KHDTK Labanan

UJI KEULETAN: MEMBUAT ENRICHMENT GRANAT BUAH

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Di sekitar camp COP Borneo banyak ditemukan tali akar rotan, apalagi di jalan menuju kandang. Ide membuat enrichment granat buah akhirnya tercetus. Cara mengambil tali akar cukup menyenangkan. Kami harus mengayunkan tubuh sambil memegang tali akar kuat-kuat. Seperti Tarzan… berayun… Brraakkk!!! Itu bunyi ketika kami terjatuh bersama tali akar rotan yang berhasil putus. 

Keuletan diuji. Untuk membuat satu buah granat buah yang dibalut dengan tali akar kurang lebih membutuhkan waktu 30-45 menit. Semua perawat satwa berlomba-lomba untuk membuat bentuk granat yang unik dan kokoh. Dengan satu tujuan, agar orangutan sukar membuka granat buah tersebut. “Sengaja kami masukkan buah yang disukai orangutan dengan tambahan daun agar membuatnya padat dan sedikit tersembunyi.”, ujar Jevri dengan yakin.

Semua orangutan mendapatkan jatah satu-satu. Orangutan bayi mendapat jatah yang kecil. Sebaliknya, Ambon sebagai orangutan paling tua mendapat granat buah yang besar. Lalu berapa waktu yang orangutan butuhkan untuk mendapatkan buah yang tersembunyi di granat buah? (JEV_WID)

KOLA DISAMBUT BAIK DI BERAU

Puluhan anak-anak dan beberapa komunitas mahasiswa pecinta alam di Berau dengan membawa tulisan “Welcom Home Cola” menyambut kedatangan pesawat Sriwijaya pada Sabtu sore, 21 Desember 2019 di bandara Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur. Kedatangan pesawat tersebut membawa satu individu orangutan bernama Kola yang merupakan repatriasi dari Kerajaan Thailand kepada Pemerintah Indonesia.

Pemulangan Kola dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu BKSDA Kalimantan Timur, bapak Sunandar Trigunajasa bersama kepala BKSDA SKW I, bapak Dheny Mardiono. Penyambutan kedatangan Kola dihadiri bupati kabupaten Berau, bapak Muharram dan wakilnya Agus Tamtomo serta jajaran pemerintahan kabupaten Berau.

“Kabupaten Berau mendapatkan kepercayaan yang luar biasa dengan pengembalian orangutan Kola dan inisiasi dari teman-teman BKSDA Kalimantan Timur.”, ujar Agus Tamtomo ketika setelah melepaskan tim yang membawa orangutan Kola ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Pengembalian orangutan Kola dari Thailand oleh KLHK merupakan salah satu langkah yang terus dilakukan selama beberapa tahun terakhir ini untuk satwa langka yang masih berada di luar Indonesia. BKSDA Kalimantan Timur sangat mendukung pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection di KHDTK Labanan, terutama untuk proses rehabilitasi orangutan. (DAN)

SEPTEMBER SIAGA KARHUTLA

September 2019 menjadi bulan paling siaga selama 2019. Berdasarkan data Si Pongi, Karhutla Monitoring Sistem, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan dan Lahan di Kalimantan Timur pada 2019 mencapai 6.715 hektar. Lokasi rehabilitasi COP Borneo yang berada di dalam kawasan KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur menjadi salah satu area rawan terbakar pada saat itu. Tim APE Defender setidaknya menemukan beberapa titik api yang mengarah langsung ke COP Borneo. Hujan yang tidak kunjung turun memperparah persebaran api, menyisakan jarak 1,6 km saja antara COP Borneo dan kobaran api.

Status semula Siaga dinaikkan menjadi Awas I. Kandang Angkut dan peralatan medis sudah siap sedia menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu merelokasi orangutan yang berada di COP Borneo menuju tempat yang lebih aman. Kegiatan sekolah hutan ditiadakan, koordinasi dengan BKSDA dan B2P2EHD ditingkatkan. Petugas dari BKSDA Seksi I Berau dan petugas dari Kantor Penghubung B2P2EHD yang berada di Berau selalu memantau dan bergerak bersama untuk memantau pergerakan kebakaran.

Untuk membantu pemadaman api, dua relawan COP dari Yogyakarta terpaksa jalur darat dari Samarinda dengan menumpang pada mobil operasional milik B2P2EHD sekaligus membawa peralatan pemadam guna membantu melokalisir kebakaran. Dengan tamabahan tandon air 1.200 liter dan sedikit rekayasa aliran air, mobil operasional tersebut difungsikan sebagai mobil pemadam untuk mengakses area sulit. Tim pemadam dari COP merupakan ring kedua dari lembaga pemerintahan seperti BKSDA Kaltim, B2P2EHD, KPH Berau Barat dan Pemerintah Daerah.

Lebih kurang selama 17 hari melakukan pemadaman dan pemantauan intensif, akhirnya hujan pertama turun di kawasan KHDTK. Cuaca pun mulai kondusif dan basah. Keberhasilan melokalisir kebakaran tidak terlepas dari kerjasama dan kordinasi yang baik antar pihak. (SON)