people and you can not possibly get a lesson in any textbook. Although I had not had chance to go to Kalimantan, one day it will happen.

Not Stopping there, my job just started. And will continue to support COP as Orangufriends. I am not alone… I have new friends and family who care for orangutan and conservation.

I am Amadhea Widoretno Kaslan. I’m a Graphic Designer and Artist, Orangufriends from Jakarta, and COP School Batch#6 Alumni wishing Center for Orangutan Protection its 11th Annivesary and thank you for this eleven outsanding years.

Keep on.. Fighting, Protecting.. Never Stop, Never Give Up… One APE One Sound.(Dhea_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS: SEBELAS TAHUN YANG LUAR BIASA
Saya memulainya saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jauh sebelum COP berdiri, 14 tahun yang lalu dengan lugu menghampiri salah satu dari tiga pendiri COP, “Apa sih yang bisa saya lakukan untuk orangutan?”.

Semenjak itu, saya hanya bisa bantu dari balik komputer dan handphone seadanya. Dari menyisihkan sedikit dari uang jajan, turun ke jalan untuk kampanye. Sampai akhirnya saya harus berpisah sementara dengan negara tercinta juga COP dan harus berkelana ke negeri tetangga. Jalur Jakarta-Sydney selama dua tahun tak luput dari waktu seharian bersama COP. Acara tahunanan Sound for Orangutan atau kegiatan Wild Trip. Sampai memantau teman dari sisi lain gunung Merapi. Hingga saya kembali ke tanah air dan kembali saya bertanya, “Apa sih yang bisa saya lakukan sebagai Graphic Designer untuk Orangutan?”.

Saya akhirnya terpanggil untuk ikut COP School di tahun 2016. Bertemu teman-teman baru dari penjuru tanah air dan mancanegara yang berlatar belakang berbeda-beda. Belajar dari mentor-mentor yang paling keren di bidangnya, belajar dari orang-orang hebat di lapangan dan tidak mungkin kalian dapat di buku teks pelajaran mana pun. Walaupun belum sempat ke Kalimantan, suatu saat nanti pasti terlaksana.

Tidak berhenti di sana, tugas saya baru mulai. Dan akan terus mendukung COP sebagai Orangufriends. Saya tidak sendiri… saya memiliki sahabat dan keluarga baru yang ikut peduli terhadap orangutan dan konservasi.

Saya Amadhea Widoretno Kaslan. Saya Graphic Designer dan Artist, Orangufriend Jakarta, Alumni COP School Batch 6 mengucapkan Selamat Ulang Tahun Centre for Orangutan Protection ke-11 dan terimakasih untuk 11 tahun yang luar biasa ini.

Keep on, Fighting, Protecting… Never stop, Never give up… One APE One Sound. (Dhea_Orangufriends)

THREE RESCUED BINTURONGS

Malang (East Java), three protected wild species with vulnerable status, shaped like a big civet, called Binturong (Arctictis binturong) was rescued for being kept illegally in a co-working space in Kenanga Indah, Malang. Ironically, this co-working space has a green concept, however they kept a protected wildlife within their premise. The Binturong was obtained from illegal trader; it was worth 1 million Rupiah. Based on the owner’s story, the binturongs lived with them for 15 years, and they did not know that binturongs are protected species. However, they stated the have the license to keep them.

Orangufriends Malang promptly reported the issue to Animals Indonesia and Centre for Orangutan Protection, after that the report was then followed up by BKSDA Malang and on February 23rd they recued the three binturongs and evacuated them to Conservation of Natural Resources Chamber of East Java (BKSDA).

Not only binturongs, but two civets (luwak) were also rescued, they were kept to produce luwak coffee. There were also rumors flying about the binturongs were also exploited to produce ‘luwak’ coffee as well, as it was believed that binturong can pick better coffee than luwaks. It was believed that the luwak coffee from binturong has a distinguished taste.

Behind the unique taste for coffee lovers, there are tragic stories for the animals. Animals are supposed to live in the wild to protect the ecosystem, now they have been moved to small cages and fed only coffees every day to produce luwak coffee.

It was found that 75% of communicable disease are zoonosis (can be contagious from human to animal vice versa), and there are a lot of animals acting as natural reservoir of diseases such as anthrax, avian flu, hepatitis, rabies, ebola, toxoplasmosis, and other diseases still unknown since they are rapidly changed like virus.

Viverridae like binturong is potential to carry rabies, HPAI H5N1, SARS, leptospirosis, salmonellosis, leishmaniosis and toxoplasmosis. Not only for health reasons, animals wellbeing and freedom are also need to be a concern. Wild animals are often kept inside small cages. Binturong, for example, have 6.9 km square roaming area. So forcing them to live inside small cages is abuse, no matter how much care they put into them and how expensive the food is.

The other concern is abnormality and lack of wellbeing; inside small cage animal would feel stressful, and the sign of their stress can be seen from walking in circle and biting the cage. This issue still happening around us.

Protected wildlife like binturong, forest cat, lutung, Javan hawk, cockatoo, are still available on online media and animal market. People awareness to not keep or buy protected animal are apparently still low. Prestige and life style turned keeping wildlife into a sign of wealth that needs to be flaunted, despite the fact that wild animals are not easy to take care of and could potentially spread disease.

Moreover, keeping wild animals on a co-working space or café that will increase human contact. It is very dangerous to keep wild animals! We need to raise people awareness and educate them on this issue. Hopefully, those three binturongs can get a second chance on the wild.

We need to stop keeping wild animal as pet! Let them freely roam the nature, and it will be more beautiful to see when they run around in nature. (Zahra_Orangufriends Malang)

TIGA BINTURONG YANG TERSELAMATKAN
Malang, tiga satwa liar yang dilindung Undang-Undang dan berstatus rentan jenis mammalia seperti musang dan bertubuh besar, Binturing (Arctictis binturong) berhasil diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di salah satu Co-Working Space di jalan Kenanga Indah, Malang. Ironisnya sebuah tempat yang bernuansa di tengah kebun asri nan hijau dan dengan konsep arsitektur alam terdapat satwa liar yang dilindungi. Anakan Binturong yang diperoleh dari pedagang ilegal ini awalnya didapatkan dengan harga kisaran 1 juta rupiah. Menurut cerita pemilik, binturong sudah dipelihara hampir lima belas tahun lamanya dan tidak mengetahui satwa tersebut dilindungi Undang-Undang, namun mengaku memiliki surat-surat kepemilikan Binturong.

Orangufriends Malang yang mendapatkan informasi kepemilikan ilegal tersebut memberitahukan kepada Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection, lalu laporan tersebut dilanjutkan ke BKSDA Resort Malang. Pada Jumat, 23 Februari 2018 laporan ditindak lanjuti dengan mengevakuasi tiga Binturong tersebut untuk diamankan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Surabaya.

Tidak hanya Binturong, tapi ada juga dua ekor musang atau luwak yang dimanfaatkan untuk menghasilkan biji kopi yang dimakannya. Dengan adanya tiga Binturong beredar isu bahwa Binturong dimanfaatkan juga untuk jadi pemakan kopi seperti kopi luwak karena Binturong dipercaya dapat memilih biji kopi yang sangat berkualitas untuk menjadi makanannya dibandingkan musang luwak.

Biasanya seduhan kopi yang diambil dari sisa kotoran musang luwak, dengan hasil kotoran yang didapatkan dari Binturong diyakini memiliki cita rasa yang berbeda setelah dimakan melewati saluran pencernaannya menjadi biji kopi. Di balik rasanya yang nikmat dan memiliki kemasyuran bagi pecinta kopi ada kisah tragis yang dirasakan oleh satwa-satwa tersebut. Satwa yang semestinya berada di alam liar dan membantu menjaga ekosistem, kini kian hilang dan berpindah pada kandang-kandang sempit dan kecil yang hanya diberi makan biji kopi setiap harinya untuk diambil kotorannya.

Diketahui 75% penyakit menular pada manusia bersifat zoonosis (dapat ditelurkan dari hewan ke manusia dan manusia ke hewan), sehingga banyak juga satwa liar menjadi reservoir (pembawa penyakit) dari alam yang dapat juga ditularkan ke manusia seperti anthraks, flu burung, hepatitis, rabies, wabah virus ebola yang ditelurkan ke manusia, toxoplasmosis dan juga penyakit-penyakit baru yang belum diketahui karena mudahnya penyakit berubah seperti virus.

Famili viverridae seperti Binturong, potensial membawa penyakit seperti virus rabies, HPAI H5N1, virus SARS, leptospirosis, salmonellosis, leishmaniasis dan toxoplasmosis. Selain masalah penyakit, kebebasan satwa juga harus diperhatikan. Satwa liar yang dipelihara terpaksa tinggal di andang sempit. Seperti Binturong saja memiliki daerah jelajah hingga 6,9 km2. Jadi mengekang dalam kandang sempit juga bentuk penyiksaan terhadap satwa mau sebagus apapun perawatan dan pemberian pakannya.

Tak hanya itu, berperilaku tidak normal dan hilangnya kesejahteraan hewan terhadap lingkungannya pun menjadi permasalahan utamanya. Berada pada kandang kecil hanya dapat membuatnya stes dengan bergerak mondar-mandir, berputar-putar dan menggigit kerangkeng kandang.

Kejadian seperti ini sangat masif dan masih banyak terjadi di sekitar kita. Satwa liar yang dilindungi Undang-Undang seperti Binturong, kucing hutan, lutung jawa, elang hingga burung kakak tua masih dapat diperoleh dari penjualan di media online dan pasar burung atau hewan. Kesadaran masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar rupanya masih jauh. Gengsi dan gaya hidup menjadikan satwa liar sebagai materi yang harus dimiliki dan dipameri.

Padahal satwa liar bukanlah peliharaan yang mudah diurus dan merugikan sendiri jika tertular penyakit dari satwa tersebut. Apalagi dengan membuat co-working space atau cafe yang memperbanyak kontak manusia untuk tertular. Maka jelaslah bahaya kesehatan untuk memelihara satwa liar! Masyarakat harus paham akan hal ini. Semoga ketiga binturong yang sudah dewasa ini dapat memperoleh kesempatan kedua untuk menikati alam liarnya.

Stop pelihara satwa liar! Biarkan bebas di alam dan lebih indah menyayangi dengan melihat mereka berlari bebas di hutan. (Nathanya_Orangufriends Malang)

Page 10 of 24« First...89101112...20...Last »