KARTINI FOR INDONESIAN ORANGUTAN

Raden Adjeng Kartini was born in Jepara, 21 April 1879 ago. If she was alive, she would be 139 years old. Kartini is known as the pioneer of the resurrection of indigenous women is now better known emancipation of women who emerged from her critical thinking. And now, Indonesia always commemorate her birthday as Kartini day.

From her letters we recognize the thoughts of Kartini. The letter that was originally something very personal became public consumption. Kartini dreams to continue school, woman have to school. “If now I become a veterinarian, of course because of the long struggle of women like Kartini to this day,” said vet Flora Felista.

Flora is a female veterinarian who joins COP Borneo orangutan rehabilitation center. The location of the rehabilitation center away from the crowds did not dampen her dream of devoting herself to Indonesian wildlife. Working with men in COP Borneo is a challenge for her. Physical and mental must also be above average. “Women should be able. Autopsy of orangutan corpses, rescue of orangutans in oil palm plantations where we are required to have good physical, think while running after orangutans, barely sleep a day and many other challenges. But the professionalism of being a veterinarian should still be put forward.”, explained drh. Flora.

Flora is one of the women at the Center for Orangutan Protection. There are many other women such as Wety Rupiana with graphic design background, Dina Mariana with financial background, Oktaviana S from GIS (Global Information System), and hundreds of orangufriends (COP supporters group) of women with diverse education helping Indonesian Orangutan by the way each. “Thank you Kartini! We do not commemorate today as a way to kebaya dress, but the professionalism of your timeless thinking.“ (SLX)

KARTINI UNTUK ORANGUTAN INDONESIA
Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879 yang lalu. Jika pun ia masih hidup, usianya sudah 139 tahun. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi sekarang lebih dikenal emansipasi wanita yang muncul dari pemikirannya yang kritis. Dan sekarang, Indonesia selalu memperingati hari lahirnya sebagai hari Kartini.

Dari surat-suratnya kita mengenal buah pikiran Kartini. Surat yang awalnya sesuatu yang sangat pribadi menjadi konsumsi publik. Kartini bermimpi untuk terus bersekolah, perempuan harus sekolah. “Jika sekarang saya menjadi seorang dokter hewan, tentunya karena perjuangan panjang para perempuan seperti Kartini hingga saat ini.”, ujar drh Flora Felista.

Flora adalah dokter hewan perempuan yang bergabung di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Lokasi pusat rehabilitasi yang jauh dari keramaian tak menyurutkan impiannya mengabdikan diri untuk satwa liar Indonesia. Bekerjasama dengan laki-laki di COP Borneo adalah tantangan tersendiri untuknya. Fisik dan mental pun harus berada di atas rata-rata. “Perempuan harus bisa. Otopsi mayat orangutan, penyelamatan orangutan di perkebunan sawit dimana kita dituntut untuk memiliki fisik yang baik, berpikir sambil berlari mengejar orangutan, hampir tidak tidur sehari semalam dan masih banyak lagi tantangan lainnya. Tapi profesionalisme menjadi dokter hewan harus tetap dikedepankan.”, urai drh. Flora.

Flora adalah salah satu perempuan di Centre for Orangutan Protection. Masih banyak perempuan-perempuan lainnya seperti Wety Rupiana dengan latar belakang desain grafis, Dina Mariana dengan latar belakang keuangan, Oktaviana S dari GIS (Global Information System), dan ratusan orangufriends (kelompok pendukung COP) perempuan dengan pendidikan yang beragam membantu Orangutan Indonesia dengan caranya masing-masing. “Terimakasih Kartini! Kami tak memperingati hari ini sebatas cara berpakaian, tapi profesionalisme dari pemikiranmu yang tak lekang oleh waktu.”.

TERSANGKA PEMBUNUH ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU NAIK MEJA HIJAU

Babak baru kasus kematian orangutan dengan 130 peluru kembali dimulai. Kepolisian Resort Kutai Timur telah menyelesaikan pemberkasan kasus pembunuhan orangutan dengan 5 orang tersangka, salah satunya anak dibawah umur. Kamis, 12 April, Keempat tersangka diserahkan bersama barang bukti lainnya berupa senapan angin dan proyektil peluru ke Pengadilan Negeri Sangatta.

“Ini adalah kelanjutan kasus yang kami tunggu-tunggu. Kasus berlanjut ke meja hijau. Kejahatan yang dilakukan tersangka dapat dijatuhi hukuman sesuai dengan pasal 21 ayat 2 huruf a jo pasal 40 ayat 2 UU No 5 Tahun 1990 tentang KSDAE Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan habitat COP.

Muis (36), Andi (37), Nasir (54), Rustam (37) dan He (di bawah umur) menganiaya orangutan dengan cara menembak. Tempat kejadian perkara yang berada di Taman Nasional Kutai (TNK) kecamatan Teluk Pandan, Kutim, Kalimantan Timur pada 4 Februari telah membuat orangutan tersebut tewas dengan 130 peluru di tubuhnya.

“Kami berharap masyarakat luas tetap memantau kasus ini agar tidak menguap tanpa bekas.”, tambah Ramadhani lagi.

DEBBIE FOUND IN KELAY RIVER

The discovery of a human-like figure near IPA Sambalung PDAM, Berau, East Kalimantan on Thursday afternoon, 12 April 2018 shocked the COP Borneo team. Sadness so enveloped Tim that Tim finally arrived at RSUD Abdul Rivai to make sure the corpse was an orangutan.

After measuring the distance of the eyes and body and checking the tooth structure, the corpses of the orangutans who had not been in the intact state were closely approached physically to the disappearance of the Debbie orangutan since late March.

The team’s effort down the Kelay river for a whole week since its disappearance did not work. That still leaves Debbie hope to survive. “Every time we send food to the island and patrol we are still looking for Debbie. But now, that hope is gone. Debbie is dead, “Inoy said sadly.

Debbie is a deceased orangutan living in a cage. Female orangutans from the Botanical Garden of Unmul Samarinda are entrusted to COP Borneo orangutan rehabilitation center. On March 1, 2018, Debbie had the opportunity to be released on the island of orangutans. The island that will be a place to live forever because of the possibility to be released into the habitat is almost impossible because of Debbie’s previous life history that is always in the cage.

The development of Debbie on the island is quite astonishing. Debbie makes a hiding place or a nest on the ground. He can completely disguise and disappear to avoid Ambon, the male orangutan that was once a cage with him in KRUS. Debbie also managed to climb a tree as high as 15 meters. “Thank you Debbie, you have made us happy to see you live on the island during the month of March. Watching your progress once made us cry happily. And now we are crying sadly with your departure.”. (Dhea_Orangufriends)

DEBBIE DITEMUKAN DI SUNGAI KELAY
Penemuan sosok seperti manusia di dekat IPA PDAM Sambaliung, Berau, Kalimantan Timur pada Kamis sore, 12 April 2018 membuat kaget Tim COP Borneo. Kesedihan begitu menyelimuti Tim hingga akhirnya Tim tiba di RSUD Abdul Rivai untuk memastikan mayat adalah orangutan.

Setelah melakukan pengukuran jarak mata dan tubuh serta pengecekan struktur gigi, mayat orangutan yang sudah tidak dalam keadaan utuh tersebut mendekati fisik orangutan Debbie yang hilang sejak akhir bulan Maret.

Usaha tim menyusuri sungai Kelay selama seminggu penuh sejak hilangnya juga tidak membuahkan hasil. Itu pun masih menyisakan harapan Debbie bisa bertahan. “Setiap kali mengirimkan makanan ke pulau dan patroli kami masih terus mencari-cari sosok Debbie. Tapi kini, harapan itu pupus. Debbie sudah mati.”, ujar Inoy sedih.

Debbie adalah orangutan yang sudah puluhan tahun hidup di dalam kandang. Orangutan betina yang berasal dari Kebun Raya Unmul Samarinda ini dititipkan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Pada 1 Maret 2018 yang lalu, Debbie berkesempatan dilepas di pulau orangutan. Pulau yang akan menjadi tempat hidup selamanya karena kemungkinan untuk dilepas liarkan ke habitatnya hampir tidak mungkin karena sejarah hidup Debbie sebelumnya yang selalu berada di dalam kandang.

Perkembangan Debbie selama di pulau cukup mencengangkan. Debbie membuat tempat persembunyian atau sarang di tanah. Dia benar-benar bisa menyamar dan menghilang untuk menghindari Ambon, orangutan jantan yang pernah satu kandang dengannya di KRUS. Debbie juga sudah berhasil memanjat pohon setinggi 15 meter. “Terimakasih Debbie, kamu sudah membuat kami bahagia dengan melihatmu hidup di pulau selama bulan Maret lalu. Menyaksikan perkembanganmu pernah membuat kami menangis bahagia. Dan kini kami menangis sedih dengan kepergianmu.”.

ICELAND STOP PRODUCTS THAT USE PALM OIL

Iceland news, a supermarket in Britain that stopped its own brand products containing palm oil from biscuits to soap is a national shopping center business based in Deeside, England is concerned with forests and orangutans in Borneo.

Iceland director Richard Walker said that, “There is no sustainable palm oil.”.

Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO) undertakes efforts to manage palm oil to standardize sustainable management of the environment, products, workers and the economy. In fact, the RSPO has given RSPO certificates on approximately 3.5 million ha of palm oil up to 2017. It’s like just labeling ‘green images’ that do not save orangutans and forests. RSPO members are still deforesting forests of high conservation value, indicating the presence of protected endemic wildlife such as orangutans.

If only on the basis of plantations that might meet the criteria of RSPO certification, what about the opening of palm oil mills on oil palm harvests from small plantations and even individuals who turn their land in a national park? How to separate this mixed palm oil?

“If Iceland can stop its production using palm oil, we hope other supermarkets are willing to evaluate its policies. The pressure on users of large quantities of palm oil is expected to invite oil palm plantations to pay more attention to the environment and animals, “said Ramadhani, manager of orangutan protection and COP habitat. (LSX)

ICELAND HENTIKAN PRODUK YANG MENGGUNAKAN MINYAK KELAPA SAWIT
Berita Iceland, sebuah supermarket di Inggris yang menghentikan produk mereknya sendiri yang mengandung minyak kelapa sawit mulai dari biskuit sampai sabun merupakan usaha jaringan pertokoan nasional yang berpusat di Deeside, Inggris ini untuk peduli pada hutan dan orangutan di Kalimantan.

Direktur Iceland, Richard Walker mengatakan bahwa, “Tidak ada minyak kelapa sawit yang berkesinambungan.”.

Usaha yang dilakukan seperti RSPO (Roundtable On Sustainable Palm Oil) dengan mengupayakan pengelolaan kelapa sawit ber-standarisasi pengelolaan yang berkelanjutan dari sisi lingkungan, produk, pekerja maupun ekonominya. Bahkan RSPO telah memberikan sertifikat RSPO pada sekitar 3,5 juta ha lahan sawit hingga 2017. Ini seperti hanya memberi label ‘citra hijau” yang tak menyelamatkan orangutan dan hutan. Para anggota RSPO masih juga melakukan pembabatan hutan pada hutan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi dengan ditunjukkan keberadaan satwa liar endemik yang dilindungi seperti orangutan.

Jika hanya berdasarkan lahan perkebunan yang mungkin sudah memenuhi kriteria sertifikat RSPO, bagaimana dengan terbukanya pabrik minyak kelapa sawit pada hasil panen kelapa sawit dari perkebunan kecil bahkan perorangan yang ternyata lahannya berada di sebuah taman nasional? Bagaimana memisahkan minyak kelapa sawit yang sudah bercampur ini?

“Jika Iceland bisa menghentikan produksinya yang menggunakan minyak kelapa sawit, kami berharap supermarket lainnya pun bersedia untuk mengevaluasi kebijakannya. Tekanan para pengguna jumlah besar minyak kelapa sawit diharapkan bisa mengajak perkebunan kelapa sawit lebih memperhatikan lingkungan dan satwa.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

PEDAGANG ELANG DITANGKAP DI BANDUNG

Bandung – Tim gabungan Tipidter Polda Jawa Barat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) mengamankan RA  warga Cijerah Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat terkait jual beli satwa liar dilindungi pada tanggal 28 Maret 2018. Tersangka ditangkap di rumahnya dengan barang bukti 5 ekor elang yang hendak diperjualbelikan secara online. 

“Tersangka RA sudah terpantau sejak 1,5 tahun melakukan jual beli satwa liar dilindungi di sosial media Facebook. RA merupakan spesialis penjual burung elang dan alap-alap. Saat ditangkap, tim gabungan menemukan barang bukti 5 ekor elang di rumahnya tanpa ada perlawanan.”, Hery Susanto Manager Anti Wildlife Crime COP

Dalam upaya operasi ini tidak mudah karena RA selalu menyembunyikan identitas asli dan tidak pernah mau melakukan pertemuan secara langsung dengan para calon pembeli. Pedagang ini cukup aktif melakukan posting dagangan di sosial media untuk jenis satwa kategori dilindungi. Tersangka mendapat pasokan barang dari pulau Jawa dan Sumatera terutama untuk jenis elang yang memiliki habitat di laut. Ini adalah elang ke 51 yang kami evakuasi dari perdagangan ilegal satwa liar selama 5 tahun terakhir. Banyaknya pemelihara dan penghobi elang menyebabkan penangkapan terus terjadi dan perdagangan tetap ada. Elang dan alap-alap adalah burung pemangsa tertinggi dalam rantai makanan dan semua keberadaannya dilindungi di Indonesia. 

“Selama kurun waktu 5 tahun terakhir COP membantu Polri dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), setidaknya sudah mengamankan 51 elang dari perdagangan ilegal satwa liar.  Dari pengakuan para tersangka, mereka memperjualbelikan satwa tersebut karena masih adanya permintaan dan banyaknya kelompok penghobi elang yang menyebabkan perburuan dan perdagangan terus ada dan terjadi.”, Hery Susanto Manager Anti Wildlife Crime COP.

Kami mengapresiasi Tipidter Polda Jawa Barat dan BKSDA Bandung yang secara tegas melakukan upaya penegakan hukum kasus ini. Dan kita menunggu babak baru terkait vonis hukuman pengadilan bagi tersangka bisa lebih maksimal. Barang bukti elang saat ini masih diamankan di BKSDA Jawa Barat dan akan segera dikirim menuju ke Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) guna perawatan dan rehabilitasi bagi elang tersebut.

Untuk wawancara dan komunikasi lebih lanjut silahkan menghubungi

Hery Susanto
COP Anti Wildlife Crime Coordinator
Mobile Phone:  081284834363
Email: info@orangutanprotection.com

ANCAMAN PASCA PENANGKAPAN PEDAGANG ELANG DI BANDUNG

Pesan masuk lewat media sosial Centre for Orangutan Protection. Tanpa menunggu lama, informasi ini langsung ditindak lanjuti tim APE Warrior, tim yang selama ini menangani perdagangan satwa. Sehari, seminggu, sebulan, tim terus memantau informasi ini. Kali ini sesepuh falconari Bandung yang menjadi target.

Operasi gabungan untuk memproses secara hukum kepemilikan elang ilegal sudah dilakukan COP bersama Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Operasi gabungan bersama organisasi satwa lainnya juga melibatkan Kepolisian Republik Indonesia karena kepemilikan tersebut melanggar hukum yang berlaku. Media massa juga berperan serta mempublikasikan kejahatan ini. Namun, kejahatan ini terus berlangsung.

“Kami melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Satwa dan hukum menjadi prioritas kami. Sekarang keluarga tersangka pedagang elang mengejar-ngejar kami. Salah kami apa?”, ujar Hery Susanto bingung.

Tidak mungkin tersangka tidak mengerti satwa elang adalah satwa yang dilindungi Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Kenapa Elang dilindungi juga bukanlah hal yang baru. Fungsi elang sebagai predator tingkat tinggi menjadikannya satwa yang sangat penting dalam rantai makanan yang sejak jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak sudah diajarkan. Ataukah hukum dan pelajaran biologi ini salah semua?

“Terimakasih orangufriends yang telah menguatkan kami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan berbuat untuk alam ini. Hukum harus ditegakkan!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

5 EAGLES RESCUED FROM MERCHANTS

Tuesday, March 27, 2018 has caught one suspected hawk merchant in Nanjung village, Margaasih sub-district, Bandung regency, West Java. From joint operation of COP with team of Ditipidter Polda West Java, BKSDA West Java and assisted Orangufriends Bandung to secure 5 (five) eagles. According to the suspect, the supply of hawk eagles and sea eagles comes from the province of Bangka Belitung.

“The suspect is one of the Falconary elders of Bandung. Every week, his home becomes the training ground for eagles’ lovers to learn together, “explained Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime COP.

The ‘Lovers’ Eagle is unlikely not to know the status of the eagle which is a protected animal of the Act. Position of suspect houses that are in densely populated people’s attention. “We hope people can learn firsthand, that maintaining and trading protected animals is illegal. A maximum of 5 years imprisonment and a fine of 100 million is a punishment that the perpetrator must undergo. But this punishment is still too light, that’s why there are still illegal keepers and wildlife traders protected. This business is still profitable, even if cut penalties and fines. “, Added Hery Susanto.

Thank you Orangufriends Bandung for helping with this joint operation. The Center for Orangutan Protection support group is a special force for the COP. The extent of the Orangufriends network has been shown to repeatedly save both protected and unprotected wildlife and other pets from abuse and cruelty. #proudoforangufriends (L)

5 ELANG DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Selasa, 27 Maret 2018 telah tertangkap satu orang tersangka pedagang elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari operasi gabungan COP bersama tim Ditipidter Polda Jawa Barat, BKSDA Jawa Barat dan dibantu Orangufriends Bandung mengamankan 5 (lima) elang. Menurut tersangka, pasokan elang pemburu dan elang laut berasal dari provinsi Bangka Belitung.

“Tersangka merupakan salah satu sesepuh Falconary Bandung. Setiap minggu, rumahnya menjadi tempat latihan para ‘pecinta’ elang untuk belajar bersama.”, urai Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

‘Pecinta’ Elang tidak mungkin tidak mengetahui status elang yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang. Posisi rumah tersangka yang berada di padat penduduk sempat menjadi perhatian warga. “Kami berharap warga bisa belajar langsung, bahwa memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi melanggar hukum. Penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta adalah hukuman yang harus dijalani pelaku. Tapi hukuman ini masih terlalu ringan, itu sebabnya masih saja ada pemelihara ilegal dan pedagang satwa liar dilindungi. Bisnis ini masih menguntungkan, sekali pun dipotong hukuman dan denda.”, tambah Hery Susanto.

Terimakasih Orangufriends Bandung yang telah membantu operasi bersama ini. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection adalah kekuatan tersendiri bagi COP. Luasnya jaringan Orangufriends telah terbukti berulang kali menyelamatkan satwa liar baik dilindungi maupun yang tidak dilindung dan hewan peliharaan lainnya dari perlakuan kekejaman maupun kejahatan. #proudoforangufriends

ANGGOTA PERBAKIN HARAM TEMBAK SATWA LIAR

Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi kepada Pengurus Besar Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (PB.PERBAKIN) yang mengeluarkan surat Nomor 257/SEKJEN/PB/III/2018 tertanggal 25 Maret 2018 yang ditujukan kepada seluruh Pengurus PERBAKIN di setiap provinsi seluruh Indonesia. Dalam suratnya PB.PERBAKIN menggaris bawahi kembali kepada anggota dan klub-klub senapan angin yang berada di bawah naungan PERBAKIN untuk kembali mengerti peraturan Kapolri bahwa senapan angin tidak bisa digunakan untuk menembak satwa. Senapan angin hanya boleh digunakan untuk menembak sasaran dan perlombaan.

“Sudah seharusnya PB.PERBAKIN menertibkan anggota dan klub naungannya agar mengerti bahwa dengan menjadi anggota PERBAKIN tidak otomatis penggunaan senapan angin halal untuk menembak satwa. COP berharap ini dimengerti oleh anggota PERBAKIN seluruh Indonesia dan tidak ada lagi kegiatan-kegiatan dengan kedok berburu hama oleh klub/komunitas senapan angin.”, oleh Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP.

PB.PERBAKIN mengeluarkan surat tersebut berdasarkan surat dari Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan melihat maraknya penembakan satwa liar dengan menggunakan senapan angin.

“Kami berharap PB.PERBAKIN bisa menertibkan anggotanya dan klub naungannya. Dan Kepolisian bisa melakukan pengetatan kepemilikan dan penjualannya, yang mana saat ini pembelian dan kepemilikan senapan angin sangat mudah sekali prosesnya.”, tegas Ramadhani.

Catatan :
1. 15 Oktober 2017, PERBAKIN Tanah Datar, Sumatera Barat melakukan hunting bersama di Lapangan Cindua Mato dengan menembak mati ratusan burung bangau yang dilindungi dengan alasan burung bangau sudah menjadi hama.
2. 6 Pebruari 2018, COP mempublikasikan hasil otopsi kematian 1 individu orangutan, yang mana di tubuh orangutan ditemukan 130 peluru senapan angin.
3. Awal Maret 2018 COP melakukan kampanye untuk membatalkan kegiatan berburu hama yang rencananya dilakukan 4 Maret 2018 oleh komunitas senapan angin Rang-Rang Community di Brebes dan Komunitas Sniper Uklik Indonesia di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dua rencana kegiatan tersebut batal dilakukan.
4. Data bersama dari 8 organisasi orangutan mencatat setidaknya telah terjadi 48 kasus orangutan ditembak dengan senapan angin dan total 805 peluru.

COP COMPLAINTS TO RSPO

The death of an orangutan with 130 rifles bullet in his body led the APE Crusader team to its findings this time. From the autopsy result found 2 palm seeds that are still not digested. The orangutans were then found in Kutai National Park, East Kalimantan and located in a small lake. The lake is surrounded by palm oil plantation and other community gardens of pineapples. Orangutans which are in a conservation area did not escape the threat. the status of the area is not a guarantee orangutans can live. this situation drags orangutan into wildlife in critical status.

Five people as perpetrators of orangutan killings we call ‘Kaluhara 2′ will undergo a legal process. Then again the puzzle will end where the palm oil plantations are located in a national park?

Center for Orangutan Protection complains to RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) that has produced Certified Sustainable Palm Oil (CSPO). Is it true that the company’s palm oil “contains orangutans blood”?

COP MENGELUH PADA RSPO
Kematian orangutan dengan 130 peluru senapan angin di tubuhnya mengantarkan tim APE Crusader pada temuannya kali ini. Dari hasil otopsi ditemukan 2 butir sawit yang masih belum dicerna. Orangutan saat itu ditemukan di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur dan berada di sebuah danau kecil. Danau tersebut di kelilingi perkebunan kelapa sawit dan kebun masyarakat lainnya yaitu nenas. Orangutan yang berada di sebuah kawasan konservasi ternyata tidak luput dari ancaman. Status kawasan bukan jaminan orangutan dapat hidup. Situasi ini menyeret orangutan menjadi satwa dalam status kritis.

Lima orang sebagai pelaku pembunuhan orangutan yang kami sebut Kaluhara 2 akan menjalani proses hukum. Lalu muncul lagi teka-teki akan berakhir kemanakah hasil perkebunan sawit yang berada di sebuah taman nasional?

Centre for Orangutan Protection menyampaikan keluhannya kepada RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang telah memproduksi Certified Sustainable Palm Oil (CSPO). Benarkah dugaan sawit perusahaan tersebut “mengandung darah orangutan”?

WORLD DOWN SYNDROME DAY

Jimmy namanya. Usianya berkisar 17 hingga 20 tahun berdasarkan gigi yang dimilikinya. “Usia orangutan dapat dilihat dari struktur dan jumlah giginya, orangutan Jimmy memiliki 32 gigi dan gigi taring yang sudah panjang.”, ujar drh. Gunawan.

Mungkin Jimmy adalah satu-satunya kasus orangutan yang mengalami down syndrome. Suatu kelainan kromosom genetik yang diakibatkan oleh kromosom ekstra. Kromosom ekstra inilah yang menyebabkan keterbelakangan perkembangan fisik maupun mental Jimmy. Ya, Jimmy terlihat seperti anak orangutan yang berusia 5 tahun.

Namun sayang, kasus orangutan Jimmy yang terbilang langka tidak cukup banyak diteliti. Jimmy yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur bersama COP pada 19 September 2011 tidak dapat bertahan hidup.

Tepat pada hari ini, 21 Maret adalah hari yang diperingati sebagai Hari Sindrom Down Sedunia atau World Down Syndrome Day/ WDSD. Ternyata bukan manusia saja yang bisa menderita down syndrom, tapi Jimmy, si orangutan dari Muara Wahau, Kalimantan Timur pun. Manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan.

Page 2 of 2212345...1020...Last »