Orangufriends

ORANGUTAN DI SD NEGERI 1 PETIR

School Visit kali ini di SD Negeri 1 Petir, Jl. Kalianja No. 1 desa Petir, Kalibagor, Banyumas. Berkolaborasi dengan Agung dan beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Bio-Explorer Fakultas Biologi UNSOED yaitu Ganjar, Irda dan Iim, orangufriends Vanny berbagi pengetahuan orangutan di kelas IV dan kelas II SD.

Keriuhan tak bisa dielakkan lagi, saat kostum orangutan memasuki ruangan. Semakin sulit dikendalikan saat Vanny mulai memberi pertanyaan dan reward stiker. Berbeda sekali dengan kunjungan mereka ke TK Pertiwi di kota yang sama dan hari yang sama, 12 Juni 2017 yang lalu. “School Visit selanjutnya dengan murid kelas II dan IV berarti kita harus punya taktik tertentu nih.”, ujar Vanny geleng-geleng kewalahan menghadapi murid-murid yang begitu antusias.

Tak heran, Agung yang mengenakan kostum orangutan sangat senang sekali. Dia menjadi pusat perhatian. “Senang… senang sekali. Aku mau ikutan lagi kalau orangufriends Banyumas bikin kegiatan lagi.”, ujar Agung dengan baju basah karena keringat.

“Bagaimana kalau dilanjutkan dengan school visit ke sekolah lain dan kelas yang lain juga?”, saran kepala sekolah SD Negeri 1 Petir, ibu Purwanti saat school visit berakhir. “Lewat school visit, murid-murid jadi lebih tahu tentang hewan yang dilindungi, kenapa dan bagaimana perlindungan satwa tersebut, terutama orangutan yang ternyata satwa endemik Indonesia.”, lanjut ibu Purwanti.

Ini dia kegiatan orangufriends Banyumas. Walau sedikit dan bekerja sama dengan teman-teman yang lain, ini adalah usaha kami untuk konservasi Indonesia. Kalau kamu? (Vanny_Orangufriends)

SCHOOL VISIT KE TK PERTIWI BANYUMAS

Senin pagi, Orangufriends Banyumas dibantu Agung dan beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Bio-Explorer Fakultas Biologi UNSOED yaitu Ganjar, Iim dan Irda melakukan school visit ke Taman Kanak-kanak Pertiwi, desa Peter, Kalibagor, Banyumas.

Kegiatan school visit mengenalkan satwa liar pada anak-anak sejak kecil diharapkan bisa semakin menarik mereka untuk lebih peduli pada satwa liar khususnya orangutan. Kebanggaan pada satwa asli atau endemik Indonesia ini mungkin bisa meningkatkan cinta tanah air anak-anak sejak usia dini.

“School visit merupakan pembelajaran yang sangat bagus untuk usia dini, agar nantinya bisa menjaga orangutan untuk kelestarian satwa liar.”, ujar kepala sekolah TK Pertiwi, ibu Ani Angoyowati.

Vanny, orangufriends banyumas dengan semangat berbagi materi tentang orangutan. Dimulai dari habitat orangutan, makanan hingga bentuk orangutan dan kemunculan kostum orangutan semakin menarik perhatian anak-anak.

Bersama si Pongo, siswa-siswi diajak bermain, bernyanyi, menggambar dan foto bersama. Agung yang berperan sebagai Pongo pun menjadi senang walau kepanasan dan lelah mengikuti kelincahan anak-anak TK ini. “Senang sekali bisa jadi Pongo… bermain bersama mereka.”, ujar Agung usai school visit berakhir. (Vanny_Orangufriends)

CERITA YANG TERSISA DARI ART FOR ORANGUTAN (2)

Semangat… semangat… panitia Art For Orangutan 2016 mulai memasang karya. Dengan bermodal petunjuk dari seniman yang mengirim karya tersebut, beberapa karya berhasil dipasang. Namun tak jarang, karya dikirim tanpa petunjuk, sampai akhirnya, panitia menghubungi kembali seniman untuk menanyakannya.

Di sinilah, awal cerita lucu itu mampir. Saat pameran berlangsung, seniman yang mengirimkan karya pada berdatangan dari Jakarta, Ciamis, Bali dan Yogyakarta melihat karya mereka dipajang. Ada satu orang yang lama sekali berada di depan sebuah lukisan. Orangufriends (kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection) yang saat itu bertugas menghampirinya. Cerita punya cerita, ternyata itu adalah karyanya. Dan karyanya dipasang terbalik. Glodak!!! Spontan orangufriends meminta maaf atas kesalahan pemasangan. Namun karena pameran sedang berlangsung dan banyaknya pengunjung, kesalahan pemasangan tidak dapat langsung diperbaiki. Panitia pun berjanji untuk memperbaiki seusai acara hari kedua pameran. Malam itu, panitia belajar tentang sebuah karya abstrak. Mungkin AFO berikutnya, seniman wajib mengirimkan posisi karya saat dipasang.

Beberapa panitia tidur di ruang pameran. Pagi ini kebetulan Ramadhani, direktur operasional COP yang bertugas. Sembari olahraga dengan menyapu ruangan, Dhani begitu sapaan sehari-harinya melihat seorang bapak-bapak yang masuk ke ruangan pameran. Mungkin sekitar 50-60 tahun, kakek mungkin tepatnya. Siapakah kakek ini?

Owh, ternyata dia jauh-jauh dari Jawa Barat ke Yogya untuk melihat pameran ini. Tepatnya melihat karya nya berada di pameran Art For Orangutan 2. Ini adalah keikutsertaannya yang kedua kalinya. Karya seni memang menabrak ruang usia. Peduli pada orangutan Indonesia? Ngak cuman seniman muda donk… Usai berkeliling, si kakek pun pamit pulang, mengejar bis siang ke Ciamis.

Siang itu, muncul ibu-ibu paruh baya di ruangan pameran. Dari logat bicaranya, sepertinya orang Jakarta. Wah… pameran Art For Orangutan memang punya magnet tersendiri. Tapi kenapa si cucu yang menemaninya terlihat bingung? O… o… ternyata… si ibu dulunya kuliah di ISI Yogyakarta. Ruang pameran yang digunakan AFO adalah ruang kuliahnya dulu. Si ibu pun bernostalgia. Sementara ruang kuliah Seni Rupa sendiri sudah lama pindah ke gedung yang berbeda.

Sore ini terlihat lebih semarak. Serombongan perempuan cantik masuk ke ruangan pameran. Apa yang menarik? Ternyata karya mereka terpajang di sisi dinding pameran AFO. Ada satu temannya yang terlihat dibully. Ha… ha… ha… dia menghargai karyanya dengan harga yang menurut temannya mahal sekali.

Diiringi musik sayup-sayup, masuk satu keluarga ke dalam ruang pameran. Perempuan dengan rambut panjang menunjuk satu karya pada bapaknya. Owh, karya yang halus sekali. Mereka sekeluarga, datang dari Jakarta untuk melihat karya putrinya dipamerkan.

Art For Orangutan adalah pameran yang muncul dari ekspresi kepedulian seniman pada lingkungannya terutama orangutan. Ancaman orangutan dituangkan pada sebuah karya seni tanpa batas. Seperti karya multi dimensi senapan angin yang dikirimkan. Tak sebatas usia dewasa saja, namun kunjungan anak SD pun menjadi paham setelah melihat hasil karya lintas usia, budaya dan agama dari Art For Orangutan. (bersambung).

CERITA YANG TERSISA DARI ART FOR ORANGUTAN (1)

Art For Orangutan adalah suatu event dari kreatifitas kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection (COP). Event yang sudah berlangsung sebanyak dua kali ini meninggalkan cerita menarik yang mengharukan, lucu hingga membuat orang menantikan kapan Art For Orangutan akan dilaksanakan lagi. Ini semua tak lepas dari kerja keras dari Gigi Nyala, I AM Project dan teman-teman seniman lainnya. Tak sekedar pameran karya seni, tapi usaha menjaring kepedulian kita pada lingkungan terutama satwa liar orangutan.

“H-10 nih! Baru 2 karya yang masuk. Gimana nih? Kalau ngak ada karya yang masuk dengan ruangan pameran yang lebih besar dari AFO tahun 2014, akan kita isi apa?”, pikir Ramadhani, direktur operasional COP.

“Tenang-tenang… banyak nih yang belum selesai. Biasanya karya akan datang di hari yang sangat dekat acara. Kebiasaan nih.”, ujar Ivan si punggawa Gigi Nyala.

Benar saja, tujuh hari sebelum acara, satu persatu karya berdatangan dari luar kota. Jakarta, Bali, Makasar, Kalimantan, Sumatera bahkan dari Australia. Rumah tempat mengumpulkan karya pun menjadi penuh dan begitu sibuknya. Panitia yang ikut mengirimkan karya sampai tak punya waktu menyelesaikan karyanya. Sampai ada yang hingga hari akhir pengumpulan, karyanya baru selesai, dengan cat yang masih basah sampai di camp APE Warrior, Yogyakarta.

Sesampainya karya, masih dalam bungkus, satu persatu di foto. Pertama kali dibuka bungkusnya, difoto lagi, hingga akhirnya karya keluar dari bungkusnya, semua terdokumentasi. Sikap profesional Gigi Nyala untuk menghargai setiap karya patut diancungi jempol.

Kehati-hatian para panitia memperlakukan sebuah karya tak lepas dari pengalaman Art For Orangutan pertama. Tak jarang, bingkai kaca yang dikirim peserta hancur selama pengiriman. Kaca yang tipis, pemaketan yang kurang pelindung menjadikan karya tidak sempurna sampai di tangan panitia. Dengan dokumentasi yang detil, panitia akan mengkomunikasikan, kecacatan atau kejanggalan karya, termasuk jika ada yang harus diganti seperti kaca atau bingkai.

Karya yang masuk naik 50% dari tahun 2014. Jenis karya pun semakin bervariasi. Tidak terbatas pada ukuran maupun dimensi. Untuk mengangkut karya ke ruang pameran dari rumah pengumpulan karya, tak cukup satu hari. Hujan pun tak mau kalah untuk semakin merepotkan panitia. Dengan mobil box, dengan penuh kehati-hatian saat menyetirnya, akhirnya karya sampai di ruang pameran. (bersambung).

TERIMAKASIH OPPIE ANDARESTA

Ovie Ariesta atau lebih dikenal dengan Oppie Andaresta adalah musisi yang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan hidup. Rabu, 26 April 2017, tepat pada Hari Buku Sedunia, tampil pada Expo & Forum Energi Efficiency di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyajikan album barunya yang mengambil tema sungai, air dan hutan serta orangutan. Bahkan salah satu judul lagu dalam album ini adalah Orangutan. Isi buku dan CD album diilhami dari perjalanan Oppie keliling Indonesia memberikan edukasi untuk anak-anak.

Oppie menyumbangkan 100% keuntungan dari penjualan album yang diberi nama Lagu Dari Tepian Sungai untuk Centre for Orangutan Protection. Hingga saat ini, album Anak Tepian Sungai yang digarapnya bersama Suara Anak Bumi tersedia di iTunes dan sudah terjual 1000 copy. “Untuk kamu yang peduli orangutan, langsung beli albumnya ya.”, ujar Hong June, relawan COP yang berasal dari Korea Selatan.

Sebelumnya, Oppie pernah manggung di acara konser musik amal tahunan Sound For Orangutan 2014 di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta Selatan. Sound For Orangutan adalah kombinasi unik antara musik, photo exhibition, video screening dan fundraising juga penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya. Musisi yang tampil dan yang terlibat rela tidak dibayar karena kepedulian mereka untuk membantu orangutan Indonesia.

Siapa bilang, orang Indonesia tidak peduli satwa liarnya. Mari bersama, bangga pada keanekaragaman hayatinya. Indonesia, peduli orangutan.

SEGELAS KOPI DAN ORANGUTAN

Ruang diskusi dengan konsep warung kopi diperkenalkan oleh Sinergi Coffee. Berbagai tema dan narasumber dengan pengenalan isu-isu yang berkembang serta disukai anak muda menjadi topik yang hangat sambil menyeruput kopi panas. Lokasinya yang berada di sekitaran kampus UGM, Yogyakarta kali ini mengajak anak muda untuk mengetahui tentang dunia perlindungan orangutan.

Masih dalam menyambut hari bumi, Kamis malam, 20 April 2017 cerita seru di lapangan untuk menyelamatkan orangutan dan satwa liar lainnya disampaikan Ahmad Bukhori. Ahmad Bukhori adalah siswa COP School Batch 5, dengan gaya khas Sumateranya mengajak kita untuk bangga dengan keanekaragaman hayati Indonesia. Tidak hanya bangga, tapi bagaimana kita bisa terlibat agar tidak menjadi sebuah cerita pengantar tidur saja nantinya.

Salah satu peserta diskusi bertanya, bagaimana bayi orangutan bisa terkena peluru senapan angin. Salah satu tim APE Crusader yang menangani bayi orangutan ini pun berbagi pengalaman. “Pusar bayi orangutan terlihat baru mengering. Mungkin baru 2 minggu umurnya. Dia terlihat sangat lemah. Saat kami menggendongnya, hanya lirih tangisan yang terdengar. Setiap kali posisi berubah, dia menjerit kesakitan. Kami memanggilnya bayi Paskhas.”, cerita Satria Wardhana. Selang dua hari kemudian, diketahui, ada peluru senapan angin bersarang di punggungnya. “Saat kami mengecek kondisi fisiknya, terdapat luka hampir kering di punggungnya. Ternyata benar dugaan kami, itu peluru senapan angin.”, tambah Satria lagi.

Tak hanya cerita dari garis depan perlindungan orangutan. Aksi demo orangufriends hingga pengalaman menegangkan orangufriends ikut menangani kasus perdagangan satwa ilegal tak kalah serunya. “Itu pengalaman pertama kalinya, dan bikin ketagihan.” ujar orangufriends. Orangufriends adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection. COP banyak terbantu dengan keikutsertaan orangufriends yang aktif ini.

Berdialog dan berdiskusi tentang konservasi tidak harus dilakukan di ruang seminar atau kuliah tamu dengan serius. Dimana pun, kapan pun, anak muda bisa bicara lingkungan sambil menikmati segelas kopi Tolu Batak panas. Seperti kata Sinergi Coffee, “Kami percaya kopi mampu menyinergikan apapun.”. (DAN)

CATATAN SELEKSI COP SCHOOL BATCH 7

Tidak banyak sekolah atau pelatihan yang dirancang untuk mencetak aktivis satwa liar yang mempunyai pemahaman dasar konservasi dengan etika dan moral terutama di satwa liar orangutan. Kalaupun ada tidaklah bertahan lebih dari 3 kali pelatihan. Mundur perlahan kemudian hilang. Apa yang membuat COP School bisa bertahan hingga tahun ke-6 dan sekarang siap menyambut Batch 7 dengan kekuatan, antusiasme dan semangat juang orang-orang dibalik layarnya.

Kami percaya, “apa yang dikerjakan karena perut akan kembali ke toilet, apa yang dikerjakan dengan hati akan kembali kehati.”. COP School bisa dikatakan sebuah “sekolah” yang setiap tahunnya berganti kurikulum karena mengikuti perkembangan dunia konservasi dengan pertimbangan, evaluasi dan masukan dari siswa, alumni, pemateri dan staff COP. Karena tidak ada sekolah sejenis yang bisa kami jadikan rujukan sebagai influens. Semua diawali meraba-raba hingga bertemu, bergerak dan berjuang bersama-sama siswa.

Hingga saat ini COP School bisa berjalan karena dikerjakan secara kolektif. Persis seperti budaya kita, Gotong Royong. Mungkin teman-teman bertanya kenapa ada kalimat “membayar sebagian Rp. 500.000,00“ diposter COP School. Yups, memang karena sebagian lainya “dibayar” oleh pemateri dan alumni COP School sebelumnya. Teman-teman alumni yang masih mempunyai waktu luang mencurahkan waktunya untuk membantu berjalannya COP School. Yang tidak ada waktu dan sudah mapan menyumbangkan dananya. Para pemateri datang dari kota lain ke Yogyakarta dengan biaya sendiri. Kolektif ini berjalan karena kami percaya selama masih ada anak-anak muda Indonesia yang mau peduli terhadap satwa liar maka dunia konservasi satwa liar masih mempunyai peluang untuk bertahan. Itulah yang kami sebut “MENOLAK PUNAH”.

Teman-teman calon siswa yang telah masuk disini tentu telah mengalami perjalanan, “ngapain loe ikut-ikutan acara nyelamatin monyet ato kera segala, serius loe??”. Berupaya empati untuk satwa di Negara kita memang sesuatu yang bisa dikatakan bukan hal normal. Tapi jika tidak ada orang gila maka tidak ada kelompok orang normal. Kami ingin membuat barisan menolak punah yang benar-benar “gila”. Dari tiga tugas yang dilemparkan kami bisa menilai semangat teman-teman dan juga terpaksa mengeluarkan empat calon siswa dari grup ini karena sama sekali tidak menjalankan tugasnya. Hingga akhirnya nanti tanggal 29 April 2017 benar-benar tersaring siswa Batch 7.

COP School tidak ada kuota kursi yang harus dipenuhi. COP School pernah hanya 18 orang siswa dan pernah juga sampai 40 lebih siswa. Tetap akan berjalan dan mempunyai ceritanya sendiri. Teruslah bertahan menjadi “gila” hingga nanti bertemu bulan depan di Yogyakarta. (DAN)

COLLABORATION IS THE BEST WAY IN THE CONSERVATION

After beginning the lengthy process a year ago, just 9 Green Peafowl’s are ready for release in Baluran National Park on February 19, 2017. This all is due to the cooperation of all parties involved. Collaboration is the best in the world of conservation.

Originally, there was 13 Green Peafowls saved from the illegal wildlife trade in Bantul, Yogyakarta from a joint operation with the police headquarters, COP, Orangufriends and JAAN on February 8, 2016. The perpetrator was imprisoned for 9 months and will not commit this crime again. The other animals successfully saved were submitted to WRC jogja for rehabilitation. A year later BKSDA Yogyakarta, WRC jogja, Kelawar UB, Orangufriends and COP prepared to release them into Baluran National Park, East Java.

“Don’t buy wildlife!”, said Daniek Hendarto. Release is not a small process but is a time consuming, costly and energy onsuming process.

Setelah melalui proses panjang selama satu tahun ini, hanya 9 merak hijau yang bertahan hidup hingga dilepasliarkan di TN Baluran pada 19 Februari 2017. Ini semua tak lepas dari kerjasama semua pihak. Kolaborasi adalah yang terbaik dalam dunia konservasi.

Semula ada 13 merak hijau yang diselamatkan dari perdagangan satwa di Bantul, Yogyakarta yang merupakan operasi bersama MABES POLRI, COP, Orangufriends dan JAAN pada 8 Februari 2016. Pelaku M. Zulfan menjalani hukuman penjara selama 9 bulan dan tidak akan melalukan kejahatan ini lagi.

Satwa yang berhasil diselamatkan masuk ke WRC Jogja untuk dirawat. Setahun kemudian, BKSDA Yogyakarta, WRC Jogja, Kelawar UB, Orangufriends dan COP melepasliarkannya di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.

”Jangan beli satwa liar!”, tegas Daniek Hendarto. Pelepasliaran adalah proses panjang yang memakan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit.
#combatingwildlifetrafficking

KELANJUTAN PERDAGANGAN TOKO OLD & NEW BANDUNG

Masih ingat penggerebekan toko souvenir barang antik di RE. Martadinata Bandung? Tim gabungan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Dit Tipidter Rekrimsus Polda Jabar, Centre for Orangutan Protection dan Jakarta Animal Aid Network menemukan bagian-bagian satwa yang dilindungi dalam bentuk awetan pada 30 Juli 2015.

Kamis, 16 Februari 2017 pukul 14.19 WIB, kasus lanjutan toko Old & New Bandung dengan barang bukti offset kepala beruang, lengan harimau, ekor harimau, tengkorak buaya memasuki sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Terdakwa menyampaikan bahwa barang-barang yang dijual di tokonya semuanya barang titipan. Toko Old & New Bandung mendapat komisi 10% dari penitip barang. Toko Old & New telah berdiri sejak tahun 2004, selama ini semua offset terbuka, bisa dilihat semua orang. Terdakwa tidak tahu kalau offset satwa tersebut tidak boleh dijual dan dilindungi.

Atas perbuatannya, terdakwa akan dijerat pasal 21 ayat 2 huruf b dan d junto pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

EXCITING EXPERIENCE BECOMING KITCHEN ANGEL IN COP SCHOOL

Hi! My name is Nita Istikawati, you can call me Nita. I am a COP Supporter from Yogyakarta.
The story began in 2010 when I decided to join COP as a volunteer. At that time, I was a university student doing an Accounting degree. It can be said that my education didn’t have any correlation with orang-utans at all. So, I wasn’t surprised when some college friends bullied me about my bizarre activities outside of campus. They often said that I was a very odd person because I liked to go to the zoo to make enrichments and better enclosures for the animals, joined an orang-utan demonstration (campaign), and also spoke out loudly against the destruction of rainforests for palm oil plantations. They thought it was extremely peculiar behaviour for a student from the Faculty of Economics. Well, it never ever stopped me raising awareness and helping orang-utans through COP. From my own experience, I know that everyone can help the orang-utan and its habitat without limits and boundaries. Everything that begins from your heart will come back to your heart again.
There are so many exciting experiences I gained when I was working as a volunteer in orangutan protection. There were lots of unforgettable memories. One of them is when I became a COP School organiser. My favourite position was as part of the kitchen team or kitchen angel. First, because I could taste the food before the other people did. Second, I could taste again and then third I could do food tasting again and again (LOL). On the other hand, I love cooking. Perfect. But please take it easy, I just wanted to make sure that all of the food that we provided at COP School was healthy, free from formaldehyde and safe for consumption by participants and also the presenters. I called it working on the front line. Alibi.
Hmmm… actually becoming part of the kitchen team meant that we should be facing the reality of the lack of sleeping time. Imagine this: the kitchen angels have to wake up very early in the morning before the cock crows and are already moving in the direction of the rising sun. Meanwhile, others were still soundly resting in bed.
As a kitchen angel during COP School, I had to wake up no later than 3.30am every day, because we had to boil water for drinking and then go off to the market to buy vegetables. After that, we picked up food for the catering and also had to prepare anything else. Morning rush hour. From this activity, I learnt a lot about time management and of course became more responsible with my job.
The kitchen is the most strategic place to meet up with everyone. While the participants were making tea or a cup of hot coffee, I got lots of chances to talk with them. Warm conversation in the morning made us feel closer to each other. The participants of COP School are very multicultural. They come from various backgrounds. There is a veterinary student, biology, design, law, economy, communication, etc. Well, I came to understand a wide range of characters and it made me easier to adapt to the new environment. Yes, COP School is a place where I gained a new family, who inspire and strengthen each other. Thanks, COP.

PENGALAMAN SERU MENJADI TEAM DAPUR DI COP SCHOOL
Hai! Nama saya Nita Istikawati biasa dipanggil Nita. Salah satu pendukung COP dari Yogyakarta.
Cerita bermula di tahun 2010 ketika saya bergabung menjadi volunteer COP. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di jurusan Akutansi. Bisa dibilang latar belakang saya memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orangutan. Jadi, tidak heran jika sering diejek teman-teman mengenai kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. Saya dibilang orang aneh yang suka keluar masuk kebun binatang, ikut kegiatan demo (kampanye) dan teriak-teriak tentang sawit. Menurut mereka tidak wajar dilakukan oleh anak ekonomi. Namun hal itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk terus membantu COP. Menurut saya menyelamatkan orangutan dan habitatnya itu tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua yang berawal dari hati akan kembali ke hati.
Ada banyak sekali pengalaman seru selama berkecimpung di dunia perlindungan orangutan yang tidak akan pernah terlupakan. Salah satunya adalah setiap kali menjadi panitia kegiatan COP School. Saya paling senang menjadi bagian dari tim dapur. Pertama bisa cicip makanan, kedua cicip lagi, ketiga cicip lagi, dan lagi (hehe). Selain itu saya suka makan. Cocok ya. Eitsss tapi jangan salah persepsi. Saya cuma mau memastikan makanan di COP School semuanya sehat, bebas dari formalin dan aman dikonsumsi oleh peserta juga para pengisi acara. Ini namanya adalah bekerja di garda depan. Alibi.
Hmmm… sebenarnya menjadi tim dapur itu artinya harus menghadapi kenyataan bahwa jatah tidur sangat berkurang. Bayangkan pagi buta sebelum ayam berkokok kami para kitchen angels sudah bergerak menuju arah matahari terbit. Di saat yang lainnya masih nyenyak tidur di dalam sleeping bed.
Rutinitas selama COP School, setiap hari paling lambat bangun sekitar pukul 3.30 pagi karena wajib memasak air untuk kebutuhan minum dan pergi ke pasar membeli sayur mayur. Mengambil makanan di catering dan juga harus menyiapkan ini dan itu. Pagi yang sangat sibuk. Dari kegiatan ini saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana mengorganisir waktu yang baik dan bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Dapur adalah tempat paling strategis untuk bertemu dengan semua orang. Sembari para peserta membuat teh atau secangkir kopi panas, saya banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Obrolan hangat di pagi hari membuat susana menjadi lebih dekat dengan para peserta. Para peserta COP School sangat multikultural. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang. Ada mahasiswa kedokteran hewan, biologi, desain, hukum, eknonomi, komunikasi, bahasa, dsb. Secara tidak sadar saya menjadi memahami berbagai macam karakter orang dan membuat lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Ya, COP School adalah tempat dimana saya mendapatkan keluarga baru, saling menginspirasi dan menguatkan satu sama lain. Terimakasih COP.

Page 1 of 812345...Last »