COP School

SEMANGAT DAN IMPIAN BARU LEWAT COP SCHOOL

Nama saya Alex Sander, sebelum mengikuti COP School Bacth 6 saya telah aktif sebagai Animal Keeper di Animals Indonesia, sebuah Pusat Penyelamatan Satwa di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan sejak satu tahun yang lalu. Suatu kebanggaan besar bagi saya untuk bisa bergabung dan aktif dalam upaya penyelamatan satwa. Saya memperoleh kesempatan besar untuk mengikuti COP School Batch 6 pada bulan Mei 2016.

Pada awalnya saya masih ragu mengikuti kegiatan ini, namun atas dasar saran dari kawan kawan seperjuangan, saya mencoba memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Keputusan ini merupakan hal yang berat karena saya belum pernah berpergian jauh apalagi keluar luar pulau dan ijin orang tua yang belum juga merestui keberangkatan saya. Hampir satu minggu saya galau seperti orang yang tidak waras, namun saya tetap bersikeras untuk datang di kegiatan tersebut karena menurut saya  COP school  adalah kegiatan yang akan memberikan banyak hal positif bagi saya dan memberikan pelajaran hidup yang bisa memotivasi saya menjadi lebih baik.

Seminggu setelah galau, saya berangkat menunju Yogja pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2016 dengan niat, kemauan dan modal yang pas-pasan, hanya pas untuk ongkos pulang pergi. Sebagai informasi buat kalian, bahwa perjalanan dari Lubuk Linggau menuju Yogyakarta membutuhkan waktu selama tiga hari tiga malam, mungkin kalau satu hari lagi saya berada dalam bis pasti saya sudah menjadi mumi saat tiba di Yogya.

Pada saat bus tiba di Yogya, saya malah tidak sadarkan diri dan seseorang membangunkan saya kalau bis yang saya tumpangi telah menuju Solo. Pada saat itu saya bingung harus bagaimana namun supir bis memberikan bantuan untuk ikut dengan bis lain yang menuju kearah Yogya dan akhirnya saya tiba di tempat tujuan yaitu “Y.O.G.Y.A.K.A.R.T.A.!!!”.

Sebelum kegiatan COP School dimulai, saya dan beberapa kawan animal keeper dari COP Borneo berkesempatan menjadi relawan di Wildlife Rescue Center Yogyakarta selama 2 hari. Saya berkesempatan untuk merawat Siamang, berbagai jenis burung, orangutan dan membuat enrichment.

Pada tanggal 18 – 22 Mei 2016 saya mengikuti COP School Batch 6, hal yang pertama kali saya rasakan adalah seperti saya bukan siapa – siapa mengingat saya sangat awam dalam kegiatan konservasi dibandingkan dengan kawan-kawan lainya. Namun itu bukan penghalang bagi saya untuk belajar karena saya bertemu kawan-kawan dan tim seperjuangan (Kelompok 6) yang selalu mendukung saya walaupun saya paling bodoh dan dekil. Hahahaha…

Selama lima hari kegiatan saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga dari narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi saya menjadi lebih baik lagi dalam dunia konservasi. Hal yang tidak terlupakan ketika tenda kelompok kami kebanjiran karena tenda kami bocor dan akhirnya kami tidur seadanya dan kami harus memakan kerak nasi karena nasi yang kelompok kami masak terlalu matang.

Banyak Hal yang saya peroleh pada saat kegiatan COP school Batch 6 dan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Terimakasih kepada keluarga besar COP yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar tentang dunia konservasi. Pada tanggal 23 Mei saya harus pulang kembali ke Lubuk Linggau dan kembali menekuni aktivitas yang saya lakukan dengan penuh semangat dan impian yang baru. (Alex_Orangufriends)

RUANG KELAS UNTUK SEKOLAH KONSERVASI SATWA LIAR

Namanya Wety, dari Purwodadi – Jawa Tengah. Dia adalah satu dari ribuan anak muda Indonesia yang menggilai tayangan Animal Planet dan ingin terlibat langsung di dalamnya. Wety menemukan jalannya di COP School Batch 1 pada tahun 2011. Kini, dia bersama dengan para alumni COP School lainnya, dari Batch 1 – 6 menjalankan Pusat Penyelamatan Orangutan COP Borneo di Hutan Penelitian Labanan, Kalimantan Timur.

Sejak diinisiasi pada tahun 2011, COP School telah meluluskan 145 orang, yang kini tersebar di berbagai organisasi perlindungan alam dan gerakan sosial. Mereka membangun jaringan kerja yang efektif untuk Indonesia yang lebih hijau. Sayangnya, hingga menjelang COP School Batch 7 yang akan diselenggarakan bulan Mei 2017 ini, COP School belum memiliki ruang kelas, meskipun lahannya sudah tersedia di Yogya.

Bantuan Anda akan digunakan untuk membangun ruang kelas dan mendukung program pelatihan COP School. Ini adalah investasi strategis untuk gerakan perlindungan satwa liar dan habitatnya di Indonesia.

Klik https://kitabisa.com/copschool

WHOEVER YOU ARE, LET’S JOIN COP SCHOOL BATCH 7

Halo! My name is Zahra and I am an employee of a private company in Jakarta. I am an alumni of COP School Batch 6 which was held last year. Since I was a kid, I have always loved animals. But since I do not have any background related to animal conservation, I thought all I can do was just watch animal planet, donate, and like and share some posts in social media.

I was wrong! Last year, I saw a facebook post about COP school, and I thought this was perfect for me. At first I was a bit scared. I did not know anybody in the program! I did not have background and experience related to animal conservation. I was completely new on this field. I also had to spend some time writing the pre-program tasks between works. But with determination, I managed to get picked as one of COP school student.

When I arrived at COP camp, I met new friends which were very open and welcome. COP school students had various backgrounds, age, and even nationality! All those differences did not stop us to feel like home.

During COP school, I learned and experienced a lot of new things: outside class (for example how to build tent, long march along with friends) and inside class. The classes were presented by experts from well-known animal and environmental conservation organizations. What a chance of a lifetime!
COP school was only for a few days, but it gives me a lot of things: new experiences, new knowledge, new friends, and the most important thing was a channel to get involved more about animal conservation, wherever you are, whatever your background is. For example, I can help with translating some COP activities articles for publication.

So whoever you are, as long as you have passion for animal conservation, let’s join COP school batch 7! (Zahra_Orangufriends)

SIAPA PUN KAMU, IKUT COP SCHOOL BATCH 7

Halo! Perkenalkan, namaku Zahra dan saat ini berprofesi sebagai karyawan di perusahaan swasta di Jakarta. Aku adalah siswa COP School Batch 6 yang diadakan tahun 2016 lalu. Sejak kecil aku punya kecintaan terhadap satwa. Tapi berhubung aku tidak punya latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan pelestarian satwa dan aku tinggal di Jakarta, aku sempat berpikir passion-ku terhadap pelestarian satwa tidak bisa disalurkan selain dengan nonton animal planet, berdonasi, atau like dan share post di media sosial.

Ternyata aku salah! Tahun lalu, aku lihat post di facebook tentang COP School, dan aku merasa ini adalah sarana yang tepat untuk aku. Memang awalnya agak takut, aku belum kenal siapa pun! Aku benar-benar baru di bidang ini.  Belum lagi ada tugas-tugas saat proses seleksi, yang membuat aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan pekerjaan di kantor. Tapi, dengan tekad (dan nekad) aku maju terus dan ternyata berhasil lolos seleksi.

Ketika aku sampai di camp COP, aku langsung bertemu dengan teman teman baru yang sangat open dan welcome. Siswa COP School juga sangat beragam, berbagai background, umur, bahkan kewarganegaraan! Semua perbedaan tersebut tidak menghalangi kita untuk merasa seperti berada di rumah. Selama COP School berlangsung, aku mempelajari dan mengalami banyak hal baru, mulai dari hal di luar kelas (contohnya cara mendirikan tenda, long march bersama teman – teman), hingga materi yang disampaikan di kelas. Materi pun dibawakan langsung oleh ahli dari berbagai organisasi besar. Betul betul pengalaman sekali seumur hidup.

COP School memang hanya berlangsung beberapa hari, tapi bekal yang aku bawa pulang rasanya banyak sekali. Pengalaman baru, ilmu baru, teman-teman baru, dan yang terpenting adalah ruang yang tepat bagi setiap alumninya untuk membantu pelestarian satwa, dimanapun mereka berada dan apapun profesi mereka. Contohnya aku yang berprofesi sebagai karyawan swasta, bisa membantu pelestarian satwa melalui penerjemahan beberapa tulisan untuk publikasi kegiatan COP.

Jadi siapapun kamu, selama kamu punya passion untuk pelestarian satwa, ayo segera daftar ke COP School Batch 7.

SAYA DAYAK DAN IKUT COP SCHOOL

Saya dilahirkan di kota Sintang dan menjalani masa kecil di kampung Laung, Kapuas Hulu. Saya besar di kaki bukit Merangat dan mandi di sungai Batang Seberuang. Sejauh ini saya masih hafal bau getah karet yang menempel di punggung saat kami memikulnya dari kebun dan dibawa ke desa Seneban. Saya meninggalkan kampung Laung hanya supaya saya bisa menerjemahkan cover buku Sinar Dunia 32 lembar.

Perjalanan mengantarkan saya lebih dalam dan jauh ke dunia yang bahkan saya tidak pernah bayangkan. Semua dimulai dari taik/kotoran ayam di kandang yang jumlahnya 20 karung setiap hari yang saya ambil. Namun karena joroknya taik ayam saya dipercaya untuk membersihkan kandang orangutan setiap hari, alasannya sederhana karena saya tidak jijik dengan banyak macam jenis taik. Bersama taik-taik di kandang saya mulai belajar banyak hal, mulai dari penanganan orangutan, membangun kandang, sekolah hutan orangutan, hingga politik konservasi.

2011 masih berbekalkan kemampuan menangani permasalahan taik, saya mengikuti COP School Batch 1. Saya hanya berani duduk di pinggir ruangan karena memang tidak ada yang saya pahami selain taik di kandang dan hutan tempat saya tinggal dulu. Sampai saya menyadari bahwa hutan tempat saya tinggal sedang dihancurkan. Bermodalkan pengalaman tentang taik saya bersumpah akan menyelamatkan hutan yang sudah menyelamatkan saya sewaktu kecil melalui sebuah ladang yang menjadi beras, lewat sungai yang mengantarkan saya ke SD, melalui ikan lauk yang saya sukai, dan melalui karet yang membelikan buku dan baju sekolah saya.

Saya menjelajahi Borneo untuk menceritakan kepada siapa pun, bah orang dayak kita harus menyelamatkan roh hutan kita sebelum ia hilang bersama ekskavator perusahan. Saya mengabdikan hidup saya untuk masyarakat, hutan dan isinya karena saya masih orang DAYAK. Oleh karena itu saya berharap ada lebih banyak orang dayak bisa ikut COP School. Malu kita yang bilang penyelamatan hutan Kalimantan selalu orang Jawa. (NUS)

BERANI DAN BANGGA BERSAMA COP SCHOOL

Nama saya Kharina Waty, Alumni COP School Batch 6. Di tahun 2015 saat membuka Facebook, muncul poster tentang COP School Batch 5. Ya… Saat itu, saya tertarik ikut COP School, tetapi baru ikut di COP School Batch 6 tahun lalu. Waktu itu yang terlintas dibenak saya adalah orangutan terancam punah dengan habitat yang benar-benar akan hilang. Seharusnyalah saya berada di depan untuk melawan kekejaman dan kejahatan satwa liar terutama orangutan, karena saya lahir dibesarkan di Pulau Kalimantan dan sekarang sedang kuliah di Yogyakarta.

Saya terbiasa memiliki satu kenalan saat ikut suatu acara, tetapi di COP School tahun lalu saya bertemu banyak teman baru. Menjadi siswa COP School adalah keberanian dan kebanggan tersendiri buat saya. Bagaimana tidak? Mayoritas siswa-siswi berasal dari luar Yogyakarta yang tak satu orang pun saya kenal. Memulai pertemanan dengan orang-orang baru, beradu argumen dan saling dukung yang bahkan watak aslinya masih kasat mata. Dalam waktu lima hari kami semua tersadar akan pentingnya menjaga satwa liar dan habitatnya dengan segala fakta dan data yang sudah kami ketahui.

COP School selesai dan masing-masing kota membawa rencana program kerja yang akan dilaksanakan 6 bulan ke depan. Rapat koordinasi teman-teman di Yogyakarta diselenggarakan beberapa hari kemudian untuk mematangkan rencana 6 bulan ke depan bersama Orangufriends Yogyakarta lainnya. Banyak kegiatan terlaksana seperti school visit, campus visit, fundraising, pameran Art for Orangutan, wildtrip, pameran Batik for Orangutan bahkan hal-hal di luar itu ikut kami laksanakan bersama Orangufriends lainnya.

Bagi yang beruntung punya banyak waktu akan ikut dalam Penugasan Mandiri bersama Orangufriends lain. Seperti yang pernah saya lakukan yaitu berkampanye tentang Justice Animal di Pengadilan Negeri Bantul, kampanye gabungan Senapan Angin dan penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Tentu saja saat belajar di COP School saya sudah mendapatkan materi berkampanye yang baik dan melakukan penangkapan bersama dengan aman.

Saya tidak akan pernah lupa operasi penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Puji syukur, dalam tiga hari banyak hal saya pelajari termasuk kesabaran, rasa lelah, dan kebanggaan. Benar ada yang berkata, “Suatu hal yang dilakukan dengan perjuangan dan keikhlasan akan berbuah manis.”. Satu bayi lutung dan dua kukang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal. Lutung dan kukang dibersihkan dan diberi buah-buahan, lalu diamankan di Polsek Lamongan.

Perjalanan masih menunggu untuk dua jenis satwa liar tersebut dimana akan diserahkan ke pusat rehabilitasi di Malang. Teman siswa COP School Batch 6 di kota lain berkegiatan dengan caranya masing-masing dan terus terhubung. Saya disini masih berproses bersama Orangufriends. Saya masih belajar dan mencari pengalaman, memantapkan hati menjadi seorang yang peduli akan satwa liar dan habitatnya.

Pelajaran ini tidak akan didapat jika usaha untuk belajar pun nol. Mencari dan berani terjun bersama aktivis lain menjadi keharusan, karena saat itulah kamu akan menemukan pembenaran atas apa yang kamu bela. Memulainya dari “pintu” COP School adalah jalan masuk terbaik. (Kharin_Orangufriends)

COP SCHOOL BATCH 7

“Indonesia memanggil anda untuk terlibat langsung dalam perlindungan satwa liar dan habitatnya. Di COP School kita akan belajar pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi alam bersama para pakar dan praktisinya. Beasiswa tersedia bagi peserta yang lulus seleksi.”
10 – 16 Mei 2017, YOGYAKARTA, INDONESIA.
SIAPA SAJA YANG BOLEH IKUT ?
– Usia minimal 18 tahun, siap mengikuti seluruh sesi pelatihan
– Menghargai kesetaraan gender dan multikultur
– Bukan eksploitator satwa (pemburu, pedagang, dan hobi memelihara satwa liar).
– Membayar sebagian biaya pelatihan sebesar Rp 500.000,-. (makan, kaos, transportasi selama pelatihan). Tidak termasuk transportasi penjemputan.
BAGAIMANA CARA MENDAFTAR ?
– Formulir dan informasi di copschool@orangutan.id
– Pendaftaran 1 Februari s/d 10 Maret 2017.
– Pengumuman Calon Siswa yang diterima tanggal 11 Maret 2017.
– Calon Siswa yang tidak lolos seleksi, dana yang sudah ditransfer akan dikembalikan sebesar Rp 400.000,- dan terdaftar sebagai anggota Orangufriends dan mendapatkan kartu anggota dan newsletter.
#copschool7
SAVE THE ORANGUTAN FROM DELETE

BORNEO KU BERPIJAK

Perjalanan pertama ke pulau Kalimantan atau Borneo adalah sebuah pengalaman yang mungkin paling berkesan dari perjalanan-perjalanan berpetualang lainnya. Jumat 18 Juni 2016 saya berkesempatan tuk singgah di pulau nan kaya akan hasil hutannya yang sangat berlimpah, khususnya Kalimantan Timur. Tepatnya di Pusat Perlidungan Orangutan COP Borneo di KHDTK Labanan, Kabupaten Berau – Kalimantan Timur. Setelah kegiatan COP School di bulan Mei 2016 kemarin, selama lima hari di Yogyakarta yang menjadi daerah pusat COP School dan selebihnya selama satu bulan masih menetap di Jogja. Saya memang berniat untuk menjadi Volunteer dan berbekal materi yang diberikan sewaktu COP School mengenai konservasi Orangutan dan satwa liar serta konflik lapangan yang terjadi, pengalaman di sinilah yang menjadi pembelajaran sebenarnya, karena langsung bersentuhan dengan kegiatan yang hanya disampaikan pada saat COP School saja. Keberangkatan saya ditemani dengan seorang rekan bernama Vian asal Yogyakarta. Setiba di Berau, kami dijemput siswa COP School Batch #6 yang tingel di Berau. COP School menjadikan kami punya keluarga dimana-mana.

Minggu pagi 19 Juni 2016, pukul 05.30 WITA terdengar hembusan angin dan suara kicauan burung yang saling bersautan dengan berbagai suara-suara yang sangat indah serta matahari yang masih belum menampakkan sinarnya hanya bias cahaya yang terselip dari tingginya rerimbunan pohon yang di sekitaran camp.

Setelah kesibukan pagi membereskan camp sekitar 08.00 WITA kami sempatkan untuk berbincang sejenak untuk pembagian kinerja dalam aktivitas di COP Borneo. Saya mendapatkan tugas sebagai teknisi yang menjalankan pembuatan enrichment, kebersihan kandang 1 dan 2, jadwal disinfestasi kandang, kebersihan klinik dan gudang pakan, serta beberapa kinerja lainnya di area COP Borneo. Vian mendapatkan pembagian kinerja sebagai keeper yang bertugas untuk membawa Orangutan ke Sekolah Hutan dan menyiapkan susu serta pakan Orangutan.

Seperti kata keeper Jeuri dan Rosel, orangutan Michelle dan Pingpong lebih agresif bila ada orang baru yang datang, lain halnya dengan orangutan Uci. Beda lagi dengan Owi, bayi yang masih berumur sekitar satu tahunan, ingin selalu dipeluk. Aku menjadi ibu untuknya. (PETz)

COP SCHOOL BATCH #6 ARRIVED

Selamat datang para siswa COP School Batch #6 di Camp APE Warrior. Camp para pejuang Centre for Orangutan Protection.
18 Mei 2016, ini akan menjadi awal perjalanan, bersiap menemukan fakta di lapangan, menyelaraskan keinginan, pikiran, pengalaman dan kenyataan. Mari berbuat sesuatu dari yang kecil. Tetap semangat, menghadapi tantangan. Seribu satu jalan ke Roma… pastikan kita tidak berhenti saat menemukan halangan.
‪#‎COPSchool6‬ harapan itu masih ada.

JOIN COP SCHOOL BATCH #6

Suka nonton tayangan Animal Planet, Discovery Channel dan National Geographic? Meskipun ceritanya mengenai alam dan satwa liar Indonesia, tapi para pelakunya kebanyakan orang asing. Kemanakah anak – anak muda Indonesia? Apakah memang tidak peduli? Atau tidak tahu bagaimana caranya terlibat?
Indonesia memanggil anak-anak mudanya untuk aktif terlibat melindungi alam dan satwa liarnya. Ini tanah air kita, ini satwa liar kita. Centre for Orangutan Protection (COP) membuka kesempatan, saluran dan wahana belajar dan kemudian bekerja sebagai pegiat konservasi. Para alumni COP SCHOOL kini tersebar di berbagai program konservasi satwa liar.
Pelatihan akan terbagi dalam 2 (dua) sesi, yakni sesi kelas dan luar kelas pada tanggal 18-22 Mei 2016 di COP Camp Yogya. Para siswa akan belajar teori dasar konservasi alam dan satwa liar serta komunikasi praktis. Di sini para siswa akan dilatih oleh para praktisi konservasi dan komunikasi dari dalam dan luar negeri. Selanjutnya, para siswa akan mendapatkan penugasan mandiri dan kelompok selama 6 bulan (Juni – November 2016) dan diceburkan langsung ke program – program konservasi COP dan organisasi mitranya. COP School adalah lingkungan
pendidikan yang multikultur dan menghargai kesetaraan gender.
SIAPA SAYA YANG BOLEH IKUT?
– Usia minimal 18 tahun, sehat jiwa raga.
– Bukan exploitator satwa (pemburu,
pedagang dan hobi pelihara satwa liar).
– Membayar Rp 450.000, fasilitas yang
didapat yaitu makan,transport lokal saat
pelatihan berlangsung (Tidak termasuk
penjemputan kedatangan peserta).
– Bagi mahasiswa tersedia beasiswa
(kuota terbatas)
– Formulir dan info di hery@cop.or.id
atau di 081284834363
– Pendaftaran terakhir 12 April 2016
– Pengumuman calon siswa yang
diterima tanggal 30 April 2016
– Calon siswa yang tidak lolos seleksi,
dana yang sudah ditransfer akan
dikembalikan sebesar Rp.300.000,
dan terdaftar sebagai anggota
Orangufriends dan mendapatkan
kartu anggota, newsletter serta
fasilitas lainnya.

AT FIRST IT WAS JUST COP SCHOOL

Bandung, the metropolitan city in which I was born, is more familiar with fashion and cuisine than environmental issues. Until one day, a question suddenly appeared in my mind, “What have I given to nature?” A question that I myself could not answer.

In early 2015, I received information about COP School Batch #5 in Yogyakarta. Without a second thought, I took a shot at applying to be a COP School student for Batch #5. Luckily, I passed the administration phase and was able to proceed to undertaking the assignments given to me by COP. From there I began to learn little by little about the state of the forests and wildlife at the time. It was pretty sad, it seemed.

I passed the selection process and continued on in Yogyakarta. In early June 2015 for the first time I was able to meet face to face with others who had the same desire as I did, to help the lives of wild animals and their habitat. I even acquired new material on everything from orangutans and their enrichment, the rescue process, creating action with presenters that were not only Indonesian people who were experts in their field, but also people from Canada and the Philippines.

At the end of September, I was given the opportunity to become a COP volunteer. Banjarbaru, South Kalimantan, was my first stop. In Van der Pijl Park, I, along with the Banjarbaru orangufriends, Elin Evita and Indira, made renovations to the animal enclosures and fed the animals. I spent 30 hours alongside the APE CRUSADER team, who carried out the rescue of orangutans Septy and Njoto, and brought them to the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Centre, East Kalimantan. Sadness blanketed my mind. My image of a Kalimantan filled with forests vanished. All there was was palm oil plantations, timber plantations, and mines. Even forest fires were considered normal. So this is the real condition of Kalimantan, the place they call the ‘lungs of the world’.

Two months of following the process of “forest school”, caring for sick orangutans, and releasing orangutans onto their own island made the 2015 year a truly meaningful one. Not only that, I even learnt to assimilate with the Dayak tribe that lives in Merasa village. What else are you waiting for! You, too, can be a part of helping to save the wildlife and their habitat by joining COP SCHOOL BATCH #6. You’re guaranteed to make new friends and incredible experiences that you will never forget. (Ikhwanussafa Sadidan, COP School Batch #5 Alumni)

AWALNYA HANYA COP SCHOOL
Bandung yang menjelma menjadi kota metropolitan dimana saya dilahirkan lebih mengenal fashion dan kuliner dibandingkan isu lingkungan. Hingga pada suatu hari, sebuah pertanyaan tiba-tiba hinggap dibenak saya, “Apa yang sudah saya berikan pada alam?” Pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya.

Awal tahun 2015, saya mendapatkan informasi COP School Batch #5 di Yogyakarta. Tanpa berfikir panjang akhirnya saya mencoba untuk mendaftarkan diri menjadi siswa COP School Batch #5 ini. Beruntung saya lolos tahap seleksi administrasi dan bisa lanjut untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh COP. Dari situ saya mulai mengetahui sedikit demi sedikit mengenai keadaan hutan dan satwa saat itu. Cukup miris rasanya.

Lolos seleksi dan melanjutkannya di Yogyakarta. Awal Juni 2015 untuk pertama kalinya saya bertemu langsung dengan teman-teman yang memiliki keinginan yang sama untuk membantu kehidupan satwa liar dan habitatnya. Materi baru pun saya peroleh mulai dari orangutan dan enrichmentnya, bagaimana rescue, membuat aksi dengan pemateri yang tidak hanya orang Indonesia yang ahli di bidangnya, tetapi ada yang dari Canada serta Filipina juga.

Akhir September 2015, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan COP. Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah persinggahan saya yang pertama. Di Taman Van der Pijl saya bersama orangufriends Banjarbaru, Elin Evita dan Indira merenovasi kandang satwa dan memberi pakan satwanya.

Sepanjang 30 jam bersama tim APE CRUSADER yang melakukan rescue orangutan Septy dan Njoto dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Perasaan sedih menyelimuti pikiran saya. Bayangan tentang Kalimantan yang dipenuhi hutan sirna. Yang ada perkebunan sawit, kayu, dan pertambangan. Kebakaran hutan pun seperti hal yang sangat biasa. Ternyata seperti inilah kondisi nyata Kalimantan yang digadang-gadang sebagai paru-paru dunia itu.

Dua bulan mengikuti proses sekolah hutan, merawat orangutan yang sakit, hingga melepasliarkan orangutan ke pulau menjadikan tahun 2015 begitu bermakna. Tidak hanya itu, saya pun belajar berbaur dengan Suku Dayak yang tinggal di desa Merasa. Tunggu apalagi! Mari ikut membantu menyelamatkan satwa dan habitatnya dengan mengikuti COP SCHOOL BATCH #6
Dijamin kalian akan mendapatkan teman dan pengalaman yang hebat dan tak terlupakan.(Ikhwanussafa Sadidan, alumnus COP School Batch #5)

Page 3 of 612345...Last »