STOP THE EXPLOITATION OF ORANGUATAN FOR CIRCUSES AND PHOTOGRAPHS

Orangutans are being forced to work to make money for off-site conservation institutions such as zoos and safari parks. They are put through harsh and rigorous training so that they can appear in photographs with visitors, dance on music stages, or perform in circus shows. The Centre for Orangutan Protection (COP) views these practices as harsh and inhumane and demands their immediate abolition.

Today, a group of COP supporters, members of Orangufriends, launched their campaign simultaneously in 9 cities: Jakarta, Denpasar, Banda Aceh, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang and Samarinda. This campaign is known as #orangutanbukanmainan or #orangutanarenottoys.

Following are statements from the campaign coordinators in each city.

“One of the main goals for off-site conservation foundations is education. Orangutan exploitation is not humorous, but unethical. These harsh businesses will continue to survive if society supports them by buying tickets to shows or paying to appear in photographs with orangutans”, said Desya Maharani, a member of Orangufriends Yogyakarta.

“Circuses and photo opportunities with orangutans set a bad example, and demonstrate a disregard for the values of education and understanding about orangutan lives, for which these institutions are supposed to stand. It is no longer appropriate for society to visit these institutions and watch orangutans as circus entertainment or pose for photographs with them”, said Vilinda Maya Marvelina, member of Orangufriends Malang.

“It is not necessary to use circuses or photo opportunities with orangutans to entertain visitors and bring in income for zoos. Clear and accurate education about wildlife must become the priority for these institutions. It’s time to replace circus entertainment with information”, said Ikhwanussafa Sadidan, coordinator of Orangufriends, Bandung.

“The activities performed by orangutans on the circus stage or in photographs with guests do not constitute natural orangutan behaviour. Orangutans have to undergo long training processes to learn to perform these actions. It is clear that this is not how orangutans behave in their natural environment”,said Mawar Purba, coordinator of Orangufriends, Surabaya.

“Orangutans share 97% of their DNA with humans, and therefore can experience emotions such as sadness, fear, love and oppression. Circuses and forced photographs with orangutans constitute a form of mistreatment which we as a society must not support financially”, said Indira Nurul Qomariyah, coordinator of Orangufriends, Solo.

“Orangutans are an international icon for wildlife conservation. Now their very existence is under threat, and it is time for those in management positions to raise their understanding and respect for this issue, and put a stop to these exploitative practices. Circuses and photographs with orangutans do not provide a learning experience, and are not in line with the values of conservation,” said Bintang Dian Pertiwi, coordinator of Orangufriends, Jakarta.

“Orangutans have already been pushed out of their natural environments because of the actionss of mankind. Now in off-site conservation fields, orangutans are still suffering mistreatment at the hands of humans. It is important for these animals to receive protection and better living standards, rather than being made into a source of entertainment in circuses and photographs”, said Andro Sulopadang, coordinator of Orangufriends, Samarinda, East Kalimantan.

“Bali is a beautiful destination for international tourists, and yet in many in zoos, orangutans can still be found in circus shows and being forced into photographs. We should be embarrassed that we are continuing with activities that are already illegal in many nations”, said Rian Winardi, coordinator of Orangufriends, Bali.

“Rescue teams often save baby orangutans whose parents have already died, sometimes as a result of the expansion of palm oil plantations. This fact is not revealed to park visitors. All attempts to educate society about orangutan lives will continue to fail until visitors can understand this context behind the seemingly happy orangutans that appear in circus shows and photographs”, said Ratno Sugito, coordinator of Orangufriends, Aceh.

For further information and interviews please contact:

Rian Winardi, Campaign Coordinator of Orangufriends Bali

Mobile Phone: 085245905754

Vilinda Maya Marvelina, Campaign Coordinator of Orangufriends Malang

Mobile Phone: 085230453454

Mawar Purba, Campaign Coordinator of Orangufriends Surabaya

Mobile Phone: 082230957562

Indira Nurul Qomariyah, Campaign Coordinator of Orangufriends Solo

Mobile Phone: 08567634086

Destya Maharani, Campaign Coordinator of Orangufriends Yogyakarta

Mobile Phone: 083869533631

Bintang Dian Pertiwi, Campaign Coordinator of Orangufriends Jakarta

Mobile Phone: 081212715451

Ikhwanussafa Sadidan, Campaign Coordinator of Orangufriends Bandung

Mobile Phone: 085624066740

Andro Sulopadang, Campaign Coordinator of Orangufriends Samarinda, Kalimantan Timur

Mobile Phone: 081350355822

Ratno Sugito, Campaign Coordinator of Orangufriends Aceh

Mobile Phone: 085360866756

STOP EKSPLOITASI ORANGUTAN SEBAGAI SIRKUS DAN PROPERTI FOTO
Orangutan dipaksa bekerja untuk menghasilkan uang di Lembaga-Lembaga Konservasi Ex Situ seperti Kebun Binatang dan Taman Safari. Orangutan harus dilatih dengan keras dan kejam agar dapat digunakan sebagai properti foto bersama dengan pengunjung, menari di pentas musik atau bermain di sirkus atau pentas satwa. Centre for Orangutan Protection (COP) memandang bahwa praktek – praktek seperti ini harus segera dihentikan karena kejam dan tidak mendidik.
 
Pada hari ini, kelompok pendukung COP yang tergabung dalam Orangufriends menggelar kampanye serentak di 9 kota, yakni Jakarta, Denpasar, Banda Aceh, Bandung, Yogya, Solo, Surabaya, Malang dan Samarinda. Kampanye ini lebih dikenal dengan #orangutanbukanmainan. 
 
Berikut ini pernyataan para koordinator kampanye dari masing – masing daerah: 
 
“Salah satu misi utama Lembaga Konservasi Ex Situ adalah pendidikan. Eksploitasi orangutan adalah tindakan yang tidak lucu dan salah. Bisnis kejam seperti ini akan terus berlangsung bila masyarakat mendukungnya dengan membeli tiket pertunjukan atau membayar untuk bisa berfoto bersama orangutan.”, kata Destya Maharani, anggota Orangufriends Yogya. 
 
“Sirkus dan foto bersama orangutan merupakan edukasi yang keliru dan tidak memiliki nilai edukasi apapun tentang kehidupan orangutan. Sudah sepantasnya masyarakat tidak perlu mengunjungi dan menonton hiburan sirkus dan foto bersama orangutan.”, kata Vilinda Maya Marvelina, anggota Orangufriends Malang.
 
“Tidak perlu menggunakan sirkus dan foto bersama orangutan untuk mengejar daya tarik pengunjung dan pemasukan pendapatan kebun binatang. Pendidikan yang baik dan benar tentang satwa liar bagi pengunjung perlu menjadi prioritas dan sudah sepantasnya kebun binatang mengganti hiburan sirkus dan foto bersama orangutan dengan metode informasi yang lebih mendidik tanpa sirkus dan foto bersama Orangutan.”, Ikhwanussafa Sadidan, Kordinator Kampanye Orangufriends Bandung.
 
“Setiap gerakan yang ditampilkan orangutan dalam panggung hiburan sirkus dan foto bersama orangutan bukan merupakan gerakan alaminya. Orangutan akan menjalani pelatihan panjang untuk setiap gerakan ini dan ini jelas bahwa bukan gerakan alaminya orangutan layaknya di alam liar.”,  Mawar Purba, Kordinator kampanye Orangufriends Surabaya.
 
“Orangutan memiliki 97% DNA yang sama dengan manusia, orangutan bisa memiliki rasa sedih, tertekan, jatuh cinta dan takut. Sirkus dan foto dengan orangutan adalah bentuk pemaksaan terhadap orangutan yang sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat tidak mendukung dengan mengunjungi sirkus dan berfoto dengan orangutan.”, Indira Nurul Qomariyah, Kordinator Kampanye Orangufriends Solo.
 
“Orangutan merupakan salah satu ikon konservasi satwa di dunia Internasional. Keberadaannya sangat terancam dan sudah sepantasnya pihak pemangku kepentingan sadar dan memahami serta menghormati dan menghentikan praktek exploitasi ini. Sirkus dan foto bersama orangutan tidak mendidik dan bukan upaya konservasi.”, Bintang Dian Pertiwi, Kordinator Kampanye Orangufriends Jakarta.
 
“Di habitat aslinya orangutan sudah terdesak dan tergusur oleh aktivitas manusia. Dan di lembaga konservasi Ex Situ Orangutan masih mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Digunakan untuk sirkus dan foto bersama orangutan. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang baik bukan menjadi ajang hiburan seperti sirkus dan foto bersama orangutan.”, Andro Sulopadang, Kordinator Kampanye Orangufriends Samarinda, Kalimantan Timur.
 
“Bali merupakan salah satu tujuan pariwisata yang indah namun di beberapa kebun binatang masih menjadikan orangutan sebagai Objek sirkus dan foto bersama orangutan. Seharusnya kita malu karena di beberapa negara maju kegiatan sirkus yang melibatkan satwa liar sudah dilarang.”, Rian Winardi, Kordinator Kampanye Orangufriends Bali.
 
“Tim penyelamat orangutan terkadang menyelamatkan bayi-bayi orangutan tanpa induk yang kemungkinan sudah mati akibat terdampak ekspansi perluasan lahan kelapa sawit. Fakta ini tidak pernah diungkap dengan baik dan pendidikan masyarakat akan gagal manakala masyarakat masih memahami konteks bahagia semu orangutan dalam panggung hiburan sirkus dan foto bersama orangutan.”, Ratno Sugito, Kordinator Kampanye Orangufriends Aceh.
 
Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi:
 
Rian Winardi, Kordinator Kampanye Orangufriends Bali
Mobile Phone: 085245905754
 
Vilinda Maya Marvelina, Kordinator Kampanye Orangufriends Malang
Mobile Phone: 085230453454
 
Mawar Purba, Kordinator Kampanye Orangufriends Surabaya
Mobile Phone: 082230957562
 
Indira Nurul Qomariyah, Kordinator Kampanye Orangufriends Solo
Mobile Phone: 08567634086
 
Destya Maharani, Kordinator Kampanye Orangufriends Yogyakarta
Mobile Phone: 083869533631
 
Bintang Dian Pertiwi, Kordinator Kampanye Orangufriends Jakarta
Mobile Phone: 081212715451
 
Ikhwanussafa Sadidan, Kordinator Kampanye Orangufriends Bandung
Mobile Phone: 085624066740
 
Andro Sulopadang, Kordinator Kampanye Orangufriends Samarinda, Kalimantan Timur.
Mobile Phone: 081350355822
 
Ratno Sugito, Kordinator Kampanye Orangufriends Aceh.
Mobile Phone: 085360866756

Debbie underwent minor operation

Living in a cage with unfriendly mate was a long misery for Debbie. She was translocated to her new home at the COP Borneo. She have her own room. We provide her best care she deserve. Yesterday, she underwent minor operation to cure her wound. She was bitten by Ambon while in the KRUS Zoo. Get well soon Debbie.

 

Tinggal sekandang dengan teman yang tak ramah adalah derita panjang yang dilalui Debbie selama bertahun – tahun di Kebun Binatang KRUS Samarinda. Kini dia sudah dipindahkan ke tempat kami dan menikmati kamar pribadinya. Kami memberikan perawatan terbaik yang dibutuhkannya. Kemarin kami melakukan operasi kecil untuk mengobati luka bekas gigitan si Ambon. Kami mengeluarkan nanah dan belatung dari lukanya. Lekas sembuh ya Debbie.

 

 

PATTY SHENKER: CONNECTING PEOPLE

3 months ago we had to pause our work as we have to conduct search and rescue operation. 2 students lost while doing field research in Labanan forest. The SAR operation become more complicated as our radio are broken already. 3 days later we found them.  The problem will not till we have proper radio. Our site size is 10 hectares. We still have to work around 7900 hectares . It is impossible to communicate with mobile phone. No BTS tower there. The only solution is radio. Thanks to Patty Shenker for providing solution. Now we have Handy Talky Radio. Communication is much more easier now. We are all well connected now. We plan to improve it to DSTAR, a digital system that allow us to connect with internet. Let see.

 

3 bulan yang lalu kami harus menghentikan kerja kami karena harus melaksanakan operasi pencarian dan penyelamatan. 2 orang siswa hilang dalam penelitian lapangan di hutan Labanan. Operasi SAR menjadi makin rumit karena radio kami sudah rusak. 3 hari kemudian kami menemukan mereka. Masalah tidak akan berhenti sampai kami memiliki radio yang memadai. Ukuran situs kami seluas 10 hektar dan kami masih bekerja di kawasan seluas 7900 hektar. Tidak mungkin berkomunikasi dengan telepon genggam karena tidak ada menara BTS. Solusi satu satunya adalah radio. Terima kasih kepada Patty Shenker yang memberikan solusi. Kini kami memiliki radio radio HT. Komunikasi menjadi semakin mudah. Kami semua terhubung satu sama lainnya. Kami berencana meningkatkannya menjadi DSTAR, sebuah system digital yang memungkinkan kami tersambung dengan internet. Lihat saja nanti.

 

RESCUED: UNYIL.

Following report from the COP’s APE Crusader Team, a team from Wildlife Authority and COP’s APE Defender Team rescued Unyil, a 4 years old who live inside a toilet. Once he arrived in the centre, our vet Imam do several check. Unyil have to be quarantined for a while until we determine wether he is free or not from any contagious diseases like Tuberculin and Hepatitis.

Unyil case is very common in Indonesia. People try to help animals from trade and be the hero in the wrong ways. They pay the proposed price from traders and look after them as family members. The ex owner of Unyil even celebrated Unyil’s “birthday” every Valentine Day, give him human food and shower him everyday.

Menindaklanjuti laporan dari tim APE Crusader, maka tim gabungan dari BKSDA dan APE Defender segera bergerak untuk menyelamatkan Unyil, anak orangutan berusia 4 tahun yang tinggal dalam sebuah toilet. begitu sampai di tempat kami, dokter hewan Imam melakukan beberapa test. Unyil harus dikarantina dulud beberapa waktu untuk menentukan apakah dia mengidap penyakit menular Tubercolusis dan Hepatitis.

Kasus seperti Unyil sangat umum terjadi di Indonesia. Orang – orang mencoba menolong satwa dari perdagangan dengan membelinya. Mereka membayar harga yang diatwarkan penjual dan memperlakukannya sebagai anggota keluarga. Pemilik Unyil bahkan merayakan “ulang tahun” Unyil setiap Hari Valentine, memberikannya makanan manusia dan memandikan setiap hari.

 

I AM NESTING

Nesting is an essential skill for orangutan. They have to build a nest for sleep in the canopy, away from predators. They learn it from mom. For orphaned orangutans in the rehab centre, the will learn it from baby sitter or technician as surrogate mother. Many of them still remember the lesson they learnt when their mother still alive. So we just need to give them opportunities as much we can to develop their skill during forest school or even inside the cage. We provide leaves inside the cages before evening. Many of them are expert now, just like wild one. We confidence to release 3 of them to wild in the next semester. Keep support us to create second chance to them to be wild and free orangutan.

Membuat sarang adalah keahlian yang harus dimiliki orangutan. Mereka harus membuat sarang untuk tidur di tajuk pohon, jauh dari jangkauan pemangsa. Mereka mempelajari keahlian itu dari induknya ketika mereka masih hidup. Bagi orangutan yatim piatu, mereka mempelajarinya dari baby sitter atau teknisi sebagai ibu pengganti. Banyak diantara mereka masih ingat pelajaran yang didapat dari ibunya. Jadi kami hanya menyediakan sebanyak mungkin kesempatan untuk melatih keahliannya selama sekolah hutan atau bahkan di dalam kandang. Kami menyediakan dedaunan di dalam kandang sebelum malam. Banyak diantara mereka sudah sangat ahli selayaknya orangutan liar. Kami percaya diri bisa melepasliarkan mereka di semester depan. Tetap dukung kami menciptakan kesempatan kedua bagi mereka untuk hidup bebas di alam.

FROM BOSF WITH LOVE

Finally, all the 13 orangutans arrived in their new home at the COP Borneo. Labanan Forest is a prefect place for rehabilitation as well as sanctuary for Ambon, Debby and Memo. No more people intervene their privacy. This big job would not done without support from our ally Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). They deployed a vet and 6 keepers to assist COP. So, 50% percent of this success was belong to BOSF. It is impossible for us to do it alone as COP just a tiny organisation. We only have 1 vet and 6 keepers at the moment.

This is not the first time for COP and BOSF teams to work together. It was not difficult for COP and BOSF team together as team as we have similar standard. Our Principal, Hardi was the assistant for Lone Nielsen in BOSF Nyarumenteng several years ago. He just adopt and implement what he learn from the Guru. We show to the world that partnership is good to achieve our common goal.

Akhirnya, ke 13 orangutan itu tiba di rumah barunya di COP Borneo. Hutan Labanan adalah tempat yang sempurna untuk rehabilitasi dan pensiun bagi Ambon, Debby dan Memo. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggu privasi mereka. Kerja besar ini tidak akan beres tanpa dukungan dari sekutu kami Yayasan BOS. Mereka menerjunkan 1 dokter hewan dan 6 perawat to membantu COP. 50% dari sukses ini adalah milik mereka. Tidak mungkin bagi kami untuk melakukannya sendiri karena kami hanya organisasi mini. Kami hanya punya 1 dokter hewan dan 6 perawat saat ini.

Ini bukan yang pertama bagi tim COP dan BOSF. Tidak sulit bagi tim COP dan BOSF dalam bekerja bersama karena kami punya standar yang mirip. Ketua kami, Hardi, dulunya adalah asisten Lone Nielsen di BOSF Nyarumenteng beberapa tahun lalu. Dia hanya mengadopsi dan menjalankan apa yang dipelajari dari gurunya.  Kami menunjukkan pada dunia bahwa kerjasama itu baik untuk mencapai tujuan bersama.

INDONESIA OPENING THE 5th ORANGUTAN REINTRODUCTION CENTRE

The 5th Orangutan Reintroduction Centre COP BORNEO in Indonesia, is now officially operating. This facility is a cooperation between the Ministry of Environment and Forestry with the Centre for Orangutan Protection (COP). It was built in Labanan forest area with special purpose (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) an area of 7,900 hectares in Berau district, this facility is expected to accommodate 50 (fifty) orangutans. Currently, 13 (thirteen) orangutans are undergoing the rehabilitation process, 3 of them are ready to be released in the second half of this year. Just like any other of reintroduction centre that has been running with the International Standard of Union for Conservation Network (IUCN), COP BORNEO will be a restricted area. There will be no random visitors for tourism and people can not enter this area without permission.

Hardi Baktiantoro, Principal COP states :

“This area is perfect for orangutan rehabilitation. The forest is still lush, surrounded by big trees, and the forest is providing a natural food source so that the orangutans can learn and easily adapt to become wil. We still have to do a survey to determine whether KHDTK Labanan is also feasible for the releasing area. This area is also very protected, and listed as a conservation area, technically there are no wild orangutans population around here and local communities are very supportive”

“This centre is a facility for rehabilitation, with quarantine cages, socialization cages and clinic, also with a multi-functional building that can be used as an office, a research station and dormitory for orangutan’s nurses and researchers. Thus, this area is fully integrated as a rehabilitation centre and research centre for flora and fauna.”

KHDTK Labanan is managed by the Research Institute for Dipterokarpa. COP BORNEO has been built by COP is funded largely by With Compassion and Soul (WC & S) with additional funding from the Orangutan Crisis Fund (OCF), The Orangutan Project (TOP) and Monkey Business.

For more Info & interviews, please contact :

Hardi Baktiantoro

Phone : 08121154911

email : orangutanborneo@mac.com

 

INDONESIA MEMBUKA PUSAT REINTRODUKSI ORANGUTAN KE 5

Pusat Reintroduksi Orangutan COP BORNEO secara resmi telah beroperasi, menjadi yang ke 5 di Indonesia. Fasilitas ini merupakan kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Pusat Perlindungan Orangutan / Centre for Orangutan Protection (COP). Berdiri di dalam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan seluas 7.900 hektar di kabupaten Berau, fasilitas ini diharapkan dapat menampung 50 (limapuluh) orangutan. Saat ini, 13 (tigabelas) orangutan sedang menjalani proses rehabilitasi, 3 diantaranya sudah siap dilepasliarkan pada semester ke 2 tahun ini. Selayaknya Pusat Reintroduksi yang dikelola dengan standar International Union for Conservation Network (IUCN), COP BORNEO akan menjadi kawasan tertutup. Tidak dibenarkan adanya kunjungan oleh orang – orang yang tidak berkepentingan atau wisata.

Hardi Baktiantoro, Principal COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Kawasan ini sangat sempurna untuk rehabiitasi orangutan. Hutannya masih sangat bagus, pohonnya besar – besar, banyak pakan alami tersedia sehingga orangutan bisa belajar menjadi orangutan liar dengan baik. Kami masih harus melakukan survey untuk menentukan apakah KHDTK Labanan juga layak untuk kawasan pelepasliaran. Pastinya kawasan ini juga sangat terlindungi, secara hukum adalah kawasan konservasi, secara teknis tidak ada populasi orangutan liar dan secara adat masyarakat setempat sangat mendukung.”

“Selain fasilitas untuk proses rehabilitasi seperti kandang karantina dan kandang sosialisasi serta klinik, fasilitas ini juga dilengkapi dengan bangunan multi fungsi yang dapat digunakan sebagai kantor, stasiun riset dan asrama bagi para perawat orangutan dan peneliti. Dengan demikian, kawasan ini benar – benar terpadu untuk rehabilitasi dan penelitian flora fauna.”

KHDTK Labanan  dikelola oleh Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Pembangunan COP BORNEO sendiri didanai sebagian besar oleh With Compassion and Soul (WC&S) dengan tambahan dana dari Orangutan Crisis Fund (OCF), The Orangutan Project (TOP) dan Monkey Business.

Informasi dan wawancara, harap menghubungi:

Hardi Baktiantoro

08121154911

orangutanborneo@mac.com

13 ORANGUTAN KALIMANTAN AKAN DIREHABILITASI DI COP BORNEO

Samarinda – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) dengan dibantu oleh Centre for Orangutan Protection (COP) dan Yayasan  Borneo Orangutan Survival (BOS), pada hari ini memindahkan 13 (tigabelas) Orangutan Kalimantan sub species morio (Pongo pygmaeus morio) dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS) menuju Pusat Reintroduksi Orangutan COP BORNEO di Labanan, Kabupaten Berau. Labanan adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang luasnya  7900 hektar, saat ini dikelola oleh Badan Penelitian dan Pengembangan dari Kemen LHK. Diharapkan, ke 13 orangutan tersebut mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dan memiliki kesempatan ke dua dalam hidupnya untuk menjadi orangutan yang bebas di alam liar. COP BORNEO adalah Pusat Reintroduksi Orangutan ke 5 yang dimiliki oleh Indonesia.

Ramadhani, Area Manager COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Dari ke 13 orangutan tersebut, 3 diantaranya akan berada dalam sanctuary kami selamanya karena 2 sudah  terlalu tua dan 1 mengidap Hepatitis B. Sisanya masih bisa direhabilitasi. Berita baiknya adalah 3 diantaranya sudah siap untuk dilepasliarkan pada semester ke-2 tahun ini. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena mereka menjalani pelatihan yang kami sebut dengan Sekolah Hutan selama berada di Kebun Raya Universitas  Mulawarman Samarinda (KRUS). Mereka menunjukkan keahlian yang memadai untuk bertahan hidup seperti mencari pakan alami, membuat sarang dan menghindari bahaya dari predator.”

Imam Arifin, Dokter Hewan COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Rehabilitasi adalah proses yang panjang dan rentan untuk gagal. Karenanya, kami akan memberlakukan aturan yang ketat, terutama dalam hal interaksi dengan manusia selain dengan para perawat dan pelatihnya. Agar mereka tidak tertular penyakit oleh orang – orang yang tidak berkepentingan.”

Pusat Reintroduksi Orangutan COP BORNEO  diproyeksikan dapat menampung setidaknya 50 orangutan yang menjadi sudah tercerabut dari habitatnya karena pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit, pertambangan batubara dan yang pernah dipelihara secara illegal oleh masyarakat. Dibandingkan sub species lainnya, Pongo pygmaeus morio adalah sub jenis yang paling rentan, jumlahnya diperkirakan hanya 4825. Populasi Orangutan Kalimantan diperkirakan sejumlah  54.567 (PHVA dan revisi PHVA 2004; Wich, dkk 2008). Orangutan dilindungi oleh UU Nomor 5 /1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya beserta PP No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani

Phone : 081349271904

email : dhani@cop.or.id

PLAYING IN THE TRANSPORT CAGE

Just like ordinary kids, Novi and Jabrik are really enjoy the trip. They play all the time. They are 2 of 13 orangutans who are on the way to COP BORNEO, a 5th Indonesian reintroduction centre. Thanks to the Orangutan Outreach to fund this big translocation.

Selayaknya anak – anak, Novi dan Jabrik sangat menikmati perjalanan. Mereka bermain sepanjang waktu. Mereka adalah 2 dari 13 orangutan yang sedang dalam perjalanan menuju COP BORNEO, Pusat Reintroduksi Orangutan ke 5 yang dimiliki oleh Indonesia. Terima kasih kepada Orangutan Outreach yang telah mendanai pemindahan besar ini.

His name is NYATA

NYATA is a reality we have to face in Kalimantan nowadays. Just same shit different places: forest being cleared to make way for oil palm plantation or coal mining. The staffs of Kutai National Park brought him to Wildlife Authority facility in Samarinda, then we took him to their facility in Tenggarong. According to them, they confiscated from a local nearby park that kept it for 5 years already. We confidence that the story simply a hoax. NYATA is about 3 years old and still very wild. He looked nervous and mad when we approach him. He scream and smack food container and everything he can inside the cage. He try to warn us for not get closer. We decided to leave him alone today. However we promised to him to take to our centre soon once he is ready for a long land trip.

 

NYATA adalah kenyataan yang harus kami hadapi setiap hari di Kalimantan. Hanya masalah yang sama, tempatnya saja yan beda: hutan dibabat untuk membuka perkebunan kelapa sawit atau tambang batubara. Staff Taman Nasional Kutai membawanya ke kantor BKSDA di Samarinda lalu kami membawanya ke fasilitasnya di Tenggarong. Menurut mereka, dia disita dari seorang warga yang telah memeliharanya selama 5 tahun di dekat Taman Nasional. Kami yakin bahwa itu bohong. NYATA berusia sekitar 3 tahun dan masih sangat liar. Dia kelihatan sangat gugup dan marah ketika kami mencoba mendekatinya. Dia menjerit dan membanting wadah makanan dan apa saja yang bisa diraihnya dalam kandang. Dia mencoba peringatkan kami untuk tidak mendekat. Kami memutuskan untuk membiarkannya dulu hari ini. Bagaimanapun juga kami berjanji untuk kembali dan membawanya ke Pusat Reintroduksi kami segera setelah dia siap untuk perjalanan darat yang jauh.

 

Page 20 of 22« First...10...1819202122