PENARIKAN LECI DAN UNTUNG DARI PULAU ORANGUTAN

Jalan untuk pulang ke rumah di mulai. Leci dan Untung mulai dipindahkan dari pulau orangutan ke kandang karantina. Berpacu dengan waktu, saat bius mulai mempengaruhi kesadaran kedua orangutan yang sudah tak jinak lagi. Tik tok tik tok… angkat dan masukkan ke kandang lalu naikkan ke perahu… menyeberangi sungai Kelay, Berau, Kalimantan Timur.

Tak kalah gesitnya, tim medis di seberang pulau bersiap untuk mengambil sample darah untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan kesehatan. Membawa orangutan di dalam kandang yang cukup berat tentu saja menguras tenaga. “Tapi kami harus bergerak cepat, bius tak bisa bertahan lama. Membawa kedua orangutan ke kandang karantina benar-benar menguras tenaga.”, ujar Danel Jemy.

“Iya taruh di alas itu. Yuk siap mencatat ya… jumlah gigi, lingkar perut, panjang tangan, kaki, tulang belakang dan saatnya mengambil darah.”, demikian instruksi drh. Flora Felistitas. 28 Februari 2018 adalah hari kedua pemindahan orangutan dari pulau ke kandang karantina untuk pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Bantu COP Borneo untuk mengembalikan orangutan ke habitatnya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Kita orang Indonesia bisa untuk orangutan Indonesia.

PEMINDAHAN NOVI DAN UNYIL KE KANDANG KARANTINA

Masih ingat orangutan Novi? Orangutan dengan leher terikat rantai yang berada di bawah kolong rumah dan berteman seekor anjing. Tahun ini pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo akan melepasliarkan orangutan-orangutan penghuni pulau orangutannya dan Novi adalah salah satu kandidat terbaiknya. “Sungguh luar biasa perkembangan Novi selama di pulau. Itu sebabnya kami akan mengevaluasi kesehatannya untuk selanjutnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologist COP.

Secara bersamaan, tim APE Defender juga memindahkan orangutan Unyil. Unyil adalah orangutan yang dipelihara di dalam kamar mandi. “Unyil lebih unik lagi. Perkembangan pesat yang berhasil ditunjukkannya memaksa kami harus memindahkannya ke pulau orangutan, padahal saat dia pertama kali datang ke COP Borneo dengan rambutnya yang direbonding, sempat membuat kami pesimis. Apalagi pola makannya yang selama pemeliharaan ilegal itu, sama persis dengan makanan manusia. Untuk makan saja, Unyil didulangi seperti anak kecil sama pemeliharanya. Awalnya saya pikir ini akan jadi PR besar. Seperti saat Unyil memakan telur dengan cangkangnya, dia juga tak bisa mengupas buah-buahan berkulit yang kulitnya tak bisa dimakan.”, kenang Reza Kurniawan tentang Unyil.

Novi dan Unyil pada 27 Februari 2018 dipindahkan dari pulau orangutan ke kandang karantina. Kedua orangutan ini menjalani tes kesehatan dan pengukuran data fisik lengkap. “Ini adalah kerja besar yang selama seminggu ini. Ada dua orangutan lainnya yang akan ditarik dari pulau juga untuk menjalani pemeriksaan akhir sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.”, demikian penjelasan Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP dengan bersemangat.

Bantu COP Borneo lewat Bahwa orang Indonesia peduli pada satwa liar endemiknya terutama orangutan.

TIGA BINTURUNG DISELAMATKAN DARI COFFEE SHOP

Jiwa muda yang tak mengenal kata lelah. Mereka yang terus menelisik keberadaan kepemilikan ilegal satwa liar. Saat bercanda dan menghabiskan waktu dengan menikmati secangkir kopi di Gartenhaus, Malang. Tak mudah mencarinya, tak ada nomor rumah apalagi plang nama. Dengan desain interior yang apik dirimbunnya pepohonan, membawa kita berada pada suasana yang sangat berbeda. Lebih berbeda lagi dengan kehadiran lima kandang besi berisi satwa yang tak bersuara sama sekali.

Owh… ternyata ada musang luwak. Dari kopi yang telah dimakan musang inilah yang akhirnya membawa cita rasa kopi luwak menjadi begitu terkenalnya. Tak hanya musang, di kandang sebelah terlihat mahkluk yang lebih besar, yang ternyata adalah Binturung (Arctictis binturong), satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang. “Tak tangung-tanggung, ada 3 binturung yang harus bekerja menghasilkan kopi luwak ini.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Sebelum sholat Jumat, KSDAE Malang beserta Gakkum KLHK Jawa Timur melakukan penyitaan dibantu Centre for Orangutan Protection, Orangufriends Malang dan Animals Indonesia.

Undang – Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bahkan sudah tertalu tua. Hukuman bagi para pelanggarnya adalah ancaman maksimum penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah sudah tidak relavan lagi. “Binturung diperjual-belikan di pasar ilegal sebesar Rp 5.000.000,00 hingga Rp 7.000.000,00. Belum lagi kerusakan ekosistem dengan menghilangnya Binturong di habitatnya. Apakah itu sebanding?”, ujar Hery Susanto.

HARDI UNTUK KULIAH KAPITA SELEKTA DTETI UGM

Kapita Selekta adalah sebuah mata kuliah untuk mempersiapkan mahasiswa tingkat akhir dalam penyusunan skripsi. Selain sebagai sarana persiapan, mata kuliah ini juga menuntun mahasiswa agar dapat menyiapkan skripsinya dengan lebih tepat dan terarah. Menariknya, kuliah digelar dengan mendatangkan prmbicara-pembicara inspiratif yang telah menggeluti dunia kerja.

Ruang kuliah E6 lantai 3 DTETI (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi) UGM mulai dipenuhi mahasiswa. Tepat pukul 08.00 WIB, materi “The Eco-Warriors: Deforestation and Orangutan Conservation”, dimulai.

“Wow… mahasiswa sekarang kritis dengan analisa. Dunia pendidikan memang semakin maju dengan semakin luasnya cara untuk mendapatkan informasi.”, ujar Hardi Baktiantoro, pemateri yang diundang UGM. Kalau dulu, teori terasa begitu jauh sekali dengan kenyataan di lapangan. Namun sekarang, mahasiswa diharapkan untuk tidak melihat jurang tersebut, dan siap menghadapi tantangan usai duduk di kampus.

ELANG SITAAN COP DILEPAS JOKOWI

Bandung – Setelah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 6 bulan di Pusat Konservasi Elang Kamojang akhirnya 2 elang Jawa hasil sitaan COP di Malang Jawa Timur merasakan kehidupan bebas di habitatnya. Kedua elang Jawa yang diberi nama Gendis dan Luken ini dilepasliarkan oleh presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo di Situ Cisanti Bandung pada 22 Februari 2018.

Gendis dan Luken adalah 2 dari 15 ekor elang yang berhasil didapatkan dari 2 orang pedagang satwa dilindungi di Malang, Jawa Timur pada Juli 2017. Ke 15 ekor Elang tersebut lalu dititipkan di Pusat Konservasi Elang Kamojang di Garut untuk menjalani proses rehabilitasi. Dan dari 15 ekor elang tersebut 5 diantaranya adalah elang Jawa yang diyakini merupakan lambang negara Indonesia. Kedua pedagang ini digrebek secara bersamaan di rumah masing-masing oleh tim gabungan Centre for Orangutan Protection, Animals Indonesia, Gakkum KLHK dan Polres Kepanjen Malang. Kedua orang tersangka berinisial AD dan GP ini sekarang masih mendekam di balik jeruji karena dikenakan sanksi 1 tahun kurungan penjara oleh pengadilan negeri Malang.

“Kami sangat senang bisa melihat kedua elang Jawa tersebut hidup bebas kembali di alamnya karena memang sudah sepatutnya mereka hidup di alam bebas bukan di kandang para eksploitator yang ngakunya pecinta satwa.”, kata Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime dari Centre for Orangutan Protection.

“Sudah saatnya para pedagang satwa dilindungi ini dihukum dengan hukuman maksimal agar memberikan efek jera.”, tambah Hery.

Memperjual belikan satwa dilindungi itu melanggar undang-undang no 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang mana dapat dikenakan sanksi pidana dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. (HS)

REKONSTRUKSI PENEMBAKAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Rabu, 21 Februari 2018 tim penyidik Satreskrim Polres Kutim menggelar rekonstruksi kasus penembakan orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya. Keempat tersangka yakni, Muis (36), Andi (37), Nasir dan Rustam (37) memperagakan peristiwa penembakan tersebut. Tercatat ada 23 adegan termasuk bagaimana 130 peluru bisa mengenai tubuh orangutan jantan malang ini hingga tak berdaya.

Pada adegan ke 22, para tersangka memperagakan penembakan orangutan di bawah pohon sawit dengan jarak 15-20 meter dari orangutan di tempat kejadian yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kutai, kecamatan Teluk Pandan, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Menurut daftar spesies terancam punah yang dirilis oleh IUCN (International Union for Conservation Nature) pada tahun 2016, Orangutan meningkat status konservasi Orangutan Borneo menjadi Kritis. Kasus orangutan dengan 130 peluru ini pun menjadi perhatian nasional maupun dunia internasional.

SOLVED, THE MURDER CASE OF ORANGUTAN SHOT WITH 130 BULLETS

Sangata – Today East Kutai Police announced the investigation result of the murder of orangutan with 130 bullets in Teluk Pandan, East Kutai, East Kalimantan. 5 persons have been sentenced as suspects. Earlier before the announcement, Barito police officers also announced the investigation result of the murder of decapitated orangutan that was found in Kalahien river, Central Kalimantan back in January 2018. The series of Police success to reveal the cases of orangutan abuse lately have grown a new hope for wildlife protection law enforcement in Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) is proud to be a partner with Indonesia Police in revealing these cases which have gained international attention.

Ramadhani, Habitat Conservation Program Manager of COP stated,
“We have been involved with the investigation right from the start, supporting whatever needed to handle the case, from autopsy to field work. COP highly appreciate the great effort from Indonesia Police team and send a gratitude.

However, the work is still far from done, we need to ensure the murderers justly punished. This is crucial to ensure the criminals learned their lessons. Especially when the shooting location was located near to Kutai National Park which is a perfect example of the latest situation of conservatory park, which experiencing pressure from external parties and cases of law violations.

For further information and interview please contact
Ramadhani
Habitat Conservation Program Manager of COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

TERUNGKAP, KASUS KEMATIAN ORANGUTAN 130 PELURU
Sangata – Polres Kutai Timur pada hari ini mengumumkan hasil penyelidikannya atas kasus kematian orangutan yang ditembak dengan 130 peluru di Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur. 5 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya, aparat Polres Barito Selatan juga mengungkap kasus tewasnya orangutan tanpa kepala yang ditemukan mengambang di sungai Kalahien, Kalimantan Tengah pada akhir Januari 2018. Rangkaian sukses Polri dalam mengungkap kasus – kasus kejahatan terhadap orangutan akhir – akhir ini membuka harapan baru pada penegakan hukum perlindungan satwa liar di Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) bangga menjadi mitra Polri dalam pengungkapan kasus – kasus yang mendapatkan sorotan dunia internasional ini.

Ramadhani, Manager Program Perlindungan Habitat dari Centre for Orangutan Protection memberikan pernyataan sebagi berikut:

“Kami terlibat dalam penyelidikan sejak menit pertama kasus ini, membantu apa saja yang diperlukan oleh Kepolisian dalam penanganan kasus, mulai dari otopsi hingga bekerja di lapangan. COP sangat mengapresiasi kerja keras tim Polri dan mengucapkan terima kasih.”

“Namun demikian, pekerjaan ini masih panjang untuk memastikan para tersangka bisa mendapatkan hukuman yang maksimal. Hal ini untuk memastikan efek jera bagi para pelaku kejahatan terhadap orangutan dan habitatnya. Apalagi lokasi penembakan berada di sekitar Taman Nasional Kutai yang merupakan model kondisi terkini kawasan konservasi di Indonesia yang sedang mengalami tekanan berbagai pelanggaran hukum lainnya.

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani
Manager Program Perlindungan Habitat COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

BANJIR KOMENTAR ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Ratusan komentar di Instagram orangutan_COP terkait orangutan yang gagal diselamatkan Centre for Orangutan Protection. Foto wajah orangutan dengan mata terluka menarik simpatik para pemilik akun instagram.

Seperti kata akun @shelypris ”min, adanya organisasi sudah memberi dampak positif, akan tetapi masih adanya korban dari kekejaman manusia terhadap binatang, terutama orangutan. Dan adanya kasus ini lalu di share, bagaimana publik harus menyikapinya? Dan apa harapannya? Sedangkan realita media sosial hanya sekedar melewatkan foto tragis satwa dilindungi, bahkan seharusnya memiliki hak yang sama dengan manusia. Apakah memang sangat sulit melindungi satwa liar apalagi yang hidup di alam bebas? Bahkan kita bisa bicara soal wilayah. Tapi itu panjang…”.

Komentar panjang ini membuat kami yang berhadapan langsung dengan korban menjadi terdiam. “Ini adalah kegagalan konservasi orangutan Indonesia.”, ujar Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat Orangutan COP.

Akun @melvoysitorus “Jadi gak usah heran ya kalo akhir-akhir ini alam sedang marah. Itu semua karna keserakahan manusia yang merusak alam dan memusnahkan penghuninya. Mau sampe kapan lagi Tuhan marah dan mengirimkan karmanya? Tolong banget lebih peduli dengan alam dan lebih menghargai makhluk hidup lainnya. Ingat kita hidup tidak sendiri, tapi ada makhluk hidup lain juga! Jangan serakah!”

Akun @goldenfleecethief “I have less and less faith in humanity each time I see a story like this. These beings are so magical, peaceful and majestic. To kill them is to kill ourselves.”

Kamu… dimana pun berada. Sebarkan berita orangutan yang mati dengan 130 peluru senapan angin di tubuhnya. Kepedulian kamu akan mendorong kita semua bekerja lebih teliti dan lebih keras lagi untuk mengungkap kasus kematian orangutan ini.

KRONOLOGI KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

4 Februari 2018, Kepala Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi melalui Call Center Balai TNK dari masyarakat desa Teluk Pandan, kecamatan Teluk Pandan, kabupaten Kutai Timur terdapat orangutan di kebunnya. Pada tanggal 5 Februari 2018, evakuasi oleh TN Kutai dan Polres Kutai Timur. Saat itu kondis orangutan sangat lemah dan berada di atas batang kayu yang melintang di permukaan danau.

Setelah melewati penanganan medis sekitar 40 menit oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP), pada pukul 01.55 WITA (6 Februari 2018) orangutan tidak dapat diselamatkan, karena kondisi yang sangat lemah dengan luka parah.

Rontgen dan Nekropsi di RS Pupuk Kaltim untuk mencari penyebab kematian orangutan dilakukan dokter hewan COP bersama Polres Kutim. Identifikasi luka-luka dan peluru sebanyak 48 butir berhasil diambil dari tubuh orangutan tersebut. Jasad orangutan untuk sementara disimpan di lemari pendingin rumah sakit dan selanjutnya disimpan di lemari pendingin milik Balai KSDA Kalimantan Timur sebagai barang bukti untuk proses hukum lebih lanjut.

Balai TN Kutai bekerjasama dengan Polda Kaltim, Polres Kutim, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Kalimantan Timur akan melanjutkan penyelidikan dan penyidikan kasus kematian orangutan tersebut.

AGAIN , ORANGUTAN DIED FULL OF BULLETS

On Tuesday night, February 6th ,2018 an autopsy or necropsy of orangutan that been found at Teluk Pandan village, East Kutai District, East Kalimantan. Autopsy done in Pupuk Kaltim Hospital, Bontang by COP team, Bontang Resort Police, East Kutai Resort Police and KLHK.

From the autopsy that run about 4 hours, the team revealed :

1. Certain it was a male orangutan in the age to 5 – 7 years old.
2. Death occurred on Tuesday, February 6th 2018 at 01:55 WITA
3. The X-Ray found at least 130 bullets from a air riffle:
– Head : 74 bullets
– Right Arm : 9 bullets
– Left Arm : 14 bullets
– Right Leg : 10 bullets
– Left Leg : 6 bullets
– Chest : 17 bullets
But the team was only able to remove 48 bullets.
4. Both right and left eyes are blind from several bullets around the eyes.
5. There is 1 hole diameter 5mm in left cheek.
6. The lower left canine teeth are broken.
7. New open wounds as mush as 19 different points are estimate from sharp object.
8. The Sole of the left foot is gone but it is from old injury.
9. The right testicle there is an incision wound and fester.
10. Bruises in left thigh area, right chest and left hand estimated due to blunt object.
11. Finding Inside the Colon are 3 seeds from palm oil fruits and in the stomach contains Pineapple.

Estimated cause of the mortality is due to an infection from an old or recent injuries.
130 bullets are thelargest number in the history of conflicts between orangutans and humans that have occurred in Indonesia.
Weak case resolution and lack of public awareness so that cases like this continue to recur.

In May 2016 there has also been a motive case similar to the location that is not too far but not revealed until now.
This case should be a shame for all of us in the midst of government efforts to implement national orangutan conservation
strategy and action plan.

“We will coordinate with the Police and KLHK to both cases can be revealed.
The experience of two weeks ago the killing of orangutans in Kalahien, Central Kalimantan could be revealed by Polda Kalteng.
So we believe this is only a matter of seriousness of law enforcement in solving cases,” said Ramadhani.

Information and Interview Please contact:
CENTER FOR ORANGUTAN PROTECTION (COP)
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email : info@orangutanprotection.com

LAGI, ORANGUTAN MATI PENUH PELURU
Selasa malam tanggal 6 Februari 2018 telah dilakukan otopsi atau nekropsi terhadap mayat orangutan yang ditemukan di desa Teluk Pandan, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Otopsi dilakukan di RS. Pupuk Kaltim, Bontang oleh tim COP, Polres Bontang, Polres Kutai Timur dan KLHK.

Dari otopsi yang berjalan sekitar 4 jam, tim otopsi mendapatkan :

1. Dipastikan orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun.
2. Kematian hari Selasa, tanggal 6 Februari 2018 jam 01:55 WITA.
3. Hasil rontgen ditemukan paling tidak 130 peluru senapan angin :
– Kepala : 74 peluru
– Tangan kanan : 9 peluru
– Tangan kiri : 14 peluru
– Kaki kanan : 10 peluru
– Kaki kiri : 6 peluru
– Dada : 17 peluru
Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru.
4. Kedua mata kanan dan kiri buta dikarenakan adanya beberapa peluru disekitar mata
5. Ada 1 lubang diameter 5mm dipipi kiri.
6. Gigi taring bagian bawah sebelah kiri patah.
7. Luka terbuka yang masih baru sebanyak 19 titik diperkiraan dari benda tajam.
8. Telapak kaki kiri tidak ada namun merupakan luka lama.
9. Testis kanan terdapat luka sayatan dan bernanah.
10. Lebam daerah paha kiri, dada kanan dan tangan kiri diperkirakan akibat benda tumpul.
11. Temuan dalam usus besar ada 3 biji buah kelapa sawit dan lambung berisi buah nanas.

Penyebab kematian sementara diperkirakan karena adanya infeksi akibat luka yang lama ataupun yang baru terjadi. 130 peluru adalah terbanyak dalam sejarah konflik antara orangutan dan manusia yang pernah terjadi di Indonesia. Lemahnya penyelesaikan kasus dan kurangnya kesadaran masyarakat sehingga kasus seperti ini terus terulang.

Pada Mei 2016 juga telah terjadi motif kasus yang sama dengan lokasi yang tidak terlalu jauh namun tidak terungkap hingga sekarang. Semestinya kasus ini menjadi hal yang memalukan bagi kita semua di tengah upaya Pemerintah melakukan strategi dan rencana aksi konservasi orangutan secara nasional.

“Kami akan berkoordinasi dengan Kepolisian dan KLHK untuk sama-sama kasus ini bisa terungkap. Pengalaman dua pekan lalu pembunuhan orangutan di Kalahien, Kalimantan Tengah bisa terungkap oleh Polda Kalteng. Sehingga kami meyakini ini hanya persoalan keseriusan dari pihak penegak hukum dalam menyelesaikan kasus.”, kata Ramadhani.

Informasi dan Wawancara silahkan hubungi:
Centre for Orangutan Protection (COP)
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP: 081349271904
Email: info@orangutanprotection.com

Page 5 of 24« First...34567...1020...Last »