COP School

THEM , AFTER COP SCHOOL

Elizabeth, Syaifulloh and Satria are alumni of COP School Batch #1. Along with Alivia, which is an alumni of COP School Batch #5, they are currently attending a training on Enrichment Facility to Improve Animal Welfare held by BOS Foundation. Now they run the Animal Rescue Center in South Sumatra and East Kalimantan .

Meanwhile, veterinarian Ade Fitria, an alumni of COP School Batch #2 is attending a training on Animals Eye Treatment on IAR ORANGUTAN Rescue Center in Ketapang. Her colleague, Paulinus, an alumni of Batch #1 is currently in Japan to meet up with the supporters and to present about forest protection from fire and palm oil .

For those who want to seriously engage to the world of nature conservation , COP School is the right choice . Please contact hery@cop.or.id for more informations and registration.

MEREKA, SETELAH COP SCHOOL

Elizabeth, Syaifulloh dan Satria adalah siswa COP School Batch 1, bersama Alivia yang merupakan siswa COP School Batch #5 saat ini sedang mengikuti pelatihan Pengkayaan Fasilitas untuk Meningkatkan Kesejahteraan Satwa di Yayasan BOS. Mereka adalah para alumni COP School yang sekarang mengelola Pusat Penyelamatan Satwa di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur.

Sementara itu, dokter hewan Ade Fitria siswa COP School Batch #2 sedang berada di Pusat Penyelamatan ORANGUTAN IAR di Ketapang untuk menjalani pelatihan Pengobatan Mata Satwa. Rekannya yang lain, PAULINUS siswa COP School Batch #1 sedang berada di Jepang untuk bertemu dengan para pendukung dan mempresentasikan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran. 


Bagi kalian yang ingin serius terjun dalam dunia konservasi alam, COP School adalah pilihan yang tepat. 
E-mail ke : hery@cop.or.id untuk mendaftar.

FUN RAFTING FOR ORANGUTAN

No idea where to go for vacation? Let’s join orangufriends’ activity! They always have creative ideas to help Orangutans! Yes, this is one of many ways to raise fund for COP Borneo! COP Borneo is an Orangutan Rehabilitation Center in Labanan, East Borneo. There are 16 Orangutan which are being rehabilitated and need financial support. You can help them just by taking part in Fun Rafting for Orangutan on February 21, 2016 at Elo River. “This is an easy and fun way to help Orangutans,” said Zakia, Orangufriends coordinator. Please feel free to contact her: 089617027148 (WA), 081221810049 (SMS)

Bingung mau liburan kemana? Nyobain acara kreatifnya orangufriends Yogyakarta yang merupakan siswa COP School. Ide mereka itu ngak pernah ada habisnya. Apa saja yang bisa mereka bantu, mereka akan segera bergerak. Ya, ini adalah salah satu acara untuk mencari dana untuk COP Borneo. COP Borneo adalah nama pusat rehabilitasi orangutan di Labanan, Kalimantan Timur. Pusat yang saat ini dihuni 16 orangutan, masih memerlukan dukungan dana dari semua pihak.
Jadi liburan kali ini diisi dengan berarung jeram ya. 21 Februari di sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. “Cara mudah dan menyenangkan membantu Orangutan.”, ujar Zakia, koordinator Orangufriends.
Silahkan hubungi Zakia di 089617027148 (WA) atau di 081221810049 (SMS/Telp)

ME, COP SCHOOL AND KALIMANTAN

Saya hidup di Kalimantan dan saya mengenal begitu baik budaya hidup di Kalimantan. Saya di besarkan di tengah-tengah hutan di Kaki bukit Merangat, yang terletak di Desa Laung, Kecamatan Seberuang. Saya sangat memahami sistem alam di sekitar mulai dari air jatuh di puncak bukit Merangat hingga sampai di Muara Sungai Batang Seberuang. Saya memahami setiap pohon yang tumbuh hingga ia berbuah dan burung berkumpul di atasnya serta babi membuat kubangan di bawahnya.

Suatu hari saya naik di atas puncak Bukit Merangat, di atas sana saya bisa melihat hutan yang begitu luas di depan ladang kami. Hutan yang tidak ada hujungnya seperti di dalam buku IPS yang mengajarkan tentang Kalimantan adalah Lautan Hutan.

Tahun 2004 saya meninggalkan desa Laung, dan sepanjang perjalanan hanya terlihat hutan dan sungai yang membelahnya hingga tiba di kota Sintang.

Tahun 2010 aku kembali ke sana, tepat setelah 6 tahun aku tidak pernah melewati jalan tersebut. Sungguh apa yang aku lihat adalah perkebunan kelapa sawit serta tankI CPO melintas membelah hutan. Tidak aku pahami apa yang terjadi sampai suatu hari saya keluar dari Kalimantan untuk melihat semua itu dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata semua TIDAK BAIK-BAIK SAJA.

Tahun 2011 saya memiliki kesempatan untuk mengikuti COP School Bacth #1 di Jogjakarta, sebuah pelajaran yang saya terima tentang tanah dimana saya di lahirkan. Saat itu saya satu-satunya peserta COP School yang berasal dari Kalimantan. Di sanalah mata saya terbuka bahwa hutan yang hidup bersama saya di pedalaman Kalimantan secara perlahan telah menghilang dan akan terus seperti itu jika tidak dihentikan. Saya sangat memahami apa yang akan terjadi dengan orang di pedalaman seperti saya ketika hutan hilang. Bahan bangunan rumah kami berkurang, sungai-sungai kami tercemar, kampung kami masuk di dalam ijin usaha perkebunan dan di sana tidak ada cara untuk bertahan hidup dengan sistem lama yang diajarkan oleh leluhur kami.

Wahyuni, salah satu pendiri Centre for Orangutan Protection pernah berkata kepada saya, “Kita tidak harus menang, yang kita harus lakukan adalah membuktikan.”. COP School mengajarkan saya untuk melihat sisi lain dari Konservasi Orangutan bukan hanya tentang membantu menyelamatkan populasI orangutan, tetapi juga hutan sebagai sumber dari banyak kehidupan.

Saya adalah Paulinus Kristianto, putra pedalaman Kalimantan Barat.
Bergabunglah bersama COP School Bacth #6, dan buktikan kita melawan untuk hutan di tanah KALIMANTAN, INDONESIA. (NUS)

COP SCHOOL BATCH #6 DIBUKA

COP School adalah kegiatan tahunan yang dirancang untuk mencetak generasi muda dengan kepedulian terhadap lingkungan dan satwa liar. Siswa COP School akan belajar langsung dengan praktisi konservasi, mendapatkan berbagai materi konservasi orangutan dan lingkungan di Indonesia.

ETCHING, SHARE and FUN

Monthly class for January 2016 is a little different than usual because there was a direct practice. The participants practiced the technique which is very rarely used, whereas this technique was highly influential in the development of propaganda or mold reduplication technique. This technique is known as “etching technique”. The monthly class was held in cooperation with a group which is called Club Etsa.

Etching is basically like making prints in a metal plate and it can be used for recuring printing. Metal plate is covered with permanent ink and then painted with scratch-resistant tools such as needles/ spikes.

Excitement occured when the plate was being soaked in  HCL. Everyone was free to pick color and print it repeatedly. Historically, this technique was used for spreading propaganda in order to influence a situation or policy. Hopefully, this technique could be used to say “save orangutans”. (DAN)

Kelas bulanan untuk bulan Januari 2016 ini sedikit berbeda dari biasanya karena ada praktek langsung. Praktek langsung bagaimana teknik cetak yang sudah sangat jarang digunakan padahal teknik ini sangat berpengaruh dalam perkembangan propaganda atau teknik penggandaan cetakan. Teknik ini dikenal dengan nama “etching” dan kelas bulanan Yogyakarta bekerjasama dengan sebuah kelompok kerja seni yg sering disebut Club Etsa Yogyakarta.

Etsa pada dasarnya seperti membuat cetakan dalam lempeng logam dan nantinya bisa digunakan berulang-ulang pencetakannya. Lempengan logam yang ditutupi dengan tinta permanen kemudian dilukis dengan alat gores seperti jarum/paku yang disebut dengan etching.

Keseruan terjadi ketika lempengan sudah diproses dalam rendaman kimia HCL dan siap sebagai bahan utama cetakan. Semua orang bebas menggunakan warna dan mencetaknya berulang-ulang. Dalam sejarahnya cetakan etsa yang penuh dengan propaganda dan disebar sebanyak mungkin digunakan untuk mempengaruhi suatu keadaan atau kebijakan. Semoga teknik ini bisa digunakan untuk mengatakan “selamatkan orangutan”.

CHAIN OFF OF GIBBON, WHEN WE CARE

Elin Alvita is a member of Orangufriends Banjarbaru who is also an alumni of COP School Batch #5. Seeing the three long-tailed monkeys, two monkeys, a bornean gibbon and the Tongtong stork which lived in a low welfare at Van Der Pijl Park Banjarbabaru, Elin took the initiative to make improvements. It was not easy, but the Orangufriends and she got a huge support and were finally able to help the animals to get a better life.

Getting license from the Department of Sanitary and Landscaping Banjarbaru, Elin made a huge effort to raise fund by selling bornean gibbon t-shirt and organizing music concerts Fund for Park on September 26, 2015. In this fund-raising, Elin got both moral and material support from various communities and bands that toned up this event. The communities that have helped Elin were Morning Art Media Creative, WALHI South Kalimantan, Mapala Piranha, and Butze Tako. Meanwhile, the bands that have enliven the Fund for Park were Soul Cry, Sunday High Club, Hello Kitty Berkumis, Jokes of Superboys, Dreamtree Reggae, Seven Ways To Sunday and Buddy Guy Project. Aside from the community and the band, Elin also got financial support from Rumah Makan Semua Senang, Oasis Adventurous Stuff, and the donors who have bought the bornean gibbon t-shirts. From the donations and activities, Rp 8,923,800.00 where collected to be used in repairing the animal enclosure at Park Van der Pijl Banjarbaru.

The enclosure repairing was done in in October and December. The intentions were to remove the chain on animals’ stomachs and to better the animals’ life. In addition to fixing the cage, information boards about animals were also added to enrich the visitor information about the animals. This effort really helped the animals in the Van Der Pijl park to get its’ welfare. This couldn’t be done without the support of various parties mentioned above. Therefore, Elin and Orangufriends Banjarbaru would like to thank them all. (KIA)

RANTAI PUN LEPAS DARI OWA, SAAT KITA PEDULI

Elin Alvita adalah anggota Orangufriends Banjarbaru yang juga merupakan alumni COP School Batch #5. Berangkat dari keprihatinannya melihat rendahnya kesejahteraan tiga monyet ekor panjang, dua beruk, satu Owa Kalimantan dan satu bangau Tongtong di Taman Van Der Pijl Banjarbabaru, Elin berinisiatif melakukan perbaikan. Hal ini tidak mudah dilakukan. Akan tetapi berkat dukungan dari berbagai pihak, akhirnya Elin bersama Orangufriends Banjarbaru yang lain berhasil membantu satwa-satwa tersebut untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Setelah selesai mengurus perijinan ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan Banjarbaru, Elin melakukan penggalangan dana dengan menjual kaos bergambar Owa Kalimantan dan menyelenggarakan konser music Fund for Park pada tanggal 26 September 2015. Dalam penggalangan dana ini, Elin banyak mendapatkan dukungan baik moral maupun material dari berbagai komunitas dan band-band yang mengisi acara ini. Komunitas bekerja suka rela membantu Elin adalah Morning Art Media Creative, Walhi Kalsel, Mapala Piranha, dan Butze Tako. Sementara itu, band yang memeriahkan acara Fund for Park di antaranya Soul Cry, Sunday High Club, Hello Kitty Berkumis, Jokes of Superboys, Dreamtree Reggae, Seven  Ways To Sunday dan Buddy Guy Project. Selain dari komunitas dan band, Elin juga mendapatkan bantuan material dari Rumah Makan Semua Senang, Oasis Adventurous Stuff, dan donator-donatur yang membeli kaos Owa. Dari donasi dan kegiatan tersebut, terkumpul dana sebesar Rp 8.923.800,00 yang kemudian digunakan untuk memperbaiki kandang satwa di Taman Van der Pijl Banjarbaru.

Perbaikan kandang dilakukan dalam dua bulan, yaitu pada bulan Oktober dan Desember dengan target satwa yang dirantai di perut bisa dilepaskan dan satwa bisa lebih nyaman di dalam kandang. Selain memperbaiki kandang, papan informasi mengenai satwa juga ditambahkan untuk memperkaya informasi pengunjung mengenai satwa-satwa yang ada di Taman Van Der Pijl. Berkat inisiatif Elin tersebut, satwa-satwa di Taman Van Der Pijl dapat hidup lebih sejahtera. Keberhasilan Elin dalam menggerakkan Orangufriends Banjarbaru untuk memperbaiki kesejahteraan satwa-satwa tersebut tentunya tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu, Elin dan Orangufriends Banjarbaru mengucapkan terima kasih kepada semua pihak ikut peduli tersebut. (KIA)

ORANGUFRIENDS BOUGHT AN ISLAND FOR ORANGUTANS

Couple weeks ago, the members of Orangufriends organised charity music concert titled Sound For Orangutan. They raised 2000 dollar. We agreed to use the money to buy an island in the stream of Kelay River, East Kalimantan. This island will be use as university or pre release site before the rehab orangs being released back to wild next year.

Now we need to buy a boat and also enrich the island. We need at least 2500 for this project. This could the best Christmas gift ever for orangutans. Just hit the donation button:

https://www.facebook.com/saveordelete/app/415675701824636/

Beberapa minggu lalu, para anggota Orangufriends mengadakan pertunjukan musik amal bertajuk Sound For Orangutan. Mereka berhasil menggalang dana sebesar 20 jutaan rupiah. Kita telah sepakat menggunakannya untuk membeli sebuah pulau di aliran sungai Kelay di Kalimantan Timur. Pulau ini akan difungsikan sebagai universitas atau pulau pra pelepasliaran sebelum orangutan rehab kami dilepasliarkan ke alam bebas tahun depan.

Saat ini kami membutuhkan dana untuk membeli sebuah perahu dan juga memperkaya pulau. Kami membutuhkan setidaknya 25 jutaan untuk proyek ini. Ini mungkin akan menjadi kado Natal terbaik bagi orangutan. Klik saja tombol donasi di atas ya. TERIMA KASIH.

#SFO BANJARBARU, FUND FOR PARK

Indonesia should be proud. The young people of Orangufriends, the support group for the Centre for Orangutan Protection, have created a music event aiming to raise financial support for orangutans and their habitat. Sound for Orangutan the annual music event, originally held only in Jakarta since 2011, is now spreading to Yogyakarta and South Kalimantan, specifically Banjarbaru.

The Sound for Orangutan (SFO) event in Van Der Pijl Park, Banjarbaru, South Kalimantan, was also titled “Fund for Park”. Elin Alvita, coordinator of SFO Banjarbaru, stated “In Van der Pijl Park there are several wild animals such as long-tailed macaques, pig-tailed macaques, gibbons, and lesser storks currently in unsatisfactory enclosures. We at Orangufriends seek to repair and improve these cages to give a better quality of life to the animals in Van der Pijl Park”

Orangufriends worked together with Morning Art to realise the dream of SFO in Kalimantan. Live music was provided by the bands Soul Cry, Buddy Guy Project, Sunday High Club, Joke of Superboys, Seven Ways to Sunday, Hello Kitty Berkumis and Dreamtree Reggae. The event also featured movie screenings about the issues of deforestation, and discussions about COP and fundraising. This is all part of Orangufriends’ efforts to motivate more and more people to care about wildlife. Save or Delete, you decide!

#SFO BANJARBARU, FUND FOR PARK
 
Indonesia patut berbangga. Anak-anak mudanya yang tergabung dalam Orangufriends yaitu kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection, membuat acara musik bertujuan menghimpun bantuan dana untuk orangutan dan habitatnya. Sound for Orangutan, acara musik tahunan yang semula hanya diadakan di Jakarta sejak tahun 2011 lalu, kini menjalar ke kota Yogya dan Kalimantan Selatan tepatnya Banjarbaru. 
 
Sound for Orangutan sering disingkat SFO, 26 September 2015 bertajuk “Fund for Park” dilaksanakan di Taman Van der Pijl, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Elin Alvita sebagai koordinator SFO Banjarbaru menyampaikan, “Pada Taman Van der Pijl terdapat beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, beruk, owa dan bangau tongtong yang berada dalam kandang yang kurang sejahtera. Kami, Orangufriends berupaya untuk memperbaiki kandang tersebut dan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk satwa di Taman Van der Pijl ini.
 
Orangufriends bekerjasama dengan Morning Art untuk mewujudkan mimpi SFO di Kalimantan. Live music yang diisi oleh band Soul Cry, Buddy Guy Project, Sunday High Club, Joke of Superboys, Seven Ways to Sunday, Hello Kitty Berkumis dan DreamtreeReggae. Acara juga diselingi dengan movie screening mengenai pembabatan hutan, diskusi tentang COP dan penggalangan dana. Semua ini merupakan usaha Orangufriends untuk mengajak lebih banyak lagi yang peduli pada satwa. Save or Delete, you Decide!

ORANGUFRIENDS SAMARINDA GOES TO GRAMEDIA

On Saturday the 26 of September 2015, the book store Gramedia in Big Mall Samarinda East Kalimantan invited Orangufriends to present introductory material on world wildlife, including orangutans.
Participants who attended included approximately 40 kindergarten students from TK Komino Samarinda.
The activity began with games run by Gramedia Big Mall and was followed with the delivery of materials by Orangufriends to introduce world wildlife and orangutans.

The material that was presented included several photos and the showing of Face In The Forest, a video about life in the forest. The particpiants who were aged between 3 and 5 years old, enthusiastically looked at photos and also introductory photos of orangutans and how they live in the wild. It was not only the children who were enthusiastically examining the materials, but also thier parents who accompanied them along with the Gramedia team themselves. After the presentation was finished, questions were asked.   Several of the students enthusiastically answered the questions thrown at them and recieved a prize of an orangutan pin for their bravery.

We believe that introducing world wild life, especially orangutans, to kindergarten students in Gramedia Big Mall is the first step in generating an on going wider public awareness of wildlife. thankyou to Orangufriends Samarinda, Inggrid, Indah and Fatima who particpated. (OrangufriendsIndah)

 

ORANGUFRIENDS SAMARINDA GOES TO GRAMEDIA

Sabtu, 26 September 2015. Orangufriends Samarinda berkesempatan diundang oleh Gramedia (toko buku) Big Mall Samarinda, Kalimantan Timur untuk mengisi materi pengenalan satwa-satwa di dunia termasuk orangutan. Peserta yang hadir merupakan siswa-siswi TK Komimo Samarinda dengan jumlah kurang lebih 40 peserta. Kegiatan diawali dengan permainan dari pihak Gramedia Big Mall. Dilanjutkan dengan penyampaian materi pengenalan satwa di dunia dan orangutan oleh Orangufriends Samarinda.

Materi yang disampaikan berupa slide foto dan pemutaran video tentang kehidupan di hutan, Face In The Forest. Peserta yang rata-rata berusia 3-5 tahun ini terlihat antusias menyimak materi yang berupa foto berbagai macam satwa yang ada di dunia dan juga foto-foto pengenalan orangutan dan bagaimana kehidupan orangutan di alam liar. Tidak hanya para siswa yang terlihat antusias dan tertarik menyimak materi, tetapi juga para orangtua yang mendampingi serta kru Gramedia sendiri. Setelah penyampaian materi dan pemutaran video selesai dilanjutkan dengan tanya jawab. Tidak sedikit dari para siswa yang bersemangat menjawab pertanyaan yang dilontarkan dan mendapatkan hadiah berupa pin orangutan karena telah berani menjawab pertanyaan.

Kami percaya pengenalan terhadap satwa-satwa di dunia khususnya satwa dilindungi termasuk orangutan kepada siswa-siswi TK di Gramedia Big Mall merupakan langkah awal dalam penyadartahuan terhadap khalayak yang lebih luas lagi selanjutnya. Terimakasih kepada Orangufriends Samarinda Inggrid, Indah, dan Fahmi yang telah berpartisipasi (OrangufriendsIndah).

LEARN FROM THE BEST

Jamartin, Panut and Hardi are back to COP School. They confirmed to be there as mentor. Jamartin, the CEO of the BOS Foundation and Panut, the Founding Director of the YOSL/ OIC are among the mentors of the COP since since Batch #3 back in 2013. Hardi himself is the Principal of COP.

These 3 key people in orangutan conservation world believe that training the new generation of animal activists in a strategic investment for our future. Especially since the animal activism is something “strange” in a developing country like Indonesia.

More than 135 people were train in COP School and they play important role in many conservation projects in Indonesia. COP has started COP School back in 2010 and now it is likely being join education project between COP, BOSF and YOSL / OIC. Since Batch #3 (2013), we also accept foreign students. For this year, we have students from Malaysia and Korea.

 

BELAJAR DARI YANG TERBAIK.

Jamartin, Panut dan Hardi kembali ke COP School. Mereka telah mengkonfrmasi akan hadir sebagai pelatih. Jamartin, CRO dari Yayasan BOS dan Panut, Direktur Pendiri YOSL / OIC adalah sebagian dari para pelatih di COP School sejak Batch #3 di tahun 2013. Hardi sendiri adalah Kepala di COP.

3 orang kunci di dunia konservasi orangutan ini percaya bahwa pelatihan generasi baru di bidang “Animal Activism” adalah investasi strategis untuk masa depan kita. Terutama sejak hal itu dipandang sebagai sesuatu yang asing di negeri berkembang seperti Indonesia.

Lebih dari 135 orang sudah dilatih di COP School dan mereka memainkan peran penting di banyak proyek konservasi di Indonesia. COP memulai COP SChool di tahun 2010 dan sekarang nampaknya sudah menjadi semacam program bersama bagi COP, BOSF dan YOSL/OIC. Sejak Batch #3 (2013) kami menerima siswa asing. Untuk tahun ini, mereka berasal dari Malaysia dan Korea.

 

Page 3 of 41234