BUAH KENARI KESUKAAN NOVI

Individu orangutan jantan bernama Novi ini memang kerap membuat tim monitoring kalang kabut. Setelah tidak terpantau jejaknya hampir selama dua pekan paska rilis, Novi kembali menunjukkan eksistensinya dengan bergelantungan di pohon. lalu dua hari berikutnya tim kembali kehilangan jejaknya. Selanjutnya, selang dua hari tim dibuat terkejut dengan kemunculan Novi di sekitar lokasi terakhir tim kehilangan jejak Novi.

Novi terus terlihat berayun kesana kemari di pohon kenari. “Ternyata si Novi ini suka buah kenari,” ucap Yusak salah seorang ranger yang tengah mengisi form pakan orangutan. Bagaimana tidak, dari menit awal Yusak mencatat, Novi banyak sekali makan buah kenari.

Rupanya, Novi suka rasa manis masam buah itu. Sampai-sampai membuat tim monitoring ingin mencicipi rasa buah kenari. Begitu ada buah kenari yang dijatuhkan Novi dari ketinggian pohon sekitar 20 meter, ada yang bergegas mengambilnya. Gigitan pertama membuat wajah Widi mengkerut. “Kukira manis, ternyata rasanya masam,” ungkap Widi relawan Tim APE Guardian. Pantas saja masam, ternyata Novi menjatuhkan buah kenari yang belum matang. Buah yang bentuknya mirip kacang almond ini, memiliki daging berwarna putih di dalamnya. Jika belum matang warna kulitnya hijau, begitu buahnya matang warna kulitnya berubah menjadi hitam dan ada tambahan rasa sedikit manis.

Saking doyan dan suka dengan buah ini, Novi tak ingin jauh-jauh dari pohon kenari. Beberapa kali Novi terpantau membuat sarang di dekat pohon kenari. “Mungkin setelah bangun tidur Novi bisa langsung makan buah kenari,” pikir para ranger. Ternyata perkiraan itu tidak meleset. Dari pukul 05.00 WITA tim memantau Novi yang kala itu masih mendekam di sarang, begitu terbangun Novi langsung bergegas berayun menuju pohon kenari.

Para ranger optimis bahwa Novi bisa menjadi agen dalam meregenerasi hutan, setelah menemukan kotoran Novi bercampur dengan puluhan biji kenari tercecer jauh dari pohon induknya. (REZ)

ORANGUTANS THREATENED BY SML

Centre for Orangutan Protection (COP) suspects that the plantation business permit of SML in Batang Kawa sub-district, Lamandau district, Central Kalimantan is in the area of orangutan habitat. This is supported by the findings of orangutan nest right in the middle of the permit area for land clearing plan. It’s even strengthened by the survey conducted by Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) in 2015, in the report entitled “Population Survey and Conservation Management of Orangutans in the Palm Oil Plantation of PT. SML” stated that there were 28 nests with 6 lines of transects along 8500 meters that the orangutan population is estimated at 0,23 individuals/km2 in the area of PT.SML

COP team found piles of logging and a road devide the forest and also a forest area that had been evicted for oil palm plantation plan belong to SML. In the area of the planned land clearing block, there was at least 4 nests found that was located only 200-500 meters away.

COP suspects that at least 10.000 hectares of forested area that had been cleared for oil palm plantation. COP hopes that the remaining areas of orangutan habitat should be rescued immediately by stopping all the land clearing process for oil palm plantation. Ramadhani, the manager of COP Habitat Protection said, “ We have to push SML to stop all activities that endangered the orangutans, also request the Ministry of Environment and Forestry as soon as possible to re-verify the permits of SML plantation area that is suspected in the orangutan habitat area.”

For interview and further information please contact:
Ramadhani
Manager of COP Orangutan and Habitat Protection unit
HP : +62 813 4927 1904
Email : info@orangutanprotection.com

ORANGUTAN TERANCAM SML
Centre for Orangutan Protection (COP) menduga bahwa ijin usaha perkebunan milik SML di kecamatan Batang Kawa, kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah berada di kawasan yang merupakan habitat orangutan. Hal ini diperkuat dengan temuan sarang yang berada tepat di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan. Hal ini semakin diperkuat dengan survei yang dilakukan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) tahun 2015, dalam laporannya yang berjudul “Survei Populasi dan Pengelolaan Konservasi Orangutan di areal Perkebunan Kelapa Sawit PT. SML”, menyataan bahwa terdapat 28 sarang dengan 6 jalur transek sepanjang 8.500 meter diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 di area PT. SML.

Tim COP menemukan tumpukan kayu tebangan dan jalan blok membelah hutan serta kawasan hutan yang sudah digusur untuk perencanaan perkebunan kelapa sawit milik SML. Di area jalan blok perencanaan pembukaan lahan yang dimaksud ditemukan setidaknya ada 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter.

COP menduga bahwa setidaknya ada kurang lebih 10.000 hektar kawasan berhutan yang telah dibuka menjadi perkebunan kelapa sawit. COP berharap kawasan tersisa yang merupakan habitat orangutan harus segera diselamatkan dengan menghentikan segala proses pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat COP menyatakan, “Kita harus mendorong SML untuk menghentikan aktifitas yang membahayakan orangutan ini, serta memohon Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sesegera mungkin melakukan verifikasi ulang ijin perkebunan SML yang diduga berada di kawasan habitat orangutan.”.

Untuk wawancara dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan COP
HP: +62 813 4927 1904
Email: info@orangutanprotection.com

COP AS THE BEST ENVIRONMENTAL CSO IN 2018

Today, the Center for Orangutan Protection received an Award from the Indonesian government as the best community organization of environment in 2018. The award was given directly by Minister of Home Affairs, Mr. Tjahjo Kumolo. Besides the environmental sector, the government also gave awards to community organizations in health, education, culture, and other sectors.

This award was the first to be received by COP from the Indonesian government. COP was founded in 2007 and is the first and the only orangutan conservation organization native to Indonesia. The existence of COP has an impact not only for orangutans but also for local communities and various species of wildlife.

Thank you for all the trust and support of COP supporters and COP volunteers who are members of Orangufriends. This award belongs to all of you who have been working hard to combat wildlife crime.(IND)

COP SEBAGAI ORMAS LINGKUNGAN HIDUP TERBAIK 2018
Pada hari ini Pusat Perlindungan Orangutan mendapatkan Penghargaan dari Pemerintah Indonesia sebagai organisasi masyarakat di bidang lingkungan hidup terbaik tahun 2018. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Selain bidang lingkungan hidup, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada organisasi-organisasi masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain.

Penghargaan ini adalah yang pertama diterima Pusat Perlindungan Orangutan atau lebih dikenal dengan Centre for Orangutan Protection (COP) dari pemerintah Indonesia. COP didirikan pada tahun 2007 dan merupakan oraganisasi konservasi orangutan yang pertama dan satu-satunya yang asli Indonesia. Keberadaan COP berdampak tidak hanya untuk orangutan tetapi juga untuk berbagai jenis satwa liar lainnya dan masyarakat setempat.

Terimakasih atas dukungan dan kepercayaan para pendukung COP dan relawan COP yang tergabung dalam orangufriends.

ORANGUTAN SHOULD NOT BE LIVING IN THAT WOODBOX

APE Defender team (18/10/18) check on the baby orangutan found by locals of Tepian Baru village, East Kutai, East Kalimantan at his rice field that was just cleared in 2014. Temporary examination shows that the orangutan is a 4-5 year old male orangutan.

“Condition of the orangutan is so skinny. Mistreatment can be the main factor that causing the bad condition of this orangutan.”, drh. Felicitas Flora said. The habits to feed him human food i.e rice with side-dishes will be a special notes on its rehabilitation process. “The little finger of his right foot is missing.” added the vet of APE Defender team.

Fortunately, the keeper was aware that this orangutan can not be that box of 1m x 1m x 0.5 continually, as the orangutan is getting bigger. Hopefully, the orangutan will already be in rehabilitation center.

“It’s not easy to rehabilitate an orangutan. At an early stage, an orangutan will undergo a series of medical examinations. An orangutan will also undergo a quarantine period for two months until all the medical examinations are done. If the orangutan passes that period, he will be joining the forest school class. His development will always be monitored, and the result of it will determine whether he will continue to pre-release class, or even release class, or not. This all cost a great amount of money and quite a long time. Do not pet orangutan! Immediately report if you see any orangutan living around humans.” Wety Rupiana, coordinator of COP Borneo orangutan rehabilitation centre explained. (SAR)

ORANGUTAN TIDAK SEHARUSNYA DI KANDANG KAYU ITU
Tim APE Defender (18/10/18) memeriksa bayi orangutan yang ditemukan warga Tepian Baru, Kutai Timur, Kalimantan Timur di ladang padinya yang baru dibuka pada 2014 silam. Pemeriksaan sementara meliputi jenis kelamin orangutan yaitu jantan dengan usia 4-5 tahun.

“Kondisi orangutan saat ini kurus. Penanganan yang salah bisa saja menjadi penyebab utama kondisi buruk orangutan ini.”, ujar drh. Felisitas Flora. Kebiasaan memberi makanan seperti makanan manusia yaitu nasi beserta lauknya akan menjadi catatan tersendiri proses rehabilitasi orangutan ini nantinya. “Jari kelingking kaki kanannya, tidak ada.”, tambah dokter hewan tim APE Defender ini.

Syukurlah pemelihara menyadari, bahwa orangutan tersebut tidak bisa terus menerus berada dalam kotak kayu berukuran 1m x 1m x 0,5m, seiring dengan bertambahnya usia orangutan. Tim segera berkoordinasi dengan BKSDA untuk mengevakuasi orangutan tersebut. Semoga minggu depan, orangutan tersebut sudah bisa masuk pusat rehabilitasi.

“Memang tidak mudah merehabilitasi orangutan. Untuk tahap awal, orangutan akan melalui serangkaian pemeriksaan medis. Orangutan juga akan menjalani masa karantina selama 2 bulan hingga hasil pemeriksaan kesehatanannya tuntas. Jika orangutan bisa melalui masa karantina tersebut, dia akan dimasukkan ke kelas sekolah hutan. Perkembangan akan terus dalam pantauan, dan hasilnya akan membawanya bisa lanjut ke kelas pra-rilis bahkan ke kelas rilis nantinya. Ini semuanya memakan biaya yang besar dan waktu yang tidak sebentar. Jangan pelihara orangutan! Segera laporkan jika kamu mengetahui keberadaan orangutan di tengah manusia.”, jelas Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. (FLO)

THE MASSIVE AREA OF PALM OIL PLANTATION IN EAST KALIMANTAN

Trans Borneo Challenge #1 trip on October 13 was accompanied by an endless rain. Throughout their long trip, the team realized how huge the palm oil plantations in East Kalimantan is. The switch of team members cannot be avoided. Septian, who is a COP School Batch 6 alumni, must be replaced by Reza Kurniawan from COP School Batch 5.

An illegal orangutan ownership case is still found. Unyil, a baby orangutan from Meratak Village, East Kalimantan, looked thin. Unyil was sitting in an empty cage. “This is a dilemma. A local person, Mr. Jating, cannot let Unyil starving and fright alone in the middle of his field. When he found Unyil, he brought Unyil to have cared at his house” said Ibnu Anshari, an alumnus of COP School Batch 1 who was the Team Leader of the Trans Borneo Challenge #1 trail.

Finally, after 9 days of traveling from East Java, the team arrived at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. What a challenging and interesting journey. The team witnessed the condition of our mother earth. They listen and see the loss of orangutan habitat in East Kalimantan, that are destroyed by the enormous palm oil business. (IND)

LUASNYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KALIMANTAN TIMUR

Perjalanan Trans Borneo Challenge #1 pada 13 Oktober ditemani hujan tanpa henti. Sepanjang perjalanan tanpa putus perkebunan kelapa sawit membawa kami pada luasnya perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur ini. Pergantian personal pun tak bisa dihindari. Septian yang merupakan alumni COP School Batch 6 harus digantikan Reza Kurniawan dari COP School Batch 5.

Kepemilikan ilegal orangutan pun masih dijumpai. Orangutan Unyil dari kampung Meratak, Kalimantan Timur terlihat kurus. Unyil pun masih terduduk di kandang kosong. “Ini adalah dilema, masyarakat tak tega membiarkan Unyil sendirian di tengah ladangnya saat ditemukan pertama kali. Unyil pun dibawa untuk dipelihara. Kasihan kata pak Jating.”, ujar Ibnu Anshari, alumni COP School Batch 1 yang merupakan ketua Tim trail Trans Borneo Challenge #1.

Akhirnya, setelah 9 hari melakukan perjalanan dari Jawa Timur, tim berhasil tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Sebuah perjalanan yang menantang dan menarik. Tim menjadi saksi kondisi ibu bumi. Mendengarkan dan melihat langsung semakin hilangnya habitat orangutan di Kalimantan Timur.

SCHOOL VISIT AT VIDATRA JUNIOR HIGH SCHOOL

About 110 students from 7th and 8th grader at YPVDP Bontang Junior High School (Vidya Dahana Patra Education Foundation or better known as Vidatra Junior High) on Jalan Raya Badak PT. Badak LNG, gathered when our Trans Borneo Trail team visited their school on October 11, 2018.

It seems like the additional point promised by the school to their students makes the school visit very excited. Orangutans that are endemic to Borneo Island make students more focused and curious about why they are endangered. The Eyes of Earth team, who has been exploring East Kalimantan, describes the condition of the habitat of orangutans that are increasingly diminishing.

“Raising awareness at an early age is very important to understand various species of animals protected by the state. The problem faced by these animals must also be known so that the next generation can play an active role in maintaining its sustainability,” said Mr. Agung, The School Principal.

The Environmental Education Program, which is run at every school starting from elementary school, junior high school, and high school through the Adiwiyata Program, is expected to encourage students’ awareness about environment and conservation. (IND)

SCHOOL VISIT DI SMP VIDATRA
Sekitar 110 siswa kelas VII dan VIII SMP YPVDP Bontang (Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra atau lebih dikenal dengan SMP Vidatra yang berada di Jalan Raya Badak, Komplek PT. Badak LNG berkumpul saat tim Trail Trans Borneo mengunjungi sekolah ini.

Sepertinya nilai tambahan yang dijanjikan pihak sekolah ke siswanya menjadikan school visit kali sangat bersemangat. Orangutan yang menjadi satwa endemik di Kalimantan membuat siswa lebih fokus dan penasaran kenapa berstatus terancam punah. Dengan epik nya tim Eyes of Earth yang sudah menelusuri Kalimantan Timur memaparkan kondisi habitat orangutan yang semakin berkurang.

“Pemahaman usia dini tentang penyadartahuan memang sangat penting untuk memahami satwa-satwa yang dilindungi oleh negara. Persoalan yang dihadapi satwa tersebut juga harus diketahui agar generasi berikutnya dapat berperan aktif menjaga kelestariannya.”, ujar bapak Agung, Wakil Kepala Sekolah.

Program Pendidikan Lingkungan Hidup yang dijalankan setiap sekolah mulai jenjang SD, SMP sampai SMA melalui program Adiwiyata diharapkan dan memupuk kepedulian siswa pada dunia konservasi lingkungan. (PETz)

HELP ANIMAL VICTIMS IN PALU

The city of Palu and several surrounding cities are totally paralysed by the earthquake and tsunami. The number of human victims has reached more than 800 people. Humanitarian assistance continues to come. Even so, is there anyone help pets and livestock victims?

As usual, Animals Indonesia with the support from COP are sending the Animals Warrior team to help displaced animals in disaster-affected areas such at Mount Merapi – Yogya, Mount Kelud Malang – Kediri, Mount Sinabung – North Sumatra, Mount Agung – Bali, and others. This team will rescue, take care, and reunite animals with their owners, including taking care of animals that have already dead.

The help from all of animal lovers is pretty much needed so the team can work well and help animals as many as possible. You can help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu or directly to Centre for Orangutan Protection account no. 0137088800 (BNI NI DJA) by adding 9 at the final nominal, we can immediately confirm it is a donation to Palu animals. (SAR)

BANTU SATWA PALU
Kota Palu dan beberapa kota sekitarnya lumpuh total karena dihentak gempa bumi dan tsunami. Jumlah korban manusia sudah mencapai 800an lebih. Bantuan kemanusian terus mengalir. Namun demikian, adakah yang membantu korban satwa kesayangan dan ternak? 

Animals Indonesia dengan dukungan dari COP seperti biasa menerjunkan tim Animals Warrior untuk menolong satwa yang telantar di kawasan – kawasan terdampak bencana seperti di gunung Merapi-Yogya, gunung Kelud Malang – Kediri, gunung Sinabung – Sumatra Utara, gunung Agung – Bali dan lain – lain. Tim ini akan menyelamatkan, merawat dan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Termasuk mengurus satwa yang sudah telanjur tewas. 

Mohon bantuan anda semua para pecinta binatang agar tim ini dapat bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa. Melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu atau langsung ke nomer rekening Centre for Orangutan Protection 0137088800 (BNI NI DJA) dengan menambahkan nominal akhir 9 agar kami segera dapat mengkonfirmasi itu merupakan sumbangan untuk satwa Palu.

LOOKING FORWARD TO THE EFFICACY OF PALM OIL PLANTATION MORATORIUM IN THE NEW PRESIDENTIAL INSTRUCTION

September 19, 2018, the President of the Republic of Indonesia has signed Presidential Instruction (INPRES) Number 8/2018 about The Postponement and Evaluation of Licensing and Productivity Improvement of Palm Oil Plantations. The government emphasized this temporary suspension for three years period.

The moratorium on palm oil plantation aims to organize, foster and regulate permits in forest areas, rejuvenate palm oil to be more productive, also develop the quality and quantity in the downstream. For this reason, it is necessary for the government to improve their surveillance in collecting and verifying data of the Location Permit and Plantation Business Permit or Plantation Business Registration Certificate. The government also has to emphasize the transparency process so that public participation in this INPRES is fair for the people, the environment and the restoration of its ecosystem.

The Center for Orangutan Protection welcomed positively the Presidential Instruction on the Palm Oil Plantation Moratorium. “Moratorium on palm oil plantation licenses for the next three years must be a time to evaluate the activities of palm oil plantations in Indonesia, ranging from licensing, handling social and wildlife conflicts that are already underway. But it must also be noted that this INPRES is only intended for forest areas, then the status outside the forest area is still questioned,” said Ramadhani, COP’s Orangutan and Habitat Protection manager.

Three years is a very short time for a moratorium. Let’s support the government to not just evaluate, but also encourage the law enforcement for the use of forest areas for palm oil plantations. (IND)

MENANTIKAN TAJAMNYA INPRES MORATORIUM PERKEBUNAN SAWIT
19 September 2018, Presiden RI telah menandatangani Inpres Nomor 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit. Pemerintah menengaskan penghentian sementara ini selama masa tiga tahun.

Moratorium Perkebunan Sawit bertujuan untuk menata, membina serta menertibkan perizinan di kawasan hutan, peremajaan kelapa sawit untuk lebih produktif dan mengembangkan hilirisasi. Untuk itu diperlukan perbaikan pemerintah pada pengumpulan dan verifikasi atas data dan peta Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan atau Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk lebih menekankan proses keterbukaan sehingga partisipasi publik pada Inpres ini dipandang hal yang berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan hidup serta pemulihan ekosistemnya.

Centre for Orangutan Protection menyambut positif Inpres Moratorium Perkebunan Sawit ini. “Moratorium izin perkebunan kelapa sawit untuk tiga tahun ke depan harus menjadi saat untuk mengevaluasi kegiatan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mulai dari perizinan, penanganan konflik sosial dan satwa liar hingga perkebunan yang sudah berjalan. Namun juga harus diperhatikan bahwa Inpres ini diperuntukkan untuk kawasan hutan, lalu bagaimana yang statusnya di luar kawasan hutan yang mana persoalannya sama.”, ujar Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Waktu tiga tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah moratorium. Mari kita dukung pemerintah untuk tak sekedar evaluasi, tapi juga penegakan hukum atas penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

GIVING DAY FOR APES 2018

Time passes so quickly. We will celebrate the Giving Day for Apes again on September 25, 2018. Centre for Orangutan Protection really needs your help! Let’s celebrate the day by supporting the release of four orangutans that each of them has unique background story. Those who lived in zoo, toilet and lost his mother by the reason of palm oil plantation.

How do we easily remember the success of our life? Simply by donating to Giving Day for Apes. For those of you who celebrate birthdays or want to give presents for your loved ones, you can do it by donating to COP on Giving Day 2018. Of course, the orangtans of COP Borneo will be gladly accept it.

Let’s get to know the four orangutan release candidate this year. Do you remember Novi? Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog. After rehabilitation process, Novi will be release back to his habitat.

Next month, the orangutan from the zoo will go toward the freedom. Untung, the lucky one, even with imperfect fingers, can still climb trees and move like other normal orang-utans. Of course, his disablity doesn’t prevent him to be one of the release candidates this year. After going through a series of medical examination, Untung was declared clean from infectious diseases.

Unyil, the orangutan that is very famous because finally he can live normally, not in the bathroom (toilet) like before. The rescue action was very dramatic because his birthday celebration as Valentino Unyil Ngau had just taken place. The keeper of Until finally gave him to be rehabilitated. His hair was just straightened, and made the rescue team wonder, what was wrong with Unyil’s hair.

One more heartbreaking story come from Leci. Leci was found in a fruit garden near palm oil plantation in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. Alone without his mother. Leci was very wild, even he bit one of the rescue team member. He looked nervous in the cage, until the team close it so that he felt more calm. Given leaves and twigs was immediately greeted by arranging it into nests.

So would you help the four orangutans? https://givingdayforapes.mightycause.com/organization/Center-For-Orangutan-Protection They supposed to be in their habitat, living without any human intervention and develop their role as reliable natural reforestation agent. (SAR)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Kita akan merayakan Giving Day for Apes lagi pada 25 September 2018 ini. Centre for Orangutan Protection sangat membutuhkan bantuan anda. Mari rayakan hari ini dengan mendukung pelepasliaran empat orangutan COP Borneo dengan latar belakang yang unik. Mereka yang hidup dari kebun binatang, toilet rumah dan yang kehilangan ibunya karena perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana kita dengan mudah mengingat keberhasilan hidup kita? Cukup dengan donasi di Giving Day for Apes. Untuk kamu yang merayakan ulang tahun atau ingin memberikan hadiah untuk yang kamu sayangi, bisa dengan donasi COP di Giving Day 2018. Tentu saja orangutan COP Borneo akan dengan senang hati menerimanya.

Yuk mengenal keempat orangutan kandidat pelepasliaran tahun ini. Masih ingat dengan Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah penduduk berteman seekor anjing dengan leher dirantai? Setelah melalui rehabilitasi, Novi akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Bulan depan, orangutan dari kebun binatang akan menuju kebebasannya.

Untung si beruntung walau dengan jari tangan yang tidak sempurna, tetap bisa memanjat pohon dan beraktivitas seperti orangutan normal lainnya. Tentu saja disabilitasnya tak menghalanginya untuk tetap menjadi kandidat pelepasliaran tahun ini. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Untung pun dinyatakan bersih dari penyakit menular.

Unyil, si orangutan yang terkenal sekali karena akhirnya dapat hidup normal tidak di dalam kamar mandi (toilet) lagi. Aksi penyelamatannya yang sangat dramatis karena baru saja perayaan ulang tahunnya sebagai Valentino Unyil Ngau berlangsung. Si pemelihara Unyil akhirnya menyerahkannya untuk direhabilitasi. Rambutnya saat itu baru saja direbonding, sempat membuat tim penyelamat heran, ada apa dengan rambut Unyil.

Satu lagi kisah memilukan dari Leci. Leci ditemukan di ladang buah dekan perkebunan sawit di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur, sendiri tanpa induknya. Leci masih sangat liar, bahkan salah satu tim penyelamat digigitnya. Selama di kandang, dia terlihat gelisah, hingga akhirnya tim menutup kandangnya agar dia lebih tenang. Pemberian daun-daunan dan ranting langsung disambutnya dengan menyusunnya menjadi sarang.

Jadi, maukah kamu mendukung keempat orangutan ini? Mereka sudah sepantasnya berada di habitatnya, hidup tanpa campur tangan manusia, dan berkembang di alamnya untuk menjalankan perannya sebagai agen reboisasi alami yang handal.

KINABATANGAN ORANGUTAN DIES WITH 3 BULLETS

Adult female orangutan found dead in Kinabatangan river, Malaysia, last Tuesday. There were wounds found on the stomach, shoulder and legs of orangutan that were estimated to be 30 years old. The orangutan’s death was caused by internal bleeding. Three bullets were found on her body.

The death of male orangutan with 7 airgun bullets in Serbian, Central Kalimantan last July are still fresh in our minds. Not just the death orangutan known as Baen in 2018 by airgun bullets. There were also another deaths such as headless orangutan body found in Kalahien river, Central Kalimantan, with 17 bullets and Kalahara 2 orangutan with 130 bullets in Central Kalimantan last February.

Eventually, tiny airgun bullets kill the orangutans that are animals protected by law and threatened to extinction. “Air gun uses regulation has been enacted to regulate but still freely used by some people. This is caused by the weak enforcement of the Chief of Police Regulation Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for sport interests, not for losing lives.”

At the Asian Games 2018 sport event, Centre for Orangutan Protection fully supported Indonesian shooting athletes to not shooting animals as animals are not targets to shot. COP also emphasized that animal hunting is not a sport! (SAR)

ORANGUTAN KINABATANGAN MATI DENGAN 3 PELURU
Orangutan betina dewasa ditemukan mati di sungai Kinabatangan, Malaysia pada hari Selasa yang lalu. Terdapat luka pada bagian perut, bahu dan kaki orangutan yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut. Kematian orangutan tersebut disebabkan pendarahan bagian dalam. Pada tubuhnya ditemukan 3 peluru.

Kematian orangutan jantan dengan 7 peluru senapan angin di Seruyan, Kalimantan Tengah bulan Juli yang lalu masih segar dalam ingatan kita. Tidak hanya orangutan yang diketahui bernama Baen yang mati karena peluru senapan angin di tahun 2018 ini. Ada kematian orangutan tanpa kepala yang ditemukan di sungai Kalahien, di Kalteng dengan 17 peluru dan orangutan Kaluhara 2 di Kaltim dengan 130 peluru pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Peluru-peluru senapan angin yang kecil akhirnya menghabisi nyawa orangutan yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang dan terancam kepunahan. “Peraturan penggunaan senapan angin pun sudah diatur. Tapi penggunaan senapan angin masih saja bebas. Ini karena lemahnya penegakkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, bukan menghilangkan nyawa.”.

Pada acara olahraga Asian Games 2018 yang lalu, Centre for Orangutan Protection mendukung penuh atlet cabang olahraga menembak Indonesia bahwa satwa bukanlah target yang harus ditembak. COP juga menegaskan bahwa berburu bukanlah olahraga! Teror Senapan Angin.

Page 1 of 2412345...1020...Last »