Orangufriends

COP SCHOOL BATCH 10: SEPULUH HARI DI KOTA YOGYA

Ini adalah perjalanan pertama saya naik kereta api. Perjalanan ini juga untuk pertama kalinya saya melakukannya sendirian. Kereta Malioboro Express pagi akan membawa saya ke Yogyakarta yang untuk pertama kalinya saya datangi. 

Beruntung sekali setibanya di stasiun kota gudeg sudah ada dua peserta COP School Batch 10 juga yang selama dua minggu terakhir ini saya kenal lewat whatsapp dan facebook. Dan kebetulan lagi, salah satu pendiri Centre for Orangutan Protection sedang dijemput tim APE Warrior, sehingga kami bertiga bisa ikut menumpang ke camp APE Warrior. Sembilan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya malam itu, saya tertidur dengan cepat.

30 Oktober 2019, peserta COP School Batch 10 semakin banyak yang datang. Ini menjadi hari berkenalan dan hari mengumpulkan tugas yang telah diberikan oleh masing-masing penyelia. Saat perkenalan secara resmi berjalan, saya baru menyadari… ternyata saya adalah yang paling muda di antara teman-teman dengan pengalamanan mereka di berbagai sektor baik di kegiatan alam bebas, perlindungan satwa maupun pendidikan. Malam itu, tenda menjadi rumah kami.

Keesokan paginya, membereskan tenda berikut perlengkapan harus kami lakukan, hari ini kami akan meninggalkan camp APE Warrior. Usai sarapan bersama yang cukup unik, secara pribadi, saya belum pernah menjalani sarapan seperti ini. “Katanya sih, sarapan ala COP School.”. Truk pun menanti kami, barang-barang sudah disusun, dan kami pun naik truk yang lain. Serius???

Lagi-lagi… ini menjadi pengalaman pertama saya. Long march… 5 km??? Sampai lupa berapa kali saya harus berhenti menarik nafas. Capek… ya iyalah. Dan masih harus mendirikan tenda… tentang Centre for Orangutan Protection, saya dapatkan malam ini, bersama kantuk yang mulai menghampiri.

Tiba-tiba tenda seperti diguyur air. Ada apalagi dengan malam ini? Apakah ini seperti masa orientasi sekolah? Tak lama kemudian, air mulai menggenang… hujan deras ternyata. Di luar terdengar suara panitia, untuk segera memindahkan barang dan pindah tidur. 

Paginya… semakin seru… masak… sarapan… materi… pemateri yang luar biasa… permainan yang melepaskan pikiran saat menerima materi yang lumayan berat buat saya, dan pertemanan dengan lintas usia, budaya dan pendidikan. Hingga tibalah hari terakhir… hari dimana kami harus kembali ke aktivitas masing-masing. Sepuluh hari? Ah… itu seperti dua hari. (Ravenna_COPSchool10)

WISATA BERBURU? ITU HANYA BISNIS!

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pemerintah berencana mengembangkan Pulau Komodo menjadi wisata safari bertaraf international seperti di Afrika, salah satunya wisata berburu. Pernyataan ini tentu saja meresahkan pegiat konservesi mengingat kasus perburuan liar di Pulau Komodo termasuk tinggi.

Pulau Komodo adalah habitat bagi setidaknya 22 spesies reptil, 72 spesies burung, 7 spesies mamalia darat, 1000 spesies ikan, 260 spesies terumbu karang, 70 spesies spons laut, 14 spesies mamalia laut da beragam hewan lainnya. Pulau Komodo teletak di kawasan Wallacea, Daerah yang memiliki tingkat keanekaragaman spesies yang sangar tinggi. Banyak spesies di kawasan Wallacea merupakan sawa endemik, artinya tidak bisa ditemui di tempat lain. Komodo, kerbau, rusa timor dan kakatua jambul kuning sering menjadi sasaran perburuan liar di Pulau Komodo. Jika wisata berburu dilakukan, tentu semakin mendorong hilangnya populasi hewan di pulau ini. 

Wisata berburu adalah bisnis yang sengaja ditutupi dengan kedok konservasi. Tidak masuk akal menyelamatkan populasi suatu spesies dengan cara membunuhnya. Seharusnya pemerintah memikirkan cara agar spesies-spesies ini tidak diburu. Perburuan liar saja sudah sulit untuk dicegah, apalagi jika ditambah perburuan legal. Hewan-hewan endemik pulau Komodo bisa punah jika pengelolanya sembrono. (IND)

 

LARANGAN DI KEBUN BINATANG

Video kiriman Orangufriends Medan yang berisi orangutan di Kebun Binatang Medan merokok menjadi kritik pedas dan masukan berharga untuk Kebun Binatang Medan (Medan Zoo). Pihak pengelola kebun binatang harus memperbaiki diri dan tidak kalah pentingnya dalam kasus-kasus seperti ini adalah peran para pengunjung itu sendiri.

“Walaupun pihak pengelola kebun binatang sudah melakukan yang terbaik dalam bekerja, namun sikap (attitude) dari pengunjung kebun binatang juga harus dijaga. Papan informasi yang udah bertebaran di area kebun binatang tidak jarang hanya menjadi pajangan saja, tanpa diperhatikan seksama oleh para pengunjung.”, kritik Reza Kurniawan yang merupakan ahli prilaku primata COP.

Saat kamu berkunjung ke Kebun Binatang, bersikap baik kepada seluruh satwa. Kamu juga harus berusaha untuk:

1. Tidak menggoda satwa walaupun itu terlihat jinak dan lucu. 

2. Tidak memberi makan satwa kebun binatang. 

3. Tidak menyentuh satwa yang ada di kebun binatang. 

4. Tidak membawa hewan peliharaan, senjata api, tongkat, petasan, dll.

Pastikan pengunjung menjaga jarak aman diri dan keluarga dari satwa yang ada di kebun binatang. Jagalah anak-anak. agar tidak hilang atau tersesat. Patuhi peraturan di kebun binatang tersebut demi keselamatan pengunjung. Kebun Binatang sudah seharusnya menjadi wahana edukasi satwa bagi pengunjungnya. (REZ)

 

ORANGUTAN KEBUN BINATANG MEDAN, MEROKOK

Orangutan bisa dibilang sebagai satwa observer atau pengamat. Dalam kehidupannya, orangutan belajar apapun dengan cara mengamati. Bayi orangutan akan belajar tentang bertahan hidup di hutan dari induknya selama kurang lebin 7 tahun. Oleh karena itu, Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo juga menerapkan metode ini. Orangutan yang sudah tidak memiliki induk dan masuk ke pusat rehabilitasi dipaksa untuk mengamati tentang cara bertahan hidup kepada orangutan lainnya di sekolah hutan. 

Hal ini terbukti berhasil dengan dilepasliarkannya orangutan eks-rehabilitasi COP Borneo. Pada intinya, perawat satwa tidak mengajari mereka cara mencari makan, cara memanjat ataupun membuat sarang. Namun mereka akan dilepas di hutan selama sekolah hutan dan akan mengamati orangutan lainnya yang lebih pandai dan akan menirunya.

“Kiriman video dari Orangufriends Medan tentang orangutan merokok di kebun binatang Medan , jelas ini ada seseorang yang memang memancing orangutan untuk mengamatinya. Ada seseorang yang memang merokok di dekat orangutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini menjadi lebih parah, ketika orang tersebut melemparkan rokok yang sudah menyala kepada orangutan. Karena dirasa tidak masuk akal, jika orangutan menyalakan rokok dengan tangannya.”, ujar Reza Kurniawan, antropolog primata COP.

Proses pengamatan oleh orangutan berhasil dilakukan. Yang perlu digaris-bawahi di sini adalah kurangnya proses pengamanan kebun binatang dari pihak kebun binatangnya sendiri. Ketika pihak kebun binatang lebih cermat dalam memberikan pengawasan terhadap pengunjungnya, hal-hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. (REZ)

DARI PADANG UNTUK INDONESIA (ORANGUTAN DAY)

International Orangutan Day, suatu hari yang diperingati karena orangutan semakin terancam punah akibat berkurangnya hutan sebagai habitatnya untuk perkebunan maupun pertambangan dengan turunan penyebabnya perdagangan, kepemilikan ilegal dan perburuan. Kelompok pendukung orangutan yang tergabung dalam Orangufriends Padang, Sumatera Barat mengemas serangkaian acara dengan berkolaborasi dengan komunitas maupun perorangan.

Novi Fani Rovika, orangufriends Padang, seorang ibu yang telah menjadi relawan diberbagai kesempatan COP mengatakan bahwa setiap keinginan memang hanya tinggal menunggu waktu untuk terwujud dan diwujudkan. Yang penting itu adalah jangan pernah berhenti dan lelah untuk menemukan jalannya. Ya, jalan (hidup) kita itu kita sendiri yang bisa menentukan. Mau jadi apa kita memang hanya kita sendiri yang tahu. 

Sementara Ana Neveria Zuhri, orangufriends yang baru saja menikah 21 Agustus 2019 yang lalu juga tak mau ketinggalan dalam memperingati Hari Orangutan yang jatuh pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya. Ana menjadi salah satu pembicara di Dialog Musikal yang dilaksanakan di Sunday Coffee Padang. “Monyet, Kera dan Manusia.”, katanya dalam menggali kearifan lokal dalam dunia konservasi.

Sabtu, 24 Agustus 2019 dari pukul empat sore musikalisasi puisi dan kelompok gambar dengan goresan jari mencuri perhatian pengunjung. “Melihat semangat anak-anak muda yang hadir dan berkolaborasi malam itu… sungguh membuat perasaan di dada semakin membuncah! Bahwa ternyata, saya dan mereka memiliki kesamaan. Bahwa ternyata rasa ingin selalu bersatu padu itu ada dan nyata!”, tulis Novi di status media sosialnya. Terus semangat Orangufriends… tanpa kalian tentu saja ini menjadi sulit. 

 

SETELAH COP SCHOOL… APA YA?

Halo anak muda? Sebenarnya tidak hanya anak muda, siapa pun yang berjiwa muda dan tentu saja tidak bisa diam, ingin terus berbagi dan berkarya untuk dunia konservasi Indonesia. COP School dengan rangkaian seleksinya yang diramu dengan tugas-tugas lapangan maupun laporan di atas kertas mempersiapkan pesertanya untuk menerima materi dari para ahlinya yang telah berkecimpung di dunianya lebih dari lima tahun. Setelah materi tatap muka selama seminggu penuh di Yogyakarta, para peserta dipersilahkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing untuk menerapkan apa yang telah didapat selama COP School. Di akhir tahun, tepatnya di Jambore Orangufriends, silahkan berbagi apa yang telah diterapkan usai dari Yogya.

Lalu… tim khusus akan memilih kamu, para alumni COP School untuk mengikuti Leadership Training Camp di Yogyakarta. Tahun ini, Leco Park Kulon Progo Jogjakarta menjadi tempat pelatihannya. Tidak selama COP School, pelatihan ini hanya memakan waktu dua hari. Ada lima belas orangufriends (relawan) yang terpilih. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Lampung, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. 

Mau tahu lebih banyak tentang Centre for Orangutan Protection, organisasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia ini? Ikutan COP School Batch 10 ya… sampai ketemu di Yogya!

SENAPAN ANGIN TERUS MENEROR SATWA LIAR

Pelaku penembakan orangutan bernama Hope sudah terbukti bersalah, namun hanya diberikan sanksi sosial yaitu azan selama sebulan di mesjid desa Bunga Tanjung Subussalam. Padahal akibat dari tindakannya mengakibatkan satu orangutan mati dan satu lagi sekarat dengan 74 peluru senapan angin di tubuhnya. Mestinya hukuman yang diberikan lebih dari itu sehingga bisa membuat shock therapy bagi masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan senapan angin yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

Menurut data yang Centre for Orangutan Protection kumpulkan dari berbagai organisasi yang bergerak dibidang perlindungan orangutan, setidaknya ada 23 kasus orangutan tertembak senapan angin di Sumatera dan 27 kasus di Kalimantan. Masih teringat jelas kasus orangutan Kaluhara yang mati dengan 130 peluru di Kalimantan Timur pada awal tahun 2018 lalu, yang salah satu pelakunya juga masih di bawah umur. 

“Kasus orangutan Hope dan Kaluhara kami yakin hanyalah sedikit kasus yang terekspose dari sekian banyak kasus yang tidak terekspose. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak sudah satwa liar tidak bersalah tewas karena senapan angin.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Tidak adanya kontrol yang ketat tentang peredaran dan penggunaan senapan angin sangat membahayakan bagi satwa liar. Setiap orang dengan mudah memiliki dan menggunakan senapan angin bahkan anak-anak di bawah umur sekalipun. Surat edaran yang dikeluarkan oleh Perbakin tanggal 23 Maret 2018 tentang pengaturan penggunaan senapan angin bukanlah untuk berburu, melukai apalagi membunuh satwa dilindungi nampaknya juga belum tersosialisasikan dengan baik. Pasal 41 Peraturan Kepala Kepolisian Negara RI Nomor 8/2012 jelas menyatakan penggunaan senjata api atau senapan angin dilarang di luar areal latihan, pertandingan dan atau areal berburu yang ditetapkan oleh Undang-Undang. (HER)

PENEMBAK ORANGUTAN HOPE DIHUKUM AZAN?

Satu anak orangutan mati dan induknya yang diberi nama Hope terluka parah dengan 74 peluru senapan angin bersarang ditubuhnya. Desakkan publik dan dukungan untuk mencari pelaku penembakan di desa Bunga Tanjung, kecamatan Sultan Daulat, kota Subulussalam, Aceh pada Polda Aceh berhasil mengungkap tersangka yang ternyata masih di bawah umur. 

AIS (17 tahun) dan SS (16 tahun) dihukum dengan sanksi sosial setelah penyelesaian kasus itu diputuskan melalui diversi. Upaya pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana dilakukan pada tingkat penyidik. Sanksi sosial untuk keduanya, pertama, wajib azan magrib dan sholat isya di masjid desa Bunga Tanjung selama sebulan yang diawasi oleh Bapas (Balai Pemasyarakatan) dan aparat desa. Kedua, bila sanksi pertama dilanggar, maka akan diulangi lagi dari awal. Terakhir, pelaku harus membersihkan tempat ibadah masjid atau mushola. Pelaku mengakui perbuatannya serta meminta maaf kepada pihak terkait.

“Pelaku penembakan orangutan dengan 74 peluru senapan angin cuma dihukum azan selama sebulan? Itu efek jeranya apa ya? Katanya orangutan satwa dilindungi. Apa begini bentuk perlindungannya?”, Indira Nurul Qomariah, ahli Biologi COP mempertanyakan hukum yang dianggapnya tidak sesuai. 

Begitulah, yang bikin aturan aja seperti gak punya niat buat melindungi. Gimana mau selesai urusan perlindungan satwa liar yang udah pada di depan mata kepunahannya itu. Kek yang satu ini nih, masak hukumannya begini? Dikira dagelan apa? Gak malu apa sama dunia internasional? Nanti kalau dibahas asing bilang “antek asing” lagi, cape deehhh… hukuman yang aneh! Dilindungi tapi tak terlindungi!”, Novi Fani Rofika, orangufriends Padang.

Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection menyampaikan kekecewaannya atas sanksi pada kedua pelaku pembunuh orangutan di Subulussalam, Aceh. “Ini membuat penegakkan hukum semakin berat. Semoga kedepannya penegak hukum dapat bekerja lebih baik lagi, agar hukum dapat lebih dipandang!”.

WORLD CHALLENGE MENGENAL ORANGUTAN

Rabu kemarin (17/7/19), COP bersama orangufriends diberi kesempatan untuk mengisi sesi acara school group programme di Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja untuk menjelaskan tentang apa yang COP kerjakan untuk orangutan dan satwa liar. Peserta acara tersebut merupakan siswa siswi SMA dari UK yang tergabung dalam serangkaian kegiatan World Challenge. Selama 6 hari, mereka menetap dan berkegiatan di WRC untuk belajar tentang satwa liar, membantu memperbaiki enclosure dan membuat enrichment untuk satwa liar yang ada di WRC. 

Acara dimulai pukul 19.30 setelah makan malam. Sekitar 15 orang berkumpul di lobi WRC Jogja untuk mendengarkan presentasi yang disampaikan oleh Sari Fitriani. Dalam presentasi tersebut dijelaskan tentang apa yang dilakukan oleh COP untuk orangutan, dan satwa liar dari investigasi, kampanye, rescue, rehabilitasi, rilis, edukasi hingga melawan perdagangan satwa liar. Selain itu, juga diputar beberapa video seperti Lara Pongo, proses pelepasliaran orangutan dan monitoring paska pelepasliaran. Mereka terlihat sangat antusias dan tersentuh saat menyaksikan video-video tersebut.

Di akhir presentasi mereka menanyakan beberapa pertanyaan, seperti mengapa banyak orang yang mau menyakiti orangutan, apakah budaya masyarakat mengancam keberadaan orangutan dan bagaimana kehidupan dan populasi mereka (orangutan) sekarang ini, apakah membaik atau tambah buruk. Jawabannya adalah masih banyak sekali orang-orang yang tidak sadar seberapa penting menjaga orangutan dan hutan yang ada untuk masa depan. Dan bukan budaya yang menjadi ancaman orangutan, namun pihak-pihak serakah yang ingin meraup keuntungan besar dengan mengubah hutan tempat tinggal orangutan atas nama industri dan memperjualbelikan orangutan atas nama uang. Tidak dapat dikatakan bahwa populasi orangutan saat ini membaik karena deforestasi terus terjadi. Di akhir sesi, mereka mengucapkan terima kasih atas kerja Centre for Orangutan Protection dan berharap mereka juga dapat membantu untuk kehidupan orangutan yang lebih baik kedepannya. (SAR)

SETIAP CANGKIR KOPI DASAWARSA UNTUK ORANGUTAN INDONESIA

“Sempat bingung sih, ada undangan acara pembukaan sebuah coffee shop. Pendiri COP bukan, staf bukan, orangufriends juga bukan. Tapi COP diminta untuk sharing tentang kondisi orangutan Indonesia di acara tersebut.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime. Centre for Orangutan Protection. 

Ternyata Coffee shop bernama Dasarwarsa ini selain berjualan kopi juga punya program fundraising untuk penyelamatan satwa liar di Indonesia. “Jadi… setiap cangkir yang kita jual ada sebagian keuntungan yang akan kita sumbangkan untuk penyelamatan satwa liar di Indonesia.”, kata Eggy pemilik dari coffee shop ini. “Untuk tahap pertama ini, kami akan menyumbangkan untuk Centre for Orangutan Protection.”, lanjut pria asal Jakarta ini. 

Keprihatinan atas kondisi satwa di Indonesia dan ingin turut aktif membantu penyelamatan satwa lah yang menjadi alasan Dasawarsa Coffee memiliki inisiatif untuk menyumbangkan sebagian keuntungan dari setiap cangkir kopi yang terjual. 

Khusus hari pertama pembukaan Dasawarsa, Rabu 17 Juli 2019 ada movie screening dari COP dan diskusi kecil tentang orangutan dan permasalahannya. “Yuk nikmati secangkir kopi di Dasawarsa Coffee, Jl. Cik Di Tiro, Terban (cikdipoint) Utra Mirota Kampus UGM Yogyakarta. (HER)

Page 1 of 2312345...1020...Last »