MONIC, THE DIABETIC ORANGUTAN

Monic is a female orangutan at the Gunungbayan Coal Company conservation institute, West Kutai, East Kalimantan. For a month, Monic the orangutan had been limp and lifeless in the clinic. She had been receiving intensive care from the vet nurses to bring back the health of this beautiful girl.
In the beginning, Monic suffered from typhoid and was recovering, but 2 weeks ago she began developing a high fever again,” said Yasin, one of the vet nurses at Gunungbayan Coal.

After some lab testing, Monic tested positive for Dengue Fever. Her temperature hit 40 degrees Celsius for over a week. Her condition at the time forced the nurses to connect an IV, as Monic’s appetite had dropped drastically.

Connecting an IV to on orangutan is not as simple a task as with a human. As they are constantly moving and cannot sit still, the IV can occasionally detach and the team must connect it again and again. Seeing this occurring with Monic, the nurses were forced to immobilise Monic’s left arm in order to secure the IV.

After around 5 days of intensive care, it appeared that Monic’s appetite was beginning to improve. Seeing her health progress, the nurses agreed to remove Monic’s restraints and IV. As they removed the tape around the IV tubes, the nurses were shocked to see swelling on Monic’s palms up to her
fingers. This condition baffled the nurses as the swelling spread rapidly along with open wounds that would not dry out. According to Veterinarian Arifin (COP), “The orangutans wounds are constantly wet due to her own behaviours. She is constantly licking and even picking at the sores. So, they’’re just going to stay in this condition, or even get bigger.”

Seeing the current situation, the nurses and veterinarians decided to move the orangutan from the transit enclosure to a more open place. They then secured her hands and feet to prevent her from trying to touch her wounds.

Afterwards the nurses tested Monic’s blood glucose levels to explore other possible causes for the sores that would not dry out. The results of this test showed that Monic’s glucose levels had hit 221 units. “And just like that we had an answer to those wet sores. Going ahead, it will be much clearer in which direction we should be going with this orangutan’s treatment.”, stated Dr. Arifin. (SAT)

Monic adalah salah satu orangutan betina yang berada di lembaga konservasi PT. Gunung Bayan Coal, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sudah satu bulan lamanya orangutan Monic terkulai lemas di klinik. Perawatan secara intensif dilakukan para perawat satwa untuk memulihkan kembali kesehatan si cantik ini. “Sebelumnya Monic sempat mengalami tipes dan sudah membaik. Akan tetapi mulai 2 minggu yang lalu, ia demam tinggi lagi.”, tutur Yasin salah satu perawat satwa PT. Gunung Bayan Coal.

Setelah dilakukan uji lab, Monic positif Demam Berdarah (DB). Suhu badannya tembus 40 derajat celcius lebih dari 1 minggu. Situasi pada saat itu  membuat perawat terpaksa memasang selang infus karena nafsu makan Monic mulai menurun drastis.

Pemasangan selang infus orangutan memang tidak semudah memasang pada manusia. Karena sering bergerak/tidak bisa diam, terkadang infus lepas dan memaksa tim mengulangi pemasangan. Melihat kondisi seperti ini, para perawat terpaksa melakukan pemasungan pada lengan kirinya untuk mengamankan selang infus.

Selama kurang lebih 5 hari perawatan intensif, terlihat nafsu makan Monic mulai membaik. Melihat progress kesehatan yang semakin membaik, para perawat sepakat untuk melepas pemasungan dan selang infus. Ketika perekat selang infus mulai dibuka, para perawat dikagetkan dengan pembengkakan yang terjadi di telapak tangan sampai pada ruas-ruas jari Monic. Kondisi tersebut sempat membuat bingung karena pembengkakan cepat merambat dan disertai luka yang susah mengering. Bedasarkan penuturan drh. Arifin (COP), “Luka orangutan selalu basah, karena aktivitas orangutan itu sendiri. Dia selalu menjilat-jilat bahkan tak ragu untuk mecukil-cukil lukanya. Jadi ya bakal terus seperti ini, bahkan bisa semakin melebar.”.

Melihat situasi seperti ini para perawat dan dokter hewan berinisiatif memindahkan orangutan dari kandang transit ke tempat yang lebih luas. Kemudian mengamankan ke dua tangan dan kakinya agar tidak menjangkau bagian tubuh yang mengalami luka tersebut.

Setelah itu dilakukan tes kadar gula untuk memastikan kemungkinan lain penyebab  luka yang susah kering. Hasil tes menunjukkan kadar gula orangutan Monic tembus di angka 221. “Terjawab sudah penyebab utama luka yang susah kering. Untuk selanjutnya akan lebih jelas kemana arah penanganan pada orangutan ini.”, ungkap drh. Arifin. (SAT)

NORTH BORNEO, NOT NORTH KOREA

An orangutan will be exchanged with a Korean leopard in April 2016. Jakarta’s Governor, Basuki Tjahaja Purnama(Ahok)has a plan to go to North Korea for visitation to cities in ASEAN countries for sister city.

Centre for Orangutan Protection communicate the objections through poster “North Borneo, Not North Korea!”. When An Kwang Il (February 12, 2016) asked about the possibility to send orangutan to North Korea. As the subtitute, North Korea plans to send a tiger to complete the collections of Indonesian Zoo.

Monday, February 29, Ahok convey not to send orangutan to North Korea. (YUN)

Sedianya orangutan akan ditukar dengan macan Korea pada April 2016 mendatang. Rencana gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Korea Utara untuk kunjungan kerja ke kota-kota di negara anggota ASEAN untuk kepentingan sister city.

Centre for Orangutan Protection mengkomunikasikan keberatannya lewat poster “North Borneo, Not North Korea!”. Saat An Kwang Il (12 Februari 2016) menanyakan kemungkinan Indonesia mengirimkan orangutan ke Korea Utara. Sebagai gantinya, Korea Utara berencana mengirimkan macan untuk jadi koleksi kebun binatang Indonesia.

Senin, 29 Februari, Ahok menyampaikan tidak jadi mengirim orangutan ke Korea Utara. (YUN)

COP URGES THE POLICE TO FIRMLY PENALIZE THE BURNER OF THREE ORANGUTANS

Today the Centre for Orangutan Protection (COP) urges the Indonesian National Police (Polri) to immediately establish a suspect in the case of the land burning resulting in the deaths of three (3) orangutans in Bontang, East Kalimantan. An official letter containing the insistence is escorted to the Police Headquarters in Jakarta by the COP volunteers wearing orangutan costumes. In the same occasion, the COP also appreciates the work of Bontang Police in handling such cases. So far, 11 people were questioned as witnesses. Crime scene (TKP) investigation and an autopsy the corpses of the three orangutans have also been done to determine the cause of the death.
Ramadhani, the Managing Director of COP states:
“We have provided technical support needed to handle this case, so that the police and KLHK can uphold the justice for orangutans that become the victims. If we fail to enforce the laws on this conservation mascot, then this would be a bad precedent for the protection of a wide range of other rare wildlife. People will go around killing wildlife without legal consequences. Based on UU No. 5 1990 on Conservation of Biodiversity and Ecosystems, then it was worth to sentence the burner 5 years imprisonment and a fine of 100 million.”
 
“This case is very strategic. If the police successfully jail the suspect, this would send a message to the public that nobody should ever harm orangutans. The success of the police in jailing the orangutan killers from various palm oil companies in 2011 gave a tremendous psychological impact. In East Kalimantan, both companies and individuals will report immediately when they have a problem with orangutans. They know exactly the impact that would be incurred if they act illegally. Over time, the law enforcement is needed to refresh the public memory about the importance of the protection of orangutans.”
 
The number of orangutans in Kalimantan estimated to be 52,000 in 2004 and the numbers keep falling because of the forest clearing for palm oil plantations. At least 2000 orangutans had to be evacuated to 5 Orangutan rescue centers spreading over several areas in Kalimantan, one of them is operated by the COP at the Forest Research Labanan, Berau. Experts estimate that the first baby orangutan up in rescue centers may represent 2 to 10 other orangutans that were killed. In the case of this burned dead orangutan, 1 baby orangutan was found dead along with two other adult orangutans.

More information and interview:
Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

NOTES
February 20, 2016
Fires in Belimbing Village , District West Bontang , East Kalimantan Bontang occur .
 
February 21, 2016
COP obtained preliminary information on social media about orangutans that become the victims in the area burned. Then the team coordinated with BKSDA East-Bornep, SPORC East-Borneo, Bontang Police, Kutai National Park regarding this incident. The team found that allegedly used tires to burn the land.
 
February 22, 2016
Coordination with the Police and BKSDA Kaltim Bontang to conduct autopsies on the three orangutans that were found.
 
February 23, 2016
Demolition of orangutans’ cemetery under the direction of Police Bontang, East Kalimantan, BKSDA and TNK. The COP’s medical team performed the autopsy to the three corpses of orangutan to ensure and conclude the cause of the death. And now the case is handled by Bontang Police.

COP MEMINTA POLISI MENINDAK TEGAS PEMBAKAR 3 ORANGUTAN 

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri)  untuk segera menetapkan tersangka pada kasus pembakaran lahan yang berakibat tewasnya 3 (tiga) individu orangutan di Bontang, Kalimantan Timur. Surat resmi yang berisikan desakan tersebut diantar ke Mabes Polri di Jakarta oleh para relawan COP dengan mengenakan kostum orangutan. Dalam kesempatan yang sama, COP juga mengapresiasi kerja Polres Bontang dalam menangani kasus tersebut. Sejauh ini, sudah 11 orang yang diperiksa sebagai saksi. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan otopsi mayat orangutan untuk mengetahui penyebab kematian juga sudah dilaksanakan. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“Kami telah memberikan dukungan teknis yang dibutuhkan untuk menangani kasus ini, agar Polri dan KLHK dapat menegakkan keadilan pada orangutan yang menjadi korban. Jika kita gagal menegakkan hukum pada maskot konservasi ini, maka ini akan menjadi preseden buruk bagi perlindungan beragam jenis satwa liar langka lainnya. Orang akan seenaknya membunuh satwa liar tanpa adanya konsekuensi hukum. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, maka si pembakar orangutan itu layak dihukum penjara 5 tahun dan denda 100 juta.”  

“Kasus ini sangat strategis. Jika polisi berhasil menjebloskan si tersangka ke penjara, ini akan memberikan pesan ke publik bahwa jangan pernah berbuat jahat pada orangutan. Keberhasilan Polri dalam menjebloskan para pembunuh orangutan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit pada tahun 2011 memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Di Kalimantan Timur, baik perusahaan maupun perorangan akan segera melapor manakala bermasalah dengan orangutan. Mereka tahu persis dampak hukum yang bakal ditanggung jika bertindak sendiri. Seiring berjalannya waktu, maka penegakan hukum sangat diperlukan untuk menyegarkan ingatan masyarakat mengenai pentingnya perlindungan orangutan. 

Jumlah orangutan di Kalimantan diperkirakan 52.000 pada tahun 2004 dan jumlahnya terus merosot dikarenakan hutan yang menjadi habitatnya dibabat untuk membuka perkebunan kelapa sawit. Setidaknya 2000 orangutan terpaksa dievakuasi ke 5 Pusat Penyelamatan Orangutan yang tersebar di beberapa daerah di Kalimantan, salah satunya dikelola oleh COP di Hutan Penelitian Labanan, Kabupaten Berau. Para ahli memperkirakan bahwa 1 bayi orangutan yang sampai di Pusat Penyelamatan bisa jadi mewakili 2 sampai 10 orangutan lainnya yang terbunuh. Dalam kasus orangutan tewas terpanggang ini, 1 bayi orangutan ditemukan tewas bersama 2 orangutan dewasa lainnya. 

Untuk informasi dan wawancara: 

Ramadhani, Managing Director COP
Mobile Phone: 081349271904
Email: dhani@cop.or.id

CATATAN REDAKSI 
20 Februari 2016
Kebakaran lahan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Bontang Kalimantan Timur terjadi.

21 Februari 2016
COP mendapatkan informasi awal dari sosial media perihal korban orangutan di areal yang dibakar. Kemudian tim melakukan koordinasi dengan BKSDA Kaltim, SPORC Kaltim, Polres Bontang, Balai Taman Nasional Kutai perihal kejadian ini. Tim menemukan ban bekas yang diduga untuk membakar lahan.

22 Februari 2016 
Koordinasi dengan Polres Bontang dan BKSDA Kaltim guna melakukan otopsi untuk ketiga individu orangutan yang ditemukan.

23 Februari 2016
Dilakukan pembongkaran kuburan Orangutan dan atas arahan dari Polres Bontang, BKSDA Kaltim dan Balai TNK tim medis COP melakukan otopsi ketiga individu orangutan untuk memastikan orangutan dan menyimpulkan penyebab kematian. Dan saat ini kasus ditangani oleh Polres Bontang.

ZOOS: THE LINK IN THE ILLEGAL WILDLIFE TRADE

The arrest of a Semarang Zoo official with the initials ‘HN’ has developed from the arrest of individual ‘MZ’, a wildlife trader in Bantul, on the 8th of February 2016, by the Criminal Investigation Agency of the Indonesian National Police, Centre for Orangutan Protection, and Jakarta Animal Aid Network.

HN, who worked as a veterinarian in the Semarang Zoo, was arrested in front of the individual’s workplace on the 11th of February 2016, in possession of a baby Sunbear.

“Enforcement of wildlife trafficking law must be in accordance with Regulation 5, 1990, regarding Conservation of Natural Resources and Ecosystems; maximum 5 years imprisonment and a maximum fine of 100,000,000.00 Rupiah (one hundred million rupiah)” stated Daniek Hendarto, Anti Wildlife Crime Manager, Centre for Orangutan Protection.

KEBUN BINATANG, MATA RANTAI PERDAGANGAN SATWA LIAR ILEGAL

Tertangkapnya HN oknum Kebun Binatang di Semarang merupakan pengembangan dari penangkapan MZ pedagang satwa liar di Bantul pada 8 Februari 2016 yang lalu oleh Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia, Centre for Orangutan Protection dan Jakarta Animal Network.

HN yang berkerja sebagai dokter hewan Kebun Binatang di Semarang tertangkap tangan di depan lokasi kerjanya pada 11 Februari 2016 dengan barang bukti bayi beruang madu.

“Penegakan hukum perdagangan satwa liar harus sesuai Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya. Hukumun penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”, tegas Daniek Hendarto, manajer Anti Wildlife Crime COP.

COLLECTOR OF SUMATRAN TIGER PELTS DETAINED

Yet another success resulting from the hard work and patience of law enforcement teams. On the 25th of Februari 2016, Centre for Orangutan Protection along with colleagues and the Special Crime Investigation unit of the South Sumatran Police reported the sale of body parts belonging to protected wild animals, specifically whole tiger pelts 130cm in length, as well as the tiger’s bones, still in embalming fluid. The female tiger was estimated to be of juvenile age. Three holes were found in the skin which were suspected to be gunshot wounds made by the hunter.

In this first COP operation in Sumatra for the 2016 year, the suspect, 44 years old, has been found to be a large-scale collector of tiger body parts. “The wildlife trade is evolving. Online Media plays a huge role in its development. The demand for wild animals as well as the increasingly sparse habitat is diminishing the existence of these wild animals. The sentencing for offenders of wildlife crime must be harsh, so that the criminals are wary and afraid to commit these crimes.” Said Daniek Hendarto, Anti-Wildlife Crime Manager for Centre for Orangutan Protection.

Based on Paragraph 21, Clause 2 of Regulation 5, 1990: All persons are prohibited from (b) storing, possessing, transporting or trading dead protected animal species and (d) trading, storing or possessing skins, carcasses, or other body parts of protected animal species, or items made from or containing parts of such animals, or exporting these items from anywhere in Indonesia to another location within or outside of Indonesia. Sentence of imprisonment maximum 5 (five) years and a maximum fine of 100,000,000.00 Rupiah (One hundred million rupiah).

PENGEPUL KULIT HARIMAU SUMATERA TERTANGKAP TANGAN
Satu lagi keberhasilan atas kerja keras dan kesabaran tim untuk penegakkan hukum. Centre for Orangutan Protection bersama rekan lainnya dan Reskimsus Polda Sumatera Selatan, 25 Februari 2016, mengungkap kasus penjualan bagian satwa liar yang dilindungi yaitu kulit harimau utuh sepanjang 130 cm, lengkap dengan tulangnya yang masih dalam cairan pengawet. Harimau betina ini diperkirakan berumur remaja. Terdapat tiga lubang di tubuhnya yang diperkirakan bekas luka tembakan si pemburu.

Dalam operasi bersama untuk pertama kalinya COP di Sumatera tahun 2016 ini, Tersangka Shn (44 tahun) merupakan pengepul bagian tubuh satwa liar Harimau yang cukup besar. “Perdagangan satwa liar menjamur. Media online sangat berperan besar dalam perkembangannya. Permintaan dan semakin sempitnya habitat menyudutkan keberadaan satwa liar ini. Hukuman pelaku kejahatan terhadap satwa liar harus berat, agar takut dan jera untuk melakukan kejahatan itu.”, ujar Daniek Hendarto, Manajer Anti Wildlife Crime Centre for Orangutan Protection.

Berdasarkan Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 Setiap orang dilarang untuk (b) menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati dan (d) memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. Saksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

“Jatuhkan vonis yang seberat-beratnya! Penegakan hukum harus jadi prioritas.”, tambah Daniek Hendarto. (YUN)

8 MONTH JAIL SENTENCE FOR LANGUR TRAFFICKER

It’s been four months since the arrest of a wildlife trafficker in Pasar, Petunjungan village, Paiton, Probolinggo, East Java on the 21st of October 2015, by Probolinggo police and the East Java Conservation and Natural Resources Agency, alongside the Centre for Orangutan Protection. The team secured 5 Javan Langurs at the house of the culprit, which was being used as a warehouse for housing wildlife. The Kraksaan District Court decided that the defendant, Muhamad Fatah Yasin, would receive 8 months imprisonment as well as a fine of 50 million rupiah ($3700 USD), with a 2 month subsidiary jail sentence.

“The verdict, read on the 4th of February 2016, has sharpened the blades in the war against wildlife trafficking.” States Daniek Hendarto, Manager of the Centre for Orangutan Protection Anti-Wildlife Crime Unit.

Throughout 2015, COP carried out several operations in the capture of wildlife traffickers. Within these 5 operations, 57 wild animals were successfully secured by the associated groups and government departments. Four of the criminals involved in these 5 cases have already, or are currently, carrying out their punishments. The Garut operation managed to secure a Sumatran Orangutan, with the culprit Dicky Rusvinda receiving a prison sentence of 1 year and 6 months. In the Surabaya operation 13 eagles were retrieved, and the culprit Paska Aditya was sentenced with 7 months imprisonment and a fine of 2.5 million rupiah ($186 USD). Meanwhile the harshest sentence received was the decision made by the Langsa District Court in which Ramadhani, an accused trafficker of 3 baby Sumatran orangutans, received 2 years imprisonment and a fine of 50 million rupiah ($3700 USD), with subsidiary jail time of 3 months. (YUN)

PEDAGANG LUTUNG JAWA PROBOLINGGO DIVONIS 8 BULAN PENJARA

Empat bulan setelah kasus penangkapan pedagang satwa di dusun Pasar, desa Petunjungan, Kecamatan Paiton, kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada 21 Oktober 2015 oleh Polres Probolinggo dan BBKSDA Jawa Timur bersama Centre for Orangutan Protection. Pada saat itu tim mengamankan 5 (lima) ekor Lutung Jawa di rumah terdakwa yang merupakan gudang penyimpanan satwa. Pengadilan Negeri Krakasan memutuskan, terdakwa Muhamad Fatah Yasin pidana penjara 8 (delapan) bulan dan denda sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), subsider 2 (dua) bulan pidana kurungan.

“Putusan yang dibacakan pada 4 Februari 2016 itu semakin menajamkan mata pisau perang melawan perdagangan satwa liar.”, tegas Daniek Hendarto, Manajer Anti Wildlife Crime Centre for Orangutan Protection.

Sepanjang tahun 2015, COP melakukan operasi bersama dalam menangkap perdagangan satwa liar. Dalam 5 kali operasinya tercatat 57 satwa yang berhasil diamankan bersama pihak-pihak terkait. Kelima operasi penegakkan hukum tersebut, empat pelaku sudah dan sedang menjalani hukumannya. Operasi Garut berhasil menyelamatkan satu orangutan Sumatera, dengan terdakwa Dicky Rusvinda dihukum 1 tahun 6 bulan. Operasi Surabaya yang menyelamatkan 13 Elang, terdakwa Paska Aditya mendapat vonis 7 bulan penjara dan denda Rp 2.500.000,00. Sementara itu hukuman terberat adalah Putusan Pengadilan Negeri Langsa yang menjatuhi terdakwa Ramadhani, pedagang 3 bayi orangutan Sumatera dengan hukuman 2 tahun penjara dan denda Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) subsider 3 bulan penjara. (YUN)

AGAIN, ORANGUTANS BURNED

Facebook users were shocked by photos of two orangutans burned to death because of forest fire in Belimbing, West-Bontang, East Borneo. The photos show a female orangutan and her baby died in the fire until there is no hair remains.

Together with BKSDA Est-Borneo, the Kutai National Park officers, and Bontang Police, APE Crussader arrived on the location on Sunday afternoon, Februari 21, 2016. COP’s team has not got a lot of additional data because the bodies of orangutans were already buried nearby the location.

One of the instructions in order to determine the cause of the deaths was to perform an autopsy on the corpse of these orangutans. Beside, a chronological investigation to the occurrence has also to be done.

“This case has become viral on social media and the international community. The world challenges and highlights us, if we can finish this case of unnatural death of orangutans to its conclusion.” said Ramadhani, COP’s Director of Operations.

In Article 21 paragraph (2) letter a in conjunction with Article 40 paragraph (2) of UU No. 5 1990 on Conservation of Biological Resources and ecosystems sentences an imprisonment of 5 (five) years in prison and a maximum fine of Rp 100,000,000.00 (One hundred million rupiah) for capturing, injuring, killing, keeping, owning, raising, transporting and trading protected animals alive.

For further information and interviews please contact:
Ramadhani
Director of Operations of Centre for Orangutan Protection
email: dhani@cop.or.id
HP: 081349271904

LAGI ORANGUTAN TERPANGGANG

Media Social Facebook diramaikan dengan beredarnya foto orangutan mati terpanggang karena pembakaran lahan di kelurahan Belimbing, kecamatan Bontang Barat, Kalimantan Timur. Dalam foto terlihat orangutan mati terbakar hingga tidak ada sisa rambut atau bulunya disertai dengan kematian anaknya.

Siang, 21 Februari 2016 tim APE Crusader berada di lokasi kejadian bersama BKSDA Kalimantan Timur, Balai Taman Nasional Kutai dan Polres Bontang. Tim Centre for Orangutan Protection belum banyak mendapat data tambahan karena mayat orangutan sudah terlanjur dikubur dekat lokasi kejadian.

Salah satu petunjuk agar mengetahui asal usul kematian orangutan adalah dengan melakukan otopsi terhadap mayat otangutan. Serta melakukan penyelidikan kronologis secara menyeluruh terjadinya kebakaran yang mengakibatkan kematian satwa liar yang dilindungi ini.

“Kasus ini sudah menjadi viral di media sosial dan dunia Internasional. Kita ditantang dan disorot oleh dunia, apakah kita bisa menyelesaikan kasus kematian orangutan tidak wajar ini hingga tuntas.”, ujar Ramadhani, Direktur Operasional COP.

Pada pasal 21 ayat (2) huruf a jo pasal 40 ayat (2) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya mengancam hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) bagi orang yang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut silahkan menghubungi:
Ramadhani
Direktur Operasional Centre for Orangutan Protection
email : dhani@cop.or.id
HP : 081349271904

GOING RAFTING AND HELPING ORANGUTANS

“Exciting! Playing together in water, hanging with friends and meeting new friends.”, That was the participants said about Fun Rafting For Orangutan, on Sunday February 21. The idea of this Fun Rafting is to donate for Orangutans in COP’s Orangutan Rehabilitation Center in a fun way. This fun rafting was initiated by Orangufriends. Orangufriends is COP’s supporting group, which always has thousands ways to help orangutans.

Experienced instructors guided the participants to go rafting in Elo River, Magelang. The participants learn the safety procedure before going down to the river. How to paddle in passing the rapids, even if they fell out of the boat.

“Thirty eight participants took part in this fund raising event. Before going rafting, we presented some photos and videos about COP’s efforts in saving Orangutans and other wildlife in Indonesia. We hope that Orangutan rescue could be performed by anyone and in any way, one of them is by donating in a fun way.”, said Zakia, the Orangufriends Coordinator.

“I love water, I like rafting and I like animals.”, That was the reason why Charlotte Garnier, a student of Faculty of Economics UGM from France participated in this Fun Rafting. Let’s see Orangufriends’ next unique idea in helping Orangutans! (DAN)

BERMAIN ARUNG JERAM DAN MEMBANTU ORANGUTAN

“Seru! Main basah-basahan, berkumpul dengan teman dan ketemu teman baru.”, itu adalah sebagian ungkapan peserta Fun Rafting For Orangutan pada Minggu 21 Februari yang lalu. Konsep arung jeram berdonasi untuk Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur yang menyenangkan ini digagas oleh Orangufriends. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection yang bergabung di Orangufriends, yang memang punya seribu satu cara untuk membantu orangutan.

Instruktur berpengalaman memandu peserta mengarungi derasnya sungai Elo, kabupaten Magelang. Peserta mendapatkan materi safety procedur sebelum turun ke sungai. Bagaimana mendayung melewati jeram, bahkan jika peserta terjatuh dari perahu.

“Ada tigapuluh delapan peserta yang ikut. Sebelum berarung jeram, acara having fun, while raising fund dengan melihat foto-foto dan video tentang upaya COP menyelamatkan orangutan dan satwa liar di Indonesia. Kita berharap upaya penyelamatan orangutan bisa dilakukan siapa saja dan dengan cara apa saja, salah satunya berdonasi dan menyenangkan.”, kata Zakia, Koordinator Orangufriends COP.

“Saya suka air, saya suka rafting dan saya suka binatang.”, itulah yang menjadi alasan kenapa Charlotte Garnier, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta asal Perancis ini ikut dalam fun rafting kali ini. Kita tunggu cara unik Orangufriends untuk menyebarkan peduli orangutan. (DAN)

A WILDLIFE TRADER WAS ARRESTED IN BANTUL

COP bersama Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia dan Jakarta Animal Aid Network berhasil menyelamatkan bayi beruang madu dari tangan pedangang satwa liar di Bantul, Yogyakarta. Pada 8 Februari 2016 itu, tim juga mengamankan tiga ekor Ular Sanca Bodo, tigabelas anakan Merak, satu Elang Bondol Hitam, satu binturong dan satu bayi Lutung yang semua barang bukti tersebut dititipkan ke Lembaga Konservasi Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta.

Tim Mabes Polri menangkap MZ di tempat tinggalnya Bantul, Yogyakarta. Diduga, MZ adalah pedagang besar satwa liar ilegal untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Tersangka akan menghadapi pasal 21 ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumbaer Daya Alama Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”, kata Daniek Hendarto, manajer Anti Wildlife Crime Centre for Orangutan Protection.

OWI’S DIARY Part I

My name is Owi, I realized it since every time they wanted to give me fruits or asked me to play, they always said that word and I became familiar with the word. It has been almost one year since I was away from home, its colour, its smell, its exuberance, its hustle, its silence; and during that time I have been apart from my mother.

At that time, my vision was still poor and I was always stuck on her chest, before someday in the afternoon a small boom shocked us, right after a flash of light from below, from something that was held by a creature standing on two legs instead of climbing tree, he stayed on the ground.  It was so quick, in a sudden I felt my mother wobbled. Her grip on the tree branches weakened, staggered and slowly slumped before falling to the ground. Fresh red blood flowed from my mother’s chest, just one knuckle from my head. Her heartbeats were getting weaker, her body was getting cold, her face was pale. He tried hard to look at me and say one or two words, but she could not. Tears flowed slowly on her cheeks before mother did not move at all. I just shivered in my helplessness.

The creatures moved slowly approaching us, his steps were voiced by leaves and small twigs crushed by his feet which seemed have no fingers, something seemed to cover and weigh them. He took me, lifted my body, drowned me in his arms and took me away, stepped away from my mother after telling her friend to take care of my mother’s body. I cried, simply because I didn’t understand. At that time, I had no idea at all that that’s going to be my last time I saw my mother and felt her warm caress. (MBO)

CATATAN HARIAN OWI bagian 1

Namaku Owi, aku menyadarinya sejak setiap mereka ingin memberiku buah-buahan atau mengajakku bermain, mereka selalu mengucapkan kata itu dan aku pun menjadi akrab dengan kata itu. Sudah hampir satu tahun aku merasa jauh dari rumah, warnanya, bebauannya, kerimbunannya, keramaiannya serta kesenyapannya, dan selama itu pula aku berpisah dengan Ibu.

Waktu itu mataku masih remang untuk sanggup melihat dan aku masih selalu menempel pada dadanya, sebelum pada suatu sore suara dentuman mengagetkan kami, tepat setelah kilatan cahaya kecil dari bawah, dari sesuatu yang dipegang suatu makhluk yang berdiri dengan dua kakinya dan bukannya memanjat pohon, dia malah di tanah. Kejadian itu seperti kilat, seketika aku merasakan tubuh Ibu goyah, pegangannya terhadap cabang pohon melemah, terhuyung dan perlahan menggelosor sebelum akhirnya jatuh ke permukaan tanah. Cairan merah segar mengalir deras dari dada Ibu, hanya berjarak satu ruas jari dari kepalaku berada. Detak di dadanya semakin melemah, badannya terasa semakin dingin, sayup-sayup wajahnya kosong dan pucat. Tampak dia berusaha keras menatapku dan mengucapkan satu dua kata, namun tak sanggup. Air mata mengalir pelan menjadi ngarai-ngarai kecil pada pipinya sebelum Ibu tidak bergerak sama sekali. Aku hanya menggigil diam dalam ketidakberdayaanku.

Langkah makhluk itu perlahan mendekat, disuarakan oleh daun dan ranting kecil yang remuk oleh pijak kakinya yang nampak tidak berjari, sepertinya sesuatu menyelimuti serta membebani kaki berdirinya. Dia mengambilku, mengangkat tubuh kecilku, menenggelamkanku dalam pelukannya dan membawaku pergi, melangkah menjauhi Ibu setelah menyuruh sebangsanya mengurus tubuh itu. Aku menangis di antara sejenak, hanya karena tidak paham. Sama sekali pada waktu itu tidak ada pikiran bahwa hari itu adalah terakhir kalinya aku melihat Ibuku dan hari terakhir aku merasakan hangat peluknya. (MBO)

Page 10 of 18« First...89101112...Last »