Orangufriends

BERBURU EMPRIT DIBATALKAN!

Terimakasih Orangufriends!!! Kalian memang hebat. SMS yang dilayangkan teman-teman ke nomor JOKO 085725953390 , DEWA 085743376650 , DARUS 085643101076 membuat gerah penyelenggara yaitu Joko Paryanto. Rencana kegiatan Baksos dan Lomba Berburu Hama burung Emprit di desa Karangmojo, kecamatan Weru, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dibatalkan.

Call Centre KSDAE Jateng bekerja cepat dengan mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan kepala desa Karangmojo, yaitu bapak Suseno bahwa memang terdapat burung emprit namun belum merupakan hama dalam skala besar.

Joko Paryanto menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tanpa sepengetahuan kepala desa dan hanya untuk merespon keluhan petani yang kebetulan padinya diserang koloni burung emprit saat menjelang panen.

Balai KSDA Jateng akhirnya melakukan pembinaan kepada Joko Paryanto selaku panitia lomba buru hama tentang larangan perburuan. “Yuk kita buka lagi pelajaran rantai makanan kita sewaktu sekolah!”, ujar Orangufriends Yogya bersemangat.

KEKEJAMAN DI BALIK KOPI LUWAK MU

Pagi ini, orangufriends Malang berkumpul bersama. Mereka adalah informan terbaik yang dimiliki Centre for Orangutan Protection. Mereka paham betul, satwa yang dilindungi tak seharusnya dimiliki seseorang. Selain itu… mereka tidak akan tahan dengan kekejaman yang terjadi pada satwa. Mereka belajar di COP School.

Lintas angkatan, lintas gender hanya untuk satwa liar. Itulah mereka, orangufriends Malang. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection ini adalah semangat muda COP. Seperti Rama yang berasal dari COP School Batch 7, Grace dari COP School Batch 6 dan Nathanya dari COP School 5 saling bekerja sama menghimpun informasi kepemilikan ilegal dari satwa yang bernama Binturung (Arctictis binturong) di sebuah co-working space coffee Gartenhaus, Malang. Hasilnya, tiga individu Binturung disita oleh KSDAE Malang dan Gakkum KLHK Jawa Timur.

“Binturung ini juga menghasilkan kopi luwak. Bahkan kemampuan binturung memilih biji kopi yang akan dimakannya jauh lebih baik dibandingkan musang luwak katanya yang memelihara Binturung tersebut.”, ujar orangufriends Malang. “Dan di balik kenikmatan kopi luwak ini, ada satwa liar yang harus bekerja keras. Bahkan satwa liar yang dilindungi undang-undang seperti Binturong ini pun harus terpenjara di dalam kandang, untuk menghasilkan kopi luwak.”, kata Rifqi, alumni COP School Batch 5.

Binturung semakin mengkawatirkan keberadaannya di alam karena keserakahan manusia. Tidak hanya karena habitatnya yang semakin rusak, namun keinginan manusia untuk menikmati kopi luwak tanpa mengindahkan caranya.

SELAMATKAN BURUNG EMPRIT DARI LOMBA BERBURU!

Jumat yang mengejutkan. Poster yang beredar lewat whatsapp mengundang reaksi orangufriends dimana pun berada. “Ngak salah nih? Burung Emprit dijadikan buruan?”. Panitianya SNIPER Uklik Indonesia yaitu Joko Paryanto. Bertempat di Karangmojo RT 01/RW 01, Weru, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia lagi! “Ngak malu apa, bawa-bawa nama Indonesia tanpa tahu peraturan yang berlaku?”, ujar Hery Susanto geram.

Padahal kecaman terhadap organisasi Persatuan Penembak Indonesia atau Perbakin di kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pertengahan Oktober 2017 yang lalu masih dalam ingatan kuat. Saat itu ada 150 burung yang mati dengan lokasi kejadian di Cagar Alam Beringin Sakti, Lapangan Cindua Mato, kota Batusangkar. Jenis burung yang ditembak mati adalah jenis dilindungi PP Nomor 7 tahun 1999 yaitu kuntul kecil (Egretta garzetta) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

“Berdasarkan Peraturan KAPOLRI No. 8 Tahun 2012: Senapan Angin hanya untuk latihan menembak sasaran di arena. Dengan demikian penggunaannya untuk berburu burung jelas SALAH. Siap-siap ditangkap.”. “Yuk, di copas aja, lalu kirimkan SMS mu ke JOKO 085725953390 , DEWA 085743376650 , DARUS 085643101076.”, tambah Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

“Bantu ya… agar kejadian di RRC saat Mao Zedong memusnahkan ratusan juta burung gereja atau pipit karena dianggap penyebab bencana kelaparan di sana tidak terulang lagi. Burung gereja pun menjadi hampir punah di sana dan muncullah masalah baru.”, ujar Novi, Orangufriends dari Padang.

WILDTRIP KE TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

Wildtrip adalah salah satu kegiatan Orangufriends. Ini adalah saatnya untuk mengakrabkan diri, saling mengenal dan biasanya akan muncul ide-ide luar biasa untuk mendukung pekerjaan Centre for Orangutan Protection. Kali ini, Orangufriends Jakarta ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Sebelas jam perjalanan dan disambut dengan pemandangan yang luar biasa, tentu saja udara yang segar. Lepas dari rutinitas pekerjaan di Jakarta. Kekayaan flora maupun fauna yang tiada habisnya. Anggrek hutan, kantong semar, suplir hingga surili, macan tutul, musang, ajag, muncak, trenggiling dan suara merdu owa jawa. O iya… tanggal 15 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai hari Trenggiling Sedunia loh. Jadi ingat kasus puluhan bangkai trenggiling tanpa sisik di Sampit, Kalimantan Tengah yang pernah diceritakan APE Crusader, hingga kini kasus Juni 2016 itu pun menguap tanpa diketahui siapa pelaku pembuang satwa dilindungi undang-undang ini.

Tidak usah bingung akan menginap dimana. Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak memiliki penginapan yaitu Cikaniki Research Centre. Setelah istirahat sesaat dan makan siang kami langsung menuju Canopy Trail dan Curug Macan. “Jauh-jauh ke sini ya untuk menikmati setiap menit yang berjalan. Sensasi berada di ketinggian 25 meter, melewati jembatan sepanjang 100 meter dan sapuan angin dingin… kamu harus nyobain. Atau berendam di bawah curug Macan… bikin kamu segar loh. Bahkan tadi sempat berjumpa dengan Surili, primata unik endemik pulau Jawa yang terancam punah menurut International Union for Conservation of nature (IUCN) dan si Elang yang sedang terbang mengintai mangsanya.”, cerita Lupita dengan serunya.

Wildtrip bareng orangufriends, ngak akan kebayang serunya loh. Kamu harus ikut Wildtrip Orangufriends selanjutnya ya. Trus berbagi cerita. “Kalau ngak ikut orangufriends… ya ngak bisa ikutan.”, tambah Lupita lagi. (Lupita_Orangufriends)

DILAN… YANG BERAT ITU ANGKAT PLAT BESI

“Bilang sama Dilan… yang berat bukan rindu, tapi angkat plat besi.”, ujar Wety Rupiana dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Demam film Indonesia berjudul Dilan 1990 tak hanya milik perkotaan saja. Tapi di dalam hutan hujan tropis Kalimantan, kata-kata mutiara film Dilan juga menjadi waktu jeda yang sangat menghibur.

Beratnya lebih 100 kg dengan panjang 240 cm tinggi 120 cm dengan ketebalan 3 mm. Bukan benda yang mudah untuk dibawa sendiri. Butuh minimal 2 orang dengan kerjasama tim yang baik untuk membawanya.

Membawa beban seberat itu di jalanan hutan sehabis hujan adalah ujian dari kesabaran. Harus pelan-pelan agar tidak terpleset. Sekali saja terjatuh, kulit akan tergores oleh besi dan tentunya perih sekali.

Namun jalanan becek bukanlah menjadi alasan untuk tidak membawa plat besi dari parkiran ke kandang. Beruntung jalan titian yang dibuat tim Angles dari With Compassion and Soul meringankan perjalanan ini. “Sayang titian belum menghubungkan hingga kandang karantina yang baru dibangun ini. Tapi titian ini sungguh sangat membantu.”, ujar Saifulloh atau bang Ipul yang menjadi relawan COP Borneo selama pembangunan kandang karantina ke-2 ini. (WET)

DIARY VOLUNTEER: PUSAT REHABILITASI MILIK ANAK NEGERI ITU BERNAMA COP BORNEO

Hari masih gelap meski pagi telah menjelang meninggalkan subuh, ketika lamat-lamat ku dengar suara tebasan demi tebasan datang dari arah gudang pakan memecah kehentingan belantara Hutan Penelitian Labanan pagi itu. Aku baru saja terjaga dari tidur indahku setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dari Padang, Sumatera Barat. Camp COP Borneo! Bergegas aku menuju asal suara. Ya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur, aku bertekad untuk tidak melewatkan momen apapun terkait kegiatan operasional di satu-satunya Pusat Rehabilitasi Orangutan milik anak negeri alias 100% Indonesia ini.

Dengan takjub, aku menyaksikan sebuah pemandangan yang tidak biasa. Ditemani pelita yang masih menyala, Amir salah satu animal keeper sudah memulai aktivitas hari itu dalam keremangan pagi. Pagi ini dia bertugas menyiapkan makan pagi orangutan berisi nenas, pepaya, semangka, kedondong, pisang dan beberapa jenis sayuran hijau untuk 8 orangutan dewasa, 4 orangutan balita dan 1 bayi orangutan. Tak lupa tambahan susu untuk orangutan kecil dibuatkan oleh Herlina.

Sementara di sisi lain, si “Penguasa Dapur” yaitu Santi tengah sibuk berjibaku mengolah bahan makanan menjadi menu sarapan pagi untuk disantap oleh seluruh penghuni camp sebelum memulai pekerjaan hingga siang nanti. Sungguh terampil dia mengolah bahan makanan sederhada yang ada di persediaan logistik hingga menjadi makanan. Saatnya semua berkumpul… dan sarapan pagi bersama. Menikmati sarapan pertama dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan di tempat paling eksotis di Indonesia. Ya, pedalaman Kalimantan. Camp penuh ukiran dayak pun terlihat semakin bersinar saat sinar matahari mencoba menerobos lebatnya dedaunan pohon besar, semakin artistik.

Hari benar-benar telah terang, sesuai daftar menu dan timbangan yang telah diberikan drh. Ryan, Amir dan Daniel akan menuju kandang orangutan. Steven dan Jevri menyalakan mesin pompa air untuk membersihkan kandang. Aku pun tak sabar lagi bertugas seperti mereka. (Novi_Orangufriends)

PALANGKARAYA: BANANA NOT BULLET

Sendiri bukan berarti menghalangi kita berkegiatan, begitu kata Diska, orangufriends dari Palangkaraya yang merupakan alumni COP School Batch 7. Hari ini sangat menyenangkan sekali. walau sempat hopeless karena kurang personil. “Tiba-tiba dihubungi Rumah Baca Bahijau dan mereka mau ikutan aksi Banana not Bullet.”, ujar Diska.

Ini adalah aksi serentak di hari kasih sayang bahwa ada 32 kasus orangutan dengan 769 peluru senapan angin yang tertanam di tubuh orangutan hingga Februari 2018 ini. Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru senapan angin di Kalimantan Timur adalah kasus terbaru dan peluru terbanyak yang menghujam orangutan. “Kebayangkan kalau tubuh kita dihujam peluru senapan angin sebanyak itu.”, jelas Diska lagi.

Tanggapan positif dari orang-orang yang menerima pisang dengan tulisan “Banana not Bullet”, sungguh menggembirakan. Malah tadei ada yang sempat bertanya tentang perkembangan kasus orangutan dengan 130 peluru tersebut. “Kaget, ternyata ada yang peduli loh. Banyak bahkan.”, tambah Diska lagi.

Berlokasi di Taman Pasuk Kameluh Palangkaraya, Kalimantan Tengah mulai pukul 20.00 WIB, Diska bersama teman-teman dari Rumah Baca Bahijau berkeliling membagikan pisang penuh makna ini, ajakan untuk semakin peduli pada Teror Senapan Angin.

SAMARINDA: BANANA NOT BULLET

This is how orangutan lovers celebrate Valentine’s Day! All of us in major cities across Indonesia today were giving away Bananas with slogan “Banana Not Bullet” to people on the street. It’s a peaceful campaign against the brutal killings of the Orangutans which has been increasing lately. (The latest one was an Orangutan which was shot 130 times with the same amount of bullets found lodged inside his body during the autopsy and the vets can’t take all of them out before they had to bury him, I can’t imagine the pain and the agony that he must have endured before he died) We want to give people awareness and to teach them to care a little more about our closest relative; the Orangutans. So our message as for today is “Shoot Bananas not Bullets, people!” And happy Valentine’s everybody! (Inggrid_Orangufriends)

KANDANG KARANTINA II HAMPIR SELESAI

Ini adalah minggu ke-3 pembangunan kandang karantina untuk empat orangutan yang akan dilepasliarkan ke habitat di tahun 2018. “Hari ini atap sudah terpasang.”, kata Ipul yang menjadi relawan pada pembangunan ini. Untuk menekan biaya pembangunan kandang karantina, COP Borneo mempekerjakan satu orang tukang dan dibantu relawan COP.

“Kami sangat menghargai dedikasi para relawan COP yang bersedia membantu pembangunan kandang karantina ini. Mereka rela jauh dari keluarga. Ditambah lagi di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini, tidak terdapat sinyal telepon apalagi internet.”, ujar Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP dengan haru.

Plat besi pemisah satu kandang-dengan kandang yang lain akan segera dilas. Pemasangan pintu kandang, pengecatan dan pemasangan instalasi air akan dilanjutkan minggu depan. Mari bantu pembangunan kandang karantina tahap dua ini lewat Kami masih membutuhkan dana untuk membuat jalan titian di depan kandang.

BANANA, NOT BULLET

Centre for Orangutan Protection (COP) dari tahun 2004 hingga sekarang mencatat paling tidak ada 32 kasus orangutan yang bermasalah, dengan 769 peluru senapan angin. Data yang dihimpun dari beberapa lembaga yang menangani orangutan baik yang di Sumatera dan Kalimantan cukup mengkhawatirkan.

Perhatian dunia sekarang tertuju kepada Indonesia setelah ramai adanya kasus orangutan mati dengan 130 peluru senapan angin di Kalimantan Timur awal minggu lalu.

Banana, Not Bullet.

Kita kabarkan pada dunia kalau kita warga Negara Indonesia peduli dan bergerak. Bahwa orangutan membutuhkan kasih sayang (pisang/banana) bukannya peluru.

Tepat pada hari Rabu, 14 Pebruari 2018 yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, Orangufriends di beberapa kota di Indonesia seperti :

1. Jakarta,
2. Bandung,
3. Yogyakarta,
4. Malang,
5. Surabaya,
6. Karawang,
7. Padang,
8. Palangka Raya,
9. Samarinda,
10. Berau

Membagikan pisang kepada masyarakat umum sebagai simbol bahwa yang dibutuhkan orangutan adalah kasih sayang bukan peluru.

Page 10 of 23« First...89101112...20...Last »