TERUNGKAP, KASUS PEMBUNUHAN ORANGUTAN DI KALTENG

​Untuk kali pertama dalam sejarah konservasi Orangutan, kasus pembunuhan orangutan yang rumit bisa diungkap dengan serius. “Kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk Polri, dalam hal ini tim Polda Kalimantan Tengah. Seminggu yang lalu kami bertemu dan berkoordinasi di lapangan dalam rangka sama-sama mencari informasi, kami melihat langsung bagaimana Polres Barito Selatan dan dua Polsek yaitu Dusun Selatan dan Dusun Utara bekerja keras dan serius untuk mengejar dan menyelesaikan kasus ini”.

​Dengan tertangkapnya pelaku pembunuhan orangutan ini maka kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum akan semakin tinggi. Efek jera juga akan menjadi perhatian masyarakat. Masyarakat akan menjadi lebih peduli dan tidak berani untuk menangkap, memelihara dan membunuh orangutan.

​Ini adalah kasus yang kedua COP temui mayat orangutan mati di sungai. Tahun 2016 pernah ditemukan satu individu mayat orangutan mengapung di Sungai Sangatta dan kasusnya hingga sekarang belum terungkap. Kasus-kasus pembunuhan orangutan sebenarnya hanya mengenai seberapa besar kemauan dari pihak penegak hukum.

​COP dalam hal kasus ini akan terus memantau hingga putusan pengadilan nantinya.

Informasi dan wawacara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP: 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

UPDATE ORANGUTAN KALAHIEN CASE

The head of decapitated orangutan body that was found in Barito river, Buntok, Central Kalimatan back in January 15th 2018, was finally found. In the location the head was found, there were also air rifle and machette found.
There are 2 suspects, and they have been captured by local police of Central Kalimantan

Kepala orangutan yang hilang dari mayat orangutan yang ditemukan di sungai Barito, Buntok, Kalimantan Tengah pada 15 Januari 2018 akhirnya ditemukan. Di lokasi kepala orangutan jantan Kalahien itu juga ditemukan senapan angin dan parang.

Ada 2 orang pelaku yang keduanya laki-laki saat ini sudah diamankan Polda Kalimantan Tengah.

RAMBO SELAMA EMPAT TAHUN SEPERTI MANUSIA

Orangutan ini ditemukan di semak belukar bekas hutan terbakar tahun 2014 yang lalu, dekat desa Terantang, Kalimantan Tengah. Kaki kanannya terluka. Kebakaran hutan adalah bencana bagi orangutan dan satwa liar lainnya. Mereka kehilangan habitat dan kehidupannya.

Selama empat tahun, orangutan yang bernama Rambo ini dipelihara seperti manusia. Makan nasi dan lauk pauk lainnya. Sambal pedas maupun minuman manis kemasan yang dikonsumsinya karena itulah yang diberikan pemeliharanya. Jauh dari makanan yang seharusnya didapatkannya dari hutan.

Bersama BKSDA pos Sampit, APE Crusader bergerak menyelamatkan orangutan Rambo ini. Rambo diikat di bawah pohon. Tangan dan lehernya dalam kondisi terikat rantai. Luka-luka baru maupun yang sudah mengering terdapat di tangan dan jari-jarinya.

“Bahkan untuk melepas rantainya, kami harus mengguntingnya dengan tang.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader Centre for Orangutan Protection.

Pak Muriansyah, komandan Pos BKSDA Sampit memberikan penyuluhan dan penyadartahuan kepada pak Taufik yang memelihara orangutan Rambo. Bahwa orangutan bukanlah satwa peliharaan.

Setelah empat tahun, Rambo akhirnya mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagai orangutan. Ini akan menjadi jalan baru yang panjang untuknya. Memperbaiki pola makannya dan mengembalikan insting keliarannya membutuhkan dukungan dari semua pihak. Sebuah kerja bersama yang bukan sesaat.

KEJAHATAN YANG BRUTAL

We took these pictures 3 days ago, somewhere in Borneo after I got report about orangutan killing in this area. And yes, the workers confirm that they killed an orangutan already. Stay tune to get updates from us. Let see who will end up in the jail.

For those who still believe that palm oil plantation have nothing to do with deforestation and massive killing of orangutans, think again.

Kami memotretnya 3 hari yang lalu, di suatu tempat di Kalimantan, setelah mendapatkan laporan tentang pembunuhan orangutan di kawasan ini. Dan ya, para pekerja mengaku bahwa mereka telah membunuh satu. Tetap pantau terus, kita lihat siapa yang akan berakhir di penjara.

Bagi yang masih percaya bahwa perkebunan kelapa sawit tidak berkaitan dengan pembabatan hutan dan pembunuhan orangutan, pikirkan lagi.

DOWN SYNDROM PADA ORANGUTAN

BKSDA Kalimantan Timur bersama BOS Foundation menyelamatkan orangutan albino pada awal bulan Mei 2017 ini. Berita ini menjadi viral, dimana kondisi orangutan yang terlihat tanpa pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut dan mata seperti pada manusia yang terkena penyakit albinisme.

Lima tahun yang lalu, tepatnya 19 September 2011 dari tiga orangutan yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Centre for orangutan Protection (COP) terdapat satu orangutan yang terlihat berbeda. Evakuasi dari daerah Muara Wahau, Kalimantan Timur ini diduga menderita Down Syndrome. Demikian kesimpulan sementara setelah foto orangutan tersebut ditunjukkan kepada ahli primata dari Perth Zoo.

Down Syndrome adalah kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Anak orangutan yang berusia kira-kira 3 tahun tersebut memiliki penampilan fisik yang mirip dengan penderita Down Syndrom, yakni bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Matanya sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).

Orangutan Jimmy namanya, dengan ditemani handuk yang membalut tubuhnya. Menurut drh. Gunawan, “Jimmy menderita moon face, yaitu cacat mental yang mempengaruhi perkembangannya. Badannya seperti orangutan berusia 5 tahun, padahal umurnya diperkirakan 17-20 tahun. Usia dapat dilihat dari jumlah giginya yang 32 buah dan taringnya yang sudah panjang.”

Ternyata bukan hanya manusia, orangutan juga bisa menderita down syndrom. Wajar saja, kita memang memiliki DNA yang sama, sebanyak 97,3%.

POLRES LAHAT DIBANTU COP DAN ANIMALS INDONESIA MENGGAGALKAN PERDAGANGAN OPSETAN SATWA DILINDUNGI DI SUMATERA SELATAN

Palembang – Kembali lagi kejahatan satwa liar digagalkan oleh Polres Lahat dibantu Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection (COP) di Lahat, Sumatera Selatan. Operasi yang dilakukan tanggal 27 Mei 2017 mengamankan barang bukti berupa 7 kepala Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis sumatraensis), 1 opsetan Kucing Hutan Sumatera (Felis bengalensis), 1 kepala burung Rangkong Papan (Buceros bicornis), 1 kulit Kucing Emas (Profelis aurata), 3 lembar kulit Kijang (Muntiacus muntjak), 8 bagian tulang Harimau Sumatera dan 1 taring Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Penangkapan dilakukan di kelurahan Kota Baru, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tim juga mengamankan 1 orang pedagang berinisial AP dan 1 orang saksi pemilik rumah yang akan digunakan sebagai transaksi satwa dilindungi ini.

“Ini merupakan operasi penangkapan pedagang satwa dengan barang bukti yang cukup besar di Sumatera Selatan. Dimana tim mengamankan barang bukti berupa 7 Kepala Kambing Hutan yang merupakan penangkapan pertama dan terbesar untuk kasus perdagangan Kambing Hutan di Indonesia, 1 opsetan kucing hutan, 1 kepala rangkong, 1 kulit kucing mas, 2 kulit kijang, 8 bagian tulang harimau dan 1 taring harimau yang hendak diperjualbelikan.”, Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Pedagang ini menjual satwa secara online maupun secara langsung dan terpantau melakukan jual beli satwa secara online di facebook. Satwa yang dijual dalam kondisi mati (opsetan) maupun bagian-bagiannya yang juga satwa dengan kategori dilindungi. Bagian satwa ini dijual secara terpisah dengan harga yang bervariasi antara Rp 750.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 perbagian satwa diindungi.

Selama ini, AP mendapatkan bagian tubuh satwa dilindungi dari pemburu di dusun tempat dia tinggal yang berdekatan dengan kawasan konservasi, serta dari pemburu satwa di perkebunan masyarakat sekitar Sumatera Selatan. Bahkan AP dapat mendatangkan kepala burung rangkok dari kawasan Bangka.

Dari hasil pendalaman selama dua bulan terakhir, AP telah menjual kulit dan tulang serta taring Harimau Sumatera secara terpisah ke pembeli di Lampung. Menurut pengakuan AP selama menjalankan bisnis ilegal ini, dia menggunakan jasa travel dan pengiriman barang serta jasa angkutan bus antar provinsi. Selama ini AP merasa aman menjalankan bisnis gelap yang telah digelutinya selama dua tahun terakhir karena merasa aman dengan sistem jual beli secara terputus.

“Pedagang ini terpantau di jual beli online facebook dan setelah dipantau dan ditelusur ternyata dia pemain besar untuk jual beli satwa opsetan yang masuk kategori dilindungi di wilayah Sumatera Selatan. Pedagang menjual satwa opsetan, kulit maupun bagian satwa dilindungi dengan kisaran Rp 750.000,00 – Rp 1.500.000,00 dan dia termasuk pemain pertama dari kelas pengepul yang mendapatkan barang secara langsung. Dan kita masih menunggu proses pengembangan lebih lanjut untuk kasus ini oleh pihak Polres Lahat.”, Suwarno, Ketua Animals Indonesia. “Kambing Hutan Sumatera dan Kucing Emas adalah satwa yang sangat langka dan sulit dijumpai di habitat alaminya. Hal ini disebabkan kedua spesies tersebut hidup pada habitat khusus yakni di pegunungan terjal bebatuan dengan jumlah pakan yang cukup.”

Memperjualbelikan satwa dilindungi maupun bagian-bagiannya merupakan tindakan melawan hukum. Tersangka dapat dijerat dengan UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah.Dan upaya penegakan hukum akan kita tunggu dalam proses ini. Apresiasi kita sampaikan kepada Polres Lahat yang dengan cepat merespon tindak kejahatan ini dan kita akan mengawal kasus ini hingga putusan pengadilan. Satwa yang diperjualbelikan merupakan satwa endemik Sumatera yang sangat langka dan dengan penegakkan hukum yang tegas dan berani akan membendung kejahatan ini terus berlangsung.

Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi

Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Mobile Phone: 081284834363

Suwarno, Ketua Animals Indonesia

Mobile Phone: 082233951221

WE HAVE TO PAY THE COST FOR JAILING CRIMINALS

23 people have been jailed as the result of work done by the law enfocerment agencies and the APE WARRIOR TEAM. No doubt that this team is the nightmare for illegal wild animals trade in Indonesia and the crminlas know how to strike back.

Last week, our car suddenly stuck on th street during assignment. The Ford Service Station have confirmed that our car might be sabotaged and experience serious damaged in its engine. What make us so shock is the reparation cost: about 5000 USD.
COP is a very tiny group and not well anticipate for serious trouble like this. Without your support, it quiet difficult for the team to get back to the street to fight. Please, spare some of your money to make repair the APE Warrior. 

This is the link you can follow to donate. We have paypal button:
http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

23 orang sudah dipenjara sebagai hasil kerja yang dilakukan para penegak hukum dan tim APE Warrior. Tidak diragukan lagi, APE WARRIOR adalah mimpi buruk bagi para pedagang satwa liar dan mereka tahu persis bagaimana cara membalas dendamnya.

Minggu lalu, mobil kami mogok tiba – tiba di jalanan selama penugasan. Bengkel Ford mengkonfirmasi bahwa kemungkinan besar mobil kami sudah kena sabotase dan mengalami kerusakan serius di mesinnya. Yang mengangetkan kami adalah biaya perbaikannya yang mencapai 50 juta rupiah lebih.

COP adalah organisasi yang sangat kecil dan tidak mengantasipasi kesulitan seperti ini. Tanpa bantuan anda, tim ini akan sulit sekali kembali ke jalanan untuk bertarung. Mohon, sisakan sedikit uang untuk perbaikan mobil APE Warrior.

Ini tautan donasinya, ada Paypal di sana:
http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

TERIMAKASIH OPPIE ANDARESTA

Ovie Ariesta atau lebih dikenal dengan Oppie Andaresta adalah musisi yang memiliki kepedulian sosial dan lingkungan hidup. Rabu, 26 April 2017, tepat pada Hari Buku Sedunia, tampil pada Expo & Forum Energi Efficiency di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyajikan album barunya yang mengambil tema sungai, air dan hutan serta orangutan. Bahkan salah satu judul lagu dalam album ini adalah Orangutan. Isi buku dan CD album diilhami dari perjalanan Oppie keliling Indonesia memberikan edukasi untuk anak-anak.

Oppie menyumbangkan 100% keuntungan dari penjualan album yang diberi nama Lagu Dari Tepian Sungai untuk Centre for Orangutan Protection. Hingga saat ini, album Anak Tepian Sungai yang digarapnya bersama Suara Anak Bumi tersedia di iTunes dan sudah terjual 1000 copy. “Untuk kamu yang peduli orangutan, langsung beli albumnya ya.”, ujar Hong June, relawan COP yang berasal dari Korea Selatan.

Sebelumnya, Oppie pernah manggung di acara konser musik amal tahunan Sound For Orangutan 2014 di Rolling Stone Cafe, Kemang, Jakarta Selatan. Sound For Orangutan adalah kombinasi unik antara musik, photo exhibition, video screening dan fundraising juga penyadartahuan tentang orangutan dan habitatnya. Musisi yang tampil dan yang terlibat rela tidak dibayar karena kepedulian mereka untuk membantu orangutan Indonesia.

Siapa bilang, orang Indonesia tidak peduli satwa liarnya. Mari bersama, bangga pada keanekaragaman hayatinya. Indonesia, peduli orangutan.

DUA TAHUN COP BORNEO

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection. Pusat rehabilitasi ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang diinisiasi dan dikelolah oleh putra-putri Indonesia. Keterlibatan para pendukung orangutan yang tergabung di orangufriends ikut mewarnai proses pembangunannya. Mereka bekerja secara sukarela untuk mewujudkan mimpi mengembalikan orangutan ke habitat aslinya.

Memasuki tahun keduanya secara formal, COP Borneo berharap semakin mendapat dukungan dari Warga Negara Indonesia. “Kita harus bangga dengan capaian ini.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Tujuh orangutan yang berada di pulau orangutan (University Island) sedang menjalani proses pra rilis. Pulau ini membatasi kontak manusia dengan orangutan. Dapat dipastikan, orangutan tidak pernah bersentuhan dengan manusia lagi. Ini adalah proses akhir sebelum orangutan dilepasliarkan ke habitatnya. “Kami berharap tahun ini bisa mengembalikan mereka ke habitatnya.”, tambah Reza, yang bertanggung jawab pada pusat rehabilitasi ini.

Ada empat bayi orangutan yang berusia kurang dari dua tahun masih dalam perawatan intensif. Dua orangutan yang terkena hepatitis yang membutuhkan santuary sebagai tempat dia menjalani sisa hidupnya. Dan tujuh orangutan lagi yang membutuhkan bantuan untuk bisa ke tahap rehabilitasi lebih lanjut. Semua itu membutuhkan dukungan penuh.

Terimakasih telah mempercayakan dukunganmu pada COP Borneo. Semoga tahun ini adalah tahun kebebasan bagi orangutan yang ada di COP Borneo.

 

LAGI ORANGUTAN DITRANSLOKASI DARI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Konflik orangutan dengan manusia kembali terjadi di Batu Redi, kecamatan Telen, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Satu individu orangutan jantan dewasa masuk ke kebun sawit warga. Laporan masuk ke BKSDA SKW I Berau dan ditindaklanjuti secara bersama untuk menghindari hal buruk pada orangutan tersebut.

Tim BKSDA SKW I Berau dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Prufauna Indonesia melakukan pemantauan lokasi yang sudah tidak berhutan dengan vegetasi tumbuhan sawit umur tanam sekitar 100 hari pada tanggal 9 April 2017. Dan pada sore hari menemukan orangutan jantan tersebut dengan usia sekitar 20-25 tahun sedang berada di tengah kebun sawit. Tim medis dari COP melakukan pembiusan untuk melakukan pengamanan dan penangkapan orangutan tersebut untuk ditranslokasi ke tempat yang lebih aman.

“Tim mentranslokasi satu orangutan jantan dewasa yang masuk ke kebun warga. Di sekitaran lokasi ditemukan orangutan tersebut adalah kawasan yang sudah terkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Orangutan makan tanaman sawit dan warga melaporkan hal ini kepada perangkat desa Nehas Slabing. Tim melakukan penanganan dan pengamanan satwa dilindungi tersebut.”, Paulinus Kristanto, Koordinator APE Guardian dari COP.

Orangutan tersebut ditangkap dengan metode pembiusan dan dilakukan pemeriksaan oleh tim medis APE Guardian. Atas arahan dari BKSDA SKW I Berau, orangutan yang masih liar tersebut ditranslokasikan ke lokasi yang dirasa aman di Hutan Lindung Wehea, kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

“Kondisi orangutan tersebut baik dan stabil paska dilakukan pembiusan dan dibawa dengan kandang angkut menuju ke Hutan Lindung Wehea guna proses translokasi. Pemindahan ini dilakukan karena orangutan tersebut adalah liar dan secara fisik kondisi baik dan sehat serta layak untuk secara langsung dilepasliarkan kembali.”, drh. Rian Winardi, tim dokter hewan APE Guardian COP.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit menghimpit habitat orangutan dan konflik orangutan masuk area perkebunan menjadi hal yang jamak terjadi. Belum lagi ketika melakukan evakuasi bayi orangutan yang induknya sudah mati terbunuh akibat dampak dari konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Lokasi ditemukan orangutan ini merupakan habitat orangutan dan satwa liar lainnya, dimana pada tahun 2016, Centre for Orangutan Protection mendapatkan perjumpaan orangutan, owa kalimantan dan juga sarang orangutan yang tak jauh dari lokasi ditemukannya orangutan tersebut.

“Hutan di Kalimantan Timur banyak terkonversi menjadi area perkebunan kelapa sawit dan ini berdampak langsung terhadap orangutan dan satwa liar lainnya. Hutan yang menjadi habitat tergusur dan beralih fungsimenjadi area perkebunan. Hal ini tidak hanya akan membuat meningginya tingkat konflik manusia dan satwa liar, namun juga upaya rehabilitasi yang membutuhkan area pelepasliaran juga semakin terhimpit. Jika ini terus berjalan tentunya upaya perlindungan orangutan dan habitatnya juga semakin berat karena konversi hutan yang terus menerus terjadi.”, Paulinus Kristianto, koordinator COP Kalimantan Timur.

Untuk informasi dan wawancara:

Paulinus Kristanto, Koordinator COP Kalimantan Timur

P: 082152828404

E: linus@orangutan.id

Ramadhani, Manager Komunikasi COP

P: 081349271904

E: dhani@orangutan.id

Page 4 of 22« First...23456...1020...Last »