NEST IN PEACE JABRICK

JABRICK has had her ups & downs since coming to COP Borneo. If you remember in Feb 2015 JABRICK who was only 1yr old was stolen from her Mum at the time her Mum was killed. JABRICK was very skinny & weak and the ‘owners’ realised they did not know how to care for such a young baby and so surrendered her. JABRICK was severely malnourished as she had only been given condensed milk and because an orangutan baby in the wild can suckle from their Mother for up to 8yrs was also denied many antibodies normally absorbed from Mum’s colostrum.

When JABRICK first arrived it took many months to bring her health up but the COP Team did increase her health and although only a baby she was one of the top climbers in forest school and often would not come down at the end of the day. Then JABRICK, whose defenses (because of the reasons mentioned above) were low caught Malaria and got really sick. She was removed from the cages and put in the temporary clinic and was under the constant care of the COP Borneo vet. She was sick for quite a few weeks but then slowly recovered and went back to Forest School where she was the orangutan who would climb the highest and not want to come down each day, she was top of her class even though she was the baby of the group.

Two weeks ago she caught influenza so had to again be removed from the cages and was taken to the temporary clinic whilst I was there. She was kept warm and Dr Iman tried everything to get her to eat as she had lost her appetite. When she wouldn’t eat enough Jabrick was given intravenous food and was monitored 24hrs a day. A a big orange teddy bear was bought for her so she could cling to it in her little basket in the clinic while she slept. Her condition continued to weaken as she would not eat or drink and finding veins to intravenously feed became increasingly difficult. Sadly on 15th January she passed away. We are all absolutely devastated as she was one of our little champions. RIP Jabrick, we will never forget you.

For those who had adopted Jabrick please see the email we have sent you and reply to that email as we will not be replying to any comments in the comments box below as they are not able to be tracked. Thank you The devastated COP Team.

Perang Hutan Dimulai

Hari – hari pertama perjalanan kami sangat menyedihkan. Kami tiba di Muara Wahau, menyaksikan bagaimana orangutan tergusur oleh pembukaan perkebunan kelapa sawit.

Kami menemukan 9 orangutan, 2 diantaranya bayi, terjebak dalam hutan – hutan yang terfrgamentasi. Kami menemukan banyak sekali pohon sawit muda yang tercabut, dimakan tunasnya oleh orangutan. Ini hanya soal waktu bagaimana mereka mati kelaparan atau dibunuh diam – diam.

Ironisnya, mereka semua memiliki dokumen ilmiah dan dokumen legal yang mengkonfirmasikan bahwa tidak ada yang salah dengan perkebunan mereka. Ironisnya, mereka semua memiliki program konservasi alam bersama dengan pemerintah, universitas dan LSM. Ini semakin menguatkan tekad kami untuk mempermalukan mereka semua guna menghentikan semua kejahatan yang terorganisir ini.
 

Perang hutan telah dimulai. APE Crusader telah kembali. Pantau terus berita terbaru dari kami. (BAK)

2016, Jalan Pulang Ke Rumah

2015 adalah tahun yang hebat. Kita telah mengambil langkah – langkah besar untuk membawa orangutan pulang ke habitatnya alaminya. Dimulai dari memindahkan orangutan dari kebun binatang Samarinda ke Pusat Penyelamatan yang baru di hutan penelitian Labanan hingga mempersiapkan pelepasliaran. Pulau untuk Pra Pelepasliaran sudah berhadil dibeli dengan dana yang dihimpun dari konser musik Sound for Orangutan di Yogya dan Samarinda. Pelepasliaran ke habitat alaminya di sebuah Cagar Alam hanyalah soal waktu belaka di tahun 2016.

Pusat Penyelamatan ini juga menjadi harapan baru bagi orangutan yang sebelumnya menjalani hari – hari yang buruk di peliharaan ilegal. Unyil adalah salah satu contohnya. Selama kurang lebih  5 tahunan, dia tinggal di dalam peti kayu di dalam sebuah toilet. Saat anda membaca laporan ini, Unyil sedang belajar menjadi orangutan liar di sekolah hutan. Dia belajar memanjat pohon, membuat sarang dan menemukan pakan alami.

Bagi kami, kasus Unyil adalah alasan kenapa kami harus memerangi perdagangan satwa liar. Hanya dengan penegakan hukum yang keras, perdagangan dapat dihentikan. Penjara adalah ruang kelas terbaik bagi para pedagang untuk belajar memahami kenapa satwa liar tidak boleh diperdagangkan. Berita di media mengenai penegakan hukum adalah bentuk sosialisasi terbaik untuk masyarakat pecinta satwa agar tidak main – main dengan satwa liar. Karena itulah kami   bekerja keras bersama aparat penegak hukum memburu para pedagang satwa liar agar trend pemeliharaan orangutan secara illegal dapat segera berakhir. 2 orang berhasil dipenjara dan 4 bayi orangutan telah berhasil diselamatkan selama tahun 2015.

2015 juga tahun yang sangat panas. Gejala alam El Nino, budaya bakar untuk membuka lahan perladangan dan ulah spekulan tanah adalah kombinasi yang daya rusaknya luar biasa. Kami telah mempersiapkan diri dengan baik. SOP disusun dan peralatan disiapkan. Simulasi dilakukan untuk mengantispasi kebakaran. Kami berhasil melaluinya dengan baik saat kebakaran hebat itu terjadi. Kami juga tidak tinggal diam melihat api mengancam orangutan di Hutan LIndung Sungai Wain dan Taman Nasional Tanjung Puting. Bersama dengan mitra setempat, kami bekerja bahu membahu memadamkan api. Kebakaran juga menyebabkan semakin menyempitnya habitat. Orangutan harus bersaing lebih keras untuk memperebutkan ruang hidup dan pakan. Konflik dengan masyarakat menjadi tak terhindarkan. Ini artinya tim penyelamat kami harus bekerja keras lagi dan pusat penyelematan harus selalu dalam keaadaan siap untuk menerima pengungsi baru.

Meskipun nampak berat, kami sangat optimis untuk dapat melaluinya, karena kami punya anda, para Orangufriends yang bangga dan militan. Selain itu, kita juga sangat beruntung mendapatkan staff – staf baru yang muda dan berdedikasi tinggi. Wajar mereka adalah para alumni COP School. Mereka adalah Bintang Dian Pertiwi. Dia akan bertugas sebagai staff legal. Tugasnya memerangi kejahatan terhadap satwa liar. Selanjutnya ada Ade Fitria Yuliani. Dokter hewan ini akan bertugas sebagai kru APE Crusader dan yang terakhir adalah Zakia. Gadis yang mahir berbahasa Ingrris dan Jerman ini siap bekrja sebagai staff komunikasi, dengan tugas mengerahkan dukungan massa.

Sementara itu di Pusat Reintroduksi Orangutan, kami terus berbenah. Pulau Bawan Kecil kini telah  dibeli dan ditinggali oleh 7 orangutan. Ini adalah perhentian terkahir sebelum mereka dilepasliarkan pada semester awal 2016. Kami sedang mengupayakan pembelian Pula Bawan Besar dan tanah – tanah disekitarnya untuk mendukung program pra pelepasliaran. Ada banyak hal yang harus dibereskan dalam hal ini. Punya uang saja tidak cukup. Kami harus melakukan sosialisasi dan bekerja dengan masyarakat setempat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan rencana. Sekali lagi, terima kasih untuk Orangufriends yang bekerja tanpa lelah mengumpulkan dana pemebelian pulau dan perahu beserta mesinnya.

Ada juga cerita sedih di awal tahun 2016. Setelah hampir setahun berbaur dengan tim APE Defender menjalankan Pusat Reintroduksi Orangutan Borneo, kini tim APE Crusader harus kembali ke jalanan: memerangi para penjahat kehutanan. Mereka akan menyelidiki, mendokumentasikan dan mempublikasikan temuan mereka agar penegak hukum bergerak. Kami bertekad agar tahun 2016 menjadi tahun yang berat bagi para pembabat hutan, pemburu dan pedagang satwa. Dan kami sudah punya rencana kerja yang matang untuk itu. Saat ini yang kami butuhkan hanya dukungan anda semua: Orangufriends yang bangga.

CATATAN AKHIR TAHUN COP 2015 PERDAGANGAN SATWA LIAR

Kejahatan perdagangan satwa liar di tahun 2015 menggunakan metode yang lebih modern dan terorganisir dengan baik. Peran penegakan hukum oleh aparat terkait menekan laju perdagangan satwa yang semakin marak terjadi merupakan kunci.
Perdagangan Online dan Kejahatan Terorganisir
Kelompok pedagang online membuat grup komunikasi pedagang dalam grup Facebook. Majunya teknologi seperti dua mata pisau yang berbeda, bisa berbahaya mendukung kejahatan ini terus terjadi namun juga bisa membantu upaya konservasi satwa liar. Tanpa transaksi tatap muka atau secara langsung, para pedagang bisa bertransaksi jual beli melalui media online khususnya Facebook ini. Para pedagang melengkapi grup jualannya dengan sarana transaksi bersama atau sering disebut rekber (rekening bersama) sehingga membuat transaksi ini lebih aman. Cara kerja rekber ini dilakukan pihak ketiga yang menjembatani pedagang dan pembeli yang sudah sepakat dengan transaksi satwanya, kemudian pembeli mengirimkan uang pembelian ke rekber dilanjutkan penjual mengirimkan satwa ke pembeli. Jika pembeli sudah menerima satwa dan sesuai spesifikasi maka pihak pembeli akan konfirmasi kepada rekber dan pihak rekber akan mengirimkan uang transaksi ke rekening penjual.
Grup pedagang online ini juga memiliki jasa pengiriman satwa khusus. Bisnis ini sangat besar, sistematis dan terorganisir dengan baik. Satwa yang dijual bukan satwa sembarangan. Orangutan, Beruang, Harimau dan bahkan bagian Gajah juga dalam transaksi yang bernilai sangat mahal. Kita ambil contohsatu harga bayi orangutan, ketika masih di areal habitat di Kalimantan dan Sumtera harganya sekitar dua juta hingga 5 juta rupiah. Jika sudah sampai di p Jawa harga abisa melonjak hingga 50 juta sampai 70 juta rupiah. Berbeda lagi jika sudah diselundupkan ke luar negeri bisa mencapai 10 kali lipatnya. Sehingga bisnis ini sangat subur dengan nilai perputaran uang dengan jumlah yang besar.
Penanganan Kasus Perdagangan Satwa Liar
Sepanjang tahun 2015 COP bersama aparat terkait melakukan beberapa serial operasi penyitaan untuk mendorong penegakan hukum. Berikut catatan akhir tahun penanganan kasus yang dilakukan COP selama 2015:
Pada 21 Februari 2015 tim Dittipter Bareskrim Mabes Polri bersama COP dan JAAN menggrebek lokasi pedagang satwa di Kampung Balong RT 02/ RW X desa Gandamekar, kecamatan Kadungora, kabupaten Garut, Jawa Barat. Di lokasi tersebut tim menangkap pedagang bernama Dicky Rusvinda yang telah 8 bulan dipantau COP dan mengamankan barang bukti 18 jenis satwa dilindungi berjumlah 33 ekor seperti Kukus tutul (Spilocuscus maculatus), Kasturi raja (Psittrichas fulgidus), Kakatua maluku (Cacatua molucencis), Nuri kepala hitam (Lorius lory), Beruang madu (Helarctos malayanus), Kucing hutan (Prionailurus bengalensis), Orangutan sumatera (Pongo abelli), Tarsius (Tarsius bancanus), Kakatua putih (Cacatua alba), Monyet dige (Macaca hecki), Betet kelapa Punggung biru (Tanyg- nathus sumatranus), Kakatua raja (Probosciger aterrimus), Kakaktua koki (Cacatua galerita), Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), Kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), Julang irian (Rhyticero plicatus), Julang sulawesi (Aceros cossidix), Rangkong badak (Buceros rhinocheros). Seluruh sata sitaan dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Sukabumi. Pada 2 Juli 2015 Dicky Rusvinda dijatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Garut.
3 Juli 2015 tim Polda Jatim, COP bersama Animals Indonesia melakukan penggrebekan pedagang satwa di Jl Demak, Surabaya. Pedagang menjual satwa golongan dilindungi dengan rincian 1 (satu) ekor elang jawa (spizaetus bartelsi), 1 (satu) ekor elang brontok (Nisaetus Cirrhatus), 1 (satu) ekor elang laut (Haliacetus leucogaster), 4 (empat) elang alap, 2 (dua) ekor anak elang dan 4 (empat) ekor elang lainnya mati. Pedagang ditangkap dan dibawa ke Polda Jatim bersama keenambelas barang bukti tersebut. Terdakwa Paska Aditya mendapat vonis hukuman 7 bulan penjara dan denda Rp 2.500.000,- pada tanggal 21 Oktober 2015. Vonis ini berdasarkan petikan putusan pengadilan nomor 2167/Pid.B/2015/PN.SBY.
HER_4922.jpeg
BKSDA Jawa Barat, Polda Jawa Barat dibantu COP dan JAAN pada 30 Juli 2015 mengamankan barang bukti puluhan karapas penyu, kulit harimau, tengkorak beruang, kepala beruang, opsetan cendrawasih, kuku harimau, cakar tanduk rusa dan lainnya dari toko Old and New Bandung di Jl. Martadinata Bandung.
1 Agustus 2015 tim BKSDA Aceh dan Polda Aceh dibantu COP dan OIC menangkap pedagang di Jl PDAM Pondok Kemuning, desa Suka Rakyat Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh. Pedang satwa bernama Ramadhani ini menjual 3 (tiga) orangutan, 2 (dua) elang bondol, 1 (satu) burung kuau raja dan 1 (satu) awetan macan dahan lengkap beserta kepala dalam bungkusan plastik yang berisi cairan pengawet. Ini merupakan tangkapan terbesar di wilayah Aceh untuk kasus orangutan. Ramadhani mengambil satwa dari pemburu dan menjualnya di Medan dan dilanjutkan oleh jaringan pedagang Medan dengan mengirimkannya ke Jawa. Pada 19 November 2015, terdakwa dijatuhi hukuman 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Langsa. Ini adalah vonis tertinggi untuk kasus kejahatan satwa liar di Aceh.
BKSDA Jawa Timur dan Polres Probolinggo dibantu COP menangkap pedagang satwa di dusun Pasar, desa Petunjungan, Kecamatan Paiton, kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada 21 Oktober 2015 yang lalu. Tim mengamankan 5 (lima) ekor Lutung Jawa di rumah tersangka yang merupakan gudang penyimpanan satwa. Tim membawa tersangka bersama satwa barang bukti menuju Polres Probolinggo untuk penyelidikan lebih lanjut. Saat ini barang bukti ditampung di Javan Langur Center (JLC) di Jawa Timur.
IMG_0632.jpeg
Lutung Jawa yang diamankan oleh tim Polres Probolinggo, Jawa Timur dari gudang pedagang
Sistem Pengawasan Kejahatan Perdagangan Online
Kejahatan ini terjadi dengan subur manakala pengawasan dan penegakkan hukum tidak terjadi dengan tegas dan berani. Sudah waktunya Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup memberikan tekanan kepada pengelola jejaring sosial yang digunakan sebagai media kejahatan untuk membuat sistem portal yang bisa menekan kejahatan ini terjadi. Kemenhut dan LH membangun unit tersendiri yang menangani kejahatan online yang terus berkembang karena perdagangan konvensional yang harus bertatap muka dalam bertransaksi sudah bergeser menjadi perdagangan satwa liar online.

LIFE OF YANTI

She is #orangufriends #orangufriendaward2014

COP #proudofOrangufriends

It’s been 13 years that this veterinarian has been taking on wild animals. She began her career handling issues of threatened wildlife species in Indonesia, from confiscations and illegal trafficking to the rescue of victims of conflict in East Java and Bali.

As a consultant veterinarian in the Tiger Protection and Conservation Unit team in Kerinci Seblat National Park, Sumatra, Dr. Yanti shared a canoe with a Sumatran tiger. This is the eleventh live tiger that has been rescued in the last 8 years.

Alongside the Tiger Rescue Unit of the Conservation of Natural Resources Agency, Bengkulu, Dr. Yanti relocated two Sumatran tigers on the 28th of October 2015. One of these tigers had been caught in a hunter’s snare in a palm oil plantation, while the other was a victim of human conflict. It is suspected this tiger was intended for consumption.

Both Sumatran tigers were moved to the North Bengkulu conservation forest. “Incidentally, there are no roads to the location, so we had to cross the Seblat river in a canoe, together with the Sumatran tiger. Yes, this would have to be the first time I’ve shared a canoe with a big cat” Dr. Erni Suyanti Musabine commented. Dr. Yanti’s happiness in being able to bring the tiger to a much more suitable location outweighed any fears she had about climbing into a canoe with the almost extinct Sumatran tiger.

Sudah tiga belas tahun seorang dokter hewan ini bergelut dengan satwa liar. Mengawali karirnya dengan menangani satwa liar yang terancam punah di Indonesia yang berasal dari penyitaan, perdagangan illegal bahkan dari penyelamatan korban konflik di Jawa Timur dan Bali.

Sebagai seorang konsultan dokter di Tim Tiger Protection and Conservation Unit, Kerinci Seblat, Sumatera membawa drh. Yanti seperahu dengan harimau Sumatera. Ini adalah harimau hidup ke-11 (kesebelas) yang berhasil diselamatkannya selama 8 (delapan) tahun terakhir.

Bersama tim Tiger Rescue Unit BKSDA Bengkulu, drh. Yanti merelokasi dua ekor harimau Sumatera pada 28 Oktober 2015 yang lalu. Satu harimau Sumatera merupakan korban jerat pemburu liar di perkebunan sawit. Sementara yang satunya lagi korban konflik manusia dengan dugaan untuk dikonsumsi.

Kedua harimau Sumatera itu dipindahkan ke hutan konservasi di Bengkulu Utara. “Kebetulan untuk mencapai lokasi tidak ada jalan darat, jadinya harus menyeberang sungai Seblat seperahu dengan harimau Sumatra ini. Ya, ini untuk pertama kalinya saya seperahu dengan kucing besar.”, tutur drh Erni Suyanti Musabine. Perasaan bahagia drh. Yanti membawa harimau ke lokasi yang lebih baik untuk harimau-harimau itu menempis rasa takut seperahu dengan harimau sumatera yang nyaris punah ini.

Source: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.933857953318364.1073741828.222411551129678&type=3

VONIS DUA TAHUN PENJARA UNTUK #PEDAGANG3ORANGUTAN

Berawal dari pesan yang masuk di kotak pesan facebook COP. Seorang perempuan dari Bali menyampaikan keprihatinannya pada bayi orangutan yang dijual di salah satu akun facebook. COP bergerilya mencari informasi lebih lanjut dan mengelolahnya hingga akhirnya COP merencanakan aksi untuk pedagang.

BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Aceh bersama Subdit Tipidter POLDA Aceh dibantu COP (Centre for Orangutan Protection) dan OIC (Orangutan Information Centre) menangkap Ramadhani di Jalan PDAM Tirta Pondok Kemuning, Desa Pondok Kemuning, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh Timur pada tanggal 1 Agustus 2015. Dalam operasi tersebut, tim BKSDA menyita 3 (tiga) orangutan, 2 (dua) elang bondol, 1 (satu) burung kuau raja dan 1 (satu) awetan macan dahan.

Akhirnya pada tanggal 19 November 2015 melalui Hakim Ketua Ismail Hidayat, SH dengan hakim anggota Sulaiman M, SH., MH., dan Fadhli, SH., memutuskan vonis pidana penjara 2 tahun dan denda senilai Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara terhadap Ramadhani, pelaku perdagangan 3 orangutan Sumatera dan satwa dilindungi lainnya. Keputusan Pengadilan Negeri Langsa ini masih jauh dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Zulham Pardamean Pane, SH., yang meminta tersangka dituntut hukuman pidana penjara 3 tahun dan denda 50 juta rupiah subsider 6 bulan penjara.

Daniek Hendarto, Manajer Anti Kejahatan Satwa Liar Centre for Orangutan Protection (COP) menyatakan, “Vonis hukuman 2 tahun menjadi momentum positif bagi upaya penegakkan hukum satwa liar di Indonesia khususnya di Aceh. COP mengapresiasi kinerja dari BKSDA Aceh dan Subdit POLDA Aceh dalam upaya penegakkan hukum ini. Sepanjang 4 tahun terakhir ini, kejahatan satwa liar di Indonesia berkembang ke arah yang lebih canggih dengan menggunakan jejaring media sosial seperti Facebook. Ini merupakan kejahatan serius dan perlu upaya yang serius pula dalam upaya penegakkan hukumnya. Kita berharap kejahatan serupa dapat ditekan dengan upaya penegakkan hukum yang lebih tegas dan berani.”

PENJARA 7 BULAN UNTUK PEDAGANG 16 ELANG

Pengadilan Negeri Surabaya pada 21 Oktober 2015 menyatakan terdakwa Paska A S terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Tanpa Hak memiliki, memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup tanpa disertai surat ijin dari pihak yang berwenang.”.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya yang dipimpin Jihad Arkanuddin, SH., MH., dengan hakim anggota Drs. Imam Khanafi. R, SH., MH., dan Risti Indrijani, SH., menjatuhkan terdakwa Paska A S dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) bulan, denda sebesar Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka dapat diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan.

“Putusan ini jauh dari yang COP bayangkan. Berdasarkan Pasal 40 Ayat 2 junto Pasal 21 Ayat 2 UU tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Paska seharusnya tidak jauh dari hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.”, kata Daniek Hendarto, Manajer Anti Kejahatan Satwa Liar Centre for Orangutan Protection (COP).

Ditreskrimsus POLDA Jatim pada tanggal 4 Juli 2015, Paska tertangkap tangan dengan barang bukti 16 (enambelas) ekor elang dengan rincian 1 (satu) ekor elang jawa (spizaetus bartelsi), 1 (satu) ekor elang brontok (Nisaetus Cirrhatus), 1 (satu) ekor elang laut (Haliacetus leucogaster), 4 (empat) elang alap, 2 (dua) ekor anak elang dan 4 (empat) ekor elang lainnya mati. Paska menjual burung-burung elang ini melalui situs Facebook.

“Sekali lagi Facebook menjadi media membahayakan bagi satwa liar. Perdagangan satwa liar yang dilindungi semakin berani secara terbuka di Facebook.COP mengajak masyarakat untuk menghentikan kejahatan ini, dengan tidak membeli satwa liar dan melaporkan perdagangan satwa liar kepada COP atau langsung kepada pihak yang berwajib.”, tambah Daniek Hendarto.

IF ONLY ORANGUTANS COULD SHARE TALES OF THE KALIMANTAN FOREST FIRES

Fires are always going to occur, whether deliberate or not, and they can also be caused by El Nino effects. We have every reason to prepare ourselves and be on full alert. The orangutan rescue centre that we run stands upon coal deposits a mere few metres below the surface. This forest region is also divided by the trans-Kalimantan road, where careless road users can just throw out their still-lit cigarette butts, starting fires in the dry grass and leaves.

With the resources that we have, we have created a system to prevent the orangutans in our care from suffering during these fires. We have bought several new water pumps, connected taps at a number of locations and prepared hoses at each site. Through radio and internet, we have been monitoring the movement of fires and hot spots. Fire patrols are in place and firebreaks have been created.

That grave day finally arrived – fire ripped along the trans-Kalimantan road that passes through our centre. Little more could be done than to defend ourselves so that the fire did not spread to our location. The situation late that night felt like hell. Fire danced and licked at the sky, as though giving us a warning – we are nothing in this great big universe.

We prayed with everything that we had. We called to all the spirits and ghosts that dwell in the forests. It seems that somebody was listening. The wind changed direction and slowly died down, though the fires that week had destroyed at least 800 hectares of the rich and biodiverse Labanan Research Forest. The good news is, we were safe, the orangutans were safe, and all of our supporting facilities were also unharmed.

All the same, we couldn’t sit by and watch the fires burning through other areas. Almost the entire island of Kalimantan was burning, the fires depleting the forests and threatening the wildlife. We had to set priorities for our teams. We chose the Tanjung Puting National Park in Central Kalimantan, and the Wain River Protected Forest. Tanjung Puting National Park is a home for 6000 orangutans, and our associates there – the Friends of the National Park Foundation (FNPF) and Orangutan Foundation International (OFI), were putting their lives on the line to extinguish the fires. The first hurdle for us was distance. The APE Crusader team drove for 3 days non-stop from Berau to Pangkalan Bun. The APE Warrior team flew to Balikpapan in Kalimantan, the only city with an airport still open, despite the thick smoke obstructing pilots’ vision. From Balikpapan, the team drove across South Kalimantan, headed for Central Kalimantan.

We began working at Beguruh Camp, where FNPF has been restoring the region since 2003. The trees that had been planted there were wiped out in a fire in 2006, but FNPF did not give up. With the help of the local community, they again replanted the area, to only be burned down again this time. But they have a good reason not to give up. As well as being a vital habitat for orangutans, Tanjung Puting National Park also gives life to the local community through the ecotourism sector. Sixteen thousand tourists visit the area each year to see the orangutans. Orangutans need forest, so they must ensure that the forest remains.

Our determination to save the forest and the orangutans from fire has truly been tested. While we were fighting to extinguish the fires, the house of one of our team members, Paulinus, was burnt to the ground. The forest fire crept its way into the village and engulfed a number of houses. Sadly, Paulinus’ grandfather lost his life in this tragedy. But will we give up? No!

We flew out a drone to monitor the situation and record the damage. We found that there are still a number of fire hotspots and smoke billowing. Hopefully they will soon die out, because the rain has begun to fall. Our estimate is that at least 91,000 hectares of the Tanjung Puting National Park region has been burnt down, 7,000 hectares of which are forest areas. This equates to the combined total of the destruction caused by the fires of both 1997 and 2006. The biggest task is yet to come – replanting. COP has decided to carry out an investigation. Somebody must be held accountable, particularly since we received a report from a water bomber pilot, that he witnessed 3 people fleeing from a place where they should not have been. It is suspected that these people were paid by the palm oil industry.  In that region, 500 hectares of land are held and defended by the local community, who refuse to sell to the palm oil companies. If the land has all been burnt down like this, what is left to defend?

Meanwhile, other teams moved out to Wain River Protected Forest, an area of vital habitat to orangutans and sunbears only 15 kilometres from Balikpapan, East Kalimantan.  Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation have released 80 orangutans in this area. For this reason, we decided to help out here. Wain River is managed by the Protected Forest Management Body, a technical implementation unit from the Balikpapan city government. Compared to other regions, perhaps the handling of issues in this area is better. The local government assigned 150 soldiers to extinguish the fires. We endeavoured to prevent the spread of fires into this area. Firebreaks were created to isolate the fires and prevent spreading. A team was put on patrol in order to ensure no fires were able to creep in, and to put out the remaining fires that could potentially reignite. We stayed at Jamaludin camp, approximately 4 hours on foot from the forest entrance.

The rain has now fallen, put out the fires, and washed away the community’s anger and the evidence of crimes that may have been committed here by forest felons. There is one big question that is always asked of us by the media and journalists: How many orangutans have become victims of the forest fires? We don’t know. What is certain is, at the time that you are reading this, our rescue centre has gained two new residents. One more has just arrived at the Forest Ministry facility in Tenggarong, East Kalimantan. As usual, we have little information of their backgrounds. If only orangutans could speak a human language, they would surely have much to tell us.

We express our thanks to The Orangutan Project, Monkey Business, International Fund for Animal Welfare, The Forest Trust and Indonesia Orangutan Forum, who have all supported us with funds and equipment for this operation.

 

ANDAI ORANGUTAN BISA BERCERITA,

KISAH YANG TERSISA DARI KEBAKARAN HUTAN DI KALIMANTAN

Kebakaran pasti akan terjadi, baik disengaja atau tidak. Bisa juga karena  gejala alam El Nino. Kami memiliki semua alasan untuk mempersiapkan diri dan bersiaga penuh. Pusat Penyelamatan Orangutan yang kami jalankan berdiri di atas deposit batubara, hanya beberapa meter saja dalamnya. Jalan trans Kalimantan, juga membelah kawasan hutan itu. Para sopir yang ceroboh bisa saja membuang puntung rokoknya yang masih menyala dan membakar serasah daun serta rerumputan kering.

Dengan sumber daya seadanya, kami menciptakan system untuk mencegah agar orangutan yang berada dalam perawatan kami tidak terpanggang dalam panggang. Kami membeli beberapa mesin pompa air baru, membuat dan menghubungkan  titik – titik kran dan menyiapkan selang di lokasi. Dari radio kami memantau pergerakan api, dari internet kami memantau trend hot spot. Patroli api dijalankan. Sekat api juga dibuat.

Hari besar itu akhirnya terjadi. Api membakar sepanjang jalan trans Kalimantan yang melewati pusat kami. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain mempertahankan diri agar api tidak merambat ke lokasi kami. Malam – malam itu situasinya seperti neraka. Api menari dan menjilat langit, terlihat memberikan peringatan kepada kami: bahwa kami bukanlah apa – apa di alam raya ini.

Kami berdoa dengan semua doa yang kami ingat. Kami memanggil semua arwah binatang dan hantu yang mendiami hutan. Nampaknya, ada yang mendengarnya. Angin berubah arah dan menjauh, pelan – pelan meredup dan mati. Kebakaran minggu itu telah menghancurkan setidaknya 800 hektar hutan penelitian Labanan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Berita baiknya, kami selamat, orangutan selamat dan seluruh fasilitas pendukung juga selamat.

Namun demikian kami tidak bisa berdiam diri melihat kebakaran di tempat lain. Hampir seluruh Kalimantan sedang terbakar. Api menghabiskan hutan – hutan dan mengancam satwa liar. Kami harus menentukan prioritas untuk menerjunkan tim. Kami memilih Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dan Hutan Lindung Sungai Wain. Taman Nasional Tanjung adalah rumah bagi 6000 orangutan dan sekutu kami di sana, yakni FNPF dan OFI sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api. Rintangan pertama yang menghadang adalah jarak. Tim APE Crusader harus mengemudikan mobilnya dari Berau ke Pangkalan Bun. Jaraknya 3 hari non stop mengemudi. Tim APE Warrior harus terbang dulu ke Balikpapan di Kalimantan, satu – satunya kota yang bandaranya tidak ditutup karena asap benar – benar sudah menghalangi pandangan. Dari Balikpapan, tim mengemudi melintasi Kalimantan Selatan dan lalu menuju Kalimantan Tengah.

Kami mulai bekerja di Camp Beguruh, dimana FNPF merestorasi kawasan ini sejak tahun 2003. Pohon – pohon yang pernah ditanami, pernah ludes terbakar pada tahun 2006. Mereka tidak putus asa. Dengan bantuan masyarakat setempat mereka kembali menanami kawasan itu. Kali ini terbakar lagi. Mereka punya alasan kuat kenapa tidak boleh menyerah. Selain menjadi habitat penting bagi orangutan, Taman Nasional Tanjung Puting juga  memberikan penghidupan bagi masyarakat setempat dari sektor ekowisata. Setidaknya, 16.000 wisatawan datang berkunjung setiap tahunnya: untuk melihat orangutan. Orangutan butuh hutan dan mereka harus memastikan bahwa hutan itu tetap ada.

Semangat kami untuk menyelamatkan hutan dan orangutan dari kobaran api, kali ini benar – benar diuji. Di saat kami sedang berjuang memadamkan api, rumah salah satu anggota tim kami, Paulinus, terbakar habis. Api kebakaran hutan menjalar ke kampungnya dan melalap beberapa rumah. Kakeknya tewas dalam tragedi itu. Menyerah? Tidak!

Kami menerbangkan drone, memantau situasi menginventarisasi kerusakan. Kami menemukan masih ada beberapa titik api dan asap yang mengepul. Semoga lekas padam, karena hujan mulai turun. Perkiraan kami, setidaknya 91.000 hektar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting telah terbakar, 7.000 hektar diantaranya adalah kawasan berhutan. In setara dengan kombinasi 2 kebakaran yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2006. Tugas berat lainnya sudah menunggu: menanaminya kembali. COP memutuskan untuk melakukan investigasi. Harus ada yang  bertanggung jawab, terutama setelah kami mendapatkan laporan dari pilot helikopter pengebom air, bahwa dia melihat 3 orang berlarian di tempat yang tIdak semestinya. Diduga, mereka adalah orang – orang bayaran perusahaan perkebunan kelapa sawit. Di kawasan itu, terdapat hutan seluas 500 hektar yang sedang dipertahankan oleh masyarakat setempat. Mereka menolak untuk menjualnya ke perusahaan kelapa sawit. Jika sudah terbakar habis seperti ini, apa lagi yang harus dipertahankan?

Sementara itu, tim lainnya bergerak ke Hutan LIndung Sungai Wain, habitat penting bagi orangutan dan beruang. Jaraknya hanya 15 km dari kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Yayasan BOS melepasliarkan 80 orangutan di sini. Karena itulah kami memutuskan untuk membantu di sini.  Sungai Wain dikelola oleh Badan Pengelola Hutan Lindung, sebuah Unit Pelaksana Teknis dari pemerintah kota Balikpapan. Dibandingkan kawasan lain, mungkin penanganan di sini lebih baik. Pemerintah kota setempat menerjunkan 150 orang tentara untuk memadamkan api. Kami memilih untuk mencegah meluasnya api ke dalam kawasan. Sekat api dibuat untuk mengisolasi apai agar tidak merambat. Tim berpatroli untuk memastikan tidak ada api yang merambat dan mematikan sisa api yang mungkin bisa berkobar lagi. Kami tinggal di camp Jamaludin, kira – kira 4 jam berjalan kaki dari pintu masuk kawasan.

Hujan kini telah turun. Api kebakaran padam, membasuh semua amarah masyarakat dan bukti – bukti kejahatan yang mungkin pernah dilakukan para kriminal kehutanan. Ada 1 pertanyaan besar yang selalu ditanyakan kepada kami oleh para jurnalis: berapakah orangutan yang menjadi korban dari kebakaran hutan? Kami tidak tahu. Yang pasti, saat anda membaca ini, Pusat Penyelamatan kami sudah terisi 2 penghuni baru. Ada 1 lagi yang baru datang di fasilitas milik Kemenhut di Tenggarong, Kalimantan Timur. Seperti biasa, tidak banyak informasi mengenai latar belakang mereka. Anda orangutan bisa bahasa manusia, tentu dia akan bercerita banyak.

Kami mengucapkan terima kasih kepada The Orangutan Project, Monkey Business, International Fund for Animal Welfare, The Forest Trust dan Forum Orangutan Indonesia yang telah mendukung kami dana dan peralatan untuk operasi ini.

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Hingga akhir bulan Oktober 2015, jumlah titik panas yang terdeteksi di atas peta Taman Nasional Tanjung Puting adalah 2.366. Luasan kawasan yang terbakar mencapai 91.000 hektar, 7000 diantara merupakan kawasan berhutan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kerusakan ini merupakan yang terbesar yang pernah ada, setara dengan kombinasi kebakaran tahun 1997 dan 2006. Titik api diperkirakan berasal dari luar kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan melakukan investigasi mendalam atas kasus ini.

Diperkirakan, setidaknya 6000 orangutan mendiami kawasan konservasi seluas 400.000 hektar ini. Menyempitnya habitat sebagai dampak langsung kebakaran telah menjadikan kompetisi untuk ruang dan makanan menjadi semakin berat. Diperkirakan, kedepannya akan semakin banyak orangutan yang keluar dari kawasan dan mencari makan di areal masyarakat, terutama orangutan jantan yang tidak dominan. Konflik dengan manusia menjadi tak terhindarkan. Tim – tim rescue orangutan seperti dari Orangutan Foundation International (OFI) dan Centre for Orangutan Protection (COP) dipastikan akan bekerja lebih keras agar korban orangutan dapat dicegah. Orangutan yang terluka harus dirawat agar bisa bertahan hidup. Pusat Penyelamatan terdekat, yang dikelola oleh Orangutan Foundation di Pasir Panjang, saat ini dihuni oleh 330 orangutan.

Upaya instan untuk menyelamatkan orangutan yang berkonflik adalah dengan translokasi, yakni memindahkan mereka dari kawasan konflik ke kawasan berhutan yang jauh dari pemukiman masyarakat. Upaya ini sangat sulit dan berbiaya tinggi.

Kebakaran ini berdampak sangat buruk pada perekonomian setempat yang bergantung pada industri ekowisata. Sepanjang tahun 2014, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 16.689 orang, yangmana 10. 986 diantaranya adalah wisatawan asing. Jumlah kunjungan wisatawan asing selama kebakaran terjadi turun drastis hingga ke titik nol. Bandara Pangkalan Bun seringkali ditutup karena kabut asap yang ditimbulkan. Akibatnya, perjalanan – perjalanan wisata yang sudah dipesan oleh wisatawan harus dibatalkan. Kerugian yang diderita oleh para pelaku ekowisata di Tanjung Puting diperkirakan sejumlah 6 milyar rupiah selama 2 bulan terakhir.

Upaya pemadaman telah dilakukan dengan sangat keras oleh Balai Taman Nasional dengan dukungan dari Friends of National Park Foundation (FNPF), Orangutan Foundation International (OFI) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan seperti Sekonyer dan Teluk Pulai juga membantu upaya pemadaman. Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan dukungan teknologi untuk menginventarisir kerusakan.

Komitmen FNPF sejak tahun 2003 untuk merestorasi kawasan di dan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting tidak akan berubah, meskipun ancaman kebakaran terus terjadi. COP berkomitmen untuk melakukan kerja – kerja advokasi agar orangutan di TNTP terlindungi dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kegiatan ekonomi yang kontraproduktif dengan misi konservasi dan ekonomi kerakyatan. OFI tetap berkomitmen mendukung Balai TNTP untuk melindungi orangutan kawasan konservasi TNTP.

Untuk wawancara dan informasi lebih mendalam, silakan berkomunikasi dengan:

Basuki Budi Santoso, Manager FNPF Kalimantan.

Telepon : 08125490673

Email : b4s_uki@yahoo.com

Fajar Dewanto, Manager Orangutan Foundation International

Telepon : fajarmadani@yahoo.com

Email : 081349749208

Hardi Baktiantoro, Ketua Centre for Orangutan Protection

Telepon : 08121154911

Email : orangutanborneo@mac.com

AMBON IS A GENTLE SOUL

Hi… i’m Ambon. Do you still remember me? I’m not cute anymore. Yes… i’m the oldest and the biggest resident at the sanctuary. Ambon is 3 times the size of us. But don’t be fooled by his greatness, this one is a gentle soul.

Animal keeper said that Ambon loves to play with the butterflies, that he loves to watch them land on his hairy arm.

Unfortunately Ambon will never be returned to be wild as he has been incorrectly for too long. Ambon will need our care for the rest of his life.

Click here to ADOPT Ambon http://www.withcompassion.com.au/apps/webstore/products/show/5688153

Page 20 of 25« First...10...1819202122...Last »