ORANGUTAN KINABATANGAN MATI DENGAN 3 PELURU

Orangutan betina dewasa ditemukan mati di sungai Kinabatangan, Malaysia pada hari Selasa yang lalu. Terdapat luka pada bagian perut, bahu dan kaki orangutan yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut. Kematian orangutan tersebut disebabkan pendarahan bagian dalam. Pada tubuhnya ditemukan 3 peluru.

Kematian orangutan jantan dengan 7 peluru senapan angin di Seruyan, Kalimantan Tengah bulan Juli yang lalu masih segar dalam ingatan kita. Tidak hanya orangutan yang diketahui bernama Baen yang mati karena peluru senapan angin di tahun 2018 ini. Ada kematian orangutan tanpa kepala yang ditemukan di sungai Kalahien, di Kalteng dengan 17 peluru dan orangutan Kaluhara 2 di Kaltim dengan 130 peluru pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Peluru-peluru senapan angin yang kecil akhirnya menghabisi nyawa orangutan yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang dan terancam kepunahan. “Peraturan penggunaan senapan angin pun sudah diatur. Tapi penggunaan senapan angin masih saja bebas. Ini karena lemahnya penegakkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, bukan menghilangkan nyawa.”.

Pada acara olahraga Asian Games 2018 yang lalu, Centre for Orangutan Protection mendukung penuh atlet cabang olahraga menembak Indonesia bahwa satwa bukanlah target yang harus ditembak. COP juga menegaskan bahwa berburu bukanlah olahraga! Teror Senapan Angin.

COP REPORTED THE CRIME TO LAW ENFORCER

One day later, the APE Crusader team who had just arrived from the field were already in the office of the Ministry of Environment and Forestry (MoEF) in Jakarta. On September 6, the team came to the MoEF with a complete report presenting the findings in the field. Unfortunately, the director of the Directorate General of Law Enforcer who should be on the 4th floor was not in place.

“Then, we moved to the office of the Peat Restoration Agency. Indonesia’s peat is under a serious threat.”, said Paulinus Kristianto, disappointed, because he could not meet the person in charge. “We hope that our reports of the alleged crime of land clearing in orangutan habitat and also on peatland can be immediately responded. It’s like counting down time. The faster it is, the more you can save. “Center for Orangutan Protection fully supports the MoEF to conduct studies and inspections in Seruyan District, Central Kalimantan.”, said Ramadhani, manager of the orangutan and habitat protection.

The death of an adult male orangutan on the canal of palm oil plantation with a body caught in a timber log is unusual. From the autopsy, there were 7 air rifle bullets and the orangutan’s right-hand thumb was missing. When the body was found, the team also saw two excavators that were land clearing the area. Around the location were also found several orangutan nests. “Come on, Law Enforcer, we are ready to support.” (IND)

COP MELAPOR ADA KEJAHATAN PADA GAKKUM
Berselang satu hari, tim APE Crusader yang baru saja tiba dari lapangan sudah berada di kantor Kementian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Siang, 6 September, lengkap dengan laporan tertulisnya menyampaikan hasil temuan di lapangan. Sayang direktur Direktorat Jenderal Gakkum yang berada di lantai 4 tidak ada di tempat.

“Kami pun pindah ke kantor Badan Restorasi Gambut. Gambut Indonesia sedang terancam.”, ujar Paulinus Kristianto dengan kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. “Kami berharap laporan dugaan telah terjadi kejahatan pembukaan lahan di habitat orangutan yang juga berada di lahan gambut dapat segera ditanggapi. Ini seperti menghitung mundur waktu. Semakin cepat akan semakin banyak yang bisa diselamatkan. Centre for Orangutan Protection mendukung penuh Gakkum KLHK untuk melakukan kajian dan pemeriksaan di Seruyan, Kalimantan Tengah.”, tegas Ramadhani, manajer perlindungan Orangutan dan Habitatnya.

Kematian satu orangutan jantan dewasa di kanal konsesi perkebunan sawit dengan tubuh tersangkut pada batang kayu bukanlah hal yang biasa. Dari otopsi diketahui ada 7 peluru senapan angin dan jempol tangan kanan orangutan tersebut hilang. Pada saat ditemukan ada dua ekskavator yang sedang landclearing. Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa sarang orangutan. “Ayo Gakkum, kami siap membantu.”.

AYO DUKUNG PERMEN LHK 20 TAHUN 2018

Lompatan besar baru saja dilakukan Pemerintah pada bulan Juni 2018 dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Centre for Orangutan Protection menyambut baik Permen No. 20 ini dan siap mendukung pemerintah untuk menegakkan hukum. “Lebih jauh lagi COP memandang bahwa Permen ini merupakan titik penting untuk perubahan budaya yaitu dari budaya mengurung satwa menjadi memelihara di alam bebas.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri Centre for Orangutan Protection.

“Masuknya satwa liar yang sering diperdagangkan baik itu secara online maupun di pasar burung ini tentu saja bukan asal jadi. Ini sudah menjadi kajian. Dilema yang terjadi selama ini, kondisi satwa liar tersebut di habitatnya sudah terancam punah namun banyak terdapat di pedagang bahkan menjadi lomba burung berkicau secara terbuka. Sebut saja burung Murai batu/ Kucica hutan (Kittacincla malbarica), Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) dan Jalak suren (Gracupica jalla).

Dengan adanya Permen No. 20/2018 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) telah ditetapkan menjadi satwa yang dilindungi Undang-Undang. Ini adalah usaha cepat pemerintah untuk melindungi spesies orangutan yang baru ditemukan di tahun 2017 yang lalu.

COP memanggil seluruh orangufriends untuk memberikan dukungan penuh kepada KLHK untuk tidak mundur menegakkan Permen ini.

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY

Raju, a juvenile orangutan was found in the palm oil concession in Kutai Timur, East Kalimantan. After four years living as a pet, the APE Crusader team rescued Raju and moved him to COP Borneo rehabilitation center. Raju then changed his name to Jojo. We conducted a full medical check-up of his health and behavioral study for 2 months. The result is displeasing. Jojo has hepatitis, possibly contagious by humans. 

Memo, an orangutan who used to ride a motorbike with her owner and travel around from village to villages. Memo has joined COP rehabilitation center since 11 April 2015. She is 18 years old now but has a somber future. Memo has hepatitis because she contacted with humans numerous times in the past.

Both of these orangutans will live forever in the cage. The quarantine cages which is limiting their space and movement. They will live behind solid bars, without any chance to feel the fresh air in their habitat. They did not have hepatitis by natural causes. It is transmitted by humans.

Memo and Jojo still have a dream to climb the highest tree, to swing from one tree to another, like the other orangutans do. We also had a dream, to create the first and the only orangutan rehabilitation center that is built and organized by Indonesian people. This dream came true in 2014. Now, our homework is to actualize Memo and Jojo’s dream. Let’s help COP Borneo to buy an island as a sanctuary for Jojo and Memo. They have a right to live as wild orangutans, not in the cage!

Today, as we celebrate The International Day of Charity, we hope you could help our future action by donating through Paypal account of Centre for Orangutan Protection http://www.orangutan.id/what-you-can-do/, or through this crowdfunding site https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Your donation will be used to build a sanctuary island for orangutans with hepatitis in COP Borneo. Your donation could change the life of Memo and Jojo. (IDI)

INTERNATIONAL DAY OF CHARITY 
Orangutan bernama Raju ini ditemukan di kebun sawit, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Setelah 4 tahun dalam pemeliharaan warga, keberadaan Raju diketahui tim APE Crusader. 4 April 2018 yang lalu, Raju pun masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dan berganti nama menjadi Jojo. Serangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi prilaku dilalui Jojo selama dua bulan penuh. Dan hasil yang sangat mengecewakan pun keluar. Jojo menderita hepatitis dari manusia.

Memo, orangutan yang selalu dibonceng naik sepeda motor oleh pemeliharanya dan diajak berkeliling desa masuk ke pusat rehabilitasi orangutan pada 11 April 2015. Orangutan betina yang berusia 18 tahun ini pun dibayangi masa depan yang suram. Dari hasil laboratorium, Memo menderita hepatitis.

Kedua orangutan COP Borneo ini akan hidup di dalam kandang. Kandang karantina yang terbatas pada ruang dan geraknya. Hidup di balik jeruji besi tanpa ada masa depan untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Hepatitis yang diderita mereka adalah penularan dari manusia.

Memo dan Jojo masih punya mimpi untuk bisa memanjat pohon yang tinggi, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sebagai orangutan yang memiliki daya jelajah terbatas. Seperti mimpi kami yang berada di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Pusat rehabilitasi lokal yang sudah berdiri sejak 2014 yang lalu. Mari bantu COP Borneo untuk membeli sebuah pulau sebagai sanctuary island untuk Jojo dan Memo. Mereka pun berhak untuk hidup liar!

Tepat di hari ini, International Day of Charity, berikan bantuan mu lewat akun Kitabisa https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Sanctuary island untuk orangutan hepatitis COP Borneo. Ijinkan Jojo dan Memo liar.

ANIMALS STEREOTYPE

Have you ever seen animals doing repetitive movement? Actually this behaviour isn’t necessary, moreover it may harm the animals. Animals that used to be caged for a long period of time usually experience this abnormal behaviour. This behaviour called stereotype behaviour.

How does the behaviour occurs? The behaviour occurs due to unfavourable past physical, environmental, social, and welfare stresses. A tiny living spaces and poor enrichment or living in very different conditions from their natural condition for instance. Social factors can be in the form of negative interaction between individuals in one cage. If the animals have a bad past history such as getting bad treatment from humans then the stereotype behaviour can be more likely to appear.

Repeatedly moving forward, backward, left, and right in the same place are the examples of this stereotype behaviour. In addition to the repetitive pattern behaviour. there are also another kind of stereotype behaviours. Such as hurting themselves, swinging head without clear intention, licking excessively, scratching own body parts, eating own feces or vomit and abnormal and excessive sex behaviour.

There are several ways to minimize stereotype behaviour on animals in the cage, according to drh. Rian Winardi. One of which is to provide enrichment in the cage, in the form of physical, nutritional, and work enrichment. The physical enrichment can be in the form of giving swing or wood for animals to climb. Nutritional enrichment can consists of giving fruits in a whole form. And work enrichment may contain of feeding the animals by inserting the food in a certain pipe or ball. (SAR)

STEROTIPE SATWA
Pernah lihat satwa yang sedang melakukan gerakan berulang-ulang dan tidak berubah? Perilaku ini sebenarnya sama sekali tidak bermanfaat dan bahkan merugikan satwa tersebut. Biasanya, satwa yang berada dalam kandang yang sangat rentang mengalami perilaku abnormal ini. Suatu perilaku yang menyimpang dari perilaku normal atau tidak alami. Perilaku ini disebut perilaku sterotipe.

Bagaimana perilaku sterotipe ini muncul? Perilaku ini muncul akibat faktor tekanan lingkungan fisik, sosial dan kesejahteraan masa lalu yang kurang baik. Kandang dengan ruang pergerakan yang sempit dan lingkungan yang miskin pengayaan atau jauh dari kondisi alami misalnya. Sementara faktor sosial dapat berupa interaksi sosial yang negatif antar individu dalam satu kandang. Kemudian jika hewan memiliki sejarah masa lalu yang kurang baik misalnya mendapatkan perlakuan buruk dari manusia maka perilaku sterotipe ini pun bisa muncul.

Pergerakan ke depan, belakang, kiri, kanan secara berulang dan di tempat yang sama contoh dari perilaku sterotipe ini. Kemudian pergerakan yang berputar di satu titik yang sama dan berulang. Selain pola pergelakan yang dilakukan berulang, terdapat juga perilaku sterotipe lainnya. Seperti melukai diri sendiri, mengayun-ayunkan kepala tanpa tujuan yang jelas, menjilati diri sendiri secara berlebihan, mencakar bagian tubuh sendiri, memakan kotoran atau muntahannya sendiri serta perilaku sex yang tidak normal dan berlebihan.

Ada beberapa cara untuk meminimalisir perilaku sterotipe pada satwa yang di dalam kandang menurut drh. Rian Winardi. Caranya adalah dengan memberikan pengayaan di kandang. Pengayaan tersebut berupa pengayaan fisik, pengayaan nutrisi dan pengayaan kerja. Pengayaan fisik berupa pemberian ayunan atau kayu untuk satwa memanjat. Pengayaan nutrisi berupa pemberian buah atau sayuran tanpa dipotong atau dalam bentuk utuh. Dan pengayaan kerja seperti pemberian makanan dengan cara dimasukkan dalam pipa atau bola khusus. (RYN)

4 FUN FACTS WHY ORANGUTAN SHOULD BE SAVED (2)

2. Orangutans have DNA similarity with human
Orangutans have 97% similarity of Deoxyribonucleic acid (DNA) with human DNA. Therefore, orangutans are very intelligence in behavior in the wild to utilize objects around them to find food or shelter from the ferocity of nature condition. Even orangutans can use a stick as a tool to pick up food and use leaves to protect them from the sun. Orangutans can easily learn to immitate surrounding behaviour, one of which is the orangutans who have been kept as pet can easily immitate the behaviour of human around them.

This fact make orangutans are very vulnerable to the changes of nature and its surrounding, such as habitat shift and conversion which make orangutans come to the village more often only to find food and try to survive. Then, this matter makes the level of orangutan and human conflict increases every year. Loss of source of food makes orangutans that have high intelligence to come to the community farms to get their food easily. 

Johny orangutan, who was evacuated by Centre for Orangutan Protection team (COP) in 2007, showed the level of adult orangutan intelligence that he was decided to stay on the roadside oddly because many people were attracted and stopped by to see him closer and fed him. So this orangutan chose to stay on the roadside for a long period of time. (SAR)

4 FAKTA UNIK MENGAPA ORANGUTAN HARUS DISELAMATKAN (2)
Fakta lainnya yang membuat kita harus menyelamatkan orangutan adalah:

2. Orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia
Orangutan memiliki 97 persen kemiripan Deoxyribonucleic acid (DNA) dengan DNA manusia. Oleh karena itu orangutan termasuk satwa yang sangat cerdas dalam prilakunya di alam liar dengan cara memanfaatkan benda di sekitar untuk mencari makan ataupun berlindung dari ganasnya kondisi alam bahkan orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari. Orangutan dapat belajar dengan mudah untuk meniru prilaku sekitar, salah satunya adalah orangutan yang sudah dipelihara sejak lama akan mudah mengikuti atau meniru prilaku manusia sekitarnya.

Faktanya ini kemudian menjadikan orangutan sangat rentan terhadap perubahan alam dan sekitarnya seperti perubahan habitat yang menjadikan orangutan yang lebih sering mendatangi pemungkiman untuk sekedar mencari makan dan bertahan hidup. Hal ini kemudian menjadikan tingkat konflik orangutan dan manusia semakin meningkat setiap tahunnya. Kehilangan sumber makan menjadikan orangutan yang memiliki kecerdasan tinggi untuk datang ke kebun-kebun masyarakat yang kemudian dianggap dapat dengan mudah untuk mendapatkan makanan.

Salah satu orangutan Johny yang dievakuasi oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP) pada tahun 2017, menunjukan tingkat kecerdasan orangutan dewasa yang memutuskan tinggal di tepi jalan raya dengan dugaan bahwa banyaknya masyarakat yang tertarik dan berhenti untuk melihat kemudian memberi makan. Sehingga orangutan ini memutuskan untuk tinggal dalam waktu yang lama di sepanjang jalan tersebut. (NUS)

4 FUN FACTS WHY ORANGUTANS SHOULD BE SAVED (1)

Orangutans are very famous animals, moreover orangutan babies whose behaviour are very similar to human that make them special to many people around the world. Behind these uniqueness, orangutans keep a lot of stories about about rainforest conservation efforts in Indonesia. Here are four facts, why orangutans should be saved:
1. Orangutans are Asian Great Ape
Four great apes in the world are found three in the African continent that are Gorilla, Simpanse, and Bonobo, and on  in Asian continent, Sumatera and Kalimantan island to be exact which are inhabitated by Orangutans.
There are three type of orangutans in the world, that are Pongo tapanuliensis in Sumatera island, and Pongo abelii and Pongo pygmaeus in Kalimantan island which are divided into three sub-types according to morphology and genetics variation that are: Pongo pygmaeus pygmaeus (in the northwest of Kalimantan and Sabah), Pongo pygmaeus wurmbii (in the southwest of Kalimantan), and Pongo pygmaeus morio (in the east of Kalimantan and Sabah) (Groves 2001; Warren dkk. 2001).

The existance of orangutans has been the symbol of the richness of Indonesia’s biodiversity, esppecially in Kalimantan and  Sumatera. Indonesia should be proud to have those great apes as animals and as international
attraction to continue preserving the existing tropical rainforest. (SAR)

4 FAKTA UNIK MENGAPA ORANGUTAN HARUS DISELAMATKAN (1)
Orangutan merupakan satwa yang sangat terkenal, apalagi bayi orangutan yang tingkahnya sangat mirip dengan manusia menjadikannya daya tarik tersendiri bagi banyak orang di dunia. Di balik keunikannya tersebut, orangutan menyimpan begitu banyak kisah tentang upaya konservasi hutan hujan tropis di Indonesia. Berikut adalah 4 fakta, mengapa orangutan harus diselamatkan:

1. Orangutan adalah Kera Besar Asia
Empat kera besar yang ada di dunia tersebut terdapat tiga di benua Afrika yang dihuni Gorilla, Simpanse dan Bonobo serta di benua Asia lebih tepatnya pulau Sumatera dan Kalimantan yang terdapat di Indonesia yaitu Orangutan.

Terdapat 3 jenis orangutan di dunia yaitu di Pulau Sumatera terdapat Pongo tapanuliensis, Pongo abelii serta Pongo pygmaeus berada di pulau Kalimantan yang kemudian dibagi dalam tiga sub-jenis berdasarkan variasi morfologi dan genetik yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus (dibagian barat laut Kalimantan dan Sabah), Pongo pygmaeus wurmbii (di bagian barat daya Kalimantan), dan Pongo pygmaeus morio (dibagian timur Kalimantan dan Sabah) (Groves 2001; Warren dkk. 2001).

Keberadaan orangutan telah menjadi simbol kekayaan flora dan fauna yang ada di Indonesia, terutama Kalimantan dan Sumatera. Sepatutnya Indonesia bangga telah memiliki kera besar tersebut sebagai satwa dan daya tarik Internasional untuk terus menjaga kelestarian hutan hujan tropis yang ada. (NUS)

ORANGUTAN DAY AT SDN 3 SYAMSYDIN NOOR

On Sunday, I paid a visit to SDN 3 Syamsudin NOOR, Banjar Baru, South Kalimantan, to commemorate world orangutan day that has been set on August 19th every year.  I got the chance to give a subject matter for 6th grade students which devided into 4 classes. Luckily, there was a friend who were willing to help me and two homeroom teachers. At 12.30 WITA sharp, 106 students enthusiastically run into the hall.

I was nervous, afraid that i could not delivered the material clearly. With the help of slides and video, I opened the session by describing what is Centre for Orangutan Protection. And then, the importance of preserving orangutan and the forest that is a habitat for various kind of wildlife, including Indonesian native plants that are already rare.

Beyond expectation, they listened very well. Question and answer session was something that made me stunned, because of their critical question. Even when the activity was over, many of them approached me to ask more about the topics. That I almost forgot about my nervousness.

Guessing game with pieces of  animal puzzles and some rewards in the form of snacks were the closing of today’s school visit. At 13.30 WITA all activities already ended. I am so grateful that everything was going smoothly and enthusiastically welcomed by the students, also got the positive support from the Principal. (Nurul_COPSchool8)

ORANGUTAN DAY DI SDN 3 SYAMSUDIN NOOR
Senin ini, saya melakukan kunjungan ke SDN 3 Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan untuk memperingati hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus pada setiap tahunnya. Saya mendapat kesempatan memberikan materi untuk anak-anak kelas 6 yang terdiri dari 4 kelas. Beruntung ada seorang teman yang bersedia membantu saya dan 2 orang guru wali. Tepat pukul 12.30 WITA, ada 106 siswa yang berlarian memasuki aula dengan antusias.

Saya sempat gugup, takut tidak bisa menyampaikan materi dengan jelas. Dengan mengandalkan slide dan video, saya membuka pertemuan ini dengan menjelaskan apa itu Centre for Orangutan Protection. Selanjutnya pentingnya menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang merupakan habitat berbagai macam satwa liar termasuk tanaman-tanaman khas Indonesia yang sudah mulai langka.

Di luar ekspetasi saya, ternyata mereka menyimak dengan sangat baik, saat sesi tanya jawab menjadi sesuatu yang membuat saya tercengang karena pertanyaan mereka yang kritis. Bahkan saat kegiatan selesai, banyak dari mereka yang menghampiri saya untuk bertanya. Sampai lupa saya dengan kegugupan saya tadi.

Permainan tebak gambar dengan menggunakan potongan gambar dari beberapa satwa dan beberapa reward berupa snack menjadi penutup kegiatan school visit hari ini. Tepat pukul 13.30 WITA seluruh kegiatan berakhir. Saya sangat bersyukur, semua bisa berjalan dengan lancar dan disambut dengan antusias oleh para siswa serta mendapat dukungan postif dari Kapala Sekolah. (Nurul_COPSchool8)

BEWARE OF MALIOIDOSIS THAT KILLS ORANGUTAN

OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) Workshop 2018 was held at Veterinary Faculty – University of Syiah Kuala in Banda Aceh. This year. drh. Flora represented COP Borneo orangutan rehabilitation center to attend the annual event that has been going on for 10 years.

One of the main concerns of the case studies on the third day were several cases of orangutans such as Melioidosis, Bronchioectasis, and other respiratory diseases also abscesses of teeth. Malioidosis itself is a disease that just got the attention in Indonesia. It is caused by Burkholderia pseudomallei bacteria which turns out to be endemic in Kalimantan. The bacteria lives beneath the ground during ground season, but can be found in surface water and soil when precipitation got intense.

This disease becomes pretty serious because there are no specific symptoms that follow (fever, loss of appetite, cough) however the mortality rate is high (2-3 days after initial symptoms are seen). Further research will be carried out to handle this disease. (SAR)

WASPADA MALIOIDOSIS YANG MEMATIKAN ORANGUTAN
Workshop OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) 2018 dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Tahun ini drh. Felisitas Flora Sambe mewakili pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk menghadiri acara tahunan yang sudah berlangsung selama 10 tahun.

Salah satu yang menjadi perhatian utama studi kasus di hari ketiga adalah beberapa kasus pada orangutan seperti Melioidosis, Bronchioectasis dan penyakit pernafasan lain serta abses pada gigi. Malioidosis sendiri adalah suatu penyakit yang baru mendapat perhatian di Indonesia. Penyebabnya adalah bakteri Burkholderia pseudomallei yang ternyata endemik di pulau Kalimantan. Bakteri ini hidup di bawah permukaan tanah pada musim kemarau, akan tetapi dapat ditemukan dalam air permukaan dan lumpur saat curah hujan tinggi.

Penyakit ini menjadi cukup serius karena tidak ada gejala khas yang mengikuti (demam, hilang nafsu makan, batuk) akan tetapi tingkat kematian tinggi (2-3 hari setelah gejala awal terlihat). Untuk penanganannya masih akan dilakukan penelitian lebih lanjut. (FLO)

THS HANDED THE TWO ORANGUTANS OVER TO THE COUNTRY

Yeay! Finally, the two orangutans that was in Siantar Zoo, North Sumatera was returned to the country to be rehabilitated. Both Sumateran orangutan were handed over by the locals of Sidikalang, Dairi district, a month ago. Physically, both of them have the ability to be rehabilitated before released back to their habitat.

The THS had rejected North Sumatera BKSDA demand when they tried to pick the two orangutans up to be rehabilitated. Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc,For, Head of Balai Besar KSDA North Sumatera said “According to the direction of the Regulation of Forestry Minister Number 57/Menhut-II/2008 concerning  Strategic Directives for National Species Conservation 2008-2019 that Sumateran orangutan (Pongo abelii) is included in the category of “Very High Priority” with the direction of conservation management “insitu”. Thus, the two orangutans must be released to their habitat after going through a rehabilitation process.”

On August 1, 2018, at the Balai Besar KSDA North Sumatra office, the two orangutan was finally given up to Pematangsiantar Animal Park (THPS). “Centre for Orangutan Protection would like to thank all the Orangufriends (a group of orangutan supporter) who had participated in the campaign so that the two orangutans are rehabilitated, not in the zoo!”, said Rian Winardi, spokesman of COP Ex-situ Campaign. “Your like, share and comment made this campaign viral. These two orangutans will get the second chance to be back to nature!”, he added.

THS MENYERAHKAN DUA ORANGUTAN KE NEGARA
Yes! Akhirnya kedua orangutan yang berada di Taman Hewan Siantar, Sumatera Utara dikembalikan ke negara untuk direhabilitasi. Kedua orangutan Sumatera ini adalah penyerahan masyarakat Sidikalang, kabupaten Dairi, sebulan yang lalu. Secara fisik, keduanya memiliki kemampuan untuk direhabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Pihak THS sempat menolak BKSDA Sumatera Utara saat menjemput kedua orangutan ini untuk direhabilitasi. Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc,For, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengatakan “Sesuai arahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 57/Menhut-II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018 bahwa Orangutan Sumatera (Pongo abelii) termasuk dalam katergori “Prioritas Sangat Tinggi” dengan arahan pengelolaan pelestarian “Insitu”. Dengan demikian 2 (dua) Orangutan tersebut harus dilepasliarkan ke habitat alaminya setelah melalui proses rehabilitasi”.

Pada tanggal 1 Agustus 2018, bertempat di kantor Balai Besar KSDA Sumut, kedua orangutan ini akhirnya diserahkan Taman Hewan Pematangsiantar (THPS). “Centre for Orangutan Protection mengucapkan terimakasih pada seluruh orangufriends (kelompok pendukung orangutan) yang ikut pada kampanye agar kedua orangutan tersebut direhabilitasi, bukan di kebun binantang!”, ujar Rian Winardi, juru bicara kampanye eks-situ COP. “Like, share dan Comment kamu menjadikan kampanye ini viral. Kedua orangutan ini akan mendapatkan kesempatan keduannya untuk kembali ke alam!”, tambahnya.

Page 1 of 2312345...1020...Last »