EAGLE TRADER CAUGHT IN PALEMBANG

Palembang – South Sumatra Region Police through Tipiter Unit, supported by Centre for Orangutan Protection (COP) and Animals Indonesia, caught an eagle trader in Palembang, South Sumatra. The suspect operates his trading business via Facebook. When captured, suspect (initial ‘A P’) brought 4 eagles, stored inside carton boxes, ready to be sold.

Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP stated, “This trader has been on the radar for a while, and most of he sold mostly raptors such as eagle and falcon via Facebook. When caught by South Sumatra region Police, assisted by COP and Animals Indonesia, (we) successfully seized 4 eagles inside boxes that ready to be sold. The trader got caught at Jl. Haji Burlian KM 5, in front of Bhayangkara hospital Palembang, around 13.00 West Indonesia Time.”

The suspect is now being arrested by South Sumatra Region Police, along with several evidences: 1 young eagle and 3 eagle chicks. The high demand of eagle lovers keeps this kind of business thriving. Eagle lover clubs are also the reason why this business exists.

“The suspect is also a member of eagle lover club, which popularly called Falconry. Eagle is a type of raptor which all of its type are under the protected wildlife category. The high demands of eagles from the eagle lovers causes the capturing and trading keeps happening. We will not stop trying to break this chain of cycle crime, support the law enforcement, including disbanded of eagle lovers clubs, because for whatever reason, keeping eagle as pet and trading eagle are against the law” stated Suwarno, Animals Indonesia.

This law enforcement operation for wildlife crime is a crucial key as prevention for the business growth. Wildlife trade operation had also been conducted in South Sumatra, particularly in Lubuk Linggau. On the operation conducted back in February 2016 by Tipiter Unit supported by Centre for Orangutan Protection (COP) and Animals Indonesia, they successfully caught Sumatran Tiger skin and bone trader. Court given 6 months jail sentence for the trader, far from the maximum penalty. Meanwhile, the eagle trader’s fate is still waiting for the court process. Heavy penalty will surely teach a lesson to the similar traders.

“Even though the penalty was not in the favor of wildlife trading resistance, since it has always been minor penalty, we still support the law enforcement. We also appreciate the South Sumatra Region Police through Tipiter Unit, which responded promptly towards the report of wildlife crime”, added Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP.

For further information and interview:
Hery Susanto, Animal Rescue coordinator for COP
HP: 081284834363
 
Suwarno, Animals Indonesia
HP: 082233951221

PEDAGANG ELANG TERTANGKAP TANGAN DI PALEMBANG

Palembang – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Sumsel) melalui Unit Tipiter Polda Sumsel dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Animals Indonesia menangkap pedagang elang di kota Palembang, Sumatra Selatan. Tersangka memperjualbelikan elang di jejaring sosial Facebook. Saat ditangkap pedagang berinisial AP membawa 4 (empat) elang yang disimpan dalam kotak kardus yang siap diperdagangkan.

Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP menjelaskan, “Pedagang ini dipantau tim sudah cukup lama dan jualan satwa kebanyakan jenis burung pemangsa seperti elang dan alap-alap di jejaring sosial Facebook. Saat ditangkap tim Polda Sumsel dibantu COP dan Animals Indonesia berhasil mengamankan 4 ekor elang yang dimasukkan ke dalam kardus yang siap dijualbelikan. Pedagang ditangkap di Jl. Haji Burlian Km 5 di depan rumah sakit Bhayangkara, Palembang pada 13.00 WIB.”.

Saat ini tersangka sudah diamankan di Polda Sumsel bersama barang bukti 1 elang remaja dan 3 masih dalam kondisi anakan. Tingginya permintaan dari peng-hobi elang membuat bisnis ini terus subur terjadi. Klub-klub pencinta burung elang menjadi salah satu pendorong perdagangan ini terus terjadi dan ada.

“Tersangka merupakan pedagang yang juga anggota kelompok pecinta burung pemangsa atau yang lebih keren disebut Falconry. Elang merupakan jenis burung predator yang semua jenisnya masuk dalam kategori satwa dilindungi. Tingginya permintaan akan elang dari para peng-hobi membuat penangkapan dan perdagangan ini terus terjadi. Mata rantai kejahatan ini akan terus kita lawan dengan mendorong penegakan hukum termasuk pembubaran klub-klub pencinta dan pemelihara burung elang. Karena apapun alasannya memelihara dan memperdagangkan burung elang adalah tindakan melawan hukum.”, tegas Suwarno, Animals Indonesia.

Operasi penyitaan dan penegakan hukum bagi pelaku kejahatan satwa liar adalah bagian kunci penting agar kejahatan ini tidak berkembang terus dan menjadi besar. Operasi perdagangan satwa liar juga pernah dilakukan di Sumatera Selatan tepatnya di Kota Lubuk Linggau. Dalam operasi yang dilakukan bulan Februari 2016 tim Tipiter Polda Sumatra Selatan dibantu COP dan Animals Indonesia menangkap pedagang kulit dan tulang Harimau Sumatera. Vonis pedagang Kulit Harimau itu hanya 6 bulan penjara dan jauh dari kata hukuman maksimal. Untuk kasus pedagang elang ini kita akan tunggu proses hukum, karena dengan dengan vonis yang berat akan menjadi efek jera bagi para pelaku kejahatan ini.

“Mesti hukuman belum berpihak untuk upaya perlawanan perdagangan satwa liar karena selalu berakhir dengan putusan vonis rendah, upaya penegakan hukum ini tetap kita dorong. Apresiasi juga kami sampaikan kepada Polda Sumsel melalui Unit Tipiter Polda Sumsel yang merespon cepat  laporan berkaitan dengan kejahatan satwa liar.”, tambah Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut:
Hery Susanto Kordinator Animal Rescue COP.
HP: 081284834363

Suwarno Animals Indonesia.
HP: 082233951221

COP COMBAT ILLEGAL WILDLIFE TRADE

Forest clearing to make way for new palm oil plantations is occurring on a massive scale in Sumatra and Kalimantan. This has clearly had a big impact on the illegal wildlife trade in Indonesia. As a result of the clearing, it is getting easier to obtain wildlife, especially those with the greatest monetary value like primates and big cats. Government control over traditional bird markets which are used to trade wildlife has increased and as a result, traders are moving online.

Social media platforms like Facebook play a large role in facilitating the market for illegal wildlife trade. Keeping of protected wildlife used to only be done by certain parts of society as a symbol of status and power. Now, it has spread to all parts of society, especially young people. Young people like to communicate via virtual groups. Traders often enter these groups, posing as members and offer their trades. These groups often become off-line groups which meet in person while the trader hides behind their fake identify and account.

Education and awareness raising efforts of COP and Animals are often met with resistance. Traders fight back and challenge law enforcement. COP and Animals believe that prison is the best classroom for them to learn lessons about wildlife protection.

Specialised strategies are needed to enforce the law and make sure that information about operations is not leaked. The monetary value associated with illegal wildlife trade means that it attracts corrupt officials and even those within wildlife conservation such as veterinarians have been found to be involved. Rivalry between law enforcement agencies is also a challenge.
In the last five years, COP and Animals, in conjunction with law enforcement agencies, have carried out 28 operations, have saved 200 live animals including 25 orangutans, 5 bears, 16 Javan langurs and 16 slow lorises. Cases involving orangutan and tigers usually involve professional and highly experienced traders. The value of the transactions can range from 10 to 200 million rupiah ($US 1,000-20,0000).

22 people have been imprisoned for illegal wildlife trade with sentences ranging from 6 months to 2,5 years. The length of the sentence does not seem to be a deterrent to traders. In our experience, some traders return to selling after being released from prison and others change profession and undertake other criminal work resulting from new relationships that they formed in prison.
COP still believes that law enforcement is the best way to tackle the illegal wildlife trade because this issue is not related to ignorance or poverty. We are dealing with sick people who are proud to break the law and are blinded by the benefits of this illegal activity.

CAMPAIGN #terorsenapanangin

Yesterday was a great day. 13 organisations stand up for wild animals in 11 different cities in Indonesia. They urge total ban for using air gun in hunting. Virtually, almost 3000 people signed the petition and the numbers keep growing fastlly. Let see, whether this campaign going viral internationally or not. It is depend on how hard we work today. Keep spirit up.

Join with this campaign #terorsenapanangin (teror of air rifle)
change.org/terorsenapanangin

Kemarin sungguh luar biasa. 13 organisasi berjuang bersama untuk satwa liar. Mereka menyerukan boikot total penggunaan senapan angin untuk berburu. Di dunia maya. hampir 3000 orang sudah menandatangi petisi dan angka itu terus tumbuh dengan cepat. Kita lihat saja, apakah kampanye ini meluas ke dunia internasional atau tidak. Semua bergangtung pada upaya kita hari ini. Tetap semangat.

ELEVEN WILDLIFE PROTECTION ORGANISATIONS URGES TIGHT SUPERVISION FOR AIR RIFLE

YOGYAKARTA – Eleven wildlife protection organisations consists of Centre for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animals Indonesia, International Animal Rescue (IAR), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Information Centre (OIC), Orangutan Land Trust (OLT), With Compassion and Soul (WCS), Orangutan Outreach, Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ) and Orangutan Veterinary Aid (OVAID) urge that supervision for air rifle use and distribution to be tightened. Air rifle bullets frequently found inside the body of animals rescued from conflict, hunting or trafficking. During 2004 to August 2016, at least 23 cases of orang-utans shooting using air rifle. Orang-utan usually found in crical condition, permanently injured, even dead. For orang-utan cases, hunters shot the orang-utan mother then seize the baby for trafficking. According to Erik Meijard in his book “Di Ambang Kepunahan” (on the brink of extinction), one dead orangutan, represents 2 – 10 dead orang-utans. And air rifle is being a serious threat to wildlife extinction. Therefore, we are stating these acts:

1. Kepolisian Republik Indonesia (Indonesian National Police) as the authorised supervisor for rifle distribution, needs to tighten the supervision of distribution and trade.
2. Conduct a raid and law enforcement since there were cases of abuse of rifle rights, which were used for wildlife hunting.

Conservation measures will be lagged if hunting and killing using air rifle are still happening. Head of Indonesia National Police must take a robust step to take action towards the abuse of rifle rights, as stated on Head of Indonesia National Police Regulation, No. 8/ 2012 about supervision and control of rifles for sports. In article 4 clause 3, stated that air rifles are used for target-shooting sports, and continued in article 5 clause 3 that its utilisation in only inside shooting range for competition and practice.

Today, we had action in 10 cities simultaneously : Aceh, Pekanbaru, Palembang, Banding, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya and Palangkaraya – all asking for the same thing: for the Head of Indonesia National Police Regulation to be implemented. Because with robust law enforcement, massacre of wildlife with air rifle can be reduced.

For further details and interview, please contact info@orangutanprotection.com

SEBELAS ORGANISASI PERLINDUNGAN SATWA LIAR SERUKAN PERKETAT PENGAWASAN SENAPAN ANGIN
Untuk disiarkan segera 14 September 2016

Yogyakarta – Sebelas lembaga perlindungan satwa liar terdiri dari Centre for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animals Indonesia, International Animal Rescue (IAR), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Information Centre (OIC), Orangutan Land Trust (OLT), With Compasion and Soul (WCS), Orangutan Outreach, Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ) dan Orangutan Veterinary Aid (OVAID) menyerukan agar pengawasan terhadap penggunaan serta peredaran senapan angin lebih diperketat lagi. Korban tembakan senapan angin banyak ditemukan pada satwa liar yang diselamatkan dari korban konflik, perburuan dan perdagangan.

Sepanjang kurun waktu  2004 hingga Agustus 2016 setidaknya ada 23 kasus yang tercatat untuk penembakan orangutan dengan senapan angin. Orangutan mengalami kondisi kritis, cacat permanen hingga mengalami kematian. Untuk kasus orangutan, pemburu akan menembak induk orangutan untuk mendapatkan anaknya sebelum di perdagangkan. Menurut Herman Rijksen dan Erik Meijard dalam bukunya  Di Ambang Kepunahan 1 induk yang mati terbunuh mewakili setidaknya 2 – 10 orangutan yang mati terbunuh. Dan senapan angin sudah menjadi ancaman serius akan kepunahan satwa liar dialam.

Untuk itu kami menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Kepolisian Republik Indonesia sebagai pemegang otoritas penuh sebagai pengawas peredaran senjata api dan senapan angin perlu mempeketat peredaran dan penggunaan senapan angin.
2. Melakukan razia dan penegakan hukum karena banyak kasus penyalahgunaan senapan angin untuk berburu satwa liar.

Upaya konservasi satwa liar akan terhambat manakala perburuan dan pembunuhan dengan senapan angin masih berlangsung. Kapolri sebagai pimpinan Kepolisian Republik Indonesia harus bisa mengambil langkah tegas dan berani untuk melakukan tindakan penyalahgunaan senapan angin sesuai dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga. Dalam Pasal 4 ayat 3 disebutkan senapan angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target serta dilanjutkan di Pasal 5 ayat 3 bahwa penggunaannya di lokasi pertandingan dan latihan.
Dan hari ini kami serentak melakukan aksi di sepuluh kota, Aceh, Palembang, Pekanbaru, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, Surabaya, Samarinda dan Palangka Raya meminta hal sama agar Peraturan Kapolri tersebut dilaksanakan. Karena dengan penegakan aturan yang tegas dan berani, pembantaian satwa dengan senapan angin akan bisa ditekan.
Untuk informasi dan wawancara dapat menghubungi:
info@orangutanprotection.com

SAID #TERORSENAPANANGIN

“Karena saya juga menyadari bahwa tidak ada baiknya jika warga biasa mempunyai senapan angin. Sebab, kepemilikan senjata hanya akan mendorong hasrat si pemilik untuk menggunakan nya. Dalam konteks ini, hal yang sering terjadi adalah penggunaan senapan angin yang ditunjukan untuk memenuhi ego brengsek sang empunya senjata, yaitu untuk berburu satwa. Entah dengan alasan untuk hobi, mengisi waktu luang, atau untuk sekedar gagah-gagahan.”, jelas Ahmad Zainuri.

“Penggunaan senapan angin untuk berburu, bahkan untuk babi dan monyet yg kerap jadi hama kebun, itu ILEGAL!”, tegas Christopher A.B

“Ban air rifles Indonesia!”, asked Femke Monita.

NOT FOR HUNTING ANIMALS

Selain melanggar Peraturan Kapolri, penggunaan senapan angin untuk berburu telah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa liar di alam karena minimnya kontrol dan pengawasan. Kita adalah harapan satwa liar untuk melawan pembantaian besar – besaran ini. Mari kita lawan klub – klub berburu dengan kampanye yang keras. Sebarluaskan gambar ini. Ayo !!
#terorsenapanangin
Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN SENJATA API UNTUK KEPENTINGAN OLAHRAGA, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3). Dengan demikian, seluruh kegiatan perburuan satwa liar dengan menggunakan senapan angin adalah menyalahi Peraturan Kapolri tersebut.
Di Sumatra dan Kalimantan, satwa liar langka dan dilindungi undang – undang seperti orangutan kerap menjadi sasaran senapan angin. Setidaknya 21 kasus ditemukan orangutan yang ditembak dengan senapan angin. Di Jawa, perburuan lebih sering dilakukan sebagai hoby, bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau mengatasi masalah hama. Mereka tergabung dalam klub menembak, berburu dan perorangan. Para pelakunya beragam, mulai orang – orang yang berpendidikan dan melek hukum seperti guru dan pegawai negeri sipil, hingga remaja yang tidak berpendidikan memadai. Para pemburu dengan senapan anginnya telah menjadi TEROR BAGI SATWA LIAR.
Polri sebagai otoritas pengelolaan senjata api telah berhasil mengendalikan peredaran dan penggunaan Airsoft Gun. Hal serupa dapat pula diterapkan pada senapan angin karena memiliki nilai strategis, yakni melindungi satwa liar Indonesia dari pembantaian yang tidak perlu. Razia kepemilikan dan perijinan, termasuk penyitaan senapan angin sudah mendesak untuk dilakukan guna mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak.

RESCUED TWO ORANGUTAN BABIES TODAY

We have rescued two orangutan babies today. The first one in East Kalimantan and the second one in Central Kalimantan. They are now going to rescue centers. The first one, we named him Happi, is going to our own centre COP Borneo. The second one don’t have name yet, is going to Wildlife Authority Office in Sampit. Let’s hope the authority decide BOSF Nyarumenteng as her new home.
COP thanks to you all for kind support, especially who fund us through With Compassion & Soul ( COP Borneo Centre), The Orangutan Project (Ape Guardian Team) and Orangutan Outreach (The Ape Crusader Team).

TEROR OF AIR RIFLE

Ramadhani, Managing Director COP mengatakan, “Bayi orangutan bernama Apung/Bumi berumur baru sekitar 2-3 minggu, terlihat dari pusarnya yang masih basah, sudah kena tembak senapan angin. Besar tubuhnya hanya seukuran telapak tangan kita manusia. ada 1 peluru di belakang badannya. Bumi masih hidup dan entah induknya. Masih banyak individu orangutan yang penuh dengan peluru bahkan sampai ratusan peluru dalam satu tubuhnya. Kalau bayi manusia pasti sudah mati di tempat.” #terorsenapanangin

BELAJAR DAN BERBAGI DI CEMPAGA HULU

“Masih banyak masyarakat di daerah-daerah hulu yang perlu di beri pengetahuan lebih tentang perlindungan orangutan. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat saya dukung, karena bisa menambah wawasan murid-murid di sini, karena di desa ini sering terjadi konfik antara masyarakat dan orangutan.”, ujar Mila, salah satu guru di SMP.
Maraknya alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, sangat berpengaruh langsung terhadap kehidupan satwa liar, terutama orangutan. Di Kotawaringin Timur, tepatnya di desa Tumbang Koling dulunya termasuk kantong habitat orangutan Kalimantan Tengah (pongo pygmeus wrumbii). Akan tetapi, sekarang hutan-hutan di sekitar sudah berubah semua menjadi perkebunan kelapa sawit. Lantas kemana orangutan-orangutan itu?
Bulan Juli lalu tim Centre for Orangutan Protection (COP) mengevakuasi 1 individu bayi orangutan tanpa induk, berumur kurang dari sebulan. Satu butir peluru bersarang di bagian punggung bayi ini. Kondisinya sangat lemah dan memaksa tim untuk langsung membawanya ke Pusat Reintroduksi Orangutan BOS Nyarumenteng, Kalimantan Tengah.
Kasus tersebut hanyalah salah satu jawaban dari sekian banyak pertanyan bagaimana nasib orangutan di Kalimantan Tengah. Semakin banyak hutan yang dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit, menyebabkan orangutan tersebut kehilangan sumber pakan. Beberapa orangutan yang beruntung, mungkin bisa lari dari kondisi ini. Tapi tidak sedikit juga yang masuk ke kebun masyarakat dan menimbulkan konflik baru orangutan dengan masyarakat.
Rabu, 24 Agustus tim COP melakukan kegiatan penyadartahuan perlindungan orangutan di SMPN SATAP Cempaga Hulu. Aga yang merupakan salah satu dari tim COP menjelaskan, “Kegiatan ini adalah lanjutan dari kasus yang kita temukan bulan Juli lalu. Melalui penyadartahuan ini, kami berharap ketika ada orangutan yang masuk ke kebun atau warga maupun anak-anak yang melihat atau memelihara orangutan, baik yang terluka atau tidak. Bisa langsung menghubungi pihak-pihak yang berwenang.”
Metode penyadartahuan tentang perlindungan orangutan disampaikan tim COP kepada siwa dengan media gambar cetak. Kemudian diisi dengan permainan kecil yang banyak mengambil unsur lingkungan. Bersyukur siswa-siswi di SMP ini sangat antusias mengikuti hingga selesai kegiatan.
Tidak banyak kegiatan penyadartahuan tentang perlindungan satwa liar yang dilakukan di daerah hulu. Di samping akses yang susah dan menempuh waktu yang lama menjadi kendalanya. Namun jika tidak ada yang mengambil peran tersebut, satwa-satwa liar yang tersisa tidak akan bertahan lama. Akan terus ada korban-korban berjatuhan akibat dari perburuan maupun pemeliharaan. (SAT)

TEROR SENAPAN ANGIN

Daniek Hendarto, APE Warrior captain, explains “Occasionally our rescue team takes in baby orangutans that have been shot. They are often sick and injured, disabled, some even deceased. On July 26, 2016, the arrest of an orangutan trafficker in Medan produced 4 baby orangutans, intended to be sold off. One of the babies, that we named Deka, was found by the Sumatran Orangutan Conservation Program team (SOCP) to have a bullet lodged in the back of her head. Deka is only a small example and one case of orangutans being showered with bullets. Help Centre for Orangutan Protection campaign against #terorsenapanangin (the terror of air rifles) that threatens the preservation of wildlife. Hunting is not a sport. Hunting is cruelty.”
Daniek Hendarto, kapten APE Warrior, “Terkadang tim rescue harus mengambil bayi-bayi orangutan yang sudah terhujam peluru. Mereka Sakit, Cacat hingga bahkan sudah tak bernyawa. Pada tanggal 26 Juli 2016 dilakukan penangkapan pedagang orangutan di Medan dengan barang bukti 4 bayi orangutan yang akan diperjualbelikan. Salah satu bayi kami beri nama Deka, dari hasil pemeriksaan tim Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) dalam kepala Deka terdapat satu peluru di bagian kepala belakang. Orangutan Deka adalah contoh kecil dan catatan kasus orangutan dengan hujaman peluru. Bantu Centre for Orangutan Protection mengkampanyekan #terorsenapanangin yang mengancam kelestarian satwa liar. Berburu bukan olah raga. Berburu adalah kekejaman.”

Page 10 of 25« First...89101112...20...Last »