HELP ANIMAL VICTIMS IN PALU

The city of Palu and several surrounding cities are totally paralysed by the earthquake and tsunami. The number of human victims has reached more than 800 people. Humanitarian assistance continues to come. Even so, is there anyone help pets and livestock victims?

As usual, Animals Indonesia with the support from COP are sending the Animals Warrior team to help displaced animals in disaster-affected areas such at Mount Merapi – Yogya, Mount Kelud Malang – Kediri, Mount Sinabung – North Sumatra, Mount Agung – Bali, and others. This team will rescue, take care, and reunite animals with their owners, including taking care of animals that have already dead.

The help from all of animal lovers is pretty much needed so the team can work well and help animals as many as possible. You can help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu or directly to Centre for Orangutan Protection account no. 0137088800 (BNI NI DJA) by adding 9 at the final nominal, we can immediately confirm it is a donation to Palu animals. (SAR)

BANTU SATWA PALU
Kota Palu dan beberapa kota sekitarnya lumpuh total karena dihentak gempa bumi dan tsunami. Jumlah korban manusia sudah mencapai 800an lebih. Bantuan kemanusian terus mengalir. Namun demikian, adakah yang membantu korban satwa kesayangan dan ternak? 

Animals Indonesia dengan dukungan dari COP seperti biasa menerjunkan tim Animals Warrior untuk menolong satwa yang telantar di kawasan – kawasan terdampak bencana seperti di gunung Merapi-Yogya, gunung Kelud Malang – Kediri, gunung Sinabung – Sumatra Utara, gunung Agung – Bali dan lain – lain. Tim ini akan menyelamatkan, merawat dan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Termasuk mengurus satwa yang sudah telanjur tewas. 

Mohon bantuan anda semua para pecinta binatang agar tim ini dapat bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa. Melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu atau langsung ke nomer rekening Centre for Orangutan Protection 0137088800 (BNI NI DJA) dengan menambahkan nominal akhir 9 agar kami segera dapat mengkonfirmasi itu merupakan sumbangan untuk satwa Palu.

LOOKING FORWARD TO THE EFFICACY OF PALM OIL PLANTATION MORATORIUM IN THE NEW PRESIDENTIAL INSTRUCTION

September 19, 2018, the President of the Republic of Indonesia has signed Presidential Instruction (INPRES) Number 8/2018 about The Postponement and Evaluation of Licensing and Productivity Improvement of Palm Oil Plantations. The government emphasized this temporary suspension for three years period.

The moratorium on palm oil plantation aims to organize, foster and regulate permits in forest areas, rejuvenate palm oil to be more productive, also develop the quality and quantity in the downstream. For this reason, it is necessary for the government to improve their surveillance in collecting and verifying data of the Location Permit and Plantation Business Permit or Plantation Business Registration Certificate. The government also has to emphasize the transparency process so that public participation in this INPRES is fair for the people, the environment and the restoration of its ecosystem.

The Center for Orangutan Protection welcomed positively the Presidential Instruction on the Palm Oil Plantation Moratorium. “Moratorium on palm oil plantation licenses for the next three years must be a time to evaluate the activities of palm oil plantations in Indonesia, ranging from licensing, handling social and wildlife conflicts that are already underway. But it must also be noted that this INPRES is only intended for forest areas, then the status outside the forest area is still questioned,” said Ramadhani, COP’s Orangutan and Habitat Protection manager.

Three years is a very short time for a moratorium. Let’s support the government to not just evaluate, but also encourage the law enforcement for the use of forest areas for palm oil plantations. (IND)

MENANTIKAN TAJAMNYA INPRES MORATORIUM PERKEBUNAN SAWIT
19 September 2018, Presiden RI telah menandatangani Inpres Nomor 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit. Pemerintah menengaskan penghentian sementara ini selama masa tiga tahun.

Moratorium Perkebunan Sawit bertujuan untuk menata, membina serta menertibkan perizinan di kawasan hutan, peremajaan kelapa sawit untuk lebih produktif dan mengembangkan hilirisasi. Untuk itu diperlukan perbaikan pemerintah pada pengumpulan dan verifikasi atas data dan peta Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan atau Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk lebih menekankan proses keterbukaan sehingga partisipasi publik pada Inpres ini dipandang hal yang berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan hidup serta pemulihan ekosistemnya.

Centre for Orangutan Protection menyambut positif Inpres Moratorium Perkebunan Sawit ini. “Moratorium izin perkebunan kelapa sawit untuk tiga tahun ke depan harus menjadi saat untuk mengevaluasi kegiatan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mulai dari perizinan, penanganan konflik sosial dan satwa liar hingga perkebunan yang sudah berjalan. Namun juga harus diperhatikan bahwa Inpres ini diperuntukkan untuk kawasan hutan, lalu bagaimana yang statusnya di luar kawasan hutan yang mana persoalannya sama.”, ujar Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Waktu tiga tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah moratorium. Mari kita dukung pemerintah untuk tak sekedar evaluasi, tapi juga penegakan hukum atas penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

GIVING DAY FOR APES 2018

Time passes so quickly. We will celebrate the Giving Day for Apes again on September 25, 2018. Centre for Orangutan Protection really needs your help! Let’s celebrate the day by supporting the release of four orangutans that each of them has unique background story. Those who lived in zoo, toilet and lost his mother by the reason of palm oil plantation.

How do we easily remember the success of our life? Simply by donating to Giving Day for Apes. For those of you who celebrate birthdays or want to give presents for your loved ones, you can do it by donating to COP on Giving Day 2018. Of course, the orangtans of COP Borneo will be gladly accept it.

Let’s get to know the four orangutan release candidate this year. Do you remember Novi? Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog. After rehabilitation process, Novi will be release back to his habitat.

Next month, the orangutan from the zoo will go toward the freedom. Untung, the lucky one, even with imperfect fingers, can still climb trees and move like other normal orang-utans. Of course, his disablity doesn’t prevent him to be one of the release candidates this year. After going through a series of medical examination, Untung was declared clean from infectious diseases.

Unyil, the orangutan that is very famous because finally he can live normally, not in the bathroom (toilet) like before. The rescue action was very dramatic because his birthday celebration as Valentino Unyil Ngau had just taken place. The keeper of Until finally gave him to be rehabilitated. His hair was just straightened, and made the rescue team wonder, what was wrong with Unyil’s hair.

One more heartbreaking story come from Leci. Leci was found in a fruit garden near palm oil plantation in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. Alone without his mother. Leci was very wild, even he bit one of the rescue team member. He looked nervous in the cage, until the team close it so that he felt more calm. Given leaves and twigs was immediately greeted by arranging it into nests.

So would you help the four orangutans? https://givingdayforapes.mightycause.com/organization/Center-For-Orangutan-Protection They supposed to be in their habitat, living without any human intervention and develop their role as reliable natural reforestation agent. (SAR)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Kita akan merayakan Giving Day for Apes lagi pada 25 September 2018 ini. Centre for Orangutan Protection sangat membutuhkan bantuan anda. Mari rayakan hari ini dengan mendukung pelepasliaran empat orangutan COP Borneo dengan latar belakang yang unik. Mereka yang hidup dari kebun binatang, toilet rumah dan yang kehilangan ibunya karena perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana kita dengan mudah mengingat keberhasilan hidup kita? Cukup dengan donasi di Giving Day for Apes. Untuk kamu yang merayakan ulang tahun atau ingin memberikan hadiah untuk yang kamu sayangi, bisa dengan donasi COP di Giving Day 2018. Tentu saja orangutan COP Borneo akan dengan senang hati menerimanya.

Yuk mengenal keempat orangutan kandidat pelepasliaran tahun ini. Masih ingat dengan Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah penduduk berteman seekor anjing dengan leher dirantai? Setelah melalui rehabilitasi, Novi akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Bulan depan, orangutan dari kebun binatang akan menuju kebebasannya.

Untung si beruntung walau dengan jari tangan yang tidak sempurna, tetap bisa memanjat pohon dan beraktivitas seperti orangutan normal lainnya. Tentu saja disabilitasnya tak menghalanginya untuk tetap menjadi kandidat pelepasliaran tahun ini. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Untung pun dinyatakan bersih dari penyakit menular.

Unyil, si orangutan yang terkenal sekali karena akhirnya dapat hidup normal tidak di dalam kamar mandi (toilet) lagi. Aksi penyelamatannya yang sangat dramatis karena baru saja perayaan ulang tahunnya sebagai Valentino Unyil Ngau berlangsung. Si pemelihara Unyil akhirnya menyerahkannya untuk direhabilitasi. Rambutnya saat itu baru saja direbonding, sempat membuat tim penyelamat heran, ada apa dengan rambut Unyil.

Satu lagi kisah memilukan dari Leci. Leci ditemukan di ladang buah dekan perkebunan sawit di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur, sendiri tanpa induknya. Leci masih sangat liar, bahkan salah satu tim penyelamat digigitnya. Selama di kandang, dia terlihat gelisah, hingga akhirnya tim menutup kandangnya agar dia lebih tenang. Pemberian daun-daunan dan ranting langsung disambutnya dengan menyusunnya menjadi sarang.

Jadi, maukah kamu mendukung keempat orangutan ini? Mereka sudah sepantasnya berada di habitatnya, hidup tanpa campur tangan manusia, dan berkembang di alamnya untuk menjalankan perannya sebagai agen reboisasi alami yang handal.

KINABATANGAN ORANGUTAN DIES WITH 3 BULLETS

Adult female orangutan found dead in Kinabatangan river, Malaysia, last Tuesday. There were wounds found on the stomach, shoulder and legs of orangutan that were estimated to be 30 years old. The orangutan’s death was caused by internal bleeding. Three bullets were found on her body.

The death of male orangutan with 7 airgun bullets in Serbian, Central Kalimantan last July are still fresh in our minds. Not just the death orangutan known as Baen in 2018 by airgun bullets. There were also another deaths such as headless orangutan body found in Kalahien river, Central Kalimantan, with 17 bullets and Kalahara 2 orangutan with 130 bullets in Central Kalimantan last February.

Eventually, tiny airgun bullets kill the orangutans that are animals protected by law and threatened to extinction. “Air gun uses regulation has been enacted to regulate but still freely used by some people. This is caused by the weak enforcement of the Chief of Police Regulation Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for sport interests, not for losing lives.”

At the Asian Games 2018 sport event, Centre for Orangutan Protection fully supported Indonesian shooting athletes to not shooting animals as animals are not targets to shot. COP also emphasized that animal hunting is not a sport! (SAR)

ORANGUTAN KINABATANGAN MATI DENGAN 3 PELURU
Orangutan betina dewasa ditemukan mati di sungai Kinabatangan, Malaysia pada hari Selasa yang lalu. Terdapat luka pada bagian perut, bahu dan kaki orangutan yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut. Kematian orangutan tersebut disebabkan pendarahan bagian dalam. Pada tubuhnya ditemukan 3 peluru.

Kematian orangutan jantan dengan 7 peluru senapan angin di Seruyan, Kalimantan Tengah bulan Juli yang lalu masih segar dalam ingatan kita. Tidak hanya orangutan yang diketahui bernama Baen yang mati karena peluru senapan angin di tahun 2018 ini. Ada kematian orangutan tanpa kepala yang ditemukan di sungai Kalahien, di Kalteng dengan 17 peluru dan orangutan Kaluhara 2 di Kaltim dengan 130 peluru pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Peluru-peluru senapan angin yang kecil akhirnya menghabisi nyawa orangutan yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang dan terancam kepunahan. “Peraturan penggunaan senapan angin pun sudah diatur. Tapi penggunaan senapan angin masih saja bebas. Ini karena lemahnya penegakkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, bukan menghilangkan nyawa.”.

Pada acara olahraga Asian Games 2018 yang lalu, Centre for Orangutan Protection mendukung penuh atlet cabang olahraga menembak Indonesia bahwa satwa bukanlah target yang harus ditembak. COP juga menegaskan bahwa berburu bukanlah olahraga! Teror Senapan Angin.

COP REPORTED THE CRIME TO LAW ENFORCER

One day later, the APE Crusader team who had just arrived from the field were already in the office of the Ministry of Environment and Forestry (MoEF) in Jakarta. On September 6, the team came to the MoEF with a complete report presenting the findings in the field. Unfortunately, the director of the Directorate General of Law Enforcer who should be on the 4th floor was not in place.

“Then, we moved to the office of the Peat Restoration Agency. Indonesia’s peat is under a serious threat.”, said Paulinus Kristianto, disappointed, because he could not meet the person in charge. “We hope that our reports of the alleged crime of land clearing in orangutan habitat and also on peatland can be immediately responded. It’s like counting down time. The faster it is, the more you can save. “Center for Orangutan Protection fully supports the MoEF to conduct studies and inspections in Seruyan District, Central Kalimantan.”, said Ramadhani, manager of the orangutan and habitat protection.

The death of an adult male orangutan on the canal of palm oil plantation with a body caught in a timber log is unusual. From the autopsy, there were 7 air rifle bullets and the orangutan’s right-hand thumb was missing. When the body was found, the team also saw two excavators that were land clearing the area. Around the location were also found several orangutan nests. “Come on, Law Enforcer, we are ready to support.” (IND)

COP MELAPOR ADA KEJAHATAN PADA GAKKUM
Berselang satu hari, tim APE Crusader yang baru saja tiba dari lapangan sudah berada di kantor Kementian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Siang, 6 September, lengkap dengan laporan tertulisnya menyampaikan hasil temuan di lapangan. Sayang direktur Direktorat Jenderal Gakkum yang berada di lantai 4 tidak ada di tempat.

“Kami pun pindah ke kantor Badan Restorasi Gambut. Gambut Indonesia sedang terancam.”, ujar Paulinus Kristianto dengan kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. “Kami berharap laporan dugaan telah terjadi kejahatan pembukaan lahan di habitat orangutan yang juga berada di lahan gambut dapat segera ditanggapi. Ini seperti menghitung mundur waktu. Semakin cepat akan semakin banyak yang bisa diselamatkan. Centre for Orangutan Protection mendukung penuh Gakkum KLHK untuk melakukan kajian dan pemeriksaan di Seruyan, Kalimantan Tengah.”, tegas Ramadhani, manajer perlindungan Orangutan dan Habitatnya.

Kematian satu orangutan jantan dewasa di kanal konsesi perkebunan sawit dengan tubuh tersangkut pada batang kayu bukanlah hal yang biasa. Dari otopsi diketahui ada 7 peluru senapan angin dan jempol tangan kanan orangutan tersebut hilang. Pada saat ditemukan ada dua ekskavator yang sedang landclearing. Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa sarang orangutan. “Ayo Gakkum, kami siap membantu.”.

LET’S SUPPORT THE MINISTRY OF ENVIRONMENT AND FORESTRY REGULATION NO 20 OF 2018

The government has just made a big leap by issuing the Ministry of Environment and Forestry Regulation No. 20 of 2018 concerning Types of Protected Plants and Wildlife.

Centre of Orangutan Protection welcomes the regulation and ready to support the government to enforce the law. “Furthermore, COP consider the regulation as important point for culture change, from the culture of confining animals to the culture of nurturing them in nature.”, said Hardi Baktiantoro, founder of Centre for Orangutan Protection.

Wildlife trading either online or offline at bird markets could not just happen. It has been studied. The dilemma that has been occurred so far is those wildlife are threatened to extinction in their habitat, while there are many illegal traders and even people make an open bird singing contest. Let say Murai batu bird/ kick forest (kittacincla malbarica), cucak raw (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak sure (Gracupica calla).

The existence of Ministry Regulation No 20/2018 makes tapanuli orangutans (Pongo tapanuliensis) are legally protected animals. This is a prompt government effort to protect the newly discovered orangutan species in the past year.

COP is calling all orangufriends to fully support the Ministry of Environment and Forestry to not back down enforcing this Regulation. (SAR)

AYO DUKUNG PERMEN LHK 20 TAHUN 2018
Lompatan besar baru saja dilakukan Pemerintah pada bulan Juni 2018 dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Centre for Orangutan Protection menyambut baik Permen No. 20 ini dan siap mendukung pemerintah untuk menegakkan hukum. “Lebih jauh lagi COP memandang bahwa Permen ini merupakan titik penting untuk perubahan budaya yaitu dari budaya mengurung satwa menjadi memelihara di alam bebas.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection.

“Masuknya satwa liar yang sering diperdagangkan baik itu secara online maupun di pasar burung ini tentu saja bukan asal jadi. Ini sudah menjadi kajian. Dilema yang terjadi selama ini, kondisi satwa liar tersebut di habitatnya sudah terancam punah namun banyak terdapat di pedagang bahkan menjadi lomba burung berkicau secara terbuka. Sebut saja burung Murai batu/ Kucica hutan (Kittacincla malbarica), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak suren (Gracupica jalla).

Dengan adanya Permen No. 20/2018 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) telah ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi Undang-Undang. Ini adalah usaha cepat pemerintah untuk melindungi spesies orangutan yang baru ditemukan di tahun 2017 yang lalu.

COP memanggil seluruh orangufriends untuk memberikan dukungan penuh kepada KLHK untuk tidak mundur menegakkan Permen ini.

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY

Raju, a juvenile orangutan was found in the palm oil concession in Kutai Timur, East Kalimantan. After four years living as a pet, the APE Crusader team rescued Raju and moved him to COP Borneo rehabilitation center. Raju then changed his name to Jojo. We conducted a full medical check-up of his health and behavioral study for 2 months. The result is displeasing. Jojo has hepatitis, possibly contagious by humans. 

Memo, an orangutan who used to ride a motorbike with her owner and travel around from village to villages. Memo has joined COP rehabilitation center since 11 April 2015. She is 18 years old now but has a somber future. Memo has hepatitis because she contacted with humans numerous times in the past.

Both of these orangutans will live forever in the cage. The quarantine cages which is limiting their space and movement. They will live behind solid bars, without any chance to feel the fresh air in their habitat. They did not have hepatitis by natural causes. It is transmitted by humans.

Memo and Jojo still have a dream to climb the highest tree, to swing from one tree to another, like the other orangutans do. We also had a dream, to create the first and the only orangutan rehabilitation center that is built and organized by Indonesian people. This dream came true in 2014. Now, our homework is to actualize Memo and Jojo’s dream. Let’s help COP Borneo to buy an island as a sanctuary for Jojo and Memo. They have a right to live as wild orangutans, not in the cage!

Today, as we celebrate The International Day of Charity, we hope you could help our future action by donating through Paypal account of Centre for Orangutan Protection http://www.orangutan.id/what-you-can-do/, or through this crowdfunding site https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Your donation will be used to build a sanctuary island for orangutans with hepatitis in COP Borneo. Your donation could change the life of Memo and Jojo. (IDI)

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY 
Orangutan bernama Raju ini ditemukan di kebun sawit, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Setelah 4 tahun dalam pemeliharaan warga, keberadaan Raju diketahui tim APE Crusader. 4 April 2018 yang lalu, Raju pun masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dan berganti nama menjadi Jojo. Serangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi prilaku dilalui Jojo selama dua bulan penuh. Dan hasil yang sangat mengecewakan pun keluar. Jojo menderita hepatitis dari manusia.

Memo, orangutan yang selalu dibonceng naik sepeda motor oleh pemeliharanya dan diajak berkeliling desa masuk ke pusat rehabilitasi orangutan pada 11 April 2015. Orangutan betina yang berusia 18 tahun ini pun dibayangi masa depan yang suram. Dari hasil laboratorium, Memo menderita hepatitis.

Kedua orangutan COP Borneo ini akan hidup di dalam kandang. Kandang karantina yang terbatas pada ruang dan geraknya. Hidup di balik jeruji besi tanpa ada masa depan untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Hepatitis yang diderita mereka adalah penularan dari manusia.

Memo dan Jojo masih punya mimpi untuk bisa memanjat pohon yang tinggi, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sebagai orangutan yang memiliki daya jelajah terbatas. Seperti mimpi kami yang berada di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Pusat rehabilitasi lokal yang sudah berdiri sejak 2014 yang lalu. Mari bantu COP Borneo untuk membeli sebuah pulau sebagai sanctuary island untuk Jojo dan Memo. Mereka pun berhak untuk hidup liar!

Tepat di hari ini, International Day of Charity, berikan bantuan mu lewat akun Kitabisa https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Sanctuary island untuk orangutan hepatitis COP Borneo. Ijinkan Jojo dan Memo liar.

ANIMALS STEREOTYPE

Have you ever seen animals doing repetitive movement? Actually this behaviour isn’t necessary, moreover it may harm the animals. Animals that used to be caged for a long period of time usually experience this abnormal behaviour. This behaviour called stereotype behaviour.

How does the behaviour occurs? The behaviour occurs due to unfavourable past physical, environmental, social, and welfare stresses. A tiny living spaces and poor enrichment or living in very different conditions from their natural condition for instance. Social factors can be in the form of negative interaction between individuals in one cage. If the animals have a bad past history such as getting bad treatment from humans then the stereotype behaviour can be more likely to appear.

Repeatedly moving forward, backward, left, and right in the same place are the examples of this stereotype behaviour. In addition to the repetitive pattern behaviour. there are also another kind of stereotype behaviours. Such as hurting themselves, swinging head without clear intention, licking excessively, scratching own body parts, eating own feces or vomit and abnormal and excessive sex behaviour.

There are several ways to minimize stereotype behaviour on animals in the cage, according to drh. Rian Winardi. One of which is to provide enrichment in the cage, in the form of physical, nutritional, and work enrichment. The physical enrichment can be in the form of giving swing or wood for animals to climb. Nutritional enrichment can consists of giving fruits in a whole form. And work enrichment may contain of feeding the animals by inserting the food in a certain pipe or ball. (SAR)

STEROTIPE SATWA
Pernah lihat satwa yang sedang melakukan gerakan berulang-ulang dan tidak berubah? Perilaku ini sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat dan bahkan merugikan satwa tersebut. Biasanya, satwa yang berada dalam kandang yang sangat rentang mengalami perilaku abnormal ini. Suatu perilaku yang menyimpang dari perilaku normal atau tidak alami. Perilaku ini disebut perilaku sterotipe.

Bagaimana perilaku sterotipe ini muncul? Perilaku ini muncul akibat faktor tekanan lingkungan fisik, sosial dan kesejahteraan masa lalu yang kurang baik. Kandang dengan ruang pergerakan yang sempit dan lingkungan yang miskin pengayaan atau jauh dari kondisi alami misalnya. Sementara faktor sosial dapat berupa interaksi sosial yang negatif antar individu dalam satu kandang. Kemudian jika hewan memiliki sejarah masa lalu yang kurang baik misalnya mendapatkan perlakuan buruk dari manusia maka perilaku sterotipe ini pun bisa muncul.

Pergerakan ke depan, belakang, kiri, kanan secara berulang dan di tempat yang sama contoh dari perilaku sterotipe ini. Kemudian pergerakan yang berputar di satu titik yang sama dan berulang. Selain pola pergelakan yang dilakukan berulang, terdapat juga perilaku sterotipe lainnya. Seperti melukai diri sendiri, mengayun-ayunkan kepala tanpa tujuan yang jelas, menjilati diri sendiri secara berlebihan, mencakar bagian tubuh sendiri, memakan kotoran atau muntahannya sendiri serta perilaku sex yang tidak normal dan berlebihan.

Ada beberapa cara untuk meminimalisir perilaku sterotipe pada satwa yang di dalam kandang menurut drh. Rian Winardi. Caranya adalah dengan memberikan pengayaan di kandang. Pengayaan tersebut berupa pengayaan fisik, pengayaan nutrisi dan pengayaan kerja. Pengayaan fisik berupa pemberian ayunan atau kayu untuk satwa memanjat. Pengayaan nutrisi berupa pemberian buah atau sayuran tanpa dipotong atau dalam bentuk utuh. Dan pengayaan kerja seperti pemberian makanan dengan cara dimasukkan dalam pipa atau bola khusus. (RYN)

SOUND FOR ORANGUTAN WITH THE HELP FROM DANILLA AND FRIENDS

Who doesn’t know Danilla? It is not the first time Danila helping the Center for Orangutan Protection. During a children’s painting event at Kodok Park Jakarta, Danilla contributed 2 songs at that event. Now, Danilla is buying a green Sound for Orangutan (SFO) shirt. This SFO t-shirt is a COP merchandise whose profits will be managed to hold an SFO music charity event.

Oops! Danilla didn’t just buy one piece of cloth for her. She also bought all the team behind her. Danilla also uploaded it on her social media, again with the whole team! The result… our SFO green shirt sales soared sharply within days.

“At the beginning, we doubt the merchandise sales can reach the target so that the SFO can run. It turned out that with Danilla’s help, the target was easily fulfilled. Now the committee is just concentrating on achieving the SFO profit target, so the donations to the COP Borneo orangutan rehabilitation center can help the lives of orangutans there” said Satria, Orangufriends Yogyakarta. (IND)

SOUND FOR ORANGUTAN DENGAN BANTUAN DANILLA DKK

Siapa sih yang ngak kenal artis Danilla. Danilla juga bukan untuk kali pertamanya membantu Centre for Orangutan Protection. Saat acara melukis anak-anak di taman kodok, Jakarta. Danilla juga menyumbangkan 2 buah lagu di acara santai tersebut. Kini, Danilla membeli kaos hijau SFO. Kaos SFO atau Sound For Orangutan ini adalah merchandise COP yang keuntungannya akan dikelola untuk menggelar acara musik amal SFO.

Ups… Danilla tidak hanya membeli satu potong baju untuknya. Tapi dia juga membelikan tim belakang layar Danilla. Dan.. Danilla mengunggah nya di media sosialnya. Lagi-lagi dengan seluruh tim nya. Hasilnya… penjualan kaos hijau SFO melonjak tajam dalam hitungan hari.

“Kita sempat ragu apakah penjualan merchandise dapat mencapai target agar SFO bisa berjalan. Ternyata dengan bantuan Danilla, target dengan mudah terpenuhi. Kini panitia tinggal konsentrasi mencapai target keuntungan SFO agar sumbangan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bisa membantu orangutan di sana.”, ujar Satria, orangufriends Yogyakarta.

4 FUN FACTS WHY ORANGUTAN SHOULD BE SAVED (2)

2. Orangutans have DNA similarity with human
Orangutans have 97% similarity of Deoxyribonucleic acid (DNA) with human DNA. Therefore, orangutans are very intelligence in behavior in the wild to utilize objects around them to find food or shelter from the ferocity of nature condition. Even orangutans can use a stick as a tool to pick up food and use leaves to protect them from the sun. Orangutans can easily learn to immitate surrounding behaviour, one of which is the orangutans who have been kept as pet can easily immitate the behaviour of human around them.

This fact make orangutans are very vulnerable to the changes of nature and its surrounding, such as habitat shift and conversion which make orangutans come to the village more often only to find food and try to survive. Then, this matter makes the level of orangutan and human conflict increases every year. Loss of source of food makes orangutans that have high intelligence to come to the community farms to get their food easily. 

Johny orangutan, who was evacuated by Centre for Orangutan Protection team (COP) in 2007, showed the level of adult orangutan intelligence that he was decided to stay on the roadside oddly because many people were attracted and stopped by to see him closer and fed him. So this orangutan chose to stay on the roadside for a long period of time. (SAR)

4 FAKTA UNIK MENGAPA ORANGUTAN HARUS DISELAMATKAN (2)
Fakta lainnya yang membuat kita harus menyelamatkan orangutan adalah:

2. Orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia
Orangutan memiliki 97 persen kemiripan Deoxyribonucleic acid (DNA) dengan DNA manusia. Oleh karena itu orangutan termasuk satwa yang sangat cerdas dalam prilakunya di alam liar dengan cara memanfaatkan benda di sekitar untuk mencari makan ataupun berlindung dari ganasnya kondisi alam bahkan orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari. Orangutan dapat belajar dengan mudah untuk meniru prilaku sekitar, salah satunya adalah orangutan yang sudah dipelihara sejak lama akan mudah mengikuti atau meniru prilaku manusia sekitarnya.

Faktanya ini kemudian menjadikan orangutan sangat rentan terhadap perubahan alam dan sekitarnya seperti perubahan habitat yang menjadikan orangutan yang lebih sering mendatangi pemungkiman untuk sekedar mencari makan dan bertahan hidup. Hal ini kemudian menjadikan tingkat konflik orangutan dan manusia semakin meningkat setiap tahunnya. Kehilangan sumber makan menjadikan orangutan yang memiliki kecerdasan tinggi untuk datang ke kebun-kebun masyarakat yang kemudian dianggap dapat dengan mudah untuk mendapatkan makanan.

Salah satu orangutan Johny yang dievakuasi oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP) pada tahun 2017, menunjukan tingkat kecerdasan orangutan dewasa yang memutuskan tinggal di tepi jalan raya dengan dugaan bahwa banyaknya masyarakat yang tertarik dan berhenti untuk melihat kemudian memberi makan. Sehingga orangutan ini memutuskan untuk tinggal dalam waktu yang lama di sepanjang jalan tersebut. (NUS)

Page 2 of 2412345...1020...Last »