FILE P21, PROTECTED ANIMAL SMUGGLING CASE PASSED ON TO LANGSA DISTRICT ATTORNEY

The Langsa District Attorney has finally announced that its investigations into a protected animal smuggling case in Aceh (known as P21) are complete. This comes after the arrest of Ramadhani, a suspected animal smuggler. Ramadhani was caught on 1 August 2015 by the Aceh branch of the Office for Natural Resource Conservation (BKSDA), on PDAM Tirta Pondok Kemuning Road, in Pondok Kemuning village, which is located in the Old Langsa district in the city of Langsa, East Aceh. As part of the operation, the BKSDA team seized 3 (three) orangutan, 2 (two) bald eagles, 1 (one) king pheasant, and 1 (one) clouded leopard. Each of these animals are classified as protected species. Ramadhani’s arrest, along with the recovery of three baby orangutan, makes this the largest smuggling operation to be uncovered in Aceh to date.

Genman Hasibuan, the head of BKSDA Aceh, gave the following statement:

“BKSDA Aceh will continue to monitor this case, and is committed to ensuring that the accused suspect is met with the full force of the law, in line with Regulation Number 5/1990 concerning the conservation of natural resources and ecosystems, which stipulates a 5 year prison sentence and fine of 100 million rupiah.”

In addition, Panut Hadisiswoyo, a Director at the Orangutan Information Centre (OIC), offered the following statement:

“OIC will continue to observe this case and do all within its reach so that the suspect receives the maximum punishment. Upholding the rule of law is key to enabling the success of orangutan conservation and biodiversity programs throughout Indonesia. BKSDA must be supported in their efforts to carry out the legal process properly. Because of this, we call upon the Langsa District Attorney to carry out their task with fairness and transparency. Doing so would see the judicial process become an important reference to guide future legal cases brought against animal smugglers. Charged suspects must be handed the maximum punishment as a way of further discouraging animal smuggling throughout the community.”

Daniek Hendarto, the Anti-Kejahatan Satwa Liar Manager at the Centre for Orangutan Protection (COP), also gave the following statement:

“This is the biggest case ever recorded in Aceh, and it bears the potential to be repeated, given that until now, the sentences to befall convicted smuggling suspects in previous cases have been so light. COP uses social networking to monitor the networks of known offenders, and we can conclude that smugglers are not afraid of being prosecuted, as the benefits of their smuggling activities significantly outweigh the associated risks. The key to bringing about change lies with the Langsa District Attorney. If its judges can show courage and dispense the maximum sentence, this will be a significant breakthrough, all while operating within the law.”

For further information or to access the full interviews, please contact:

Genman Hasibuan- Head of BKSDA Aceh.

Phone  : 081286319877

Panut Hadisiswoyo- Director, Orangutan Information Centre.

Phone  : 081376879114

 

Daniek Hendarto- Manager, Anti Kejahatan Satwa Liar, COP.

Phone : 081328837434

 

BERKAS P21, KASUS PEDAGANG SATWA DILINDUNGI DILIMPAHKAN KE KEJAKSAAN NEGERI LANGSA

Kejaksaan Negeri Langsa akhirnya menyatakan lengkap (P21) atas berkas penyidikan perkara ‎tersangka penjual pedagang satwa dilindungi dengan tersangka Ramadhani. Ramadhani ditangkap tangan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh di Jalan PDAM Tirta Pondok Kemuning, Desa Pondok Kemuning, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh Timur pada tanggal 1 Agustus 2015. Dalam operasi tersebut, tim BKSDA menyita 3 (tiga) orangutan, 2 (dua) elang bondol, 1 (satu) burung kuau raja dan 1 (satu) awetan macan dahan. Kesemua satwa tersebut merupakan satwa dilindungi.  Penangkapan ini merupakan yang terbesar pertama di Aceh dimana pedagang berhasil ditangkap bersama dengan tiga bayi orangutan sekaligus.

 

Genman Hasibuan, Kepala BKSDA Aceh memberikan pernyataan sebagai berikut:

“BKSDA Aceh akan terus mengawal dan berkomitmen untuk memastikan tersangka mendapatkan hukuman sesuai dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yakni penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.”

 

Panut Hadisiswoyo, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) memberikan pernyataan sebagai berikut:

“OIC akan terus mengawal kasus ini dan mengerahkan segenap potensinya agar si tersangka bisa mendapatkan hukuman maksimal. Penegakan hukum merupakan salah satu kata kunci untuk mendukung keberhasilan program upaya konservasi orangutan dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Proses hukum yang sudah dijalankan pihak BKSDA Aceh harus didukung dan kami meminta pihak Kejaksaan Negeri Langsa dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara adil dan transparan sehingga proses peradilan nantinya dapat menjadi acuan penting bagi upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana perdagangan satwa dilindungi. Hukuman maksimal harus diberikan kepada tersangka agar ada efek jera di masyarakat.”

 

Daniek Hendarto, Manager Anti Kejahatan Satwa Liar dari Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Ini adalah kasus terbesar yang pernah ada di Aceh dan berpotensi terulang kembali karena hukuman yang dijatuhkan selama ini pada kasus-kasus kejahatan terhadap satwa liar sangatlah ringan. COP memantau jaringan si pelaku di jejaring sosial dan kami berkesimpulan bahwa mereka tidak takut menghadap jerat hukum karena keuntungan sangat besar jika dibandingkan resikonya. Kuncinya ada di Kejaksaan Negeri Langsa. Jika mereka berani membuat terobosan dengan sebuah tuntutan maksimal, maka hakim akan menjatuhkan hukuman yang tidak terpaut jauh.”

 

Informasi dan wawancara lanjutan harap berkomunikasi dengan:

Genman Hasibuan, Kepala BKSDA Aceh.

Phone  : 081286319877

Panut Hadisiswoyo, Direktur Orangutan Information Centre.

Phone  : 081376879114

 

Daniek Hendarto, Manajer Anti Kejahatan Satwa Liar COP.

Phone : 081328837434

UPDATES ON THE LANGSA CASE; CRIME SCENE RECONSTRUCTION

Do you still remember the confiscation of 3 orangutan babies on August 1st? Based on COP’s investigation, the Aceh National Police with the assistant from COP and OIC have raided a warehouse in Langsa. COP work to ensure that the trader would get maximum penalty. We want him to be jailed for 5 years according to Law number 5 year 1990. We sent the letter to Great Attorney in Jakarta to consider this case as priority and need proper monitoring.

Today, the High Attorney of Aceh conduct crime scene reconstruction as the legal process before the case goes to court. Following instruction from Attorney, 3 confiscated babies being transported to crime scene location today by a team from SOCP and OIC.

Masih ingat penyitaan 3 bayi orangutan pada tanggal 1 Agustus? Berdasarkan penyelidikan COP dan Polda Aceh dengan dukungan COP dan OIC menggerebek rumah pedagang satwa liar di Langsa. COP terus bekerja untuk memastikan si pelaku mendapatkan hukuman maksimal, 5 tahun penjara seperti yang diamanatkan UU No.5 Tahun 1990. Kami telah mengirim surat ke Kejaksaan Agung di Jakarta untuk mempertimbangkan kasus ini sebagai prioritas dan karena itu membutuhkan pemantauan yang memadai.

Pada hari ini Kejaksaan Aceh menggelar rekonstruksi lapangan sebagai bagian dari proses hukum sebelum kasus dikirimkan ke pengadilan. Mengikuti instruksi Jaksa, pada hari ini SOCP dan OIC memberangkat 3 bayi sitaan tersebut ke Langsa.

GOODBYE TOILET! UNYIL THE ORANGUTAN IS NOW IN FOREST SCHOOL!

Valentino Unyil Ngau is the name of the tiny 3 year old, thick brown haired orangutan. He has just joined the other orangutans his age in forest school, after being surrendered by his owner to the Kalimantan COP team on the 13th of April 2015. Valentino’s name comes from the belief that this young orangutan was born in April 2012; the name Unyil is taken from a famous cartoon character on national television, and Ngau is a name that comes from the family who previously owned the orangutan.

Unyil was kept in a wooden cage measuring 50x50x50cm, only able to reach out his fingers and arms to take food. The cage was also kept in the toilet, making it very damp. Every morning Unyil’s owner gave him a drink of tea, and rice for breakfast. When he was first found, Unyil looked very pale. Doctors assumed this was due to Unyil rarely seeing the light of day, considering he had been kept inside a bathroom.

Unyil is now in forest school. He looks much happier. He loves climbing trees, learning to eat young leaf shoots, and has even occasionally been seen eating termites with his orangutan classmates. This is great news considering that when he first arrived, Unyil was not even able to open a banana or eat other fruit. Unyil is a fast learner. Forest school’s notes show that he has already braved climbing trees as tall as 30 metres.

It’s still a long time before Unyil can return to his home in the forest. But at least for now Unyil is with friends, no longer alone, like he has been these past 3 years, in a cold cage in a foul-smelling toilet.

By adopting Unyil, you can help him to learn in forest school so that his home will no longer be a cage.

SELAMAT TINGGAL TOILET… KINI ORANGUTAN UNYIL DI SEKOLAH HUTAN

Valentino Unyil Ngau adalah nama orangutan kecil berumur 3 tahun, berambut tebal, serta berwarna coklat gelap. Ia baru saja bergabung dengan teman-teman seumurnya di sekolah hutan setelah pemilik Unyil menyerahkan Unyil kepada tim COP Kalimantan pada 13 April 2015. Nama Valentino diambil dari dari keyakinan bahwa orangutan muda ini lahir pada bulan April 2012. Kemudian Unyil sendiri merupakan tokoh kartun lucu yang sangat terkenal di televisi nasional dan Ngau merupakan nama besar keluarga pemilik orangutan ini. Keseharian orangutan ini dipanggil dengan nama Unyil.

Unyil diletakan di dalam kandang kayu berukuran 50x50x50cm. Hanya jari dan lengan tangannya yang dapat keluar untuk mengambil makanan. Kandang tersebut juga berada di dalam toilet sehingga sangatlah lembab. Setiap pagi si pemilik Unyil memberikan minuman teh dan nasi untuk sarapan pagi.

Saat ditemukan pertama kali Unyil terlihat sangat pucat. Dokter memperkirakan hal ini dikarenakan Unyil sangat jarang terkena sinar matahari apalagi mengingat Unyil ditempatkan dalam kamar mandi.

Kini Unyil telah berada di sekolah hutan. Ia tampak begitu senang. Ia sangat suka memanjat pohon, belajar memakan pucuk daun muda bahkan sesekali tampak makan rayap bersama orangutan sekelasnya. Hal ini sangat baik mengingat pertama kali datang, Unyil bahkan tidak dapat membuka kulit pisang dan makan buah lainnya. Unyil belajar dengan cepat. Catatan sekolah hutan menunjukan bahwa ia sudah berani memanjat pohon hingga ketinggian 30 meter.

Waktu masih panjang bagi Unyil untuk kembali ke rumahnya di hutan. Setidaknya sekarang Unyil telah memiliki teman, tidak sendiri seperti 2

tahun sebelumnya di dalam kandang dingin dengan aroma toilet yang menyengat.

Bantu Unyil belajar di sekolah hutan agar kandang bukan lagi rumahnya ya, dengan mengadopsi Unyil…

300 + 100

The clock hand strikes midnight. The APE Warriors camp is still full of people. Members of Orangufriends Yogya are still busy, packaging 300 T-shirts, to be mailed out to those who have purchased them. The sales of this limited line of T-shirts will fund Sound for Orangutan (SFO), an annual music performance run by COP. The funds from this concert will be used to build a COP Orangutan Rehabilitation Center in East Kalimantan.
COP volunteers battle exhaustion; it is vital that this work is completed on time and customers are not let down. So that they will be happy to become customers again, next time T-shirts are on offer. This effort is for orangutans, for all wildlife.
Tonight, it appears members of Orangufriends will have to work harder again. 100 more shirts must now be packaged. Not for orangutans this time, but for the release of wild animals, caged in the Banjarbaru,City Gardens in South Kalimantan. These poorly-designed cages must be modified, so that these animals are no longer bound by chains. There must be investment in these facilities, so that these animals may prosper. All of this requires money. In the purchasers of these T-shirts we trust. In our members we trust.
With that, goodnight. To the Orangufriends members, now returning to their homes, remain firm – firm and alert. I know you are all exhausted, but the work of COD is not yet finished.

 

300 + 100

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Camp APE Warrior di Yogya masih ramai. Para anggota Orangufriends masih sibuk mengemas 300 kaos untuk dikirimkan ke para pemesannya. Kaos yang diproduksi terbatas itu untuk mendanai pertunjukan musik tahunan Sound For Orangutan (SFO). Keuntungan dari konser musik tersebut akan digunakan untuk membangun Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur.

Capek dan ngantuk harus dilawan. Pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu, agar para langganan tidak kecewa. Agar mereka dengan senang membeli kaos yang ditawarkan di kemudian hari. Hasilnya untuk orangutan. Hasilnya untuk satwa liar.

Malam ini, nampaknya para anggota Orangufriends harus bekerja lebih keras. Ada 100 lagi kaos yang harus dikemas. Kali ini bukan untuk orangutan, tetapi untuk membebaskan satwa – satwa yang kini dirantai di Taman Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kandang yang salah desain di sana harus dimodifikasi, agar binatang – binatang di sana tidak perlu dirantai. Kandang mereka harus diperkaya fasilitasnya agar mereka bisa hidup lebih baik dan sejahtera. Semua butuh duit. Pada para penggemar kaos bergambar binatang kami berharap. Pada para anggota kami berharap.

Begitulah, selamat malam. Bagi para anggota Orangufriends yang kembali ke rumah masing – masing, tetap hati – hati dan waspada. Saya tahu kalian mengantuk, tapi tugas COD kaos dengan pembeli tetap harus diselesaikan.

FENESIA AND THE REALITY OF OIL

It is difficult to prove that palm plantation farmers are killing orang-utans during their land clearing and planting activities. It is even harder to prove this for the ‘pest control’ (the term that companies often use when referring to the task of hunting). Of course, their employment contract does not state that they officially work to kill wildlife that eat or damage oil palms. Consequently, investigations into orang-utan killings tend to take a long time.

This is all common knowledge for palm oil workers. Most of them often see or become perpetrators. To maintain the security and the continuity of their employment, workers tend to stay away from questions about orang-utans. Fenesia is a witness to how orang-utans and other wildlife can fall victim to companies’ land clearing processes when they have land use permits in the forest. Fenesia once worked for a palm oil company in Muara Wahau. In the same district, the COP was confiscating more than 10 baby orang-utans from the hands of the public and campaigning against three companies that had clearly damaged orang-utan habitats.

Fenesia is just one of many people who ultimately decided to tell this story to the public. Namely, that palm oil companies are the largest contributors to the extinction of orang-utans in Borneo. “Many orang-utans are there and they (the companies) do not care. They only care about their land clearing targets, and the orang-utans are secondary.” Fenesia talks while carrying a baby orang-utan to forest school. Fenesia has now has decided to work with the COP to care for orang-utans. His concern grew from seeing what happened to orang-utans while he was working for the oil company.

Fenesia became the first keeper at the COP Orang-utan Rehabilitation Centre. He saw so much sorrow in orang-utans’ lives. He decided to help them. Do you also choose to help orang-utans? Save or delete, you decide!

 

FENESIA, KENYATAAN DI SAWIT

Sulit untuk membuktikan bahwa pembunuhan orangutan oleh pihak perkebunan sawit dalam kegiataan landclearing maupun tanam baru mereka. Terlebih lagi para pembasmi hama (bahasa yang sering digunakan perusahaan untuk pekerjaan berburu). Memang tidak terikat kontrak kerja yang menyatakan ia secara resmi bekerja untuk membunuh satwa yang memakan atau merusak tanaman sawit tersebut. Karenabeberapa kejadian yang terungkap biasanya memerlukan waktu yang panjang dalam investigasi.

Sebenarnya ini merupakan rahasia umum dalam dunia pekerja kelapa sawit. Kebanyakan dari mereka sering melihat atau menjadi pelaku itu sendiri. Tentu saja untuk menjaga keamanan serta kelangsungan pekerjaanya di perusahaan tersebut, para pekerja cenderung menjauh dari pertanyaan seputar orangutan. Fenesia, merupakan saksi bagaimana proses landclearing oleh perusahaan sawit sering mengorbankan orangutan dan satwa lainnya di hutan tempat perusahaan tersebut mendapatkan Hak Guna Usaha. Fenesia dahulunya merupakan pekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit di kecamatan Muara Wahau. Merupakan kecamatan yang sama, saat COP melakukan penyitaan lebih dari 10 bayi orangutan dari tangan masyarakat serta mengkampanyekan 3 perusahaan yang terbukti secara jelas merusak habitat orangutan.

Fenesia hanya satu dari sekian banyak orang yang pada akhinya memutuskan untuk menceritakan hal ini kepada khalayak ramai. Bahwa perusahan sawit memberikan sumbangan terbesar dalam punahnya orangutan di Kalimantan. “Di sana sangat banyak orangutan dan mereka (perusahaan), tidak peduli. Mereka punya target landclearing hanya itu yang mereka perdulikan, orangutan itu urusan belakangan.”, Fenesia bercerita sambil menggendong bayi orangutan berangkat sekolah hutan. Kini Fenesia telah memutuskan untuk berkerja di COP untuk merawat orangutan. Kepeduliannya tersebut beranjak dari rasa iba melihat nasib orangutan sewaktu ia masih berkerja di perusahaan sawit.

Fenesia menjadi keeper pertama di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP. Dia melihat begitu banyak duka di dalam kehidupan orangutan. Dia memutuskan untuk membantu orangutan. Apakah anda juga memilih untuk membantu orangutan? Save or delete, you decide!

 

PRAYER LEADER RECRUITED AS ORANGUTAN KEEPER

Kanisius Jahenam was born in the village of Golo Ketak, in the sub-district of Terang, Manggarai. This man, known simply as Kanis, settled in East Kalimantan in 2001. He moved to Kalimantan with the purpose of working for a timber company, since Timber Utilisation Permits were still widely available at the time. More than 100 of these permits were still in operation by the end of 2005.

Kanisius now lives in the village of Merasa, only 16 kilometres from COP’s Center for Orangutan Rehabilitation. Previously, Kasinius worked as a prayer leader in various small Catholic worship stations throughout a number of regional villages in Kalimantan. These experiences led to his being appointed as prayer leader in Merasa’s Santo Petrus church. Every Sunday, he can be found leading worship in the small church just downstream from the village center. His perseverance as a leader has led to various developments in the church, which is now never empty of people coming to pray.

Aside from his devotion to prayer, Kasinius is also known for his love of animals. As a result, in April 2015, he was called to assist COP in their mission to save orangutans. His desire to interact directly with the animals led to his appointment as an orangutan keeper.

“Mankind and animals have the same opportunities in life, and God loves animals with the same strength that He loves humans.”

Such is the philosophy that Kasinius implements in his everyday life. When working with orangutans, Kasinius is famous for being loving and caring. At times, he has even been known to climb trees while holding baby orangutans, to teach them a love for climbing, when their parents have been injured or captured and are unable to do so.

As he says, “If we show love for animals, in turn they will love us as they do their own family.”.

Baby orangutan Michelle is further evidence of this idea. Kasinius has an especially close relationship with Michelle, which has been likened to that of a mother and child. Michelle only follows instructions from Kasinius in jungle lessons, and whenever she becomes sad she immediately seeks him out.

This case shows us that saving orangutans is not only a job, but a calling of the heart. Orangutans do not understand who we are or what our backgrounds are. What they do understand however, is the care we show for them, continuing to work to save their homes and the lives of their future generations.(KAN)

 

PENDOA TERPANGGIL MENJADI KEEPER ORANGUTAN

Kanisius Jahenam merupakan pria kelahiran kabupaten Manggarai, kecamatan Terang, desa Golo Ketak. Pria yang sering disapa dengan nama Kanis ini merupakan perantau di Kalimantan Timur semenjak 2001. Tujuan utama pada saat itu adalah berkerja di perusahan kayu, hal ini dikarenakan memang pada saat itu Ijin Pemanfaatan Kayu di Kalimantan masih sangat banyak. Tercatat setidaknya ada lebih dari 100 ijin penggunaan kayu yang beroperasi hingga pada akhir 2005.

Kanisius kini menetap di desa Merasa, desa yang hanya berjarak 16 km dari Pusat Rehabilitasi Orangutan COP. Sebuah kebetulan Kanisius yang dulunya pernah mengikuti pelatihan memimpin ibadah umat di stasi-stasi kecil Katolik di desa-desa terpencil kini menjadikan dia terpanggil sebagai pemimpin umat gereja Katolik di stasi Santo Petrus desa Merasa. Setiap hari minggu kita dapat menjumpai Kanisius memimpin ibadah di gereja kecil di desa Merasa  bagian hilir. Ketekunannya memimpin umat Katolik ternyata membawa banyak perubahan, kini gereja Katolik Merasa tidak pernah sepi pen-doa.

Di sela kesibukannya sebagai pendoa, Kanisus pun dikenal sebagai penyayang binatang. Sehingga pada April 2015, Ia terpanggil untuk membantu COP dalam misi menyelamatkan Orangutan. Keinginannya untuk berinteraksi langsung dengan orangutan menjadikannya ia terpanggil untuk menjadi perawat orangutan atau sering disebut keeper.

“Manusia dan hewan mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup, dan Tuhan mencintai mereka sama besarnya dengan Dia mencintai manusia.”, begitulah pemahaman Kanisius dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Selama menjaga orangutan, Kanisius memang terkenal sebagai penyayang dan penyabar, terkadang ia rela memanjat pohon dan menggendong bayi orangutan hanya agar bayi-bayi orangutan ini mau memanjat. Tentu saja seperti yang pernah ia katakan, “Jika kita mencintai binatang, mereka juga akan mencintai kita layaknya keluarga mereka.” Maka hal ini terbukti pada bayi orangutan bernama Michelle. Ia memiliki kedekatan khusus dengan Kanisius. Layaknya kedekatan ibu dan anak. Michelle hanya mau menuruti perintah Kanisius di setiap sekolah hutan, bahkan ketika Michelle menangis maka ia akan segera berlari dan mendekati Kanisius.

Hal ini mengajarkan kita bahwa menyelamatkan kehidupan orangutan bukan saja hanya sebuah pekerjaan tetapi pilihan hati. Orangutan tidak pernah mengerti siapa kita dan apa latar belakang kehidupan kita. Yang mereka tahu hanyalah kepedulian kita untuk terus menyelamatkan generasi nya dan hutan sebagai rumahnya.(KAN)

YOUR REPORTS – SAVING THE ANIMALS

Thanks to the report of one caring person, an online wildlife trafficker has been arrested in Langsa, East Aceh. 3 infant orangutans were saved along with several other rare species of wild animals. The owner of the online account ‘Habitat Aceh’ is now facing 5 years jail time based on Regulation 5, 1990. This is not the first time an online user has saved wild animals by reporting such crimes to COP. Thanks to their awareness, at least 12 individuals trading wildlife via social networks such as Facebook have been jailed and 167 rare species have been confiscated – including orangutans, bears and clouded leopards. Not bad, eh?

 

Reports that come in to COP will be quickly followed up with more detailed information, after an investigation to ascertain the truth of the situation. Once the facts have been confirmed, COP will communicate the report to the acting authorities – in these cases the police and the Office of Natural Resource Conservation (BKSDA)/Forestry Ministry. With this correspondence we are hoping for enforcement of the law. Until the suspects are caught and successfully brought to the interrogation room, the COP team will keep their mouths shut. Everything will be done swiftly and silently.
So, COP will not brag, make it into some kind of competition, ask for information from the public or pretend like we are chasing suspects. COP will not just turn your reports into a statistic like “online wildlife trafficking has risen 70%”, or “we receive as many as 1000 reports of cases per year”. For COP, the indicator of success in this war on crime will be the number of criminals thrown into jail, not the amount of comments, shares, or likes on Facebook.
That’s the way law enforcement should be done.
And so, COP urges you, the online community, not to rave on about these perpetrators, condemning them and spreading their faces far and wide. This only lets the suspect know that they have become a target, and allows them to quickly cover their tracks, making law enforcement a much more complicated task. Simply report them to us and let us deal with them alongside the authorities.

Once again, remember: Your reports are saving the animals!

 

LAPORANMU, MENYELAMATKAN SATWA

Berkat laporan seorang netizen yang peduli, seorang pedagang satwa liar berhasil ditangkap di Langsa, Aceh Timur. 3 bayi orangutan berhasil diselamatkan bersama dengan beberapa jenis satwa liar langka lainnya. Pemilik akun “Habitat Aceh” itu kini menghadapi tuntutan penjara 5 tahun berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990. Ini bukan pertama kalinya para netizen menyelamatkan satwa liar dengan cara melaporkannya ke COP. Berkat kepedulian mereka, setidaknya 12 orang yang berjualan melalui jejaring sosial seperti Facebook berhasil dipenjara dan 167 satwa langka disita termasuk orangutan, beruang dan macan dahan. Lumayan kan?

Laporan yang masuk ke COP akan segera ditindaklanjuti dengan pendalaman informasi, melalui sebuah penyelidikan untuk memastikan kebenarannya. Jika sudah pasti, COP akan memgkomunikasikannya dengan otoritas yang berwenang, dalam hal ini polisi dan BKSDA/ Kemenhut. Dalam komunikasi itu kami merencanakan operasi penegakan hukum. Sampai si tersangka ditangkap dan berhasil dibawa ke ruang interogasi, tim akan tutup mulut. Semua dilakukan dengan sunyi dan cepat.
Jadi, COP tidak akan berkoar – koar, semacam bikin sayembaralah, minta bantuan informasi ke masyarakatlah atau berpura – pura mengejar si tersangka. COP tidak akan menjadikan laporan anda sebagai bahan statistik seperti ini: perdagangan satwa online meningkat 70% atau kami menerima pengaduan sebanyak 1000 kasus per tahun. Bagi COP, indikator suksesnya perang melawan kejahatan adalah banyaknya orang dijebloskan ke penjara, bukan banyaknya komentar, bagi atau suka di Facebook. Begitulah seharusnya penegakan hukum dijalankan.
Bersama ini COP menghimbau kepada Netizen untuk tidak berkoar – koar mengutuk pelaku kejahatan dan menyebarluaskan secara sporadis dan brutal. Kegoblokan seperti ini hanya akan membuat si tersangka sadar bahwa dirinya sudah jadi target masyarakat dan lalu dia menghapus jejaknya. Maka penegakan hukum makin rumit dilakukan. Cukup laporkan kepada kami dan biarkan kami yang menyelesaikannya bersama otoritas yang berwenang.
Sekali lagi, ingatlah: Laporanmu menyelamatkan satwa!

ANIMAL TRADERS ARRESTED IN BKSDA ACEH. 3 INFANT ORANGUTANS SAVED

Aceh’s Natural Resource Conservation Organisation (BKSDA) has succeeded in arresting a suspected wild life trader in Langsa, East Aceh.  In the operation, the team confiscated 3 (three) orangutan, 3 (two) Brahminy Kites, 1 (one) Kuau King bird and I (one) protected clouded leopard. The suspect was detained in the Police Head Quarters in Aceh.

“This operation is the first of its kind in Aceh. The success of this operation is thanks to the solid support from the regional police team, OIC from Medan and COP from Jakarta.  The next major task is ensuring the suspect is punished to the full extent of the 5th law under the 1990 Conservation of Natural Resources and Ecosystem Act.” , stated Genman Hasibuan, the Head of BKSD Aceh.

Daniek Hendarto, Manager of the Anti-Crimes against Wild Life from the Centre for Orangutan Protection (COP) explained “The mother of the three infants which were confiscated had obviously been killed by the poachers.  Without the establishment of harsh laws, orang-utans will continue to die in this manner.  A light sentence will only make the perpetrators return to their business because the potential profit is so large. From the hands of a poacher, a trader can receive between 500 thousand to 1 million rupiah and then can sell the animal on the market for 5 to 10 million rupiah.  On the international market, the price of an orangutan can be estimated at 400 million rupiah

“The majority of animals which are traded have been taken from the wild including the Leuser Ecosystem. Poaching and trading often causes suffering and unnecessary death for the wild life and disturbs the ecosystem. It is time that Indonesia seriously fights this crime. OIC will mobilise all of its potential so that the suspect receives the maximum punishment, that is 5 years imprisonment and a fine of 100 million rupiah.”, asserted  Panut Hadisiswoyo, Director of the Orangutan Information Centre.

So far, in the year 2015, COP has already exposed 2 cases of orangutan trade online. 4 infant orang-utans have already been saved along with tens of birds and other mammals associated with these cases. The Centre for Orangutan Protection through the APE Warrior team is fighting the illegal wild life trade. #PERANGIPERDAGANGANSATWALIAR

 

PEDAGANG DITANGKAP BKSDA ACEH, 3 BAYI ORANGUTAN SELAMAT

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh berhasil menjebak seorang tersangka pedagang satwa liar di Langsa, Aceh Timur. Dalam operasi tersebut, tim menyita 3 (tiga) orangutan, 2 (dua) elang bondol, 1 (satu) burung kuau raja dan 1 (satu) awetan macan dahan. Tersangka langsung ditahan di markas Polda Aceh.

“Operasi ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Aceh. Suksesnya operasi ini berkat dukungan tim yang solid dari Polda, OIC dari Medan dan COP dari Jakarta. Tugas berat selanjutnya adalah memastikan tersangka mendapatkan hukuman seberat – beratnya sesuai dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.”, kata Genman Hasibuan, Kepala BKSDA Aceh

Daniek Hendarto, Manager Anti Kejahatan Satwa Liar dari Centre for Orangutan Protection (COP) menjelaskan, “Induk dari 3 bayi orangutan yang disita, jelas sudah dibunuh oleh pemburunya. Tanpa penegakan hukum yang keras, korban orangutan akan terus berjatuhan. Hukuman yang ringan hanya akan membuat para penjahat kembali ke bisnisnya karena keuntungannya sangat besar. Dari tangan pemburu, seorang pedagang mendapatkan harga antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah dan kemudian dijualnya di pasaran seharga 5 sampai 10 juta rupiah. Di pasaran internasional, harga bayi orangutan ditaksir 400 jutaan rupiah.”

“Hampir sebagian besar satwa liar yang diperdagangan adalah tangkapan dari alam, termasuk dari Ekosistem Leuser. Perburuan dan perdagangan seringkali menimbulkan penderitaan dan kematian yang tidak perlu pada satwa liar dan mengacaukan ekosistem. Sudah saatnya Indonesia serius memerangi kejahatan ini. OIC akan mengerahkan segenap potensinya agar si tersangka bisa mendapatkan hukuman maksimal, yakni penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.”, tegas Panut Hadisiswoyo, Direktur Orangutan Information Centre

Selama tahun 2015 ini, COP telah membongkar 2 kasus perdangangan orangutan secara online. Ada 4 bayi orangutan yang telah diselamatkan dan puluhan burung serta belasan mamalia lainnya dalam kasus perdagangan tersebut. Centre for Orangutan Protection melalui tim APE Warriornya memerangi perdagangan satwa liar #PERANGIPERDAGANGANSATWALIAR

A CERTIFICATE IS NOT ENOUGH, COMMIT NOW !

The Centre for Orangutan Protection (COP) believes that a certificate is not enough for a company to claim that a palm oil product is environmentally friendly. In reality, certificates are often merely a document on a table and do not reflect the actual conditions in the field. Based on the COP watch list which was started in 2007, companies who are members of RSPO are intentionally not meeting the principles and criteria of the RSPO to the extent that their operations often sacrifice forest and orangutans. Although it started in 2001 and has been going for 14 years, violations still continue.  Strangely, companies who commit violations, are not removed from the RSPO. The RSPO has become a green shield which protects palm oil companies who commit crimes. The RSPO could lose its credibility if it fails to act decisively.

Commitment is needed for the palm oil industry to become an industry which is friendly to the forests and orangutans and that commitment must be monitored. The COP asserts that it is ready to provide real information to players in the palm oil businesses to ensure the ‘greenness’ of their business.

COP thanks The Palm Oil Investigation and The Forest Trust who have already facilitated this important meeting to open the eyes of the palm oil industry in Australia and formulate actions which are required to help the conservation of orangutans and their habitat.

 

SERTIFIKASI SAJA TIDAK CUKUP, KOMITMEN SEKARANG

Pusat Perlindungan Orangutan (COP) menekankan bahwa sertifikasi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa sebuah produk kelapa sawit bisa dikatakan sebagai produk yang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, sertifikasi seringkali berupa dokumen di atas meja yang tidak memcerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Berdasarkan pantauan COP sejak tahun 2007, perusahaan – perusahaan anggota RSPO secara sengaja tidak menjalankan Prinsip dan Kriteria sehingga operasinya seringkali mengorbankan hutan dan orangutan. Meskipun dimulai sejak tahun 2001 atau sudah berjalan selama 14 tahun, namun pelanggaran – pelangaran masih terus terjadi. Anehnya, keanggotaan mereka dari RSPO tidak dicabut. RSPO telah dijadikan tameng hijau untuk melindungi kejahatan perusahaan sawit yang nakal. RSPO dapat kehilangan reputasinya jika tidak bertindak tegas.

Dibutuhkan komitmen untuk menjadi sebuah industri yang ramah bagi hutan dan orangutan. Dan komitmen itu harus dipantau. COP menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan informasi yang sesungguhnya bagi para pelaku bisnis kelapa sawit guna memastikan ke-hijau-an mitra bisnisnya.

COP mengucapkan terima kasih kepada Palm Oil Investigation dan The Forest Trust yang telah memfasilitasi pertemuan penting ini guna membuka mata industri kelapa sawit di Australia dan merumuskan tindakan yang dianggap perlu untuk membantu perlindungan orangutan dan habitatnya.

NOVI CLIMBS HER FIRST TREE

The day is clear, several wild gibbons sing from the top of the forest canopy. Deer and mouse deer call back and forth to each other signifying that the night has passed.

A fly rises from the dung in the cage the keeper is hosing out.

Yes, today in the first day that a young orang-utan named Novi will start forest school. The door of her cage screeches as it opens and a keeper calls for Novi to leave the cage. Novi appears hesitant to approach the keeper however he coaxes her out with a glass of milk.

Finally, Novi climbs onto the keepers’ shoulder, still confused, Novi stays there as he walks along the narrow trail towards the forest school. “Welcome to the forest school Novi”, says another keeper who arrived previously at the forest school with other young orang-utans.

Novi appears frightened and confused as she tries to go higher, then dangles from a branch to look around, while biting a root and anything else which she can reach with her hands. Novi moves quickly from one branch to another, like she is trying to run away from the keeper. She grabs a rattan root and injures her hand. Finally Novi decides to return to the first branch where she dangled from.

After twenty minutes has past, Novi is brave enough to move away from the keeper, she moves quite quickly between small trees, twisting her body between small branches, again and again. Novi now appears happier.

Her mouth does not seem to want to stop chewing leaves and rattan roots, however she doesn’t take her eyes off an insect which goes by. Novi is like a young child happily playing in a pond full of sweets.

Every now and again Novi appears confused, she goes quiet at the continuous sound of birds calling back and forth. She tries again to climb higher to find the bird, but unsurprisingly, once she is five steps in front of it, the bird screeches and flies far away from her.

Novi is one the orang-utans who have been successfully rescued from the Kongbeng area by the team from the Centre for Orang-utan Protection (COP). Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog.

After five years of suffering, finally Novi has another opportunity to return to the forest, she is now in COP Kalimantan along with fourteen other friends to return to school so that they can become complete orang-utans (NUS)

 

NOVI MEMANJAT POHON PERTAMANYA

Ini adalah hari yang cerah, beberapa owa liar bernyanyi di atas kanopi hutan. Rusa dan kijang berteriak memanggil pulang menandakan malam telah berlalu. Seekor lalat terbang dari sisa kotoran di kandang setelah keeper membersihkannya dengan air.

Ya, hari ini, hari pertama orangutan muda bernama Novi berangkat ke sekolah hutan. Sreeeeeet bunyi pintu kandang terbuka, seorang keeper memanggil Novi untuk keluar dari kandang. Novi tampak ragu mendatangi keeper, namun keeper berusaha meyakinkan Novi dengan segelas susu.

Akhirnya Novi naik di atas punggung keeper, meski masih kebingungan, Novi tetap saja berada di bahu keeper melewati jalan setapak menuju sekolah hutan.

Selamat datang di sekolah hutan Novi, kata seorang keeper yang lebih dahulu datang bersama orangutan muda lainnya di area sekolah hutan.

Novi tampak merindinging dan kebingunan di atas akar, ia mencoba naik lebih tinggi kemudian bergelantungan untuk melihat sekeliling, serta menggigit akar apapun yang dapat ia raih dengan tangannya. Novi berpindah dari akar satu ke akar lainnya dengan sangat cepat, seperti berusaha lari dari keeper. Ia menarik akar rotan sehingga tangannya terluka. Pada akhirnya Novi memutuskan untuk kembali ke akar pertama di mana ia bergelantungan.

Setelah 20 menit berlalu, Novi memberanikan diri untuk menjauh dari keeper, ia bergerak dengan sangat cepat di antara pepohonan kecil, memutarkan badannya di antara ranting, lagi, lagi dan lagi. Novi tampak begitu senang.

Mulutnya tampak tak mau berhenti mengunyah daun, akar, ranting, bahkan serangga yang lewat pun tak luput dari matanya. Novi tampak seperti anak kecil yang begitu senang bermain di dalam kolam penuh dengan permen.

Sesekali Novi tampak bingung, ia terdiam karena suara burung bersahutan tanpa henti. Ia mencoba naik lebih tinggi untuk menemukan burung itu, namun sepertinya burung masih enggan berbicara dengan terbang jauh dari Novi ketika 5 langkah lagi sampai di depan burung tersebut.

Novi adalah salah satu orangutan yang berhasil diselamatkan oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP) dari kecamatan Kongbeng. Saat pertama kali ditemukan Novi dalam kondisi yang sangat kurus, saat itu Novi diletakkan di kolong rumah dengan rantai terikat di leher. Rantai yang sudah 5 tahun menyiksanya siang dan malam masih meninggalkan bekas. Hanya anjing pemburu lah yang menjadi teman Novi saat itu.

Setelah 5 tahun penderitaan itu akhirnya Novi mendapat kesempatan kedua untuk kembali ke hutan. Ia kini berada di COP Kalimantan  bersama 14 temannya yang lain untuk kembali sekolah agar dapat menjadi orangutan seutuhnya. (NUS)

Page 19 of 22« First...10...1718192021...Last »