Orangufriends

MALANG ‘YEAR OF FREEDOM’ COMMUNITY VISIT

In commermorating World Orangutan DAy in 2017, orangufriends Malang held a community visit activity on Monday (21/8). World Orangutan Day or World Orangutan DAy (WOD) is actually celebrated on August 19, but the ceremony was forced to be postponed because it adjusted the agenda of each community visited. These communites are Earth Hour (EH) Malang and the Brawijaya University Student Association of Nature Lovers (IMPALA).

This year the Center for Orangutan Protection (COP) carries the theme “Year of Freedom”, because this year COP will release its first orangutan. Therefore, the community visit theme is taken in addition to discussing the material of orangutan and also disseminating good news from COP Borneo about “Year of Freedom”. “This theme is important for us Malang’s Orangufriends because we believe that everyone involved in COP and Orangufriends has long been working wholeheartedly for this moment, and that day really deserves to be greeted with joy.” said Algriawan Bayu, Orangufriends Malang.

This Community visit is also the beginning of Posuf’s Malang positive relation with local communities. With the relationship built, we are confident that more young people will understand how important is to keep orangutans and their habitats and other wildlife. We also believe that what we have delivered in this activity will continue to spread as a message of kindness. There is one thing that we all agree on from this activity, whoever we are and from whichever asala (community), as long as we have one goal for the environtment, we are brothers. (Dhea_Orangufriends)

Dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia tahun 2017, Orangufriends Malang mengadakan kegiatan community visit pada hari Senin (21/8). Hari Orangutan Sedunia atau World Orangutan Day (WOD) sejatinya dirayakan pada tanggal 19 Agustus, namun seremoni ini terpaksa diundur karena menyesuaikan agenda masing-masing komunitas yang dikunjungi. Ada pun komunitas-komunitas tersebut adalah Earth Hour (EH) Malang dan Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPALA) Universitas Brawijaya.

Pada tahun ini Centre for Orangutan Protection (COP) membawa tema “Year of Freedom”, sebab tahun ini juga COP akan melakukan release orangutan pertamanya. Maka dari itu tema community visit yang diambil pun selain membahas materi orangutan dan juga menyebarluaskan kabar baik dari COP Borneo tentang “Year of Freedom”. “Tema ini menjadi penting bagi kami orangufriends Malang karena kami percaya bahwa semua orang yang terlibat dalam COP maupun Orangufriends sejak lama telah bekerja dengan sepenuh hati untuk datangnya momen ini. Dan hari itu sungguh layak disambut dengan gembira.”, ujar Algriawan Bayu, Orangufriends Malang.

Community visit ini juga menjadi awal dari relasi positif Orangufriends Malang dengan komunitas-komunitas lokal. Dengan adanya relasi yang dibangun, kami yakin akan lebih banyak lagi generasi muda yang mengerti dan memahami betapa pentingnya hal menjaga orangutan dan habitatnya serta satwa liar lainnya. Kami juga yakin bahwa apa yang telah kami sampaikan dalam kegiatan ini akan terus mereka sebarluaskan sebagai sebuah pesan kebaikan. Ada satu hal yang kami semua sepakati dari kegiatan ini, siapapun kita dan dari manapun asala (komunitas) nya, selama kita punya satu tujuan untuk lingkungan, kita saudara. (Bayu_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS PALANGKARAYA CELEBRATE #ORANGUTANDAY

Sunday, August 20th 2017 in the big roundabout Palangka Raya a routine activities CFD (Car Free DAy) looks crowded like the previous weeks but there is a different in this week CFD, What is it ?

There is one Orangufriends member who is a supporter of the COP (Center for Orangutan Protection) with friends from Kimpala go down directly on the street carrying posters that read “Year of Freedom” while handiong out free stickers for Palangka Raya city residents.

While getting stickers, residents were wondering about orangutan and COP. Not a few who deliberately approached to ask for a sticker. 

This action is done as a celebration of World Orangutan Day or World Day of Orangutan which is commemorated on August 19 every year. It is expected that with this activity, it can raise awareness of Palangka Raya city residents in maintaining the survival of orangutans and their habitat. 

“Thank God, this action is welcomed by the citizens and young people her,” said Diska Anshari, a student of COP School Batch 7. This activity is also a marker that orangufriends still exist in Palangkaraya and hopefully in the future can open the eyes of young people of Central Kalimantan to participate directly in the preservation of orangutan life in Indonesia (Dhea_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS PALANGKA RAYA MEMPERINGATI #ORANGUTANDAY
Minggu, 20 Agustus 2017 kegiatan rutin CFD (Car Free Day) di bundaran besar Palangka Raya terlihat ramai seperti pekan-pekan sebelumnya namun ada yang berbeda di pekan ini, apa itu?

Ada satu anggota orangufriends yang merupakan pendukung COP (Centre for Orangutan Protection) bersama teman-teman dari Kimpala turun langsung ke jalan membawa poster yang bertuliskan “Year Of Freedom” sambil membagikan stiker gratis untuk warga kota Palangka Raya.

Sambil mendapatkan stiker, warga pun bertanya-tanya tentang orangutan dan COP. Tak sedikit yang sengaja menghampiri untuk meminta stiker secara langsung.

Aksi ini dilakukan sebagai perayaan World Orangutan Day atau Hari Orangutan Sedunia yang diperingati pada 19 Agustus setiap tahunnya. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, bisa membangkitkan kesadaran warga kota Palangka Raya dalam menjaga kelangsungan hidup orangutan beserta habitatnya.

“Syukurlah aksi ini disambut baik oleh warga dan anak muda di sini.”, ucap Diska Anshari, siswa COP School Batch 7. Kegiatan ini juga sebagai penanda bahwa orangufriends masih tetap eksis di Palangka Raya dan semoga kedepannya bisa turut membuka mata anak muda Kalimantan Tengah agar ikut terjun secara langsung dalam menjaga kelestarian hidup orangutan di Indonesia (Diska_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS CELEBRATE HAPPY ORANGUTAN INTERNATIONAL DAY

Distance is not an obstacle for Orangufriends. Orangufriends are volunteers that support the protection of orangutans and their habitat in Centre for Orangutan Protection. Different background and age is not a barrier for them. Through World Orangutan Day Event, they work closely with each other to celebrate the World Orangutan day, August 19th 2017.

Stickers designed by Diska Anshari from Palangka Raya, located in Kalimantan Island, was distributed to students in Aceh, located in Sumatera Island. On Car free day in Palangkaraya, the citizens were enthusiastic about the stickers too. Not only in Sumatera and Kalimantan, Orangufriends in Java also created their own way to celebrate the Wolrd Orangutan Day. Orangufriends Bandung and Purwokerto also held a socialisation session in Car Free Day event in their own town, ready to educate the citizen about the endangered orangutans.

Orangufriends Padang even held a school visit. They prepared a road show to celebrate Wolrd Orangutan Day: from talkshow in Classy FM, school visit, campus visit, to musical dialog. This musical dialog were attended by COP founder, Zal Puteh (humanist, artist, and environmental activist), and collaboration with various organisation and communities. “Conservation is collaboration,” stated Hery Susanto, one of COP founder.

In August 21st, Orangufriends Malang was scheduled to hold a road show to communities to share the spirit of conservation for orangutan and their habitat. “COP rarely creates ceremonial event. For this year’s World Orangutan Day, we informed Orangufriends about it. Orangufriends responded with various activities. They coordinated, planned, and executed their own event with their own creativity. We are so proud of the events created by Orangufriends Aceh, Padang, Purwokerto, Bandung, Malang and Palangka Raya,” stated Ramadhani, COP’s communication manager.

In another occasion, Hardi Baktiantoro stated, “Orangufriends, you are so awesome! Many organisations envied us. The spirit of Orangufriends is the spirit of COP. COP is big because of Orangufriends.” (Zahra_Orangufriends)

Lokasi yang memisahkan mereka tak jadi halangan. Itulah Orangufriends. Orangufriends adalah relawan yang mendukung perlindungan orangutan dan habitatnya di Centre for Orangutan Protection. Latar belakang maupun usia tak menjadikan mereka berbeda. Lewat World Orangutan Day Event, mereka bahu membahu memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2017.

Desain stiker dari Diska Anshari yang berada di Palangka Raya sampai ke tangan para siswi di ujung utara pulau sumatera, yaitu Aceh. Stiker itu pula yang menjadi rebutan warga yang hadir di acara Car Free Day Palangka Raya di hari berikutnya. Tak hanya di pulau Sumatera maupun Kalimantan. Orangufriends yang berada di pulau Jawa pun tak mau ketinggalan. Orangufriends Bandung dan Purwokerto pun turun di acara Car Free Day sambil membawa poster dan siap memberi informasi tentang orangutan dan habitatnya yang semakin terancam.

Kunjungan ke sekolah atau yang sering disebut school visit juga hadir di Padang. Orangufriends Padang bahkan mempersiapkan rangkaian acara untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia 2017 ini. Mulai dari talk show di radio Classy FM, school visit, campus visit sampai Dialog Musikal di cafe dengan menghadirkan pendiri COP, Zal Puteh yang merupakan budayawan, seniman dan aktivis lingkungan asal Aceh serta kolaborasi oraganisasi dan kelompok lainnya. “Ya kerja konservasi adalah kerja bersama.”, ujar Hery Susanto, salah satu pendiri COP menegaskan.

Bahkan di tanggal 21 Agustus nya, Orangufriends Malang berencana masuk dari satu komunitas ke komunitas lainnya untuk menularkan semangat perlindungan orangutan dan habitatnya yang merupakan asal muasal COP berdiri.

“COP jarang sekali membuat acara ceremonial. Sementara untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia ini, kami memberitahu para orangufriends. Orangufriends yang merupakan para pendukung COP ini, merespon dengan berbagai kegiatan. Mereka mengkoordinir, merencanakan dan mengemas acara dengan kreatifitas masing-masing kota. Jadilah perayaan yang membanggakan dari Aceh, Padang, Purwokerto, Bandung, Malang dan Palangka Raya.”, ujar Ramadhani, manajer komunikasi COP.

Dalam kesempatan terpisah, Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri COP menyampaikan, ”Kalian hebat, Orangufriends! Kalian bikin iri banyak organisasi orangutan lainnya. Semangat orangufriends adalah semangat COP. COP besar karena orangufriends.”. (YUN)

ACICIS NGO FAIR 2017

Tahun ini, Centre for Orangutan Protection hadir lagi di ACICIS NGO Fair 2017. ACICIS (Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies adalah non-profit konsorsium di Yogyakarta yang beranggotakan 24 universitas yang berada di negara Australia, Selandia Baru, Inggris dan Belanda. ACICIS pada setiap semester memfasilitasi mahasiswa asing yang menjadi anggota konsorsium untuk menjalani studi selama satu atau dua semester di instansi pendidikan Indonesia seperti Univestitas Gajah Mada (UGM), Universitas Sanata Dharma dan Universitas Islam Indonesia (UII Yogyakarta).

Para mahasiswa ACICIS ini akan berkontribusi dengan lembaga lain seperti LSM atau organisasi lokal sebagai sukarelawan. COP sejak tahun 2013 sudah terbantu dengan bergabungnya para mahasiswa ACICIS ini. Relawan ini membantu dalam bentuk menterjemahkan artikel COP, ada juga yang fundraising, mereka juga melakukan kunjungan ke sekolah (school visit) maupun kegiatan pendidikan dan penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya.

Siapa pun kamu, bisa membantu perlindungan orangutan, satwa liar dan habitatnya dengan bergabung sebagai orangufriends. Apa saja yang bisa kamu bantu? Tentu saja sesuai dengan kemampuan dan keterampilan kamu. Ingin tahu lebih banyak tentang Centre for Orangutan Protection (COP)? Langsung datang ke Ruang Yustisia, lantai 2 University Club Hotel, UGM Yogyakarta ya. Rabu, 9 Agustus 2017 pukul 13.00 – 14.30 WIB. Ada merchandise COP juga yang layak untuk kamu koleksi. Save the Orangutan from Delete!

ORANGUFRIENDS PADANG DI RAON FEST SIBOLANGIT

Kegiatan edukasi memang tidak terlihat heroik di dunia konservasi. Edukasi juga tidak begitu menarik perhatian media massa. “Tapi… dalam dunia konservasi hutan dan satwa liar, edukasi memiliki peran yang sangat penting untuk membentuk karakter anak-anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa.”, ujar Novi Rovika, siswa COP School Batch 7.

Edukasi tentang satwa liar tak sepopuler edukasi konservasi lainnya. Padahal keunikan dan peranan penting satwa liar dalam ekosistemnya serta manfaatnya untuk manusia merupakan nilai penting dalam melestarikan alam.

Melalui pendekatan persuasif dengan strategi yang ‘kekinian’ sesuai dengan kemajuan zaman, orangufriends Padang hadir dengan kegiatannya. “Raon Fest” 2017 Sibolangit – Sumatera Utara adalah contohnya. Event musik yang digagas anak-anak muda kota Medan yang menamakan diri “Gang Cobra” tersebut. memadukan kegemaran anak-anak muda beraktivitas di alam terbuka dengan berkemah, sambil menikmati festival musik.

Baru pertama kali digelar secara outdoor. Event musik yang tak biasa ini menjadi ruang bagi band-band indi kota Medan untuk mengapresiasikan diri. Raon Fest juga memberi ruang bagi anak-anak muda yang memiliki hobi fotografi dan film. “Stand Up Comedy indo Medan” pun turut meramaikan acara.

Zal Puteh, aktivis musik balada kota Medan melalui ‘Dialog Musikal’ memberi gambaran tentang kehidupan orangutan Sumatera. Lagu ‘Pongo Abeli’ menjadikan materi edukasi begitu renyah terdengar audience. Dan yang mampir ke meja orangufriends untuk membeli merchandise karena mereka ingin ikut berdonasi untuk orangutan. “Membeli karena sebab.”, lirih Novi dengan terharu.

“Sayang, mereka yang hadir, tidak pernah mengetahui keberadaan orangutan Sumatera. Padahal habitatnya tak jauh dari tempat mereka berada.”, ucap Novi lagi. Inilah yang kemudian membuat mereka semakin antusias. Cerita, diskusi, lagu dan musik dengan suasana yang santai menjadikan Sabtu – Minggu di pertengahan bulan Juli menjadi lebih berarti. Orangufriends memang punya 1001 ide dan cara untuk perlindungan orangutan dan habitatnya. (Novi_Orangufriends)

HIDUP DI CAMP COP BORNEO

“Wow!”. Hidup di hutan itu sangat sederhana. Di pondok kayu rumah panggung beratapkan seng, di bawah rimbunnya pepohonan adalah tempat tinggal kami selama sebulan ke depan. Dan… kebayang ngak, selama sebulan tanpa signal telepon apalagi internet? Mungkin ngak ya?

Keterasingan di tengah hutan memiliki daya tarik tersendiri yaitu bebas dari jaringan internet yang seringkali menjadi ‘distraksi’ terbesar manusia abad ini. Lepas dari kejaran notifikasi social media (facebook, twitter, instagram, path, dst), chat group diaplikasi (whatsapp atau line), email atau hanya sekedar menjelajah internet, game online ataupun menonton youtube yang selalu menyajikan hiburan tiada batas kapan pun dimana pun dan seringkali membuat ketagihan. Baiklah, ‘detox internet’ dimulai. Mencoba kembali ke alam secara harafiah.

Bonusnya, jika kamu mengabaikan cerita ‘tarzan’ dan ‘snow white’ serta kesan horornya hutan belantara dari hewan buas seperti macan dan ular maupun penghuni tak kasat mata lainnya, kesunyian dan oksigen melimpah dengan kualitas udara bersih hutan memberikan kesan dramatis dan membuat saya tak berhenti berdecak kagum. Betapa hidup di hutan memiliki daya tarik tersendiri.

Menjadi relawan COP Borneo di hutan hujan tropis Labanan, Berau, Kalimantan Timur sejak 26 Juni 2017 adalah kesempatan istimewa saya. Kapan lagi diusilin burung rangkong yang suka menganggu di dapur, kancil, anjing hutan, babi hutan dan bahkan landak yang mau mencuri pakan yang tersimpan di gudang buah. Kami pun harus berjaga-jaga sepanjang malam.

Udara di dalam hutan berbeda sekali dengan di luar hutan. Di dalam dengan kesejukan yang lembab, sementara di luar hutan, panas terik yang menyengat. Hujan deras pun sempat membuat kawatir dengan kilat dan suara petir yang membahana.

Saat malam tiba, listrik hanya dipergunakan untuk penerangan dari jam 6 sore hingga 10 malam. Selebihnya, senter dan lilin yang akan menemani. Sumber air hanya berasal dari ‘embung’ yaitu kolam rawa yang ada di dekat camp. Sementara air bersih harus kami beli dari kota. Di sinilah saya belajar hidup sederhana dan efisien untuk menikmati hidup atau berkontempelasi. (A.Gasani_Orangufriends)

SCHOOL VISIT D’ROYAL MOROCCO

Tuesday, July 18th 2017, Orangufriends Jabodetabek team got a chance to fill one of the activities of orientation and student introduction at the school of D’Royal Morocco Integrative Islamic School. This event is planned by Wanda, a member of Orangufriends who is also a teacher at school with full address at Jalan Haji Salim III No.7, North Gandaria, Kebayoran Baru, South Jakarta.

The event which started at 11.00 WIB is attended by about 30 student from grade 7 through 12. This is COP first visit, so we begins with an introduction to the COP vision and mission, activities and programs.

After a few minutes of introduction, three other Orangufriends ; Dhea, Lia, and Kemal continued with the explanation about animal welfare and orangutan conservation in Indonesia. Although some students have kept pets, animal welfare is also a new thing for them. Especially about orangutan conservation. Here Orangufriends team also explained about the condition and role of orangutans in nature, also what the student can do to support orangutan conservation and other endangered wildlife in Indonesia.

When material with pictures and videos about the condition of orangutans was given, some students looked surprised. Those who usually only see wildlife in zoos do not know that there are many problems suffered by wild animals, especially orangutans in nature.

Students’ curiosity was also seen when they asked during material presentation and question and answer session. The students seemed enthusiastic to ask questions to get to know and know more about the existing problems related to the welfare of animals and orangutans. This also makes the obstacle of electricity blackout for a few minutes is not a problem because the students still want to listen to the explanation calmly. Likewise, when the quiz was given by Orangufriends’s , the students looked eager and could give the right answer.

The Orangufriends team visit was fortunate enough that the students had previously been given the assignment by their homeroom teachers to conduct follow-up activities from the material they had received. After this some students have plans to conduct some independent activities in schools with themes related to the welfare of wildlife and the surrounding natural environment.We hope that this activities are working until there is a lot of student could understand and realized how important to kept the wildlife and the environment. Start from small activities near them.

Hopefully this activity plan can really run so that more and more students who understand and realize the importance of preserving nature and all its contents. Starting from simple activities in their surroundings.

Thank you friends of junior high school and senior high school D’Royal Moroco Integrative Islamic School. Congratulations continue the struggle to defend the future of the Indonesian Nature & Wildlife. See you again later. (Dhea_Orangufriends)

Selasa, 18 Juli 2017, tim Orangufriends Jabodetabek mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu kegiatan masa orientasi dan pengenalan siswa di sekolah D’Royal Morocco Integrative Islamic School. Kegiatan ini direncanakan oleh Wanda, salah satu anggota Orangufriends yang juga merupakan guru di sekolah yang berada di Jalan Haji Salim III No.7, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tersebut.

Kegiatan yang dimulai pukul 11.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 30 siswa yang terdiri dari siswa kelas 7 atau 1 SMP hingga kelas 12 atau 3 SMA. Kunjungan dari tim COP merupakan yang pertama kalinya di sekolah ini, maka kegiatan pun diawali dengan perkenalan mengenai visi misi serta kegiatan dan program-program COP.

Setelah perkenalan selama beberapa menit, 3 orang tim Orangufriends yang terdiri dari Amadhea, Lia dan Kemal melanjutkan dengan materi utama yaitu penjelasan mengenai kesejahteraan satwa dan konservasi orangutan di Indonesia. Meski sebagian siswa pernah memelihara binatang peliharaan namun hal mengenai kesejahteraan satwa juga merupakan hal yang baru bagi mereka. Terlebih mengenai konservasi orangutan. Di sini tim Orangufriends juga menjelaskan mengenai kondisi dan peranan orangutan di alam, juga tak lupa hal-hal yang bisa dilakukan siswa untuk mendukung konservasi orangutan dan satwa liar lainnya yang terancam punah di Indonesia.

Ketika materi yang dilengkapi dengan gambar-gambar dan video mengenai kondisi orangutan diberikan, sebagian siswa terlihat terkejut. Mereka yang biasanya hanya melihat satwa liar di kebun binatang pun tidak mengetahui bahwa ternyata terdapat banyak permasalahan yang diderita oleh satwa-satwa liar khususnya orangutan di alam.

Rasa penasaran para siswa juga terlihat ketika mereka bertanya selama pemaparan materi dan sesi tanya jawab. Para siswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengenal dan mengetahui lebih lanjut mengenai permasalahan yang ada terkait kesejahteraan satwa dan orangutan. Hal ini pun membuat kendala mati lampu selama beberapa menit tidak menjadi masalah karena para siswa tetap mau mendengarkan penjelasan dengan tenang. Begitu juga saat kuis diberikan oleh kakak-kakak Orangufriends, para siswa terlihat bersemangat dan bisa memberikan jawaban yang tepat.

Kunjungan tim Orangufriends kali ini cukup beruntung karena ternyata para siswa sebelumnya telah diberikan tugas oleh para wali kelas mereka untuk mengadakan kegiatan lanjutan dari materi yang sudah mereka terima. Setelah ini beberapa siswa memiliki rencana untuk mengadakan beberapa kegiatan mandiri di sekolah dengan membawa tema terkait dengan kesejahteraan satwa dan lingkungan alam sekitar.

Semoga rencana kegiatan ini benar-benar bisa berjalan sehingga semakin banyak siswa yang paham dan sadar pentingnya menjaga kelestarian alam beserta segala isinya. Dimulai dari kegiatan-kegiatan sederhana di lingkungan sekitar mereka.

Terima kasih teman-teman siswa SMP dan SMA D’Royal Moroco Integrative Islamic School. Selamat melanjutkan perjuangan membela masa depan alam raya Indonesia. Sampai jumpa lagi di lain waktu.(LIA_Orangufriends)

EDUKASI DI SMPN 24 BERAU

Setelah mengajar anak-anak di desa Merasa minggu lalu, kami melanjutkannya ke anak-anak SMP. “Sebenarnya, kami grogi loh. Ngadepin remaja… ini untuk pertama kalinya kami akan ngadepin anak remaja.”, ujar Aga, relawan yang bergabung di COP Borneo setelah mengikuti COP School Batch 7 bulan Mei yang lalu.

Menghadapi remaja tentu saja berbeda dengan anak-anak. Yang pasti kekawatiran kami adalah, saat kami teringat masa peralihan remaja yang sudah kami lalui. Sulit mendengar, dengan emosi yang meluap-luap sampai siapa saja bisa ditantang. Tapi inilah kami, kesulitan yang kami bayangkan tetap harus kami lalui. Saatnya kami berlatih langsung.

Pagi hari, sebelum matahari bersinar di ujung cakrawala, mata kami sudah terlebih dahulu bersinar. Segera kami bangun tidur untuk berangkat ke SMPN 24 yang berada di dekat jembatan sungai Kelay, desa Merasa, Berau. Bapak Junaedi, kepala sekolah menyambut kami dengan senyumannya.

Melalui nyanyian orangutan, permainan tebak gambar dan tebak suara satwa kami memulai school visit ini. Print out foto satwa satu per satu kami tampilkan. “Kami harus menyiasati keterbatasan yang ada. School visit tanpa fasilitas listrik ini harus berjalan. Makanya, kami mencetak slide show dan beberapa foto sebagai gantinya.”, ujar Alfa Gasani.

Di akhir pertemuan, kami merangkum materi dengan sebuah permainan pemburu dan satwa. Siswa membentuk lingkaran besar dengan bergandengan tangan, berperan sebagai pohon. Beberapa siswa, kami minta untuk menjadi satwa liar masuk ke dalam lingkaran. Dan ada siswa yang lain berperan sebagai pemburu, berada di luar lingkaran. Pohon harus berusaha sekuat tenaga melindungi satwa yang berada di dalam lingkaran dari ancaman pemburu. Suasana pun menjadi sangat meriah dan para siswa memerankan perannya dengan baik.

“Kami berharap, para siswa memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terutama satwa liar agar hutan tetap terjaga. Melindungi satwa liar dan hutan adalah tanggung jawab kita semua. Salam lestari.” (Aga_Orangufriends)

COMBATTING WILDLIFE TRAFFICKING

Raku is Crested serpent eagle (Spilornis cheela bido) who was brought malnourished with a big wound on his chest. Raku must have been kept as a pet, looking at the primaries feathers that has been cut. This is the second day Raku here and don’t even ask if he is okay or if he could already fly, he couldn’t even stand or move his own two feet. That is the story from Grace Tania, member of Orangufriends Malang who is now doing an internship in Pusat Konservasi Elang Kamojang (Eagle Conservation Center, Kamojang).

Conservation world is not an easy world. Time, energy and mental are drain when we have to face the animals. The animals condition must not be in their best. So, are you still going to keep wild animals as a pet? Are you going to join the ‘animal lover’ community? Are you going to still buy wild animals?

Disconecting the circle of wildlife trade is not an easy task to do. For the last seven years Center for Orangutan Protection has been marching on many wars in wildlife trading. The movement of the transaction that is growing larger in Social Media is now happening. The seller can always accessing the transaction from anywhere and anytime. The growing of ‘wild animals lover community’ is also supporting the wildlife trade.

“The concerns and supports from orangufriends (COP supporters) are what keeps us going; fighting the wildlife trade. “, said Hery Susanto. “Their spirit is what keeps us going, that it is not just us insanely dreams wild animals are supposed to be in their habitats.”
(Grace_Orangufriends)

Raku adalah elang ular juvenile. Raku dibawa dalam kondisi malnutrisi dan dengan luka besar di bagian dada. Raku dulunya sudah pasti dipelihara orang, terlihat dari bulu primernya yang dipotong. Ini sudah hari kedua semenjak Raku diantarkan, tidak usah bertanya apa dia bisa sehat dan terbang, untuk berdiri saja dia belum bisa. Itulah cerita Grace Tania, anggota Orangufriends Malang yang saat ini sedang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut.

Dunia konservasi adalah dunia yang tidak mudah. Waktu, tenaga dan mental terkuras saat berhadapan langsung dengan satwa. Kondisi satwa yang dihadapi sudah pasti tidak dalam kondisi terbaiknya. Lalu… kamu masih memelihara satwa liar? Lalu kamu tetap bergabung dengan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa? Kamu masih membeli satwa liar?

Memutus rantai perdagangan satwa liar bukanlah hal yang mudah.
Tujuh tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection berusaha memerangi perdagangan satwa liar ini. Pergeseran transaksi pedagang mulai dari pasar burung ke dunia media sosial pun terjadi. Perdagangan pun semakin marak dengan semakin mudahnya akses internet di seluruh penjuru bumi. Kemunculan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa semakin mendukung perdagangan via online ini.

“Kepedulian orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memberi semangat baru kepada kami, untuk terus memerangi kejahatan terhadap satwa liar.”, ujar Hery Susanto. “Semangat mereka menjadi semangat kami, bahwa tak hanya kami, yang gila, bermimpi, satwa liar tempatnya di alam.”. (Grace_Orangufriends)

ACKNOWLEDGED ORANGUFRIENDS FOR ‘YEAR OF FREEDOM’ T-SHIRT

The Center for Orangutan Protection proclaims 2017 as years of freedom. COP will relingquish the orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center in East Borneo.

Something different with COP release. As a roots organization entering its tenth year, COP invites the whole community to care about orangutans to participate in this activity. Through Orangufriends, an orangutan support groups raise funds from public participation through the sale of years of freedom series shirts. A T-shirt with a support theme for orangutan release in 2017.

“We are very happy to see the response. Seeing the support of Orangufriends is like encouraging us when we’re tired. Very proud, many people are concerned with this activity. We are confident that in the future, more people will participate in buying merchandise for orangutan release,” said Reza Kurniawan, COP APE Defender captain.

The sale of 107 ‘Year of Freedom’ merchandise in a very short time helped us to finance the operation of orangutans feeding on the pre-releae island. “Thanks to you who have donated through the purchase of ‘Year of Freedom’ T-shirts’”, said Weti Nurpiana with emotion. (Dhea_Orangufriends)

TERIMAKASIH ORANGUFRIENDS UNTUK KAOS ‘YEAR OF FREEDOM’
Centre for Orangutan Protection mencanangkan tahun 2017 sebagai years of freedom atau tahun kebebasan bagi orangutan. COP akan melepasliarkan kembali orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur.

Ada yang berbeda dengan pelepasliaran yang dilakukan COP. Sebagai organisasi akar rumput yang memasuki tahun kesepuluhnya, COP mengajak seluruh masyarakat peduli orangutan untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Melalui orangufriends, kelompok pendukung orangutan menggalang dana dari partisipasi masyarakat lewat penjualan kaos years of freedom series. Sebuah kaos dengan tema dukungan untuk pelepasliaran orangutan di tahun 2017.

“Kami bahagia sekali melihat respon yang muncul. Melihat dukungan orangufriends seperti memberi semangat saat kami lelah. Bangga sekali, ternyata banyak yang peduli dengan kegiatan ini. Kami yakin, untuk kegiatan ke depannya, akan lebih banyak lagi yang ikut serta membeli merchandise untuk pelepasliaran orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Terjualnya 107 merchandise ‘Year of Freedom’ dalam waktu singkat sangat membantu kami untuk membiayai operasional pemberian pakan orangutan di pulau pra pelepasliaran orangutan. “Terimakasih untuk kamu yang telah berdonasi lewat pembelian kaos ‘Year of Freedom’.”, ujar Weti Nurpiana dengan haru. (WET)

Page 10 of 18« First...89101112...Last »