Orangufriends

SANG-SANG UNTUK SATWA LIAR INDONESIA

Bekerja di dunia konservasi Indonesia adalah bekerja di dunia yang sempit. Padahal, konservasi Indonesia itu sangat luas. Namun, mereka yang benar-benar terjun di dalamnya bisa dihitung dengan jari. Dunia konservasi adalah dunia yang membutuhkan ketahanan fisik maupun mental.

Namanya pak Sang-sang, dia merupakan animal keeper yang paling senior di Wildlife Rescue Center (WRC) Yogyakarta. Beliau bekerja sejak tahun 2003 di pusat penyelamatan satwa ini. Hari ini saya sempat ketemu dan foto dengan beliau saat pelepasan satwa elang ular bido dan alap-alap jambul di area WRC. Matanya berkaca-kaca saat tali pintu kandang habituasi dibuka dan elang terbang lepas bebas. Mungkin dia tidak tenar dan tidak punya nama besar, tapi saya orang yang paling yakin dedikasi dia sangat besar dalam upaya konservesi satwa liar. Jauh dari hingar-bingar, dia tetap rendah hati dan tetap masih di jalur pilihannya membantu satwa. Sehat selalu pak, tetap gagah bertugas merawat ‘anak-anakmu’ yang lainnya.

Yuk anak muda Indonesia, jangan mau kalah dengan pak Sang-sang. Mari memulainya dari menjadi Orangufriends, kelompok pendukung orangutan. (NIK)

SCHOOL VISIT AWAL TAHUN DI SEKOLAH CIKAL-AMRI SETU

Undangan permohonan menjadi pembicara untuk kelas Environment and Development di sekolah Cikal – AMRI Setu, Jakarta Timur mengawali kunjungan ke sekolah COP tahun 2019. Selasa, 8 Januari 2019, Amadhea W. Kaslan bersama satu orangufriends Jakarta yang juga merupakan alumni COP School Batch 8 yaitu Zara Zein mulai berbagi bagaimana perlindungan orangutan yang dilakukan Centre for Orangutan Protection, satu-satunya organisasi orangutan yang didirikan oleh putra-putri Indonesia.

Dua belas siswa dari kelas 6,7,8 dan 9 yang mengikuti program mendapatkan topik Wildlife and Its Contribution to Sustainable Environment. Kunjungan ke sekolah kali ini menjadi berbeda dengan begitu aktifnya para siswa. Kuis-kuis tentang orangutan dan satwa liar lainnya mewarnai kelas selama hampir dua jam.

COP dengan bantuan Orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memandang edukasi memiliki peran penting dalam perlindungan orangutan. “Kelak, mereka yang akan menggantikan kita, melanjutkan perlindungan orangutan.”, ujar Amadhea dengan bersemangat. Untuk kamu yang ingin sekolahnya dikunjungi COP dan ingin lebih tahu tentang orangutan, hubungi email info@orangutanprotection.com Yuk jadikan Orangutan kebanggaan Indonesia.

SELAMAT DATANG DI COP SCHOOL BATCH 9

Sejak Selasa sore, satu persatu peserta COP School Batch 9 berdatangan. Wajah-wajah baru dengan tingkah yang ragu-ragu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Mereka adalah agen perubahan untuk dunia konservasi selanjutnya.

Tentu saja kehadiran mereka di camp APE Warrior penuh perjuangan. Mereka memberanikan diri mendaftar, merogoh kantungnya untuk membayar biaya pendaftaran, meluangkan waktu mengerjakan tugas di tahap seleksi dan biaya yang tidak sedikit untuk sampai di Yogyakarta. Dari hampir 170 yang tertarik, menyusut menjadi 49 orang dan berakhir dengan 29 orang yang berkesempatan mengikuti COP School pada 9-14 Januari 2019. “Sebenernya ada 31 yang lulus seleksi, namun terpaksa mengundurkan diri karena ada keperluan mendesak. Jika mau ikut tahun depan, ya harus daftar dan seleksi lagi.”, ujar Ramadhani, kepala sekolah COP School tiga tahun terakhir ini.

“Ini belum berakhir, jika kamu sudah ikut COP School Batch 9 lalu bagaimana? Silahkan terapkan apa yang kamu peroleh selama lima hari kedepan. Akhir tahun 2019, di Jambore Orangufriends saatnya wisuda dengan apa yang telah kamu lakukan usai dari Yogya.”, tambah Ramadhani lagi. Kemudian… yuk jadi pendamping untuk peserta COP School Batch 10. Ini yang kami sebut regenerasi agen perubahan Indonesia. #IndonesiaBisa

LOMBA MENULIS CERPEN ORANGUTAN DITUTUP

Dua hari menjelang penutupan Lomba Menulis Cerpen Orangutan, rekening BNI 1377888997 atas nama Centre for Orangutan Protection dibanjirin donasi Rp 25.003,00 sebagai bukti keikutsertaan peserta dalam lomba. Sepuluh karya terbaik rencananya akan dibukukan. Lomba ini merupakan kolaborasi Indie Book Corner dengan Centre for Orangutan Protection.

Hingga akhirnya pada hari Minggu, 6 Januari 2019 pukul 23.00 WIB panitia menerima 128 cerpen. Cerpen-cerpen yang masuk dengan tema A Good Life for Orangutan membuat panitia kagum dengan ide dan jalan cerita setiap cerpen. Mulai dari cerita mengenai orangutan yang kehilangan habitatnya sampai cerita orangutan di puluhan tahun ke depan.

Selama satu bulan, panitia akan menyeleksi cerpen-cerpen tersebut. Tahap awal ada 50 karya yang masuk yang selanjutnya akan ditentukan sepuluh karya terbaik. Dari sepuluh karya tersebut lah penentuan tiga pemenang. “Terimakasih atas keikutsertaannya. Banyak cara untuk ambil bagian dalam perlindungan orangutan. Donasi ini untuk orangutan.”, ujar Septian. Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada pembukaan Art For Orangutan 3 pada Kamis, 14 Pebruari 2019 di Jogja National Museum, Yogyakarta.

LET’S ENJOY COFFEE IN THE MIDDLE OF FORESTS

Who said “coffee break” only applies at a formal meeting? It also happens in the forest. We pause our activity after monitoring orangutans, or after hours of walking to track orangutans. Then we take “coffee break”. We stop for a moment, relieving fatigue and thirst. Even without sweet cakes to balance the bitter of the coffee, “coffee break” remains the sweetest activity for all rangers.

“Break!” Don’t be surprised you heard this sound in the forest. On the riverside, one thermos of black coffee is shared with separate sugars. Each ranger has a different taste of sweetness. After the coffee and sugar entering the glass, just remember that the spoon is left in the camp. So, how could we stir the coffee without a spoon? The rangers use wood branches to stir and add flavor.

Spending time with small talk and jokes, the “coffee break” was always followed by laughter. In fact, with a glass of black coffee and a little chat, the fatigue we felt was gone. Being a ranger takes a lot of physical energy because you have to walk in the forest with difficult terrain. “Let’s go”, said one of the ranger to end the “coffee break”. We continue to patrol with a new passion. (IND)

NIKMATNYA NGOPI DI TENGAH HUTAN
Siapa bilang istilah “coffee break” hanya berlaku di sebuah acara pertemuan formal. Istilah tersebut juga berlaku di hutan. Benar-benar di tengah hutan. Sesaat saja, berhenti sejenak dari monitoring orangutan, atau setelah berjam-jam berjalan menelusuri jejak orangutan. Maka “coffee break” pun berlaku. Sambil melepas penat dan dahaga walau tanpa kue manis lawan pahitnya kopi, tapi “coffee break” tetap menjadi bagian termanis bagi para ranger.

“Break”! Jangan sampai kaget jika di sunyinya hutan terdengar kata ini. Seperti biasa, di pinggiran anak sungai, satu termos kopi hitam dibagi rata, dengan gula yang terpisah. Tiap ranger punya rasa yang berbeda. Setelah gula masuk ke dalam segelas kopi, baru ingat kalau sendok tidak terbawa. Karena sendok tak jadi ngopi? Masih ada ranting kayu untuk mengaduk, ini akan menambah citarasa.

Diselipi dengan obrolan ringan dan candaan, “coffee break” pun selalu diikuti gelak tawa para ranger. Nyatanya, dengan segelas kopi hitam dan sedikit obrolan, penat yang dirasakan ranger pun menyusut. Wajar saja, menjadi ranger banyak menguras tenaga fisik karena harus berjalan di hutan dengan medan yang tidak mudah. “Lanjut”, sahut salah seorang ranger untuk mengakhiri “coffee break”. Patroli lagi dengan semangat terbaru. (REZ)

TOLONG SATWA TSUNAMI BANTEN

Bencana tsunami menerjang pantai di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 malam. Data sementara (26/12) tercatat 430 orang meninggal dunia, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang dan 21.991 orang mengungsi. Diantara bantuan kemanusian, tim rescue menemukan beberapa penyu yang terjebak dan menyempatkan untuk menolong satwa-satwa ini. Tim Animals Warrior saat ini menyisir pantai dan reruntuhan untuk membantu korban satwa.

Tim Animals Warrior adalah tim gabungan dari Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection yang selalu turun di kawasan terdampak bencana seperti gempa-tsunami Palu, gunung Agung Bali, g. Sinabung Sumatera Utara, g. Kelud Malang-Kediri, g. Merapi Yogya, gempa Aceh, dan lain-lain. Tim ini menyelamatkan, mengevakuasi, merawat bahkan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Tim juga mengurus satwa yang tewas.

Kamis, 27 Desember 2018, PVMBG menaikkan status gunung Anak Krakatau dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III). Tim bekerja cepat untuk bisa mencapai jangkauan yang lebih luas sambil meningkatkan kewaspadaan dengan bencana yang mungkin saja terjadi. Mohon bantuan anda para pecinta binatang untuk tim ini bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa.

Tolong satwa terdampar dan terlantar https://kitabisa.com/satwatsunamibanten

APE GUARDIAN TERLEPAP SAAT PATROLI

Patroli dengan berjalan menyisir jalur Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) berbekal semangat dan kebersamaan untuk menjaga hutan. Tim APE Guardian pukul 04.00 WITA, para ranger sudah bangun dan bersiap. Mengandalkan kedua kaki, berjalan di hutan dengan membuat tanda di GPS ketika bertemu sarang orangutan, pakan atau bekas pakan orangutan maupun satwa liar lainnya dengan sedikit catatan kecil tak luput dari perhatian ranger selama patroli.

Setiap ranger menempuh perjalanan 10 kilometer, bahkan lebih dengan keadaan jalur yang tak semuanya mendatar. Ranger harus mendaki dua atau tiga bukit dan sesekali bonus jalan mendatar setelah itu jalur batu-batuan dan anak sungai sudah menanti. Pohon-pohon yang rapat dengan duri-duri yang menggelantung bahkan daun yang jika tersentuh kulit menyebabkan gatal yang luar biasa harus menjadi kewaspadaan tersendiri bagi para ranger yang ikut patroli. Ditambah si imut nan basah yang siap ikut berjalan bersama sembari menghisap darah di sela-sela jari kaki. Jika kamu suka tantangan… tentu perjalanan menjadi ranger akan menjadi pengalamanmu yang tak terlupakan!

Kelelahan didukung damainya hutan sulit sekali untuk menghindari tidur siang usai makan siang. Mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata sejenak walau hanya beralaskan daun kering dan batu-batuan sungai. Tentu saja, tetap ada yang terjaga dengan kamera siap mengabadikan momen yang ada, tak terkecuali saat ranger terlelap. (Ipeh_Orangufriends)

HELP ORANGUTANS THROUGH ART FOR ORANGUTAN

Art is an universal languages that can be accepted by many. it will become a medium to deliver current issues on what happened to orangutans. The artists, with their creativities, will show the themes of orangutan thru their arts. All the spirit is summarized by Art for Orangutan (AFO) in the form of an art exhibition that has been visited by many people.

There were 122 art works with around 1500 visitors when the 2nd AFO was held in 2016. The exhibition that was held for 4 days had it own attraction for people to visit, see, respond, and understand the condition of our current orangutans. The support for orangutans was flowing in every way.

Another energy from AFO is the collective works of Centre for Orangutan Protection (COP) supporters who are members of Orangufriends with several art communities such as Gigi Nyala, IAM Project, etc. All agreed that AFO is an art activity that is not to be affiliated with the interested parties of orangutans, especially for event supporters or sponsorship.

The fundraising is expected to cover the cost of gallery and musical instruments rental, catalogue printing and transportation for performers/panelists. Your support is the key success of #artfororangutan3 that will be held on Feb 14-17, 2019 in Yogyakarta. More people to support, more people to care about orangutans! Find us by click https://kitabisa.com/bantuafo

BANTU ORANGUTAN LEWAT ART FOR ORANGUTAN
Seni adalah bahasa universal yang bisa diterima oleh orang banyak, akan menjadi jembatan untuk menyampaikan isu terkini pada apa yang terjadi dengan orangutan. Para seniman dengan kreatifitas tersendiri akan menyampaikan tema-tema orangutan melalui karyanya. Semangat itu yang dirangkum oleh Art for Orangutan (AFO) menjadi sebuah pameran seni yang banyak dikunjungi oleh orang.

Ada 122 karya seni dengan jumlah pengunjung sekitar 1500 orang saat AFO kedua di tahun 2016 yang lalu. Pameran yang berlangsung selama 4 hari ini menjadi magnet tersendiri untuk orang-orang datang, melihat, merespon dan mengerti hingga memahami kondisi orangutan terkini. Dukungan untuk orangutan pun mengalir dengan deras dengan caranya masing-masing.

Semangat lain dari AFO adalah kerja kolektif anggota pendukung Centre for Orangutan Protection (COP) yang tergabung dalam Orangufriends dengan beberapa komunitas seni seperti Gigi Nyala, IAM Project dll. Semua sepakat bahwa AFO adalah kegiatan seni yang mencoba untuk tidak berkonflik kepentingan bagi orangutan, terutama dengan para pendukung acara atau sponsorship.

Penggalangan dana ini diharapkan bisa menutupi pengeluaran biaya seperti sewa galeri, alat musik, cetak katalog dan transportasi pengisi acara. Dukungan teman-teman adalah kunci sukses #artfororangutan3 yang akan dilaksanakan 14-17 Pebruari 2019 di Yogyakarta, sehingga semakin banyak yang peduli dengan orangutan. Kamu bisa bantu lewat https://kitabisa.com/bantuafo

ALUMNI COP SCHOOL MENJADI TIM MONITORING ORANGUTAN

Sekolah tahunan yang diselenggarakan oleh Centre for Orangutan Protection menelurkan bibit penggiat konservasi baru. Ada Reza Dwi Kurniawan alumni COP School Batch 5, Lafizatun Azizah alumni COP School Batch 6, drh. Felisitas Flora dan Pasianus Idam yang merupakan alumni COP School Batch 7 serta Widi Nursanti alumni COP School Batch 8. Mereka berempat bahu membahu dan tinggal jauh dari sinyal dan hiruk pikuk kota. Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) saat ini menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu untuk membantu proses monitoring pelepasliaran orangutan yang dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Timur dibantu oleh COP.

Ini adalah hal yang sangat membanggakan ketika para alumni sekolahan COP berkumpul dan bekerja bersama untuk membantu menyelamatkan orangutan dan hutan tersisa di Kalimantan Timur. Ini sebuah regenerasi yang berhasil ketika individu muda baru tumbuh dan berkembang dalam aktivitas penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia.”, ujar Daniek Hendarto, kepala sekolah COP School terdahulu.

Kegiatan mereka di HLSL cukup padat, bersama para ranger mereka bekerja dari pagi hingga malam menjelang untuk menjelajahi hutan, mengawasi orangutan. Di malam hari, pekerjaan mereka belum usai, Ipeh panggilan akrab Lafizatun Azizah bersama Widi memastikan data rekap monitoring dan dokumentasi terarsip baik dan terekap dengan lengkap dalam catatan mereka. Paianus Idam memastikan data peta dari GPS tercatat dengan sempurna. Sementara drh. Flora mengevaluasi kemungkinan tindakan medis jika diperlukan orangutan. Secapek apapun mereka, pelaporan tetap dilakukan. Ditemani kopi dan teh panas dengan obrolan bagaimana pacet menghisap darah hingga jatuh terperosok di kubangan lumpur babi hutan menjadi bumbu segar sebelum mereka merebahkan diri, tidur. (NIK)

THE CONFISCATED EAGLE FROM BANDUNG TRADERS IS FINALLY RELEASED

Do you still remember the arrest of a trader who sell 5 eagles in Nanjung Village, Margaasih, Bandung, West Java last March? The traders’ family terrorized APE Warrior team who helped and took care of the confiscated eagle.

Ary Bonong on August 16, 2018, was finally sentenced to 11 months in prison by the Bandung District Court. “Again the verdict is still far from the maximum punishment. Also, the punishment is still very far from the total loss that actually occurred”, said Hery Susanto, coordinator of COP Anti Wildlife Crime, with disappointment.

The confiscated eagle underwent rehabilitation at the Kamojang Eagle Conservation Center (PKEK). Seven months passed, one of the eagles from the Bandung trader was finally habituated for 30 days in the conservation area of Sancang Beach, Cibalong Garut. Iteung, the name of that white-bellied sea eagle (Haliaeetus leucogaster) was finally released on November 20, 2018, by the vice-regent of Garut with the Ministry of Environment and Forestry.

“After a long process of rehabilitation, he finally found a way of freedom. Thank you PKEK for making his dream come true. Iteung flapped its wings again, free to return to the air”, said Daniek Hendarto, COP’s program manager of ex-situ conservation. “Don’t pet wild animals! Don’t sell protected wildlife!” added Daniek again. (IND)

ELANG SITAAN PEDAGANG BANDUNG, DILEPASLIARKAN
Masih ingat tertangkapnya pedagang 5 elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat bulan Maret 2018 yang lalu? Keluarga pedagang sesaat setelah penangkapan sempat meneror tim APE Warrior yang membantu merawat elang sitaan.

Ary Bonong pada tanggal 16 Augustus 2018 akhirnya dijatuhi vonis 11 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung. “Lagi-lagi vonis masih jauh dari hukuman maksimal yang ada. Dan hukuman maksimal yang berlaku pun masih jauh dari jumlah kerugian yang sesungguhnya terjadi.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP dengan kecewa.

Kemudian elang sitaan tersebut menjalani rehabilitasi di Pusat Konservasi Elang Kamojang. Tujuh bulan berlalu, Iteung nama Elang Laut (Haliaeestus leucogaster), salah satu elang dari pedagang Bandung akhirnya dihabituasikan selama 30 hari di kawasan konservasi Pantai Sancang kecamatan Cibalong Garut. Dan pada 20 November 2018 kemarin, dilepasliarkan oleh wakil bupati Garut bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Setelah proses lama untuk rehabilitasi akhirnya mereka menemukan jalan kebebasan. Terimakasih PKEK yang sudah membuat mimpi nyata Iteung kembali mengepakkan sayap, bebas kembali di udara.”, kata Daniek Hendarto, manajer program eks-situ COP dengan haru. “Jangan pelihara satwa liar! Jangan jualan satwa liar yang dilindungi!”, tambah Daniek lagi.

Page 1 of 2012345...1020...Last »