ORANGUTAN BERSTATUS KRITIS

Masih ingat di tahun 2007, Centre for Orangutan Protection pernah menyampaikan tentang laju kematian orangutan yang terbunuh di luar kawasan konservasi sebesar 1.500 orangutan per tahun? Angka ini berdasarkan jumlah orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan.

Jika satu bayi orangutan yang tiba di pusat rehabilitasi orangutan itu mewakili 2 – 10 orangutan yang mati dan tidak dilaporkan, maka jumlah itu akan terus menerus melaju seiring dengan semakin hilangnya hutan sebagai habitat orangutan.

Orangutan adalah satwa aboreal yang sangat tergantung pada pohon. Dalam kesehariannya orangutan beraktivitas di atas pohon. Keanekaragaman hayati yang ada di suatu hutan tak lepas dari jasa orangutan tersebut. Daya jelajah orangutan di hutan membantu proses reboisasi hutan itu secara alamiah. Kanopi-kanopi yang terbuka membantu masuknya cahaya matahari ke lantai hutan, saat bibit-bibit tumbuhan sangat membutuhkannya.

Apa yang terjadi saat hutan beralih fungsi menjadi perkebunan? Tak hanya orangutan, namun seluruh satwa liar penghuni hutan tersebut pun ikut musnah. Ini adalah penghancur masal. Indonesia tak bisa berbangga lagi untuk keanekaragaman hayati nya lagi. Suatu kekayaan yang belum pernah dihitung dengan benar. Orangutan berstatus kritis!

GIVE APUN A CHANCE

Another baby orangutan found in Merapun village, Kelay district, East Kalimantan. A wooden cage sized around 70 cm x 50 cm x 50 cm was his home since 2015. Mr. Eliakim found him on the back of a hut near his farm.

“It is unnatural for baby orangutan to be raised by human. Baby orangutans are highly dependent to their mom until they are 5 years old. And no orangutan is willing to give up their baby voluntarily,” vet. Ryan.

The baby orangutan is named Apun. He is just 3 years old and very tame. “It will be a long road to rehabilitate Apun,” added Ryan, sadly. The process of orangutan rehabilitation is not an easy and short journey. Lack of Apun’s interest to fruits is also adding the concern. Apun was found on the back of palm plantation.

His natural habitat is fading away due to land conversion. “How can orangutan survive without forest?” stated Paulinus Kristianto. Orangutan in Kalimantan are oppressed due to conversion of their natural habitat. The increasing of their status is hoped to bring attention to all parties. “Yes, orangutans are not endangered anymore, but they are critically endangered now. Can we save orangutans?” (Zahra_Orangufriends)

BERIKAN KESEMPATAN UNTUK APUN
Satu lagi anak orangutan ditemukan di kampung Merapun, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur. Kandang kayu berukuran 70 cm x 50 cm x 50 cm ini menjadi tempat tidurnya sehari-hari sejak tahun 2015. Pak Eliakim yang menemukannya di belakang pondok dekat kebunnya.

“Tak sewajarnya bayi orangutan berada di tangan manusia. Bayi orangutan sangat tergantung sama induknya hingga usia 5 tahun. Dan tak satu induk pun secara sukarela memberikan anaknya.”, ujar drh. Ryan.

Apun begitu nama orangutan jantan ini. Usianya baru 3 tahun dan jinak sekali. “Ini akan jadi jalan panjang lagi untuk rehabilitasi bayi Apun.”, hela Ryan sedih. Proses rehabilitasi orangutan bukanlah hal yang mudah dan sebentar. Tidak antusiasnya bayi orangutan ini pada buah-buahan yang diberikan juga semakin mengkawatirkan.

Lokasi ditemukan orangutan Apun tepat berada di belakang perkebunan kelapa sawit. Hutan sebagai habitatnya semakin habis dengan alih fungsi seperti ini. “Bagaimana orangutan bisa bertahan tanpa ada hutan?”, ujar Paulinus Kristianto. Orangutan di Kalimantan pada umumnya semakin terdesak karena habitatnya yang semakin habis, statusnya yang kritis diharapkan bisa menjadi perhatian semua pihak. “Ya, Orangutan bukan lagi terancam punah, tapi kritis. Bisakah kita menyelamatkan orangutan?”.

THE SPIRIT OF ELEVEN COP

Today, just eleven years ago, three young Indonesians poured their concerns on the growing number of orangutans suffering from the loss habitat as their home and life. Capitalize the determination that they do is true and continue to spread it until 2018.

Hardi Baktiantoro, COP’s founder said, “Hardi, Yuyun and Hery established COP as an emergency response to stop orangutans massacre in Central Kalimantan. Over time, this native Indonesian organization grew stronger, becoming one of the most active orangutan conservation organizations in the world. All can happen because of the support of militant volunteers like you. Just one word, THANK! “.

Here are the comments of the Orangufriends who milling about in cyberspace.

“Eleven years, being an inhibitor between orangutans and extinction. Unravel the problem from its roots by strengthening the roots of its members. Go forward, ride it up and there COP Stepping. Eight Spirit! Stay crazy and spit madness! Anniversary Center for Orangutan Protection!”, said Kemal, orangufriends of Jakarta who is an alumni of COP School 7.

Saifullah, alumni of COP School Batch 1, after getting the internet signal just say, “Happy Birthday COP… Great in jungle, victorious in the city. Cheers…”. Ipul has followed Sumatran Mission, a tour on the island of Sumatra starting from school visit to accompany the zoo to make enrichment for the animals. Currently Ipul is in the rehabilitation center of orangutan COP Borneo to build the orangutan quarantine cage that will be released back to nature.

Meanwhile, Imam Arifin, one of the veterinarians who once joined the COP, said, “Happy birthday COP, where we all learn, stay victorious and understated.”.

Even Riastri did not hesitate to pray, “May more and more imprison the animal criminals.”. Including Risma who expressed his hope, “The spirit of timelessness. Stay solid!”. (LSX)

SEMANGAT SEBELAS COP!
Hari ini, tepat sebelas tahun yang lalu, tiga orang anak muda Indonesia menuangkan keprihatinnya pada semakin banyaknya orangutan menderita karena kehilangan habitat sebagai rumah dan hidupnya. Bermodal tekad yang mereka lakukan adalah benar dan terus menularkannya hingga 2018 ini.

Hardi Baktiantoro, pendiri COP menyampaikan, “Hardi, Yuyun dan Hery mendirikan COP sebagai respon darurat untuk menghentikan pembantaian orangutan di Kalimantan Tengah. Seiring waktu, organisasi asli Indonesia ini tumbuh semakin kuat, menjadi salah satu organisasi koservasi orangutan paling aktif di dunia. Semua bisa terjadi karena dukungan para relawan militan seperti anda.Hanya satu kata, TERIMAKASIH!”.

Berikut komentar para orangufriends yang berseliweran di dunia maya.

“Sebelas tahun, menjadi inhibitor antara orangutan dan kepunahan. Mengurai masalah dari akarnya dengan menguatkan akar dari anggota-anggotanya. Maju itu ke depan, naik itu ke atas dan ke sana COP Melangkah. Semangat Sebelas! Tetaplah gila dan tularkan kegilaan! Dirgahayu Centre for Orangutan Protection!”, ujar Kemal, orangufriends Jakarta yang merupakan alumni COP School 7.

Saifullah, alumni COP School Batch 1, setelah mendapatkan signal internet langsung saja mengucapkan, “ Selamat Ulang Tahun COP… Jaya di rimba, jaya di kota. Cheers…”. Ipul panggilan akrabnya telah mengikuti Sumatran Mission, suatu tour di pulau Sumatera mulai dari school visit sampai mendampingi kebun binatang membuat enrichment bagi satwanya. Saat ini Ipul berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk membangun kandang karantina orangutan yang akan dilepasliarkan kembali ke alam.

Sementara itu Imam Arifin, salah satu dokter hewan yang pernah bergabung di COP mengucapkan, “Selamat ulang tahun COP, tempat belajar kita semua, tetap jaya, tambah sangar dan bersahaja.”.

Bahkan Riastri tak segan-segan memanjatkan doa, “Semoga makin banyak memenjarakan animal criminals.”. Termasuk Risma yang mengucapkan harapannya, “Semangat tak lekang waktu. Tetap solid!”.

PENARIKAN LECI DAN UNTUNG DARI PULAU ORANGUTAN

Jalan untuk pulang ke rumah di mulai. Leci dan Untung mulai dipindahkan dari pulau orangutan ke kandang karantina. Berpacu dengan waktu, saat bius mulai mempengaruhi kesadaran kedua orangutan yang sudah tak jinak lagi. Tik tok tik tok… angkat dan masukkan ke kandang lalu naikkan ke perahu… menyeberangi sungai Kelay, Berau, Kalimantan Timur.

Tak kalah gesitnya, tim medis di seberang pulau bersiap untuk mengambil sample darah untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan kesehatan. Membawa orangutan di dalam kandang yang cukup berat tentu saja menguras tenaga. “Tapi kami harus bergerak cepat, bius tak bisa bertahan lama. Membawa kedua orangutan ke kandang karantina benar-benar menguras tenaga.”, ujar Danel Jemy.

“Iya taruh di alas itu. Yuk siap mencatat ya… jumlah gigi, lingkar perut, panjang tangan, kaki, tulang belakang dan saatnya mengambil darah.”, demikian instruksi drh. Flora Felistitas. 28 Februari 2018 adalah hari kedua pemindahan orangutan dari pulau ke kandang karantina untuk pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Bantu COP Borneo untuk mengembalikan orangutan ke habitatnya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Kita orang Indonesia bisa untuk orangutan Indonesia.

PEMINDAHAN NOVI DAN UNYIL KE KANDANG KARANTINA

Masih ingat orangutan Novi? Orangutan dengan leher terikat rantai yang berada di bawah kolong rumah dan berteman seekor anjing. Tahun ini pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo akan melepasliarkan orangutan-orangutan penghuni pulau orangutannya dan Novi adalah salah satu kandidat terbaiknya. “Sungguh luar biasa perkembangan Novi selama di pulau. Itu sebabnya kami akan mengevaluasi kesehatannya untuk selanjutnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologist COP.

Secara bersamaan, tim APE Defender juga memindahkan orangutan Unyil. Unyil adalah orangutan yang dipelihara di dalam kamar mandi. “Unyil lebih unik lagi. Perkembangan pesat yang berhasil ditunjukkannya memaksa kami harus memindahkannya ke pulau orangutan, padahal saat dia pertama kali datang ke COP Borneo dengan rambutnya yang direbonding, sempat membuat kami pesimis. Apalagi pola makannya yang selama pemeliharaan ilegal itu, sama persis dengan makanan manusia. Untuk makan saja, Unyil didulangi seperti anak kecil sama pemeliharanya. Awalnya saya pikir ini akan jadi PR besar. Seperti saat Unyil memakan telur dengan cangkangnya, dia juga tak bisa mengupas buah-buahan berkulit yang kulitnya tak bisa dimakan.”, kenang Reza Kurniawan tentang Unyil.

Novi dan Unyil pada 27 Februari 2018 dipindahkan dari pulau orangutan ke kandang karantina. Kedua orangutan ini menjalani tes kesehatan dan pengukuran data fisik lengkap. “Ini adalah kerja besar yang selama seminggu ini. Ada dua orangutan lainnya yang akan ditarik dari pulau juga untuk menjalani pemeriksaan akhir sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.”, demikian penjelasan Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP dengan bersemangat.

Bantu COP Borneo lewat Bahwa orang Indonesia peduli pada satwa liar endemiknya terutama orangutan.

TIGA BINTURUNG DISELAMATKAN DARI COFFEE SHOP

Jiwa muda yang tak mengenal kata lelah. Mereka yang terus menelisik keberadaan kepemilikan ilegal satwa liar. Saat bercanda dan menghabiskan waktu dengan menikmati secangkir kopi di Gartenhaus, Malang. Tak mudah mencarinya, tak ada nomor rumah apalagi plang nama. Dengan desain interior yang apik dirimbunnya pepohonan, membawa kita berada pada suasana yang sangat berbeda. Lebih berbeda lagi dengan kehadiran lima kandang besi berisi satwa yang tak bersuara sama sekali.

Owh… ternyata ada musang luwak. Dari kopi yang telah dimakan musang inilah yang akhirnya membawa cita rasa kopi luwak menjadi begitu terkenalnya. Tak hanya musang, di kandang sebelah terlihat mahkluk yang lebih besar, yang ternyata adalah Binturung (Arctictis binturong), satwa liar yang dilindungi oleh Undang-Undang. “Tak tangung-tanggung, ada 3 binturung yang harus bekerja menghasilkan kopi luwak ini.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Sebelum sholat Jumat, KSDAE Malang beserta Gakkum KLHK Jawa Timur melakukan penyitaan dibantu Centre for Orangutan Protection, Orangufriends Malang dan Animals Indonesia.

Undang – Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bahkan sudah tertalu tua. Hukuman bagi para pelanggarnya adalah ancaman maksimum penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah sudah tidak relavan lagi. “Binturung diperjual-belikan di pasar ilegal sebesar Rp 5.000.000,00 hingga Rp 7.000.000,00. Belum lagi kerusakan ekosistem dengan menghilangnya Binturong di habitatnya. Apakah itu sebanding?”, ujar Hery Susanto.

HARDI UNTUK KULIAH KAPITA SELEKTA DTETI UGM

Kapita Selekta adalah sebuah mata kuliah untuk mempersiapkan mahasiswa tingkat akhir dalam penyusunan skripsi. Selain sebagai sarana persiapan, mata kuliah ini juga menuntun mahasiswa agar dapat menyiapkan skripsinya dengan lebih tepat dan terarah. Menariknya, kuliah digelar dengan mendatangkan prmbicara-pembicara inspiratif yang telah menggeluti dunia kerja.

Ruang kuliah E6 lantai 3 DTETI (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi) UGM mulai dipenuhi mahasiswa. Tepat pukul 08.00 WIB, materi “The Eco-Warriors: Deforestation and Orangutan Conservation”, dimulai.

“Wow… mahasiswa sekarang kritis dengan analisa. Dunia pendidikan memang semakin maju dengan semakin luasnya cara untuk mendapatkan informasi.”, ujar Hardi Baktiantoro, pemateri yang diundang UGM. Kalau dulu, teori terasa begitu jauh sekali dengan kenyataan di lapangan. Namun sekarang, mahasiswa diharapkan untuk tidak melihat jurang tersebut, dan siap menghadapi tantangan usai duduk di kampus.

ELANG SITAAN COP DILEPAS JOKOWI

Bandung – Setelah menjalani rehabilitasi selama lebih dari 6 bulan di Pusat Konservasi Elang Kamojang akhirnya 2 elang Jawa hasil sitaan COP di Malang Jawa Timur merasakan kehidupan bebas di habitatnya. Kedua elang Jawa yang diberi nama Gendis dan Luken ini dilepasliarkan oleh presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo di Situ Cisanti Bandung pada 22 Februari 2018.

Gendis dan Luken adalah 2 dari 15 ekor elang yang berhasil didapatkan dari 2 orang pedagang satwa dilindungi di Malang, Jawa Timur pada Juli 2017. Ke 15 ekor Elang tersebut lalu dititipkan di Pusat Konservasi Elang Kamojang di Garut untuk menjalani proses rehabilitasi. Dan dari 15 ekor elang tersebut 5 diantaranya adalah elang Jawa yang diyakini merupakan lambang negara Indonesia. Kedua pedagang ini digrebek secara bersamaan di rumah masing-masing oleh tim gabungan Centre for Orangutan Protection, Animals Indonesia, Gakkum KLHK dan Polres Kepanjen Malang. Kedua orang tersangka berinisial AD dan GP ini sekarang masih mendekam di balik jeruji karena dikenakan sanksi 1 tahun kurungan penjara oleh pengadilan negeri Malang.

“Kami sangat senang bisa melihat kedua elang Jawa tersebut hidup bebas kembali di alamnya karena memang sudah sepatutnya mereka hidup di alam bebas bukan di kandang para eksploitator yang ngakunya pecinta satwa.”, kata Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime dari Centre for Orangutan Protection.

“Sudah saatnya para pedagang satwa dilindungi ini dihukum dengan hukuman maksimal agar memberikan efek jera.”, tambah Hery.

Memperjual belikan satwa dilindungi itu melanggar undang-undang no 5 tahun 1990 tentang Keanekaragaman hayati dan ekosistemnya yang mana dapat dikenakan sanksi pidana dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. (HS)

REKONSTRUKSI PENEMBAKAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Rabu, 21 Februari 2018 tim penyidik Satreskrim Polres Kutim menggelar rekonstruksi kasus penembakan orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya. Keempat tersangka yakni, Muis (36), Andi (37), Nasir dan Rustam (37) memperagakan peristiwa penembakan tersebut. Tercatat ada 23 adegan termasuk bagaimana 130 peluru bisa mengenai tubuh orangutan jantan malang ini hingga tak berdaya.

Pada adegan ke 22, para tersangka memperagakan penembakan orangutan di bawah pohon sawit dengan jarak 15-20 meter dari orangutan di tempat kejadian yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kutai, kecamatan Teluk Pandan, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Menurut daftar spesies terancam punah yang dirilis oleh IUCN (International Union for Conservation Nature) pada tahun 2016, Orangutan meningkat status konservasi Orangutan Borneo menjadi Kritis. Kasus orangutan dengan 130 peluru ini pun menjadi perhatian nasional maupun dunia internasional.

SOLVED, THE MURDER CASE OF ORANGUTAN SHOT WITH 130 BULLETS

Sangata – Today East Kutai Police announced the investigation result of the murder of orangutan with 130 bullets in Teluk Pandan, East Kutai, East Kalimantan. 5 persons have been sentenced as suspects. Earlier before the announcement, Barito police officers also announced the investigation result of the murder of decapitated orangutan that was found in Kalahien river, Central Kalimantan back in January 2018. The series of Police success to reveal the cases of orangutan abuse lately have grown a new hope for wildlife protection law enforcement in Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) is proud to be a partner with Indonesia Police in revealing these cases which have gained international attention.

Ramadhani, Habitat Conservation Program Manager of COP stated,
“We have been involved with the investigation right from the start, supporting whatever needed to handle the case, from autopsy to field work. COP highly appreciate the great effort from Indonesia Police team and send a gratitude.

However, the work is still far from done, we need to ensure the murderers justly punished. This is crucial to ensure the criminals learned their lessons. Especially when the shooting location was located near to Kutai National Park which is a perfect example of the latest situation of conservatory park, which experiencing pressure from external parties and cases of law violations.

For further information and interview please contact
Ramadhani
Habitat Conservation Program Manager of COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

TERUNGKAP, KASUS KEMATIAN ORANGUTAN 130 PELURU
Sangata – Polres Kutai Timur pada hari ini mengumumkan hasil penyelidikannya atas kasus kematian orangutan yang ditembak dengan 130 peluru di Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur. 5 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya, aparat Polres Barito Selatan juga mengungkap kasus tewasnya orangutan tanpa kepala yang ditemukan mengambang di sungai Kalahien, Kalimantan Tengah pada akhir Januari 2018. Rangkaian sukses Polri dalam mengungkap kasus – kasus kejahatan terhadap orangutan akhir – akhir ini membuka harapan baru pada penegakan hukum perlindungan satwa liar di Indonesia. Centre for Orangutan Protection (COP) bangga menjadi mitra Polri dalam pengungkapan kasus – kasus yang mendapatkan sorotan dunia internasional ini.

Ramadhani, Manager Program Perlindungan Habitat dari Centre for Orangutan Protection memberikan pernyataan sebagi berikut:

“Kami terlibat dalam penyelidikan sejak menit pertama kasus ini, membantu apa saja yang diperlukan oleh Kepolisian dalam penanganan kasus, mulai dari otopsi hingga bekerja di lapangan. COP sangat mengapresiasi kerja keras tim Polri dan mengucapkan terima kasih.”

“Namun demikian, pekerjaan ini masih panjang untuk memastikan para tersangka bisa mendapatkan hukuman yang maksimal. Hal ini untuk memastikan efek jera bagi para pelaku kejahatan terhadap orangutan dan habitatnya. Apalagi lokasi penembakan berada di sekitar Taman Nasional Kutai yang merupakan model kondisi terkini kawasan konservasi di Indonesia yang sedang mengalami tekanan berbagai pelanggaran hukum lainnya.

Informasi dan wawancara harap menghubungi:

Ramadhani
Manager Program Perlindungan Habitat COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

Page 2 of 2112345...1020...Last »