Orangufriends

LET’S ENJOY COFFEE IN THE MIDDLE OF FORESTS

Who said “coffee break” only applies at a formal meeting? It also happens in the forest. We pause our activity after monitoring orangutans, or after hours of walking to track orangutans. Then we take “coffee break”. We stop for a moment, relieving fatigue and thirst. Even without sweet cakes to balance the bitter of the coffee, “coffee break” remains the sweetest activity for all rangers.

“Break!” Don’t be surprised you heard this sound in the forest. On the riverside, one thermos of black coffee is shared with separate sugars. Each ranger has a different taste of sweetness. After the coffee and sugar entering the glass, just remember that the spoon is left in the camp. So, how could we stir the coffee without a spoon? The rangers use wood branches to stir and add flavor.

Spending time with small talk and jokes, the “coffee break” was always followed by laughter. In fact, with a glass of black coffee and a little chat, the fatigue we felt was gone. Being a ranger takes a lot of physical energy because you have to walk in the forest with difficult terrain. “Let’s go”, said one of the ranger to end the “coffee break”. We continue to patrol with a new passion. (IND)

NIKMATNYA NGOPI DI TENGAH HUTAN
Siapa bilang istilah “coffee break” hanya berlaku di sebuah acara pertemuan formal. Istilah tersebut juga berlaku di hutan. Benar-benar di tengah hutan. Sesaat saja, berhenti sejenak dari monitoring orangutan, atau setelah berjam-jam berjalan menelusuri jejak orangutan. Maka “coffee break” pun berlaku. Sambil melepas penat dan dahaga walau tanpa kue manis lawan pahitnya kopi, tapi “coffee break” tetap menjadi bagian termanis bagi para ranger.

“Break”! Jangan sampai kaget jika di sunyinya hutan terdengar kata ini. Seperti biasa, di pinggiran anak sungai, satu termos kopi hitam dibagi rata, dengan gula yang terpisah. Tiap ranger punya rasa yang berbeda. Setelah gula masuk ke dalam segelas kopi, baru ingat kalau sendok tidak terbawa. Karena sendok tak jadi ngopi? Masih ada ranting kayu untuk mengaduk, ini akan menambah citarasa.

Diselipi dengan obrolan ringan dan candaan, “coffee break” pun selalu diikuti gelak tawa para ranger. Nyatanya, dengan segelas kopi hitam dan sedikit obrolan, penat yang dirasakan ranger pun menyusut. Wajar saja, menjadi ranger banyak menguras tenaga fisik karena harus berjalan di hutan dengan medan yang tidak mudah. “Lanjut”, sahut salah seorang ranger untuk mengakhiri “coffee break”. Patroli lagi dengan semangat terbaru. (REZ)

TOLONG SATWA TSUNAMI BANTEN

Bencana tsunami menerjang pantai di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 malam. Data sementara (26/12) tercatat 430 orang meninggal dunia, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang dan 21.991 orang mengungsi. Diantara bantuan kemanusian, tim rescue menemukan beberapa penyu yang terjebak dan menyempatkan untuk menolong satwa-satwa ini. Tim Animals Warrior saat ini menyisir pantai dan reruntuhan untuk membantu korban satwa.

Tim Animals Warrior adalah tim gabungan dari Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection yang selalu turun di kawasan terdampak bencana seperti gempa-tsunami Palu, gunung Agung Bali, g. Sinabung Sumatera Utara, g. Kelud Malang-Kediri, g. Merapi Yogya, gempa Aceh, dan lain-lain. Tim ini menyelamatkan, mengevakuasi, merawat bahkan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Tim juga mengurus satwa yang tewas.

Kamis, 27 Desember 2018, PVMBG menaikkan status gunung Anak Krakatau dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III). Tim bekerja cepat untuk bisa mencapai jangkauan yang lebih luas sambil meningkatkan kewaspadaan dengan bencana yang mungkin saja terjadi. Mohon bantuan anda para pecinta binatang untuk tim ini bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa.

Tolong satwa terdampar dan terlantar https://kitabisa.com/satwatsunamibanten

APE GUARDIAN TERLEPAP SAAT PATROLI

Patroli dengan berjalan menyisir jalur Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) berbekal semangat dan kebersamaan untuk menjaga hutan. Tim APE Guardian pukul 04.00 WITA, para ranger sudah bangun dan bersiap. Mengandalkan kedua kaki, berjalan di hutan dengan membuat tanda di GPS ketika bertemu sarang orangutan, pakan atau bekas pakan orangutan maupun satwa liar lainnya dengan sedikit catatan kecil tak luput dari perhatian ranger selama patroli.

Setiap ranger menempuh perjalanan 10 kilometer, bahkan lebih dengan keadaan jalur yang tak semuanya mendatar. Ranger harus mendaki dua atau tiga bukit dan sesekali bonus jalan mendatar setelah itu jalur batu-batuan dan anak sungai sudah menanti. Pohon-pohon yang rapat dengan duri-duri yang menggelantung bahkan daun yang jika tersentuh kulit menyebabkan gatal yang luar biasa harus menjadi kewaspadaan tersendiri bagi para ranger yang ikut patroli. Ditambah si imut nan basah yang siap ikut berjalan bersama sembari menghisap darah di sela-sela jari kaki. Jika kamu suka tantangan… tentu perjalanan menjadi ranger akan menjadi pengalamanmu yang tak terlupakan!

Kelelahan didukung damainya hutan sulit sekali untuk menghindari tidur siang usai makan siang. Mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata sejenak walau hanya beralaskan daun kering dan batu-batuan sungai. Tentu saja, tetap ada yang terjaga dengan kamera siap mengabadikan momen yang ada, tak terkecuali saat ranger terlelap. (Ipeh_Orangufriends)

HELP ORANGUTANS THROUGH ART FOR ORANGUTAN

Art is an universal languages that can be accepted by many. it will become a medium to deliver current issues on what happened to orangutans. The artists, with their creativities, will show the themes of orangutan thru their arts. All the spirit is summarized by Art for Orangutan (AFO) in the form of an art exhibition that has been visited by many people.

There were 122 art works with around 1500 visitors when the 2nd AFO was held in 2016. The exhibition that was held for 4 days had it own attraction for people to visit, see, respond, and understand the condition of our current orangutans. The support for orangutans was flowing in every way.

Another energy from AFO is the collective works of Centre for Orangutan Protection (COP) supporters who are members of Orangufriends with several art communities such as Gigi Nyala, IAM Project, etc. All agreed that AFO is an art activity that is not to be affiliated with the interested parties of orangutans, especially for event supporters or sponsorship.

The fundraising is expected to cover the cost of gallery and musical instruments rental, catalogue printing and transportation for performers/panelists. Your support is the key success of #artfororangutan3 that will be held on Feb 14-17, 2019 in Yogyakarta. More people to support, more people to care about orangutans! Find us by click https://kitabisa.com/bantuafo

BANTU ORANGUTAN LEWAT ART FOR ORANGUTAN
Seni adalah bahasa universal yang bisa diterima oleh orang banyak, akan menjadi jembatan untuk menyampaikan isu terkini pada apa yang terjadi dengan orangutan. Para seniman dengan kreatifitas tersendiri akan menyampaikan tema-tema orangutan melalui karyanya. Semangat itu yang dirangkum oleh Art for Orangutan (AFO) menjadi sebuah pameran seni yang banyak dikunjungi oleh orang.

Ada 122 karya seni dengan jumlah pengunjung sekitar 1500 orang saat AFO kedua di tahun 2016 yang lalu. Pameran yang berlangsung selama 4 hari ini menjadi magnet tersendiri untuk orang-orang datang, melihat, merespon dan mengerti hingga memahami kondisi orangutan terkini. Dukungan untuk orangutan pun mengalir dengan deras dengan caranya masing-masing.

Semangat lain dari AFO adalah kerja kolektif anggota pendukung Centre for Orangutan Protection (COP) yang tergabung dalam Orangufriends dengan beberapa komunitas seni seperti Gigi Nyala, IAM Project dll. Semua sepakat bahwa AFO adalah kegiatan seni yang mencoba untuk tidak berkonflik kepentingan bagi orangutan, terutama dengan para pendukung acara atau sponsorship.

Penggalangan dana ini diharapkan bisa menutupi pengeluaran biaya seperti sewa galeri, alat musik, cetak katalog dan transportasi pengisi acara. Dukungan teman-teman adalah kunci sukses #artfororangutan3 yang akan dilaksanakan 14-17 Pebruari 2019 di Yogyakarta, sehingga semakin banyak yang peduli dengan orangutan. Kamu bisa bantu lewat https://kitabisa.com/bantuafo

ALUMNI COP SCHOOL MENJADI TIM MONITORING ORANGUTAN

Sekolah tahunan yang diselenggarakan oleh Centre for Orangutan Protection menelurkan bibit penggiat konservasi baru. Ada Reza Dwi Kurniawan alumni COP School Batch 5, Lafizatun Azizah alumni COP School Batch 6, drh. Felisitas Flora dan Pasianus Idam yang merupakan alumni COP School Batch 7 serta Widi Nursanti alumni COP School Batch 8. Mereka berempat bahu membahu dan tinggal jauh dari sinyal dan hiruk pikuk kota. Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) saat ini menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu untuk membantu proses monitoring pelepasliaran orangutan yang dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Timur dibantu oleh COP.

Ini adalah hal yang sangat membanggakan ketika para alumni sekolahan COP berkumpul dan bekerja bersama untuk membantu menyelamatkan orangutan dan hutan tersisa di Kalimantan Timur. Ini sebuah regenerasi yang berhasil ketika individu muda baru tumbuh dan berkembang dalam aktivitas penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia.”, ujar Daniek Hendarto, kepala sekolah COP School terdahulu.

Kegiatan mereka di HLSL cukup padat, bersama para ranger mereka bekerja dari pagi hingga malam menjelang untuk menjelajahi hutan, mengawasi orangutan. Di malam hari, pekerjaan mereka belum usai, Ipeh panggilan akrab Lafizatun Azizah bersama Widi memastikan data rekap monitoring dan dokumentasi terarsip baik dan terekap dengan lengkap dalam catatan mereka. Paianus Idam memastikan data peta dari GPS tercatat dengan sempurna. Sementara drh. Flora mengevaluasi kemungkinan tindakan medis jika diperlukan orangutan. Secapek apapun mereka, pelaporan tetap dilakukan. Ditemani kopi dan teh panas dengan obrolan bagaimana pacet menghisap darah hingga jatuh terperosok di kubangan lumpur babi hutan menjadi bumbu segar sebelum mereka merebahkan diri, tidur. (NIK)

THE CONFISCATED EAGLE FROM BANDUNG TRADERS IS FINALLY RELEASED

Do you still remember the arrest of a trader who sell 5 eagles in Nanjung Village, Margaasih, Bandung, West Java last March? The traders’ family terrorized APE Warrior team who helped and took care of the confiscated eagle.

Ary Bonong on August 16, 2018, was finally sentenced to 11 months in prison by the Bandung District Court. “Again the verdict is still far from the maximum punishment. Also, the punishment is still very far from the total loss that actually occurred”, said Hery Susanto, coordinator of COP Anti Wildlife Crime, with disappointment.

The confiscated eagle underwent rehabilitation at the Kamojang Eagle Conservation Center (PKEK). Seven months passed, one of the eagles from the Bandung trader was finally habituated for 30 days in the conservation area of Sancang Beach, Cibalong Garut. Iteung, the name of that white-bellied sea eagle (Haliaeetus leucogaster) was finally released on November 20, 2018, by the vice-regent of Garut with the Ministry of Environment and Forestry.

“After a long process of rehabilitation, he finally found a way of freedom. Thank you PKEK for making his dream come true. Iteung flapped its wings again, free to return to the air”, said Daniek Hendarto, COP’s program manager of ex-situ conservation. “Don’t pet wild animals! Don’t sell protected wildlife!” added Daniek again. (IND)

ELANG SITAAN PEDAGANG BANDUNG, DILEPASLIARKAN
Masih ingat tertangkapnya pedagang 5 elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat bulan Maret 2018 yang lalu? Keluarga pedagang sesaat setelah penangkapan sempat meneror tim APE Warrior yang membantu merawat elang sitaan.

Ary Bonong pada tanggal 16 Augustus 2018 akhirnya dijatuhi vonis 11 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung. “Lagi-lagi vonis masih jauh dari hukuman maksimal yang ada. Dan hukuman maksimal yang berlaku pun masih jauh dari jumlah kerugian yang sesungguhnya terjadi.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP dengan kecewa.

Kemudian elang sitaan tersebut menjalani rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang. Tujuh bulan berlalu, Iteung nama Elang Laut (Haliaeestus leucogaster), salah satu elang dari pedagang Bandung akhirnya dihabituasikan selama 30 hari di kawasan konservasi Pantai Sancang kecamatan Cibalong Garut. Dan pada 20 November 2018 kemarin, dilepasliarkan oleh wakil bupati Garut bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Setelah proses lama untuk rehabilitasi akhirnya mereka menemukan jalan kebebasan. Terimakasih PKEK yang sudah membuat mimpi nyata Iteung kembali mengepakkan sayap, bebas kembali di udara.”, kata Daniek Hendarto, manajer program eks-situ COP dengan haru. “Jangan pelihara satwa liar! Jangan jualan satwa liar yang dilindungi!”, tambah Daniek lagi.

ORANGUTAN SHORT STORY WRITING COMPETITION

Art for Orangutan 2018, the 3rd art exhibition will be different from previous years. The special thing of AFO 2018 is we are not only reaching fine artists but also writers. For those of you who like writing, you are now invited to take an active role in the conservation of orangutans and other wildlife. Collect your short story for our writing competition no later than Sunday, January 6, 2019, at 23.00 WIB.

Competition terms:
– Each participant can only send one story
– The work has to be original and never been published in the media or any other competition
– Writing should be in proper and correct Indonesian
– The work is sent in Word format (.doc or .docx)
– The judges will select 10 best works to be published in a book and 3 best stories to be the winners.
– All short stories belong to the committee and copyrights remain to the authors
– The decision of the judges is absolute and cannot be disputed

Requirements:
– Open for public
– A4 paper size, font Times New Roman MS 12, space 1.5, Margin 4-4-3-3
– Minimum writing of 800 and a maximum of 1500 words
– Send your short story along with the scan/photo of the donation proof, identity (KTP/KTM/KP) and original work statement sheet to email: afo3.cerpen@gmail.com with email title: Participant name_ Title of story_Phone number
– Donation of IDR 25,003.00 (twenty-five thousand three rupiahs) to BNI account 1377888997 on behalf of Center for Orangutan Protection.

Prize:
1st Place: IDR 700,000.00 + 2 Anthology Books + COP merchandise + Certificate
2nd Place: IDR 500,000.00 + 2 Anthology Books + COP merchandise + Certificate
3rd Place: IDR 300,000.00 + 2 Anthology Books + COP merchandise + Certificate

7 of the 10 best works will get 1 Anthology Book
All short story participants will get an e-certificate

The winners will be announced on the official Instagram account @orangutan_COP @giginyala and @indiebookcorner at the opening of #ArtForOrangutan3 on Thursday, February 14, 2019, at Jogja National Museum, Yogyakarta. (SAR)

LOMBA MENULIS CERPEN ORANGUTAN
Art For Orangutan, pameran seni rupa ke-3 kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang membedakan adalah jangkauan pelaku seni yang tak hanya terbatas pada seni rupa saja. Untuk kamu yang hobi menulis pun kini diajak untuk aktif mengambil peran dalam pelestarian orangutan dan satwa liar lainnya. Pengumpulan karya lomba penulisan cerita pendek/cerpen paling lambat hari Minggu, 6 Januari 2019 pukul 23.00 WIB.

Mekanisme Lomba:
– Setiap peserta hanya dapat mengirimkan satu karya
– Karya bersifat asli/orinal dan belum pernah dipublikasi di media atau sedang diikutsertakan dalam lomba mana pun
– Bahasa Indonesia yang digunakan dengan baik dan benar
– Hasil karya dikirim dengan format Word
– Dewan juri akan memilih 10 karya terbaik yang akan dibukukan dan 3 pemenang.
– Karya cerpen menjadi milik panitia dan hak cipta tetap pada penulis
– Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat

Persyaratan:
– Terbuka untuk umum
– Ukuran kertas A4, font Times New Roman MS 12, spasi 1.5, Margin 4-43-3
– Panjang tulisan minimal 800 dan maksimal 1500 kata
– Kirimkan karya cerpen beserta scan/foto bukti donasi, identitas diri (KTP/KTM/KP) dan lembar pernyataan orisinalitas karya ke email: afo3.cerpen@gmail.com dengan judul email: Nama peserta_Judul Karya_No HP
– Donasi Rp 25.003,00 (dua puluh lima ribu tiga rupiah) ke rekening BNI 1377888997 a.n Centre for Orangutan Protection

Hadiah
Juara 1: Rp 700.000,00 + 2 Buku Antologi + Merchandise COP + Piagam
Juara 2: Rp 500.000,00 + 2 Buku Antologi + Merchandise COP + Piagam
Juara 3: Rp 300.000,00 + 2 Buku Antologi + Merchandise COP + Piagam

7 dari 10 karya terbaik akan mendapatkan 1 Buku Antologi
Semua peserta lomba cerpen akan mendapatkan e-sertifikat

Pengumuman pemenang akan dipublikasikan di akun instagram resmi @orangutan_COP @giginyala dan @indiebookcorner pada pembukaan #artfororangutan3 pada Kamis, 14 Pebruari 2019 di Jogja National Museum, Yogyakarta.

CANCEL THE SQUIRREL HUNTING COMPETITION

Centre for Orangutan Protection is calling all the orangutfriends, to pay attention, disseminate, and thwart squirrel hunting competition!

The Boyolali snipers are forget that air rifles are in the Regulation of the Chief of Police No. 8/2012 concerning the control of firearms for sport activity. Very firmly, article 4 paragraph 3 states that “air rifles are used for sports of shooting targets. Article 5 paragraph 3 states “Air rifles are onlu used at the locatotion of matches or exercises.” “It’s the Chief of Police order, Mr. Inspector General of Police Drs. Condro Kirono, M.M., M.Hum.”.

Director General of Gakkum of Forestry Ministry (KLHK) issued a letter S.31 / PHLHK / PPH / GKM.2 / 3/2018 on March 16, 2018 to enforce the rules of the National Police above. May Gakkum not forget and be able to carry out the mandate of his own letter.

Perbakin had also issued a letter 257/SEKJEN/PB/III/2018 for all Perbakin Managers to not to shoot animals with air rifles. Once again, it was affirmed that shooting animals with airguns outside a shooting arena is against the law. Hopefully, it is only our friends from Sniper Boyolali who are forget, not the Chief of Central Java Regional Police and the Director General of GAKKUM KLHK, and Perbakin also. (SAR)

BATALKAN KOMPETISI BERBURU TUPAI!
Centre for Orangutan Protection memanggil seluruh orangufriends, untuk memperhatikan, menyebarluaskan dan menggagalkan kompetisi berburu tupai!

Sniper Boyolali lagi ‘lali’ kalau senapan angin di Peraturan Kapolri No 8/2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga. Sangat tegas Kapolri membuat aturan di Pasal 4 ayat 3, “Senapan angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target.”. Pasal 5 ayat 3, “Senapan angin hanya digunakan dilokasi pertandingan atau latihan.”. “Perintah Kapolri loh pak Inspektur Jenderal Polisi Drs. Condro Kirono, M.M., M.Hum.”.

Dirjen Gakkum KLHK mengeluarkan surat S.31/PHLHK/PPH/GKM.2/3/2018 tanggal 16 Maret 2018 untuk menegakkan aturan Kapolri di atas. Semoga Gakkum tidak lupa dan bisa menjalankan amanah suratnya sendiri.

Dan PERBAKIN juga sudah mengeluarkan edaran 257/SEKJEN/PB/III/2018 untuk seluruh Pengurus Perbakin untuk tidak menembak satwa dengan senapan angin. Sekali lagi ditegaskan bahwa menembak satwa dengan senapan angin di luar arena menembak adalah melanggar aturan hukum.
Semoga cukup teman-teman komunitas Sniper Boyolali saja yang ‘lali’, tidak dengan Bapak Kapolda Jawa Tengah, Direktur Jenderal GAKKUM KLHK dan Perbakin. (DAN)

ART FOR ORANGUTAN: A GOOD LIFE FOR ORANGUTAN

Developments often forget the natural ecosystem. Forest inhabitants are intentionally eliminated for either this reason or from illegal hunting. So, is the life of an animal less valuable than human’s desire to develop? Is a decent life for animals not worth fighting?

For the third time, an art exhibition called Art For Orangutan will be back with topic “A Good Life for Orangutan”. Looking at the problems of a type of the closest species to human that is orangutan, artists are put their knowledge of orangutan problems into two, three, or even four dimensional arts.

Our hope, through the #artfororangutan3 exhibition, is that we will not be stuck in conflicting situations. Instead, we want to rethink the image of orangutans and how they will survive in the future from a different perspective: that orangutans are not only primates but also part of our lives.

Initiated by the Centre for Orangutan Protection (COP) in collaboration with the Gigi Nyala community, the first Art for Orangutan (AFO) was held in February 2015 at the Jogja National Museum, entitled “Life for Umbrella Species”. For a second time, AFO was held in November 2016 at the same place, entitled “Refusing Extinction”. AFO itself is a charity exhibition held to campaign for the protection, rehabilitation and the end of violence against wildlife, especially orangutans. This time, we also want this event to resound through the #artfororangutan3 so we can be reminded that there are other creatures besides humans that have the right to a decent life and that can continue to exist.

GUIDELINES
#artfororangutan3 will be held on February 14-17 2019 at the Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. With the following conditions:
1. The artist or exhibitor should be interested in caring for wildlife and that they should be free to live in the wild.
2. The submitted work has a strong concept that is suitable to the theme. 3. Must follow on Instagram @orangutan_COP and @giginyala.
4. Participants must fill out the form and register online no later than Tuesday, January 15, 2019. (The registration link will not be accessible past that date).
5. A maximum of 3 (three) artworks can be submitted.
6. The registration fee per artwork is Rp. 50.003,- (lima puluh ribu tiga rupiah) for Indonesian artists and $10 USD (ten USD) for foreign artists. Payment must be received by February 5, 2019 and can be made to: BNI Bank account 1377888997 Centre for Orangutan Protection or by PayPal to hardi@orangutan.id / Centre for Orangutan Protection.
7. After making the transfer, please send proof of transfer to email: artfororangutan.tiga@gmail.com with the email subject: Artist Name_Title of Works.
8. The work should then be sent to the following address:

An. Daniek Hendarto (#artfororangutan3)
Camp APE Warrior – Centre for Orangutan Protection (COP)
Jl. Gito Gati, Gondanglegi RT/RW: 01/13, Tegal Weru, Sari Harjo, Ngaglik. Kec. Sleman, Kab. Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55581
Mobile Number: +62-813-2883-7434

9. The artist will get an exhibition certificate #artfororangutan3 in soft file / digital format which will be sent 5 days after the exhibition #artfororangutan3 and get an exhibition catalog which will be sent along with the return of the work.
10. The work submitted can be personal or collective / group work with any media. 11. The cost of shipping and returning artwork will be fully covered by the artist.
12. Packing work must be adjusted to the needs and security of the work. Delivery of works must be through a clear and legal shipping service.
13. Submitted work must be from the last 2 (two) years and never have been included in previous Art For Orangutan exhibitions.
14. The maximum size of 2D (two dimensional) work is 200 cm x 200 cm. The maximum size of 3D (three dimensional) work is H: 200 cm, W: 150 cm and L: 150
15. Copyright for works, oral and written statements given and made by artists is entirely the responsibility of the artist.
16. The committee has the right not to exhibit works received for reasons of politeness and propriety, especially those relating to pornography and racial intolerance. If this happens, #artfororangutan3 committee will notify the artist. The #artfororangutan3 exhibit will be visited by the general public with a variety of ages from children to adults.
17. The international deadline for sending artwork is Monday, January 14, 2019 (postmark). If sent past this date, the #artfororangutan3 committee has the right not to display the work.
18. The #artfororangutan3 committee is responsible for the ongoing process of the exhibition such as unpacking work upon arrival, installing, displaying and packing again.
19. The #artfororangutan3 committee will sell the work provided that the work is indeed allowed by the artist to be sold. 60% of the price will be given to the artist and 40% will be donated to the Center for Orangutan Protection.
20. Consignment of sales of work will continue for 2 weeks after the exhibition takes place. 21. The #artfororangutan3 committee will package and send the artist’s work to the
address that corresponds to the form sent at the cost provided by the artist.
22. Within 40 days after the exhibition is complete, if there is no confirmation from the artist to take or receive their packaged work, the Center for Orangutan Protection will have full rights to the work.
23. If anything else happens to the work and exhibition (force majeure) it will be resolved by deliberation and consensus.
24. More information email : artfororangutan.tiga@gmail.com or Ramadhani (COP) +62 813 4927 1904 / Ervance (Giginyala) +62 857 1580 3439.
Timeline Art For Orangutans # 3 :
- International deadline for delivery (postmark) : Monday, January 14, 2019
– End of registration (online data entered) : Tuesday, January 15 , 2019
– Exhibition of Art for Orangutans # 3 : February 14 -17, 2019
- Return / retrieval of works : Until – 5 April 2019
Registration Form : https://s.id/ArtForOrangutan3

Pembangunan sering sekali melupakan ekosistem alam. Penghuni hutan tersingkir secara sengaja dengan kehilangan rumahnya ataupun karena perburuan liar. Apakah nyawa seekor hewan tidak lebih berharga dibandingkan pembangunan tersebut? Apakah kehidupan tersebut tidak layak diperjuangkan?

Untuk ketiga kalinya, pameran seni rupa Art For Orangutan akan kembali hadir dengan tajuk “A Good Life For Orangutan”. Melihat permasalahan satu jenis individu yang sangat dekat sekali dengan manusia, yaitu orangutan. Bagaimana para pelaku seni memahami permasalahan orangutan dan mencoba menuangkannya dalam bentuk dua dimensi, tiga bahkan empat dimensi.

Tentu saja harapannya, Art For Orangutan tidak hanya terjebak pada situasi konfliktual, melainkan memikirkan kembali, imaji-imaji akan orangutan dan bagaimana keberlangsungannya di kemudian hari melalui perspektif lain. Bahwa orangutan bukan hanya primata, namun bagian dari kehidupan kita dengan ide-ide segar dan di luar kebiasaan.

Digagas oleh Centre for Orangutan (COP) yang bekerjasama dengan komunitas Gigi Nyala, AFO pertama kali pada Pebruari 2015 berjudul “Life for Umbrella Species” di Jogja Nasional Museum. Kali kedua dengan tajuk “Menolak Punah” diselenggarakan pada November 2016 di tempat yang sama. AFO merupakan pameran amal untuk kampanye perlindungan, rehabilitasi dan menghentikan kekerasan terhadap satwa liar, terutama orangutan. Kali ini, dengan tanda pagar, menggemakan #artfororangutan3 agar kita semua tidak lupa bahwa makhluk hidup lain berhak mendapatkan kehidupan layak dengan dijaganya keberlangsungan hidupnya.

PANDUAN
#ArtForOrangutan3 akan dilakukan pada tanggal 14-17 Februari 2019 di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Seniman atau peserta pameran memiliki semangat kepedulian terhadap satwa liar, bahwa satwa liar lebih layak dan indah hidup dialam.
2. Karya yang dikirimkan memiliki konsep yang kuat dengan kesesuaian tema.
3. Wajib follow Instagram @orangutan_COP dan @giginyala.
4. Peserta berkewajiban mengisi formulir dan batas akhir pendaftaran secara online paling lambat Senin, 21 Januari 2019. (Melebihi tanggal tersebut secara otomatis link pendaftaran tidak akan bisa diakses/dibuka).
5. Mengirimkan maksimal 3 (tiga) judul karya.
6. Peserta dalam Negeri membayar Rp. 50.003,- (lima puluh ribu tiga rupiah) dan seniman manca Negara membayar USD 10 (sepuluh dollar) untuk satu judul karya. Pembayaran ditransfer ke rekening BNI 1377888997 an. Centre for Orangutan Protection sebelum tanggal 5 Februari 2019.
7. Setelah melakukan transfer harap mengirimkan bukti transfer ke email: artfororangutan.tiga@gmail.com dengan judul email : Nama Peserta_Judul Karya.
8. Karya kemudian dikirimkan ke alamat sebagai berikut :

An. Daniek Hendarto (AFO #3)
Camp APE Warrior – Centre for Orangutan Protection (COP)
Jl. Gito Gati, Dusun Gondanglegi 01/13, Tegal Weru, Sari Harjo, Ngaglik.
Kec. Sleman, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581
No Hp : 0813-2883-7434

9. Peserta akan mendapatkan sertifikat keikutsertaan pameran #artfororangutan3 dalam bentuk softfile/digital yang akan dikirimkan 5 hari pasca pameran #artfororangutan3 dan mendapatkan katalog pameran yang akan diberikan bersamaan dengan pengembalian karya.
10. Karya yang dikirimkan bisa berupa karya personal atau kolektif/kelompok dengan media apapun.
11. Biaya pengiriman dan pengembalian karya sepenuhnya ditanggung oleh peserta.
12. Packing karya disesuaikan dengan kebutuhan dan keamanan karya. Pengiriman karya harus melalui jasa pengirim yang jelas dan legal.
13. Karya yang dikirimkan adalah karya terbaru dalam 2 (dua) tahun terakhir dan belum pernah diikutkan dalam pameran art for orangutan sebelumnya.
14. Ukuran maksimal karya 2D (dua dimensi) dengan ukuran maksimal 200 cm x 200 cm. 3D (tiga dimensi) dengan ukuran maksimal T: 200 cm, L: 150 cm dan P: 150 cm
15. Hak cipta atas karya, pernyataan lisan maupun tertulis yang diberikan dan dibuat oleh seniman adalah sepenuhnya tanggungjawab seniman.
16. Panitia berhak untuk tidak memamerkan karya yang diterima dengan alasan kesopanan dan kepatutan, terutama yang berhubungan dengan pornografi dan SARA. Jika ini terjadi, Panitia #artfororangutan3 akan melakukan konfirmasi kepada peserta. Pameran #artfororangutan3 akan dikunjungi oleh kalangan umum dengan variasi umur dari anak-anak hingga orang dewasa.
17. Batas akhir pengiriman karya adalah pada tanggal Jumat, 25 Januari 2019 (Cap Pos). Jika melebihi tanggal tersebut maka Panitia #artfororangutan3 berhak untuk tidak memamerkan karya tersebut.
18. Panitia #artfororangutan3 bertanggung jawab dalam proses berlangsungnya pameran seperti pembongkaran karya ketika datang, pemasangan, memamerkan dan packing kembali.
19. Panitia #artfororangutan3 akan melakukan penjualan karya dengan ketentuan bahwa karya tersebut memang oleh peserta diperkenankan untuk dijual. Dengan prosentase penjualan karya sebesar 60% dari harga karya yang terjual
menjadi hak seniman dan 40% didonasikan untuk Centre for Orangutan Protection.
20. Melakukan konsinyasi penjualan karya selama 2 minggu setelah pameran berlangsung.
21. Melakukan teknis pengembalian karya peserta ke alamat yang sesuai dengan formulir yang dikirim dengan biaya ditanggung oleh seniman.
22. Jika dalam waktu 40 hari setelah pameran selesai dan tidak ada konfirmasi dari peserta untuk mengambil atau siap menerima paketan karyanya kembali maka karya akan menjadi hak Centre for Orangutan Protection.
23. Jika ada hal lain yang terjadi terhadap karya dan acara pameran (force majeure) maka akan diselesaikan secara musyawarah dan mufakat.
24. Informasi lebih lanjut melalui email : artfororangutan.tiga@gmail.com atau Ramadhani (COP) +62 813 4927 1904 / Ervance (Giginyala) +62 857 1580 3439.
Timeline Art For Orangutan #3
- Batas akhir pendaftaran (data online masuk) : Senin, 21 Januari 2019
– Batas akhir pengiriman karya (cap pos)
– Pameran Art for Orangutan #3
– Pengembalian/pengambilan karya:
Jumat, 25 Januari 2019 : 14 – 17 Februari 2019 : Hingga – 5 April 2019
Formulir Pendaftran : https://s.id/ArtForOrangutan3

COP AS THE BEST ENVIRONMENTAL CSO IN 2018

Today, the Center for Orangutan Protection received an Award from the Indonesian government as the best community organization of environment in 2018. The award was given directly by Minister of Home Affairs, Mr. Tjahjo Kumolo. Besides the environmental sector, the government also gave awards to community organizations in health, education, culture, and other sectors.

This award was the first to be received by COP from the Indonesian government. COP was founded in 2007 and is the first and the only orangutan conservation organization native to Indonesia. The existence of COP has an impact not only for orangutans but also for local communities and various species of wildlife.

Thank you for all the trust and support of COP supporters and COP volunteers who are members of Orangufriends. This award belongs to all of you who have been working hard to combat wildlife crime.(IND)

COP SEBAGAI ORMAS LINGKUNGAN HIDUP TERBAIK 2018
Pada hari ini Pusat Perlindungan Orangutan mendapatkan Penghargaan dari Pemerintah Indonesia sebagai organisasi masyarakat di bidang lingkungan hidup terbaik tahun 2018. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Selain bidang lingkungan hidup, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada organisasi-organisasi masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain.

Penghargaan ini adalah yang pertama diterima Pusat Perlindungan Orangutan atau lebih dikenal dengan Centre for Orangutan Protection (COP) dari pemerintah Indonesia. COP didirikan pada tahun 2007 dan merupakan oraganisasi konservasi orangutan yang pertama dan satu-satunya yang asli Indonesia. Keberadaan COP berdampak tidak hanya untuk orangutan tetapi juga untuk berbagai jenis satwa liar lainnya dan masyarakat setempat.

Terimakasih atas dukungan dan kepercayaan para pendukung COP dan relawan COP yang tergabung dalam orangufriends.

Page 1 of 2012345...1020...Last »